THE BLACK OF FLOWER

Harry Potter © J.K. Rowlings

SEMI AU/AR, OOC, OC, Typo (s) Mature Content


Chapter 2: The Beginning

Setelah sarapan pagi entah hal apa yang membuat hari ini Harry begitu merasa sial, atau karena mimpi malam tadi yang membuatnya sampai paranoid. Dengan kepala terhuyung kebawah dan langkah kaki yang kecil ia meratapi nasibnya sebab pagi ini ia akan di seleksi kemanakah asrama dia masuk yang di adakan di aula besar makan. Setelah berbincang face to face oleh Dumblodre tadi pagi di kantornya, setelah mengikuti sidang uji kemandirian secara privasi kini Dumbledore mengadakan acara seleksi dadakan yang memang tidak terencanakan, sebab pengadaan seleksi hanya berlaku pada murid baru yang jumlahnya banyak dan di tahun ajaran yang telah di tentukan sesuai aturan berlaku. Lalu, Dombledore mengadakan seleksi khusus untuk pemuda berkacamata itu pagi ini. Hanya beberapa staff yang mengetahuinya selebihnya murid dan staff di bawah pengawasan Dumbledore tidak mengetahuinya.

Harry berjalan mendapati beberapa sorot mata terbungah serta kaget dari siswa-siswa yang di lewatinya, bahkan tanpa sengaja dari keramaian ini mendapati bisikan-bisikan dari sebelahnya. Harry terus menundukan kepalanya mungkin karena ia tidak mau wajahnya di lihat banyak orang.
Semua balik lagi ke perencanaan awal. Dia disini hanyalah cuma berniat menjalani misinya, atau di samping itu bisa dikatakan Harry juga berkeinginan untuk menjalani sebagai siswa normal lainnya. Menjalani seperti seorang yang tidak memiliki tanggungan di masanya.

Setelah kaki kecil itu berhenti di depan meja besar kebanggaan Hogwarts, sebagai tempat perjamuan kudus antar sesama staff guru dan karyawan, Harry tersungging senyum menyambut para orang penting yang telah menantinya, sebelum tubuh Harry berbalik 180* tanpa ia duga bahwa ada sepasang mata yang dingin tengah menatap kearahnya dari kejauhan. Harry mendapati sorot mata yang penuh intimidasi tersebut dan segera memalingkan pandangannya kearah lain.
Dumbledore menyambut seluruh penghuni Hogwarts dengan begitu antusias. Usia nya yang telah mencapai paruh baya tetap saja dari dulu sampai sekarang ia tetap di hormati. Dumbledore mewakili Armando Dippet selaku kepala sekolah Hogwarts yang kini di ketahui beliau sedang menjalani pertemuan penting dengan Kementrian Sihir di Prancis.

Sosok itu berdiri tegap tepat di samping Harry berdiri, dia sambil memegang topi seleksinya. Di belakangnya di temani oleh seorang kepala asrama bernama Aurora Sinistra yang kini siap menyambut sosok pemuda 'aneh' pikirnya yang tidak tau asal muasal murid tersebut.

"Selamat pagi semua. Staff serta murid-muridku sekalian." Katanya di ucapkan dengan suara yang lantang.

Murid-murid dan semua orang yang berkumpul disini membalas sapaannya secara bertepuk tangan bersama. Ia melanjutkan sambil di busungkan sedikit dadanya kedepan.

"Hari ini sekolah Hogwarts kedatangan murid pindahan baru—" ujarnya. Semua orang menatap kebingungan. Dumbledore berkata pada Harry, suaranya hampir seperti berbisik.

"—Perkenalkan siapa dirimu, nak."

"Oh... yeah." Harry mengangguk lugu

Ini salah satu lelucon yang sama sekali tidak membuatnya tertawa. Jantungnya merasa di pompa lebih cepat dari sebelumnya dan kakinya hampir lumpuh di karenakan terlalu grogi ketika berbicara di depan banyak orang. Harry terusik sekali dengan segala bisikan murid-murid Slytherin yang tidak henti-hentinya menggosipi dirinya.
Ditambah tubuhnya semakin mati rasa ketika sorot mata tajam berwarna hitam itu terus menyelidiki sosok Harry dari kebawah hingga keatas.
Tidak tahu apa yang di pikirkan oleh pemuda tersebut membuat mata itu berhasil melumpuhkan keberanian Harry.

