KrisTao fanfiction
By Flame Keyoon Hun
Tittle : Touch Love (And Now, You Know I Love You Too)
Inspirasi : KDrama Master Sun, and 49 Days, Boys Before Flowers
Main Cast : Huang Zi Tao as Huang Zi Tao
Wu Yi Fan as Wu Yi Fan and Wu Kris / Twin
Park Chanyeol as Park Chanyeol
Other Cast : Byun Baekhyun as Byun Baekhyun
Oh Sehun as Oh Sehun
?
Rate : K+
Genre : Romance, Drama, Hurt/Comfort, Little bit Angst, Little bit Horror.
Warning : YAOI AREA! Don't like? Just Go
KrisTao fanfiction ©2015
" Touch Love"
( And Now, You Know I Love You Too)
"Hyung, kau lama sekali, aku kedinginan menunggumu, maaf aku tidak bisa menunggumu lebih lama lagi, maaf aku mencintaimu. Aku Pergi."
Chapter 1
"Touch Love"
(And Now You Know I Love You Too)
18 Februari 2015
Touch Love
Sinar mentari menyinari pagi ini, meski semalam di guyur hujan, hangatnya mentari pagi ini terasa hingga kedalam kulit.
Lenguhan pelan terdengar dari seseorang pria yang tengah bergelung di balik selimut abu-abu yang semalaman menghangatkan tubuhnya.
"Um, sudah pagi." Gumamnya sembari melirik jam dinding dikamarnya.
Dengan masih mengantuk ia meraih handphone di nakas dekat tempat tdiurnya, ia tersenyum saat melihat wallpaper handphone berlayar lebar itu.
" Bahkan saat tidurpun kau terlihat manis, baby." Gumamnya saat menatap foto pria tengah tengah tidur dengan bersender di tempat duduknya.
" Yak,,,aku lupa, hari ini aku ada janji dengannya, aigo,, Park Chanyeol bagaimana bisa kau lupa janji mu sendiri, aish." Ujar pria yang yang menyebut namanya sendiri Park Chanyeol itu dengan tergesa-gesa menyibak selimutnya, dan segera melesat ke kamar mandi.
Touch Love
"Chanyeol hyung lama sekali, janji jam setengah tujuh, ini sudah hamper jam tujuh, aku bisa telat ke rumah sakit." Gerutu seseorang pria yang terlihat rapi dengan seragam putih-putih yang ia kenakan. Ia sudah berdiri didepan gang rumahnya setengah jam yang lalu, ia sedang menunggu janji pemuda yang tadi sebutkan namanya.
Tin
Tin
Suara klakson mobil terdengar dari arah belakang pria tadi berdiri, membuat pria berseragam itu menolehkan kepalanya dan mendapati pria tinggi dengan penampilan modis keluar dari mobil putih itu.
" Baby." Sapa pria itu sembari tersenyum lima jari, seolah tanpa dosa ia tersenyum melupakan janjinya.
" Kau pasti kesiangan kan Park Chanyeol ?" tuduh pria manis yang kini berdecak pinggang.
" Maafkan aku Baby, semalam hujan begitu lebat, membuat Hyung terlalu nyenyak tidur." Sesal pria itu yang tidak lain adalah Park Chanyeol yang memang kesiangan bangun pagi hari ini.
" Alasan saja, aku sudah terlambat Hyung." Kata Pria berkantung mata ini.
" Maaf, Kajja.. kita segera berangkat." Ajak Park Chanyeol sembari menuntun pria manis itu untuk masuk kedalam mobil putihnya.
Mengingat waktu masuk kerjanya sudah terlambat 5 menit , pria itu mengikuti ajakan Chanyeol untuk segera berangkat. Mobil putih itu segera melesat di keramaian jalan raya di pagi hari ini.
Touch Love
" Hei, kau sedang menunggu siapa ? sedari tadi kulihat kau memperhatikan gerbang rumah sakit dari atas sini." Tanya pria bertubuh tegap , putih dan bersuari pirang, dan ditambah setelan baju outfit yang ia kenakan memperlihatkan pesona pria maskulin dirinya, pada pria berpakaian berbeda dari lawan bicaranya.
-Baju Pasien-
" Tidak ada, aku tidak sedang menunggu siapapun, aku hanya bosan di kamar." Jawab pria berpakaian baju pasien itu sembari merubah posisinya memunggungi arah luar, dan diikuti pria yang tadi bertanya.
" Biasanya jika kau bosan , kau akan bermain PSP mu, kau tidak membawanya?" pria itu kembali bertanya.
" Dokter melarangku bermain PSP lagi." Jawabnya.
" Kenapa Dokter tidak memberitahu kami?"
