"Oy Tou, lo mau gak setuju sama ide kita?" Tanya Ichigo sambil memamerkan senyum penuh keyakinannya terhadap Hitsugaya. Hitsugaya hanya membisu dengan tangan yang menopang dagunya. Tatapannya terlihat nanar. Ia kemudian bergumam pelan. "Gue udah janji sama ayah gue kalo nanti ada olimpiade gue akan mengikutinya dan kemudian membawa pulang medali emas, khusus untuk ayah gue, dan sekolah gue beserta sahabat-sahabat gue."
Renji menatap Hitsugaya dengan pasrah. "Tapi olimpiade akan diadakan bulan depan, sedangkan lu diskor. Gimana lu bisa mewujudkan janji lu?"
Memang, Hitsugaya telah berjanji kepada ayahandanya untuk mengikuti olimpiade matematika. Ia menganggap, ini mungkin bisa menjadi obat penawar kesalahan yang dilakukannya, yakni mengambil sebagian uang simpanan sang ayah untuk membeli voucher game online seharga goban. Ia sangat menyesal, padahal itu untuk janjinya terhadap Ichigo dulu. Mungkin Hitsugaya menganggap alsannya sama sekali tidak nyambung, tapi setidaknya ia bakal menggunakan otak bohlamnya untuk menorehkan namanya dalam sebuah medali emas kebanggaan.
Lagian berjanji tidak sesuai dengan kemampuan. Kena batunya deh.
"Karena itu," Hitsugaya menghela nafas panjang. "… gue akan menyetujui ide kalian, meski gue ogah banget jadi lekong."
Toushirou or Tsukishirou?
Bleach dimiliki oleh Tite Kubo
Rate T
Berbahan dasar humor dengan racikan bumbu garing dan semangkuk keOOCan, dan dibaluti dengan AU (udah kayak chef ajah nih)
.
.
.
"Mantap… akhirnya Toshiro bisa sekolah lagi…"
"Hmm… banget!"
Sambil menyantap pisang, Ichigo dan Renji berbincang-bincang ringan. Jika ditanya kenapa, maka jawabannya adalah…
"Mumpung gak ada guru masuk…" jawab Renji sambil mengunyah santapannya.
"Yoyoi…" kata Ichigo menyetujui. Ketika pisang mereka tinggal setengah bagian, Byakuya sensei terlihat di ujung koridor, sukses membuat duo lari tunggang langgang ke kelas. Dengan mulut penuh pisang, Renji berseru keras layaknya tukang dagang.
"BYAKUYA SENSEI MASUK!"
Teriakan lantang Renji membuat para anak 8D yang tadinya berantakan, berubah menjadi anak murid dengan gaya sebagai mana mestinya, sementara Renji dan Ichigo langsung melahap pisang mereka hingga habis dan membuang kulitnya di tong sampah.
Dengan jantung berdebar, Ichigo dan Renji berusaha keras untuk menelan gumpalan yang mereka masukkan ke mulut. Namun apa daya, besarnya benda yang dimasukkan ke mulut mereka membuatnya tersangkut di tenggorokan, membuat saluran pernafasan mereka menyempit. Walhasil, mereka nyaris tidak bisa bernafas.
"hmph..!" Ichigo berusaha meraih botol minumnya, dan tanpa basa-basi ia langsung meminumnya, begitu pula sikap Renji dengan botol minum kesayangannya. Setelah makanan mereka berhasil masuk lebih dalam, mereka tersenyum bahagia.
"Lega…" Setidaknya mereka tidak mati hanya karena kehabisan nafas.
"Selamat pagi anak-anak." Dengan gaya kalemnya, Byakuya sensei berjalan ke meja guru yang sudah tertata rapih. Para murid yang berpura-pura semangat menjawab sapaan guru mereka. "Selamat pagi sensei!"
"Katanya sensei gak masuk..?" tanya Yumichika sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Byakuya merespon pertanyaan anak muridnya dengan tenang, seperti biasa. "Sensei gak jadi ambil cuti. Soalnya sensei pikir matematika kalian masih jongkok, jadi hari ini sensei masuk, agar matematika kalian melejit."
"Ne… sensei ternyata mempedulikan masa depan kami ya..!" puji Yumichika, sementara para murid lelaki yang lain hanya memasang wajah masam. Dikit-dikit berisik diseret ke toilet ajah dipuji itu sensei!
"Toh itu juga kan' tugas guru…" Byakuya menuliskan tanggal dipojok kiri atas papan tulis. "Oh ya, kita ada murid baru. Ayo sini, kamu masuk!"
Seorang anak gadis berambut putih dengan lipstick merah muda dan blush on berwarna merah yang cukup tebal masuk ke kelas dengan langkah gontai. Rambut putihnya diikat dengan pita merah jambu, poninya pun dibelah dari kanan. Mirip sekali dengan Annie Leonhardt dari salah satu manga dan anime terkenal.
