Oyasumi!
Seiyuu No Yurei update nih, hehe :D
Maaf telat update ya, lagi fokus sama dunia nyata, tee-hee :p
Oke gak usah basa-basi lagi, langsung ke pembalasan review ya,, (^-^)7
Hikari No OniHime: Hehe makasih^^, iya, Naruto disini agak kubuat tomboy, soalnya kalo Naruto tomboy lebih seru aja, hehe. Makasih buat review, foll, and fav nya^^
Hanazawa Kay: Siap, ini udah lanjut kok!
Aiko Michishige: Iya, ini udah lanjut kok^^
luvizdothayate: Makasih, iya ini udah lanjut
Hina devilujoshi: Hehe, iya ada hantunya^^, kalau balas dendam...hmm, kita lihat aja nanti ya^^#plak!
choikim1310: Siap, ini udah lanjut kok. Masih lanjut kok ff nya chingu, ditunggu aja ya update-annya^^
Note!: Oh iya, untung inget, biar Minna nanti gak kebingungan baca fic nya, di Chapter ini dan seterusnya aku akan mengganti nama Naruto dengan Matsuri ketika tubuhnya dirasukki oleh Matsuri ya, dan nanti Naruto juga akan kuganti namanya menjadi roh Naruto kalau Naruto keluar dari tubuhnya, oke? Gpp 'kan?
Yosh, SUTORII NO IKOUZE!
DLDR!
NO FLAME! (Tapi kalo kritik diperbolehkan :p)
Enjoy it!
Hari semakin gelap, seharusnya pada saat seperti itu orang-orang sudah berada didalam rumah mereka. Bersantai, makan, mandi dan akhirnya tidur untuk mempersiapkan tenaga mereka di hari esok, tetapi berbeda dengan Naruto, dia tak memiliki tempat tinggal, kamar mandi, makanan dan sebuah tempat tidur. Bagaimana mungkin Naruto bisa merasakan indahnya 'Kehidupan dibawah atap' tersebut, toh dia tak punya rumah. Memang dia memiliki apartment, tetapi apartment nya ada di Osaka, kalaupun dia mau pulang ke Osaka, setidaknya dia harus memiliki uang untuk membeli tiket bus jurusan Tokyo ke Osaka. Tetapi sekarang dia tidak memiliki uang, uangnya sudah habis untuk memutari Tokyo, bagaimana mungkin dia bisa pulang? Jangankan pergi pulang, uang untuk beli nasi sebutir pun tidak ada, dan alhasil dirinya jadi kelaparan dan kehausan. Ini semua gara-gara pria jabrik tadi, yang memiliki wajah seperti anjing yang ia temui tadi. Gara-gara pria itu menipunya, Naruto harus menjalani kesulitan besar di kota orang.
Naruto berjanji, jika dirinya menemuinya lagi, maka Naruto bertekad bahwa dirinya tidak akan segan-segan untuk memberinya pelajaran yang pastinya tidak bisa ia lupakan. Pria jabrik itu harus mendapatkan balasan yang setimpal dari apa yang ia alami ini, karena Naruto benar-benar tidak terima dengan perlakuan nya tersebut.
"Ne, Naru~ kita mau kemana?" seru Matsuri si hantu memulai pembicaraan.
"Entahlah, aku tidak punya uang dan tempat tinggal, jadi aku bingung mau pergi kemana," sahut Naruto dengan nada sedikit lesuh.
"Kenapa kau tidak pergi ke sekolah Senmon saja, lagipula alasan kita datang kesini karena ingin pergi kesana, bukan?" ucap Matsuri seraya melayang agak maju kedepan.
"Hah~, apa kau masih tidak mengerti juga, aku tidak memiliki uang. Bagaimana mungkin aku pergi ke Senmon tanpa membawa uang? Dan juga...kita tidak tahu berapa jarak yang akan kita tempuh untuk sampai kesana, kalau jauh mana mungkin kita hanya berjalan kaki begini bukan? kita harus menaikki bus."
Saat mendengar perkataan Naruto tersebut, Matsuri mulai berfikir-fikir kalau perkataan Naruto ada benarnya juga. Naruto disini 'kan untuk bersekolah, dan itu artinya dirinya tidak mungkin yang namanya tidak terjerat dengan uang, contohnya seperti pembayaran per semester, ujian, buku-buku pelajaran, dan biaya praktek. Dirinya butuh makanan, rumah, dan uang untuk hidup. Kalau misalkan terus-terusan begini, maka Naruto pasti tidak mungkin bisa hidup lama.
Matsuri melayang terbang agak lebih tinggi dari Naruto, lalu dia meningkatkan ketinggiannya tersebut sampai diatas atap rumah dan mulai memandangi rumah-rumah yang sudah memadati prefektur Tokyo.
Dengan mata agak menyipit, dirinya pun mulai memutar-mutari tubuhnya dan melihat-lihat tiap jalan, danau, jembatan dan jalur transportasi yang ia tangkap. Sampai pada akhirnya matanya mendapatkan sebuah sekolah Senmon yang berada tak jauh dari pusat kota Shibuya. Jarak sekolah itu menurutnya tidak terlalu jauh, mungkin dengan sedikit memaksakan diri untuk berjalan terus ke barat, dia dan Naruto bisa mencapai sekolah itu dalam hitungan 30 menit. Tapi kalau mereka sampai disana, mereka mau apa? Seperti yang dikatakan Naruto, 'Dia tak memiliki uang seperserpun', jadi mau sampai kesana pun pasti hasilnya tidak akan mungkin bisa masuk dan bersekolah, apakah ini artinya dia dan Naruto akan menjadi gelandangan disini?. Matsuri menghela nafas ketika memikirkan hal tersebut. Dan juga, dia pun bingung mengapa harus susah payah begini untuk mencari gedung Senmon kalau misalkan hasilnya akan sama saja.
