R E D T H R E A D (Makka Na Ito)
SHIROSIANJINGPUTIH
HETALIA FANFIC (GERMANYXITALY)
::: Chapter 2 :::
.
Early June'43
Sudah lama rasanya tidak bermain ke Selatan, tapi kuharap, jika masih diberikan kesempatan. Aku ingin pergi untuk bersenang-senang, bukan berperang.
.
Tak berbentuk. Hancur terburai tanpa ampun.
Tak sedikit pun dari pemandangan itu yang membuat Italia menangis.
Dalam sekejab, pemandangan tenang berubah menjadi lautan api dan darah.
Derap langkah terasa berat saat menginjak tanah, giginya bergemeretak hebat saat menangkap sosok pasukan Inggris.
"INFANTRI! MAJUUUU!"
DORR!
DORR!
Suara artillery, membahana, suara tembakan, lemparan granat dan berbagai macam alat militer lainnya, bak orchestra kelam di malam berhujan.
Peluru demi peluru terbang bebas di udara. Dengungan suaranya menggetarkan langkah kaki di atas tanah dan menciutkan semangat untuk mencari kemerdekaan.
"Kita kekurangan amunisi!" teriakan siapa? Entahlah, ia hanya bisa mengongkang senjatanya lagi. Oh, ada rakyat biasa, mereka berlarian, apa yang kalian lakukan? Bukankah, ini ladang perkelahian yang seharusnya tidak kalian datangi?
"EVAKUASI RAKYAT SIPIL!"
Masih tidak bergeming, ia menatap ujung tanah, yang bergetar, sama seperti tubuhnya.
Adrenalin berpacu begitu cepat, untuk pertama kalinya ia face to face menghadapi tentara Inggris, The British Army. Italia menatap langit yang cerah, meski di bawahnya, bumi telah bercecaran darah.
Mengerikan, menakjubkan, menghipnotis, saat dunia berputas tanpa kontrol.
Satu persatu tubuh di sekitarnya bertumbangan.
"Ambil senjata dari prajurit yang sudah tewas!" dalam sekejab, sudah puluhan orang jatuh di atas tanah yang merah oleh darah sendiri, tidak bernyawa.
"ANDIAMO! ANDIAMO!" Para prajurit menggertakkan giginya melawan ketakutan, masing-masing meraih amunisi dari kotak kayu yang dijatuhkan ke medan pertempuran, beberapa waktu sebelumnya.
Ia memicingkan mata, menekan pelatuk senjata, menembaki pasukan Inggris yang berada tidak jauh dari posisinya. Nafasnya terasa cepat, begitu pula dengan detakan jantung yang seperti ingin meledakkan dada.
"TEMBAK!" ini perintah siapa? Kenapa dalam gegap gempita perang, suara itu terdengar putus asa?
Para artilleryman menembak titik-titik pertemuan tentara Inggris di seberang mereka, terdengar puluhan dentuman ledakan. Memekakkan telinga dan mempesona mata oleh lekukan asap yang menggumpal.
"MAJU!" haruskah langkah ini tetap melaju, meski terasa berat dan enggan?
Berhari-hari lewat, tiap hari bagaikan pertempuran tanpa akhir, ia tidak mampu lagi melihat di mana akhirnya pertarungan ini.
Kenapa harus ada perang, inilah pikiran egois, yang selalu ia pikirkan sejak menolak ajakan anak itu.
Setiap hari, pasukan sekutu semakin kokoh dengan senjata mereka dan strategi yang kuat, sementara Italia tiba dengan 200,000 tentara. Tanpa persiapan dan ketakutan, banyak di antara mereka baru saja kembali dari perang di Rusia dan Afrika Utara. Oh, sungguh ironi, saat tanah yang sempat menjadi Roman Empire ini, menjadi tempat yang tak ubahnya lahan perebutan para penguasa.
Apa yang Inggris inginkan? Apakah ia ingin mengulang masa lalu, saat ia pun masih berada di bawah ketiak Kakek Roma? Italia tidak akan pernah mengerti, kenapa tangan seorang bajak laut sepertinya, kini mau memegang senjata, padahal akan lebih menyenangkan jika ia menjadi gentleman seperti biasanya.
Inggris tiba dengan bantuan pasukan Kanada dan Amerika. Memborbardir mereka dengan serangan dari laut, udara dan darat. Ia membawa 2 anak asuhnya itu, tanah Amerika, tanah kebebasan, dan orang-orang Eropa yang berdagu tinggi dan berdada busung.
Ia merasakan ketakutan merasuki aliran darah, menutuo mata sejenak, bahkan dalam imajinasinya sendiri, ia tidak bisa lagi membayangkan bagaimana dunia yang selalu ia inginkan.
