MOSHI-MOSHI, MINNA-SAN! ^^

Belum lupa sama fict saya yang satu ini kan?

Ehehe... saya tahu, sudah sekian bulan berlalu sejak pertama kali saya publish fict ini. *cailah, bahasanya, Mbak!* Sebenarnya, saya sudah hampir menghiatus fict ini untuk selamanya *thunder sound effect mode on*. Tapi gara-gara sesuatu, ide saya mengalir lagi, membanjir, mendesak batok kepala saya dan menuntut untuk direalisasikan. Gara-gara itu, saya ngetik fict ini sampai jam 1 pagi! Bener-bener, saya gak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Padahal saya biasanya susah banget disuruh begadang. Tapi kali ini malah insomnia! Sampai jam 1 pagi! Entah kesambet apa saya kemarin malem...

Yap, sekian dulu curcol gaje saya.

Read and review, ya? ^^

Disclaimer:

sherry : Tante sapi, hak cipta FMA boleh buatku gak? *puppy eyes no jutsu mode on*

Arakawa : OGAH!

Yak, karena kegagalan saya dalam bertransaksi, sampai detik ini Fullmetal Alchemist dan semua karakter di dalamnya adalah hak milik Hiromu Arakawa.

Oya, juga untuk Soneta 17 karya Pablo Neruda yang saya pakai di chap ini.

Summary:

Dua detik dalam senyap itu terpecah oleh satu gerakan simultan. Tiba-tiba, Ed balik badan dan langsung berlari keluar rumah, meninggalkan Roy dan Al.

Cerita sebelumnya:

"Mana Ed, Alphonse? Di mana dia? ," tanyanya dengan nafas ngos-ngosan.

Al menatapnya dingin. Keterkejutannya sudah hilang sepenuhnya.

"Anda tak bisa menemuinya. Dia tak ada di sini."

Dan Al memang tidak berbohong.

Denting Rindu

Denting Kedua

Teardrops tell me

That I'm losing you

Lost and lonely

And I'm losing you

Dreams remind me

That I'm losing you

Heartaches find me

And I'm losing you

("Losing You"-Roy Orbison)

"Aku harus menemuinya, Al. Aku sudah melintasi Amestris untuk menemuinya. Aku tak bisa..."

Al memperhatikan penampilan pria yang dikenalnya sebagai Kolonel pasukan militer Amestris itu. Bajunya kusut. Acak-acakan. Kumis dan cambangnya mulai tumbuh. Rambutnya juga berantakan. Dan mata kanannya tertutup eyepathch. Al heran, bagaimana dia bisa mengenali pria ini. Padahal penampilannya benar-benar beda dari penampilannya dulu yang amat rapi. Apa karena ketidaksukaannya pada pria ini cukup besar, sampai-sampai ia bisa mengenalinya dengan begitu mudah?

"Aku mencintainya, Al."

Al memandangnya sinis.

"Cinta? Cinta apa yang tega memanfaatkan kekasihnya?"

Roy tersenyum pedih. Dulu, dia memang sering memanfaatkan Ed. Menyuruhnya melakukan pekerjaan yang tak mungkin dia sendiri kerjakan karena kedudukannya yang cukup tinggi di kemiliteran. Tapi dia masih punya hati. Dia tak menyuruhnya melakukan pembunuhan. Apa yang terjadi malam itu, apa yang menyelesaikan pertempuran itu, itu semua di luar kalkulasinya. Di luar rencananya.

"Aku mencintainya. Terlalu mencintainya. Aku tahu, aku terlambat menyadarinya tapi aku tak bisa mengingkarinya, Al. Tak bisa..."

Al melihat kepedihan di mata itu. Kepedihan yang sama yang dilihatnya di mata kakaknya tiap kali melihat api yang membara di perapian atau melihat langit malam yang kelam. Al tahu itu mengingatkannya pada pria itu. Satu-satunya pria yang dicintainya kakaknya. Sampai kakaknya itu rela melakukan apa saja.

Al ingat apa yang baru saja dia pikirkan sesaat sebelum pria itu datang dan merusak moodnya. Kebahagiaan Ed. Kebahagiaan Ed yang akan diperjuangkannya habis-habisan. Sebagaimana Ed telah memperjuangkan segalanya untuk tubuh dan hidup Al. Apa pria ini kunci kebahagiaan Ed?