Disclaimer : Makis (Masashi Kishimoto)
Rate : T = T+
Pairing : SasufemNaru, GaafemNaru, KibafemNaru
Seiyuu No Yurei
Chapter 2
*Pertemuan di kala hujan*
By : Selly Yamazaki Uchiha
OOC, OC, typo(s), AU, Gaje, Humor garing, and many more...
"Hah~" desah Matsuri membuang nafas. Entah itu desahan yang keberapa kalinya, yang pasti dirinya merasa lelah dengan kejadian ini. Dia dan Naruto sudah susah payah datang ke Tokyo, mencari sekolah Senmon dan bersekolah disana. Tetapi hasilnya malah begini, karena kecerobohan dan sifat bodoh Naruto, dia dan Naruto jadi harus terjebak dalam kehidupan 'ambigu' ini. Kalau saja tadi Naruto mempercayainya, maka dia dan Naruto pasti masih bisa mencapai tujuan mereka.
Sebenarnya Matsuri ingin sekali menceramahi Naruto atas ketidak pekaannya yang kelewatan tersebut. Tetapi untuk sekarang sepertinya dirinya tidak bisa menceramahinya, karena saat ini kondisi Naruto benar-benar sedang memburuk, sama seperti cuacanya yang malam ini juga memburuk.
Yah, lagi-lagi Jepang diguyur dengan hujan deras, namun hujan yang kali ini lebih deras dari hujan-hujan sebelumnya. Dan kemungkinan hujan hari ini bakal lama berhentinya, terlihat dari deru angin dan pengalaman Naruto dan Matsuri yang berteduh di depan gerbang rumah orang sambil memandangi air hujan semenjak 20 menit lalu.
Tetapi semenjak menjelang 15 menit, yang bertahan untuk melihat air hujan itu cuma Matsuri seorang, sedangkan Naruto mulai mengabaikan derik hujan tersebut lalu berjongkok disebelah Matsuri sambil memegang perutnya yang terasa sakit karena menahan lapar. Wajar saja Matsuri bisa bertahan, toh dia tidak bisa makan apapun dan tidak bisa merasakan kelaparan.
Sebenarnya, Matsuri merasa prihatin melihat Naruto yang terus-terusan merintih disebelahnya itu. Ingin sekali ia membantu Naruto sebisanya agar bisa bertahan. Tetapi apa yang harus ia lakukan? Dia itu hantu, dia tidak bisa menolong lebih banyak selain merasukki tubuhnya. Sebelumnya Matsuri pernah memberikan Naruto usul untuk membiarkan dirinya memasukki tubuhnya. Ia berkata demikian karena mungkin Naruto masih bisa bertahan kalau dirinya berubah menjadi hantu, namun sayangnya Naruto menolak, karena menurutnya meskipun ia bisa bertahan, namun Matsuri yang memakai tubuhnya tak akan bisa bertahan. Karena ia berfikir kalau misalkan Matsuri merasukki tubuhnya, berarti dia juga pasti akan merasakan rasa sakit yang ia alami saat itu. Matsuri merasa tersentuh dengan perkataan Naruto yang sangat memperdulikannya tersebut, dan rasanya Matsuri semakin ingin menyelamatkan Naruto dari rasa sakit tersebut. Dan saat ini ia pun mulai berfikir untuk mencuri makanan di minimarket agar bisa dimakan oleh Naruto, tetapi jikalau ia melakukan hal itu, ia yakin Naruto pasti akan menolaknya dengan keras, karena makanan yang ia bawa adalah hasil dari mencuri. Oleh karena hal itulah, dirinya pun mulai mengurungkan niatnya tersebut dan kembali menghela nafas karena kehabisan akal.
"Ma-Matsu-ri...berhentilah menghela nafas. Ha-ntu tidak ada y-yang menghela na-fas," lirih Naruto terbata-bata disebelahnya, masih dengan memegang perutnya.
"Ya ampun, saat-saat genting seperti ini kau masih saja mau berdebat denganku. Fikirkan lah kondisimu Naru," balas Matsuri jengkel seraya memandangi Naruto dengan ekspresi kusut.
"Hehe, go-gomen, a-aku hany-a i-ingin ber-bicara deng-anmu saja. Ka-karena ji-ka-lau aku ma-ti sa-at ini, a-aku ma-sih b-isa b-er-canda de-nganmu," gumam Naruto dengan ucapan yang semakin sulit didengar oleh Matsuri. Sedangkan Matsuri yang berada disebelahnya semakin lebih prihatin kepada Naruto dan rasanya cara dia yang tadinya mengomeli Naruto adalah salah. Seharusnya disaat-saat genting seperti ini, dirinya seharusnya menghibur Naruto, memberi semangat kepadanya agar bisa bertahan dari kejadian ini. Setelah memikirkan hal itu, dirinya pun mulai merendahkan kakinya ke tanah, dan ketikanya telapak kakinya menyentuh tanah, dia pun mulai ikut berjongkok disebelah Naruto dan lalu dirinya memeluk kedua kaki kecilnya sambil masih memandangi derik hujan didepannya.
"Kau jangan bilang begitu, mati itu tidak enak loh. Kalau kau mati, kau akan dicuekin sama orang, tidak bisa makan yang enak-enak, tidak bisa merasakan hal-hal yang baru, tidak bisa tidur, tidak bisa minum, tidak bisa...emm...apa lagi ya, aku lupa soalnya terlalu banyak, hehe. Yah intinya kau bisa melihatku lah, bagaimana diriku yang sekarang, hehe," gumam Matsuri mencoba menghibur Naruto, dan Naruto cuma bisa tersenyum kecil disebelahnya.