" Ayah dan Ibu sudah tahu, kau saja yang belum tahu, kau tertinggal berita kesehatanku dua hari belakang ini."
" Maaf, dua hari kemarin aku tidak menjengukmu, aku ada pertandingan basket." Sesal pria bersurai pirang itu.
" Yak! Kau ikut pertandingan?!" sergah pria dengan selang infuse di tangan kirinya.
" Iya, ada apa? kenapa kau terkejut?"
" Tentu saja aku terkejut, tidak ada yang memberitahuku, Ayah dan Ibu diam saja, jika aku tahu kau bertanding basket, aku bisa datang melihatmu."
" Tidak apa, kau masih bisa melihatku bertanding basket di season berikutnya." Hibur pria itu.
" Season berikutnya, itu berarti semester berikutnya? Apa aku masih 'disini' Yi Fan?" pria berpakaian pasien itu kini bertanya pada pria yang berdiri disampingnya, bernama Yi Fan.
" Tentu saja, kenapa kau bertanya seperti itu, kau akan melihatku bertanding di season depan, kau akan menjadi pemandu sorak untukku Kris." Hibur Yi Fan, meski dalam hati ia sendiri juga tidak yakin dengan apa yang ia katakan. Yi Fan merangkul bahu Kris nama pria yang berdiri di sampingnya ini.
" Hah,, aku ingin cepat keluar dari rumah sakit, rindu bantal dan selimut ku." Kris berkata sembari memperlihatan ekpresi layaknya anak kecil yang tengah merajuk, melihat hal itu Yi Fan hanya menghela nafas dan tersenyum.
" Kalau begitu aku akan membawakannya untukmu." Tukas Yi Fan , Kris mendengus sebal mendengar ucapan Yi Fan.
" Kau menyebalkan."
" Kalau begitu kau juga menyebalkan." Timpal Yi Fan.
" Aku sedih mempunyai saudara kembar seperti mu." Ucap Kris, sembari berjalan menuju kamarnya dengan berpegangan pada tiang infusnya.
" Yak! Kau ini, aku satu-satunya adikmu Kris, teganya kau berkata seperti itu."
" Aku tidak peduli!"
Yi Fan tersenyum melihat Kris yang mulai berjalan meninggalkannya, ini hanyalah candaan yang sering mereka lontarkan satu sama lain. Yi Fan terkadang merasa takut jika mengingat apa yang sedang menimpa saudara kembarnya itu. Ia takut jika ia tidak bisa lakukan candaan ini lagi, jika suatu hari nanti Kris terlalu lelah untuk bertahan dengan keadaannya.
" Kau harus kuat, jika aku diminta untuk memilih siapa diantara kita untuk berada diposisi itu, aku akan memilih diriku sendiri, aku akan menempati posisi itu, aku tidak akan membagi tempat denganmu Kris, namun Tuhan tidak memberiku pilihan dan tidak memilihku, namun Tuhan memilihmu untuk menempati posisi itu, tanpa memperbolehkan aku untuk berbagi tempat pada posisimu saat ini."
Batin Yi Fan.
Touch Love
" Chanyeol!" panggil seseorang dari arah belakang Chanyeol yang tengah berjalan.
" Ibu." Sahut Chanyeol dengan nada terkejut.
" Kau tahu ini jam berapa? Kau lupa jika ada rapat pertemuan dengan rekan kerja jam 7 di ruang meeting Hotel?" cecar seorang wanita yang di panggil Chanyeol dengan sebutan Ibu.
" Maaf, sekarang jam 8, aku kesiangan, eum lalu bagaimana rapatnya?" Tanya Chanyeol hati-hati, ia tahu Ibunya sedang marah karena ia lupa jika ada jadwal pagi ini, dan ia malah pergi mengantarkan Tao berangkat kerja.
"Ibu tahu kau sudah pergi sejak pagi, kau pasti menemuinya kan?" selidik Ibu Chanyeol dengan tatapan sinis.
" Iya. Aku menemuinya, dan aku mengantarnya berangkat kerja." Jawab Chanyeol jujur sembari membalikkan badan untuk menghadap pada Ibunya. Karena pikirnya jujur lebih baik, toh Ibunya sudah tahu.
" Kau lebih mementingkannya daripada perusahaan keluarga, yang sudah membuatmu kecukupan! Kau dan dia berbeda, Park Chanyeol pewaris Hotel Park dengan Huang Zi Tao seorang putra penjual buah? Chanyeol kau tahu itu kan nak?" seru Nyonya Park, sembari duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.
" Jadi seperti ini cara Ibu melihat seseorang, melihatnya hanya dari harta?!" Chanyeol berseru.
" Park Chanyeol." Ibunya mengingatkan untuk tidak berteriak.