Al memejamkan matanya. Pilihan sulit. Penuh risiko. Tapi harus dicoba.

Al mendongak, berharap semoga keputusannya tepat, "Udara mulai dingin. Sebaiknya Anda masuk ke dalam."

Bola mata Roy hampir melompat keluar ketika mendengar Al mengatakan hal itu. Dia sama sekali tak menduganya, Al memberinya kesempatan.

Al menyajikan teh hangat untuk Roy. Mereka duduk berhadapan di meja ruang makan. Masing-masing menghirup tehnya perlahan.

Roy memperhatikan Al. Dia bukan lagi jiwa dalam seonggok baju zirah. Dia seorang pemuda tampan, dengan rambut pirang emas seperti Ed. Mereka mirip. Kecuali mata mereka. Ed bermata emas cemerlang. Mata Al lebih ke hazel, dan sekarang mata itu sedang manatapnya dengan tatapan yang menusuk. Oke, mereka tak terlalu mirip.

Dulu, Ed memang pernah bilang, Al lebih mirip dengan ibunya daripada ayahnya. Sedang Ed lebih mirip ayahnya, berambut pirang dan bermata emas, dan baginya itu menyebalkan karena dia benci harus mirip dengan orang yang menelantarkan dia, adiknya dan ibunya. Waktu itu Roy hanya tersenyum, dan berkata bahwa dia sangat suka mata emas Ed yang menatapnya lurus dengan semangat yang tak kunjung padam di dalamnya. Bahwa dia sangat menyukai rambut pirang emas Ed yang lembut dan ketagihan sensasi saat Ed merebahkan kepalanya di lengannya, tertidur dalam pelukannya setelah mereka kelelahan bercinta semalaman. Waktu itu wajah Ed langsung merah padam, membuat Roy tersenyum.

"Anda berubah, Kolonel" ucap Al memecah keheningan, mengembalikan Roy pada kenyataan.

Roy tersenyum tipis.

"Pertempuran itu membawa dampak besar, Al. Dan aku bukan lagi seorang Kolonel. Pangkatku Letnan Jenderal sekarang."

"Promosi, ya? Setimpal juga" ucapnya sinis.

Roy tersenyum kecut. Tampaknya Al benar-benar membencinya. Al yang dulu takkan berkata sesinis itu padanya. Al membencinya karena apa yang telah terjadi. Dan ia bisa menerima itu. Tapi bila Ed yang membencinya…

Aku tak pernah mengharapkan surga

Karena aku tahu aku seorang pendosa

Aku tak pernah mengharap neraka

Karena aku tak kuasa menahan siksa

Tapi di sisimu, aku merasakan surga

Dan tanpamu, neraka menelanku tanpa sisa

"Aku lebih memilih dipecat jika itu bisa mengembalikan Ed padaku…" gumamnya, membuat Al langsung berkomentar sinis lagi.

"Kakakku bukan barang, Letnan Jenderal," dua kata terakhir diucapkannya dengan penekanan ekstra, "Lagipula saya tak yakin Anda sanggup hidup seperti kami."

"Yakinlah, aku sudah pernah merasakan itu," Roy tersenyum tipis dengan sorot mata pedih.

"Dengan menjadi jiwa tanpa tubuh?" desis Al.

Roy menggeleng.

"Itu lebih beruntung. Tanpa Ed, aku tubuh tanpa jiwa. Dan itu…," Roy mendongak, "Aku yakin kau tak pernah mengharapkannya terjadi padamu, Al."

Roy menyeruput tehnya lagi. Teringat kenangan kecil, di suatu pagi setelah Ed bermalam di apartemennya. Mereka berebut sendok terakhir bubuk kopi favorit mereka. Ed yang menang, tentu saja. Roy mengalah, walau setelah itu dia menyeduh teh sambil menggerutu. Tapi Roy, dengan caranya sendiri, berhasil merasakan kopi itu lewat lidah Ed. Tak perlu dijelaskan lebih lengkapnya bukan?

Al terdiam. Gila.

