MISSION IMPOSSIBLE
© BluePrince14
Declaimer
The character isn't mine. But this fic is belongs to me.
Main cast
Kyuhyun/Donghae
Genre
Romance/Supernatural/Fantasy/Action
Warning!
Alternate Universe, Out of Characters, YAOI, Crack Pair. Miss Typo.
DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
―o0o―
.
.
Donghae menguap di kursinya, merasakan matanya berair karena sudah terlalu mengantuk. Rasanya seluruh inci bagian tubuhnya terasa pegal setelah menghabiskan waktu satu setengah jam duduk demi membuat laporan kasus yang tengah ia tangani saat ini. Laporan kasus kliennya―Jessica Jung―yang diminta oleh Leeteuk sebagai salah satu bagian dari tugasnya. Donghae, menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku sambil melirik jam. Tepat pukul dua malam. Pantas saja ia mengantuk.
Suara printer yang sedang mencetak hasil kerjanya terdengar memenuhi ruangan. Sambil meraih cangkir kopi yang berada di atas meja, ia melihat hasil kerjanya. Donghae mendesah saat mendapati cangkir kopinya sudah tandas. Ia haus.
Setelah memastikan semuanya sudah tercetak, cepat-cepat ia matikan laptop dan membiarkannya begitu saja di atas meja. Bangkit berdiri dari duduknya sambil kembali menguap dan meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. "Saatnya tidur," gumamnya dengan perasaan lega luar biasa. Ia meraih kertas-kertas itu dan merapikannya. Meletakkan hasil kerjanya di atas TV yang ia lewati saat hendak mengambil minum di dapur.
Donghae, yang sejak kecil punya kekaguman pada tokoh-tokoh dalam film action, memang menyukai pekerjaannya sekarang―sebagai pengawal pribadi. Baginya itu sungguh terdengar sangat keren. Aksi-aksi seperti tadi memang selalu menjadi rutinitasnya setiap bertugas, benar-benar menyenangkan. Saling kejar, menodongkan pistol, berkelahi. Benar-benar memacu adrenalinnya. Tapi meski begitu, selalu saja ada hal yang tak menyenangkan dari pekerjaannya. Karena jika satu tugas telah selesai ia tangani, itu berarti saatnya ia untuk duduk di depan komputer berjam-jam untuk membuat laporan. Ugh, tidak keren.
Donghae merogoh saku dan mengambil ponselnya, ia menggunakan satu tangannya yang bebas dari cangkir yang ia pegang. Ada sebuah pesan. Dari Eunhyuk―yang merupakan wakil pemimpin perusahaan tempatnya bekerja sekaligus kawan karibnya―yang mengatakan bahwa tugasnya untuk kliennya saat ini, Jessica Jung, telah dianggap selesai.
"Akhirnya...," desah Donghae lega. Sudah dua bulan lebih ia menjalani tugas ini dan ia, yang hanya berperan sebagi pengawal pribadi saja, sudah merasa tidak tahan. Bukan, bukan karena terbebani oleh pekerjaannya. Hanya saja ancaman-ancaman yang datang selalu membuatnya bergidik. Benar-benar melewati batas. Berpuluh surat ancaman mengerikan―yang tak jarang ditulis dengan darah, paket berisi hal tak wajar, teror, rencana penculikan dan yang terakhir percobaan pembunuhan. Donghae bahkan tak sanggup membayangkan jika harus hidup seperti itu. Para Antis itu benar-benar mengerikan.
Tak ingin memikirkan lebih lama―toh, itu bukan urusannya lagi sekarang, Donghae beranjak meninggalkan dapur setelah menaruh cangkir bekas pakainya di wastafel. Matanya tiba-tiba saja berbinar saat teringat dengan apa yang akan ia dapatkan esok. Tugas berakhir berarti ia akan mendapatkan gaji. Dan tentu saja, cuti! Ugh. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali mengunjungi pantai―tempat yang paling ia sukai―untuk sekedar liburan.
Donghae naik ke ranjangnya dan berbaring dengan senyum lebar yang tak bisa hilang. Tak sabar menunggu esok hari datang. Setelah berdoa dalam hati dan menarik selimut hingga sebatas dagu.
Ia memejamkan mata dan terlelap.
.
.
―o0o―
.
.
Ruangan luas bernuansa putih gading itu nampak senyap, meski kini tiga orang berada di sana. Salah satu dari mereka―yang kini duduk di balik meja kayu berukirnya namapak berfikir. Wajahnya menampakkan ekspresi yang tak enak pada kedua tamunya. "Maafkan aku, tapi Donghae-shi baru saja selesai dengan tugas sebelumnya dan sudah saatnya ia mengambil cuti," jelasnya, mencoba memberi pengertian.