" Aku pergi." Chanyeol memilih pergi dari rumah, yang semula ia ingin melanjutkan tidurnya karena sedikit merasa tidak enak badan.
" Untuk saat ini kau bisa bersenang-senang anakku, tapi jangan harap impianmu untuk bersama dengan pemuda miskin itu terwujud." Batin Ibu Chanyeol.
Sang Ibu hanya mendengus kesal, tidak bisa mencegah sang putra yang sedang marah, karena bagaimanapun sekarang bukan waktu yang tepat untuk melancarkan ide yang sedang dipikirkan oleh kedua orang tua Chanyeol.
Touch Love
" Ah,, membosankan, Yi Fan pulang, Ibu dan Ayah sedang bekerja. Aku ingin pulang." Kris menunduk menggerutu di tempat favoritnya. Atap rumah sakit.
Kris sering diam-diam berjalan sendiri kearah atap rumah sakit untuk sekedar membuang penat di rumah sakit yang sudah seperti rumah keduanya, karena ia bisa hingga berhari-hari di rumah sakit karena kondisi kesehatannya. Saat ini kondisinya lebih baik membuatnya kembali ketempat favoritnya sore ini."
"Kris!" seru suara seseorang dari arah pintu masuk keatap.
" Kau?" tunjuk Kris pada sosok pemuda berseragam putih-putih bersurai hitam. Lebih tepatnya seorang perawat.
"Apa yang kau lakukan disini, kau seharusnya beristirahat di kamarmu." Ujar pemuda yang memakai seragam putih dan ada tulisan nama rumah sakit di bahu kanannya, sama seperti baju pasien Kris yang bertulis nama rumah sakit yang dijadikan motif pada baju pasiennya.
" Aku bosan, memangnya tidak boleh aku disini?" tukas Kris sembari menyamankan duduknya di lantai atap itu.
" Kau selalu keras kepala." Ujar perawat itu dengan senyum dan mendudukan diri disamping Kris.
Kris melihat senyum itu sekilas, sebelum ia kembali menyembunyikan semu merah di pipinya dengan melihat kearah langit.
" Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Kris dengan maksud mencairkan suasana yang sempat sepi.
" Merasakan hembusan angin." Jawab perawat itu.
" Kau bisa masuk angin." Tukas Kris dengan gelak tawa.
Perawat itu tersenyum, " Ada Dokter yang akan menyembuhkanku." Jawabnya.
Kris tersenyum mendengar jawaban pria itu.
"Kau suka ke tempat ini juga?" Tanya Kris.
" Tidak juga, hari ini aku memang ingin kesini. Sedikit melupakan kenyataan yang sulit di terima." Ujar perawat muda itu sembari menutup matanya menikmati hembusan angin sore.
" Kau sedang ada masalah?" Kris terlihat tertarik dengan ucapan pria itu.
" Tidak juga. Entah kenapa kadang aku merasa apa yang terjadi padaku tidaklah adil, kenapa harus aku yang menanggung ini. Apa aku mempunyai kesalahan di kehidupanku yang sebelum ini. " Jawabnya.
Kris terdiam dan enggan melanjutkan melontarkan pertanyaan pada pemuda yang sudah duduk disampingnya.
" Apa ada yang salah dengan ucapanku? Kenapa kau terdiam?" pemuda itu sedikit merasa risih karena Kris yang tiba-tiba diam dan tertunduk.
" Tidak hanya kau yang merasa tidak adil, aku juga seperti itu, aku kadang merasa iri kepada mereka yang bisa berlarian kesana kemari tanpa takut kau akan sakit, dan bisa tidur sepuasnnya di kasur empuk dirumah, bukan di tempat seperti ini yang penuh dengan ketakutan jika aku melangkah masuk ketempat ini." Jelas Kris, membuat pemuda di sampingnya terdiam, dan menatap Kris dalam. Bisa ia lihat jika saat ini Kris sedang menahan airmata dipelupuk matanya.
" Kau akan sembuh, aku yakin kau bisa." Ucap perawat itu dengan senyuman tulus yang ia berikan pada Kris.
" Kenapa kau bisa se-yakin itu? Aku sendiri saja tidak yakin, aku bisa bertahan berapa lama lagi." Kris tersenyum menjawabnya.
Perawat itu terpekur saat mendengar jawaban Kris yang terdengar sudah menyerah dan entah kenapa ia melihat aura semangat hidup pada pria bersurai hitam ini meredup.
" Karena di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin." Jawabnya singkat.
Kris hendak melontarkan kalimatnya lagi namun deringan handphone sang perawat muda itu mengalihkan perhatian keduanya pada deringan handphone itu.
" Iya, aku akan kesana." Jawab perawat itu pada seseorang yang menelponnya.
