Opium
By: Opium420
Character: Luhan, Sehun, Chanyeol, Kai, Kris, and other member EXO
Genre: Romance, action, mafia-AU, YAOI
Summary: Salah satu obat yang membuatku tetap waras adalah... kamu.
Chapter 2. The Meeting
.
.
Aula itu terlihat megah.
Kerlap kerlip dari lampu berlian bersinar menyinari.
Warna emas dan putih mendominasi.
Megah.
Mewah.
Seperti pesta bangsawan pada abad victoria.
Aula yang diisi dengan orang-orang bangsawan, dengan orang-orang ber-title, dengan orang-orang penting, dengan orang-orang bergelimang harta.
Tawa yang anggun terdengar dari para wanita, suara maskulin yang seduktif terdengar dari pemuda.
Tapi semua perhatian mereka tidak lepas dari seorang Oh Sehun yang memancarkan aura gentlemen nya.
Tubuh Sempurna Oh Sehun berbalut setelan mahal dengan badannya yang tinggi dan tegap, rambutnya yang disisir kebelakang menampilkan dahinya yang licin, hidungnya yang mancung, dan wajahnya yang tegas. Para wanita bersemu merah di pipi mereka dikala Oh Sehun tersenyum yang padahal senyum itu bukan untuk mereka. Tidak ada yang tidak jatuh pada pesona seorang Oh Sehun. Sementara para pria hanya memandang iri ketika mengetahui para wanita memberikan perhatian mereka hanya pada Sehun seorang.
Tidak lama para pria akan semakin terpuruk karena seorang Kim Jongin dan Park Chanyeol memasuki aula tersebut.
"Wah..." dengan mata membulat para wanita menatap ke arah pintu masuk.
Jongin dan Chanyeol manampilkan senyum terbaik mereka walau sesungguhnya mereka tidak menyukai pesta formal seperti ini, apalagi Jongin.
Oh para wanita akan melakukan apa saja untuk berada di pelukan salah satu pria tampan itu jika mereka tidak mengingat status sosial mereka.
"Menikmati perhatian eh Jongin?" sebuah suara mengintrupsi.
"Oh Sehun, tidakkah kau tau aku sangat merindukan tatapan memuja para wanita ketika melihatku?" Jongin tersenyum bangga.
"Jangan pancing dia Sehun, Jongin dan arogansinya sudah menyatu dalam jiwanya."
"Hahaha... menikmati masa sekolah bukan?" dan ketiga pria itu tertawa.
Segitiga bermuda yang berbahaya. Ketiga pria itu mungkin adalah pemandangan utama pada acara ini yang semestinya ini adalah acara reuini SMA dimana para alumni akan saling berinteraksi, bukan malah memberikan perhatian mereka pada satu hal sepanjang acara.
"Apakah ia akan datang?" kata Chanyeol sambil menggoyangkan gelas Champagne nya.
"Kris mengirim pesan padaku bahwa mereka sedang dalam perjalanan." Sehun menjawab sambil kembali mengecek Handphone nya.
"Kris membalas pesanmu?! Tidak disangka."
"Jongin, Kris pasti akan membalas pesanmu jika kau berbicara baik-baik. Bukan mengiriminya kalimat-kalimat kotor untuk membuatnya kesal."
"Aku hanya senang jika wajah datarnya menunjukkan ekspresi sedikit." Jongin tersenyum manis.
"Berhenti tersenyum seperti itu Jongin, cara itu mungkin berhasil untuk menaklukkan wanita tapi justru itu membuatku mual." Chanyeol kembali menyesap Champagne nya.
Dan sebelum Jongin membalas Chanyeol, sebuah suara mengintrupsi mereka.
"Sebuah kehormatan melihat tuan Sehun, tuan Jongin dan tuan Chanyeol untuk berada di acara reuni. Apakah ada suatu hal yang menarik perhatian kalian untuk datang?"
Seorang pemuda tampan menghampiri mereka.
"Choi Siwon, atau bisa dipanggil mantan ketua OSIS. Terasa seperti kembali di jaman SMA bukan? Ketika ketua OSIS menghampiri kita untuk memberikan bantuan seputar sekolah." Kata Sehun. Tangannya mengarah ke pemuda dihadapannya itu, seakan pemuda itu mengerti dan menerima jabatannya. "Senang bertemu denganmu Siwon-hyung."
"Untuk seorang Oh Sehun memanggilku hyung adalah sebuah keajaiban." Siwon tertawa.
"Perjalanan kehidupan dapat mengubah seseorang hyung." Sehun tersenyum, namun ada sebuah makna dalam senyumannya itu. Sementara Kai dan Chanyeol nampak enggan terlibat dalam percakapan itu.
"Aku hanya melihat kalian bertiga, kemana satu lagi? Si flower-boy itu."
"Tunggu saja ia akan-..." matanya meilirik ke arah pintu masuk. Belum sempat Kai melanjutkan kalimatnya, ia dapat melihat dua orang pemuda baru saja memasuki aula.
