Chapter 2
Kairi merebahkan kepalanya di atas meja dengan lesu. DI masih sepi, karena jam baru menunjukkan pukul 6.25 (Masuk tetep jam 7 kok). Jarang murid DI yang dateng pagi-pagi.
"Kairi," Sapa seorang cewek berambut pink.
Kairi bangun dan memandang cewek itu "Eh, Sakura. Kenapa?" Tanyanya sambil menguap.
Sakura, cewek pintar yang kaya raya itu memandang Kairi, "PR Fisika yang nomer 39 itu hasilnya 0,025 J bukan?"
Kairi yang masih setengah ngantuk langsung membuka matanya lebar-lebar, "What the heck? PR apaan?" Tanyanya histeris.
"Fisika, yang soal essai 40 nomer itu." Jelas Sakura memandang Kairi bingung. Kairi kan murid rajin, masa gak tau kalau ada PR.
"GYAAA, gue belum bikin." Teriak Kairi. "Sakura, pinjem PR Lo dong?" Pintanya.
"Dipinjem Sasuke." Jawab Sakura sambil menunjuk cowok berambut seperti pantat ayam yang sedang sibuk nyalin PR di meja depan. Si cowok sok cool ini pacarnya Sakura.
"Woy Sasuke!!" Teriak Kairi, Sasuke menoleh. "Pinjem PR nya Sakura!"
"Belom kelar," Tolaknya enteng sambil kembali menyalin.
Kairi gak putus asa gitu aja, "Berdua deh ngerjainnya,"
"Kalau ngerjain berdua gue gak bisa konsen nyalinnya," Kata Sasuke cuek.
"GRRRR dasar pantat ayam!!" Maki Kairi kesal.
Namine yang baru datang segera menaruh tasnya di bangku sebelah Kairi, "Hai Kairi," Sapanya.
"Namineee, pinjem PR duonkk." Pinta Kairi melas.
Namine mengerutkan kening, "Tumben lo gak ngerjain PR?"
"Gara-gara si rambut jegrak tuh, semaleman gue mikirin dia sampai-sampai gue lupa kalau
Pak Ansem ngasih PR," Jelas Kairi geram. "Duh, bisa-bisanya cewek rajin kayak gue lupa bikin PR!!"
"Ooh masih mikirin dia ya?" Goda Namine.
Kairi langsung mendelik, "Ya gak gitu juga, ngapain mikirin si rambut jegrak itu. Kebagusan banget gue mikirin dia."
"Jegrak-jegrak gitu juga lo suka," Namine masih menggoda Kairi.
"ARGH.. jangan iseng deh. Udah pinjem PR lo deh yang penting," Pinta Kairi lagi.
"Sorry nih Kai, tapi ada beberapa nomer yang gue gak yakin. Gue mau nanyain soalnya ke Roxas dulu" Jelas Namine si perfeksionis. Dia gak menoleril kesalahan sekecilpun ke PR nya, pokoknya semua PR harus sempurna.
"Roxas mana?" Tanya Kairi gak sabar.
"Belom dateng, dia sama Sora lagi nunggu angkot. Katanya sih sekitar ½ jam lagi baru nyampe," Jelas Namine. "Maklum deh, nyari angkot di daerah rumah mereka kan susah."
Kairi makin stress "Blah, ½ jam lagi mah udah bel masuk."
Namine mengiyakan, "Emang dia sama Sora selama ini selalu nge pas kan datengnya,"
"Terus gue gimana dong??? Mana fisika jam pertama lagi." Kairi memelas.
"Coba kerjain sendiri dulu deh," Usul Namine.
"Nggak bakal bisa, waktunya mepet. Gue gak akan bisa fokus." Alasan Kairi.
Lalu di luar kelas dia ngeliat Riku lewat. "RIKUU" Teriak Kairi kencang menghampirinya.
Riku menoleh, dan tersenyum senang begitu tau kalau yang manggil dia Kairi, "Kenapa Kairi?"
"Udah bikin PR Fisika belom?" Tanya Kairi to the point.
Riku berpikir beberapa saat, sebelum akhirnya memasang wajah cerah. "Udah, kemarin gue nyalin PR nya Namine pas di perpus."
Kairi langsung melonjak-lonjak senang. Oh terima kasih Tuhan, terima kasih, batin Kairi, gak jadi kena hukum Pak Ansem deh, "Pinjem dong."
