Vocaloids belong to Yamaha. No commercial profit taken.
The Hanged Man
[2]
Satu jam.
Dua jam.
Tiga jam.
Tik. Tok. Tik.
Sudah berapa lama dia duduk menatap layar laptop?
Len menggosok matanya yang mulai berair. Berusaha mengusir lelah yang perlahan menggelayut. Sekeras mungkin mencoba agar pandangannya tetap fokus.
Dia tidak terbiasa menatap monitor dalam waktu panjang. Biasanya hanya sekitar setengah jam. Paling lama dua jam. Bukannya Len alergi dengan alat-alat elektronik, dia hanya tidak nyaman dengan pancaran sinar dari benda-benda tersebut.
Namun, kali ini, ia memaksakan diri untuk berdamai dengan ketidaknyamanan. Dia bahkan memangkas jam tidurnya hanya untuk berselancar di dunia maya.
Ini bodoh, dia sudah bergumam ratusan kali pada dirinya sendiri malam ini. Kepalang bodoh untuk tetap bangun, padahal tangan pendek jam sudah nyaris menyentuh angka satu. Tambah bodoh lagi saat mengingat Len rela mengabaikan ulangan Fisika besok pagi demi mencari informasi tentang tokoh fiktif.
Pria di Tiang Gantungan.
Begitulah yang ia ketik di kolom pencarian beberapa jam lalu. Kini, Len sudah sibuk sendiri dengan beragam tautan. Sebagian menuju laman web khusus, sebagian yang lain merupakan forum. Dari tempat-tempat itulah, Len memunguti informasi.
Pria di Tiang Gantungan adalah tokoh fiktif buatan Megurine Luka, seorang penulis asal prefektur Miyagi, dalam novelnya yang berjudul The Hanged Man. Dari sumari yang Len temukan di internet, ia tahu bahwa novel itu bercerita mengenai seorang anak laki-laki introvert juga penderita disleksia bernama Roro yang menimbun banyak pertanyaan mengenai kehidupan. Masalah demi masalah, bab demi bab, dituturkan. Mengenai kakek dan nenek Roro yang konservatif. Orangtuanya yang sering bertengkar akibat si ibu yang sering menentang keinginan mertua. Kakak perempuannya yang kabur dari rumah. Teman-temannya yang mengucilkan dirinya. Konfliknya memasuki puncak saat Roro benar-benar didepak dari lingkungan sosial dan pertanyaan mengenai entitas dirinya pun tumpah tak terbendung. Di saat itulah, Pria di Tiang Gantungan datang, menawarkan bantuan dengan bayaran nyawa Roro.
Walau tentu saja, Len tidak berpikir bahwa hantu itu datang dan menawarkan bantuan begitu saja. Setidaknya, dia menemukan kemungkinan ini ketika sedang menjelajah di salah satu forum.
Len menggeser kursor, membaca satu-persatu post di sebuah forum.
shionK [ Hantu menawarkan bantuan? Bukannya lebih masuk akal kalau Roro yang minta bantuan? :p ]
Rin_Rin [ Di hal 78 itu, 'kan, disebut kalau Pria di Tiang Gantungan tidak akan muncul kalau tidak dibutuhkan. Jadi, mungkin saat itu keadaan Roro membuat alam bawah sadarnya memanggil hantu itu. ]
GaChapyon [ ^ Jadi, secara tidak langsung, waktu super ego di diri Roro runtuh dan id-nya menang, ya? Secara konsep, mungkin, sih. Apalagi kalau ingat Megurine-san ini mahasiswi jurusan Psikologi :D ]
"… Alam bawah sadarkah…?" Len tanpa sadar menggumam.
Dia jarang memikirkan perihal keberadaan alam bawah sadar. Meskipun ia tahu, pada kenyataannya, kondisi alam bawah sadarlah yang punya ambil besar dalam kehidupan dibandingkan sisi kesadaran. Sisi itu yang punya kesempatan paling besar untuk memutuskan. Bagian itu pula yang paling memengaruhi satu persona.
