"Dia manis sekali, Shion-sama."
Dalam gendongan pria berambut pirang tersebut tampak bayi mungil berumur belum genap satu tahun, terlindungi selimut putih hangat, aman dalam buaian lengan yang penuh kasih sayang. Rambut ungu lembutnya masih terlihat tipis, dan tangan kecil yang menggapai-gapai kemudian mengenggam erat jari telunjuk pengendongnya. Wajahnya putih berseri, begitu polos—Lemurian mungil yang masih begitu suci. Tawa kecil yang sesekali terdengar seakan dalam pandangan mata bulatnya dunia ini begitu indah, membawa siapapun di sekitarnya merasakan kebahagiaan.
"Kau harus menjadi kakak yang baik untuk dia, Shaka."
"Um!" ucap bocah berumur lima tahun itu dengan anggukan kuat dan yakin. "Aku akan menjadi kuat dan melindungi Mu."
Shion tersenyum, kemudian berdiri dari duduknya. "Cepat besar, Mu. Aku memberimu nama Mu untuk mengingat betapa luar biasanya tanah air leluhur kita dulu. Dan jadilah Lemurian yang tangguh untuk melindungi Jamir. Lihatlah… Ini adalah rumahmu, rumah teraman untuk kita semua."
Berjalan menuju jendela besar yang tak tertutup apapun di lantai teratas Pagoda—Menara Jamir merupakan satu-satunya bangunan yang menandakan ada kehidupan manusia di antara kecadasan tebing-tebing batu, Pagoda yang aman tersembunyi dan dikelilingi jurang. Shion menatap hamparan pegunungan, menunjukkan apa yang dilihatnya pada bayi mungil dalam gendongan. Memang hanya ada kecuraman sampai batas cakrawala, tidak ada peradaban lain yang dapat dijaungkau pandangan matanya, sejauh apapun tetap lereng-lereng gunung dan lembah gelap berisi batu runcing mematikan. Di sisi lain, puncak Himalaya tertutup salju, tampak pongah—berdiri menantang terik matahari yang tak bisa mencairkan beku.
"Shion-sama," Shaka menarik-narik ujung mantel panjang yang dikenakan Shion, meminta Sang Aries untuk berjongkok di depannya. Saat permintaannya dikabulkan, bocah mungil itu langsung mencium pipi Mu yang gembil menggemaskan. "Aku mau berlatih dulu, Oshishou-sama sudah menungguku di bawah. Sampai nanti, Muuu…"
Tidak bisa menghentikan Shaka yang sudah melesat, berlari lebih cepat dari ukuran bocah seusianya—terlebih dengan mata yang sering kali terpejam, melatih mengenali aura-aura di sekitarnya tanpa menggunakan indra penglihatan. Bisa dikatakan mengikuti sang mentor, seorang pria dengan rambut pirang keemasan yang tumbuh besar di Jamir, yang lebih sering menghabiskan waktu untuk bermeditasi daripada bersosialisasi. Namun Shion yang tumbuh besar bersama sosok terpilih untuk mengenakan Virgo Gold Cloth tersebut, mengerti benar betapa besar jiwa untuk menyayangi Shaka dan untuk melindungi Jamir. Samar didengarnya suara-suara dari bawah, Shaka terkadang memang sedikit membandel.
"Asmita," gumam Shion lirih, "Terima kasih selama ini sudah menjadi bagian dari kami."
-o-o0o-o-
A Defteros and Asmita Fanfiction
(Aspros x Sisyphus – Rhadamanthys x Regulus – Minos x Albafica)
Alternate Time, Alternate Reality, Romance, Angst
Our Story Sounds Like A Dark Tragedy
By Niero
Saint Seiya © Kurumada Masami
Saint Seiya Lost Canvas © Teshirogi Shiori
-o-o0o-o-
.
Part II: The Fall Of Jamir
.
Jamir, Himalaya.