Riku lalu masuk kelas menhampirinya tasnya, Kairi mengikuti dari belakang. Riku mengaduk tasnya, setelah beberapa menit dia langsung berteriak, "Oh... My... God... PR gue ketinggalan,"
*gubrak* "Terus gimana dong, Pak Ansem bakal ngasih hukuman kalau gak bikin PR," Kairi bener-bener frustrasi sekarang.
"Tenang aja Kai, kita tanggung hukumannya bersama," Kata Riku sambil nyengir lebar.
"Ogahh," Tolak Kairi, lalu Axel lewat disebelahnya. "AXEL," Kairi menarik lengan Axel keras-keras sampai tuh cowok nyaris jatoh.
Axel mengusap lengannya yang kesakitan, "Napa sih? Kalau naksir jangan gini dong caranya, sakit tau."
Sabar, sabar, sabar, batin Kairi. "Lo udah bikin PR Fisika belom?" Tanyanya berusaha menahan emosi. Kalau sampe si Axel bilang belom, langsung gue hajar, kagak peduli dah, gue udah capek.
Setelah jeda beberapa saat, "Belom," Jawab Axel polos.
*bugh* Kairi langsung meninju perut Axel sekeras mungkin. Axel menjerit kesakitan, dia terpental ke belakang.
Riku yang ngeliat langsung shock, untung tadi gue gak ditonjok sama Kairi, biar kurus gitu pasti tenaganya badak juga kayak Namine. Riku bersyukur dalam hati.
Axel bangun sambil memegang perutnya, "Serius deh Kai, kok Sora tahan ya jadian sama elo 3 tahun. Pantesan dia sering babak belur, gara-gara elo ya?"
"Jangan nyari ribut ya Axe, gue lagi emosi nih," Kata Kairi galak, rambutnya yang merah jadi makin merah.
"Udah Axe, turutin aja. Cewek kalau marah bisa lebih serem dari badak," Bisik Riku.
Axel menurut dan kembali ke banguknya dengan teratih-atih.
Dari arah pintu, muncul 2 cowok berambut jegrak dan lancip sedang berdebat.
"Apa gue bilang Rox, naek taxi lebih cepet kan?" Kata Sora, si jegrak dengan nada sok tau.
Roxas, si lancip memandangnya sebal, "Emang lebih cepet, tapi lebih mahal goblok. Mana gue
yang bayarin semua ongkosnya lagi. Kakak macam apa elo tuh?" Geram Roxas.
Sora tertawa, "Kapan-kapan gue ganti deh,"
Roxas mencibir, "Kalau seorang Sora bilang 'kapan-kapan', berarti itu gak akan pernah terjadi." Katanya sinis.
Sora memukul lengan adiknya sambil tetap tertawa, "Sinis amat seh?"
"Roxaaas," Panggil Namine, "Pinjem PR Fisika kamu dong, aku mau nyocokin jawaban." Pintanya.
Roxas segera menghampiri Namine, dan Sora duduk di bangkunya.
Kairi menggigit bibir. Sora pasti udah bikin PR, kalau Roxas bikin, tuh anak pasti juga ikutan. Tapi masa gue minjem ke dia sih, mau taroh di mana muka gue? Batin Kairi.
"Sor, PR Fisika udah ngerjain belom lo?" Tanya Riku yang duduknya di sebelah Sora.
Sora menepuk-nepuk dadanya sombong, "Udahlah, Sora gitu lhooo."
"Alah, paling Cuma nyalin PR nya Roxas," Cibir Riku.
"Weiss, enak aja. Kemaren tuh gue sama Roxas ngerjain bareng-bareng di ruang UKS." Jelas Sora.
Riku mengangguk, "Gue pinjem dong."
Sora merasakan perasaan aneh menjalar tubuhnya, perasaan dibutuhkan oleh orang lain. Akhirnya ada juga orang yang minjem PR gue, batin Sora nyaman. Selama ini kan selalu dia
yang nyalin PR orang.
"Woy, bengong aja lu. Mana bukunya!" Teriakan Riku menyadarkan lamunan indah Sora.
Sora langsung memberikan buku PR nya ke Riku.
Riku segera buru-buru nyalin, udah jam 6.45. 15 menit lagi bel masuk. Diliatnya, Kairi masih bengong.
"Kai, mau nyalin bareng gak?" Tawar Riku.
Kairi dan Sora terkejut mendengar kata-kata Riku tadi, mereka saling berpandangan sekilas. Lalu membuang muka.
Kairi menggeleng menolak tawaran Riku, "Nggak usah deh Rik."