Selang beberapa menit kemudian, salah seorang pria berlari kearah dimana Naruto dan Matsuri berada. Sambil menutupi kepalanya yang agak basah dengan jaket kulit basahnya, dirinya pun menepi tak jauh dari jarak Naruto dan Matsuri yang berjongkok disebelahnya.
Matsuri memandangi wajah pria tersebut dengan mata berbinar-binar karena terpesona dengan ketampanannya, dan tanpa fikir-fikir lagi Matsuri malah melayang terbang ke depan wajah si pria bermaksud ingin melihat wajah tampan si pria lebih dekat. Naruto menyadari tingkah laku aneh Matsuri, dia ingin sekali mengomelinya dan menyuruhnya untuk kembali ke tempatnya, namun apa yang keluar dari mulutnya saat ini hanya lirihan kecil yang memanggil nama Matsuri, dan karena saking kecilnya suaranya, Matsuri sama sekali tidak mendengar seruan Naruto dan masih saja sibuk memandangi wajah keren si pria.
Lalu beberapa menit kemudian, tepatnya ketika dirinya melihat postur tubuh tinggi si pria, Matsuri melihat sekantong plastik putih berisi berbagai macam mie instant, dan roti gandum serta roti isi tergenggam erat di tangan kanan kekarnya. Matsuri pun menghentikan aktifitas rasa kagumnya tersebut setelah melihat roti dan mie di plastik si pria hingga kemudian melayang kembali mendekati Naruto.
"Naru, pemuda keren itu punya makanan, kau mau aku mengambilkannya? Mumpung dia lagi cuek, tapi saat aku mengambilnya dan melemparnya padamu, kita lari ya?" bisik Matsuri di telinga Naruto yang masih terpuruk disebelahnya, namun saat ini wajahnya ia sembunyikan memakai kedua kakinya yang ia tempelkan di tubuhnya.
"Jangan bodoh," lirih Naruto pelan semakin merapatkan kedua kakinya di tubuhnya.
"Eh?" sahut Matsuri tidak mendengar.
"Sudah kubilang, jangan melakukan hal seperti itu. Walaupun kau mendapatkannya, aku tak akan mau memakannya," balas Naruto berusaha mengatakannya dengan normal agar bisa didengar Matsuri.
"Bodoh, kondisimu sedang begini, jangan selalu sok suci begitu dong. Sebelumnya aku mengalah karena kau dalam kondisi yang masih fit, tetapi sekarang...kau bisa lihat dirimu sendiri lah? Lagipula kita cuma melakukannya sekali jadi..."
"Matsuri, kumohon dengarkan aku..." potong Naruto masih mencoba mengatakannya dengan nada normal. Dan kali ini ucapannya bukan hanya terdengar oleh Matsuri, tetapi juga oleh si pemuda.
"Berjanjilah padaku kau jangan pernah melakukan itu. Itu perbuatan kriminal. Lagipula kau itu hantu, bisa jadi berita besar kalau makanan tiba-tiba saja melayang di minimarket atau dari plastik seseorang. Aku tidak apa-apa, kalau cuma lapar sehari, aku masih bisa bertahan, aku tidak mau merepotkanmu Matsuri. Dan aku tidak mau menambahkan dosa kepadamu, kalau kau terus bertindak seenaknya, bukan tidak mungkin kau pergi ke neraka, aku tidak mau itu terjadi padamu," balas nya lagi, namun sekarang nadanya agak sedikit lirih karena menahan perutnya yang mulai sakit lagi.
"Ba-baka! Terserah kau sajalah," sahut Matsuri tersentuh dengan perkataan Naruto seraya memutar tubuhnya kearah lain untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah. Sedangkan pemuda disebelah Naruto dan Matsuri mulai merespon perkataan Naruto setelah beberapa detik dirinya terdiam dan mendengarkan perkataan Naruto.
"Apa kau belum makan? Kau bisa makan roti ini," ujar pemuda tersebut sambil mengarahkan salah satu rotinya ke Naruto. Awalnya Naruto tidak merespon perkataan si pemuda, karena dirinya berfikir mungkin si pemuda tidak berbicara dengannya, tapi setelah menyadari aroma harum roti disebelahnya, Naruto merasa yakin kalau si pemuda memang sedang berbicara dengannya dan bermaksud untuk memberikan rotinya pada Naruto.
Dengan menggerakkan kepalanya malu-malu kearah kiri, Naruto pun mulai mendongakkan kepalanya dan mendapatkan wajah tampan si pemuda yang tersenyum padanya serta mengarahkan tangannya yang tergenggam roti isi miliknya ke Naruto.
"Kau lapar bukan? Makanlah," seru pemuda itu lagi, berusaha untuk menyuruh Naruto agar segera memakannya.
"Ta-tapi..."
"Tidak apa-apa, aku masih punya banyak kok di plastik, hehe," balas si pemuda dengan senyuman hangat yang sangat mempesona. Entah itu memang perasaan Naruto atau bukan, dirinya seperti melihat bunga-bunga indah yang berkilauan dibelakang punggung si pemuda yang membuatnya menjadi salah tingkah dan memerah karena malu.
"Sudahlah terima saja! Mumpung si tampan ini lagi baik," ikut Matsuri tiba-tiba sehingga membuat rasa kagum Naruto menghilang sesaat. Naruto ingin sekali membentak Matsuri, namun dirinya tidak bisa melakukannya didepan si pemuda sehingga dirinya menahan amarahnya tersebut lalu mengarahkan wajahnya kembali ke si pemuda. Menurut Naruto perkataan Matsuri tentang 'Mumpung si tampan ini lagi baik' itu salah. Bagi Naruto pemuda itu memang benar-benar baik, tidak ada niat dan maksud apapun didalam fikirannya.