Secara tidak sengaja Harry mendadak lemas dan pusing dengan kondisi tidak bersahabat ini. Albus Dumbledore sungguh tidak berperikemanusiaan. Pekik batin Harry.
Matanya menatap lurus. Mencoba mengalihkam dari sorotan mata yang menganggu, Tom Riddle. Harry berujar dengan senyum menawan yang melayang di segala aula besar ini—berani bertaruh siapapun yang mendapati senyumnya orang itu mungkin akan mulai tertarik padanya.

"Selamat pagi semua." Katanya, butuh jeda beberapa detik setelah orang-orang membalas salam pembukaannya.

"Namaku Daniel. Aku selaku murid baru di sekolah ini." Di akhiri senyum simpul sebagai penutupnya.

Orang lain bertepuk tangan dan salah satu murid Gryffindor memberi siluit genit untuknya.

Bloody Hell

Siapapun baik perempuan ataupun laki-laki sendiri akan tertarik padanya. Mungkin usia Harry yang telah menginjak 16th sudah mulai memiliki Sex Apeal yang artinya siapapun orang yang baru pertama kali berjumpa atau sudah lama akan tertarik untuk melakukan hubungan intim padanya.
Setelah itu Albus Dumbledore mengambil alih dan kembali berbicara sedikit mengenai asrama pada Harry, lalu ia memakaikan topi itu diatas kepala Harry.

Demi Merlin hal ini membuat dirinya kembali kedalam nostalgia dimana saat itu Harry baru pertama kali memasuki sekolah Hogwarts bersama kawan-kawannya, Ron dan Hermione. Betapa anehnya ia merasakan sensasi topi yang menyerupai topi penyihir yang memilki mulut dan mimik wajah menyeramkan. Bagaimana saat ketika topi itu menggeliat-liat diatas kepala begitu menggelitik di ubun-ubun. Harry tertawa sekaligus takut ketika topi itu salah memutuskan asrama untuknya.

Kini Harry di hadapi moment menjengkelkan itu lagi, tapi untuk yang kedua kalinya ini benar-benar tidak lucu. Hal ini membuatnya takut setengah mati ketika topi itu bergerak tidak nyaman dan menunjukan tanda-tanda gerik Slytherin. Ia merasakan sesuatu yang aneh melihat topi itu lebih mendorongkan dirinya kepada asrama yang berlawanan dengan asrama asalnya.
Ia merutuki atas kesalahan dirinya sendiri yang belum mempersiapkan secara matang untuk ke tempat ini. Harry tidak percaya akan di hadapi masalah hal ini lagi. Dalam ketegangan yang di sembunyikan Harry perlahan menyelipkan sebuah harapan kecil agar ia di tempatkan di Gryffindor.
Tak terkecuali tanpa sepengetahuan Harry, Tom Riddle tampak seperti mengetahui sesuatu tentang anak itu hanya di lihatnya dalam sekejap. Sebuah senyuman terangkat sedikit di bibir ranumnya—membuahkan misteri yang di ketahui oleh dirinya saja. Ia terus menatapi anak itu dalam diam. Seketika konsentrasinya buyar setelah Abraxas Malfoy, si pria berambut pirang itu menepuk pundaknya. Mungkin sosok itu mengetahui yang di maksudkan Tom saat ini.

"Kau tertarik padanya?" bisiknya sambil menyunggingkan senyum licik

Alis Tom terangkat sebelah, matanya kemudian berpaling pada pemuda di sampingnya.

"Ya." Balasnya singkat sambil tersenyum yang tidak kalah sadisnya dengan Abraxas—teman se-asramanya itu.

Tidak lama setelah itu topi seleksi pun mengabulkan harapan Harry. Akhirnya dengan bahagia ia menyambut atas penentuan yang telah di resmikan bahwa Harry memasuki Gryffindor. Semua tampak antusias memberi ucapan selamat kepadanya, begitu dengan para staff dan Dumbledore sedikipun ikut merasa bahagia. Harry kini bisa bernapas lega sebelum meninggalkan aula makan. Setidaknya untuk misi kali ini, ia tidak harus mengintai setiap saat atau bahkan mungkin saja Tom mengawasinya selama Harry se-asrama dengan dia.

