Balesan Ripiew :
- Mrs. Y. Malfoy : Hwe gpp yang penting uda mau ripiu. Makasih ya :D baguslah kalo gada typo jadi kan mata aku cukup awas buat baca2 ulang hehe kependekan ya. Oke aku coba panjangin(?) dech ... Wah nenek? XD gezz aku belom pernah punya cucu loh (pacar aja belom punya *curhat *digeplak) siapa disana?
- : hai makasih udah review :D iya ini uda dilanjut. Moga tambah penasaran ya hehehe
- esposa malfoy : bagus dech kalo bahasanya asik . wah iya nih belom rapih soalnya ini folder lama ._. Jadi ya masih baru baru baru barunya nulis XD mudah2an yang ini rapi ya :D thanks udah review
- Hana37 : ini uda lanjut :D moga kamu baca ya :D aku tunggu reviewnya hehe.. Makasih uda review chap 1 :D
A/N : Di Chapter ini aku pake dua sudut pandang. Yang satu sudut pandang Draco dan juga sudut pandang normal(author) ._. Semoga gak rancu ya ._. Soalnya kalo hanya dari sudut pandang Draco kependekan. Actually ini dua chapter aku jadiin satu hehe :D moga ga membingungkan ya *nunduk-nunduk* -
Chapter 2
#Happy Reading ^_^
- DRACO POV -
'Apa gadis kebanggaan asrama singa itu belum mendengar kabar itu?' tanyaku dalam hati. Sekilas aku melihatnya duduk bersama scarhead dan kedua weaselbee. Seperti sedang membicarakan sesuatu. Tempatku yang berjarak dua meja besar berhalangkan meja Hufflepuff dan meja Slytherin membuatku leluasa melirik ke arah darah lumpur itu. Aku hanya ingin menyaksikan sendiri bagaimana ekspresinya saat weaselbee perempuan itu memberitahunya tentang kabar itu.
Sengaja tadi aku membesarkan suaraku saat berjalan di samping Weasly perempuan itu sekembalinya aku dari kantor si tua Dumbledore. Memang konyol tapi entahlah, aku ingin sekali mengalahkan Ketua Murid Putri itu. Melihat dia kalah dari sahabatnya si pahlawan Gryffindor di pelajaran ramuan Slughorn membuatku puas. Apalagi aku mampu mengalahkannya dengan caraku sendiri. Ha.
'Oh dia melihat ke arahku.' kataku dalam hati dan berusaha agar tak bertemu pandang dengannya. Aku mencoba mengalihkan pandanganku ke apel di depanku dan mengambilnya lalu langsung melahapnya. Tatapannya sangat tajam seolah ingin menumpahkan segala perasaan di hatinya. Ingin sekali aku menatapnya kembali tapi aku tak mau dikira sedang memperhatikannya. Tapi bukannya memang itu yang kulakukan?
"Drakkie, kau makan seperti anak kecil saja."kata Pansy sambil mengelap cairan apel yang menetes di samping mulutku.
"Singkirkan tanganmu, Pans. Sudah berapa kali aku bilang bahwa aku tak suka tingkahmu."bentakku dan langsung saja wajahnya memerah.
"Aku hanya ingin membantumu, Drake."katanya lalu berdiri dan meninggalkan meja Slytherin.
Hah, dasar perempuan. Kenapa wanita sangat sensitif? Kenapa mereka merasa bahwa segala sesuatu harus ditangisi? Cih, aku benci wanita seperti itu. Cengeng.
"Tidakkah kau terlalu kejam, mate? Bukankah kau sendiri tahu kalau sejak tahun pertama Pansy sudah suka padamu?"tanya Blaise padaku.
"Tidak. Aku punya hak untuk melakukan itu semua."jawabku tanpa menoleh ke arah teman satu asramaku itu.
Merasa sudah cukup kenyang aku berdiri, mengambil satu apel dan hendak pergi dari aula yang besar itu. Tanpa aku sadari Ketua Murid Perempuan kami ikut berdiri dan menyusulku.
