Reality
Disclaimer Masashi Kishimoto
Alert GJ/Abal/G sesuai EYD/SasuFemNaru
"Tunangan Naru-chan?" Bisik Kushina kaget. Putrinya, telah bertunangan? Tanpa memberikan kabar pada mereka? Apa maksud semua ini?
"Astaga... Naru-chan sudah bertunangan? Seperti apa dia sekarang? Aku tadi melihat pemuda berambut pirang yang menghampirimu. Apa dia yang bernama Senju Ao, Shika?" Tanya Shikaku pada putranya.
"Benar, Tou-san. Ao adalah teman kuliah kami" Jawab Shikamaru.
"Astaga... Kalian benar-benar beruntung mendapatkan putri seperti Naruto. Ku dengar dia menjadi pemain biola terkenal dan desainer yang diperhitungkan di benua pasifik? Astaga... Ditambah Ao, direktur utama Rasenggan? Ku dengar dia mendirikan perusahaan itu dengan jerih payahnya sendiri sambil membantu Naru-chan mengembangkan butik dan desainnya. Benar-benar pasangan yang sangat serasi" Ujar Karura ikut bangga.
Dan malam itu, menjadi malam yang panjang bagi keluarga Namikaze yang tidak pernah mendapat kabar dari putri mereka. Karena sang Nenek, Tsunade, bersikeras menyembunyikan Naruto sejak kejadian yang membuatnya kehilangan kepercayaan pada keluarganya.
.x.o.x.
"Dimana kau sekarang?" Suara diseberang tampak marah. Ao mendengus geli. Dasar, malam-malam telepon hanya untuk marah-marah? Astaga... Dasar Bossy. Batinnya.
"Di kamar"
"Dimana?" Suaranya dingin penuh penekanan.
"Di kamar"
"-"
"Apartemenku, di Konoha. Puas?" Potongnya sambil beranjak dari kasur menuju beranda.
Sreek, pintu beranda terbuka. Angin malam yang dingin membelai wajah Ao. Membuatnya memejamkan mata menikmatinya, meski dingin melanda.
"Di mana?" Suara di seberang terdengar lebih lembut.
"Kau tak perlu kemari. Sungguh, aku bisa melakukannya sendiri." Ao menyenderkan punggungnya pada pintu beranda.
"Kenapa kau pergi begitu saja?"
"Ck, karena aku tahu kau bisa mengacaukan semuanya"
"Kenapa kau berfikir seperti itu?" Suara diseberang meninggi, tidak terima.
"Karena kau itu Mesum, dasar Ero-Hentai"
"-"
"Kemana-mana kau selalu nyosor. Kau tak ingat di ulang tahunku yang ke 21 kemaren? Hm? Baru datang saja kau langsung menciumku. Apa coba jika bukan Hentai?" Potongnya kesal. Orang yang ada diseberang mendengus geli, membenarkan. Yah, dia memang tidak bisa menahan diri jika sudah berjumpa dengan pujaan hatinya itu. Salahkan saja dirinya yang begitu polos dan menggoda.
"Baiklah, aku mengaku salah"
"-"
"Maafkan aku. Okay?" Suara diseberang melembut penuh harapan. Benar-benar bukan tipenya.
"Hn"
"Hey itu-"
"Yayaya... sudahlah, aku ingin tidur. Besok ada rapat"
"Kau datang sebagai wakil Senju?"
"Hn"
"Hati-hati... Mereka baru saja mendapat kabar jika kau bertunangan dengan putrimereka. Mereka pasti akan mencoba untuk menjatuhkanmu dan mengorek informasi mengenainya" Suara diseberang tampak khawatir.
"Hahaha... Aku tahu. Aku sengaja menyuruh beberapa orang untuk memberikan kabar itu, jika ada yang bertanya. Ah-" Menepuk dahinya teringat sesuatu.
"Bagaimana ekspresi yang lain? Kaa-san, Tou-san? Bagaimana tanggapan mereka? Aish... aku lupa memberi kabar" Ujarnya panik.
"Hei, tenanglah. Mereka memang sempat kaget, tapi mereka tahu kok. Sudahlah, sebaiknya kau beristirahat. Aku merindukanmu, dan besok kau harus mau menemuiku. Ingat itu. Dan aku menagih jatahku, jaa" Ao bergidik mendengar akhir kalimat itu. Astagaaaaa... Kami-sama... Selamatkan akuuuuuuuuu...