Acara penentuan asrama telah usia. Semua bubar. Seorang pemuda bermata emerlad itu memutuskan untuk keluar belakangan, karena ada suatu hal yang begitu menyentrik ketika setelah itu para ketua asrama berkumpul dengan Auror dan Dumbledore. Harry menutupi tubuhnya dengan jubah gaib—yang memungkinkan dirinya tidak akan ketahuan oleh siapapun.
Ia berjalan amat pelan bahkan suara langkah kakinya tidak terdengar. Lalu, beberapa lilin disini di matikan. Harry semakin penasaran. Ia berharap tidak ada satupun diantara mereka melihatnya.
Mereka berkumpul membentuk sebuah lingkaran kecil—Dumbledore tampak seperti mengatakan sesuatu dan Harry tidak mendapatkan sepatah kata apapun darinya. Sebelum itu Dumbledore sudah mengantisipasi terhadap orang-orang nakal yang mungkin berniat menguping pembicaraan mereka, Dumbledore memasang mantra Silencio sebelumnya. Tidak ada alasan yang konkret—fakta bahwa pembicaraan ini begitu penting.

Harry melangkah sedikit lebih maju kearah Tom berada. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik wajahnya mungkin dari situlah Harry mendapatkan sebuah petunjuk atau sesuatu yang penting. Tapi, sedikit reaksi Tom yang Harry harapkan tidak membuahkan sama sekali. Dengan kondisi seperti apapun topeng dingin itu selalu menempel di wajahnya lekat-lekat. Membuat Harry semakin mengutuknya.

Sosok pemuda jangkung itu merasakan sesuatu yang aneh, mendapati jubahnya terkibas ke belakang seperti ada seseorang yang melewatinya. Tom menengok kebelakang memastikan insting yang dari tadi mengganggunya terus. Mimik wajahnya menimbulkan ekspresi yang sulit di indentifikasikan sedikitpun, sorot matanya semakin tajam—dan tatapannya membaca gerak-gerik yang tak terlihat. Ia menyadari keberadaan seseorang—entah siapapun itu yang memata-matainya tanpa di undang adalah pelanggaran yang tak pernah termaafkan olehnya.
Harry hampir membuat kecerobohan yang bisa jadi mencelakai dirinya sendiri, sebab hal tadi tanpa sengaja ia menimbulkan angin kecil hingga menerpa jubahnya. Harry mundur beberapa langkah sebelum Tom menghampiri dan membuka jubah gaib itu. Ia berusaha agar tidak membuat kejanggalan disini, sedikitpun Harry mencegahnya.

Malam itu Harry merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur—selain pula ia ingin me-relax-kan dirinya dari pelajaran transfigurasi yang berkali-kali membuatnya sakit kepala. Ia merasakan kerinduan akan kehadiran Ron yang mungkin saat ini sedang bergulat dengannya sebelum tidur. Suatu hal yang banyak membuat Harry merindukan teman-teman di masanya. Ia tidak tau pasti kenapa dirinya memutuskan untuk melemparkan dirinya ke masa lalu, tahun 1944. Dimana masa dirinya belum lahir ke dunia ini, belum mengenal sihir-sihir atau hal tabu yang tak pernah terpikirkan olehnya saat dia bermimpi bermasturbasi dengan Draco. Di tahun itu ia masih dalam harapan kedua orangtuanya dan Tuhan sedang merencanakan pertemuan Lily Evan dan James Potter untuk berlanjut hingga sampai ke jenjang pernikahan atau memang keduanya memang belum memasuki usia remaja? Entahlah.
Teman sekamarnya, orang yang mirip Arthur memanggilnya dalam pertama kali. Ia bergumam sendiri saat melihat pemuda berkaca mata itu menatap langit-langit ruangan ini dengan khidmat.

"Da-Daniel?" Panggil orang itu. Ia sempat khawatir salah menyebut nama orang itu. Dia masih bergeming di kasurnya, namun iris sapphire itu kearah lelaki itu. Si empunya nama melirik ke sumber suara tersebut yang tidak jauh dari tempatnya. Ia mencari sosok itu dalam gelap dan mendapati pantulan cahaya dari lampion menunjukan setengah profil orang itu. Harry terus berusaha untuk menjadi orang lain di masa lalu ini, menyembunyikan identitas diri yang sebenarnya. Tanpa terkecuali para staff pengajar atau orang-orang penting.