Benar-benar gila. Ed benar-benar mengubah total pria itu. Tapi, apa pria itu sudah tahu bahwa Ed berubah?

"Anda sudah tahu?" gumam Al pelan, membuat Roy mendongak dari cangkirnya.

"Kakak tak seperti dulu lagi," Al memilih kata-kata dengan hati-hati.

Roy tersenyum penuh makna. Dia tahu. Dia sudah tahu.

"Anda sudah tahu?" kali ini Al mengucapkannya dengan keheranan mutlak.

Roy hanya tersenyum. Senyum yang sama.

"Aku mencintainya, Al. Apapun yang terjadi, apapun yang mungkin terjadi, takkan mengubah itu. Karena inilah caraku mencintainya, sesederhana itu," ujar Roy lembut, tatapannya makin sayu, dengan senyum selembut nada suaranya.

Aku tak mencintaimu seperti engkau adalah mawar,

atau topaz, atau panah anyelir yang membakar.

Aku mencintaimu selayaknya beberapa hal terlarang dicintai, diam-diam,

di sela-sela bayangan dan sukma.

Aku mencintaimu seperti tetumbuhan yang urung mekar

dan membawa jiwa bunga-bunga itu dalam dirinya,

dan karena cintamu, aroma bumi yang pekat,

tumbuh diam-diam di dalam tubuhku.

Aku mencintaimu, tanpa mengerti bagaimana,

sejak kapan atau dari mana.

Aku mencintaimu dengan sederhana

tanpa kebimbangan atau kesombongan.

Aku mencintaimu seperti ini,

karena bagiku tak ada cara lain untuk mencintai.

Di sini, di mana 'aku' dan 'kau' tiada,

Bagitu erat, hingga tanganmu di atas dadaku adalah tanganku.

Begitu erat, hingga ketika kau tertidur, kelopak matakulah yang tertutup. (1)

Al termangu. Dia tak bisa mencegah pria itu. Sedalam itukah?

Sedalam itukah cinta pria ini pada kakaknya? Lantas kenapa?

"Lantas, kenapa selama ini Anda tidak mencari Kakak?"

Roy tersenyum lagi, "Siapa yang melarikan diri, eh?"

Alih-alih nyengir, Al berusaha memasang tampang datarnya sebaik mungkin.

"Dulu, kalian sangat hebat menyelidiki. Tak heran kalau sekarang kalian bisa sangat ahli menyembunyikan jejak. Aku perlu kerjasama seluruh markas, dan itu masih memerlukan waktu satu tahun. Kalian benar-benar hebat. Hanya desas-desus tak jelas yang beredar tentang kalian. Dan kalian sendiri tahu pasti betapa sulitnya memilih fakta dari segunung kabar burung."

"Tapi Anda berhasil. Anda ada di sini."

"Ya. Tapi aku belum bertemu dengannya..."

Belum selesai Roy bicara, Al keburu memotong kata-katanya.

"Kakak ada di balai desa. Dan saya harap Anda menantinya di sini saja. Ada banyak orang di sana. Kedatangan Anda ke sana bisa mengacaukan segalanya. Desa ini menyenangkan. Mirip Liesenburgh. Dan kami tak ingin kami harus pergi dengan tak menyenangkan dari desa ini hanya karena Anda mengacau di sini," ujar Al tenang.

Roy terkesiap. Apa?

Dia mengizinkannya menemui Ed? Dan dia bilang Roy boleh menunggunya di sini? Apa Al sudah tidak marah? Dia...

"Al..."

Tenggorokan Roy tercekat, tak tahu mau bicara apa.

"Kakak merindukan Anda. Saya tahu itu. Setiap gerak-geriknya, igauannya dalam tidur, tatapan matanya saat melamun mengindikasikan itu semua, saya tahu. Tapi logika saya bilang tidak. Dan Kakak sendiri tidak mengisyaratkan sesuatu pun bahwa ia ingin bertemu Anda. Kakak merindukan Anda, ya. Tapi ingin bertemu? Saya tidak tahu. Anda harus mencari tahu sendiri," ujar Al bijak.

