He's a Girl

Author : Si HwangJae Tyaz

Genre : Romantic, Brother/Sistership

Cast :

Katara

Lee Junho

Kintaro

Hwang Chansung

Lee Eun Ji

2PM's Member

Disclaimer : Semua member 2PM di FF ini hanya milik Tuhannya masing-masing. Yang punyaku cuman ide FF ini. Happy reading. Don't forget your review, guys. Gamsahamnida.. :D


Pukul 3 kurang 5 menit kami sudah sampai di tempat yang dijanjikan. Sebuah café yang lumayan nyaman. Pukul 3 tepat, promotor-yang ternyata bernama Mr. Jang- tersebut datang dan bergabung dengan kami dalam satu meja persegi. Ternyata, kami diharuskan menadatangi kontrak dengan JYPE dan pergi ke Seoul untuk jangka waktu 1 tahun.

"Tetapi kami harus bilang dulu ke orang tua kami Mr. dan orang tua kamipun belum tentu mengizinkan." Aku mulai ragu. Appa bukan orang yang gampang member izin. Apalagi ini soal pindah ke Seoul.

"Sis." Taro menatapku dan menggenggam tanganku. "Begini saja Mr. Seandainya kami tidak diperbolehkan pergi, hubungi saja Juara kedua dari audisi ini. Mereka tidak kalah bagusnya dengan kita. Tetapi kami tetap mengusahakan sebisa kami."

"Hmmm. Baiklah jika itu mau kalian. Ini no. telepon saya. Saya tunggu paling lambat 3 hari dari sekarang untuk konfirmasi kalian."

"Baik." ucap kami bebarengan.

"Baiklah kalau begitu. Saya pamit."

"Terima kasih atas segala bantuannya Mr." Mr. Jang tersenyum. Kami berjabat tangan dan Mr. Jang pergi.

"Oppa, terus ini gimana? Kamu tau gimana Appa khan? Huff." Aku kebingungan.

"Tenang ajja. Kalo emang ini rezekinya kita, apapun bisa terjadi. Ok? Ayo pulang. Udah mau maghrib ini. Nanti Eomma nyariin." Taro menggandeng tanganku menuju motor. Aku masih tak bersemangat. Aku berjalan sambil membayangkan reaksi Appa saat mendengar berita ini. Taro merasakan kegelisahanku. Tiba-tiba…

"Assalamualaikum. Yeoboseyo Eomma. Aku sam Tara ga langsung pulang yha. Mau jalan-jalan bentar. Mungkin jam 7an kita baru pulang. (diam sesaat) Neee'. Assalamualaikum." Taro menutup percakapan dan memasukkan ponsel itu ke saku celananya. Dia melihatku menatapnya. "Mwo?"

"Kamu telepon Eomma?"

"He'em. Izin mau jalan-jalan dulu. Ayo." Dia memasang helmnya dan bersiap.

"Tapi kemana?"

"Udah pake dulu tuh helm."

Dan kamipun pergi dari parkiran café tersebut. Pukul 7 tepat kami sudah ada di garasi rumah. Tepat saat makan malam.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam. Eonni, Oppa, ayo makan. Eomma barusan selesai masak." ujar Tari yang sedang membawa sepiring lauk.

"Appa mana?" tanyaku.

"Apa Ra?" ternyata Appa sudah di belakangku.

"Eh Appa. Hehe" 'Aduhhh. Babo yaaa.' batinku.

"Taro mana Ra?" tanya Eomma.

"Itu Oppa Ma." tunjuk Tari.

"Yes makaaaaan." Taro datang dan langsung duduk. Tak ada rasa was-was terlihat di wajahnya. 'Kok bisa siiiih. Hassssh.' kataku dalam hati.

"Appa." Taro membuka suara.

"Hemm?" Appa hanya bergumam tanpa menoleh. Beliau masih sibuk dengan makan malamnya. 'Aduh. Taro mau ngomong sekarang? Ahhh.' Aku was-was.

