XingBubble Present:

A Thousand Miles Apart (Sequel)

Main Cast: Luhan, Sehun.

Other Cast: Baekhyun, Chanyeol, Lay, Suho, Mino(OC).

Rating: T.

Disclaimer: I own nothing beside the plot.

Summary: Hanya cerita ketika Sehun dan Luhan berjauhan. Bagaimana mereka menghabiskan waktu sendirian, bagaimana rindu menyiksa mereka, dan bagaimana bahagianya mereka ketika bertemu kembali.

Warning! Yaoi | BL | AU | Typo(s) | Italic=Flashback

ENJOY!


We may be a thousand miles apart
But I'll be with you wherever you are—Westlife


Seorang lelaki berambut cokelat itu berguling kesana-kesini diatas kasurnya. Dia menghela napasnya sambil memeluk guling kesayangannya. Sudah sejam dia begini karena perintah unicorn kecilnya. Perintah unicorn kecilnya itu cukup sederhana dia tidak boleh keluar kamar barang sekali saja—buang air kecil dan lapar itu termasuk.

"Ahh.."

Sialan, umpat lelaki berambut cokelat itu dalam hati. Suara laknat itu kembali terdengar di telinganya. Dengan cepat dia menutup telinganya. Sungguh, unicorn kecil di seberang kamarnya itu benar-benar melakukan olahraga ranjang dengan kekasihnya.

"Ya! Yixing-ah! Ini benar-benar mengasyikkan!" pekik seseorang dari seberang kamarnya yang diyakini sebagai kekasih si unicorn kecil.

Lelaki itu hanya menggeram, "Demi Tuhan mereka sangat berisik."

Beep beep

Ponselnya berbunyi. Dengan cepat lelaki itu mengambil ponselnya.

"Sehun? Video call?" gumam lelaki itu. Tanpa basa-basi dia langsung mengangkat video call itu.

"Hai Luhan!" suara itu menyapa telinga lelaki itu begitu dia mengangkat video call.

"Hai Sehun!" balas lelaki itu—Luhan sambil terkikik.

"Aku merindukanmu." Sehun menatap Luhan sendu.

Luhan hanya mengusap layar ponselnya yang menampilkan Sehun tengah terdiam—menunggu balasan Luhan, "Aku benar-benar merasa kau jauh sekali sekarang."

"Ya." Jawab Sehun sedikit menekuk wajahnya. Matanya hampir berkaca-kaca.

Luhan tersenyum, "Sudahlah! Bagaimana dengan latihannya hari ini?" tanya Luhan mengalihkan topik sensitif itu.

"Berjalan dengan baik jika aku tidak hampir menabrak." Jawab Sehun.

"Ya Tuhan! Bagaimana bisa kau menabrak?" tanya Luhan dengan histeris.

"KAN AKU BILANG HAMPIR, BODOH!"

Luhan mendengus, "Aish aku khawatir. Lain kali lakukan dengan benar."

Sehun terkikik, "Hihihi tenang saja."

"Aku akan tanding akhir minggu ini. Pastikan kau menonton acaranya." Tambah Sehun.

"Benarkah? Cepat sekali." Balas Luhan.

"Setidaknya aku bisa langsung bertemu denganmu. Aku sudah merindukan rusa kecilku." Sehun mengangkat salah satu alisnya.

"Yang mau bertemu denganmu siapa?" balas Luhan.

Sehun memutar bola matanya, "TERSERAH HAN TERSERAH!"

Luhan tertawa dengan keras, "Kau kira itu lucu?" tanya Sehun dengan nada sarkastik.

"Ya, tentu." Jawab Luhan.

Sehun langsung mendengus kesal, "Bodoh. Bagaimana latihanmu dengan Chanyeol hyung hari ini?"

"Tidak latihan." Jawab Luhan.

"Kenapa?"

Luhan mengetuk jarinya dibibir mungilnya, "Chanyeol hyung dan Baekhyun berkencan tadi siang."

"Ahh... Joonmyeon-ah!" suara itu kembali terdengar bahkan lebih keras. Luhan langsung terdiam membeku sambil memegang ponselnya. Mungkin jika Luhan tidak memegangnya dengan benar, ponsel pintarnya mungkin saja sudah mencium lantai.

Sehun menyeritkan dahinya, "Itu suara siapa, Han?"

"Suara Yixing dengan Joonmyeonlah! Siapa lagi memangnya." Jawab Luhan dengan muka memerah.

"Heol! Mereka melakukan itu?" Sehun membulatkan matanya.

"Tidak, Hun. Mereka sedang bermain roller coaster di kamar."

Sehun hanya tertawa pelan, "Anyway, ini sudah satu minggu kita tidak melakukannya."

"Lalu?"

"Aku ingin~"

"Peduliku?"

"Ayolah Han~ kau tidak peduli denganku dan adik kecilku?" ucap Sehun sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Luhan.

"TIDAK!" Luhan langsung mematikan sambungan video call mereka.

.

.

A Thousand Miles Apart

.

.

Sebetulnya Luhan sangat kesal jika dia harus berjauhan seperti ini dengan Sehun. Bagaimana tidak? Sehun yang biasanya bersikap sangat dewasa akan berubah total menjadi manusia paling manja.

"Han~ kakiku sakit tadi aku tersandung batu."

"Han~ tadi aku terkena hujan. Kepalaku jadi sakit."

"Han~ tadi aku terjatuh di kamar mandi."

Luhan bahkan sampai geleng-geleng kepala saat melihat pesan dari kekasihnya itu. Dan anehnya lagi begitu Sehun sampai di Seoul, Sehun langsung berubah menjadi biasa lagi—Bersikap normal dan juga dewasa.

Terkadang Luhan bertanya kepada Sehun mengapa tingkahnya bisa seperti itu. dan jawabannya—

"Agar kau tau bagaimana rasanya melihat kekasih manja. Dan juga setidaknya jika aku mengabarimu seperti itu, kau tidak khawatir kan?"

Aneh. Bahkan sangat aneh.

Oh ya, jangan lupakan pagi ini Sehun mengirimkan pesan yang membuat Luhan geli. Yaitu—

"Han~ adik kecilku sangat tersiksa:( bagaimana ini?"

Masa bodoh, itu yang ada dipikiran Luhan. Selain menjadi manja, Sehun juga berubah menjadi orang paling mesum—catat itu.

"Hoi Ge!" panggil Lay kepada Luhan sambil menaruh sarapan di meja makan, "dari tadi aku liat mukanya masam begitu. Kenapa?"