"Apa boleh?" gumam Naruto malu-malu karena merasa kondisinya saat ini benar-benar tidak cocok untuk bertemu dengan si pemuda karena ia merasa saat ini dirinya benar-benar memalukan.
"Tidak apa-apa, tenang saja," balas si pemuda namun sekarang dirinya memaksa Naruto untuk memegang rotinya sehingga Naruto tak punya pilihan lain selain menerima roti tersebut.
"Makanlah," lanjut si pemuda sambil tersenyum. Dan Naruto pun menuruti perkataan si pemuda layaknya hewan peliharaannya.
Awalnya Naruto memakan rotinya dengan gigitan biasa-biasa saja, namun beberapa detik setelah merasakan isi coklat yang lembut dan manis di lidahnya, dia pun mulai memakan rotinya dengan sangat lahap.
"Enak!" gumam Naruto sembari memakan rotinya.
"Hehe, apapun akan terasa enak kalau sedang lapar," sahut si pemuda seraya berjalan lebih dekat dengan Naruto lalu duduk disebelahnya, memaksa Matsuri yang awalnya berada disana jadi harus pindah tempat.
Selang beberapa detik Naruto melahap rotinya, tanpa disadari dirinya menggigit ibu jemarinya sendiri sehingga membuat salah satu nya sedikit berdarah. Naruto menjerit pelan setelah menyadari bahwa dirinya telah menggigit jemarinya. Ternyata perlakuannya yang menggigit jemarinya itu karena dirinya tidak menyadari bahwa rotinya sudah habis tidak tersisa, Naruto yang mengetahui hal itu jadi harus buang muka kearah lain, tidak mau menunjukkan ekspresi wajahnya yang sudah memerah kepada si pemuda. Sedangkan si pemuda cuma tertawa-tawa saja disebelahnya lalu memberikan rotinya lagi kepada Naruto.
"Ha'i, kali ini hati-hati ya," seru nya ketika memberikan roti isi keduanya kepada Naruto.
"Ha? Tidak...tidak usah, ano..." balas Naruto malu-malu seraya menghisap salah satu jemarinya yang berdarah didepan si pemuda seolah seperti anak kecil yang tak tahu malu.
"Tidak apa-apa, kau masih lapar 'kan?"
"Baiklah kalau kau memaksa," balas Naruto lalu mengambil rotinya untuk kedua kalinya dan memakannya lagi. Sedangkan si pemuda cuma tertawa-tawa kecil.
Selang dua puluh tiga menit, hujan masih tak kunjung berhenti, namun semua roti yang berada di plastik si pemuda sudah habis tak tersisa, yang hanya tertinggal sekarang cuma mie instan saja. Naruto merasa bersalah karena telah menghabiskan makanannya tersebut. Padahal mereka masih belum kenal, tetapi dia sudah berani menghabiskan makanan punya orang, sungguh memalukan, pikirnya. Karena memikirkan hal itu, Naruto tidak mampu untuk melihat wajah si pemuda.
"Hujannya tidak berhenti-berhenti ya?" seru si pemuda memulai pembicaraan.
"Eh?...ano...hmmm, masih belum berhenti," balas Naruto berusaha senormal mungkin. Sedangkan Matsuri yang berada disebelahnya cuma memandangi si pemuda dengan mata berbinar-binar lalu berkata "Biarkan terus hujan, kalau perlu tidak usah berhenti. Agar aku bisa terus melihat wajahmu," dan Naruto yang mendengarnya hanya bisa menghela nafas jengkel.
"Ibuku pernah bilang kalau hujan itu memiliki arti yang berbeda, tergantung durasi hujannya, lama atau tidak."
"Eh?"
"Hujan singkat memiliki maksud kalau orang diluar sana sedang berkabung, sehingga hujan pun turun dan ikut bergabung dengan kematian orang itu. Sedangkan hujan berdurasi lama seperti sekarang ini karena ada salah seorang yang meminta pertolongan, contohnya seperti menyuburkan tanaman, dan kekurangan air."
"O...hmm."
"Ah! Gomen, aku mengatakan hal yang tidak perlu," gumam si pemuda sambil tersenyum tipis kepada Naruto.
"Tidak, tidak apa-apa," balas Naruto seraya menggelengkan kepala dan membalas senyuman si pemuda. Si pemuda terpesona melihat senyuman Naruto tersebut, lalu tanpa ia sadari wajahnya pun memerah tipis saat melihat aura berkilauan dibalik punggung Naruto. Dirinya tidak bisa menahan kekaguman ini terus-menerus, karena jikalau dia semakin kagum, maka wajah memerah nya pun akan semakin parah sehingga dirinya pun merubah topiknya agar bisa menghilangkan kekaguman nya itu.
"Ano...ngomong-ngomong kita belum berkenalan. Siapa namamu? Namaku Gaara...Sabaku No Gaara."
"Namaku? Aku Naruto...Uzumaki Naruto," sahut Naruto menyebutkan namanya. Dan pemuda a.k.a Gaara yang mendengar namanya pun langsung terdiam, seolah seperti melihat sesuatu yang membuatnya langsung sulit mengatakan sesuatu. Perasaannya saat ini sulit dijelaskan dengan kata-kata. Dia senang, dia bahagia, dia bersyukur, tapi dia juga menangis didepan Naruto.
"Huwaa! Si tampan mengeluarkan air mata! Naru...apa yang kau lakukan?" seru Matsuri seraya memasang ekspresi tidak suka dengan pipi memerah kepada Naruto, sedangkan Naruto cuma menggelengkan kepala karena dia tidak tahu apa-apa.
"Hmm, lalu kenapa dia menangis? Ataukah...gara-gara mendengar namamu...?"
"Tidak mungkin!" potong Naruto tidak terima ketika Matsuri berkata bahwa namanya lah yang membuat Gaara menangis.