"Minggu kemarin, aku sama Tara ikutan audisi dance. Terus…" Taro sepertinya mulai ragu untuk meneruskan. "Terus kita berdua menang, Appa."

"Wah, bagus dong. Appa bangga punya anak-anak yang jago ngedance kayak kalian. Lalu apa masalahnya?" ternyata Appa sudah mengendus sesuatu yang mencurigakan dari kami. Dan kalau sudah begini, kami HARUS mengatakannya.

"Aku ajja Oppa." kataku sebelum Taro melanjutkan. "Yang ngadain audisi dance ini JYPE. JYPE itu perusahaan management artis dan label record yang menampung artis-artis berbakat dari Korea Selatan, Pa. Nah, karena kita juara 1, kita harus mengabdi di perusahaan itu selama satu tahun yang berarti juga kita harus pindah ke Seoul dalam jagka waktu satu tahun. Gitu Pa." jelasku dengan cepat.

"Harus? Kalian yakin?" Appa angkat suara.

"Ne'. Tadi sore kita udah ketemu Mr. Jang, promotor audisi dance di Indonesia."

"Lalu kuliah kalian bagaimana?" pertanyaan Appa membuat kami terdiam. "Kalo dalam hal ini kalian harus mengorbankan kuliah, mending batalkan perjanjian kalian. Appa sampai kapanpun ga akan setuju."

Harapanku menguap. Appa sudah tak mungkin lagi bisa dibujuk jika seperti itu. Aku hanya tertuduk lesu saat Taro mulai angkat bicara lagi.

"Malam ini juga Taro akan memastika hal itu, Appa. Tapi, please, biarkan kami pergi ke Seoul. Kami janji, ini akan menjadi yang terbaik bagi kami."

"Terbaik katamu?TERBAIK?" Appa mulai naik darah. "Apa yang kalian tahu tentang apa yang yang terbaik untuk kalian? Yag terbaik untuk kalian ya ini. Kuliah di sini, di Indonesia. Tidak dimanapun..! Sekarang, lupakan kontrak itu dan jangan pernah mengungkitnya lagi. Ingat, LUPAKAN..!"

"Tapi Appa. Kami sudah berusaha keras untuk ini. Lalu sekarang kami harus melepasnya begitu saja? Tidak Appa. TIDAK..!" Taro bertengkar dengan Appa. Tari memelukku karena takut. Eomma bingung harus membela siapa. Akupun bingung harus berbuat apa.


-He's a Girl-


Hari ini sudah batas akhir kami harus konfirmasi kepada Mr. Jang. Tetapi Appa masih dengan keputusan awalnya yaitu tidak menyetujui kami berangkat ke Seoul. Entah apa yang harus kami lakukan lagi. Padahal, apa yang membuat Appa ragu telah ada jalan keluarnya. Appa ragu apakah kami harus meningglkan kuliah. Namun nyatanya, Mr. Jang mengatakan bahwa kami disarankan pindah kuliah ke Seoul.

Memang satu tahun bukan waktu yang sebentar. Selama satu tahun, aku dan Taro harus berada jauh dari Appa, Eomma dan Tari. Tetapi semua pengorbanan ini sebanding dengan pengalaman yang akan kami dapat sepulang dari sana. Sayangnya, Appa tak pernah mau menerima alasan itu.

"Sis. Kita harus tetap berangkat ke Seoul. Dengan atau tanpa restu Appa." ucap Taro suatu hari.

"Kamu gila? Terus, siapa yang bakalan nandatanganin surat transfer sama surat rekomendasi kuliah kita? Tanpa surat itu, kita ga bakalan bisa kuliah dimanapun di Seoul."

"Eomma sudah setuju untuk tandatangan buat semua berkas yang kita perlu buat ke Seoul. Mr. Jang juga udah ngurusin passport kita buat sekarang dan 6 bulan kedepan kalo udah waktunya diperbarui. Sekarang tinggal kita siap apa nggak kesana. Are you ready, Sis?" tanya Taro.