Luhan melempar ponselnya ke meja makan dan langsung menyambar sarapan dari Yixing, "Bukan apa-apa."

Dahi Yixing berkerut, "Ge aku sudah mengenalmu sejak kecil."

"Bukan urusanmu." Luhan menatap Yixing tajam.

"Dasar bocah!" ejek Yixing.

"Kau yang lebih bocah." balas Luhan.

Yixing hanya tertawa renyah, "Kenapa sensitif begitu, Ge? Ada masalah dengan Sehun hyung?"

"Bukan apa-apa. Aku hanya kesal dengan Oh Sehun." Jawab Luhan.

Yixing menyeritkan dahinya, "Kesal?"

Luhan mengangguk.

"Kenapa?" tanya Yixing lagi.

"Dia semakin manja. Aku heran dibuatnya." Jawab Luhan.

Yixing langsung tertawa dengan keras, "Itu sih karma, Ge. Karena kau sudah manja selama ini dengan Sehun hyung."

Luhan mendelik kasar pada Yixing, "Apa maksudmu?"

"Itu wajar, Ge." Jawab Yixing sambil menyeka matanya—karena tertawa terlalu hebat, "Joonmyeon bahkan juga begitu."

"Lalu, apa yang kau lakukan kepadanya?" tanya Luhan sambil memiringkan kepalanya.

"Iyakan saja semua yang dikatakan dan dimintanya." Jawab Yixing.

"Bagaimana jika dia meminta hal yang aneh-aneh?" tanya Luhan lagi.

"Ya, kalau kau tidak keberatan lakukan saja."

Luhan berdiri dari bangkunya sambil mengambil ponselnya diatas meja, "Kau mau kemana Ge?" tanya Yixing.

"Latihan." Jawab Luhan dengan cepat.

Yixing hanya mengangkat bahunya begitu melihat Luhan keluar dari rumah.

.

.

.

"Pertama injak remnya dengan kuat." Ucap Luhan sambil menginjak remnya dengan kuat.

"Tarik tuas ke tanda D." Luhan menarik tuas ke tanda D.

"Lalu, turunkan rem tangannya," Ucap Luhan lagi sambil menarik rem tangannya, "Ya! Ugh! Ini payah sekali."

Luhan menurunkan rem tangannya dengan susah payah, "Ya, Chanyeol hyung! Bantu aku!"

Chanyeol yang sedari tadi duduk disebelah Luhan langsung mendecakkan lidahnya, "Kan sudah kubilang tekan tombolnya, tarik ke atas sedikit, lalu turunkan."

Luhan hanya terkikik saat melihat Chanyeol menurunkan rem tangannya, "Cepat jalankan! Jangan banyak tertawa." Perintah Chanyeol dengan kesal.

Luhan menginjak pedal gasnya dengan perlahan-lahan. Matanya menatap jalan aspal yang sudah akrab dimatanya. Sesekali dia melirik kaca spion disampingnya.

"Pertahankan kecepatannya." Ucap Chanyeol lagi.

Luhan mengangguk dengan cepat, "Ya, hyung."

"Wah! Luhannie sudah pintar, rupanya." Puji Baekhyun sambil menatap Luhan dari jok belakang.

"Ini masih biasa saja, Baek." Balas Luhan.

"Aku jadi ingat ketika kita memplester mulut Luhan karena dia berteriak saat menghindari mobil. Kapan itu, Baek?" tanya Chanyeol.

"Entahlah," Baekhyun mengetukkan jari-jarinya dibibirnya, "saat pertama belajar?"

"Benar!" jawab Chanyeol.

"Ya! Jangan diingat-ingat lagi!" marah Luhan sambil mengerucutkan bibirnya.

"Aku lebih geli saat hyung muntah-muntah setelah belajar." Tambah Luhan.

Baekhyun langsung tertawa terbahak-bahak, "Benar, Han! Mukanya seperti orang menahan panggilan alam saat itu."

Chanyeol langsung mendecakkan lidahnya, "Hentikan, Baek!"

"Oke-oke. Aku akan berhenti, Yeollie!" ucap Baekhyun sambil terkikik-kikik dengan pelan.

"Aku heran. Kau sudah berlatih empat kali dengan Sehun saat itu, Han. Tapi, kenapa kau seperti orang tidak bisa mengendarai mobil?" tanya Chanyeol.

"Bahkan kau hanya berlatih tiga kali denganku dan sekarang kau sudah bisa membawanya dengan benar." Tambah Chanyeol.

"Kau seperti tidak tahu saja, Yeollie!" ucap Baekhyun.

Chanyeol menyeritkan dahinya, "Hah?"

"Mereka itu belajar sambil modus." Jawab Baekhyun.

Chanyeol masih terdiam—mencerna kata-kata kekasihnya. Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya, "Kau ini! Mereka melakukan itu jika Luhan tidak bisa membawanya dengan benar!" ucap Baekhyun setengah berteriak—frustasi.

"Heol! Kalian melakukan itu?" tanya Chanyeol, "darimana kau tahu?"

"Mudah saja!" jawab Baekhyun, "Luhan selalu berjalan seperti penguin setelah mereka latihan."

Chanyeol menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu bahwa adikku bisa seperti itu."

.

.

.

Luhan menghentikan mobil Hummer Chanyeol di dekat restauran cepat saji—seperti permintaan Baekhyun yang sudah meraung-raung dibelakang. Dia membuka pintunya dan langsung berlari menyusul Chanyeol dan Baekhyun yang sudah duduk didalam.

"Aku senang kau tidak membawa mobil ini seperti orang kesetanan." Ucap Chanyeol saat Luhan sampai dihadapannya.

Luhan hanya tertawa sambil menarik kursinya, "Eih~ mobil ini sangat berat."

"Ayolah! Kita makan saja! Aku lapar!" Baekhyun mengerucutkan bibirnya.

Dengan cepat Chanyeol mengecup bibir Baekhyun, "Jangan merajuk seperti itu." ucap Chanyeol sambil mengacak rambut Baekhyun.

Luhan hanya menatap mereka dengan kesal, "Ya! Jangan pamer kemesraan dihadapanku begitu!" Luhan berjalan dibelakang mereka.

Baekhyun mengunyah wafflenya sambil bertanya, "Kau mau apa, Han?"

"Aku mau Sehun! Puas kau!" pekik Luhan dengan muka tertekuk.

Tawa Chanyeol dan Baekhyun langsung meledak.

.

.

.

"Huaah! Kenyangnya!" ucap Luhan sambil mengusap-usap perutnya. Kali ini dia berhasil menghabiskan dua piring steak, segelas limun, bersama dua piring waffle.