Dunia yang tiap harinya, akan selalu ada pasta, opera dan piknik.
R E D T H R E A D (Makka Na Ito)
Ketika pasukan Panzer Jerman datang, ada setitik harapan yang membuncah, berharap pada mata biru pucat yang akan mengatakan hal kasar dan perintah berat, namun ia masih berharap.
Pada 35,000 infantri yang tiba dalam 2 batalyon.
Pada janji manis yang dikatakan Hitler padanya.
Jerman…
"Awaaaaasss!" peluru bulat besar mengancam dari atas udara, dalam persembunyian, para penembak sudah bersiap untuk mendengar suara dan teriakan.
DHUAR!
Meskipun rindu, ia tidak menginginkan pertemuannya dengan Jerman terjadi dalam perang seperti ini, tidak dalam bentuk compang-camping belepotan lumpur bercampur darah. Terlalu manusiawi memang, namun tidak salah, ia memang abadi, namun hati di dalam tubuhnya, masih menyimpan perasaan.
Dalam kabut yang tiba-tiba muncul, suara peluru mendesing di sekitar mereka. Lalu desah kongkangan senapan bersahutan, membalas tembakan musuh.
DOR! DOR!
Membahana ke seluruh barisan, suara tembakan, debu mesiu, menjalar, membuat langkahnya sedikit terseok.
"UWAAAH! Tim medis! Kami membutuhkan bantuan di sini!"
Manusia, semua perang ini dilakukan oleh manusia. Bibirnya mengatup, kelu, ludah yang mengering tidak membuat hal itu jadi lebih baik.
"Ka-kakikuuu! ARGH!" Dari penjuru arah, terdengar ringisan minta tolong yang memilukan.
Dan karena manusialah, sebuah negara dapat tetap hidup.
Entah apapun bentuk mereka nantinya.
"AWAS BOM!" mereka sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk saat benda itu meledak, karya terbaik dan terindah dalam seni perang.
DHUAAAAR!
Italia menatap lagi langit di atasnya, puluhan pesawat tempur menghiasi, tampak seperti capung di musim panas.
Layaknya mimpi, rasanya baru kemarin ia berpiknik bersama Jerman dan Jepang.
Ya, di bawah langit yang sama.
R E D T H R E A D (Makka Na Ito)
"Panzer Division Hermann Göring tibaaaa! Posisi bertahaaan!"
Tank-tank baja Jerman mulai merangkak dari kejauhan, menonjolkan senjata mereka yang mengarah lurus ke tempat pasukan musuh berada.
"Dimana pimpinan pasukan ini?" Ahh… Suara berat khas orang Jerman, memang tidak seberat suara yang biasa ia dengar, namun cukup untuk mengobati kerinduannya.
"Kita harus bertahan! Bagaimana pun juga, kita tidak boleh membiarkan mereka masuk ke daerah tengah!" satu suara tenang menyejukkan hati para pria Italia. Namun rasa ketakutan masih saja menyergap, seorang Italia mempertanyakan kematangan rencana si pria Jerman.
"Tetapi tuan! Kita kekurangan banyak senjata dan pasukan! Apa tidak bisa menambah dari anggota Axis yang lain?"
Italia melihat percakapan di dalam sebuah tenda Jendral dari balik semak-semak tempatnya berisitrahat, ia bertanya-tanya di manakah Giose?
Semoga kepergiannya sendirian ke garis depan tidak akan membuat siapapun khawatir-
"Sicily harus segera dibersihkan dari sampah-sampah sekutu!"
"Malam ini juga, kita akan menyiapkan serangan dari udara! Bawa pasukan yang masih cukup kuat dan serang sebanyak mungkin musuh!"
-Ahh… Memangnya, siapa yang akan khawatir…
Italia menutup matanya, malam ini, akan menjadi malam yang panjang.
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
WOOW~ gue ga ngarang soal perang di italy~ Ini adalah strategi dari Allied Forces, mereka ngandelin kekalahan Italia di Tunisia dan aftermatch dengan Russia.
Dan gue masih mencari alasan kenapa gak ada axis lainnya yang ngebantu selama Invasi sekutu ke Silicy.
Padahal dibanding dengan kemampuan senjata Italia dengan Inggris atau Perancis gak ada 15%nya loh!
(dalam perang dunia ke-1, Italia berpihak sama Allied Forces dari tahun 1915-1918 terus berpindah karena janji yang diberikan oleh France dkk tidak ditepati.)
Anggota Axis bukan hanya Jerman dan Jepang loh, ada Finland, Hungaria, Thailand, Irak, Dll.
Sumber dari WIKIPEDIA! XDD