Roy tersenyum. Bukan lagi senyum sedih. Bukan lagi sekedar senyum di bibir. Senyum lega. Al tak lagi membencinya. Al tidak dendam padanya. Dia menjelaskan segalanya. Dan memberinya kesempatan.

"Terima kasih, Alphonse."

Al menggeleng, "Saya tidak melakukan apa-apa."

Roy bersikeras, "Itu sangat berarti. Apa yang kau ucapkan sangat berarti. Terima kasih."

Al angkat bahu, "Katakan itu kalau urusan Anda dengan Kakak sudah beres."

BLAMM. Tepat saat itu, pintu terbanting membuka. Membuat Roy dan Al terlonjak kaget.

"Di luar dingin sekali!"

Terdengar suara langkah-langkah ringan yang dikenal Al. Roy mungkin tak hafal suara langkah ini. Jujur saja, dia tak tahu. Tapi ritme langkah ini, dia hafal mati.

"Al!"

Suara ini...

Suara itu memang tidak sama persis dengan yang terakhir Roy ingat, suara itu lebih tinggi, feminin. Tapi dia tahu. Nada suara ceria yang memanggil Al ini mutlak milik orang itu.

Roy berdiri, berbalik, menghadap pintu ke ruang tamu yang tertutup tirai. Tirai menyibak terbuka...

"Minta kopi, do-"

Kata-kata Ed terpotong begitu saja. Matanya melebar saat retinanya menangkap sosok yang amat dicintainya sepenuh jiwa, dirindukannya, sekaligus tak bisa ditemuinya setahun terakhir. Oke, tampangnya kuyu, dia belum bercukur, rambutnya berantakan tak terurs, matanya tertutup eyepatch hitam, dia bahkan tampak setidaknya lima tahun lebih tua daripada saat terakhir Ed melihatnya. Tapi Ed mengenalinya. Sekalipun logikanya tidak tahu, hatinya akan meneriakkan nama sosok di depannya itu padanya. Bahkan pada milisekon pertama...

Well, bohong besar kalau Roy bilang dia tak terkejut melihatnya. Mata emas, rambut pirang emasnya bahkan reaksi keterkejutan yang luar biasa itu memang tak berubah. Tapi lihat lekukan tubuh feminin itu, proporsi wajah cantik yang sempurna itu, semuanya berbeda dari dulu. Tapi bagaimanapun juga, Roy mengenalnya. Sangat mengenalnya. Tak peduli bagaimanapun ia berubah. Dan, jujur saja, gadis di depannya itu adalah gadis paling cantik yang pernah Roy lihat.

Tak perlu foto, tak perlu coretan di atas kanvas

untuk mengingatkanku pada sosokmu

Itulah nikmatnya cinta

Cukup memejamkan mata

dan kau hadir begitu sempurna

Sekalipun kau tak sama lagi

hati ini akan mengenali,

meneriakkan lantang nama cinta yang tersemat dalam dada,

sejak tatapan pertama yang menangkap jiwa

Dua detik penuh kesenyapan itu terpecah oleh satu gerakan simultan. Tiba-tiba, Ed balik badan dan langsung berlari keluar rumah, meninggalkan Roy dan Al.

"Ed!" seru Roy, langsung mengejar Ed.

Yang tertinggal di ruangan itu hanya Al, yang dengan tenangnya memilih untuk menyeruput tehnya lagi dan berharap agar keputusan yang sudah diambilnya tadi tepat.

To be continued...

Soneta 17 karya Pablo Neruda.

Huuff... bagaimana? Makin gaje-kah fict ini?

Maaf, kalau banyak puisi gaje bertebaran di chap ini. Saya sengaja, sih :P

Dua puisi alay di atas itu karya saya, kecuali satu soneta panjang yang sumpah-romantis-bangeeet itu. Keren banget, ya, Soneta 17 itu? Romantis, menyentuh, bikin teriak-teriak... 'KYAAA! SO SWEET!' dan membuat saya tak bisa menahan diri untuk tidak menuliskannya di fict hancur saya ini. Gomen ne, kalau gak cocok... *bungkuk sedalem-dalemnya*

Nah, biar saya gak nelantarin fict ini lebih lama dari sebelumnya...

Read and review, ya?

Luv,

sherry