Sora berdehem, mencoba bicara. Semalem suntuk dia diceramahin Roxas buat bersikap baik ke Kairi, jangan bikin Kairi kesel, buat seneng selalu, bersikaplah sebagai pacar yang baik. Dan bila Sora sampai kepikiran buat putus lagi, Roxas ngancem bakal menggal Sora pakai pisau dapur. Euw, sadis amat.
"Tumben lo gak ngerjain PR." Kata Sora basa-basi.
"Gara-gara elo, jegrak." Gumam Kairi tanpa sadar, dia sedikit kaget ketika mendengarnya mengucapkan itu.
"Apa lo bilang? Jegrak? Enak aja, ini model rambut paling berkelas yang pernah ada tau. Di salon aja model begini gak ada, saking masterpiece nya rambut gue. Bahkan udah gue hak patenin nih model rambut." Kata Sora kesal tapi diselipin humor jayus.
Kairi tidak bisa tidak tersenyum mendengarnya, rambut pake hak paten?? Sora, Sora, jayus nya masih belom ilang. "Dasar cowok rambut jegrak jayus yang gak punya selera humor." Ejeknya.
Anehnya Sora bukannya marah ataupun balas mengejek. Tapi dia tersenyum.
"Kai, lo mau dihukum Pak Ansem ya? Kalau mau, ya silakan aja, gak usah bikin PR." Kata Riku gak sabar.
"Iya-iya." Kairi menarik salah satu bangku dan menyalin PR Sora bareng Riku. Ini pemandangan ganjil banget, selama ini Sora lah yang sering minjem PR nya Kairi ataupun Riku. Tapi sekarang, tuh anak malah udah kelar PR nya. Oh my God, dunia mau kiamat nih. Kok bisa-bisanya Sora aja bikin PR tapi gue nggak. Batin Kairi ngeri.
"Axe, lo gak ikut nyalin?" Tanya Riku. Aduh Riku, sekalian aja sekelas lo ajak nyalin PR, batin Kairi
Axel, si rambut merah itu menggeleng. "Gue udah minjem PR nya Roxas nih." Tolaknya sambil menunjukkan buku punya Roxas.
Mereka bertiga lalu kembali sibuk nyalin. Hingga tepat pukul 7, bel berbunyi nyaring.
TEEEEEET-TEEEEET-TEEEEEET....
Untungnya Kairi, Riku dan Axel sudah menyelesaikan salinannya. Pak Ansem, wali kelasnya kelas 10 D sekaligus Guru Fisika, memasuki ruang kelas.
Seifer, si ketua kelas segera menyiapkan kelas dan memberi salam ke Pak Ansem.
"Siap, berdiri..." Ujarnya lantang, semua murid segera berdiri. "Beri salam.." Aba-abanya
"Guten morgend Herr Ansem." Seru para murid yang mendadak bicara Jerman.
"Guten Morgend." Gokilnya, Pak Ansem ikut-ikutan pake bahasa Jerman juga. "Okay class, kumpulkan PR nya ke depan. Bagi yang gak buat ataupun ketinggalan, harap meninggalkan kelas setelah membayar denda 10.000," Ajegile kan hukumannya kalau gak buat PR. Udah denda 10.000, disuruh keluar kelas lagi, dan bakal diawasin guru piket sehingga gak bisa cabut ke kantin.
Berkat si jegrak itu gue gak jadi dihukum. Batin Kairi. Sora..
Pas jam istirahat di kelas 11 A, Strife sedang sibuk ngitung kas OSIS, hingga kemudian Rufus datang menghampirinya.
"Strife, gak ke kantin lo." Sapanya sambil menaruh semua makanan yang baru dibelinya di kantin tadi di mejanya Strife.
Strife memandang pekerjaannya yang sekarang ketutup dengan jajanannya Rufus, macem kentang goreng, bakwan, choki-choki, makroni dan segelas teh manis. "Woy, sejak kapan ya ini jadi meja lo? Taroh makanan di meja sendiri, gue butuh nih meja."
"Jangan galak-galak gitu dong," Kata Rufus seraya mengambil semua jajanannya dan ditaruh di mejanya yang tepat di belakang meja Strife. "Eh, lo lagi banyak duit ya?" Tanya Rufus yang kebetulan melihat duit di meja Strife.
"Bukan duit gue lah, ini kas OSIS." Jelas Strife.
"Kok bisa dipegang sama elo?"
Strife memandang kesal makhluk di depannya, "Ya ampun Rufus, kemana aja sih lo? Gue ini bendahara OSIS tau!!!" Sembur Strife.
Rufus memasang tampang lugu, "Ohya? Kok bisa?"