"Ada apa?" gumam Gaara bingung sambil membersihkan air matanya di kedua sudut matanya.
"Eh? Tidak...tidak apa-apa, aku hanya mengingat sesuatu...hehe," sahut Naruto sekenanya. Namun Gaara malah tertarik dengan jawaban Naruto sehingga dirinya pun mulai meringkuh kedua bahu Naruto dengan kedua tangannya lalu mendekatkan mimik wajah seriusnya ke Naruto yang sedang kebingungan.
"Benarkah? Apa yang kau ingat?" tanya Gaara antusias.
"Hehe...ano...apakah aku harus mengatakannya?" sahut Naruto agak sedikit risih dengan sikap Gaara.
"Tentu!"
"Hmm, ano...kedai mie ramen didekat rumahku saat ini sedang diskon, aku tidak bisa pulang untuk membelinya sekarang," sahut Naruto sekenanya lagi.
Mendengar jawaban Naruto, Gaara agak sedikit kecewa hingga akhirnya melepaskan genggamannya dari kedua bahu Naruto. Naruto mengerutkan kening keheranan ketika melihat mimik wajah Gaara berubah menjadi sangat suram. Dia bertanya-tanya didalam hati, perkataan apa yang membuatnya sekecewa begitu, padahal semenjak tadi, dirinya menjawabnya dengan normal-normal saja, tidak mengatakan hal apapun yang menyinggungnya. Karena hal itu, Naruto pun memberanikan diri untuk memulai pembicaraan lagi dengan Gaara.
"Sabaku-san, ada apa?" panggil Naruto pelan seraya memandangi wajah Gaara yang menunduk. Sedangkan Gaara yang mendengar perkataan Naruto malah semakin memasang wajah kecewa dari sebelumnya, bahkan sekarang terlihat aura suram yang mulai keluar dari belakang punggungnya. Naruto semakin bingung melihat Gaara yang berubah drastis seperti ini, sehingga kini dia merasa plin-plan sendiri.
"Naru?! Dia semakin suram! Apa yang kau lakukan?" teriak Matsuri ikut panik karena juga merasa tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Haduh, Sabaku-san...aku tidak tahu apa yang membuatmu menangis, tetapi...aku minta maaf...aku benar-benar minta maaf...maafkan aku!" gumam Naruto meminta maaf seraya memegang kedua bahunya bermaksud untuk mencoba menghiburnya. Namun selang beberapa detik kemudian, Naruto pun tersentak saat mendapatkan bahwa tangan kirinya yang berada di bahu Gaara telah digenggam lembut oleh tangan kanan hangat Gaara, hingga kemudian Gaara pun menunjukkan wajah cerahnya kembali ke Naruto dan berkata "Aku tidak apa-apa, ini bukan salahmu," sambil tersenyum tipis.
Dalam hitungan detik, Naruto pun lagi-lagi terpesona melihat wajah karismatik Gaara, sehingga dirinya pun kembali salting dan beranjak menjauh 2 meter dari jarak sebelumnya. Sedangkan Gaara hanya tersenyum melihat tingkah laku Naruto dan lalu bergaya normal lagi, sama seperti sebelumnya.
"Oh iya Naruto...Kalau boleh tahu, alasanmu datang ke Tokyo untuk apa?" tanya Gaara memulai pembicaraan setelah 2 menit mereka terdiam.
"Untuk menikah denganmu!"
"Hussh!" balas desis Naruto dengan wajah memerah ketika mendengar suara genit Matsuri disebelahnya.
"Hehe, jadi tidak boleh ya?" ikut Gaara salah paham, karena dia berfikir kalau ucapan 'Hussh!' Naruto tersebut ialah tertuju padanya.
"Tidak...bukan begitu...ano...sebenarnya aku datang ke Tokyo karena aku ingin bersekolah."
"Bersekolah?"
"Hm, aku akan menjadi pelajar transfer di Konoha Senmon Gakkou. Karena cita-citaku adalah menjadi Seiyuu. Katanya Konoha Senmon Gakkou adalah pilihan yang bagus untuk bisa mencapai cita-cita ku, jadi aku..."
"Wah, kebetulan yah! Aku juga bersekolah disana."
"Eh?"
"Tetapi disana aku bukan mengambil jurusan Seiyuu, melainkan lebih mengambil ke bagian pembuatan Game."
"Waah, hebat. Apa kamu bisa membuat Game?"
"Hehe. Yah, aku cuma bisa membuat Game visual novel. Aku masih belum jauh," sahut Gaara merasa tersanjung dengan pujian Naruto.
"Hebat! Apakah aku boleh mencoba Game buatanmu?" balas Naruto antusias dengan kedua mata berbinar-binar.
"Hehe, masih dalam pembuatan, nanti kalau sudah selesai aku akan menunjukkannya padamu."
"Hmm, aku akan menunggunya," balas Naruto sangat semangat. Sedangkan Gaara cuma menganggukkan kepala untuk meng-iya-kan permintaan Naruto.
-x-x-x-x-
Tak terasa sepuluh menit pun telah berlalu, hujan yang awalnya deras kini telah menunjukkan rintik-rintik hujan pelan, dan semakin lama hujan tersebut pun berhenti dan berganti dengan suasana sepi yang diterangi oleh sinar rembulan. Gaara yang sudah berniat untuk pergi sana sempat menolehkan kepalanya kearah Naruto. Yang waktu itu masih berjongkok tanpa melakukan apapun. Gaara merasa curiga dengan tingkah laku Naruto tersebut, sehingga dirinya pun memberanikan diri untuk bertanya kepada Naruto tentang dirinya yang tidak mau pergi dari tempat tersebut. Namun sebelum dirinya sempat untuk menanyakan hal itu ke Naruto, dirinya kembali mengingat-ingat awal kali dia dan Naruto bertemu.