"Always." Jawabku singkat. Aku tak tahu lagi apa yang akan terjadi. Aku sangat ingin pergi tetapi aku juga ingin di sini bersama Appa, Eomma dan Tari. Aku bingung.


-He's a Girl-


TARO

"Minggu depan kita siap berangkat." Itu pesan singkat yang dikirimkan Mr. Jang kepadaku. Aku hanya bisa menghela nafas panjang. Aku tahu bagaimana pikiran Tara saat ini. Tanpa dia sadari, aku pun merasakan hal yang sama seperti yang dia rasakan.

Sore itu aku melihatnya duduk melamun di teras belakang, sendirian. Aku tak pernah tega membuatnya galau seperti ini. Tapi apa boleh buat. Kesempatan seperti ini takkan datang dua kali.

"Maaf Ra." gumamku pada diriku sendiri. Lalu aku beranjak.

Sudah dua minggu lebih aku dan Appa tidak saling berbicara. Aku tahu Appa sangat marah kepadaku. Aku berpikir keras dan berusaha berbaikan dengan Appa. Tapi…

"Sedang apa kamu di sini Ro?" suara lembut Eomma membuyarkan lamunanku.

"Eh Eomma. Enggak kok. Cuma lagi bingung apa yang harus dibawa ke Seoul. Oh iyha, kata Mr. Jang, aku sama Tara bisa berangkat minggu depan, Ma." ucapku sambil tersenyum.

"Hmmm. Kita masih punya waktu satu minggu buat ngurus surat transfer kuliah sama nyiapin barang-barang kalian berdua. Iyha khan?" Eomma tersenyum dan mengelus rambutku. "I'm gonna miss both of you, honey." Ucap Eomma sambil menarikku ke pelukannya. 'I'm gonna miss you too, Eomma.' ucapku dalam hati.


-He's a Girl-


"Kalian besok berangkat jam berapa?" tanya Appa yang pada akhirnya luluh dengan kegigihan kami. Beliau mau menandatangani surat transfer kami dan semua yang membutuhkan izin orang tua. Kemarin malam saat Mr. Jang datang ke rumah untuk bertemu Eomma dan Appa sekalian meminta izin untuk "meminjam" kami selama satu tahun ke Seoul, Appa meminta tolong pada Mr. Jang agar mengawasi kuliah kami di sana. Dan itu berarti, Appa telah mendukung niat kami. Haha.

"Jam 9 pagi, Pa. Terus kita dari Juanda, terbang ke Soekarno-Hatta. Jam 11 siang kita berangkat ke Korea. Kata Mr. Jang, Insya Allah sampek sana jam 6 sore waktu Indonesia ato sama kayak…. Hmmmm… jam 8 malem waktu Seoul." kata Tara. Aku cuma bisa melongo karena takjub. 'Gila ini bocah. Udah sampek segitunya kalo ngitung. Ckckckckckck. Hmmm. Tapi ga papa. Biar Appa ga khawatir. Pinter pinter. Hehe.' batinku. Tanpa sadar, aku senyum-senyum sendiri hingga Tara curiga.

"Oppa, kamu ngeledek aku?" bentaknya sambil cemberut.

"An..ani. Ani, nan anya." jawabku terbata-bata. 'Huffff. Hampir ajja.'

"Taro."

"Ne Appa?"

"Jaga adikmu baik-baik selama jauh dari Appa dan Eomma."

"Siap bos."

"Jangan di ajak yang aneh-aneh di sana."

"Iyha Pa. Taro bakalan jadi Oppa yang baik." Aku tersenyum. Appa melakukan hal yang sama. Ahh. Setelah sekian lama bertengkar, akhirnya aku bisa berbaikan dengan Appa sebelum aku bertolak ke Seoul.

"Oh iyha nak. Kalian nanti dari Soekarno-Hatta langsung ke Korea atau transit dulu?" tanya Appa. Tara terlihat bingung. Aku terkekeh. Hihihi.