"Aku heran. Kau itu lapar atau sedang marah sih?" tanya Baekhyun sambil meminum limunnya.

"Dua-duanya mungkin." Jawab Luhan.

Baekhyun dan Chanyeol hanya menggelengkan kepalanya.

"Eh Hyung! Mengapa kau selalu membawaku latihan ke tempat itu?" tanya Luhan.

Chanyeol tersenyum, "Jika kau hapal dengan jalannya lebih mudah latihannya."

Luhan hanya ber-oh ria saat mendengar jawaban Chanyeol.

"Selain itu, jalan itu memiliki banyak kenangan Sehun." Ucap Chanyeol.

"Huh? Kenangan?" tanya Baekhyun dan Luhan bersamaan.

"Bagi Sehun ada tiga hal penting dalam hidupnya selain makan, tidur, dan karirnya. Yaitu, kekasihnya, kakek, dan jalanan itu." jawab Chanyeol.

"Seharusnya Sehun yang bercerita kepadamu, Luhan. Tapi, aku akan menceritakannya." Tambah Chanyeol.

Luhan mengangguk, "Baiklah."

.

.

.

To: Sehunnie~

Hun-ah~ kau sedang apa? Jika sudah selesai berlatih cepat telepon aku. Aku merindukanmu.

Luhan menutup matanya setelah menuliskan pesan itu. Dia merindukan Sehun sekarang, bahkan kerinduannya bertambah menjadi-jadi.

"Dulu, Sehun memang bercita-cita menjadi pembalap sama seperti kakek. Tapi, orang tua kami berpikir bahwa pekerjaan itu tidak penting," Ucap Chanyeol sambil memainkan sedotannya, "Jadi, Sehun berlatih dengan kakek dengan rajin."

"Lalu, bagaimana dengan orang tuamu? Apakah mereka tahu?" tanya Baekhyun.

"Tidak, mereka tidak tahu sampai Sehun memenangkan sebuah kejuaraan. Mereka sangat terkejut, setelah itu mereka mendukung karier Sehun." Jawab Chanyeol.

"Dan juga orang tuaku mulai luluh karena kakek bilang bahwa Sehun berlatih dengan sangat rajin." Lanjut Chanyeol.

"Tapi, suatu hari sebelum pertandingan, kakek mengajak Sehun untuk berjalan-jalan. Dan kakek meminta Sehun untuk melewati jalanan itu. Namun, setelah itu kakek meninggal karena serangan jantung. Sehunlah orang yang paling terpukul saat itu." Mata Chanyeol tampak berkaca-kaca.

"Dan sampai sekarang Sehun selalu mendedikasikan pialanya itu untuk kakek. Aku berani bersumpah setiap kali Sehun bertanding kakeklah yang diingatnya selain Luhan."

Luhan membolak-balikkan ponsel pintarnya itu. Baru kali ini dia merindukan Sehun seperti ini. Padahal, dia tahu Sehun akan meneleponnya begitu dia selesai latihan. Tapi, Luhan sangat merindukan kekasih idiotnya itu.

Beep beep

Ponsel Luhan bergetar. Dengan segera dia membuka ponselnya.

From: Sehunnie~

Aku meneleponmu 2 jam lagi. Aigoo~ kekasihku merindukanku ternyata.

.

.

.

"Bagaimana latihanmu hari ini?" tanya Luhan begitu Sehun mengajaknya video call.

"Hari ini lumayan baik, tapi aku hanya dapat peringkat ke sepuluh." Jawab Sehun.

"Itu sudah baik, Hunnie~." Ucap Luhan.

Sehun hanya tertawa, "Lucu sekali kekasih pendekku tiba-tiba merindukanku. Ada apa? Bagaimana latihannya?"

Luhan mengerucutkan bibirnya, "Aku sudah bisa membawanya sendiri dan memakirkannya. Chanyeol hyung tadi meneraktir kami."

"Baguslah." Sehun mengancungkan jempolnya.

"Kapan kau akan pulang?" tanya Luhan tiba-tiba.

Sehun tersenyum sambil mengusap layar ponselnya yang menampilkan muka Luhan, "Sehari setelah lomba akan ku usahakan pulang jika tidak ada jadwal."

"Benarkah?"

"Iya."

Luhan tersenyum, "Kalau begitu bisa tidak setelah lomba langsung pulang?"

"Ya, pendek! Kenapa kau tiba-tiba manja? Ini waktuku untuk bermanja-manja." Ucap Sehun.

"Ya! Memangnya ada peraturan aku tidak boleh manja denganmu?" Luhan mengerucutkan bibirnya.

Sehun hanya memutar bola matanya, "Terserah kau saja."

Luhan memandang Sehun yang sudah memasang muka kesalnya, "Hunnie marah?"

"Tidak." Jawab Sehun singkat.

"Tapi, kenapa begitu kepadaku?" tanya Luhan lagi.

"Hunnie~ jangan begitu. Aku hanya bercanda." Tambah Luhan sambil menunjukkan senyum manisnya.

Sehun tersenyum, "Aku juga bercanda."

Luhan menghela napasnya, "Huh! Aku kira tadi kau marah."

"Aku tidak segila itu." Balas Sehun.

"Kau tidak mengantuk?" tanya Sehun, "Aku yakin disana sudah jam sebelas malam."

Luhan melirik jam dinding kamarnya, "Jam dua belas malam yang benar, aku sedang bosan."

"Bosan?"

Luhan mengangguk.

"Lalu, aku harus apa?"

Luhan menggigit bibirnya sambil menatap Sehun seduktif, "Aku menginginkan Sehun."

Sehun membulatkan matanya, "WHAT?"

.

.

.

"Kau seharusnya bisa lebih teliti lagi! Ada apa denganmu akhir-akhir ini tuan Oh?" suara manager Sehun menggema di kamar hotelnya.

"Aku tidak apa-apa, Mino hyung." Jawab Sehun sambil menggaruk pipinya.

"Kalau tidak apa-apa, mengapa kau hampir menabrak mobil lawan saat latihan?" Mino—Managernya kembali menaikkan suaranya beberapa oktaf. Andai saja di dekat Sehun ada headphone,mungkin Sehun tidak akan mendengar suara milik Mino lagi.

"Aku tidak apa-apa, hyung. Sungguh. Aku hanya kelelahan." Sehun menatap Mino.

"Apa ini karena Luhan?" tanya Mino lagi.

Badan Sehun langsung membeku begitu mendengar nama Luhan. Dia langsung menunduk. Memang sudah dua hari dia tidak menelepon kekasihnya itu karena sibuk. Wajar bukan merindukan kekasihnya hingga menggila seperti ini?