Waktu itu Naruto terlihat pucat, dan bibirnya kering. Bukan hanya itu saja, dirinya terlihat sangat depresi ketika berjongkok disebelahnya waktu itu. Dan juga, disebelahnya dia melihat tas koper milik Naruto disisi kanan nya yang berarti Naruto masih belum mendapatkan tempat tinggal disini. Mengingat hal itu dan melihat tas koper Naruto, Gaara sudah menyimpulkan bahwa Naruto saat ini dalam keadaan sangat kritis atau mungkin bisa dibilang...
"Kau kehabisan uang?"
Serasa seperti tersambar petir, Naruto pun langsung tersentak dan menarik nafas didepan Gaara yang sudah berdiri 20 cm didepannya. Dia mendongakkan kepalanya memandangi wajah Gaara yang terlihat serius tersebut, lalu mulai membuka mulutnya bermaksud untuk menyangkalnya. Karena walaupun perkataan si Gaara memang tepat, tetapi hal itu sangat memalukan baginya. Mana mungkin Naruto mau berkata jujur didepannya setelah beberapa saat lalu sudah banyak sekali merepotkan Gaara.
"A...aku..." lirih Naruto terbata-bata mencoba untuk mengatakan 'Aku punya'
"Kalau kau punya uang, pasti kau tidak akan lapar seperti tadi," potong Gaara seolah membaca fikirannya.
Naruto kembali menundukkan kepalanya, sudah tidak kuat memandangi wajah Gaara yang telah memojokkannya. Dan juga ia malu, mengapa tadinya dia membohongi Gaara kalau Gaara sudah mengetahui alasan dibalik dirinya yang terdiam itu.
"Apa yang kau lakukan sampai uangmu habis?" tanya Gaara lagi seraya berjongkok didepan Naruto.
"Aku..." lirih Naruto mencoba menjawab, dan Matsuri yang berada di sebelahnya sejak awal mulai memegang bahu kanannya, bermaksud untuk memberikannya semangat untuk menjawab pertanyaan Gaara. Tetapi walaupun dirinya sudah diberikan semangat oleh Matsuri, tetapi tetap saja dia tidak bisa melanjutkan perkataannya, soalnya bibirnya sedang dalam mode tidak terkendali sehingga dirinya sulit mengucapkan sesuatu. Gaara menyadari hal itu, jadi dia mencoba mengganti topik pembicaraan agar tidak terlalu menekan perasaan Naruto. Kalau dia tidak mau menjawab, untuk apa dilanjutkan kalau hanya cuma bisa membuat semua masalah semakin rumit. Pikirnya
"Mau bekerja denganku?" gumam Gaara lembut.
"Eh?"
"Akhir-akhir ini aku sedang mencari Maid untuk membantuku membersihkan rumahku."
"Aku? Jadi...Maid?" balas Naruto tidak percaya dengan kedua mata membelalak.
"Hmm, kalau bisa tidak cuma membersihkan rumah saja, memasak pun juga. Aku sering beli makanan diluar karena tidak bisa memasak, jadi aku juga ingin mencari Maid yang juga jago memasak, kau tahu sekali-kali aku ingin mencoba menghemat, hehe. Kau bisa memasak kan?"
"Bisa sih? Tetapi...kenapa kau memilihku? Aku tidak berpengalaman menjadi Maid. Bukankah diluar sana masih banyak orang lain yang lebih jago daripada diriku?"
"Bukankah kau butuh uang untuk bersekolah?"
"Eh? Ano... iya sih tapi..."
"Aku memilihmu karena kau orang yang paling kupercaya," potong Gaara seraya menggenggam kedua tangan Naruto lalu mengangkatnya setengah dada. Mengetahui perlakuan tiba-tiba tersebut, wajah Naruto pun memerah dengan jantung yang berdegup cepat. Apalagi pas mengingat perkataan Gaara yang mengatakan bahwa dia adalah orang yang paling dipercayainya, rasanya hatinya sangat hangat dan damai. Padahal dia baru saja bertemu dengan Gaara, namun entah kenapa dirinya merasa sangat nyaman sekali saat berada disisinya, seolah dirinya telah mengenal Gaara sejak lama.
"Bagaimana?" lanjut Gaara mencoba meyakinkan Naruto. Sebenarnya tawaran Gaara agak terdengar memaksa dan mencurigakan, namun entah kenapa mau bagaimanapun permintaannya, perasaan Naruto berkata bahwa Gaara bukankah orang jahat.
"Naruto! Sudah terima saja, kapan lagi coba bekerja dirumah orang tampan," ikut Matsuri dengan mata berbinar-binar.
"Ano...apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Naruto kepada Gaara tanpa menggubris perkataan Matsuri disebelahnya.
Gaara tersentak kaget ketika mendengar penuturan Naruto, namun dengan hitungan detik dia langsung menyembunyikan kekagetannya agar tidak diketahui Naruto. Mau bagaimanapun, Gaara tidak mau memberikan respon yang memalukan pada Naruto, dia tidak mau pertemuannya bersama Naruto harus berakhir dengan tangis air mata yang mengucur keluar dari kantung matanya.
"Menurutmu?" sahut Gaara mencoba berusaha untuk tidak menunjukkan kekecewaannya.
Di sela-sela Naruto yang sedang berfikir keras, Gaara sempat berfikir egois bahwa dirinya sangat menginginkan Naruto mengingatnya, namun alhasil, dirinya malah mendapatkan gelengan kepala dengan ekspresi polos dari Naruto. Gaara menundukkan kepalanya mencoba untuk mengerti akan jawaban Naruto. Dan mencoba berfikir positif agar suatu hari nanti Naruto akan mengingat dirinya.