Titian batu terlihat rapuh, mengelabuhi mata karena lebarnya hanya beberapa jengkal—dan jarak yang terlihat dekat sebenarnya lebih jauh dari perkiraan, pun ilusi dari Sang Virgo terkadang ikut mewarnai. Akses satu-satunya untuk menyeberangi jurang dengan batu runcing menganga menyambut saat mengarahkan pandangan mata ke bawah, jalur untuk kemudian disambut tingginya tebing di seberang yang menyembunyikan bangunan di dalamnya.
Di ujung jembatan, terlihat seorang pria dengan pandangan mata liar tengah duduk di pinggir tebing dengan menjulurkan sebelah kaki. Tangannya memaikan sebuah batu kecil—diputar-putar sebelum kemudian dilempar. Ia harus menunggu beberapa saat untuk mendengar bunyi benturan lirih di dasar sana, kecuali batu tersebut menghantam batuan lain yang mencuat. Dan desau angin menyusup di antara tiang-tiang batu menimbulkan bunyi aneh yang kadang terdengar seram. Memilah-milah suara tersebut seakan menyaringnya, kemudian penglihatannya menelusuri sembarang arah. Ia berada di sini bukan karena kurang kerjaan, sekalipun benaknya memikirkan banyak hal.
"Manigoldo,"
Panggilan yang menyuarakan namanya tidak membuat pria berambut biru gelap itu menoleh, tidak pula menjawab. Ia menunggu, mungkin ada kata lain yang akan disampaikan padanya.
"Kau menunggu elang pengantar pesan dan El Cid?" lanjut sosok tersebut dengan bertanya.
Manigoldo memberikan reaksi berupa gelengan sejenak, "Bukan, Hakurei-sama. Pesan dari El Cid memang penting, tapi bukan itu…"
Menepuk pundak pemuda itu sekali, meskipun pembawaan anak didik adiknya ini sedikit beringasan—tapi Hakurei mengerti bahwa Manigoldo memang memikirkan sosok seorang Sage. "Ayahmu pasti baik-baik saja. Dia adalah orang yang kuat, cepat atau lambat El Cid akan menemukan cara untuk membebaskannya."
"Apakah ada masalah, Hakurei-sama? Aku yakin Anda di sini bukan untuk berbasa-basi mengenai ayah," kata Manigoldo, mencari tahu maksud sebenarnya dari Sang Pemimpin Jamir.
"Aku ingin menarik El Cid mundur, kalau hari ini elangnya datang—cepat beritahukan padaku." ucapnya, ia sempat menambahkan sebelum beranjak, "Jika dia mundur, maka jelas akan membawa Sage pulang."
Manigoldo sekali lagi diam. Semua tergantung El Cid, lalu apa saja yang sudah dilakukannya selama ini. Ia semakin merasa dirinya tidak berguna.
Karena semua adalah salahnya sampai Sage tertangkap militer Hellenic Republic, dan jika Hakurei tidak menahannya di sini, ia pun pasti sudah kembali dan mengamuk habis-habisan di negara itu. Berawal dari keinginannya pergi untuk mencari masa lalu, keluarganya yang tersisa atau apapun—ia ingin tahu. Hidupnya memang mulai berarti ketika Sage menemukannya di pinggir jalan saat ia masih kecil, dan di Jamir ia dibesarkan juga dilatih mengendalikan cosmo, Sage sudah selayak ayahnya—begitu sabar mendidiknya sampai dewasa. Namun kemudian apa—ia memberontak, tidak puas tanpa melihat awal hidupnya sebelum bertemu Sage. Ia pergi dari Jamir menuju Hellenic Republic, sekalipun begitu Sage tetap mencarinya untuk membawanya pulang.
Masih segar dalam ingatannya, sosok-sosok angkuh berseragam hitam—dengan dua di antaranya yang melawan gurunya menggunakan Cloth dan Surplice. Sosok Gemini berwarna emas dengan kesadisan yang tak terbayangkan selama hidupnya, dan sosok Griffon hitam yang kemudian mengikat Sage dengan benang tak terlihat. Wajah-wajah itu—seumur hidup Manigoldo tidak akan pernah melupakannya, ia menanti saat di mana berhadapan dengan mereka, kemudian membunuhnya.
"Pulanglah, lindungi Jamir. Apakah penting masa lalumu, jika kau bisa lebih berarti untuk masa depan."