Salah satu penghuni ruangan lain, yang kini duduk di sofa yang berhadapan dengan meja nampak tak terima. "Buatlah pengecualian untuk yang satu ini, Eunhyuk-shi," pintanya sambil berdiri menghadap pada sosok pemilik ruangan itu. Ia melirik sosok lain yang kini hanya terdiam bersender pada sofa tanpa berucap. Sosok tampan yang harus ia sesali, kenapa harus begitu kelewat keras kepala. "Kyuhyun-shi hanya menginginkan Donghae-shi yang menjadi pengawalnya," lanjutnya lagi.
Eunhyuk nampak bimbang. Ia merasa posisinya sangat tak enak. Sebenarnya tak masalah jika ia mengabulkan permintaan mereka begitu saja, tapi lain hal karena kali ini ia sudah berjanji pada sang sahabat. Donghae, ia memang sama sekali belum menikmati masa cutinya selama setahun ini. "Masih banyak yang bisa melakukan tugas ini, jadi kena―"
"Tidak," potong Kyuhyun cepat. Ia yang sedari tadi terdiam akhirnya membuka suara juga. Nada suaranya terkesan datar, begitupun ekspresinya. Tangannya bergerak melepas kacamata hitam yang sedari tadi ia kenakkan. "Aku tidak mau jika itu bukan dia," lanjutnya lagi dengan sedikit jengah, tak cukupkah penjelasan sang manager sehingga ia harus menegaskannya? Ia tak punya banyak waktu.
"Aku akan membayar berappapun," lanjutnya, Kyuhyun tersenyum manis meski begitu tatapannya tajam. Dan Eunhyuk meneguk ludahnya kasar saat mendapati tatapan itu. Sementara Heechul―sosok satu lagi di ruangan itu, yang merangkap sebagai manager Kyuhyun―hanya bisa menghela nafas merasakan suasana menjadi tak enak seperti ini.
Jeda...
"Hhhh...," helaan napas terdengar, "Baiklah. Tapi beri aku alasan yang logis atas permintaanmu, Kyuhyuh-shi. Maka aku akan mempertimbangkannya," ujar Eunhyuk kemudian. Sudah tak peduli jika Donghae akan mencekiknya karena melangar janjinya lagi. Bagiamanapun ini demi citra perusahaan dan keselamatan orang lain 'kan?
Oh, Eunhyuk hanya berdoa semoga saja sahabatnya itu bisa mengerti.
.
.
―o0o―
.
.
Menyebalkan, menyebalkan, menyebalkan.
Entah sudah berapa banyak Donghae mengulang satu kata itu hari ini, semenjak dirinya bangun di pagi yang ia kira akan menjadi hari terindahnya tahun ini dan mendapati sebuah pesan dari Eunhyuk, yang menyatakan bahwa sekarang Donghae akan menjalankan tugas barunya dan penundaan masa cutinya. Donghae menggeram, kesal dengan keputusan sepihak sang kawan karib yang sekaligus merangkap bosnya itu. Setelah semua angan akan hari cuti yang akan ia habiskan dengan hal-hal menyenangkah yang sejak kemarin ia bayangkan, kini ia harus menelan pil pahit dari sebuah kebohongan. Ugh, tidak keren.
Donghae berjalan menuju kantor sang bos dengan kaki menghentak, persis seperti anak kecil yang tengah merajuk. Sebenarnya ia tak berniat muncul di kantor pagi-pagi begini, memilih untuk datang saat sore saja untuk mengambil gaji dan surat cuti. Tapi nyatanya keingintahuannya akan alasan Eunhyuk akan pembatalan itu memaksanya. Dengan sekali ayun ia membuka pintu.
"Hyuk," panggilnya ketus. Ternilai tak sopan jika ditujukan pada wakil bos sebenarnya, tapi Eunhyuk sahabatnya dan yang terpenting ia sudah melanggar janjinya. "Apa maksudmu dengan tugas baru untukku?" tuntut Donghae to the point. Ia menghempaskan diri di sofa di depan Eunhyuk.
Eunhyuk menghela nafas sebelum menampilkan ringisan senyum. "Seseorang datang pagi ini dan memintamu secara khusus jadi―"
"Kau bisa membatalkan janjimu begitu saja, begitu?" potong Donghae cepat. Eunhyuk mengkeret di tempat. "Harusnya kau memebela hakku, Hyuk," keluhnya lagi. Merasa terkhianati.