Lucu ketika mengetahui semua hal itu, karena alam bawah sadar sendiri pada dasarnya sering diabaikan oleh banyak orang.
Sadar waktu terus-menerus menyeret diri hingga larut ke dalam malam, Len pun buru-buru menutup jendela internet yang tengah ia buka. Sama sekali tidak berniat berselancar lebih lama.
Anak laki-laki itu kemudian disuguhkan oleh gambar yang terpajang di desktop begitu jendela tadi telah tertutup, kemudian termenung selama beberapa saat.
Yang ada di dekstop adalah sebuah potret yang membingkai sosok Len bersama seorang wanita dewasa. Paras wanita itu cantik serta beraura keibuan.
Len tahu benar siapakah sosok itu.
Ibu kandungnya. Mantan istri ayahnya.
Wanita yang waktu itu keluar dari ruang persidangan begitu saja, seakan tidak pernah berniat untuk mengatakan beberapa patah kata perpisahan pada Len.
Selama beberapa saat, Len menemukan dirinya tenggelam dalam nostalgia. Masuk ke dalam dunia, di mana hanya ada dia dan ibunya tercinta.
Di dalam setiap jengkal ingatan Len, sosok sang ibu mematri lekuk paling indah di antara semuanya. Bagaimana tidak? Wanita itu adalah wanita paling lembut dan penyayang yang pernah Len tahu.
Dia selalu tersenyum ketika Len pulang dari sekolah. Selanjutnya, ia akan mengusap puncak kepala Len dengan penuh sayang, yang mana selalu berhasil membuat anak itu tertawa.
Ibunya tidak pernah marah ataupun membentaknya. Dia adalah tipe wanita rumahan yang patuh serta penyayang. Tidak pernah ada pertengkaran ataupun kondisi yang mengindikasikan adanya keretakan rumah tangga.
Karena itu, Len tidak pernah (mau) percaya saat dihadapkan pada realita: bahwa kedua orangtuanya memutuskan untuk berpisah. Bahkan mereka sanggup hidup sendiri selama dua tahun semenjak berpisah. Seolah-olah pernikahan mereka yang sudah berjalan selama lebih dari sepuluh tahun bukanlah apa-apa.
Ini tidak masuk akal, bagaimanapun kau memikirkannya.
Jika mau cari penjelasan paling logis menurut kepalanya, Len bisa saja dengan mudah menyalahkan ayahnya atas semua ini. Pasti.
Pastilah ayahnya yang melayangkan surat cerai duluan.
Pastilah ayahnya yang bermain api duluan.
Si brengsek itu, 'kan, memang selalu menghabiskan sebagian waktunya di luar. Selalu saja meninggalkan Len berdua saja bersama sang ibu dalam waktu lama. Resiko profesi sebagai pilot, begitu pemakluman yang biasa Len dengar. Tapi, ah, pastilah pekerjaan itu hanya alasan.
Para pramugari cantik di pesawat juga betis mulus mereka bukanlah godaan mudah.
Pastilah ayahnya yang cari gara-gara. Pasti. Karena ibunya adalah wanita baik-baik.
Mungkin karena prasangka itulah, rasa benci Len terhadap ayahnya semakin menumpuk dan menumpuk. Sampai-sampai ia tega memotong seluruh foto keluarganya hingga hanya menyisakan Len dan ibunya, kemudian menjadikan foto yang telah ia potong tersebut sebagai gambar tampilan desktopnya.
Ia teramat benci pada ayahnya, sampai rasanya Len bisa saja menganggap apa pun yang pria itu lakukan adalah perbuatan salah. Tidak peduli apa pun itu.