Dan masih terngiang jelas apa yang Sage katakan padanya sebelum mentornya itu menampakkan diri di hadapan militer Hellenic dengan tangan kosong—tanpa Cancer Gold Cloth, Cloth yang sekarang dipakainya. Saat itu Sage tidak memintanya bertarung, kali pertama Sage menyuruhnya untuk pulang dengan bentakan keras. Ia masih bersembunyi cukup lama menyaksikan pertarungan mentornya, ada hasrat untuk keluar dan membantu—namun ia kemudian pergi, berlari menjauh dari Hellenic untuk pulang. Pulang. Rumah yang tidak dirasakan sama karena tidak ada lagi kehadiran Sage di sini. Ia hanya—
"Asmita?" seru Manigoldo setengah kaget, karena tidak menyadari keberadaan sosok yang tampak berkilau dengan Gold Cloth itu sedang berdiri di sebelahnya. Sejak kapan lagi pula, ia selalu kehilangan konsentrasi saat sudah memikirkan ayahnya dan itu tidak bagus.
"Apa yang kau lamunkan sampai tidak menyadari kedatanganku," ucap Asmita, sambil mulai menapaki titian batu di depannya, lalu berhenti tepat di tengah. Ia bahkan tidak tampak menapak, namun mengambang di udara. "Yuzuriha, Tokusa, dan Tenma belum kembali?"
Manigoldo berdiri, "Belum ada tanda-tanda mereka mendekat,"
Tanpa kata Asmita berbalik. Tiap langkahnya terkesan anggun, rambut keemasan lembut bergoyang pelan searah dengan hembusan angin yang juga melambaikan jubah putih yang dikenakan. Wajah begitu kalem selalu terlihat damai—memancarkan ketentraman hidup, meditasi-meditasi panjang membuat tingkat spiritualnya mendekati Sang Buddha. Satu titik di kening sedikit tersamar oleh poni, dan mata yang selalu terpejam tidak mengurangi pesona alaminya, tidak pula menjadikan bukti kekurangannya—ia terlahir dengan tidak diberkahi indra penglihatan. Namun, justru kelebihannya adalah melihat dunia dengan merasakan aura.
Manigoldo mengamati sosok yang masuk kategori indah tapi tidak tersentuh itu sampai memasuki Pagoda, dengan bocah kecil berambut sama pirang mengikuti kemudian. Matanya juga menangkap seorang pemuda berambut coklat panjang, dengan style potongan pendek di atas dan dibuat jigrak—Kiki, tengah bermain dengan sosok hewan-hewan dari metal perwujudan Cloth bersama Atla. Dan ada juga Shion bercengkerama dengan Si Harimau—Dohko, sambil memangku Mu. Menghela napas, ia kembali duduk di tebing batu.
.
Jauh di kaki pegunungan Himalaya, di pinggir sungai yang mengalirkan air jernih—Yuzuriha berdiri dengan waspada. Dari seberang, semula memang tampak berada di kejauhan namun hanya dalam waktu beberapa detik beberapa orang mewujud tepat di hadapannya. Tenma yang mencari ikan meletakkan keranjang dengan cepat, pun dengan Tokusa yang merapat pada kakaknya. Mundur beberapa langkah, ketiganya meraih box yang selalu mereka bawa.
Insting sudah memberitahukan bahwa bahaya ada di depan mata, mengenakan Silver Cloth—Yuzuriha tidak gentar dengan sosok-sosok pengguna Gold Cloth dan Surplice di depannya. Begitu pula dengan adiknya yang sudah lengkap dengan Hanuman Surplice, dan Tenma juga memakai Bronze Cloth.
"Semula aku berpikir Lemurian hanya bersembunyi di puncak Himalaya, tapi ternyata mereka berkeliaran jauh tanpa perlindungan."
"Siapa kalian?"
Tidak ada jawaban yang diperdengarkan, sosok terdepan—Defteros, hanya memberi instruksi pada Albafica dan Minos untuk langsung menuju tempat tujuan, sedangkan bocah-bocah di sini akan menjadi urusannya. Dua orang pertama yang Defteros pilih sebagai penyerang pun tanpa buang waktu melesat dengan cepat.