Euhyun menghela nafas lebih berat kali ini. "Sudah aku lakukan sebisaku, tapi klien ini memang hanya ingin kau yang menangani kasusnya," jelasnya lagi, ia tersenyum saat tahu apa yang kiranya bisa sedikit meredakan kemarahan temannya itu. Maka dari itu, setelah mendapatkan map yang dimaksud ia langsung menyodorkannya pada Donghae yang menerimanya dengan heran.
"Apa ini?"
Eunhyuk tersenyum, "Surat kontrak. Kau hanya perlu tanda tangan dan menuliskan nominal yang kau inginkan. Ia berjanji akan memberikan berapapun yang kau mau untuk tugas ini."
"Berapapun?" Donghae nampak tak bisa percaya saat Eunhyuk mengangguk semangat.
Benar 'kan? Setidaknya ia tidak jadi mati di tangan sahabatnya itu, batin Eunhyuk sambil menyunggingkan senyum miris.
Donghae nampak berfikir sejenak sebelum menghela nafas dan mengalah, "Baikah..." desahnya sambil menyimpan map itu, ia bisa menandatangani itu nanti sambil memikirkan berapa banyak uang yang akan ia minta pada sang klien. Yang kali ini tentu saja tak akan segan-segan menulis berapa banyak nol untuk itu, sebanyak mungkin kalau perlu. Sekedar balas dendam. "Lagipula masih banyak yang bisa menerima tugas ini, tapi kenapa harus aku? Aneh sekali...," tanya Donghae tak mengerti.
"Sudah aku bilang dia hanya ingin kau yang menangani tugasnya. Karena ia bilang ia hanya bisa percaya padamu―yang telah ia kenal dan telah menyelamatkan nyawanya," ujar Eunhyuk sambil mengangkat bahu, memutar-mutar kursi yang ia duduki di tempat. Memang biasanya jarang sekali ada permintaan khusus seperti ini, karena pada dasarnya semua agen dibawah naungan perusahaannya sama sekali tak ada yang mengecewakan. Sekalinya ada... membuat repot sekali. "Memang kau mengenalnya, Hae? Kenapa dia sampai ngotot begitu."
Donghae mengerut alis, "Siapa namanya?
"Cho Kyuhyun."
Donghae nampak berfikir sejenak, sebelum membuka mulutnya membentuk o besar. "Dia 'kan tamu yang ada di pesta Jessica kemarin…," Eunhyuk Nampak terkejut sesaat namun mengangguk mengerti kemudian. "Mungkin untuk masalah menyelamatkan nyawa memang benar, tapi untuk mengenal... aku bahkan hanya tahu namanya saja dan itupun baru kemarin," jelas Donghae yang kini mulai membuka map dan membubuhkan tanda tangannya di atas kertas bermaterai.
"Aneh juga ya..." gumam Eunhyuk yang tak ditanggapi oleh Donghae yang kini tengah sibuk membuat angka nol berjajar di kertas, benar-benar balas dendam sepertinya. Alis Eunhyuk terangkat tinggi melihat kawannya itu. Khawatir juga sebenarnya. "Hei, Hae... kau tidak boleh meminta terlalu banyak, sepuluh kali lipat dari harga biasa cukup 'kan?" Eunhyuk mengingatkan. Snut. Snut. Tapi tiba-tiba saja alisnya berkedut kesal mendapati respon Donghae yang menjulurkan lidahnya seakan tak peduli dengan ucapannya.
"Ngomong-ngomong," ujar Donghae setelah selesai dengan kertasnya, ia menatap Eunhyuk. "Apa masalah dari 'Cho Kyuhyun' ini sebenarnya? Sepertinya ini masalah yang benar-benar serius mengingat ia berani memberikan imbalan berapa saja begini…"
Eunhyuk mengangkat bahu, "Katanya ada beberapa orang yang mengincarnya."
"Hanya 'beberapa'?"
Eunhyuk mengangguk.
Donghae menyeringai senang. "Kalau begitu tugas ini akan mudah. Dan aku akan mendapatkan masa cutiku lebih cepat," ujarnya girang.
Hening…
Eunhyuk meneguk ludahnya kasar sebelum mengumpulkan keberaniannya. "Ahh, omong-omong tentang itu, Hae..." Donghae menoleh, "Aku lupa untuk memberitahumu jika… eum… jika… batas waktu tugas ini tak di tentukan." Eunhyuk meringis menatap Donghae yang membelalakkan matanya saat mendengar itu. Tiba-tiba saja Eunhyuk merasa menelan ludahnya sendiri sangat susah. Ia bahkan tak berani mendongak dan menatap kawannya itu. "Kau… kau akan bekerja pada orang ini sampai orang ini yang menyatakan tugasnya selesai."