"Rapat prefek, Malfoy. Jam lima sore tepat di tempat biasa."katanya sangat sengit padaku dan langsung berlalu tanpa mengucapkan apa-apa lagi. Aku tersenyum melihatnya. Senyum khas hanya milikku.
"Sudah mendengar rupanya, Granger? Aku satu step berada di depanmu."kataku lirih namun masih bisa kudengar. Kugigit apel yang kubawa. Rasa apel ini lebih menyegarkan setelah aku melihat ekspresi darah lumpur itu marah.
.
"Bodoh, berhentilah bermain mantra itu sebelum kau mengenaiku. Atau kubunuh kau."kataku pada si bodoh Goyle. Kami baru saja mempelajari mantra baru dari Flitwick. Mantra yang cukup mudah. Tapi kurasa tidak bagi teman bodohku ini.
Aku membaca surat dari ayahku yang baru saja datang satu jam yang lalu. Seorang ayah yang sangat kukagumi. Sosok sempurna seorang Malfoy, setelah kakekku Abraxas tentu saja.
Dear Draco,
Kudengar kau menang di Quidditch melawan Ravenclaw? Ayah bangga nak! Apalagi kudengar kau sempat mematahkan hidung satu darah lumpur dari Ravenclaw? Mereka memang pantas mendapatkannya. Para darah lumpur menjijikkan itu tak pernah layak berada di sekolah sihir manapun. Apalagi menaiki sapu terbang dan melawan darah Murni. Benar-benar perbedaan yang sangat jauh.
Ayah membelikanku sapu terbang baru merek SuperJet. Belum terjual di lapangan tapi ayah sudah mendapatkannya. Mungkin besok siap untukmu.
Ayah benar-benar berharap di final Quidditchmu melawan Gryffindor kau bisa menang dan mengalahkan Potter.
Lucius Malfoy
Ayah bangga padaku. Aku tersenyum membacanya. Sejak kecil ayah selalu mendikteku bahwa Darah Lumpur adalah penyakit. Penyakit yang harus dijauhi. Menjijikkan. Itulah yang selalu jadi pedomanku. Meski ayah tak pernah menanyakan bagaimana kabarku? Tapi membuatnya bangga sudah cukup membahagiakanku.
.
Aku berjalan keluar kamar dan bersiap mengacaukan hari Ketua Murid yang pasti sedang uring-uringan saat ini. Baru saja aku melangkahkan kaki keluar kamar ketika Pansy langsung mengalungkan tangannya manja ke tanganku.
"Aku tau kau pasti mencariku kan, Drake? Mau mengajakku ke rapat bersama?"katanya.
Aku tak menjawabnya. Aku sedang malas berdebat. Lebih baik menyimpan tenagaku untuk nanti. Kubiarkan saja dia bergelayut memberatkanku.
Selama di jalan beberapa kali kulihat Pansy memberikan tatapan membunuh pada setiap gadis yang melirikku. Dia pikir dia siapa? Kami berjalan sangat santai. Tak ada niat untuk datang tepat waktu ke rapat itu. Biarkan mereka menungguku. Bukankah rapat ini diadakan hanya untukku? Oh aku tersanjung.
.
Aku masuk ke ruang rapat prefek di lantai lima. Kulihat semua prefek plus dua ketua murid sudah duduk membentuk konferensi. Tatapan semua orang di ruangan langsung tertuju ke arahku -dan Pans- sesaat setelah aku membuka ruang rapat. Dan jangan lupakan juga tatapan membunuh dari Granger. Aku suka keadaan ini.
"Haruskah aku buatkan kau jam dinding untuk dipakukan di tengkorak tempat otakmu berada agar kau TEPAT WAKTU ha, Malfoy?"bentak Granger setelah aku duduk di ujung sisi yang berseberangan dengannya. Aku hanya tersenyum. Sudah tabiatku. Sangat menyenangkan melihat Mrs. You-Know-It-All itu marah.