Matsuri merasa tidak nyaman dengan suasana yang aneh begini, yah sebenarnya sih suasana ini dibuat gara-gara aura si Gaara yang terasa suram, jadi daripada suasana tersebut terus berlanjut, lebih baik kalau Matsuri menghentikannya. Dia menoleh memandangi Naruto, mencoba untuk memintanya agar menghentikan suasana tersebut, namun Naruto malah tidak mengerti maksud dari bahasa tubuhnya sehingga dirinya pun kehabisan kesabaran dan melayang maju kedepan bermaksud untuk mengambil alih tubuh Naruto. Naruto menyadari hal itu, sehingga dirinya berteriak kepada Matsuri agar jangan memasukki tubuhnya, sekilas ketika Naruto berteriak 'Jangan', Gaara pun mengangkat wajahnya kembali memandangi Naruto, namun dengan ekspresi keheranan. Lalu dalam hitungan detik, tepatnya ketika Matsuri melesat masuk kedalam tubuh Naruto dan menjatuhkannya ketanah. Roh Naruto melompat keluar dari tubuhnya, dan berputar-putar di udara layaknya roda sepeda.
Pada saat yang sama Gaara pun mulai menunjukkan kecemasan kepada Naruto yang tiba-tiba terjatuh tersebut. Lalu dirinya pun merangkak agak kedepan biar bisa membantu menyadari Naruto yang terpuruk di tanah. Didalam hati dirinya bertanya-tanya, 'sebenarnya ada apa dengan Naruto?' padahal sebelumnya Naruto baik-baik saja, dan masih bisa mengobrol dengannya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Gaara sambil merangkul tubuh Naruto kedalam pelukannya.
"Hei, jangan seenaknya memakai tubuhku!" bentak roh Naruto seraya melayang ke sisi kanan Gaara.
"Hei sadarlah! Kau baik-baik saja 'kan?" seru Gaara lagi seraya menepuk-nepuk pipi mungil Naruto a.k.a Matsuri. Dan tak lama setelah itu kedua mata sapphire Matsuri pun terbuka, namun dengan perlahan-lahan.
"Aku tidak apa-apa, tenang saja," sahut Matsuri dengan nada lesuh yang dibuat-buat. Dan kemudian dia pun melesat bangun sambil memegang kepalanya yang seakan terasa pusing. Lagi-lagi Naruto dibuat jengkel melihat akting Matsuri yang rasanya seperti membuat dirinya terlihat lemah, dan rasa jengkel itu semakin menjadi-jadi pas tahu kalau Gaara malah membantu Matsuri untuk beranjak bangun. Melihat hal itu rasanya Naruto tidak mau kembali ke tubuhnya lagi, karena dia sudah terlanjur malu melihat sikap Matsuri yang lagi-lagi memalukannya.
Lalu beberapa detik setelah Matsuri berhasil duduk, dia tersenyum penuh arti dibalik wajahnya yang tertunduk didepan Gaara. Gaara memang tidak melihatnya, namun Naruto bisa melihatnya. Perasaan Naruto lagi-lagi mulai merasa tidak enak, soalnya dia merasa kalau Matsuri seperti merencanakan sesuatu dibalik senyumnya itu. Naruto harus cepat-cepat mengambil alih tubuhnya lagi kalau tidak mau dimalukan lagi oleh Matsuri, yang tadi masih bisa ditolerir sama dia, karena masih belum terlalu memalukan. Namun yang sekarang...? Belum direncanakan saja Naruto sudah merinding, apalagi kalau sudah direncanakan? Bisa gawat, pikir Naruto cemas seraya melayang kearah tubuhnya. Namun belum sempat dia sampai ke tubuhnya tiba-tiba saja...
"Sabaku-san!" teriak Matsuri seraya melesat memeluk Gaara dengan eratnya. Dan Naruto yang melayang kearah nya tentu saja shock sehingga akhirnya terjatuh ketanah dengan dentuman yang sangat keras. Wajah memerahnya sudah tidak bisa ditahan lagi saat melihat hal itu, ternyata apa yang dibayangkan oleh Naruto beberapa saat yang lalu memang benar terjadi. Dan kali ini lebih memalukan dari apa yang ia lakukan sebelumnya. Naruto rasanya ingin sekali meledak, bahkan asapnya sudah berkumpul dikepalanya dan beruap-uap diantara kedua telinganya.
"Aku mau menjadi Maid mu."
-x-x-x-x-
"Ini dia, rumahku," ujar Gaara seraya berhenti didepan gerbang besar berwarna coklat didepannya.
Matsuri dan Naruto ternganga kagum melihat begitu besarnya rumah Gaara. Bahkan karena saking kagumnya, mereka berdua sampai tidak bisa mengedipkan matanya. Rumah Gaara didesain ala Jepang modern, dengan dikelilingi taman depan seluas 1,2 hektar. Tidak lupa juga kolam renang berbeda kedalaman yang berada di pojok kiri rumah besarnya.
Ketika mereka bertiga berjalan memasukki taman depan menuju rumahnya, Naruto dan Matsuri lagi-lagi dibuat terpesona oleh keindahan taman depannya yang dikelilingi oleh berbagai macam bunga-bunga indah yang terawat. Dan mereka tidak bisa menahan untuk berkata 'wow' ketika melihat patung rajawali besar ditengah-tengah air mancur berdiameter 4 meter di tengah-tengah halaman depan menuju rumahnya. Kalau boleh Naruto dan Matsuri menyimpulkan, rumah ini bukanlah rumah orang kaya biasa, soalnya dari segi desain, rumah ini begitu berbeda dengan rumah orang-orang kaya lainnya. Bahkan Matsuri dan Naruto sempat mereka-reka bahwa keluarga Gaara pasti bukanlah orang sembarangan. Keluarga Gaara pasti mempunyai keturunan bangsawan sehingga bisa memiliki rumah seperti ini.