Hening…
.
.
Donghae terdiam.
.
.
Masih hening…
.
.
Alis Donghae berkerut. Donghae menatap Eunhyuk
.
.
Hening la―
Donghae seketika berdiri dengan syok dan melempari Eunhyuk dengan bantal sofa dan benda-benda di sekitarnya tanpa belas kasihan. Wajahnya benar-benar merah menahan rasa kesal.
"KENAPA KAU TIDAK BILANG SEJAK AWAL?!"
Duk. Duk. Duk.
"HYUK! KAU TEGA SEKALI PADAKU!"
Eunhyuk sudah pasrah. Ia hanya bisa menjadikan kedua tangannya tameng untuk melindungi wajahnya dari benda-benda melayang itu sebelum mencoba mempraktekkan dance dari lagu sorry-sorry agar sahabatnya itu tak jadi mencekiknya.
.
.
―o0o―
.
.
Donghae memandang kertas kecil di genggaman tangannya dengan tatapan penuh dendam. Grrrhh. Sungguh sebenarnya kertas putih kecil itu sama sekali tak berdosa, itu hanyalah secarik kertas berisi alamat yang akan menjadi rumah klien barunya. Rumah Cho Kyuhyun, si pemuda yang telah membuatnya kehilangan masa cuti yang sudah setahun tak ia rasakan. Oh ya ampun, sepertinya ia harus mulai melupakan masalah ini jika tak ingin terus-terusan menjadi pendendam dan berakibat pada wajahnya yang baby face ini.
Setelah memasukkan semua peralatan keamanan dan menyiapkan pakaiannya dalam dua tas berbeda, Donghae mulai melangkah keluar dari apartemennya. Ia memang akan memindahkan tempat tinggalnya untuk sementara waktu ke rumah sang klien, seperti biasa. Apartemennya itu bahkan baru ia tinggal dua hari dan sekarang harus ia tinggalkan lagi. Kejam sekali. Meski apartemennya ini tidaklah terlalu besar dan jauh dari kata mewah, bagi Donghae inilah rumahnya. Karena ia sudah menempati tempat ini hampir lima tahun hidupnya.
Donghae memang hanya seorang anak yatim piatu, berasal dari sebuah panti asuhan pinggir kota. Hidupnya dulu sangatlah malang, perlakuan semua orang di panti asuhannya sangatlah tidak baik sehingga ia memutuskan untuk kabur dan pergi ke kota. Kelaparan dan luntang-lantung di jalanan hampir seminggu sebelum di selamatkan sosok itu―sosok yang sama yang kini menjadi bosnya. Sosok yang membiayai semua hidupnya, mengajarinya berkelahi, memegang pistol dan bertahan hidup.
Donghae tersenyum, mengingat orang itu. Ia… sangat mengagumi sosok itu.
"Apa yang aku pikirkan…," gumamnya sambil menggeleng, mengusir semua kilasan balik hidupnya yang tiba-tiba saja terlintas. Sekali lagi, setelah memastikan semua barang bawaannya tak ada yang tertinggal ia berjalan ke luar.
.
.
.
.
.
Donghae pergi dengan menggunakan taksi. Dan tak perlu waktu terlalu lama untuk sampai di tempat tujuannya. Taksi yang membawanya membuat ia sampai di depan rumah yang tak terlalu besar namun terlihat begitu mewah dan asri. Benar-benar tipikal orang kaya. Tak heran juga sih, mengingat kliennya kali ini juga tak jauh bebeda dengan yang sebelumnya. Sesama entertain yang sedang begitu populer.
Donghae menunggu cukup lama di luar gerbang setelah memencet bel beberapa kali.
Dan saat sosok itu muncul untuk membuka gerbang, Donghae hanya bisa terkaget. Kliennya sendiri yang datang dengan santai dan membukakan gerbang untuknya. "Masuklah," ujar sang pemilik rumah mempersilahkan.
Donghae mengangguk dan masuk dengan cepat. Sosok itu masih sama dengan sosok yang dua hari ia lihat saat di pesta Jessica, mungkin yang membedakan adalah karena sekarang ia terlihat lebih muda tanpa jas formalnya. Yah, kalau ia tidak salah sosok itu memang lebih muda darinya dua tahun. "Kemana semua orang?" tanya Donghae begitu mereka berada di ruangan bagian dalam. Sesaat setelah Kyuhyun mempersilahkannya untuk duduk dan menawarinya minum yang ia tolak dengan sopan.