Mino menghembuskan napasnya dengan kasar, "Hun, ada kalanya kau harus mengakhiri hubungan jika menganggu konsentrasi bahkan karriermu."

Mata Sehun membulat, "Hyung aku—"

"Aku tau, aku tau. Kau tidak ingin mengakhiri hubunganmu dengan Luhan." potong Mino.

"Tapi, tidak bisakah kau berkonsentrasi untuk lomba ini? Aku tau kau merindukan Luhan. jika kau berhasil memenangkan perlombaan ini, Luhan pasti akan bangga denganmu." Sambung Mino.

Sehun tersenyum, "Terima kasih, Hyung."

"Aku tau, sekarang istirahatlah. Besok kau harus berlomba." Ucapan Mino itu membuat Sehun langsung menidurkan badannya di kasur.

"Seperti biasa, aku akan mengambil ponselmu." Mino berjalan ke meja kecil tepat disebelah Sehun. Dia mengambil ponsel Sehun.

Sehun langsung berguling ke kanan setelah mendengar pintu kamar hotelnya tertutup. Matanya terkunci kepada jendela yang menampilkan pemandangan kota Brussel, Belgia pada sore hari.

"Bagaimana kabarmu? Aku merindukanmu. Sangat-sangat merindukanmu. Aku hampir gila karena ini, Han." Bisik Sehun.

Perlahan-lahan, dia menutup matanya. Setitik air mengalir dari matanya.

.

.

.

"Luhan! Buka pintunya!" Chanyeol mengetuk pintu kamar Luhan dengan kuat.

"Tidak mau!" balas Luhan dari dalam.

Chanyeol hanya bisa menghembuskan napasnya dengan kasar, "Ada apa sih dengannya?" Chanyeol menatap Baekhyun yang sedari tadi berdiri disampingnya.

"Apa kejutan ulang tahun kita kurang? Apa karena Joonmyeon mengambil kuenya?" tanya Chanyeol.

Baekhyun hanya mengidikkan bahunya, "Entahlah. Jika dia ingin sendiri, biarkan saja dia sendiri."

Chanyeol melingkarkan lengannya di bahu Baekhyun, "Ayo makan kue buatan Yixing. Aku hampir meneteskan air liurku saat melihatnya.

Baekhyun terkikik dan berjalan ke ruang makan bersama Chanyeol.

.

.

.

"Kau sih! Kenapa kau mengambil kuenya?" tanya Yixing kepada Joonmyeon yang tengah makan kue dihadapannya.

"Kenapa memangnya? Aku lapar." Yixing hanya menggelengkan kepalanya melihat jawaban Joonmyeon.

Mata Yixing menangkap Baekhyun dan Chanyeol yang baru saja kembali dari kamar Luhan, "Bagaimana hyung?"

"Dia tidak mau keluar." Jawab Baekhyun sambil menarik kursi didepannya.

"Biasanya Luhan tidak akan marah begitu saja dengan masalah sepele seperti ini. Tapi, kenapa dia marah?" tanya Yixing.

Baekhyun beradu pandang dengan Yixing, "Kau benar, Xing."

"Mungkin dia merindukan Sehun. Tadi kita sempat membicarakan Sehun bukan?" ujar Chanyeol sambil menyendokkan kue ke mulutnya.

Baekhyun dan Yixing hanya mengidikkan bahunya, "Semoga saja." Bisik mereka bersamaan.

.

.

.

Luhan menyeka matanya dengan cepat. Ayolah dia sangat merindukan Sehun sekarang. Apalagi kekasihnya itu tidak mengucapkan 'selamat ulang tahun' kepadanya pagi ini.

Memang ini kelihatan aneh, Luhan menangis setelah mendengar ucapan Chanyeol—

"Sehun sudah mengucapkan selamat kan?"

Hell! Menelepon saja tidak selama dua hari ini. Bagaimana dia bisa mengucapkan selamat? Memang ini hanya masalah sepele. Tapi, Luhan sangat kesal.

Ada kalanya Luhan membenci Sehun jika berjauhan. Salah satunya ini, Sehun selalu melupakannya jika berjauhan.

Ada kalanya juga Luhan membenci dirinya jika berjauhan. Salah satunya saat ini, kenapa dia tidak bersikap dewasa? Kenapa dia tidak bisa menganggap bahwa Sehun sedang sibuk?

"Aku merindukanmu, idiot. Cepatlah pulang!" bisik Luhan.

.

.

.

Luhan menyendokkan kue buatan Yixing ke mulutnya. Matanya tidak bisa lepas dari televisi yang menanyangkan acara bola.

"Kau belum makan nasi, Ge. Tapi, sudah kue empat kali?" tanya Yixing sambil menatap Luhan disampingnya.

"Diamlah! Aku lapar!" Luhan kembali menyendokkan kue buatan Yixing, "Ngomong-ngomong, aku suka yang ini. Gulanya lebih terasa."

Yixing hanya menggelengkan kepalanya dan kembali menonton. Ya, akhirnya Luhan mau keluar kamarnya—meskipun dengan paksaan Baekhyun dan Chanyeol. Mereka terkejut saat melihat Luhan menangis hingga matanya membengkak.

Dan ironisnya lagi, Joonmyeon juga ikut menangis—karena merasa bersalah. Jadilah rumah mereka banjir air mata.

"Lu Ge! Maafkan aku!" Joonmyeon langsung berlari ke pelukan Luhan begitu pintu kamar Luhan terbuka.

Luhan kembali meneteskan air matanya, "Kau bodoh! Mengapa kau mengambil kueku?"

"Huhuhu. Maafkan aku, Ge! Maafkan aku!" ucap Joonmyeon berkali-kali.

"Kau boleh mengambil kueku jika kau mau." Tambah Joonmyeon.

"Baiklah! Aku memaafkanmu."

Ironis, kedua pemuda berbaikkan sambil menangis heboh. Bahkan Chanyeol hampir tertawa jika Baekhyun tidak menginjak kakinya. Sedangkan Yixing, hanya menggelengkan kepalanya.

Beep beep

Ponsel Luhan berbunyi dengan kuat. Yixing melemparkan pandangannya kepada Luhan yang masih sibuk dengan kue dan acara bolanya.

"Ponselmu berbunyi, Ge." Ucap Yixing.

"Aku tau." Luhan sama sekali tidak bergerak untuk mengambil ponselnya.

"Kenapa tidak diambil?" tanya Yixing lagi.

Luhan menatap Yixing dengan malas, "Aku malas!"

.

.

.

