Sedetik kemudian,
"Oikawa-san?!" pekik Tobio dan Kei berbarengan. Oikawa tersenyum lebar.
"Aku pulang, Adik-adikku."
LOST©vinamhani
Haikyuu©Furudate Haruichi
Oikawa Tooru, seorang ceria yang telah mengasuh Tobio dan Kei sejak mereka dalam masa sulit. Sifatnya yang cerah namun terkadang penuh sandiwara itu telah terpatri mantap di ingatan dua adik asuhnya, apalagi sifat perhatiannya yang lebih sering berlebihan— membuat Tobio maupun Kei tak tahu bagaimana mereka harus membalas semua yang telah Oikawa berikan.
Dan satu tahun lalu, Oikawa mengumumkan sebuah keputusan besar pada keluarga kecilnya. Ia akan ke Tokyo. Ia ingin mencari uang lebih banyak dan menabung—untuk hidup mereka, masa depan adik-adiknya, dan untuk impiannya.
Pengorbanan yang terlalu berlebihan? Tobio dan Kei sudah tak heran lagi. Mereka sudah terlalu sering menceramahi Oikawa tentang 'mempersiapkan kebutuhanmu sendiri', tetapi Oikawa dengan 'baik hatinya' hanya membalas dengan senyum minus perubahan. Alhasil, mempertimbangkan tenaga mereka yang terbuang percuma, perlahan mulut mereka pun lebih memilih digunakan untuk membicarakan hal lain—contoh bodohnya untuk bertengkar. Jadi saat Oikawa mengabarkan keputusannya itu, Tobio dan Kei hanya mengangguk sembari mendo'akan dalam hati. Semoga dia benar-benar berhasil melakukannya...
.
.
.
Dan hari ini dia telah kembali…
"Oikawa-san, kau sudah kaya, ya? Barang-barangmu banyak sekali," komentar Tobio sambil membongkar satu koper Oikawa bersama Kei. Meski sudah tinggal bersama selama bertahun-tahun, kenyataan bahwa kebiasaan Tobio—dan Kei— memanggil Oikawa dengan nama marganya tidak berubah. Padahal Oikawa sangat tidak keberatan jika mereka memanggilnya dengan nama 'Tooru'. Ah, tapi mereka memang punya beberapa alasan terkait hal itu sih.
"Tidak juga. Ah, di koper itu ada beberapa barang untuk kalian. Ambillah yang manapun kalian suka," Oikawa menyahut tanpa merasa perlu untuk menghentikan kegiatan membongkarnya.
Kei dan Tobio hanya menurut. Kedua remaja itu kemudian melongokkan kepala untuk melihat barang apa yang dapat mereka ambil.
Banyak sekali.
"Yakin kami boleh mengambil sesuka kami? Kalau kelepasan kami bisa saja tidak menyisakan satu barangpun untukmu lho," kata Tobio sembari melempar pandangan ragu.
Oikawa tertawa. "Tidak masalah, Tobio-chan. Malah sebenarnya barang-barang di koper itu semuanya aku beli untuk kalian."
"Kau terlalu baik," timpal Kei sambil memperhatikan barang-barang di depannya. Netra ambernya memindai isi koper itu sejenak sebelum akhirnya sebelah tangan panjangnya terulur menarik sesuatu—sebuah miniatur dinosaurus berukuran 15 cm.
Sontak Tobio tergelak. "Sudah ku duga kau akan mengambil itu. Dasar Dino-chan," ejek Tobio geli. Kei merengut. Secepat kilat ia menarik sesuatu dari koper lalu—
BUKK.
"Itte! Kei teme! Kenapa kau memukul kepalaku dengan buku?!" protes Tobio kesal.
Kei hanya membalas cuek. Remaja 17 tahun itu lebih tertarik melarikan pandangannya pada buku yang ia bawa—yang ia gunakan untuk menjelajah kepala Tobio dalam sepersekian detik barusan. Buku yang tebal, berat, dan… mungkin menarik.
"Boleh aku minta dua benda ini?" tanya Kei langsung sambil menunjukkan buku itu beserta Dino-chan. Hal yang membuat Tobio tak tahan untuk membelalak tak percaya.
"Kau gila, ya? Bagaimana bisa kau menyukai buku setebal itu?"
"Karena aku bisa memukulmu lagi dengan buku ini," jawab Kei sinis. Tobio berdecih.
"Oh, ayolah, kalian tidak harus memperpanjang masalah kan?" sela Oikawa jengah. Ia beralih pada adik surai pirangnya, "kau tidak ingin mengambil yang lain? Semisal baju atau semacamnya?"
Kei menggeleng. "Aku masih punya cukup pakaian kok," balasnya kalem.
"Aku ambil kaos dan jaket ini ya," ujar Tobio agak keras sambil menunjuk pakaian di pangkuannya. Oikawa dan Kei menoleh.