Kali ini Strife gak bisa menahan emosinya lagi, "Dasar lemot, idiot, ketinggalan jaman. Udah pergi sana..pergi..pergi..!!!" Usir Strife.
Rufus dengan santainya kembali ke mejanya sambil memakan jajanan yang tadi dia beli.
Strife mengelus-elus dada, sabar Strife, sabar. Batinnya, ukh si Rufus hidup di jaman apa sih? Kok bisa-bisanya gak tau kalau gue itu bendahara OSIS?
"Strife, liat Tifa gak?" Tanya Zack, wakil ketua OSIS dari kelas 11 C mendekatinya.
"Tifa tuh kelas 11 B dodol !! Ngapain lo nyarinya kesini?" Jawab Strife ketus.
"Nyantai bang, jangan marah-marah gitu dong." Kata Zack.
Strife menghela nafas, "Sorry, gue lagi sensi akhir-akhir ini. Gue stress, tugas banyak yang numpuk." Keluhnya.
Zack tertawa, "Wajarlah lo stress, tugas lo kebanyakan. Elo bandahara OSIS, ketua kelas, kapten basket, ketua MIPA Club, As-Gur (asisten guru) sama anggota mading. Gak heran elo jadi kecapekan gini."
Strife terdiam, dia emang murid teladan. Peraih nilai UN tertinggi 2 tahun lalu, jarang bolos, aktif di berbagai kegiatan, sasaran buat nyalin PR, murid favorit guru, selalu masuk 3 besar dan lain lain.
"Udah, daripada stress gini mending ngomongin Kairi." Usul Zack sambil nyengir.
Wajah Strife yang muram berubah cerah. Yeah, Kairi memang penyemangatnya selama di sekolah. Kalau dia udah merasa capek dan gak sanggup lagi ngejalanin semuanya, tiap ngeliat Kairi pasti semangatnya muncul lagi. Dia udah naksir Kairi sejak awal MOS, tapi Strife shock berat pas tau Kairi udah punya cowok. Walau sampai sekarang dia gak tau gimana wujud cowoknya Kairi itu.
"Denger-denger nih, Kairi lagi berantem sama cowoknya." Tambah Zack lagi.
Strife berbinar, wajahnya makin cerah.
"Alah basi tuh." Celetuk Rufus dari belakang, Strife dan Zack menoleh. "tadi gue liat di kantin dia lagi sama cowoknya."
Strife kembali murung. Sedangkan Zack memandang sebal ke Rufus yang udah ngacauin usahanya buat bikin Strife ceria lagi.
"Zack, yang namanya Sora itu kayak gimana sih bentuknya?" Tanya Strife pelan.
"LO KAGAK TAU???" Teriak Zack dan Rufus barengan.
Strife menggeleng, "Gue gak tau, gak pernah liat. Cuma sering denger namanya." Dia kembali memandang Zack, "Jawab gue dong, orangnya yang kayak gimana?"
Zack berpikir sebentar, "Hm, gimana ya. Dia agak pendek, rambutnya coklat jegrak, matanya biru banget dan tipe anak periang gitu." Jelas Zack.
"Dia cakep gak?" Tanya Strife murung.
"Blah, lo nanya cakep atau nggak kok ke gue? Gue cowok, mana tau yang begituan," Kata Zack sewot.
"Cakep kok, cakep." Tambah Rufus.
"Jangan manas-manasin dah lu." Geram Zack.
Rufus Cuma nyengir lebar.
Zack kembali memandang Strife, "Udahlah Strife, gak peduli gimanapun bentuknya tuh cowok, yang penting jangan pernah patah semangat buat ngerebut Kairi dari dia."
"Wah, Zack parah nih." Seru Rufus, "Kasian kan Sora," tambahnya asal, walau Rufus sendiri gak kenal sama Sora.
Zack memasang tampang 'bodo amat, emang gue pikirin, Sodara bukan, Temen bukan'.
"Thanks Zack, kata-kata lo nyemangatin gue lagi." Kata Strife ceria.
"No problem bro, oh iya gue kan mesti nyari Tifa. Duluan ya," Zack langsung buru-buru pergi.
Rufus yang duduknya di belakang Strife, mendekatkan kepalanya ke bangku Strife, "Gue gak nyangka kalau elo bener-bener mau ngerebut Kairi dari Sora."
Strife tersenyum tipis, "Gue Strife, gue selalu bisa dapetin apa yang gue mau."
To be continued
A/N : Gilee Strife belagu banget ya!! tapi dia gak jahat kok