"Ayo, Luhan! Angkat teleponnya!" ucap Sehun kepada ponselnya.

Bodohnya dia melupakan hari ulang tahun kekasihnya sendiri. Pantas dia merasa aneh hari ini. Pantas dia merasa melupakan sesuatu hingga tidak berkonsentrasi kepada latihannya. Dia berjalan ke sana-sini sambil memegang ponselnya dengan cemas.

Sehun menyeritkan dahinya begitu teleponnya sampai pada kotak pesan suara. Kemana kekasih pendeknya itu?

.

.

.

Beberapa saat sebelumnya...

Sehun menyendokkan pasta ke mulutnya dengan malas. Dia menatap Mino dengan sengit. Mino hanya tertawa melihat tingkahnya.

"Kau kenapa? Merindukan Luhan?" goda Mino.

Sehun hanya mendengus. Memang ada benarnya, tapi, dia kesal dengan Mino karena membangunkan tidurnya dengan tidak terhormat.

Bagaimana tidak? Mino menendang tubuh Sehun hingga terjatuh dari tempat tidur. Bukan permintaan maaf yang didapat Sehun, melainkan gelak tawa yang didengarnya.

"Tadi Chanyeol meneleponmu. Saat kuangkat, dia berpesan kalau kau harus meneleponnya kembali." Ucap Mino.

"Huh? Tumben dia menelepon." Sehun hanya mengidikkan bahunya, lalu meneruskan makannya.

"Cepat habiskan makananmu. Kau harus beristirahat untuk besok, jika kau butuh apa-apa minta denganku." Kata Mino lagi.

Setelah itu, Sehun langsung berlari ke kamarnya—meninggalkan Mino sendirian di restoran milik hotel yang ditinggalinya—sambil menelepon Chanyeol.

"Ada apa, hyung?" tanya Sehun begitu sambungan teleponnya diangkat Chanyeol.

"Halo adikku~ bagaimana kabarmu?" tanya Chanyeol balik.

"Aku baik." Jawab Sehun.

"Ayah dan ibu akan menontonmu besok di Brussel. Aku dan Luhan tidak bisa menonton secara langsung. Kau tau Luhan kenapa kan? Kalau aku, besok aku ada rapat direksi." Jelas Chanyeol.

Sehun hanya mengangguk, "Dia sudah memberitahuku sebelum aku berangkat. Katanya dia sibuk kuliah dan fobianya makin parah."

"Bagus kalau kau paham. Dan —ya! Baekhyun sisakan kuenya untukku— ayah dan ibu sudah mendarat di Brussel tadi sore." Ucap Chanyeol.

"Baek! Kubilang sisakan untukku! Dan Ya! Kenapa kau mengambil stroberinya?" Sehun hanya menyeritkan dahinya.

"Hyung?" Tanya Sehun memastikan apakah Chanyeol masih mendengarnya atau tidak.

"Tunggu, Sehun! Aku masih ingin bicara banyak denganmu." Balas Chanyeol.

"Baiklah." Jawab Sehun.

"Baek! Kau sudah makan banyak di rumah Luhan! Kenapa kau tidak menyisakan untukku? Yixing bilang kue itu untukku!" pekik Chanyeol—hingga membuat Sehun menjauhkan ponselnya dari telinganya.

"Hyung! Jika kau ingin pamer kemesraan dihadapanku sebaiknya aku mati—"

"Sabar dulu! Aku ingin kuenya, Baek!" potong Chanyeol.

Sehun masih menyeritkan dahinya. Dia melemparkan pandangannya ke jendela yang menunjukkan pemandangan kota Brussel pada malam hari.

"Nah! Akhirnya aku dapat!" ucap Chanyeol.

"Halo? Sehun?" Chanyeol bertanya.

Sehun tertawa pelan, "Kenapa lagi kau dengan Baekhyun?"

"Dia mengambil jatah kueku. Dia hampir memakan semuanya." Jawab Chanyeol.

"Jangan kekanak-kanakan, hyung! Kau bisa membelinya lagi."

"Aku tau. Tapi, harus kubeli dimana? Yixing yang membuatnya dan ini spesial." Balas Chanyeol.

"Kenapa begitu? Dia merayakan hari jadi dengan Joonmyeon?" tanya Sehun.

"Karena hari ini Luhan ulang tahun. Jadi dia membuatkan kue dan ini sangat enak." Jawab Chanyeol.

Sehun hanya ber-oh ria.

Eh, tapi tunggu.

Luhan? Berulang tahun?

"Hyung, memangnya hari ini Luhan berulang tahun?" tanya Sehun.

"Iya, memangnya kau lupa?" jawaban Chanyeol membuat Sehun menyeritkan dahinya.

"Memangnya hari ini tanggal berapa?" tanya Sehun lagi.

"Hari ini? 20 April, bukan?" Sehun langsung meloncat dari duduknya saat mendengar jawaban Chanyeol.

"Akan kutelepon lagi, hyung!" dengan cepat dia mematikan sambungan teleponnya.

.

.

.

Bodoh, mengapa dia bisa melupakan hari ulang tahun kekasihnya? Luhan pasti marah besar dengannya. Aduh.

"Apa dia marah denganku?" sebodoh apa kau, Sehun. Tentu dia marah denganmu.

Sehun hanya terduduk dan mengirimkan pesan singkat kepada Luhan.

To: Luhan Baby.

Angkat teleponnya! Ini penting.

Sehun kembali menelepon Luhan. Dia menggigit bibirnya dengan cemas.

"Kemana kau pendek?"

.

.

.

"Ge! Angkat teleponmu!" pinta Yixing sambil melipat tangannya.

"Nanti, Yixing. Ini masih ditengah pertandingan!" Mata Luhan masih terpaku pada televisi.

"Ge!" pekik Yixing.

Mau tak mau, Luhan mengambil ponselnya yang tergeletak di meja. Sebuah video call dari Sehun, Luhan langsung mengangkatnya.

"Selamat ulang tahun, sayang~" sapa Sehun begitu Luhan mengangkat video callnya.

Luhan langsung terdiam.

"Maafkan aku, aku lupa." Sehun sambil memainkan cake mungil ditangannya dengan lilin kecil.

"Kau tidak marah kan? Aku benar-benar lupa, Han."

Luhan masih terdiam membeku.

"Sayang? Kau disana?" tanya Sehun.

Luhan tersadar. Dengan cepat dia berteriak, "Bodoh! Aku kira kau sudah mati karena tidak meneleponku!"

Sehun menggaruk kepalanya dengan canggung, "Maafkan aku, aku terlalu fokus dengan perlombaan."

