Chocolate Love

Bleach is Tite Kubo's

Warning

AU, Garing-ness, Abal-ness, OOC-ness, GaJe-ness

Saia minta maaf karena kemarin fic nya amburadul banget. Soalnya waktu publish, saia gak pake neliti lagi. Untuk menebus keteledoran saia, saia mencoba buat chapter 2 ini dengan lebih hati-hati. Mudah-mudahan gak amburadul lagi. Jadi, silakan menikmati..

o.O.o.O.o

Aizen menatap keluar jendela, menatap bulan yang mulai beranjak naik ke singgasananya di langit malam. Menebarkan sinar keperakan yang menerangi sudut-sudut kota Seireitei. Ia menggerutu malas saat ponselnya berdering. Lelaki itu bergegas merapikan file-file di meja sambil sesekali melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Tak berapa lama ia keluar sambil menenteng laptopnya.

"Aizen Taichou~ Kau mau kemana sih? Buru-buru sekali..." tanya seorang pemuda berambut sewarna cahaya bulan. Seperti biasa, cengiran trademark keluarga Ichimaru masih menghiasi wajahnya.

"Pulang, Gin. Kau tahu kan shift jaga Kaname berakhir 20 menit lagi? Itu berarti aku harus segera pulang supaya Hinamori kun tidak sendirian di rumah."

"Wah~ Wah~ Jadi kau buru-buru pulang karena Momo chan ya? Hah~ Mentang-mentang sekarang ada gadis di rumah. Bawaannya pengen pulang teruus~"goda Gin. Aizen hanya menatapnya malas tanpa memberikan sepatah atau dua patah kata pembelaan.

Melihat korbannya tidak bereaksi, Gin berhenti mengetik, men-save pekerjaannya dan menatap Aizen heran. "Kau benar-benar yakin tidak ikut Kyoraku Taichou dan Ukitake Taichou ke Zinya? Kudengar mademoiselle Hime dari Aphrodite titip salam untukmu lho...Kau yakin lebih memilih menemani Momo chan daripada ditemani seorang primadona Aphrodite?"

Aizen kembali melirik pemuda itu dengan malas. Tanpa berkata apa pun ia berjalan melewati Gin, menuju pintu keluar.

Gin menghela napas dan terkekeh pelan. "Banyak lelaki harus merogoh kantong hingga ratusan yen hanya untuk makan malam dengannya, Taichou. Kau malah menolak undangannya yang mungkin saja lebih dari sekedar undangan makan malam. Dan itu semua hanya demi seorang Momo chan? Taichou~ kau bar-benar mau jadi perjaka tua selamanya ya?"

Aizen menghela napas, mencoba mencari alasan kenapa dulu ia mau repot-repot mempromosikan Gin menjadi letnannya kalau kerjanya hanya mengomeli dirinya karena belum menikah. Ia sudah bosan mendengar petuah-petuah bijak dari Gin maupun Tousen agar dirinya segera mencari seorang nyonya Aizen dan juga segera membantu Soul Society untuk menciptakan generasi baru.

"Gin, Momo chan yang kau bicarakan itu adalah seorang saksi kunci kasus pembunuhan yang ada dalam prioritas utama kita. Memangnya polisi gila mana, kecuali dirimu, yang mau menanggung resiko kehilangan seorang saksi kunci yang berharga dan memilih undangan seorang mademoiselle?" Aizen memberi jeda pada pertanyaannya berikutnya.

Dengan sedikit berdehem ia melirik Gin. "Lagipula, kau yakin kalau aku ini perjaka tua, Gin?" Kali ini Aizen ganti terkekeh dan menatap pemuda di depannya penuh arti.

Gin menatap punggung Taichounya yang menghilang di balik pintu dengan cemberut. "Aku harus bilang apa pada Kyoraku Taichou dan Ukitake Taichou nanti? Hah~ Masa bodohlah."

~O.o.O~

"Tadaima."

"Okaerinasai, Aizen san," sahut suara dari ruang tengah. Aizen melepas sepatunya kemudian berjalan ke ruang tengah menghampiri sang pemilik suara yang tampaknya sedang asyik bermain kartu bersama Tousen.

Aizen harus berdehem untuk menyembunyikan tawa saat ia melihat wajah rekan berkulit gelapnya itu telah disulap menjadi badut Ancol. Setiap inchi wajah Tousen telah tertutup warna putih, hanya bagian hidung yang tetap terlihat hitam.

"Wah, aku menang lagi Tousen san," seru Momo riang. Tangannya dengan lincah melukis lingkaran berwarna merah tepat di hidung Tousen.

"Aizen san, sudah makan?" tanya Momo saat dilihatnya Aizen beranjak masuk kamar.

"Hm..Belum," katanya singkat sambil tersenyum. Sejak tadi sore ia sibuk meneliti file baru hingga lupa untuk menanggapi perutnya yang protes.

