THE STONE SMILE
Present by Loveless Sevensins
Characters © Masashi Kishimoto
Chapter 2: the ignoring
Sudah kira-kira seminggu sejak pesta reuni itu.
Awalnya kupikir itu hanya perasaanku saja_ah tidak, mungkin ego ku lah yang membuatku berpikir begitu.
Tapi, sekarang mau tak mau aku harus megakui bahwa ada perubahan pada sikap Sasuke.
Sejak pulang_tidak, sejak dia melihat wanita itu, sikap Sasuke jadi aneh. Dia lebih sering pulang larut malam, jarang mengangkat telpon bahkan tak pernah lagi mengabariku kalau dia akan pulang larut malam seperti dulu. Terlebih lagi akhir-akhir ini dia semakin sering tidak pulang kerumah dengan alasan lembur.
Waktu kami bersama semakin lama semakin menipis. Dan di saat dia bersamaku, dia jarang menanggapiku. Seakan-akan jiwa maupun pikirannya berada di tempat lain.
Seperti saat ini.
"ne Sasuke?"
"..."
"Sasuke?"
"..."
"SA_"
"hn."
Menyerngit. Kutatap Sasuke. Tapi dia sama sekali tidak menatapku.
Takut namun akhirnya kubuka mulutku dan bertanya.
"ne Sasuke, kenapa hari ini pulangnya malam sekali?"
"aku sibuk."
"... ka-kalau begitu... kenapa tidak menghubungiku?"
"kenapa harus?"
"kan biasanya kau selalu begitu... dulu kau bilang supaya aku tak perlu menunggumu dan tidur duluan..."
"aku sibuk. Tak sempat menelponmu."
"ta-tapi_"
"sudahlah dobe! Aku capek! Aku mau tidur!"
Bentak Sasuke yang langsung berbaring dikasur menutupi diri dengan selimut bersiap untuk tidur.
Kaget, aku tertegun. Masih mematung dalam posisi duduk, kupandangi punggung kekasihku yang mungkin sudah tertidur di sebelahku.
Perlahan kuusap dadaku. Dadaku terasa ngilu seperti habis dihantam dengan kayu. Nafasku sekilas tercekat. Mataku terasa panas.
Ada apa denganku ya? Bukankah aku sudah terbiasa dibentak? Bahkan dipukul pun mungkin aku tak menangis lagi. Lalu kenapa sekarang rasanya sakit sekali?
Terdiam membisu, pelan-pelan kurebahkan tubuhku. Kutepis rasa sakit yang mengganjal itu dan berniat untuk tidur.
Sekilas kulirik lagi punggung Sasuke.
Entah kenapa, udara terasa dingin. Kunaikkan selimut yang semakin membungkus erat tubuhku.
'padahal dia tepat di sebelahku...tapi kenapa terasa begitu jauh?'
Pikirku sebelum terbuai dalam ketenangan mimpi.
Ketenangan sebelum badai.
XxXxX
"...ruto...Naruto-sama!"
"ah! I-iya?"
"makan siang sudah siap. Apa anda mau saya bawakan ke sini?"
"tidak. Tidak perlu. Biar aku saja yang ke sana. Terima kasih Iruka-san."
Iruka-san mengangguk dan mohon diri.
Setelah Iruka-san keluar dari ruangan, aku pun bangkit dari dudukku dan meletakkan buku yang kubaca kembali ke dalam raknya. Dan berjalan keluar dari ruangan itu.
Ya, mungkin tak seorang pun mengira kalau aku suka membaca.
Tapi pada kenyataannya aku sangat suka membaca. Mungkin salah satu alasannya adalah tubuhku yang lemah ini membuatku tidak bisa keluar rumah. Selama ini aku hanya menghabiskan waktuku di ruang baca Sasuke atau di taman belakang. Itu sebabnya aku sangat suka membaca. Karena dengan membacalah satu-satunya cara agar aku bisa mengetahui dunia luar dan menghilangkan kebosananku.
Mungkin ada beberapa orang yang bertanya-tanya 'apakah tubuhku lemah dari kecil' atau 'apakah tubuh lemahku adalah keturunan' dan semacamnya.
Tidak. Tubuhku yang lemah ini bukan dari kecil ataupun faktor keturunan.
Dulu aku sehat. Sangat sehat malah. Tapi semua berubah di masa 7 tahun itu. Ya, 7 tahun yang telah merubah seluruh hidupku 180 derajat. Hingga jadilah diriku yang saat ini. Uzumaki Naruto, 19 tahun.
Tersenyum miris, kulangkahkan kakiku kedalam ruang makan.
Di sana sudah menunggu Iruka-san, kepala pelayan rumah ini, dengan senyumnya yang ramah mempersilahkanku untuk duduk di kursi makan.
Kubalas senyumnya dengan senyuman kecil seraya duduk dan mulai memakan makanan yang sudah tersaji rapi di hadapanku.
Iruka-san, Umino Iruka, adalah kepala pelayan di rumah ini. Umurnya kira-kira 35 tahun. Dia sangat baik dan ramah. Dialah yang selalu memperhatikan dan membantuku selama Sasuke pergi kerja. Dia sudah seperti ayah bagiku.
Aku sangat bersyukur dengan adanya Iruka-san. Setidaknya aku tak begitu merasa kesepian di rumah yang besar ini.