"Setidaknya kirimkan pesan singkat, aku sangat khawatir dan hampir gila karenamu." Ucap Luhan.

"Setidaknya kau tiup dulu lilinnya." Pinta Sehun sambil menatap miris kue ditangannya.

"Ini sudah jam tiga malam di Seoul." Luhan melirik jam di sampingnya.

"Lalu? Disini masih jam delapan malam," Balas Sehun, "Make a wish, baby."

Luhan menutup matanya dan membuat harapan. Sedangkan Sehun, menunggu Luhan dengan sabar.

Luhan membuka matanya dan meniup 'lilin' dihadapannya—dengan bantuan Sehun.

"Kau bertambah tua. Aku harap kita akan selalu bersama." Bisik Sehun.

"Aku juga berharap begitu."

Sehun menghembuskan napasnya dengan kasar, "Andaikan aku di Seoul, aku pasti sudah memelukmu dan memberikanmu hadiah terbaik di dunia."

"Stt..." Luhan menaruh jarinya dibibirnya, "Tidak baik mengeluh."

Sehun tersenyum, "Aku rasa aku merindukanmu teramat sangat dan ini membuatku gila, Han."

"Ya, aku juga." Balas Luhan.

.

.

.

Sehun menatap pantulan dirinya di cermin. Dia nampak sangat gagah dengan seragam balapnya itu. Jantungnya tidak berhenti berdetak dengan keras. Ayolah, dia sudah sering berlomba dan mengapa sekarang dia menjadi ketakutan seperti ini?

Sehun menghembuskan napasnya sambil mengambil kaos dan jeans yang dikenakannya saat sampai di tempat perlombaannya. Dengan perlahan dia berjalan keluar ruang ganti.

"Kudengar Luhan ulang tahun kemarin. Apa itu benar?" Suara Mino menyapa Sehun begitu dia keluar dari ruang ganti.

"Ya, dan aku melupakannya." Jawab Sehun sambil mengambil sarung tangan yang diberikan Mino.

"Huh? Melupakannya?" Mino memiringkan kepalanya.

"Karena terlalu fokus dengan perlombaan ini, aku jadi melupakannya." Sehun tertawa.

"Jadi kemarin aku pergi membeli kue ke toko sebelah hotel. Dan hyung tau? Aku hanya mendapat kue kecil sekali. Dan aku bersyukur toko itu belum tutup." Lanjut Sehun.

Mino hanya mengangguk begitu mendengar jawaban Sehun.

"Tapi Hun, bukankah kau bisa memesan lewat pelayanan kamar? Mereka menyediakan kue cokelat yang enak. Dan juga kau tidak perlu pergi keluar kan?" Ucapan Mino membuat Sehun menyeritkan dahinya.

Sehun menatap Mino dengan muka polosnya. Dia berpikir sejenak sampai akhirnya dia menjawab—

"Oh ya, aku lupa."

.

.

.

Luhan berguling ke kanan sambil melihat jam dindingnya. Seharusnya dia sedang menonton perlombaan Sehun bersama Yixing, Joonmyeon, Baekhyun, dan Chanyeol. Tapi nyatanya, dia hanya berbaring di kamar dan berharap semuanya akan baik-baik saja.

"Luhan? Kau di dalam?" panggil Baekhyun dari luar kamarnya.

Luhan tidak menjawab, dia hanya terdiam sambil menatap jam dindingnya. Baekhyun perlahan-lahan masuk ke dalam kamar Luhan.

"Ada apa, Luhan?" tanya Baekhyun sambil duduk disamping Luhan.

Luhan membalikkan badannya. Dia hampir menendang Baekhyun karena duduk disampingnya begitu saja.

"Aku baik-baik saja." Jawab Luhan.

"Kenapa mengurung diri? Pertandingannya sudah setengah jalan dan kau masih disini."

"Aku merindukan dan khawatir dengannya, Baek." Luhan menenggelamkan wajahnya ke guling kesayangannya.

"Ketika aku menontonnya, aku malah semakin merindukannya dan itu menyiksaku." Gumam Luhan.

Baekhyun tersenyum dan mengusap kepala sahabatnya itu, "Jika kau tidak ingin menonton, setidaknya istirahatlah. Sekarang juga sudah tengah malam."

Luhan tersenyum, "Aku akan tidur, jika kau sudah tau hasilnya beritahu aku."

"Ya, aku akan memberitahukannya kepadamu." Baekhyun berdiri dari duduknya. Dia berjalan ke pintu dan mematikan lampu kamar Luhan.

"Mimpi indah, Luhan."

.

.

.

Luhan rasa dia hanya tertidur dua menit sampai dia mendengar teriakan dari ruang tengah. Karena itu, Luhan berdiri dari tempat tidur dan berjalan keluar kamarnya.

"Ya! Tidak bisakah hargai orang yang sedang tidur?" Luhan melipat tangannya di dada.

Teman-teman serta adiknya itu hanya menatapnya dengan aneh.

"Kenapa berisik sekali sih?" tanya Luhan.

Baekhyun menunjuk televisi dihadapan mereka, "Sehun mendapat peringkat pertama, Han!"

Mata Luhan langsung membulat begitu mendengar jawaban Baekhyun. Dia mengarahkan pandangannya ke televisi yang sedang menampilkan Sehun itu.

Luhan langsung melompat kegirangan sambil berteriak, "Sehunnie jjang!"

.

.

.

"Aku sudah sampai di Seoul."

Luhan tersenyum, "Setelah ini ada jadwal?"

"Sedikit, tapi aku janji kita akan bertemu nanti malam." Ucap Sehun.

"Eung~ aku akan menunggumu." Luhan mengangguk dengan manis.

"Terima kasih, sekarang istirahat di rumah. Jangan pergi kemana-mana."

"Ay ay captain!" ucap Luhan.

Luhan langsung mematikan sambungan telepon mereka. Dia membuka pintu rumah sambil berteriak, "Aku pulang!"

Namun, dia tidak mendengar jawaban. Oh ya dia lupa, tadi pagi Yixing berkata kalau dia akan pulang malam—karena kencan dengan Joonmyeon.

Luhan berjalan masuk sambil melepaskan sepatunya. Badannya terasa pegal setelah seharian duduk dibangku dan memperhatikan dosennya mengoceh. Perutnya sangat lapar karena terlambat bangun tadi pagi ditambah tidak sempat makan siang di kantin. Benar-benar menyusahkan.

Luhan berjalan menuju ruang tengah sambil memukul bahunya yang terasa pegal itu. Matanya menangkap seorang lelaki yang sangat tidak asing untuknya. Lelaki itu melipat tangannya di dada sambil tersenyum miring kepada Luhan.