"Dua puluh lima menit, Malfoy? Tak bisakah kau hargai waktu. Aku tak peduli akan jadwalmu yang padat. Tapi ini benar-benar menyebalkan."kata Scarhead berdiri mendampingi sahabat ikalnya.
"Hah, sudahlah. Diam kalian berdua. Seperti tak ada kerjaan lain saja mengurusiku? Perhatian ha? Telingaku gatal mendengar suara kalian berdua. Lanjutkan saja rapatnya."kataku enteng membalas tatapan menelan hidup-hidup pasangan ketua murid menyebalkan itu. Haha.
"Rapat ini diadakan karena kekurang ajaranmu melangkah tanpa bicara dulu pada kami. Aku tau kau itu bodoh, Malfoy. Tapi aku tak menduga otakmu benar-benar sangat dangkal."cerca Granger membuat panas telingaku.
"Apa? Jangan sekali-sekali mengatakan aku bodoh!"bentakku berdiri dari kursi prefekku.
"Karena memang itulah kau, Ferret. Mengambil sendiri pesta Halloween? Kau gila? Dimana otakmu? Kenapa tak membicarakan dulu pada kami? Darimana kau bisa mendapatkan tanda tanganku dan Harry? Itu pemalsuan, Idiot."kata gadis itu.
Semua mata langsung memandang kearahku. Tampaknya baru si ikal dan pothead yang tahu menau mengenai ijin Halloween itu.
"Diamlah, Granger. Apa salahnya? Merasa pentingkah tanda tangan dari tangan kotormu itu? Kau tinggal menunggu. Bukannya itu baik? Kau tak melihat niat baikku? Aku tak ingin merepotkan kalian."kataku menyunggingkan seringai biasaku.
"Apa SALAHNYA? Apa SALAHNYA? Demi janggut Merlin, Malfoy. Apa otakmu benar-benar tak ada? Tentu saja salah. Sangat salah. Kesalahan fatal. Kau pikir pesta Halloween itu hanya bisa diatur oleh satu orang? Konsep dan segala macamnya? Kau benar-benar tak memikirkan itu. Apa yang ada didalam tengkorak pirangmu itu, Ferret?"geram Granger nyaris membuat matanya yang hazel itu keluar dari tempatnya. Dengan ekspresi yang sangat marah dia sampai berdiri dari kursinya.
"Simpan emosimu, Hermione. Dia Malfoy apa yang kau harap darinya?"kata scarhead mencoba menenangkan sahabatnya itu.
"Benar kata Pothead. Simpan energimu."kataku tersenyum padanya.
"Diam kau, Malfoy. Ini semua kesalahanmu. Kau mengambil keputusan sepihak dan memalsukan tanda tangan. Dan jika sudah seperti ini kau harus bertanggung jawab. Dan kau harus menyusun semuanya sendiri. Seperti perbuatanmu yang sendirian menghadap Proffesor Dumbledore."jelas Potter. Namun aku bisa merasakan keraguan di dalamnya.
"Tenang saja, akan kubuat ini menarik. Rapat selesai."kataku lalu bangkit dari kursiku.
"Hei tunggu, hei. Kubilang tunggu! Rapat belum selesai."teriak Granger. Namun sama sekali tak kudengar. Aku yakin hal ini semakin membuatnya membenciku dan aku menyukainya.
"Apa maksudnya, Drakkie? Kau mau mengonsep semuanya sendirian? Kau yakin? Kenapa kau tak bilang sebelumnya padaku?"kata Pansy cerewet disampingku. Aku bahkan sudah tak menghiraukannya lagi dan tak menyadari keberadaannya di sampingku. Aku berbalik menatapnya. Menarik tangannya hingga dalam jangkauan tubuhku. Mendekat padanya, hingga hanya tersisa beberapa senti dari wajahnya. Kudekatkan lagi mulutku pada bagian kanan wajahnya.
