Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto.

Pairing : SasuFemNaru

Warning : AU, FemNaruto, OOC, OC, typo(s).

Note : Fanfiction ini terinspirasi dari beberapa film, jadi di mungkinkan ada beberapa adegan yang sama.

Selfish merupakan bentuk kata dalam bahasa inggris yang digunakan untuk menggambarkan watak atau sifat dari seseorang, selfish memiliki arti egois atau seseorang yang mementingkan dirinya sendiri.

Song recommendation : Billie Eilish - Bored

Selfish

Copyright to pienanas

Chapter 2

••

Bohong jika Kurama bilang ia bahagia. Tentu saja, memangnya siapa yang bahagia bila adik perempuannya hilang tanpa jejak. Kalau pun ada, mungkin ia sudah tidak waras.

Hari ini adalah peringatan menghilangnya Naruto yang ke lima belas. Kurama ingat sekali ketika ia sadar dari koma, yang pertama ia tanya adalah Naruto.

Ia masih ingat bagaimana Kakashi mengatakan. "Naruto menghilang, tidak ada yang menemukannya."

Dan sialnya lagi, ayahnya telah meninggal. Jika Kurama bisa mengulang waktu, seharusnya ia tidak mengajak mereka ke taman bermain, seharusnya ia mengatakan pada ayahnya bahwa mobilnya mengeluarkan suara aneh.

Seharusnya ia mendengarkan firasat buruk yang dikatakan oleh Naruto.

"Ku, berhenti melamun! temanmu sudah menunggu."

Maka Kurama mengangguk. Meninggalkan Mito tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pria itu bungkam, ia terlampau malas berbicara dengan neneknya saat ini. Moodnya sedang buruk.

"Kau akan pergi, Ku?"

Lantas, Kurama tersenyum lembut begitu melihat ibunya. "Ne, kaa-chan. Neji sedang mengadakan pesta kecil."

Dan Kushina tersenyum kecil, ia menepuk pelan kedua pundak putranya. "Hati-hati!" ucapnya.

Setelah pamit pada Kushina, kemudian Kurama menghampiri Kiba yang tampaknya sudah menunggu lama di dalam mobil. Wajah pria itu tertekuk, sepertinya ia merasa kesal.

"Wah, aku rasa kau sudah lama menungguku." kekehnya sembari memasang sabuk pengaman.

Kiba mengerling malas, "Untung kau temanku." ucapnya kesal. Sedangkan Kurama hanya terkekeh menanggapinya.

Sesudah itu, Kiba langsung menginjak pedal gas. Mobilnya melaju dengan kecepatan rata-rata. Kebetulan sekali, tempat tujuan mereka tidak terlalu jauh dari kediaman Uzumaki.

"Silahkan turun, Tuan Uzumaki." Kiba tersenyum jahil.

Kurama mendengus kesal, "Diam Inuzuka!"

"Cih, semenjak jadi Uzumaki. Dia semakin menyebalkan." gerutu Kiba sembari menatap tajam Kurama yang sudah keluar dari mobilnya dan sedang mengetuk pintu.

"Lama sekali kalian."

Neji menyambut kedua temannya dengan gerutuan, pria itu kemudian mempersilahkan keduanya masuk.

Sebuah meja bundar yang sudah terisi dengan bermacam makanan dan minuman langsung menjadi pusat perhatian. Semua itu menggiurkan, bung.

"Astaga banyak sekali makanannya!" Kiba berseru senang, "aku akan menghabiskan semuanya!"

Neji mendengus, "Silahkan kalau kau sanggup." ucapnya.

"Tentu saja! aku siap menjadi sukarelawan jika jatah kalian tidak habis." balasnya sembari meneliti semua makanan.

Kurama mendengus jengah, ia mengacuhkan Kiba. Kesibukan Sasuke di sudut ruangan menjadi titik fokusnya. Pria berambut raven itu tampak serius menatap beberapa lembar kertas.

"Apa itu?"

Sasuke melirik kearah pria berambut merah yang empat tahun lebih tua darinya. "Kontrak kerjasama."

"Dengan?"

"Senju Hospital."

"Senju Hospital? apa itu ada hubungannya dengan Ame?" Neji bertanya.

Sebuah helaan nafas lelah terdengar, Sasuke meletakkan lembaran kertas itu. Ia memijit pangkal hidungnya, pekerjaan ini membuatnya lelah. "Hn, aku dan Itachi bergantian untuk mengawas di sana." sahutnya.

"Jadi siapa yang akan pergi duluan?" tanya Kiba, pria itu sedikit mengalihkan perhatiannya dari makanan.

"Aku."

Dan berakhir Kiba tertawa keras, ia bahkan hampir tersedak karena tertawa terlalu keras. "Bagaimana jadinya jika Sasuke berada di sana?"

Kurama mengangguk, menyetujui pertanyaan sekaligus ejekan dari Kiba. Bagaimana jika seorang Uchiha Sasuke yang terkenal dingin, cuek dan juga egois berada di tengah kota yang sedang dilanda musibah?

Sasuke mendengus jengah, ia benci ide ini. Siapa juga yang mau mengawas di sana? mengawasi pegawai perusahaannya saja Sasuke sudah muak, apa lagi mengawasi masyarakat asing.

Sebuah senyum tersungging geli, Neji hampir tertawa melihat wajah Sasuke yang datar tapi memancarkan kecemasan. "Oh ya, ku dengar Itachi-nii dan Kyuu-nee akan menikah dalam waktu dekat ini?" tanya Neji memastikan.

"Hn."

Kiba merengut, "Benarkah? kenapa kalian tidak memberitahu ku?"

"Malas." Kurama menyahut, "nanti juga kau tau dari media."

Kiba mendengus kesal, "Cih, menyebalkan sekali."