Luhan hanya bisa terdiam dengan mulut menganga. Jantungnya berdetak kencang, bahkan kakinya terasa seperti dipaku.

"Sehun?" Luhan akhirnya bersuara.

Yang dipanggil hanya tersenyum, "Iya, aku Sehun."

Luhan langsung melemparkan tasnya ke sembarang arah dan berlari ke pelukan Sehun. Matanya berkaca-kaca menahan tangis bahagia.

"Aku merindukanmu." Ujar Luhan sambil mengeratkan pelukannya.

Sehun mengusap-usap kepala Luhan, "Aku juga. Terima kasih sudah menungguku."

"Eung~" Luhan mengangguk. Dia melepaskan pelukannya dan menatap mata Sehun.

"Bukankah kau ada jadwal?" tanya Luhan.

Sehun menggeleng, "Aku hanya mengerjaimu saja."

Luhan mengerucutkan bibirnya, "Aku kesal denganmu."

Sehun hanya tertawa. Dia mengecup bibir mungil Luhan dengan cepat.

"Kau manis sekali jika begitu, pendek." Luhan langsung menyubit lengan Sehun begitu dia mendengar ucapan Sehun.

"Kau pervert."

"Balikkan badanmu." Perintah Sehun.

Luhan hanya menyeritkan dahinya. Tapi, dia tetap berbalik.

"Dan tutup matamu." Perintah Sehun lagi.

Luhan menutup matanya. Dia merasakan sensasi dingin dilehernya dan juga bunyi besi bergesekan dari belakang lehernya.

"Buka matamu." Suara berat Sehun itu membuat Luhan membuka matanya dan melihat ke arah lehernya. Dia melihat sebuah kalung dengan bandul rusa.

"Apa ini?" tanya Luhan.

"Hadiah ulang tahun dan juga permintaan maafku." Jawab Sehun.

"Terima kasih, aku menyukainya." Luhan tersenyum menatap Sehun.

"Aku bersyukur kau menyukainya."

Luhan mengecup pipi Sehun dengan cepat, "Tentu aku menyukai semua hal yang diberi kekasihku."

Sehun tersenyum menatap Luhan, "Ingin jalan-jalan?"

.

.

.

Luhan melipat tangannya sambil mengerucutkan bibirnya begitu dia tahu Sehun mengajaknya pergi ke pemakaman. Dia tidak kesal karena Sehun mengajaknya ke sini—dia takut.

"Sehun, bagaimana jika ada hantu yang memelukku dari belakang? Lalu mereka menyulikku dan menjadikanku tumbal?" Sehun memutar matanya begitu mendengar ucapan Luhan.

"Luhan, ini sore hari. Bukan malam hari." Jawab Sehun.

"Aku tau. tapi, aku pernah membaca artikel kalau—"

"Kalau apa?"

Luhan terbatuk, "Hantu lebih banyak muncul saat sore hari."

"Yang benar saja, Han." Sehun menghentikan mobilnya. Dia menarik rem tangannya.

"Hun." Panggil Luhan.

Sehun tidak menjawab. Dia mengambil sebuket bunga di jok belakang yang baru saja mereka beli.

"Hun." Luhan kembali memanggilnya.

Sehun membuka pintu mobilnya. Dia hanya bisa menahan tawa begitu melihat Luhan memucat sambil meremas sabuk pengamannya.

"A—aku ti—dak m—au turun." Kata Luhan dengan terbata-bata.

"Jangan seperti anak kecil, Han." Sehun mendecakkan lidahnya dengan kesal—sebenarnya dia ingin tertawa melihat Luhan seperti itu.

"Ba—baiklah a—aku akan tu—turun." Luhan membuka pintu mobil Sehun dan turun dengan cepat. Dia membanting pintu mobil Sehun bersamaan dengan Sehun yang menutup pintu mobilnya.

Luhan mengapit lengan Sehun. Dia menyembunyikan wajahnya dibalik lengan Sehun.

"Jangan takut, ada aku disini." Sehun mengusap kepala Luhan.

Mereka berdua berjalan menusuri makam. Luhan sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya dari balik lengan Sehun barang sekali saja, dia terus mengapit lengan Sehun dengan kuat.

"Nah kita sudah sampai." Ucapan Sehun membuat Luhan melepaskan pelukannya.

Sehun berjalan ke sisi kanan makam. Dia berjongkok dan menaruh bunga yang mereka beli.

"Oh Jaeyeol? Siapa dia, Hun?" tanya Luhan.

Sehun menatap Luhan yang tengah berdiri di depan makam, "Kakekku."

"Kakek, aku sudah kembali. Aku sudah mendapatkan peringkat pertama. Aku bahagia." Ucap Sehun dengan pelan sambil menundukkan kepalanya.

"Terima kasih atas doamu selama ini. Aku sangat senang. Aku harap kakek baik-baik saja disana. Sesuai janjiku, aku mengajak Luhan hari ini." Sehun menatap nisan makam itu.

"Aku merindukanmu, Kek. Mengapa kau pergi begitu saja?"

Luhan menghampiri Sehun dan memeluk Sehun. Ditaruhnya kepalanya diatas kepala Sehun, sedangkan tangannya melingkar dibadan Sehun.

"Hun-ah, kakekmu bangga denganmu. Jangan bersedih lagi."

Sehun hanya terdiam. Dia merasakan air matanya menetes ke pipinya. Dengan cepat dia menghapus air matanya.

"Jangan menangis, Hun," Luhan mengusap kepala Sehun, "aku sudah tahu semuanya dari Chanyeol hyung."

Sehun berdiri dari duduknya. Dia menatap mata Luhan sambil berusaha tersenyum.

"Aku tidak sedih lagi karena ada Luhan yang menemaniku." Ucap Sehun.

Luhan tersenyum sambil menatap kekasihnya itu, "Aku yakin kakek bangga denganmu."

"Aku tau."

Mereka terdiam beberapa saat. Hingga Sehun memecah keheningan diantara mereka.

"Aku tadi melihat bayangan putih di depan kita." Kata Sehun dengan datar.

"Benarkah?"

Sehun mengangguk.

Luhan tertawa dengan pelan.

Eh tapi tunggu.

Bayangan putih?

Luhan langsung memucat. Dengan segera dia berlari meninggalkan Sehun sambil berteriak, "AKU MAU PULANG!"

Sehun mengusap kedua matanya, "Uh, ternyata ada debu. Ku kira benar-benar hantu tadi."