Kyuhyun menyandarkan tubuhnya di sofa dan memandang Donghae dengan senyum geli, "Siapa maksudmu?" tanyanya balik.
"Tentu saja, penjaga rumah? Maid? Supir? Atau semacamnya, Tuan Cho?" balas Donghae malas. Ia menatap Kyuhyun. Kyuhyun menyelanya dengan menyuruh Donghae memanggilnya dengan Kyuhyun saja, yang direspon Donghae dengan mengangguk. Matanya menajam kemudian, "Tidak mungkin kau tidak memiliki mereka, 'kan?" tanyanya asal, meremehkan karena kliennya mengajaknya bergurau.
Tapi Kyuhyun tertawa, mengangguk dan membenarkannya. "Aku memang tidak punya," balasnya santai.
Donghae memandangnya tak percaya. "Tidak lucu," komentar Donghae.
"Aku memang tidak sedang melucu, Donghae-shi," timpal Kyuhyun sambil memandang pengawal pribadi barunya itu dengan tatapan geli. Kenapa ia begitu lucu? "Aku tidak suka ada orang asing yang menginjakkan kaki mereka di rumahku, makanya aku tak mempekerjakan mereka."
Oke, itu aneh.
Dia bilang, dia tidak suka jika ada orang asing yang menginjakkan kakinya di rumahnya ini. Lalu, bagaimana dengan Donghae? Bukankan ia termasuk dari salah satu orang asing itu, eh? Lagipula ia belum pernah mendengar ada seorang entertain yang seperti ini―tanpa maid, tanpa supir, tanpa penjaga kebun. Bukankah itu berarti ia mampu memenuhi kebutuhannya sendiri? Wow. "Jadi... kau serius tinggal sendiri di sini, begitu?" tanya Donghae sekedar untuk mengkonfirmasi. Masih sedikit sangsi juga sebenarnya.
Kyuhyun mengangguk, "Tadinya. Tapi sekarang kau juga tinggal di sini 'kan?"
Ahh, benar juga.
Baiklah, baiklah. Lupakan semua hal tak penting itu. Ia di sini untuk bekerja dan bukannya untuk mengurusi hidup sang entertain yang agak unik―jika tak mau disebut aneh―ini. Donghae meraih satu tasnya dan mulai mengeluarkan alat-alatnya. "Jika tak keberatan, bolehkah aku mulai menjalankan tugasku dengan memasang semua ini di rumah Anda ini? Kyuhyun-shi?" pertanyaan ini sekedar formalitas sebenarnya. Tanpa persetujuan mereka sekalipun ia masih akan memasangnya sebagai peraturan pengamanan dasar.
"Silakan," izin Kyuhyun sambil menyunggingkan senyum, "Aku bisa membantu."
Dan Donghae menerima bantuan itu dengan senang hati tentu saja! Siapa yang akan memegangi tangga saat ia memasang CCTV ini jika tak ada orang lain 'kan?
Dan mereka mulai memasang di ruangan itu setelah Kyuhyun kembali membawa tangga. "Naiklah, aku akan memegangnya," ujar Kyuhyun.
Donghae menurut dan berbalik saat hendak menaiki tangga. Namun tiba-tiba saja bulu kuduknya merinding saat mendapati nafas panas berhembus di sekitar lehernya, karena sang klien yang memegang tangga berdiri begitu dekat dengan dirinya. Sementara itu di balik punggungnya, ia sama sekali tak menyadari seringai yang sosok itu tampilkan sambil memejamkan mata saat melakukannya. Mencoba mengabaikan perasaan menggigil yang tiba-tiba mendera tubuhnya, Dongahae naik ke atas dengan mudah.
Tak butuh waktu lama untuk memasangnya.
"AHH!"
Namun entah apa yang membuat Donghae begitu ceroboh, karena ia merasa kakinya tergelincir di empat tangga terakhir dan hampir saja terjatuh jika Kyuhyun tidak cepat-cepat menangkapnya yang berakhir dengan Kyuhyun yang memeluknya dari belakang.
"Kau tidak apa-apa, Donghae-shi?"
Deg... Deg... Deg...
Donghae merasa jantungnya berpacu saat itu, saat tahu ia hampir jatuh. Terlebih saat sebuah suara dan nafas panas tertiup di sekitar telinga kanan dan lehernya.
Diam-diam Kyuhyun menyeringai senang, mendapati sosok dalam pelukannya itu tiba-tiba menegang.
"A-aku tidak apa-apa," ujar Donghae cepat sambil menjauhkan diri. Kenapa tiba-tiba ia merasa gugup begini? "Terimakasih," ujarnya sambil membungkuk.