"Ya?" Balas Harry menyapanya sebelum ia mematikan lampu tidur di sebelahnya.

"Kita semua belum berkenalan disini, bukan?" Dia mengangguk mantap sambil menyelipkan senyuman khasnya. Dua orang lainnya yang menjadi satu kamar dengan Harry dan pemuda berambut merah itu. Wajahnya seperti reflika Arthur Weasly. Ia ikut mengangguk antusias juga, mungkin dia benar—mereka kedatangan satu murid baru yang menjadi teman sekamarnya, tidak baik kalau belum mengenal satu sama lain walau Harry sendiri sudah memperkenalkan diri tadi pagi secara publik.

Pemuda tersebut berseru, "Namaku Septimus. Septimus Weasly." Katanya sebelum berakhir terjun kedalam pelukan tempat tidur.

Harry di buat bungkam dulu beberapa saat. Berpikir, membayangkan, berpikir dan terus membayangkan. Bukankah orang itu mirip sekali dengan ayah Ron. Wajah oval berbintik merah tidak jauh berbeda dengan keturunan-keturunan Weasly sebelumnya. Rambutnya teracung keatas, mencuat. Kakek Arthur yang di temuinya tampak lebih muda. Pemuda jangkung, bermata biru, bertubuh tidak terlalu tegap, namun porsinya proposional. Kehadirannya membuat Harry sedang berdiskui dengan Arthur. Tidak jauh berbeda, hanya saja yang membedakan pola bicaranya begitu lantang. Tampaknya orang itu memiliki selera humor yang bagus.

Harry beranjak ketempat tidurnya. Gugup bergetar setelah mendapati beberapa sepasang mata tertuju padanya.

"Salam kenal Sir—" grogi harus memanggil apa, "Maksudku, Septimus."

"Kenalkan teman sekamarku." Untunglah dia tidak menghiraukan kegugupan Harry tadi. Senyum lebar memamerkan deretan gigi rapi yang putih bersih.

Harry diingat iklan senyum pasta gigi merek Pisoden.

"Ah yeah." jawab salah satu laki-laki yang duduk di sebrang Harry berada. Namanya Christian, ia pemuda yang agak pemalu di Gryffindor.

"Namaku Christian." Sambungnya. Harry mengulas senyum yang cukup bersahabat. Lalu, laki-laki yang berada di sebelah Septimus meneruskannya lagi.

"Evan." sahutnya sebelum mata Harry mengekori kearahnya. Dia agak dingin.

Well, sepertinya perkenalan singkat malam ini selesai. Sebelum lekas tidur, Septimus memberi sedikit aba-aba mengenai aturan asrama. Terlebih lagi aturan itu di tujukan untuk Harry yang 'mungkin' sangat baru di tempat ini—semua mencegah dari yang namanya pelanggaran apalagi sampai membuat point Gryffindor berkurang karena hal sepele. Septimus selaku siswa tertua yang memiliki tanggung jawab 'sedikit' untuk mengatur teman sekamarnya. Bukankah, ini baru pertama kali bagnya. Ia membeberkan aturan mengenai tata krama asrama. Di sebutnya satu persatu. Sampai ke nomor dua puluh peraturan sudah di sampikan. Harry mengangguk tanda paham setelah berakhirnya sesi pengenalan. Namun, wajahnya tidak bisa membohongi kalau ia hanya berpura- pura memahami apa yang di maksud Septimus. Sebenarnya tanpa perlu dia memberitahunya, jelas—Harry sudah mengetahui segala aturan asrama, jadi Harry bersikap seolah dia 'baru' disini dan menyikapinya secara bermuka dua.

Setelah aba-aba singkat yang Harry tidak minta sedikitpun, mereka mulai mematikan lampu dan lekas tidur. Berbalut selimut tebal bergaya vintage siapapun orang pasti akan cepat terlelap oleh kenyamanan serta kehangatan selimut itu. Ruang sekejap menjadi gelap, hanya cahaya seduktif yang masuk melalui celah jendela di karenakan tirai tidak menutupi sepenuhnya. Meninggalkan kesan sejuta misteri terhadap ruangan itu, ketika semuanya menjadi remang dan minim cahaya.