" Kris, aku harus pergi, ayo aku antar kau keruanganmu?" ajak perawat itu.
" Tidak, kau duluan saja, sebentar lagi matahari akan tenggelam, aku ingin melihatnya." Tukas Kris.
" Baiklah, kau hati-hatilah, segera kembali keruanganmu." Perawat itu mengingatkan, Kris mengangguk.
Sejurus kemudian tinggalah Kris seorang diri diatap sembari menatap kearah langit.
"Aishhh,, kenapa aku melupakannya lagi, siapa namanya, kenapa aku selalu lupa menanyakan namanya! Dan kenapa name tagnya selalu terbalik! " gerutu Kris pada dirinya sendiri, ia merasa sangat bodoh sekaligus pikun.
Padahal dia dan perawat itu bukanlah kali pertama ini bertemu, mereka sudah bertemu beberapa kali ditempat ini dan taman rumah sakit yang saat itu keduanya pertama kali bertemu saat Kris yang selalu diam-diam menyusup keluar dari ruang rawatnya saat ia bosan sendiri dikamarnya.
Perawat itu bisa tahu nama Kris dari gelang rumah sakit yang Kris kenakan, namun saat Kris ingin melihat namanya dari name tag perawat itu, ia selalu gagal dan mendengus sebal, name tag perawat itu selalu terpasang terbalik dan kadang bahkan disimpannya di saku, Kris merasa gengsi jika harus bertanya siapa namanya, terlebh mereka bertemu tidak melalu proses perkenalan.
Touch Love
" Baby!" panggil seseorang dari arah mobil yang terparkir tidak jauh dari pintu keluar rumah sakit. Park Chanyeol.
" Hyung, maaf membuatmu menunggu." Sesal Tao.
" Tak apa. Kau sudah makan?"
" Belum." Jawab Tao jujur.
" Kajja , kita makan." Ajak Chanyeol sembari mengajak Tao masuk kedalam mobilnya.
Touch Love
" Yak Kris!" seru seseorang memnggil pria yang sedang berjalan di lorong rumah sakit.
" Yi Fan." Lirihnya saat melihat orang yang begitu mirip dengannya itu tengah memasang ekpresi kesal, mungkin mencari dirinya, begitu pikir Kris.
" Kau ini kemana saja? Aku mencarimu." Tanya Yi Fan dengan ekspresi kesal.
" Akh, kepalaku pusing." Keluh Kris.
" Kris, kau baik-baik saja?" Yi Fan yang semula kesal, kini terlihat cemas dan segera menompang tubuh Kris.
" Aku ingin tidur." Ujar Kris, segera tanpa babibu Yi Fan memapah Kris masuk kedalam ruangannya.
"Hahaha… Kau mudah ditipu Yi Fan." Batin Kris tertawa melihat sikap siaga adiknya ini.
Kris berbohong, karena ia tidak ingin mendapat ceramah sore dari Yi Fan yang ia sudah hafal pasti akan panjang, lebar, tinggi, luas dan keliling.
" Perlu kupanggilkan dokter?" Tanya Yi Fan begitu Kris sudah tertidur di tempat tidurnya.
" Tidak perlu, nanti juga hilang rasa sakitnya." Jawab Kris yang masih berpura-pura kesakitan.
" Jangan kau ulangi lagi pergi tanpa ijin seperti itu, jika kau bosan atau apa, kau bisa menelfonku dengan telfon itu, aku akan kesini." Yi Fan menunjukan telfon yang tersedia dikamarnya yang khusus untuk Kris agar bisa menghubungi keluarganya, yang ada di nakas tempat tidurnya dan itu permintaan Kris.
" Tidak perlu, aku tidak ingin mengganggu kuliahmu, lagipula selama aku masih berada di lingkup rumah sakit aku merasa aman." Ujar Kris sembari menatap langit-langit kamarnya yang sudah di hiasi dengan gambar galaxy.
Kamar rawat Kris sedikit berbeda dengan kamar pasien lainnya, kamar Kris sudah mendapat sentuhan perubahan tatanan dekorasi dan beberapa benda-benda kesukaan Kris yang sengaja orang tuanya letakkan di ruangan itu agar Kris tidak merasa bosan, itulah tujuannya.
" Tapi setidaknya, aku akan segera menuju kemari." Lirih Yi Fan. Kris tersenyum melihat Yi Fan yang terlihat sedih jika sudah membahas tentang dirinya.
" Tak apa, eum.. apa Ayah dan Ibu belum kembali dari China?"
" Belum, sepertinya dua hari lagi, kau ingin bicara dengan Ibu? Aku bisa telfonkan sekarang." Tukas Yi Fan sembari mengeluarkan handphonenya.
" Tidak perlu, aku tidak ingin mengganggu mereka." Jawab Kris.