Yang dibalas Kyuhyun dengan senyum tipis.
.
.
―o0o―
.
.
Donghae merebahkan dirinya di kasur ruangan yang akan menjadi kamarnya setelah semua pekerjaan dengan CCTV dan semua sistem pengaman standar telah ia pasang. ia juga sudah membereskan barang-barang pribadinya, jadi Ia bisa istirahat sekarang.
Saat suara ketukkan pintu terdengar.
Donghae cepat bangkit dari tidurannya dan membuka pintu. Tak begitu terkejut mendapati Kyuhyun di sana―karena memang hanya dialah sosok lain yang berada di rumah ini. "Ada apa?" tanya Donghae begitu saja.
"Buatkan aku makanan."
Donghae mengangguk mengerti. Namun, baru saja ia akan melangkah menuju dapur dan hendak menutup pintu, ia pun sadar. Donghae kembali berbalik menghadap Kyuhyun yang masih tetap berdiri diam di tempatnya, menatapnya dengan alis berkerut heran. Donghae menghela nafasnya. Pasti ia salah dengar karena mengantuk. "Bisa kau ulangi permintaanmu, Kyuhyun-shi?" pintanya.
"Buatkan aku makanan," ulang Kyuhyun santai, kemudian berbalik sambil pergi berlalu. "Aku tunggu di kamar." Tambahnya.
Donghae membelalak. Tunggu. Tunggu sebentar―
"Sepertinya ada kesalahan di sini," protes Donghae yang membuat langkah Kyuhyun yang tadinya hendak pergi, berhenti mendadak.
"Apa?" tanya Kyuhyun sambil berbalik. Memasang tampak tak mengerti terbaik yang ia miliki.
Snut. Snut. Alis Donghae berkedut jengkel."Aku dipekerjakan menjadi pengawal pribadi, bukan?" Donghae memberi jeda Kyuhyun mengangguk, mengiyakan, "Lalu kenapa Anda menyuruhku untuk membuatkan makanan? Itu sama sekali tak ada dalam tugas seorang pengawal pribadi jika Anda belum tahu," sindir Donghae dengan ketus.
Diluar perkiraan, Kyuhyun malah menggelengkan kepalanya sambil menyunggingkan senyum meremehkan pada Donghae. "Bos-mu belum memberitahumu, eh, Donghae-shi?" tanya dengan seringai puas.
Memberitahu ap―
"Bahwa selain bertugas sebagai pengawal pribadiku, kau juga bertanggung jawab atas semua kebutuhanku selama bertugas. Itu tertulis dalam surat kontrak yang telah kau tandatangani. Donghae-shi," jelas Kyuhyun sambil kembali berlalu. Kali ini benar-benar pergi dengan seringai kemenangan, meninggalkan Donghae yang membeku.
Membatu dan tak bisa mengeluarkan sepatah katapun karena merasa tenggorokannya tercekat.
Surat kontrak?
Oh iya benar.
Donghae merasa sesuatu yang tak kasat mata menampar pipinya dengan begitu keras. Ia memang sama sekali tidak membaca isi surat kontrak itu saat ia menandatanganinya. Pikirannya terlalu sibuk pada jumlah nominal dan angka nol berjajar yang akan ia bubuhkan di kertas itu selanjutnya.
Bodoh. Bodoh sekali. Sejak kapan ia jadi bodoh begini? Donghae memejamkan matanya. "EUNHYUK...," geramnya dengan nada suara siaga satu.
Dan sungguh, jangan lupa ingatkan Donghae untuk benar-benar mencekik Eunhyuk saat mereka bertemu nanti.
.
.
―o0o―
.
.
Donghae tak tahu apa yang membuatnya mengalami hal―yang bahkan lebih buruk dari mimpi terburuk―ini. Belum pernah sama sekali ia membayangkan, demi apapun tidak pernah, diatas setelan jas hitam keren yang kini membalut tubuhnya ia akan menambahkan sebuah apron. Ugh, sama sekali tidak keren.
Setelah menaruh segelas susu di atas meja sebagai pelengkap terakhir, Donghae melepas apronnya dengan cepat, tak terlalu betah juga berlama-lama terlihat fenimin begitu. Ia bergidik membayangkan respon semua rekan kerjanya (terutama Eunhyuk) jika memergokinya berpenampilan seperti tadi. Ah, mengingat Eunhyuk malah mengingatkan dia akan kekesalannya. Donghae mendudukan dirinya di kursi sambil memainkan handphonenya. Sebenarnya ia sudah sangat lapar―cacing di perutnya juga sudah berdemo begitu ribut, mengingat dari semalam ia belum makan apapun. Tapi ia masih tahu diri untuk menunggu si pemilik rumah dan tidak memulai makan duluan. Ah, ngomong-ngomong tentang si pemilik rumah, kemana dia? Donghae mengangkat tangannya untuk melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Pukul tujuh lebih. Tsk, dasar. "Pemalas," dengusnya.