"Hei!" teriak Tenma, namun matanya tidak bisa mengikuti kecepatan Minos dan Albafica yang sudah tidak tampak lagi, entah berlari atau memang menghilang. "Apa yang akan kalian lakukan di sini? Kalian siapa?"
"Bocah," ucap Kardia, kepalanya ia miringkan untuk mengamati lebih jelas—membuat ekor Kalajengking panjang yang merupakan bagian dari pelindung kepalanya ikut bergerak ke sampaing. "Sayangnya aku tidak punya waktu bermain-main. Tepat dan secepatnya, menusuk langsung tanpa buang-buang waktu, begitu kan, Defteros?"
Bersamaan dengan anggukan Defteros, Kardia melesat maju—sifat impulsif tidak bisa membuatnya diam di tempat dan menyerahkan lawan pada General yang lain. Sebelum ada yang menyadari atau membuat gerakan mempertahanan diri, kuku panjangnya sudah memecah Bronze Cloth Tenma, bunyi krak pelan yang terdengar tertutupi oleh teriakan keras—kuku tersebut tepat menusuk lansung pada jantung, membakarnya dengan sekali serang. Sakit adalah rasa mutlak, wajib ditelan siapapun yang tertusuk kukunya. Ia bahkan tidak perlu memakai teknik untuk membunuh bocah seperti ini.
Dan saat Kardia menarik lepas tangannya, korbannya sudah ambruk ke tanah. Hanya karena kecepatan tangan dan kuku yang sekaligus melobangi jantung, mengoyaknya. Tidak ada manusia yang akan hidup dengan jantung remuk.
"Nah, sayang sisanya adalah Lemurian," ucap Kardia sambil memandang Yuzuriha dan Tokusa. "Kalau tidak aku su—"
Ucapan Kardia tidak selesai, Yuzuriha lebih dahulu hilang kendali dan berusaha menyerangnya, agaknya melihat kematian Tenma membuat emosi memuncak. Kardia tidak menghindar, namun menangkis dengan sebelah tangan—memprediksi besar kekuatan yang ternyata belum matang, tentu menjadi mudah untuknya. Tidak selevel, meski nyatanya lebih kuat dari korban pertama, menggunakan Scarlet Needle mungkin menarik. Tapi yang dihadapannya ini ada Lemurian, aset yang sayang sekali jika dibunuh. Dan masalahnya, kenapa semua ini terasa begitu mudah—seharusnya Lemurian tidak lemah, ketika melawan Sage saja Defteros sampai turun tangan, tapi apa karena gadis yang dilawannya ini terlalu belia.
"Hahaha…" suara tawa nyaring Kardia penuh ejekan. "Terlalu muda 1000 tahun bagimu untuk bisa menyentuh ujung rambutku, Bocah!"
"Kardia, jangan bermain-main." Rhadamanthys mengingatkan. Ia yang dari tadi paling tenang, dan tidak mengeluarkan tanda-tanda untuk bergerak.
"Aaarhh… Yuzuriha!"
Sebuah teriakan membuat Yuzuriha menghentikan tiap percobaannya untuk menyerang Kardia, apa yang terjadi di pinggir sungai sebelah kanan dari posisinya saat ini—kenapa seakan adiknya itu dalam cengkeraman singa, aura berbahaya seperti taring dan gigi tajam siap menghujam leher menguar dari sosok pemuda yang diperkirakan seumuran dengan adiknya tersebut. "Tokusa!"
Regulus mengunci tubuh Tokusa dengan mudah, ia bahkan tidak terlihat menggunakan tenaga sama sekali. "Defteros, harus aku apakan dia ini?"
Melihatnya, Defteros dalam sekejap sudah berdiri di belakang Yuzuriha. Tidak ada yang menyadari kapan ia berpindah tempat, "Kau, bawa aku teleport ke sisi lain Jamir yang bersebelahan dengan India." ucapannya terdengar dingin, dengan aura mengancam serta taringnya sudah sedikit terlihat di sudut bibir.