" Sepertinya sofa ini harus diganti, sudah tidak nyaman untuk duduk." Yi Fan bermonolog dengan sofa yang sedang ia duduki.
" Tidak perlu, lagipula aku tidak akan lama lagi tidur ditempat ini, aku ingin tidur dirumah."
" Itu akan terjadi jika kau sudah sembuh." Timpal Yi Fan sembari mengutak-atik layar handphonenya.
" Yi Fan."
" Hem."
" Kau mau membantuku?"
" Menyamar menjadi kau? Aku sudah bilang padamu aku tidak mau. Hampir saja suntikan obat masuk kedalam tubuhku." Celatu Yi Fan.
" Bukan itu, dengarkan aku dulu!" Kris meninggikan suaranya.
" Lalu apa?" Yi Fan menatap Kris.
" Aku ingin kepantai, bawa aku kesana." Kris terdengar merengek. Yi Fan menghentikan jemarinya yang sedang bergerak-gerak di atas layar handphone hitamnya.
" Tunggu sampai musim panas, cuaca saat ini tidak baik untuk kesehatanmu." Yi Fan berdiri dan duduk dipinggir tempat tidur Kris.
" Menunggu musim panas? Bahkan aku tidak tahu sampai kapan aku akan melihat wajahmu." Kris mendengus kesal, dan beralih memunggungi Yi Fan.
" Hei, Kris, aku hanya tidak ingin hal buruk terjadi padamu, kau tahukan diluar banyak sekali virus berterbangan , yang tidak bisa kau lihat, kami hanya ingin kau baik-baik saja." Yi Fan mengusap pelan punggung Kris.
" Tapi nyatanya aku tetap tidak baik-baik saja Yi Fan! Entah sudah berapa kali Dokter mengatakan 'Kau akan sembuh' tapi nyatanya, Leukemia ini semakin menjadi, mimisan, tulangku sakit, pusing, obat yang pahit, pengobatan yang menyakitkan, aku lelah Yi Fan." Sepertinya Kris sedang buruk suasana hatinya, Yi Fan yang duduk menatap punggung saudara kembarnya hanya bisa diam menahan tangis, karena ia yakin Kris pasti sudah menitihkan airmata, terlihat dari punggungnya yang sedikit terlihat bergerak.
Touch Love
"Chanyeol hyung, sepertinya kita salah memilih tempat makan." Ujar Tao setelah melihat arah mobil Chanyeol menuju.
Chanyeol tersenyum melihat Tao yang terlihat bingung, Chanyeol membawa Tao ke Hotel ternama yang disana terdapat restaurant yang terkenal akan menu makan malam yang romantis dan mahal.
" Tidak perlu berpikiran yang macam-macam dulu sayang, aku membawamu ke Hotel bukan untuk tidur tapi untuk makan seperti rencana awal kita." Ujar Chanyeol setelah menghentikan mobil didepan Hotel. " Ayo keluar."
Seorang maid dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Chanyeol dan Tao, Chanyeol menyerahkan kunci mobilnya untuk di parkirkan pada salah seorang maid, dan seorang maid lainnya memberi arahan untuk mengikutinya. Chanyeol segera menggandeng tangan Tao yang masih terlihat bingung dan terkagum melihat Hotel mewah yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya.
" Chanyeol hyung, kita hanya akan makan malam untuk apa ke tempat ini? Dan kenapa kau tidak bilang terlebih dahulu, aku bahkan tidak memakai baju yang bagus." Ujar Tao yang terdengar seperti orang yang benar-benar belum pernah memijakkan kaki ke Hotel mewah seperti ini.
Lagi-lagi Chanyeol tersenyum melihat keluguan kekasihnya, ia menghentikan langkahnya dan menghadap kearah Tao.
" Nanti kau akan tahu, kenapa aku mengajakmu kemari, dan apapun yang kau pakai, kau tetaplah mutiara hitamku." Ujar Chanyeol, yang sukses membuat Tao bersemu merah, dan menundukkan kepalanya. Suara batuk dari maid yang membawa mereka masuk kedalam hotel membuyarkan Chanyeol yang malah sibuk memandangi Tao.
" Ayo kita jalan lagi." Ajak Chanyeol dan diangguki oleh Tao.
Touch Love
" Iya, malam ini aku akan tidur disini, tentu. Selamat malam Ayah."
Pip
Yi Fan menutup sambungan panggilan dari sang Ayah yang menelponnya menanyakan kabar dari kembarannya.
Yi Fan menatap Kris yang sudah terlelap tidur setelah tadi sempat menangis.
Dibenarkannya selimut yang menutup separuh badan Kris.
" Kau harus kuat, Kris." Lirih Yi Fan.