Ia kehabisan ide, kenapa rasanya bosan sekali? Ah ia masih memikirkan acara liburnya yang batal, rupanya.
Hingga lima menit kemudian―
Trap.
Trap.
Trap.
Pendengarannya menangkap suara langkah kaki mendekat, dengan gerakan malas dan enggan Donghae menoleh. Ia sudah mengira siapa yang datang, tapi ia cukup terkejut dengan tampilannya. Matanya membola. Ada apa ini? Kacau sekali. Kyuhyun seperti habis terkena badai―terlihat seperti sosok lain dengan rambut acak-acakan dan kemeja putih yang tak terkancing rapi. Belum lagi ekspresi yang memenuhi wajahnya. Terlihat seperti induk beruang yang kehilangan anaknya.
Donghae berdiri, "Ada ap―EHHHHH!"
Dan belum sempat ia menyelasaikan ucapannya, tubuhnya sudah terasa tertarik dengan paksa. Tangan Kyuhyun menyeretnya (benar-benar menyeretnya!) ke luar. Donghae menurut begitu saja karena terlalu terkejut tanpa bisa protes dan tahu-tahu kini sudah berdiri di luar. Tepat di hadapan sebuah mobil hitam yang terparkir anggun di halaman luar rumah.
"Masuk."
Brak.
Donghae menatap sosok Kyuhyun hingga kini sudah ia masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kursi kemudi. Tak bergeming, karena terlalu terkejut dengan apa yang terjadi beberapa detik lalu.
Jendela mobil terayun turun, Kyuhyun menatapnya jengah. "Cepat masuk," ketusnya.
Donghae berpindah dengan cepat ke sisi lain mobil lalu masuk dan memposisikan dirinya tepat di samping kursi pengemudi. Ia menghadapkan posisinya ke arah Kyuhyun.
"A―"
Kembali, ia merasa dirinya membeku dan tak bisa menyelesaikan kalimat saat Kyuhyun tiba-tiba mendekat ke arahnya. Mencondongkan tubuhnya dengan memakai tangan kanan sebagai topangan. Donghae menegang, merasa jantungnya berdetak berkali-kali lebih cepat saat mendapati wajah mereka begitu dekat, hanya berjarak beberapa senti. Ia bahkan bisa merasakan nafas hangat itu berhembus di sekitar wajahnya saat itu.
Sebuah seringai bermain di wajah Kyuhyun untuk sedetik. Dan
―Klek.
"Gunakan sabuk pengamanmu."
.
.
.
.
BRRRRRRRRRRRRRRMMMMM!
Roda mobil tampak berputar dengan cepat di tempat beberapa detik sebelum melesat begitu cepat meninggalkan kawasan rumah.
CKIIIITTTTTTT!
Dengan luar biasa cepat melewati tikungan hingga membuat Donghae terpelanting.
"YAAAAAAAAAAAA!"
.
.
―o0o―
.
.
Donghae kini tengah mendudukkan dirinya di samping stage, menunggu Kyuhyun. Duduk di salah satu kursi di ruangan itu, tepat di pojok yang sedikit gelap. Matanya sedari tadi tak berhenti mengawasi gerak-gerik Kyuhyun yang sekarang tengah melakukan sesi pengambilan gambar dengan ekspresi yang tak terdefinisi. Tatapan dendam ia layangkan saat ia kembali menyentuh bahunya yang tiba-tiba terasa sakit karena berbentur dengan jok mobil yang tiba-tiba melesat cepat saat mereka pergi ke sini tadi. Donghae menggerakkan bibirnya, mengumam sumpah serapah dalam berbagai bahasa yang sama sekali tak terlontar ke luar.
"Tsk. Gila."
Apalagi namanya jika bukan gila? Memacu mobil dengan kecepatan luar biasa cepat di jalan raya, menerobos lampu merah hingga hampir menyebabkan mereka masuk rumah sakit dan menerjang jalan pintas dengan tantangan berupa pedagang pinggir jalan, kucing yang hampir saja tertabrak dan anak-anak yang tengah bermain sebagai jalan alternatif yang ilegal untuk jadi lintasan balap dadakan. Dan semua itu karena ia bangun kesiangan dan telat datang pada jadwal pemotretan?!