Inilah kesempatan Harry, ia cuma perlu menunggu sekitar 15 atau 20 menit agar memastikan mereka benar-benar terlelap dan terbalut mimpi yang indah sehingga mereka tidak terjaga oleh suara sedikit pun atau bayangan Harry yang sebentar lagi akan mengendap-endap keluar dari kamar itu. Ia memposisikan tubuhnya terlentang menghadap langit kamar, matanya masih menangkap cahaya rembulan di luar sana dan mendapati beberapa coretan misterius di langit kamar itu. Ia juga sambil berpikir bagaimana cara dia mengintai sosok Tom di tengah malam ini demi meluncurkan aksi memata-matanya—menggali sebuah informasi mengenai dirinya atau ia lebih memilih mencarinya langsung di balik kamar mandi rahasia. Semua informasi mengenai organisasi okultisme Tom akan segera terbongkar.

Tapi, semua itu tidak semudah yang di bayangkan Harry. Bagaimana jika Tom sudah mengumpulkan beberapa anggota sebagai pengikutnya, dan mengantisipasi dari pengkhianatan jika salah satu diantara informasi mereka ada yang bocor.
Harry juga tidak tau siapa saja orang-orang disini yang telah menjadi pengikutnya. Mungkin sedikit lebih banyak semua beranggotakan dari murid Slytherin. Tom tidak sebodoh apa yang Harry pikirkan.

Harry membaluti tubuhnya dengan jubah gaib tersebut, menutupi dirinya agar tidak terlihat oleh penjaga asrama yang berkeliling di setiap koridor. Butuh beberapa menit untuknya agar sampai di asrama Slytherin dan memasuki secara diam-diam kedalamnya. Ia tau bahwa ini sudah keterlaluan karena murid asrama lain tidak di perizinkan masuk ke asrama yang bukan tempatnya, apalagi di lakukannya tengah malam akan mengurangi banyak point dan di hadiahi surat peringatan langsung dari Kepala Sekolah.

Selama tidak ketahuan bagi Harry semua itu tidak masalah. Bahkan, di masanya untuk berkeliling di luar asrama di jam malam sudah merupakan kebiasaan Harry. Mungkin cuma sekedar mencari udara segar dan mencari makanan di dapur Harry selalu berkeliaran di tengah malam. Tak luput dari pelanggaran yang telah di cetak banyak oleh Gryffindor sendiri bahkan asrama yang memiliki julukan singa yang patuh itu pun sering kepergok keluar di jam malam oleh detensi. Point selalu berkurang karena murid-murid selalu ketahuan keluar di waktu malam.

Tapi semua itu tidak akan berlaku pada Harry sebab ia memiliki jubah 'tak terlihat' bahkan oleh siapapun. Jubah yang keberadaanya sudah cukup langka dan kini hanya di miliki oleh kaum khusus, Potter salah satunya yang masih tersisa. Ia mengendap-endap dari bayangan tersembunyi yang tertutupi oleh balutan jubah—ia berjalan menuju kamar mandi tua wanita. Sebuah kamar mandi di mana tragedi perlawanan antara Harry dengan Tom di kamar rahasia, membunuh Basillik milik Tom. Ia akan kesana lagi untuk sekedar mengeceknya.

Setelah ia tiba jubah itu di lepaskan dan di simpan kembali ke kantongnya. Semua tidak ada yang berubah sedikitpun sejak pertama kali ia datang ke masa lalu ini. Sebuah portkey yang memperhubungkan jarak jauh dengan tahun yang begitu jauh dan berhasil terlintasi oleh sebuah buku yang menjembatani antar ruang dan waktu yang berbeda. Dengan buku Tom, Harry bisa menjalani kehidupan pada umumnya hanya melalui perjalanan waktu lewat buku yang begitu singkat.

Sorot mata hijau itu memperhatikan pantulan dirinya di depan cermin, seolah ia seperti sedang berbicara pada seorang yang berada di cermin westafel itu. Dia bergumam dan suaranya bahkan terdengar nyaris berbisik.
Ia sedang berkomunikasi dengan bahasa ular. Semua hal itu dianggap terlihat nyata olehnya.

Tak di sadari beberapa langkah dari pemilik suara lain itu datang memergoki keberadaan Harry disana. Matanya tidak mungkin berbohong sebab ia betul-betul terkejut apa yang kini di lihatnya sekarang.