"Memang kau pikir kau siapa? Sehingga aku harus berbicara padamu sebelum aku melakukan apa yang aku mau. Pergilah, kehadiranmu hanya membuat otakku tak bisa berpikir."kataku tepat ditelinganya. Kulihat dia shock dan hampir menangis. Aku meninggalkannya mematung di tempatnya. Itulah yang tak aku suka. Cengeng. Terlalu menempel. Bukan dia. Jelas bukan dia untukku.
- Draco POV end -
- Normal POV -
"Sudahlah, Hermione. Biar dia buktikan apa otaknya sebesar keberaniannya."kata Harry menenangkan Hermione.
"Harry, pesta ini sama sekali bukan buat mainan. Ya tuhan apa yang ada di otaknya. Kita hanya sekali menjadi ketua murid. Dan bisa dengan mudahnya dia menghancurkannya saat pesta itu."gerutu Hermione.
"Kalaupun kau seperti ini dia juga tak tahu, Mione. Dan pula Dumbledore tahu bahwa ini pasti keputusan Malfoy sepihak. Mana bisa seorang penyihir terhebat sepanjang abad di tipu oleh penyihir semacam Malfoy? Kau tak berpikir Dumbledore tak tahu tentang itu kan?"kata Ginny.
"Tentu aku memikirkan itu Ginny. Hanya saja. Ya tuhan apa sebenarnya yang ada di otak Ferret itu?"geram Hermione.
"Sudahlah, Mione. Lebih baik kita tunggu saja apa yang akan dilakukan Malfoy dan kita harus melakukan antisipasi daripada frustasi ini merusak kejeniusanmu."kata Harry lagi.
"Yeah, aku harap dia tak sebodoh penampilannya. Semoga kekacauan yang terjadi tak separah yang aku bayangkan."desah Hermione pasrah.
.
Sementara di kamar serba hijau emerald dengan tirai perak kemilau seorang laki-laki berambut pirang platina bermata kelabu sedang berbaring menengadah ke atas memandang atap tempat tidurnya.
"Hari yang indah."katanya lalu tersenyum.
"Apa yang membuat harimu indah, mate?"kata Zabini menimpali perkataan Draco.
"Merusak hari seseorang. Hari yang indah kan?"katanya tanpa memandang orang yang mengajaknya berbicara
"Hari siapa yang kau rusak? Sehingga kau terlihat sangat menikmatinya?"tanya Zabini lagi.
"Si darah lumpur ketua murid bodoh itu."katanya mantap penuh dengan nada kemenangan.
"Bencana apalagi yang kau sebabkan untuknya, mate? Kau gila berurusan dengannya."kata Theodore yang entah sejak kapan ikut menjadi 'pendengar'.
"Kepuasan pribadi melihat mukanya yang marah dan kesal. Kau tahu rasanya seperti berhasil menyingkirkan lalat yang mengganggu."kata Draco.
"Kau gila, Mate."kata Theo dan Zabini menggeleng-gelengkan kepala mereka. Tak percaya dengan 'kepuasan pribadi' yang dimaksud oleh seorang Draco Malfoy.
.
Kehadiran sang surya menandakan pagi tlah datang. Namun masih bukanlah hari yang indah. Kebekuan semakin membuat murid-murid enggan keluar dari hangatnya Common Room. Tapi itu sama sekali tak bisa mengubah jadwal kegiatan Hogwarts. Kebekuan semakin terasa ketika Hermione, Ron, Harry dan beberapa Gryffindor yang harus berbagi kelas dengan Draco Malfoy, Pansy Parkinson, Theodore Nott dan segelintir Slytherin yang ikut dalam dinginnya lantai dasar kelas Ramuan. Cuaca yang dingin hanya menambah 'dingin'nya perseteruan Gryffindor versus Slytherin yang sudah mendarah daging.
"Morning Class."kata Profesor Slughorn memecahkan kebisuan.