"Ck, aku harus berhati-hati besok. Apalagi dengan penampilan seperti ini. Aish... dasar Ero" Gerutunya sebal.
Oh, ingatkan padanya untuk jangan membuat orang itu kesal, dia tidak ingin dihabisi begitu saja. Tidak-tidak, meski mereka sudah terikat.
"Namaewa Senju Ao desu. Perwakilan dari Senju Corp pusat. Saya tidak ingin berbasa-basi, jadi mari kita mulai rapat ini" Ao membuka rapat dengan wibawanya. Ketegasan dan kebijaksanaan terlihat dari wajahnya, meski keangkuhan tidak luput pula wajahnya. Senju Ao, pagi itu menjadi pusat perhatian, bukans aja karena dia adalah seorang senju, namun juga karena kemampuannya yang terlihat ketika mempresentasikan ide-ide cemerlangnya. Keluarga Uchiha yang terdiri atas Fugaku, Itachi dan Sasuke hanya bisa tersenyum dalam hati melihat kemampuannya, sedangkan yang lain, terutama Namikaze Minato hanya bisa terpukau dan tidak menyangka. Minato, dalam benaknya tentu saja, ingin segera rapat ini selesai dan berbicara dengan pemuda yang dikabarkan menjadi tunangan putrinya.
"Sumimasen, Namikaze-sama. Saya lihat, anda kurang fokus sejak bermenit yang lalu. Apa ada yang kurang Anda mengerti?" Suara teguran itu membuat Minato mengembalikan fokusnya. Terimakasih pada otak jeniusnya yang bisa menyerap informasi cengan cepat, jadi meski dia sempat melamun, dia tak ketinggalan poin-poin penting dalam rapat itu.
"Aa, tidak. Silahkan dilanjutkan" Minato pun kembali fokus, berbeda dengan ketiga Uchiha yang hanya mengernyit, menerka-nerka apa yang akan Minato lakukan nanti.
Rapat selesai satu jam kemudian, setelah diselingi diskusi sana sini. Para tetua cukup kagum pada Ao atas kecakapan dan prestasinya. Mereka mulai keluar satu per satu dari ruangan setelah menjabat tangan Ao. Minato berusaha keluar paling akhir, karena ada yang ingin dibicarakannya dengan pemuda itu.
"Selamat, Nak. Tak kusangka kau kemari seperti ini" Fugaku mengucapkannya ketika menjabat tangan Ao, membuat Ao hanya nyengir kuda merasa bersalah.
"Gomene... Tadinya sih aku tak ingin kemari. Tapi entah kenapa jadi terasa seperti melarikan diri. Aku, kan, tak ingin jadi pengecut" Naruto membalas sambil menatap Fugaku lurus.
"Hn. Tapi kurasa, kau harus menghadapinya setelah ini" Fugaku dan Naruto serentak menoleh pada sosok pemuda disamping Itachi.
"Apa?" Tanya Sasuke yang melihat pandangan keduanya. Yang dibalas dengusan oleh Fugaku dan gelengan Naruto.
"Aku akan pergi sekarang, Nak. Jangan lupa datang kerumah. Mikoto pasti sangat menanti kedatanganmu setelah kabar kemarin malam" Fugaku menepuk pundak Ao dan berlalu bersama Itachi, meninggalkannya bersama Sasuke dan Minato.
"Kau tak pergi, Teme?" Tanya Naruto, mengabaikan keberadaan Minato.
"Aku menunggu bagian ku, kalau kau ingat, Dobe" Jawab Sasuke dengan seringaiannya, membuat Ao bergidik.
"Ehm" Keduanya menoleh dan mendapati Minato menatap mereka penuh minat.
"Ah, Namikaze-san. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Ao sopan, meski tatapannya berubah datar.
"Ya, ada yang ingin kubicarakan denganmu" Jawab Minato.
"Aa, dan kalau boleh saya tahu mengenai apa?"
"Naruto" Dan suasana menjadi hening. Sasuke melirik Ao yang terdiam dan Minato yang menatap penuh selidik padanya.
"Aa, Naru-chan" Ao kembali mendudukkan dirinya di kursi terdekat.
"Anda bisa mengatakannya disini, mengingat ruangan ini akan kosong sampai 15 menit ke depan" Ao memberi isyarat pada Sasuke agar duduk. Minato tampak tak menyukainya.
"Sasuke. Jika bisa, aku ingin bicara berdua dengan Ao-san" Ujar Minato berusaha sehalus mungkin, agar tidak terlihat mengusir.