"Kalau begitu, aku panaskan dulu makan malamnya ya," ujar Momo riang. Gadis itu berjalan menuju dapur yang terletak di samping ruang tengah.

"Bagaimana rasanya Taichou?" tanya Tousen saat Aizen keluar dari kamar. Pakaian dinasnya telah berganti kaos hitam lengan pendek ketat dan training santai biru tua. Membuat otot-otot lengannya yang terbentuk sempurna terlihat jelas. Aizen menaikkan alis, tak mengerti arah pembicaraan pria keriting di depannya.

"Kurasa tidak buruk juga dia ada di sini. Lihat, kau jadi terurus kan? Begitulah enaknya punya istri, Taichou. Ada yang mengurusmu saat kau kelelahan pulang dari markas," jelas Tousen dengan suara rendah sambil menelengkan kepalanya ke dapur.

"Ngomong-ngomong soal istri, bukankah hari ini ulang tahun istrimu, Kaname? Seingatku kau bilang kalau kau harus sampai di rumah sebelum pukul 9 malam jika tak ingin dia mencincangmu," kata Aizen santai sambil merebut remote TV yang dipegang Tousen.

Tousen tersentak. Mendadak ia bangkit dari duduknya dan berlari menyambar jasnya yang tergeletak di sofa. Tanpa ba bi bu lagi Tousen Kaname berlari keluar dari apartemen Aizen. Aizen sangat yakin ia mendengar suara prang keras dan umpatan Tousen yang tidak kalah keras saat pria itu menabrak pot di depan apartemennya.

"Hm. Inilah enaknya tidak punya istri, Kaname. Tidak akan ada yang mencincangku jika aku pulang malam," ujar Aizen sambil tersenyum penuh kemenangan. Matanya terpaku pada pertandingan tinju Sado Yasutora yang sedang melawan Zommari Lerroux dari Afrika Selatan.

"Lho, kemana Tousen san?" tanya Momo yang muncul dari dapur. Aizen meliriknya sekilas. Ia segera menyadari itu adalah keputusan yang salah karena detik berikutnya perhatiannya spontan beralih dari Sado Yasutora kepada gadis mungil di sampingnya.

Momo memakai dress berwarna putih gading selutut dengan bawahan yang sedikit mengembang. Renda di bagian leher dan pinggang berwarna cokelat membuatnya terlihat manis, mengingatkan Aizen pada puding cokelat favoritnya. Rambut hitamnya yang biasa dicepol, tergerai bebas. Gadis itu terlihat bagai peri mungil yang manis. Sangat manis dan rapuh. Aizen cepat-cepat mengalihkan pandangannya, berusaha membuang jauh-jauh pikiran apa pun yang baru mampir di otaknya tentang apa yang bisa dilakukan seorang laki-laki dan gadis manis yang hanya berdua di apartemen malam-malam begini.

"Ehem.. Dia pulang. Hari ini ulang tahun istrinya, jadi dia harus pulang cepat," jawabnya tanpa berani mengalihkan matanya dari TV. Ingat Aizen, dia masih 17 tahun. Ingat, kau harusnya menjaganya, bukan memakannya.

"Oh, begitu.." kata Momo.

"..."

"..."

Aizen dan Momo segera menyadari ada sesuatu yang ganjil, detik berikutnya suara tawa membuncah di apartemen dengan nuansa krem itu. Mungkin istri Tousen akan sangat terkejut melihat badut Ancol masuk ke rumahnya.

~O.o.O~

Aizen menggeliat malas di balik selimutnya. Semalam ia meneliti beberapa laporan kasus hingga pukul 3 pagi dan sekarang matanya menginginkan kompensasi untuk terpejam lebih lama. Ia masih akan terlelap lagi ketika nada dering ponselnya memecah keheningan pagi. Sambil menggerutu kesal, ia mengangkat ponselnya.

"Halo," katanya dengan mata masih terpejam.

"Taichou,kau di mana? Aku sudah di depan tempat Urahara" sahut suara di seberang.

Aizen membuka matanya. Spontan ia menoleh ke arah jam weker di samping tempat tidurnya. 07.20. Sial! Ia lupa kalau ia dan Tousen ada janji dengan Urahara di lab Forensik. Ia sudah terlambat 20 menit dan sekarang ia bahkan belum keluar dari selimut hangatnya.

"Halo,Taichou?"

"Tunggu di sana Kaname! Aku segera ke sana," katanya sambil melompat turun, melempar ponselnya ke atas ranjang. Berlari membuka pintu kamar dan bergegas menuju kamar mandi.

Lima belas menit kemudian Aizen tergesa-gesa keluar dari kamar mandi. Laki-laki itu hanya mengenakan training biru tuanya, tanpa repot-repot memakai atasan kaos. Ia setengah berlari dan tidak melihat Momo yang berjalan ke dapur. Aizen tidak sempat lagi mengerem kakinya saat Momo tiba-tiba muncul beberapa senti di hadapannya. Tubuh mungil Momo jelas bukan tandingan tubuh 186 cm milik Aizen. Gadis itu jatuh ke belakang dengan suara 'bruk' yang cukup keras, parahnya lagi tubuh 186 cm berotot itu ikut ambruk di atasnya.