"Aku tidak sudi menuruti perintahmu, Brengsek!"
"Regulus," panggil Defteros, "Kau boleh membunuhnya,"
Regulus mengerjapkan mata beningnya, "Tapi dia Lemurian,"
"Bocah itu tidak berguna, bunuh saja." lanjut Defteros.
"Baiklah,"
"JANGAN!" jerit Yuzuriha, "Jangan bunuh adikku. Baiklah… Aku akan membawamu teleport tapi kau harus berjanji untuk melepas adikku."
Tanpa diperintah Regulus sudah melepas cengkeramannya dan mundur satu langkah. Membiarkan Tokusa berlutut di tanah dan mengatur napas yang tersengal, wajahnya berkeringat—tampak sisa-sisa bias ketakutan membayanginya.
"Rhadamanthys, Regulus, kalian lanjutkan. Kardia, ambil jalur lain berseberangan dengan jalur yang aku ambil," ucap Defteros, ia memegang lengan Yuzuriha erat, dan segera menghilang dalam sekejap.
"Cih, ke puncak-puncak salju itu?" gerutu Kardia, sekalipun menggerutu—ia pun langsung menuju sisi yang ditunjuk.
Tinggal dua sosok yang masih berdiri di tempat. Regulus memandang pria jangkung di sebelahnya, lalu berganti menatap Tokusa. Kira-kira, akan dibawa ke puncak Jamir atau ada pilihan lain untuk bocah ini. Namun kemudian tangan Rhadamanthys terkepal, dalam satu ayunan ringan menghantam ulu hati Tokusa—membuat luka parah di sana, bahkan serpihan Surplice yang remuk menusuk perut dan dada. Beberapa kali terbatuk dan memuntahkan darah, Tokusa kejang lalu kehilangan aura kehidupan.
"Oh," Regulus memandang dengan sedikit kasihan, "Aku pikir kita akan memintanya untuk membawa teleport juga."
"Dia tidak akan mampu teleport dengan membawa orang lain dalam keadaan seperti tadi, benar apa yang dikatakan Defteros—bocah ini tidak berguna." kata Rhadamanthys, ia mengibaskan tangan membersihkan sisa darah. "Lagi pula, bukankah beberapa dari kita termasuk aku sendiri bisa pergi ke dimensi manapun, lalu muncul kembali di lokasi yang dikehendaki. Defteros juga bisa menyeberangi dimensi, dia tadi hanya bermain-main, mungkin gadis Lemurian itupun sudah terbunuh sekarang."
Regulus tersenyum, tawa cerahnya terdengar sekilas, ia merapat pada Rhadamanthys sebelum sayap Wyvern Sang General ke-4 itu terbentang. Terbang dan semacamnya adalah hal wajar bagi manusia yang sudah mencapai tingkatan seperti mereka, dengan cepat keduanya menyusul Minos dan Albafica. Dari arah udara, sampai waktu yang tepat untuk turun setelah Sang Mawar melumpuhkan sasaran.
.
.
Kanon Island, Hellenic Republic.
"Apalagi yang kau tunggu, Kanon?"
Di ceruk dalam gunung yang biasa Defteros pakai untuk menyendiri bermandikan lava pijar, kini berdiri Sisyphus—sudah lengkap dengan Sagittarius Surplice, ia hanya menggunakan seluruh atribut hitam jika akan terjun ke medan perang. Membuat sosoknya lebih terlihat regal, aura lembutnya digantikan dengan ketegasan yang lebih tajam, sekaligus serasi jika bersanding dengan Sang President yang juga memiliki Surplice sebagai zirah. Dan di sini, bersama pemuda belia yang berjalan pelan-pelan menuju tempat penyimpanan Scale—sudah saatnya Sea Dragon tersebut bertemu dengan yang terpilih untuk mamakainya.
"Kau ragu?" lanjut Sisyphus.