"Tidak. Sasuke akan tetap disini, Namikaze-san." Minato menatapnya tajam.
"Jika Anda ingin berbicara mengenai Naru-chan, katakan sekarang. Karena saya ada urusan dengan Sasuke setelah ini" Ucapan tegas dari Ao itu membuat Minato mau tak mau mengalah dan duduk di kursinya kembali yang berjarak 3 kursi dari Ao dan Sasuke.
"Sejak kapan kau bertunangan dengan putriku" Minato menatapnya tegas.
"Maaf, putri anda?" Ao menaikkan salah satu alisnya, merasa salah dengar.
"Ya, Naruto adalah putriku. Namikaze Naruto" Jawaban tegas Minato malah mendapat gelengan dari Ao.
"Maaf, Namikaze-san. Sayangnya Naru-chan, menurut penuturan Tsunade-sama adalah seorang Senju. Beliau menegaskan jika kedua orang tua Naru-chan sudah dianggap tidak ada" Ao mengangkat tangannya ketika melihat Minato yang akan menyangkal.
"Hal itu dilakukan untuk kebaikannya. Jika Anda tidak tahu, Namikaze-san. Naru-chan mengalami amnesia akibat kecelakaan bertahun silam. Dan itu justru kami, para Senju syukuri, karena Naru-chan tidak akan mengalami trauma dan mengingat rasa sakit yang dialaminya. Dan Anda beserta pada Namikaze yang lain" Ao berdiri diikuti Sasuke.
"Sebaiknya tidak lagi mendekatinya. Anda harus tahu posisi Anda, Namikaze-san"
"Kau yang harusnya tahu dimana posisimu" Minato mengucapkannya dengan amarah setelah menggebrak meja ruang rapat itu. Ao menatapnya datar.
"Saya tahu dengan jelas posisi saya, Namikaze-san. Itulah kenapa saya juga mengatakannya kepada Anda" Minato menatap murka pemuda dihadapannya.
"Jaga ucapanmu, anak muda. Aku tetap ayahnya. Tidak ada yang bisa menghapus hal itu darinya"
"Tentu tidak" Ao mengangguk mengiyakan.
"Tapi itu terjadi, hanya jika, Naru-chan memiliki kenangan yang menyenangkan bersama Anda. Karena setahu saya, kenangan menyenangkan itu telah tertutup oleh kenangan-kenangan menyakitkan yang Naru-chan alami sebelum kepergiannya dengan Tsunade-sama. Seharusnya-" Ao memejamkan matanya sejenak.
"Anda menyadari posisi Anda. Karena kami, para Senju, akan dengan senang hati membuat perhitungan dengan Anda jika Naru-chan kembali mengalami hal yang menyakitkan." Ao menatap tajam Minato yang sedang menatapnya murka.
"Ah, saya lupa. Bahkan para Uchiha juga akan melakukan hal yang sama jika itu terjadi. Bukan begitu, Uchiha Sasuke?" Ao menatap Sasuke datar yang dibalas anggukan dan tatapan datar pula.
"Sadarilah, Namikaze-san. Naru-chan sudah bahagia dengan keluarga barunya. Jangan lagi Anda membebaninya dengan kenangan masa lalu yang menyakitkan, yang saya bahkan tak ingin tahu apa saja itu. Permisi" Pamitnya tepat ketika ruangan itu terbuka karena akan dibersihkan untuk rapat selanjutnya. Meninggalkan Minato yang menatapnya murka, namun terselip rasa bersalah dihatinya.
Apakah begitu sulit untuk meraihmu kembali, Nak? Batinnya menyesal.
-TBC-
Yamito chan : Bukan kok, Kan Suke sudah nongol disamping Ao :D Ini sudah lanjut ;)
Anom : Heee~ masa Naru-chan bauuuuu? Hehehe, yeah, sudah tahu kan siapa Ao disini?
34 : Hehehe, gomen masalah wordnya :D ini sudah lanjuuuut~
Adelia437 : Ini Sasuke sudah nongol :D
Aiko Vallery : Hmm... yeah, sudah bisa nebak kan, siapa Ao? :D
Choikim1310 : Ehmm... sudah tertebak belum, siapa Ao? Yang jelas bukan sasuke, hehehe
Guest : Hehehe, g janji ya masalah Update nya... tapi ini sudah lanjut :D
: Ini sudah lanjut :D