Flashback On
Satu Tahun Sebelumnya…
" Kris." Panggil Yi Fan yang melihat Kris terduduk dikursi roda menghadap ke depan jendela kamar rawatnya.
"Aku ingin sendiri." Jawab Kris tanpa melihat kearah saudara kembarnya.
" Maafkan aku." Ujar Yi Fan.
Kris tetap tidak bergeming ia tetap menatap kearah luar menatap hujan.
" Aku rela kau membagi penyakitmu padaku, agar kita selalu sama, kau sakit seperti ini, aku juga harus seperti mu." Ujar Yi Fan lagi, yang perlahan melangkahkan kakinya.
" Bodoh." Sahut Kris.
" Kau tahu itu sudah lama kan? Kris, aku mohon jangan menyiksa dirimu seperti ini." Pinta Yi Fan, karena melihat saudara kembarnya sama sekali tidak ingin oleh siapapun, sejak dua hari yang lalu, tepatnya setelah Kris tahu apa penyakitnya.
" Ada penyakit mematikan di tubuhku, dan aku tidak bisa mencegahnya yang kian mengerogoti tubuhku, berdiam diri di bangsal seperti ini, hingga waktu itu datang menghampiriku, begitu kan yang kalian inginkan dariku?" ujar Kris yang lagi-lagi tanpa melihat kearah Yi Fan yang kini sudah menangis mendengar curahan hati saudara kembarnya.
" Kenapa kau berfikir seperti itu ! kami lakukan ini karena kami ingin kau sembuh ! kami akan lakukan segala cara agar kau bisa bertahan dan sembuh dari penyakitmu !Kau tidak boleh menyerah dan putus ada begitu saja." nada bicara Yi Fan meninggi karena Kris terdengar menyerah dan putus asa.
Grep!
Kris merasakan lengan Yi Fan merengkuh tubuhnya, Yi Fan memeluk saudara kembarnya dari belakang, berharap pelukkannya dapat membuatnya merasa tenang.
Flashback Off
Touch Love
" Hyung, kenapa tempat ini sepi sekali?" Tanya Tao saat kini keduanya sudah duduk di tempat yang sepertinya hanya ada mereka berdua.
Chanyeol tersenyum mendengar pertanyaan lugu dari kekasihnya.
" Aku sudah memesan tempat ini hanya untuk kita berdua saja malam ini." Jawab Chanyeol yang tidak ingin membuat sang kekasih terlihat kebingungan.
" Hyung, kau memesan tempat seluas ini hanya untuk kita berdua? Makan malam?" Tao mengulangi jawaban Chanyeol.
Chanyeol mengangguk dan tersenyum
" Kau suka tempat ini?" Tanya Chanyeol.
Tao mengangguk dan menundukan kepala.
" Kau kenapa sayang?apa ada yang salah?" Tanya Chanyeol cemas saat melihat Tao tertunduk dan diam. Dia beranjak dari duduknya dan berjongkok disamping Tao duduk, di angkatnya dagu Tao, ia terkejut saat melihat Tao menitihkan airmata.
" Sayang, apa ada yang salah dengan ucapanku? Apa aku salah lakukan ini? Aku hanya ingin membuat suasana makan malam kita berbeda dari biasanya, kau tidak menyukainya? Bagaimana kalau kau saja yang memilih tempat makan malam kita malam ini, atau kita pulang?."
CUP!
Perkataan Chanyeol terhenti karena kecupan dari Tao tepat di bibir Chanyeol yang terus berujar.
" Terima kasih. Aku menyukai tempat ini, dan aku menyukai kejutan yang Hyung siapkan." Ujar Tao setelah melepas kecupannya.
Chanyeol tersenyum dan memeluk Tao sejurus kemudian.
" Jangan menangis lagi, kau membuatku cemas." Chanyeol mengusap pelan pipi Tao membersihkan airmata Tao dengan jemarinya. Tao tersenyum. Chanyeol kembali duduk di tempatnya, dan mulai memanggil maid yang sudah ia minta untuk menyiapkan dinner romantisnya dengan Tao. Malam itu Tao dan Chanyeol hanyut dalam suasana makan malam yang romantic, Tao tidak menyangka ternyata kekasihnya bisa seromantis ini.
" Mereka ada disini Nyonya, aku segera saya bereskan. Hanya perlu waktu yangtepat untuk melancarkan rencana." Ujar seseorang berpakaian serba hitam lengkap dengan kacamata hitam tengah berkomunikasi dengan seseorang via handphone genggamnya.
Touch Love
i
Tidur seorang pemuda tampan terganggu saat mendengar suara langkah kaki didekatnya, ia membuka matanya perlahan, menyipit saat melihat Kris berdiri di samping ia tidur, di sofa.