Seorang pemuda berukuran tubuh lebih kecil diikuti dengan pemuda lainnya yang berukuran lebih besar darinya. Ya itulah dia, tamu utamanya yang ditunggu-tunggu.
"Luhan..." sambil mengucapkan sebuah nama, dan matanya tak lepas memandang ke arah pemuda dengan nama tersebut.
"Eh bukankah dia..."
"Ah dia itu kan..."
"Dia datang?..."
"Kau tau tentang dia..."
"Dia tidak berubah..."
"Dia masih manis seperti dulu..."
Aula mulai ramai dengan suara bisikan.
Luhan nama pemuda yang disebut-sebut, dan Kris mengikuti dibekangnya berjalan memasuki aula.
My Beautiful Flower, my Opium
Luha tampak mengedarkan pandangannya ke sekitar, dan ketika retina menangkap yang ia cari, ia tersenyum.
You've come
"Sehun, Jongin dan Chanyeol. Senang bertemu kembali. Apa kabar?" dan Luhan memberikan senyum manisnya. "Oh dan tentu saja pak ketua OSIS, Choi Siwon."
Tidak ada yang berubah dari Luhan. Wajahnya masih sama seperti dulu, hanya tingginya saja yang bertambah. Seperti Luhan versi SMA baru saja muncul di hadapan mereka.
Inilah sosok yang ditunggu, yang didambakan, yang dipuja dan yang dimiliki. Datang dengan membawa kewarasan mereka dari dunia aslinya. Membawa kembali jiwa mereka yang tersesat. Menyambung kembali benang merah di jari kelingking mereka.
Luhan, akhirnya.
.
.
.
Hening
Setelah pertemuan itu, tentu saja mereka memutuskan bahwa itu saja tidak cukup. Hotel bintang lima menjadi tujuannya. Menyewa kamar VIP yang menampilkan padatnya kota seoul dengan kolam renang tersendiri, membawa makanan fast food dari rumah makan pinggiran, minuman Soju, snack, dan beberapa kaset film. Menyusun ulang sebuah kenangan mereka bersama.
Tapi yang mereka lakukan kali ini hanya saling menatap, lebih tepatnya ketiga pria yang menatap seseorang yang duduk di hadapan mereka dan tentunya masih dengan setelan jas lengkap mereka.
"Jadi, tidak adakah dari kalian yang ingin berbicara?" alis sebelah kiri Luhan manaik.
"Mereka hanya terpukau dengan dirimu saat ini Luhan." Kris menjawab, masih berdiri menghadap jendela sembari kembali meminum sojunya.
"Ah, benar." Ekspresi setengah kaget Luhan ditampakkan. "Aku sudah menolak sekitar tiga undangan reuni yang diadakan bukan?" Luhan tertawa kecil. "Kalian hanya akan membuang waktu jika diam saja."
Chanyeol menghela nafas. "Luhan benar, kita harus kembali dari daydreaming bahwa Luhan memang benar-benar hadir dihadapan kita saat ini."
"Luhan..." Kai menggenggam tangan Luhan lembut, seperti menyalurkan rasa rindu yang ia pendam selama ini.
Luhan tersenyum
Pandangan Kai melembut
Semua menyaksikan pandangan itu dengan diam, termasuk Kris yang kini mengalihkan pandangan ke Luhan.
"Setiap melihatmu aku yakin Tuhan itu ada. Mengabulkan permohonanku untuk terus menjaga mu dalam lindungan-Nya. Pulang dengan raga yang utuh, bukan dengan kabar duka."
Kai menyatukan kening mereka, keduanya terpejam menikmati kehangatan satu sama lain.
Ah... kehangatan ini menandakan darah yang mengalir di dalam tubuhmu. Kau hidup Luhan. Batin Kai.
Kai akan berubah total jika menyangkut Luhan. Istilah brengsek/bad boy pada Kai sepenuhnya menghilang menjadi seorang pria yang hanya takut kehilangan orang terkasihnya. Luhan adalah segalanya untuknya. Luhan lah penyelamatnya. Luhan lah cahayanya. Luhan lah Obatnya.
Sebuah lengan melingkar pada sisi kanan Luhan, merengkuh tubuh Luhan dengan lembut. Luhan bergidik, ia dapat merasakan helaan nafas di lehernya. Saat membuka matanya ia dapat melihat rambut ikal hitam di sebelah kanannya, Chanyeol.
Luhan bagi Chanyeol?
Adalah seseorang yang dapat mengembalikan rasa keadilannya. Dituntut untuk terus hidup dalam ajaran keadilan dalam dunia hukum membuat Chanyeol nyaris gila, adil ketika terus dibanding-bandingkan dengan saudaranya yang lain membuat Chanyeol tidak dapat menemukan jati dirinya. Kehidupannnya nyaris tak ter arah. Berjalan ke arah yang salah. Hingga suatu saat sebuah kalimat membuatnya sadar 'Kalau kau tidak bisa menerapkan keadilan. Bagaimana dengan adil untuk dirimu sendiri? Seperti mulai memperhatikan pola hidupmu?' dan semenjak itu, Chanyeol merasakan sebuah tangan yang mengenggamnya erat untuk keluar zona itu. Luhan lah obatnya, luhan lah obat dari keterpurukan yang di alaminya.