Seorang pemuda 'asing' yang terlihat sedang mengucapkan sesuatu di depan cermin. Sosok yang menyadari keberadaan Harry adalah Tom Riddle. Ia tidak bisa di bodohi, apa yang di lihatnya sekarang jelas Tom menangkap sebuah kalimat dengan bahasa lain yang hanya di mengerti oleh dirinya sendiri.

Ketika sosok tubuh jangkung itu tertangkap oleh kedua mata emerlad milik pemuda berambut hitam itu pun terkejut setengah mati.

Raut Tom semakin menjadi, aura gelap mendominasi di sekelilingnya. Tatapannya semakin tajam dan bahkan warna matanya semakin kelam, tak jauh berbeda dengan ruangan yang minim cahaya.

"Selamat malam—" ujarnya dengan nada yang sangat dingin dan alis yang terangkat sebelah serta bibir tipisnya di naikan sedikit. Ia perlahan melangkah maju dan sosoknya semakin terlihat jelas oleh Harry.

Si pemuda emerlad itu masih diam mematung, pandangannya sama sekali tidak teralihkan oleh yang lain seketika ia berbalik posisi 90* ke arah pemuda Slytherin tersebut. Dia bahkan tidak sempat memikirkan kata-kata apa saja yang terlintas di pikirannya untuk memberikan alasan belaka.

Harry mendadak speechless

"Apa yang kau lakukan malam-malam disini, Daniel, si anak dari Gryffindor, betul?" Tom menyebutkan namanya, membuat si empunya nama semakin sadar. Tatapannya yang penuh dengan intimidasi dan ekspresi wajahnya begitu dingin seperti es, semua itu terbaca sepintas oleh Harry apa yang di pikirkan saat ini oleh pemuda berambut hitam klimis itu.

Harry terlalu gugup menghadapi kenyataan. Seharusnya Harry tidak perlu takut menjelaskan karena pada akhirnya sosok 'biadab' itu yang akan membunuh kedua orangtuanya nanti. Harry pernah bersumpah tidak akan pernah memaafkannya sedikit pun, tapi apa daya jika malam ini mereka di pertemukan kembali dengan kondisi yang tidak begitu bersahabat. Siapapun pasti akan menimbulkan kecurigaan.

"Aku sedang keluar mencari udara segar." Bodoh. Kalimat bodoh itu terlintas begitu cepat di katakannya tanpa di pikirkannya terlebih dulu. Harry bersumpah sebentar lagi akan mengutukinya dirinya sendiri dengan mantra crucio.

Harry perlahan mundur dengan pandangan yang masih tertuju pada Tom ketika laki-laki itu semakin mendekat kearahnya. Ia yakin juga bisa mendengar detak jantungnya sendiri tanpa perlu bantuan alat sejenis—dan suara percikan air yang tercipta setiap kali langkah sepatu pantofel itu beradu dengan lantai yang becek oleh air. Harry hampir kehabisan napas setelah dinding di belakangnya menghalangi halauannya. Harry tidak sempat berpikir kalau suatu saat Tom bisa kapanpun kesini pada malam yang tidak tertentu. Bahkan dia juga adalah seorang ketua kelas yang di beri ijin berpatroli di daerah sini. Harry terlalu bodoh untuk tidak memikirkannya.

Mulut si pemuda emerlad itu tiba-tiba seperti di pasang lem perekat sehingga mulutnya sama sekali tidak bisa terbuka. Apa yang membuat Harry begitu takut ketika langsung di hadapi kedua kalinya oleh Tom Riddle.

Pemilik kedua mata kelam itu semakin mengernyit tajam. Rasa curiga yang di timbulkannya tidak bisa di sembunyikan. Tom semakin dingin mendapati respon yang tak masuk akal itu.

"Udara segar? Kau mencari udara segar di kamar mandi ini?" Katanya ia tidak percaya—ia tau kalau orang didepannya ini sedang berusaha membohonginya, "Kau sudah tau ada beberapa aturan yang berlaku di sekolah ini, Daniel? Salah satunya keluar dari asrama pada jam malam, kau tau Daniel itu suatu pelanggaran? Aku disini memang bukan bagian divisi asrama mu—Gryffindor, bukan? Tapi aku juga berhak mengkontrol setiap murid dari asrama lain yang keluar di jam malam."