Momo meringis kesakitan, merasakan punggung dan pantatnya yang ngilu. "Ma-Maafkan aku, Hinamori kun. Kau tidak apa-apa?" Sebutir air menetes dari rambut Aizen membuat gadis itu mendongak dan segera menyadari seberapa dekat tubuh topless Aizen dari tubuhnya. Juga segera menyadari di mana dia meletakkan tangannya. Perut Aizen. Datar dan cukup berotot. Momo menahan nafasnya menatap setengah tubuh Aizen yang seperti proporsi yang tepat dan sempurna untuk menjadi model susu L-***. Tak sampai 5 detik wajah manisnya terlihat lebih merah dari kepiting rebus.

"Wah~ wah~ Sepertinya kau sedang asyik Taichou.. Boleh ikutan?" sebuah suara mengejutkan mereka, menggagalkan usaha Aizen untuk secepatnya bangkit dan menyingkir dari gadis di bawahnya.

"Gin?"

~O.o.O~

Tousen melirik lelaki yang duduk di samping kursinya dengan penasaran. Sangat penasaran. Seumur hidupnya, baru sekali ini ia menyaksikan Taichounya datang terlambat dan tidak tanggung-tanggung, ia datang dua jam dari waktu yang seharusnya. Dan entah mengapa saat ia bertanya apa yang membuatnya telat, Aizen hanya bilang 'tidak ada apa-apa' dengan wajah bersemu merah. Memangnya sejak kapan Taichounya suka bertingkah malu-malu kucing begitu?

Tak berapa lama, mobil yang mereka tumpangi memasuki parkiran Kantor Polisi Seireitei. Tousen segera turun menyusul Aizen yang sudah lebih dulu turun, berjalan melewati pintu masuk dan menyapa beberapa petugas jaga.

"Kaname, buatlah copyan hasil forensik tadi. Aku akan menemui Komandan, setelah itu kita pergi ke rumahku,"perintah Aizen saat mereka tiba di depan pintu cokelat yang bertuliskan Aizen Sousuke 5th Division Taichou. Tousen mengangguk lalu berbalik pergi. Tapi sebelum kakinya melangkah lebih jauh, ia mendengar suara Kyoraku. Taichou penggemar sake dan wanita itu terlihat sangat ceria, lebih ceria dari biasanya.

"Ohayo, Aizen kun... Bagaimana tidurmu semalam?" tanya lelaki tinggi dan berbulu itu ceria.

Aizen mengernyitkan dahi dengan heran. Meski tak terlalu mengerti isi pembicaraan seniornya, ia tetap menjawab dengan senyum tersungging. "Ohayo, Kyoraku san. Semalam? Yah, aku sedikit lembur sampai harus tidur jam 3 pagi. Memangnya ada apa?"

Tousen heran melihat Kyoraku tertawa sambil menepuk-nepuk bahu Aizen. Sama seperti dirinya, atasannya juga terlihat bingung dengan tingkah Taichou divisi 8 itu.

"Kau hebat Aizen kun. Tidak kusangka kau bisa juga melakukannya. Hingga pukul 3 pagi? Apa gadis itu begitu hebat,eh?"

Aizen bertambah heran. Memangnya Kyoraku tidak pernah lembur ya? Lalu, gadis...? Gadis yang mana? Merasa perlu mengetahui alasan Kyoraku yang tertawa mesum sambil terus menepuk punggungnya, Aizen bertanya,"Maaf, Kyoraku san.. Tapi, gadis yang mana?"

Kyoraku belum berhenti tertawa, tapi setidaknya ia berhenti menepuk-nepuk punggung Aizen. "Tentu saja gadis 17 tahun yang menemanimu semalam. Kemarin Ichimaru bilang, kalau kau menolak undangan mademoiselle Hime demi seorang gadis. Pasti gadis itu sangat hebat hingga bisa membuatmu tidur setelah pukul 3 pagi. Wah, dia benar-benar membuatmu 'lembur' ya?"

Tousen melihat wajah Aizen Taichou lebih merah dari jus tomat buatan istrinya. Tak lupa dengan tangan gemetar yang mungkin siap mencabut revolver dan meledakkan kepala perak Gin. Mungkin ia harus menelpon Gin dan menyuruhnya bersembunyi dari Aizen Taichou sampai batas waktu yang tidak diketahui.

o.O.o.O.o

Maaf ya readers kalau ficnya Aneh dan GaJe. Saia ucapin terimakasih bwt fi-kun31, aRaRaNcHa, divprince, dan Rhein Wolfobbe yang sudah ngereview chapter sebelumnya dan saia sangat mengharapkan kritik ataupun saran dengan menekan tombol ijo-ijo di bawah ini…

Setetes review Anda, penyambung hidup fic saia..