"Sudah siap untuk praktek hari ini? Hari ini kalian akan membuat Flying like Dust Draught atau Ramuan Terbang seperti debu. Ramuan ini berguna untuk membuat tubuh kita sangat ringan seperti debu. Silahkan buka buku kalian halaman 54."kata Profesor Slughorn tenang. Semua langsung membuka halaman yang dimaksud.
"Dan sebelumnya percayalah bahwa ramuan itu takkan semudah tampilannya. Dan juga untuk membuat ramuan ini butuh dua orang dalam satu kelompok. Kelompok ini akan saya pilih sendiri. Jadi di sini ada perkamen sihir. Berapa nomor yang kalian pilih maka pasangan nomor itu yang akan jadi teman kalian membuat ramuan ini."jelas Profesor Slughorn membagikan sebuah perkamen.
Hermione dan yang lain menulis sebuah nomor di perkamen itu. Setelah semua perkamen tertulisi. Maka perkamen itu terbang kembali ke Slughorn dengan sudah berpasang-pasangan.
"Well, inilah pasangan kalian membuat ramuan. Theodore Nott dengan Harry Potter. Blaise Zabini dengan Ron Weasley."kata Slughorn sambil melirik para wizardnya.
"Aku berharap aku bersamamu, Drakkie."kata Pansy menggelayut di pundak Draco.
"Singkirkan tanganmu, Pans. Jangan membuatku malu."bisikku.
"Selanjutnya Pansy Parkinson dengan Seamus Finnigan."kata Slughorn menenangkan Draco.
"Draco Malfoy dengan Hermione Granger."kata Slughorn tenang.
"APA? Apa anda tidak salah Profesor?"kata Draco dan Hermione bersamaan.
"Kalian sendiri yang menulisnya di Perkamen. 19 itu nomor kalian kan?"tanya Slughorn tak menyadari bencana apa yang baru saja dibuatnya.
"Tapi profesor bagaimana saya bisa bekerja sama dengan Ferret yang tak punya otak ini?"tanya Hermione tajam.
"Hei jaga mulutmu, Mudblood. Kau pikir apa aku mau bekerja sama denganmu. Tak pantas sama sekali."kata Draco tak kalah pedasnya.
"Jika kalian tak mau maka mudah saja. Jangan ikut pelajaran ramuanku. Dan silahkan pergi dari ruangan ini miss Granger dan tuan Malfoy."kata Slughorn.
"Dan aku tak menoleransi kata-kata buruk di kelasku. Sepuluh point dikurangi dari Gryffindor dan Slytherin untuk masing-masing dari kalian berdua."kata Slughorn lagi.
'Sial, kenapa harus Malfoy? Kenapa?' kata Hermione dalam hati.
"Oke sudah ada enam pasangan. Maka tugas kalian satu bulan untuk mengerjakan ramuan ini. Ingat bahwa hasil akhir atau kesempurnaan dari ramuan ini akan berpengaruh besar pada kenaikan tingkat kalian. Dan tentunya untuk penunjang pekerjaan kalian nanti. Kelas dibubarkan."kata Slughorn.
Hermione paling cepat keluar disusul oleh kedua sahabatnya dan yang lainnya.
.
"Oh, god. Cobaan apalagi ini?"kata Hermione merebahkan diri di sofa maroon di Common Room Gryffindor.
"Oh, ayolah Hermione. Bukan cuma kau yang harus berpasangan dengan anak-anak Slytherin."kata Harry.
"Ya, betul kata Harry. Dengan Zabini. Itu mimpi buruk."kata Ron menimpali.
"Tak seburuk aku, Ron. Malfoy? Malfoy? Kelas Ramuan sangatlah mengerikan. Lelucon yang menjijikkan. Benar-benar mimpi buruk."kata Hermione menutup mukanya dengan tangan.
"Hari yang buruk, eh?"kata Ginny yang tiba-tiba hadir.
"Hai, honey."kata Harry memeluk Ginny dan mencium keningnya.
"Sangat buruk Gin."timpal Ron.
"Aku akan kembali ke ruang khusus ketua murid. Aku ingin menenangkan diri. Dan bersiap menyelesaikan tugas ini sendiri."kata Hermione bangkit dan bersiap pergi.