Di mana otaknya?
Setidaknya, jika ia mau melakukannya, jangan bawa-bawa orang lain bisa tidak sih? Donghae hanya bisa bersyukur dirinya masih hidup sekarang―meski bahunya menjadi korban kebarbaran kliennya itu. Sepertinya ia punya jiwa pembalap liar yang tak tersalurkan, batin Donghae. Dasar pembalap liar gila.
"Hei."
Donghae bangkit begitu cepat―dan mengakhiri semua hal tentang kekesalannya pa Kyuhyun―begitu mendapati seseorang menyapa dengan nada ketusnya. Sesosok pemuda cantik yang nampak menatapinya dengan tatapan tajam.
"Jadi Kau Donghae? Pengawal pribadi baru Kyuhyun?" tanyanya.
Donghae mengangguk sambil membungkukkan badannya sedikit.
"Lain kali pastikan kau yang membawa mobilnya," lanjutnya sambil mengalihkan pandangan pada Kyuhyun yang kini sedang didandani stylish. "Dan jangan biarkan aku repot karena harus mengurusi surat peringatan dari polisi akibat ulahnya."
Donghae meringis sebelum mengangguk mengerti. "Baik." Ya, lain kali ingatkan ia untuk menjauhkan kunci mobil dari kliennya itu.
Sosok itu kembali mengalihkan padanya pada Donghae, mengamatinya begitu lekat dari atas hingga ke bawah dengan tatapan menilai yang membuat Donghae gugup. "Seleranya bagus juga...," gumam sosok itu pelan. Cukup pelan hingga tak sampai pada pendengaran lawan bicaranya.
"Aku Heechul omong-omong. Manager Kyuhyun," ujar Heechul kemudian, mengulurkan tangannya yang di sambut dengan baik oleh Donghae.
"Lee Donghae."
.
.
―o0o―
.
.
Kyuhyun diam-diam berusaha meyembunyikan senyumnya saat sang stylish mulai menandaninya. Pandangangannya jatuh pada dua orang yang kini menempati pojok ruangan sana, tepatnya pada satu sosok yang sejak kemarin resmi menjadi pengawal pribadinya yang baru. Masih bisa ia ingat dengan jelas, bagaimana ekspresi orang itu tadi, saat perjalan kemari.
Lucu sekali. Ia tak pernah mendengar suara teriakan semelengking itu sebelumnya. Sungguh benar-benar terlihat jauh dari kesan keren seperti saat pertemuan pertama mereka, saat ia menyelamatkan dirinya dan Jessica dari penjahat tempo hari.
"Apa yang kau tertawakan, Kyuhyun-shi?" tanya sang stylish dengan heran, masih sibuk dengan kegiatannya untuk membenarkan tampilan Kyuhyun.
Kyuhyun menggeleng, tapi melemparkan senyum tak berdosa. "Tidak ada."
.
.
―o0o―
.
.
Sosok di ruangan itu terlihat sedang menyamankan dirinya di kursi sambil menikmati segelas wine di tangan begitu pintu ruangan terbuka. Ia mendesis, menyadari jika waktu santainya terganggu. Ia menatap tajam sosok itu. "Apa?" ketusnya.
Sosok yang baru saja datang itu justru tak nampak terganggu dengan ekspresi yang didapatnya, Ia menyeringai senang. "Dia sudah kembali," ujarnya sambil berjalan mendekat. "Si penghianat itu sudah kembali," lanjutnya.
"Ahh…," tiba-tiba saja ekspresi kesal itu terganti dengan seringai yang jauh mengerikan. "Benarkah?" tanyanya antusias. Matanya berkilat senang.
Yang ditanya mengangguk.
"Kalau begitu… buru dia." Dan ia kembali meneguk winenya. Sebelum membanting gelas kosong itu dengan senyuman yang gila. "Bawa kepalanya padaku,"
Sosok lain mengangguk dan kembali berlalu. "Tentu saja… Alpha."
.
.
[―To be Continued―]
Sudah tertebak ceritanya? Ahhh, ini memang sangat pasaran -_- KyuHae~ KyuHae~ betapa aku kangen pair ini. Pengen banget baca KyuHae Ayo dong siapa aja yang baik bikinin buat aku *maunya*
Tugas menumpuk dan ahhhh ini bisa membuatku gilaaaa! *jambakrambut*
Yasud―
Thanks for read. Sorry for the 'aneh' story -_-
For this chapter, Gimme a REVIEW PLIS? :D
(Yang review tak doain dapat pahala, yang engga… :P)