" Kris." Seru Yi Fan yang terkejut melihat Kris berdiri disampingnya dengan tiang infuse sebagai penyangganya dan tidak lupa, Kris tersenyum pagi ini untuknya.
" Kau sudah bangun? Apa aku membangunkanmu?" Kris bertanya, Yi Fan bertambah heran mendengar pertanyaan Kris yang entah kenapa hal ini tidak biasa ia lakukan.
" Eum tidak, aku memang sudah saatnya bangun, kenapa kau turun dari tempat tidurmu? Kau bisa memanggilku jika butuh sesuatu." Tegur Yi Fan sembari berusaha duduk disofa yang ia gunakan untuk tidur dan menyikap selimut yang ia gunakan semalam.
" Aku hanya kekamar mandi, selagi aku masih bisa lakukan itu sendiri, kenapa tidak ku lakukan." Tukas Kris selagi jalan menuju tempat tidurnya lagi.
" Kau baik-baik saja kan?" Tanya Yi Fan memastikan karena ia merasa ada yang berbeda dengan diri Kris.
" Tentu saja, aku merasa lebih baik hari ini, tidak seperti hari kemarin, cepat sana kau cuci muka, kau bau!" suruh Kris.
Yi Fan mendengus dan tersenyum mendengarnya, ia kemudian bangkit dan menuju kamar mandi untuk melakukan apa yang Kris perintah.
Kris terdiam menatap sinar mentari pagi yang sudah mulai meninggi, ini baru pukul 6 pagi, tidak biasanya Kris bangun sepagi ini itulah pemikiran yang terlintas di benak Yi Fan tadi.
Flashback
Kris bergerak gusar di tempat tidurnya saat ia terbangun karena merasa hidungnya sulit untuk bernafas, Kris segera bangun untuk mendudukkan dirinya.
Ia raba hidungnya dengan jemari telunjuknya saat merasa ada sesuatu yang bergerak di atas bibirnya.
Mata Kris membulat saat melihat telunjuknya berlumuran cairan pekat berwarna merah, darah. Ia ingin membangunkan Yi Fan namun suaranya tercekat saat sesuatu mendesak keluar dari tenggorokannya, di bekaplah mulutnya dengan tangan yang sudah ia gunakan untuk mengusap darah dihidungnya, tak tega melihat Yi Fan yang masih lelap tidur, ia berusaha menuju kamar mandi untuk membersihkan darahnya, dengan pelan-pelan tanpa menimbulkan suara.
Kris membungkuk di depan wastafel dan memuntahkan sesuatu yang begitu terasa getir dari mulutnya. Kris memejamkan matanya sesaat setelah ia melihat apa yang baru saja keluar dari mulutnya.
Dipegangnya kuat tiang infuse, menahan dirinya agar tidak goyah, ia tersenyum menatap pantulan dirinya didepan cermin, hidung berdarah dan bibir yang yang tertutup darah, airmata lolos membasahi pipinya.
" Aku masih ingin hidup." Lirihnya.
Flashback end.
" Kris." Panggil Yi Fan.
Yi Fan menoleh kearah Yi Fan yang ada disampingnya.
" Ada apa?"
" Hari ini aku ada kuliah, tak apa? jika ku tinggal kau sendiri? begitu selesai kuliah aku akan segera kesini." ucap Yi Fan berhati-hati, karena seperti biasanya Kris akan mendengus sebal jika ditinggal sendiri.
" Kau berangkat saja, tidak perlu terburu kesini, selesaikan dulu urusanmu, lagi pula aku sudah terbiasa sendiri, kau lupa ya?" Kris berujar dengan senyum.
Yi Fan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia merasa ada yang janggal mendengar jawaban Kris. Karena tidak biasanya Kris akan menjawab seperti ini, biasanya Kris akan merengek dan berubah kesal.
" Kau yakin kau tidak apa-apa?" Tanya Yi Fan memastikan lagi.
" Kau cerewet sekali, sudah sana pergi." Kris berdecak sebal karena Yi Fan yang masih enggan melangkah keluar, Yi Fan tersenyum melihat Kris yang kesal karenanya.
" Baiklah, dan baru sja kau mengusir adikmu sendiri? Aishh.." Yi Fan berpura kesal melihat Kris yang mulai tidak bersahabat.
Kris hanya tersenyum dan memilih memalingkan wajahnya, tak menghiraukan Yi Fan yang mendengus kesal saat melangkah kearah pintu.
" Aku hanya ingin melakukan apa yang belum pernah kulakukan selagi aku masih bisa melakukannya." Batin Kris.
Touch Love
Dering nada handphone mengejutkan pria muda yang tengah berjalan menuju tempat ia bekerja, sesaat setelah ia turun dari bus.