Sehun hanya diam
Memandang pemandangan dihadapannya dengan tatapan sulit diartikan. Ia bukan tidak peduli dengan Luhan, tapi ia takut.
Ia takut apabila ia menggenggam Luhan dengan erat maka Luhan akan hilang.
Luhannya yang mungil itu, sangat berharga.
Sehun yang sekarang tidak akan menjadi seperti ini jika tidak bertemu Luhan. Ia tidak akan sekuat ini jika tidak bertemu Luhan. Ia mungkin tidak akan hidup jika tidak bertemu Luhan saat ini. Seluruh narkotika telah dicoba Sehun, untuk mengetahui sebatas mana kemampuan hidupnya, sebatas mana kecanduannya akan obat-obatan, dan ia lolos dari semua. Tapi hanya satu, satu yang tidak bisa ia lepas, yaitu seorang pemuda dihadapannya yang sekarang tengah dipeluk oleh kedua temannya.
Sehun tak tahan
Dengan gerakan seakan slow motion kedua tangan Sehun sudah berada di kedua pipi Luhan.
Mata elang sehun menatap dalam mata Luhan, seakan ia tersesat oleh keindahannya.
Sehun menempelkan bibirnya ke Luhan
Lembut
Bibir manis Luhan yang membuatnya candu, ia bisa gila jika terus begini.
Ciuman lembut itu kini mulai berubah menjadi lumatan yang liar. Sehun tidak dapat mengendalikan dirinya jika seperti ini. Apalagi ketika Luhan membuka sedikit mulutnya, memberikan akses untuk Sehun masuk. Pipi Luhan bersemu merah, tarikan nafas yang normal berubah menjadi terengah engah. "Sehu-..." tidak, Sehun belum selesai. Ia sudah kecanduan, ia yakin kali ini tidak dapat berhenti hingga sebuah tangan mendorong pundak Sehun.
Sehun tersadar
Luhan masih terengah-engah, mengais oksigen. Bibirnya yang bengkak, pipinya yang bersemu merah, rambutnya yang acak-acakan (bahkan Sehun tidak sadar tanggannya berpindah ke kepala Luhan untuk memperdalam ciuman mereka) dan matanya yang bersinar seperti sebuah kristal yang disiram air.
Kris, seseorang yang mendorong pundak Sehun kini menatap tajam Sehun.
Walaupun Kris tau bahwa mereka bertiga adalah orang terdekat Luhan, tapi ia tidak akan memberi ampun apabila mereka membuat Luhan tidak nyaman apalagi terluka.
"Oh Luhan... maafkan aku." ekspresi Sehun melembut, berbeda dengan ekspresi penuh gairah seperti sebelumnya. Tangannya kembali mengelus kedua pipi Luhan.
"Sehun dan hormon gilanya jika sudah bertemu Luhan. Kau bukan remaja lagi Sehun." Kata Kai yang kini sudah bersandar di bahu Luhan, begitu juga dengan Chanyeol yang masih memeluk Luhan dari belakang.
"Brengsek kau Kai."
"Kalian dan hormon gila kalian jika sudah bertemu Luhan. Aku tidak dapat melihat perbedaan antara kalian dan serigala yang ingin kawin."
Kai mendecih
"Persetan kau Kris."
"STOP" Luhan berteriak. Bukan suasana yang ingin ia lanjutkan. "Kalian ini sudah dewasa, apakah tidak ada niatan berhenti untuk beradu mulut?" mereka hanya terdiam. "Apakah perdebadan ini perlu dilanjutkan?" mereka masih terdiam. "Kalau begitu, apakah aku berarti untuk kalian?" Luhan tersenyum menggoda.
"YA." Mereka menjawab. Dan Luhan terkekeh kecil. "Kalau begitu dengarkan aku, aku hanya punya 3 malam di Korea, setelah itu aku harus kembali" Sebuah suara nyaris mengintrupsi, tapi Luhan tetap melanjutkan "Jadi aku ingin kalian memenuhi wish list ku sebelum aku pulang, kalian mengerti?"
Seperti anak anjing yang barus aja mendengar keinginan tuannya, mereka hanya mengangguk.
Dan Luhan tersenyum riang.
.
.
.
Bersambung
NOTE:
Maaf ya kalau ada typo belum sempat ngedit.
Mohon reviewnya ya, dan kalian mungkin juga bisa recommend aku ff Hunhan yang di publish tahun ini untuk dibaca. Kecuali karya anggara dobby dan triplet ya hehehe karena mereka author fav banget :*
Terima Kasih dan bless u all 3
Sedih memang sekarang fanfic Hunhan udah dikit banget, apalagi beberapa penulis hebat di asianfanfics atau sudah pada berhenti. Kaya something flutters karya fantasy_seoul udah lama ga update, CRI Academy juga... banyaklah pokoknya :(
Tunggu update selanjutnya! Bye bye