"Kalian ini benar-benar tak punya kesamaan selera ya?" komentar Oikawa geli, entah merasa lucu pada apa. Namun sedetik kemudian tiba-tiba wajahnya berubah serius. Dengan gaya menyilangkan tangan di depan dada, Oikawa menghembuskan napas berat. Membuat baik Kei maupun Tobio menyimpan tanda tanya besar atas perubahan sikapnya itu.
"Sekarang kalian sudah kelas tiga, kan? Dan kalian pasti tahu betapa keras aku berjuang selama ini. Berpanas-panasan, memeras keringat, bahkan badai api pun aku lalui. Semua itu aku lakukan demi mengantarkan kalian untuk meraih masa terbaik kalian. Jika kalian menyia-nyiakannya aku akan sedih sekali. Setiap hari kalian selalu bertanya bagaimana cara membalas kebaikanku, kan? Nah, aku akan memberitau caranya. Hanya ada satu cara. Benar-benar hanya ada satu, yaitu kalian harus segera memutuskan untuk—"
"Kau mau menyuruh kami untuk kuliah, kan?"
Krik.
Krik.
Kri—
"Keii-chaaaannn~ Jangan memutus kata-kataku~" Seketika Oikawa merengek keras. Wajahnya berubah cemberut seperti anak kecil hendak menangis.
Kei memutar bola matanya bosan. Sembari memilah camilan dan makanan di koper, Kei berujar datar, "kau mudah ditebak, Oikawa-san. Lagipula kau tidak perlu memikirkan masa depan kami sejauh itu. Kami bisa menentukannya sendiri. Dan aku pribadi memutuskan untuk bekerja setelah lulus nanti."
"Aku juga tak akan melanjutkan kuliah," timpal Tobio. "Kalau pun kuliah aku tak ingin banyak merepotkanmu, Oikawa-san."
"Ya ampun… Sebenarnya apa yang kalian pikirkan, sih? Pokoknya apapun yang terjadi kalian harus kuliah. Aku sudah capek-capek bekerja di luar kota untuk menyiapkan ini, jadi yang tinggal kalian pikirkan hanya belajar dengan benar."
Kei dan Tobio berpandangan sejenak. Tinggal dan tumbuh bersama Oikawa cukup membuat mereka tahu betapa keras kepalanya kakak mereka itu. Oleh karenanya, tanpa perlu diperjelas mereka tahu mereka tak akan bisa membantah.
Kei menghela napas. "Apa kau punya impian, Oikawa-san?"
"Itu…," Oikawa menggaruk hidungnya pelan. "Ku pikir impianku adalah kalian."
"Berhenti berbohong. Kau punya impian, kan?"
Lagi-lagi Oikawa cemberut. "Terkadang aku tak suka sifat cenayangmu, Kei."
"Tenang saja, aku bukan cenayang kok," sahut Kei santai. "Jadi, apa impianmu?"
"Hummh… Sebenarnya aku ingin kuliah dan mengambil jurusan olahraga favoritku. Tapi ku pikir aku bisa melakukannya tahun depan. Yang penting kalian dulu."
"Dan biar ku tebak," tiba-tiba Tobio menyahut. "Kau pasti belum ada biaya untuk impianmu, kan? Sudahlah, Oikawa-san, biar kami urusi hidup kami sendiri. Sekarang saatnya kau fokus pada impianmu sendiri."
"Eh… Mana bisa begitu? Kalian kan adik-adikku, sudah jelas aku harus memikirkan masa depan kalian, kan?" Oikawa tetap ngotot.
Tiba-tiba Kei berdiri. Di tangannya terdapat beberapa camilan hasil pilahannya barusan. Remaja biner coklat madu itu menatap Oikawa sebentar sebelum akhirnya berbalik hendak pergi. "Aku akan meletakkan ini di dapur."
Namun, setelah itu Kei tidak kembali ke ruang tengah. Ia langsung masuk kamar, meninggalkan gurat-gurat tanya di wajah dua saudaranya. Terlebih Tobio—yang antara yakin dan tidak menyimpulkan sebuah hipotesis di kepalanya.
"Dia marah?"
A/N : Hhh... Akhirnya berhasil update...
Aku ngerasa chap kali ini rada aneh dan harusnya ga aku potong di sini, tapi karena ku pikir dah kepanjangan... yaa, cerita selanjutnya aku masukin chap 3. Kayanya yang chap 3 aku bakal update lebih lama deh, tapi aku usahain secepat yg aku bisa. Oiya, sedikit spoiler, chap 3 dah mulai masuk inti cerita^^
Buat kalian yang dah baca, makasiiiihhhhh~~~
Aku sayang kaliaannn...
Makasih juga buat review nya^^
Sampai jumpa chapter depan :)