Lantas Neji menghela nafas sabar, tujuannya mengundang mereka-kan untuk merayakan keberhasilannya dalam menaklukan hati Ten-Ten, kekasih baru Neji.

"Ck, aku mengajak kalian ke sini untuk merayakan keberhasilanku!"

Kiba mendengung, "Hah?"

"Keberhasilan apa?" Kurama menyahut penasaran.

"Aku dan Ten-Ten sudah jadian."

Kedua mata Kiba membola, mulutnya terbuka lebar. "Woah! hebat sekali!" Kiba memekik takjub.

Pasalnya, Ten-Ten termasuk wanita yang keras kepala. Ia dari awal menolak kehadiran Neji, tapi sekarang mereka menjadi sepasang kekasih? hebat.

"Itu bagus, aku tidak akan mendengar kau mengeluh lagi." ucap Kurama dengan nada lega.

"Sialan." Neji mengumpat tapi Kiba dan Kurama malah tertawa dan Sasuke hanya tersenyum tipis.

••

Akhirnya hari yang paling Naruto hindari telah tiba. Jika kalian bertanya kenapa? maka jawabannya adalah karena hari ini keberangkatan Naruto dan para sukarelawan menuju Amegakure.

"Kau sudah siap, gaki?"

Ini Tsunade. Yang tengah menatap Naruto dengan pandangan jenaka, bisa di lihat dari raut wajah Naruto jika wanita itu sangat tertekan.

"Sinting, siapa juga yang siap untuk menjemput ajal." decihnya, kemudian Naruto melirik Tsunade yang merupakan pemilik sekaligus pimpinan Senju Hospital.

"Ck, dasar keras kepala. Sudah ku bilang bicara yang sopan dengan Tsunade-sama!" Shikamaru mendengus kala mendengar nada ketus yang Naruto keluarkan.

Naruto mendecak sebal sembari memutar kedua matanya, "Tsunade baa-san saja tidak keberatan, kenapa kau yang repot?" ucapnya.

Tsunade terkekeh. Sebenarnya ia setuju dengan yang dikatakan Shikamaru, Naruto itu terlampau keras kepala. Namun, walau begitu Tsunade sudah menganggap wanita pirang yang berumur dua puluh dua tahun itu sebagai cucunya.

Kali pertama bertemu dengan Naruto, ia langsung merasa cocok. Rasanya seperti bertemu cucunya sendiri untuk yang pertama kali. Aneh, padahalkan Naruto hanya anak kecil asing yang kebetulan mengikuti Shikaku bekerja.

"Baa-san jangan melamun! bisnya sudah datang, kami akan berangkat."

Yang kemudian Tsunade tersenyum tipis, tadi ia sempat melamun. "Ah maaf, apa barangmu sudah masuk semua?" ucapnya.

"Sudah, yang lain juga sudah masuk." sahut Naruto sembari memakai topi baseball berwarna meran marun bergambar nanas kecil di depannya.

Maka Tsunade mengangguk penuh arti, wanita paruh baya itu menepuk bahu kanan Naruto. "Hati-hati, jaga dirimu!" titahnya.

Naruto memutar matanya malas. Lantas berkata, "Tanpa kau suruh, aku akan melakukannya." ujar Naruto.

"Hei Naruto, ayo!"

Seorang wanita berambut merah muda berteriak memanggil Naruto, wanita itu melambai menyuruh Naruto masuk kedalam bis.

"Bye baa-san!" pamitnya, sebelum pergi Naruto sempat memberi pelukan singkat pada Tsunade. Naruto juga berpamitan pada Shikaku dan Yoshino, wanita itu memberikan pelukan singkat dan melambai.

Di dalam bis, Naruto duduk bersama Sakura. Wanita berambut pendek berwarna merah muda yang tadi memanggilnya.

"Naruto kau mau ini?" Sakura menawarkan sebuah snack yang ia bawa. Kemudia Naruto mengangguk dan mengambil snack tersebut.

Perjalanan menuju Amegakure akan memakan waktu kurang lebih empat jam. Itu waktu yang lama, bung.

"Hei kalian, ingin bermain? aku bosan."

Dimana Ino yang duduk di depan Naruto dan Sakura menoleh ke belakang; mencoba mengajak kedua teman wanitanya melakukan sesuatu. Ia bisa mati kebosanan jika hanya duduk diam di dalam bis selama empat jam.

"Jangan ganggu aku, Ino." ujar Naruto.

Sedangkan Sakura menggeleng pelan, yang kemudian Ino mendengus kecewa.

Naruto menurunkan topinya yang membuat setengah wajahnya tertutup, ia melipat kedua tangannya di dada. Dan mencoba menyamankan tubuhnya.

"Sakura, tolong bangunkan aku ketika sampai."

Maka Sakura menyahut pelan, ia menatap Naruto yang setengah terlelap. Kadang ia merasa heran dengan sikap Naruto yang cuek terhadap sekitar. Bahkan ia terkenal egois, walau begitu Naruto terkadang menjadi ceria.

Aneh memang, cukup membuat Sakura menggeleng kepala. Terserahlah, yang paling penting Naruto tidak berbuat jahat.

-tbc-

Halo! terimakasih sudah membaca ya! Gimana? sifat Naruto berbeda kan dengan aslinya? HEHE. Oh ya, jika kalian ingin tau visual topinya bagaimana, bisa kalian cari di google atau aplikasi lain dengan kata kunci 'baseball hat maroon.'

Ah ya, saya mau bilang jika fanfic ini belum saya publish di watty HEHE. Mungkin saya ingin menabung chapter dulu, agar nanti di watty kalian bisa membaca setiap hari! So see yeah.

Btw maaf kalo chap ini pendek :)

Sampai jumpa lagi!

Salam hormat,

Pi