"Tak mau menceritakan 'harimu' kepadaku Hermione?"kata Ginny.
"No, Ginny. Not today." kata Hermione mencoba tersenyum.
.
Hermionepun menyusuri dan melompati lukisan. Berjalan dengan tangan menggenggam sebuah botol berisi api sihir yang hangat. Dan benar-benar seperti diinginkannya. Di tengah perjalanan ia bertemu Malfoy yang sedang sendirian.
"Tak bersama 'selirmu',Malfoy?"kata Hermione.
"Bukan urusanmu,Granger."katanya. Membalas Hermione.
"Asal kau tahu. Mimpi burukku adalah bekerja sama denganmu. Dengan otakmu yang entah ada atau tidak."kata Hermione membuka 'percakapan' mereka.
"Diam kau, Granger. Aku tak butuh penilaianmu."kata Malfoy menatap tajam Hermione.
"Well, aku sanggup menyelesaikan ramuan itu sendiri. Jadi, aku tak perlu bantuanmu. Aku tak butuh kau untuk menyelesaikan ramuan itu. Semakin baik kalau kau menjauh dariku dan jangan menggangguku, dan..."kata Hermione.
"Oh, god, Granger. Siapa yang mau berdekatan dengan Darah Lumpur sepertimu. Tak ada seorang normal yang mau. Kecuali kelompokmu yang sama sekali tak punya otak dan tak punya malu."sela Draco Malfoy dengan seringai khasnya.
"Diam,Malfoy. Sekali lagi kau bilang apapun tentangku dan teman-temanku takkan kumaafkan kau."kata Hermione dengan tongkat sihir telah berada di tangannya.
"Jadi, lebih baik kau diam dan aku akan mengerjakannya sendiri."kata Hermione dan beranjak meninggalkan Malfoy.
"Oh, baguslah. Aku tak perlu repot-repot dengan ramuan itu. Aku masih punya kegiatan yang bisa kuhancurkan. Yaitu Halloween."kata Malfoy yang tak urung membuat Hermione berbalik dan menatap tajam mata kelabu itu.
"Kalau kau, masih ingin merasakan indahnya lulus dari Hogwarts dengan anggota tubuh lengkap dan tenang. Aku peringatkan jangan macam-macam denganku ataupun dengan acara apapun yang melibatkanku."kata Hermione kali ini dengan wand sudah mengacung di depan mata Draco.
"Dan kau tahu betapa mahirnya aku dalam mantra. Apalagi dengan mantra modifikasi ingatan. Kau bahkan takkan menyadari apapun saat kau membuka mata nanti."kata Hermione tajam.
"Kalau kau berani, Granger."kata Draco dengan wand yang sudah terarah sempurna kepada Hermione.
"Kau takkan tahu apa yang bisa kulakukan dan apa yang akan kulakukan jika aku mau. Perlu kuingatkan kejadian waktu aku memukulmu saat kau beraninya memfitnah buckbeak? Oh itu sangat menyenangkan. Dan aku harap kau mengerti bahwa aku bisa melakukan lebih."kata Hermione.
"Kau! Petri..."kata Draco nyaris memantrai Hermione.
"Expelliarmus."kata salah seorang yang melerai perkelahian mereka.
"PROFESOR.'' teriak Draco dan Hermione bersamaan.
.
.
.
TBC
Telat updatenya gara2 ffn dua hari belakangan ini gabisa buat upload cerita masa'? T_T ada yang sepenanggunga? *curhat*
BTW nggak kepanjangan kan? X) haha ... Oiya kalo ada yang tanya kenapa ga Snape yang ngajar. Yah soalnya Snape ngajar PTIh haha *maksa*
Keadaan dunia sihir aman tanpa Voldemort ._. Jadi tenang aja XD
Minat buat Review? Review ya *.* #puppyeyes #maksa
Makasih sebelumnya :3 Love you :*