"Aku tau hal itu Tom." Harry menyela kesal

"Lalu?" Alis tom terangkat sebelah meminta lebih penjelasan dari bibir anak berkacamata didepannya itu.

"Aku sedang mencari barang yang hilang disini, di daerah sini. Ketika pertama kali aku tersesat di tempat ini dan aku merasa meninggalkan sesuatu disini. Kau bisa membantu ku mencarinya, Tom?" Ia berlaga membodohi dirinya sendiri. Harry tidak akan semudah itu membocorkan maksud dia kesini yang sebenarnya.

"Kau memerlukannya sekarang?"

"Ya, kurasa aku membutuhkannya sekarang."

Harry bahkan tidak tau object apa yang akan di jadikan sebagai buktinya. Demi Merlin, Harry benci dengan situasi awkward semua ini. Harry benci berpura-pura bersandiwara tapi itu merupakan salah satu langkah awal untuk misinya nanti—Harry tidak ingin menimbulkan kecurigaan sedikitpun padanya apalagi di hari pertama ia memasuki sekolah ini dan berpura-pura menjadi orang lain di masa lalu ini. Harry tidak mungkin sebodoh itu menipu Tom dengan alasan konyol tapi keadaan memaksanya untuk melalukan itu.

Tom mendengus sebal. Beberapa kali matanya ke dapat-an menatap Harry di kala dia sedang tidak melihat kearahnya. Mungkin dia menyelidiki sesuatu 'yang tersembunyi' dari sosok pemuda Gryffindor tersebut—jelas bahwa Tom melihatnya sendiri kalau Harry tadi sedang berbicara sesuatu di depan cermin. Ok. Kali ini Tom membiarkannya lolos. Lagian ada kerjaan lain yang membuat Tom tidak bisa berlama-lama menginterogasi. 'Buang-buang waktu.' Pekinya dalam batin

"Daniel, sebaiknya kau kembali kekamar mu sebelum divisi lain yang menemukanmu." Ujarnya dengan suara yang lantang. Kata-katanya pasti terdengar jelas oleh Harry.

"Ya. Ta-tapi aku bahkan sampai lupa jalan pulangnya."

Tom mengangguk angkuh "Baiklah. Mari ku antarkan." Ujarnya. Bibirnya menyungging senyum ketidaksukan.

Harry Potter

Pagi yang cukup gaduh tidak biasanya saat memasuki awal bulan December. Sebentar lagi akan ada pengumuman libur natal yang akan di sampaikan oleh Albus Dumbledore sebagai perwakilannya. Harry masih mengingat di masanya masih berada di pertengahan bulan semi, apakah waktu dan dimensi berbeda dari tahunnya? Padahal dia rasa baru menjalaninya sekitar beberapa menit yang lalu dan semuanya berjalan begitu cepat. Apa yang akan di lakukan Harry saat libur natal tiba? Semua orang pastinya akan mengajak keluarganya untuk berjalan-jalan di Diaogen Alley sebagai satu tempat rekreasi utama Hogwarts ini. Harry ingin mengajak siapa untuk menemani liburannya?
Tidak mungkin dia sampai berpikir sejauh itu hanya untuk memikirkan liburan saja. Justru di waktu inilah yang tepat untuk melakukan misinya.

Setelah usai sarapan pagi Harry bersempat untuk mengintip sosok Tom dengan teman rambut pirangnya yang di ketahui se-asrama nya tampak membicarakan sesuatu yang penting. Bukan sebuah pembicaraan misterius atau hal penting di luar dari akademik yang sengaja Tom lakukan kepada teman sebelahnya, ia meminta orang itu menerima tawarannya dengan sebuah iming-iming yang menggiurkan. Mungkin saja itu sebuah penilaian Harry hanya dari ujung matanya tanpa mencari tau langsung ke calon pengikutnya kali ini. Harry mengamati dalam diam.
Sebuah tepukan pelan di pundaknya membuat tubuhnya relfeks 'terbangun' matanya melotot seketika mendapati pukulan ringan di belakangnya yang hampir membuat jantungnya berhenti.
'Sialan'. Umpat Harry dalam batin.

"Septimus?" Pekik Harry. Ia tetap memasang wajah cool-nya

"Kau sedang melihat siapa? Dari tadi kuperhatikan tampaknya serius."