"Hmph… Toshiro…" Ichigo berusaha menahan tawa, sementara Renji berusaha gigit jari agar tidak kelepasan tertawa.
"Namaku Hitsugaya Tsukishiro, sepupunya Hitsugaya Toushiro… Salam kenal semua…" Hitsugaya memperkenalkan diri dengan senyuman kecut menghiasi wajah ber-make up yang berlebihannya. Semua murid lelaki tampak tertarik dengan gadis tersebut, terkecuali Ichigo dan Renji.
"Nah, kamu boleh duduk." Byakuya sensei mempersilahkan gadis gadungan tersebut duduk. Tsukishiro tampaknya sedikit sebal melihat satu-satunya bangku kosong 'khusus' perempuan hanya terdapat di meja Hinamori Momo. Mau tak mau, akhirnya gadis gadungan tersebut duduk di bangku sasaran.
.
"Sialan lu pada! Make up gue ketebelan!" Hitsugaya menghapus make-up nya dengan sebal. Ichigo dan Renji tertawa lepas sambil memegang pundak satu sama lain. "Wuahahaha! Kan biar meyakinkan Tou!"
"Tapi kan gak setebel ini!" Dengan air mengalir, bocah itu berhasil menghapus make-up nya yang terlalu tebal. Kemudian, ia teringat sesuatu. "Oh ya, sepulang sekolah berenang ya?"
Renji terdiam sesaat sebelum menjawab pertanyaan sohibnya. "Iye. Eh tunggu…"
"TRUS GIMANA JADINYA SAMA GUE?!" Hitsugaya langsung kaget setengah mati. Baru saja ia melakukan aksinya, ia sudah terjebak keadaan.
"Gue beliin batok kelapa ye dua biji buat lu pakein di dada." Celetuk Ichigo setengah bergurau, dan sukses membuat tinju Hitsugaya mengarah ke pipinya.
"Kalo gitu, kenapa gak bilang lagi datang bulan?" gumam Renji pelan. Hitsugaya menengok kearahnya dengan sebelah alis terangkat. "Pake apaan hah kalo gak percaya? Masa pake darah gue sendiri?"
"Gue pakein saus nanti." Ichigo nyengir sembari menunjuk dirinya dengan jempol. Hitsugaya langsung terkaget-kaget mendengarnya. "Lu kata kemaluan gue sosis apa? Iye sih emang gue nyebut kemaluan cowok itu 'sosis', tapi kan' ini bukan sosis beneran!"
"Pisang?" ujar Ichigo sambil menyeringai ke Renji, yang menatapnya dengan sebal. "Enak ajah! Gue emang suka pisang, tapi pisang asli, bukan pisang begituan!"
"Enak ajah!" Hitsugaya jadi sewot. "Itu kan nama samaran! Masa iya kepunyaan kita dimakan Cuma karena dipanggil sosis atau pisang! Kalo kita ngomongnya jujur gak sopan!"
Renji menatap sepatu usangnya dengan santai. "Tapi, gak mungkinlah darahnya diperiksa… itu kan sama aja kita ngeliat kemaluannya, ya itu kan gak boleh. Salah-salah kebablasan lagi."
"Nah, gitu dong! Tumben lu pinter!" Hitsugaya menepuk pundak Renji sambil tersenyum bersahabat. "Gue rasa elo mulai berevolusi deh."
Renji nyengir kuda ke Hitsugaya. "He he… Makasih Hits. Gegara lu gue jadi berevolusi."
"Perasaan menurut gue lu masih tetep bego deh…." Celetuk Ichigo bercanda, sukses membuat Renji menatapnya tajam sambil mengepalkan tangan. Perempatan muncul dikepalanya. "Kurang ajar lu!"
Seketika itu juga, Hitsugaya dan Ichigo tertawa terbahak-bahak.
.
Kalo ada si Toshiro, dia pasti bakal girang saat ini.
Ichigo memandang jernihnya kolam renang dengan nanar. Hitsugaya memang bisa sekolah lagi, tapi penyamarannya membuat pergerakan bocah putih itu terbatas. Ichigo paling senang ketika dihadapan mereka bersama Renji terdapat kolam renang, karena disaat itulah mereka bersenang-senang, bersama.
Gue harap Toshiro berhasil mewujudkan janjinya. Gue harap.
Bersambung…
Silvia: "Ng… gue rasa ada lelucon vulgar disini…"
Ichigo: "Setidaknya lu kan pake bahasa sopan… untungnya."
Hitsugaya: "Untung kemaluan gue gak jadi korban…"
Renji: "Yess… gue berevolusi jadi pinter!" *bangga*
Silvia: "Semua orang kan bakal berevolusi jadi yang lebih baik Nji… Terimakasih telah membaca dan… berminat me-review sobat?"