"Ayo masuk," ajak Gaara seraya membuka dua pintu depan besarnya kepada Matsuri dan Naruto.
"Woah, apa ini benar-benar rumah?" gumam Naruto a.k.a Matsuri seraya memandangi sekelilingnya.
"Hebat, Sabaku-san pasti bukan orang sembarangan. Coba saja lihat, seluruh desain arsitektur rumah ini...luar biasa indah...!" ikut roh Naruto seraya melayang-layang disekitar aula rumah tersebut.
"Ckckck, kalau begini lapangan baseball pasti kalah luas dengan aula rumah ini," lanjut Naruto seraya memandangi Matsuri dan Gaara dari langit-langit atap rumah.
"Ano...Sabaku-san, apakah ini memang benar rumahmu?" tanya Matsuri sekenanya. Soalnya dia masih tak percaya.
"Hehe, kalau ini bukan rumahku, mana mungkin aku berani masuk kerumah ini, ayo biar kuantarkan kau kekamarmu," sahut Gaara sambil terkekeh pelan. Sedangkan Matsuri malah menundukkan kepalanya karena malu atas ucapan bodohnya.
"Hmm, kok sunyi ya? Maid yang lain pada kemana?" gumam roh Naruto yang kembali ke sisi kanan Matsuri yang sedang mengikuti Gaara. Dan Matsuri yang mendengarnya pun menyetujui perkataan Naruto, karena memang benar kalau suasana di rumah ini terasa sangat sepi, seolah seperti tidak ada penghuninya.
"Kemana Maid yang lain, Sabaku-san?" tanya Matsuri mencoba mencari tahu, karena baginya suasana seperti ini benar-benar jarang ia lihat.
"Bukankah aku pernah bilang 'Aku butuh Maid'?" sahut Gaara sambil menaikki tangga untuk menuju lantai 2.
"Ha? Jadi maksudnya...butuh Maid itu...?"
"Hehe, kau tidak peka ya, padahal sebelumnya aku sudah memberitahumu, bahwa aku butuh Maid untuk membantuku membersihkan rumahku."
"Ha?! Jadi...rumah sebesar ini...kau yang...?"
"Yah, aku yang membersihkan semuanya sendiri."
"Mustahil...mana mungkin rumah sebesar ini kau yang..."
"Hahahaha, kau percaya saja. Tidak, yang membersihkan seluruh rumah ini adalah pelayan-pelayan ku," balas Gaara sambil tertawa geli sesampainya dianak tangga paling ujung. Sedangkan Matsuri dan Naruto cuma menunjukkan ekspresi cemberut didepan Gaara.
"Berarti yang tadi di..."
"Cuma bercanda...hahahaha," potong Gaara semakin geli, sedangkan Matsuri dan Naruto semakin jengkel dengan sikap tidak sopan Gaara. Tidak mereka sangka, ternyata sifat asli Gaara seperti ini, yaitu suka sekali membodohi orang. Kalau sifatnya seperti itu, berarti dia dan si jabrik yang ia temui tidak beda jauh sama sekali.
Naruto sudah tidak tahan lagi melihat sikap konyol si Gaara sehingga dia pun kembali mengambil alih tubuhnya lagi. Ketika seluruh roh nya sudah berkumpul kedalam tubuhnya kembali, Naruto pun mulai memandangi Gaara dengan ekspresi tajam yang menusuk, seolah seperti menyuruh Gaara agar berhenti tertawa, namun hasilnya nihil. Sedangkan Matsuri yang tadinya terlempar dari tubuhnya, hanya bisa menarik nafas takut ketika melihat aura gelap Naruto yang seolah seperti pembunuh tersebut.
Karena Gaara tak kunjung berhenti tertawa, Naruto pun mulai merasa kesal sehingga dirinya pun mulai memutar tubuhnya berniat untuk pergi dari rumah tersebut untuk meninggalkan pria gila didepannya itu. Namun ketika dirinya sempat menapakkan kaki kirinya ke anak tangga dibawahnya, tangan kirinya tiba-tiba saja ditarik oleh Gaara sehingga tubuhnya pun melayang kebelakang dan langsung dipeluk oleh Gaara. Karena hal itu, kedua bola mata Sapphire Naruto pun membelalak kaget. Dan bukan hanya itu saja, kedua pipinya pun mulai memerah ketika tahu bahwa Gaara telah mencium puncak kepala Naruto. Dan Matsuri yang melihat pemandangan 'Jarang' itu pun langsung menyembunyikan mulutnya dengan kedua tangannya hingga kemudian berteriak sekeras mungkin dan melayang-layang diatas Naruto dan Gaara, seolah-olah ia senang melihat pemandangan tersebut.
"Neko..aku merindukanmu," bisik Gaara di sela-sela pelukannya.
"Eh?!" desah Naruto terkejut ketika mendengar panggilan Gaara tersebut dan kemudian melepaskan pelukan Gaara.
Naruto memandangi Gaara dengan tatapan tidak percaya, sedangkan Gaara hanya memasang senyuman indahnya, yang selama ini tidak pernah ia tunjukkan kepada siapapun selain kepada kedua orang tua nya serta orang yang paling dekat dengannya. Dan Naruto yang mendapatkan senyuman tersebut pun langsung terdiam dengan bibir bergetar, hingga kemudian dirinya pun berkata
"Panda!" seru Naruto seraya menunjuk-nunjuk Gaara dengan tatapan yang masih tidak percaya.
"Lama tidak bertemu...Neko-chan," balas Gaara dengan senyuman lepas tulusnya kepada Naruto.
TBC