Well, ayah Arthur Weasly ini rupanya pintar mengamati juga. Harry bahkan tidak menyadari dari mana sosok laki-laki berambut almond itu datang. Mungkinkah dia memakai teleportasi untuk memindahkan dirinya di waktu yang sangat cepat. Wajah Harry bersemburat merah, untungnya rambut hitamnya sebagian menutupinya. Untuk yang ke berapa kali Harry pun berbohong lagi, padahal dia benci bohong.

"Ah, yeah tidak ada apa-apa. Aku cuma memperhatikan guru-guru di depan meja itu."
Arthur menyipitkan matanya, tanda ia tidak percaya. Namun, ia akhirnya mengiyakan perkataan Harry, ia tidak mau teman sekamarnya itu tidak merasa nyaman karena sikap ke-kepo-annya itu yang terlalu berlebihan.

Septimus mengangguk, "Oh ok Daniel. Hmm... liburan natal kau kemana dan bersama siapa?"

Harry ingin merengek kali itu juga 'Stop! Berhentilah bertanya, aku sedang mengamati Tom' dan ia menjawab dengan senyum paksaan yang terselip di kalimatnya. "Sepertinya aku tidak punya rencana liburan kali ini."

"Baiklah. Aku pergi dulu, ada yang perlu aku kerjakan," Katanya, "—Dan jangan lupa kalau ada satu hal yang membuat mu tidak enak kau bisa ceritakan padaku." Ucapnya sebelum meninggalkan Harry

"Ya, terimakasih."

Harry bernapas lega. Walau sebenarnya ia tetap merasa berdosa kali ini cukup banyak orang yang telah ia bohongi selama berada di hari ini. Harry terketuk lagi untuk melanjutkan 'kegiatannya' itu yang dari tadi ke jeda 5 menit. Namun, sosok yang di carinya itu menghilang tanpa jejak sedikitpun. Harry mendongakkan kepala dari lemari sebagai tempat persembunyiannya tadi. 'Sial' Ia kehilangan moment berharga lagi, dan kemana rombongan Riddle itu pergi.

Bahkan jika mereka pergi keluar dari aula makan seharusnya ia melewati pintu depan dulu. Harry semakin penat memikirkannya. Keberadaan Tom seperti samar-samar dan jarang keliahatan di aula besar tentunya. Membuat sosok calon pangeran kegelapan itu meninggalkan beberapa misteri yang sulit di pecahkan. Bahkan kemarin saja setelah usai pelajaran ramuan yang di adakan pukul 11 siang hingga larut ke pelajaran transfigurasi yang selesai hampir jam 6 sore Harry tidak merasakan kehadirannya itu.

Harry bertemu dengannya kemarin sekitar jam 10 malam. Ia pun perlu menyiapkan sesuatu untuk pelajaran selanjutnya dan dengan sangat terpaksa ia memberhentikan dulu kegiatannya untuk rencananya. Hari yang melelahkan, dan Harry ingin sekali pulang ke masanya, dan saat itulah terlintas di benaknya bagaimana cara dia pulang ke masa nya yang waktunya cukup tergolong jauh sekali. Rasa takut dan khawatir mulai menyelimuti auranya. Harry meninggalkan aula makan saat itu juga.

Dan tanpa sepengetahuan Harry, sosok yang tengah di carinya itu malah berbalik memperhatikannya dari kejauhan. Ia menyungging senyuman yang tidak jelas artinya, dan matanya seolah memberitahukan kalau anak baru itu cukup menarik baginya. Seperti mangsa baru yang akan di terkam olehnya selanjutnya. Bayangannya pun menghilang di telan gelap.

P.S

[EDIT] Sebelumnya di chapter ini Harry bertemu dengan Arthur, sekarang sudah ku perbaiki beberapa bagian dan ada penambahan jumlah kata untuk melengkapi jalan ceritanya. Di edit sedikit. Kehadiran Arthur disini digantikan dengan Septimus Weasly, ayah dari Arthur. Kurasa cukup enak di baca juga, di ketahui kalau aku memakai Arthur, pembaca kurang dapet feelsnya, begitu juga dengan ku, kurang X'D Karena sudah di perbaiki, semoga chapter selanjutnya biar makin afdol. Thanks untuk semua sarannya. V