"Kita langsung ke Korea, Pa. Jadi, kita take off dari Soekarno-Hatta and landing di Incheon. Kata Mr. Jang, setelah sampai di sana, kita langsung ke Seoul. Kira-kira sejam perjalanan." jawabku dengan bangga.

"Ya sudah. Sekarang sudah jam 10 malam dan besok kalian jam 8 harus sudah ada di Juanda. Jadi sekarang, tidur semua. Cepet cepet." perintah Eomma.

"Ne Eomma."

Ahh. Hari in hari terakhirku tidur di rumah ini. Entah besok aku akan tinggal di rumah yang seperti apa di Seoul.


-He's a Girl-


"Oppaaaaaaaa. Ayo berangkat." Tari merengek kepadaku yang saat ini berada di depan stir mobil untuk memanaskan mobil Appa.

"Eomma, Appa sama Eonnimu ajja belum keluar, Saeng. Masak mau ditinggal."

"Ahhhhh. Eommaaaa… Appaaaa… Eonniiii… Ayo berangkat…!" teriak Tari dari mobil. Tak lama kemudian Appa dan Eomma keluar disusul Tara dengan tas ransel kecilnya yang terlihat lumayan penuh.

"Taro, kamu ajja yang nyetir. Tari, pindah ke belakang sama Eomma dan Tara Eonni." perintah Appa kepada Tari. "Appa ga tahu kapan kita bisa gantian nyetir mobil seperti ini lagi."

"Ahh Appa. Aku sama Tara cuma satu tahun di Seoul. Kita pasti balik kok." Appa hanya tersenyum dan menepuk pundakku dua kali.

"Ayo jalan. Nanti kamu ketinggalan pesawat."

Sesampainya di bandara, Mr. Jang mengirimkan sebuah pesan singkat kepadaku yang mengatakan bahwa beliau telah menunggu di gerbang keberangkatan. Maka, kami sekeluarga langsung menuju ke sana. Dari kejauhan, terlihat Mr. Jang melambaikan tangan kepada kami. Setelah bertatapan muka, Mr. Jang menyalami Appa dan Eomma.

"Saya titip anak-anak saya Mr. Jang. Tolong kalau mereka melakukan kesalahan, ditegur." pesan Appa kepada Mr. Jang.

"Ahh saya rasa mereka berdua anak yang manis-manis. Tidak mungkin mereka melakukan kesalahan yang terlalu fatal." jawab Mr. Jang dengan logat Korea bercampur Indonesianya. Maklum, beliau ada di Indonesia baru 2 tahun. "Baiklah, kami berangkat dulu. Annyeong Mr. and Mrs. Sinaga. Let's go kids." Mr. Jang berpamitan dengan keluargaku. Eomma langsung memeluk kami berdua. Appa mencium kening kami dan Tari mencium tangan kami seraya berkata, "Kalo pulang kampung, jangan lupa bawa oleh-oleh yha. Yang banyaaaaaaakkk. Hehehehehehe…" Kami berdua hanya bisa tertawa dan bergantian memeluknya. I'm gonna miss my family a lot.

Pesawat kami take off menuju Bandara Soekarno-Hatta tepat pukul 9 pagi itu. Satu jam kemudian kami tiba di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Dan pukul 11, kami bertolak ke Korea Selatan.

Di atas pesawat, segala perasaan bercampur aduk di hati dan pikiranku. Antara senang karena pada akhirnya apa yang aku inginkan tercapai, sedih karena aku harus berpisah dengan keluargaku, bangga karena ini hasil kerja kami sendiri, deg-degan karena ini adalah kali pertama kami 'bertugas' d negeri orang. 7 jam perjalanan di atas pesawat bukan waktu yang sebentar. Ku tengok wajah adikku yang sedang tidur di bahuku. 'Tomorrow will be a different day for us, Sis.' Aku tersenyum samar.


TBC

PS : Pesannya masih sama kayak part 1. D butuhkan kritik dan saran yang membangun. Gomawo all. :)