"YA! OH SEHUN! BAGAIMANA JIKA HANTUNYA MENGEJAR DIRIMU, HUH? CEPAT PULANG!" pekik Luhan yang sudah sampai di depan mobil Sehun.

Sehun tertawa dan menatap makam kakeknya, "Aku pulang, Kek." Pamitnya sambil tersenyum.

Dia berlari mengejar Luhan yang hampir menangis ketakutan karena ucapannya tadi. Dan oh! Semoga Luhan tidak tahu jika tadi matanya hanya kemasukan debu. Bukan hal-hal aneh.

Semoga saja.

.

.

.

EPILOG

"Sialan! Dia bilang dua menit. Tapi, aku sudah menunggu dua jam." Umpat Sehun sambil mengepalkan tangannya.

Matanya tak henti-henti melihat ke pintu cafe—memastikan apakah orang yang dicarinya sudah datang atau belum.

Dengan kasar dia mengambil cangkir kopinya, dia hampir membanting cangkir itu karena kesal.

"Sabar Oh Sehun. Sabar." Ucapnya sambil mengelus-elus dadanya.

Sehun kembali menghidupkan ponselnya. Dia mencari-cari nomor yang dituju, lalu meneleponnya.

Tut tut tut..

"Hal—"

Sebelum suara itu menyelesaikan ucapannya, Sehun langsung berteriak, "YA! DIMANA KAU LUHAN PENDEK? AKU SUDAH MENUNGGU DUA JAM KALAU KAU MAU TAHU!"

Semua pemilik mata di cafe langsung menatap Sehun sambil menyeritkan dahinya. Karena itu, Sehun membungkuk beberapa kali—meminta maaf kepada para pengunjung cafe.

Yang didengarnya hanyalah suara tawa Luhan dan jawaban "Maafkan aku. Aku lupa kalau kita ada janji, Hunnie~. Aku akan segera kesana."

Luhan mematikan sambungan telepon mereka. Sedangkan Sehun, dia hanya terduduk dengan muka tertekuk. Matanya tak henti-hentinya melihat ke pintu cafe.

Terkadang dia menyesal telah mengajari Luhan mengendarai mobil. Karena Luhan akan melupakannya dan asyik berbelanja sama seperti yang diucapkannya dahulu—

"Lalu aku ingin berjalan-jalan berdua dengan mobilku seorang, tanpa Sehun. Dan jika aku ingin berbelanja—shopping aku tidak perlu menelepon Sehun jika baru pulang kerja maupun menyeret dua makhluk biadap itu!"

Dan tak butuh waktu dua menit, sebuah Audi R8 berhenti di depan cafe. Sehun hanya bisa memutar matanya dengan kesal, apalagi begitu pemilik mobil itu turun dari mobilnya dan berjalan menuju cafe. Rasanya Sehun ingin menghukum orang itu.

"Maafkan aku, Hunnie~. Tadi aku terlalu asyik berbelanja." Orang itu sampai di depan Sehun dengan muka memelas.

Sehun hanya menatapnya dengan kesal, "Kau tahu aku tidak suka menunggu, bukan?"

"Kau bilang akan datang dalam dua menit, Luhan. Dan ternyata apa? Kau datang dua jam kemudian?" Sehun meninggikan suaranya.

Orang itu—Luhan hanya bisa menunduk. Dia tidak berani menatap Sehun barang sekali saja.

"Sekarang berikan simmu."

Luhan mengangkat wajahnya, "Huh?"

"Aku bilang berikan simmu!" perintah Sehun.

Luhan mengeluarkan sim dari dompetnya. Dia meletakkan simnya diatas meja.

Dan dengan cepat, Sehun mematahkan sim itu menjadi potongan-potongan kecil yang meninggalkan Luhan dengan mulut menganga.

Sehun hanya tersenyum miring setelah melihat karyanya. Luhan masih terdiam dengan mulut menganga.

Sampai akhirnya—

"SIALAN KAU TUAN OH! AKAN KU BUNUH KAU!"

Dengan ucapan itu Luhan berjalan meninggalkan cafe dan juga Sehun yang tengah membulatkan matanya—terkejut.

Sehun langsung meloncat dari kursinya. Dia langsung mengejar Luhan yang hendak menaiki mobilnya.

"YA! TUNGGU LUHAN! AKU TIDAK BAWA MOBIL!" pekik Sehun.

Luhan berbalik dan menatap Sehun, "Masa bodoh, memang apa peduliku?"

Setelah itu Sehun mendengar pintu mobil dibanting dan berjalan dengan cepat.

"YA! LU! AISH!"

END


Halo! Kita ketemu lagi nih!

Aku bener-bener minta maaf karena update sequelnya terlambat banget. Entah masih ada yang nungguin atau enggak, tapi aku harap masih ada yang nungguin.

Dan aku minta maaf kalau sequelnya gak begitu memuaskan. Hihihi.

Kalau ada yang bingung, disini umurnya pada aku tuker-tuker kaya: Sehun lebih tua dari Luhan, Chanyeol lebih tua dari Baekhyun, kalau Suho sama Lay mereka tetep seumuran kok hihihi XD.

Btw, aku bener-bener berterima kasih buat yang udah ngefollow, ngefav, dan ngereview FF Drive that car well, Luhan!

Bener-bener terima kasih sama kalian semua (bahkan yang numpang lewat juga):

7luhanxo | Akira Kyouya | Cherry Jung | Chie Atsuko | FairyFaith | HUNsayHAN | HanRa721 | Hun94Han7 | Joonmyun57 | Kim Bo Mi | Krupuk Renyah | KutangSeLu | LieZoppii | LuluHD | NiHunHan5120 | NoonaLu | Rafra | Re-panda68 | Xiao Rose | YoungHeeSEHUN94 | afifahnur94 | creepyeol | | fifioluluge | hyejin lee | kaisoo00 | lulu-shi | mainselu94 | psw7 | redmascarpone | sehunhan | Leedongsun3 | SFA30 | Private Kwon | sehunsdeer | babyluhan20 | pnda | Guest | LinsaOhLu120 | Chie Atsuko | afifahnur94 | Baektart | skyforhunhan | cici fu

Kalo ada yang ketinggalan atau kelupaan mohon dimaafkan ya XD

!Balesan review!

Guest: sayang dong nanti mobilnya hancur lagi sama Luhan XD

Pnda: ne~ makasih banyak yaa atas pujiannya jadi geer nih XD

Baektart: ne~ makasih yaaa ini sequelnya udah diapdet kan? XD

Last but not the least~

Review please~ *bbuing bbuing bareng HunHan*