"Chanyeol hyung?" gumamnya saat membaca nama yang tertera di layar handphonenya.
Klik!
" Ha.." ucapannya terhenti saat seseorang di sebarng sana menyela.
" Zi Tao, kenapa kau tidak membangunkanku, hari ini aku akan mengantarkanmu ke rumah sakit."
Tao tersenyum mendengar suara Chanyeol yang terdengar seperti sedang gusar.
" Tidak perlu Hyung, aku bisa berangkat sendiri lagipula semalam kau sudah mengantarku pulang, dan pasti kau lelah jika pagi ini harus sudah mengantarku, maaf aku tidak memberitahumu jika aku berangkat pagi sekali ini."
" Aku tak apa sayang, meski aku harus mengantarkanmu ke China dan kembali lagi kesini, aku bersedia, asalkan aku selalu dekat denganmu."
Pipi Tao bersemu merah saat mendengar ucapan Chanyeol yang terdengar sedikit manja dan menggelitik perutnya, sikap Chanyeol yang seperti inilah terkadang membuat Tao rindu akan sosok Chanyeol.
" Terlalu dekat denganmu membuat ku merinding Hyung." Tao menggoda Chanyeol.
" Apa! kau bilang? Aish,, awas kau, tunggu pembalasanku." Ucap Chanyeol tidak mau kalah.
" Pergilah mandi, kau bau, bye Chanyeol hyung."
Pik!
Tao mengakhiri percakapan sepihak, dengan senyum menghiasi bibir curve-nya, ia memasukkan kembali handphone ke saku dan melanjutkan perjalanannya kearah rumah sakit yang hanya tinggal beberapa meter.
Tao berjalan memasuki gerbang dengan senyum setiap ada pegawai lain yang menyapanya, ia begitu murah senyum, begitulah pendapat orang yang mengenalnya.
Ia terus melangkah menuju tempat ia bekerja, tak tahu jika dari balik kaca sebuah ruangan yang menghadap kearah depan terlihat seseorang yang juga tersenyum melihat dirinya.
-0-
" Tao!' panggil seorang wanita paruh baya pada Tao yang sedang berjalan membawa troli berisi nampan makanan untuk pasien.
" Iya, perawat Anh, ada yang bisa ku bantu?" Tanya Tao sembari mendekat kearah wanita itu.
" Iya, aku butuh bantuan mu, eum bisa kau antarkan sarapan ini untuk kamar VVIP nomor 305 dilantai 3 ?" ujarnya.
" Baiklah akan ku antarkan." Sanggup Tao dengan senyum.
" Kau baik sekali Tao, seharusnya ini bukan tugasmu mengantar ke lantai 3, tapi aku tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa handphoneku tertinggal di loker, dan aku diburu laporan yang belum kuselesaikan, ditambah tidak ada perawat shift pagi yang lewat sini." Kata Perawat Anh yang memang sedikit agak cerewet.
" Tidak apa Perawat Anh, lagipula mengantar makanan pasien memang tugasku." Tukas Tao, sembari menerima nampan berisi makanan yang di bawa perawat Anh tadi.
" Sekali lagi terima kasih Tao, aku ke ruang kerjaku dulu. Semangat Tao."
Ta tersenyum dan mengangguk, ia letakkan nampan itu di troli yang ia bawa. Dan segera melanjutkan tugasnya.
Lantai 3
Tao mendorong troli dengan sisa satu nampan untuk kamar VVIP. Tao sedikit bingung mencari nomor kamar tersebut karena memang bukan bagian Tao lantai 3 dan kamar VVIP ini, ia bisa bertugas di lantai 1 dan 2, meskipun ia kadang menyelinap ke lantai paling atas gedung ini.
" Ketemu." Ujar Tao girang saat melihat pintu dengan panel angka 305.
Tok!
Tok!
Tok!
" Masuk." Sahut seseorang dari dalam. Tao segera membuka pintu tersebut dan mendorong pelan trolinya.
" Sarapan anda datang Tuan…." Ucapan Tao terhenti saat ia melihat seseorang yang tidak asing baginya.
" Kau…." Sahut pria yang juga tetegun melihat seseorang datang dengan troli dan nampan sarapannya.
-0-
'CUT'
Huuaaa ,,, akhirny saya update juga hahaha :D
Maaf yang sudah review tidak bisa balas satu-satu, terima kasih review kalian sudahs saya baca^^ dan itu sungguh membuat saya selaku Author gregeten hahaha :D
Maaf ini tidak panjang, ini membosankan, tapi emang baru sampe sini otak saya nyampenya.
Semoga bisa update kilat ^^
Sekali lagi terima kasih :D
Salam KrisTao Shipper.
Kode-kode KT bikin greget :v hahaha
-Flame Keyoon Hun-