Well, sebenarnya rumah ini memiliki banyak pelayan. Mungkin sekitar 40 orang. Tetapi, mereka memiliki jadwal bekerja. Dari jam berapa mereka harus menyiapkan makanan sampai menyapu pun harus mengikuti jadwal. Diluar jadwal bekerja, mereka harus kembali ke asrama atau lebih tepatnya rumah khusus pelayan yang ada beberapa kilo meter dari rumah utama. Kalau pun ada yang boleh berkeliaran selain dari jadwal, itu hanya kepala pelayan, yaitu Iruka-san.
Karenanya yang pernah kulihat hanya Iruka-san.
"Naruto-sama, apa anda ada masalah?" tanya Iruka-san membuyarkan lamunanku.
"eh?"
"maaf kalau saya lancang, tetapi saya cemas karena sepertinya tubuh anda semakin kurus. Jadi saya pikir mungkin anda ada masalah yang membuat anda khawatir. Jika anda tidak keberatan anda bisa bicara dengan saya... mungkin saya bisa membantu."
Terdiam mendengar perkataan Iruka-san, kuperhatikan lenganku sejenak.
Memang benar tubuhku semakin kurus. Lenganku semakin kecil. Bajuku juga agak longgar.
'sejak kapan aku jadi sekurus ini? Rasanya aku makan seperti biasa...' bertanya-tanya dalam hati, kulihat ekspresi cemas Iruka-san.
"aku tak apa-apa, Iruka-san. Mungkin aku cuma kelelahan saja," kataku tersenyum.
"begitu...jika seperti itu, apa anda mau menambah porsi makan anda?"
"tidak perlu Iruka-san. Aku tak apa-apa."
"tetapi kalau anda semakin kurus, Sasuke-sama akan cemas. Atau anda ingin mengganti menu makan?"
"aku benar-benar tak apa-apa kok, Iruka-san... hanya nafsu makanku agak berkurang saja. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku merasa perutku kembung, terkadang mual. Dan lagi..."
'andai dia memang cemas...' lanjutku dalam hati sambil tersenyum pahit.
Iruka-san terdiam sejenak. Entah apa yang dipikirkannya.
"baiklah jika memang begitu, saya akan mengusahakan sesuatu untuk mengembalikan nafsu makan anda...dan jika ada apa-apa saya mohon untuk anda segera mengatakannya kepada saya, Naruto-sama."
"ya, terima kasih Iruka-san," jawabku tersenyum tulus.
Selesai makan siang, aku pergi ke kamar. Masih terpikir akan kata-kata Iruka-san, kupandangi sosokku di cermin.
Ternyata benar.
Tubuhku semakin kurus. Sekilas dapat terlihat lekukan di pipiku. Aku mungkin dapat menghitung tulang punggungku yang sekarang terasa menonjol.
Bajuku yang seharusnya hanya longgar beberapa senti saja terlihat seperti baju hip-hop.
Wajahku semakin pucat. Sangat pucat hingga membuatku teringat akan foto mayat di buku yang pernah kubaca.
Kualihkan pandangan ke tanganku, jari-jari yang sangat kurus membuatku bertanya-tanya 'apakah masih terdapat lemak maupun otot dibalik kulitku?' dan 'kemana perginya darah di telapak tanganku?' saat kulihat betapa pucatnya telapak tanganku.
Sejak kapan aku jadi begini? Apa anemiaku separah ini? Kenapa aku tak menyadarinya?
Membelalakkan mata, ku terdiam. Pertanyaan terakhir dalam otakku itu membangkitkan pikiran dan pertanyaan lain yang selama ini tidak terlintas_tidak, bukan tak terlintas tapi tak ingin kusadari selama ini...
Pertanyaan yang tak ingin ku ketahui jawabannya. Pertanyaan yang ingin kuhindari sebisa mungkin. Pertanyaan yang tak pernah kuinginkan untuk berubah menjadi pernyataan. Dan pertanyaan yang akan memberikan jawaban atas sikapnya selama ini.
Ya, sikapnya yang berubah. Sikap Sasuke.
'apa kau tak peduli lagi padaku Sasuke?'
Footnote:
...-san /'san/ salah satu suffix jepang. Bisa untuk semua gender. Mayoritas ditujukan untuk orang yg lebih tua, orang yang kita hormati ataupun orang yang baru kita temui (tidak terlalu akrab/kenal).
p.s:
jangan protes akan hal apapun dan jangan tanya arti simbol tulisan (example: ', _ dll) dan jangan tanya mengenai keterkaitan cerita ini dengan yang asli karna semuanya kecuali tokoh kubuat sendiri dengan otak bejatku yang hanya ada satu di dunia a.k.a RARE ITEM.
And again, sorry ni chapter ultimate short... akan kuusahakan buat update express buat nebusnya ^_^;
Replies Session:
Thanks buat para reviewers!
Gak nyangka bakal dapat review sebanyak itu hanya dari chapter 1 ,,w,,
Maaf nih gak balas satu-satu… m(_ _)m
Maaf juga cuz aku gak bisa ngasih tau apa-apa dulu soalnya nanti jadi gak seru (pede amat kalau ceritanya seru -_-; ).
Yang bisa kujelasin cuma…
Kyuubi itu cewe.
Naruto badannya hanya lemah aja a.k.a gampang sakit and anemia but….-piiiip- *sensored*
Sasuke gak malu… dia hanya merasa Naruto cocok aja pake baju cewe. Naruto juga biasa pake baju yang girlish di rumah cuz ada cerita di balik cerita.
Masalah huruf capital dan typos aku benar-benar minta maaf *bow*
Maklum… nasib author tanpa beta readers emang gini TT^TT
And aku emang udah kodratnya jadi orang termalas yang menyaingi Shikamaru (but otaknya beda jauh bagai bima sakti dan inti bumi).