Ia benci ketika ayahnya memencet bel di malam yang sudah kelewat larut. Ia benci saat ayahnya melewatkan sarapan dan memilih mengejar jam tidur yang hilang akibat menerbangkan si burung besi. Dan, yang paling utama, ia benci ketika ayahnya membiarkan ibunya pergi.
Len benci pria itu.
Len sangat membencinya.
Len membenci takdir yang membuatnya harus terlahir dari benih pria itu.
Len….
Len….
… Dia ingin penjelasan.
Kenapa ayah dan ibunya berpisah?
Kenapa ayahnya selalu bungkam saat dia tanya perihal ibu?
Apa yang mereka semua sembunyikan?
Umur Len sudah menginjak enam belas tahun ini. Sudah cukup besar untuk tahu semua yang ada di balik hal-hal itu.
Len ingin tahu.
Anak laki-laki itu terpaku. Matanya menatap sedih pada layar monitor. Memoar usang, mengenai keluarganya yang dulu bahagia, hancur ditelan gelombang.
Len masih berpikir, menerka-nerka. Mencari jawaban paling logis dari perceraian orangtuanya. Berusaha menjawab pertanyaannya sendiri. Sampai akhirnya, secara tidak terduga, Len mendengar suara itu.
Suara seperti kayu yang menjerit akibat menahan beban berat.
Greeeek.
Suaranya jelas sekali. seperti memang bunyi itu berasal dari belakang telinganya.
Apa? Len bertanya-tanya dalam hati. Seingatnya, di dalam rumahnya, tidak ada kayu atau benda apapun yang dapat menyebabkan bunyi seperti itu.
Pintu? Tidak. Suara pintu terbuka pastilah didahului dengan langkah kaki. Lantai di rumahnya mungkin terbuat dari kayu, namun tidak pernah menimbulkan bunyi karena rumah yang ia tempati kini masih baru.
Jadi, apa?
Greeek.
Dia menatap kosong ke layar laptop. Benda persegi tersebut masih menyala dan memancarkan sinar. Foto Len dan ibunya, yang hanya memenuhi bagian tengah layar, masih terpasang di sana. Di belakangnya ada background hitam yang mengisi kekosongan layar. Dan dari situ—dari pantulan hitam layar di laptop— Len bisa melihatnya.
Sesosok tubuh menggantung.
Tubuhnya mengayun pelan. Ke kanan, lalu ke kiri. Setiap gerakannya menimbulkan bunyi derit. Greeek, greeek, begitu.
Seketika, rasa dingin yang aneh menjalari sepanjang tulang belakang Len, naik terus sampai ke belakang leher. Membuat rambut-rambut halus di sana berdiri.
Greeek.
Tubuh itu terus bergerak. Pelan sekali, tapi Len merasakan sekujur tubuhnya menggigil.
Greeek.
Bunyi itu terus terdengar. Memantul di antara keheningan malam.
Greeek. Greeek.
Tanpa sudi menengok, Len berlari ke tempat tidur. Selimut langsung ditarik hingga menutup sekujur tubuh.
Ba-dump.
Jantungnya berdetak cepat. Badannya gemetar hebat. Jemari dingin oleh ketakutan.
Ba-dump. Ba-dump.
Itu cuma ilusi, Len, begitulah caranya menyugesti diri. Itu cuma ilusi. Tutup matamu dan tidur. Yang kau lihat barusan cuma ilusi. Ilusi! Ilus—
Greeek.
(tapi bunyi derit kayu itu tidak berhenti)
Ba-dump.
Ba-dump.
Ba-
-dump….
(dan sepanjang malam, ketakutan menyelimutinya)
tbc
update karena coretinimalamjumatcoret karena saya nggak yakin kuota saya cukup sampe hari minggu nanti. soo... saya putusin buat update sekarang. thanks buat yang review. maaf belum bisa dibales, karena kuliah lagi hectic #sungkem
review yang membangun, amat dinanti.
sign,
datlostpanda-wow! kembali ke awal. nice. www