Kanon terus melangkah dengan yakin, di sisi Scale tampak kosong—tentu Gold Cloth di sana sudah dikenakan Defteros. "Tidak, Sisyphus-sama. Saya sudah menunggu lama untuk saat seperti ini,"
Seperti sedang mencoba berkomunikasi, Kanon akhirnya menyentuh Scale tersebut untuk mencari ikatan lebih kuat. Darahnya mulai berdesir, dan dari tangan yang terjulur—saat disadari sudah ada metal yang melapisinya, Scale tersebut membungkus seluruh tubuh. Tidak terasa dingin seperti yang dipikirkan atau bahkan terasa sesak, tidak sama sekali. Tapi justru menambah jumlah energi dan kekuatan yang dimilikinya. Kanon merasa dirinya lebih tangguh dari sebelumnya. Satu-satunya Scale yang berada di Hellenic Republic akhirnya tidak lagi teronggok diam di dalam Gunung.
"Ini… Wow!" seru Kanon terpana, seakan tidak percaya dengan apa yang melekat pada tubuhnya. "Aku memiliki zirahku sendiri,"
"Apa yang akan kau hadapi nanti bukan simulasi, tapi medan perang yang sebenarnya, Kanon. Kau yakin siap untuk menjalankan misi ini?" kata Sisyphus. Tidak memberikan waktu pada Kanon untuk berputar-putar di tempat mengagumi diri dan Scale yang dikenakan.
"Ya, Sisyphus-sama." jawab Kanon, memperbaiki posisi berdirinya lebih formal dan menghadap pada Sang Sagittarius. "Saya tidak akan mengecewakan Anda dan Aspros-sama."
"Kita kembali ke istana, lalu segera berangkat." tegas Sisyphus, ia berbalik—sayap hitamnya tampak tenang menjuntai.
Di depan benteng kastil, Dégel sudah menunggu sambil membaca buku, sosoknya terbalut Aquarius Gold Cloth membuat aura dingin yang menyelubungi lebih kuat seperti bongkahan es. Berbagi anggukan dengan Sisyphus, tanpa berbasa-basi ketiganya langsung meinggalkan pulau.
.
Misi dengan tujuan baru diputuskan setelah Aspros berhasil mengorek isi kepala Sage, apa yang didapat seakan sejalan dengan yang dipikirkannya—sudah ada dalam prediksinya. Dan akan cukup aman untuk mengirimkan Sang General kesayangan turun membantu menyelesaikan apa yang telah dimulai oleh Defteros dan General-General lain. Untuk menjemput satu yang paling berharga, dan memusnahkan sisanya. Bukannya Aspros terlalu protektif dan tidak menempatkan Sisyphus dalam medan tempur yang belum pasti—tapi karena secara tidak tertulis, sudah rahasia umum bahwa Sisyphus adalah orang nomer dua di Republic. Keamannya juga menjadi prioritas.
Dari Menara Gemini, Aspros mengamati seluruh aktifitas yang tertangkap manik birunya—juga pulau di kejauhan yang berasap putih tipis tidak lepas dari pandangan. Memejamkan mata sejenak, ia memastikan Sisyphus berhasil membawa orang yang dipilih untuk mengenakan Scale. Dan kemudian itu memuaskannya saat General yang ditunggu datang.
"Benar, Kanon-lah orangnya." kata Sisyphus, ia hanya menghadap sendirian. Dégel kembali ke kediamannya untuk mempersiapkan buku—entah untuk apa. Dan Kanon ditahan Saga di bawah sana. "Scale itu seperti menunggunya."
"Kanon memang dipersiapkan untuk itu," ucap Aspros, "Kau yakin hanya akan membawa Dégel dan Kanon?" lanjutnya dengan tangan kanan terjulur, membelai pipi Sisyphus.
Sisyphus menganggukan kepalanya, "Itu saja sudah cukup, aku membawa Dégel kalau-kalau ada yang terluka. Dan Kanon, seperti yang kau katakan untuk mengambil sesuatu yang diperlukannya."
Semakin mendekat, jemari Aspros yang tadi menelusuri pipi Sisyphus berpindah ke bagian belakang kepala, menyusup di antara rambut kecoklatan. Ia menarik sosok bersurplice Sagittarius tersebut, dan berbisik tepat di depan telinga, hembusan napas Aspros membuat Sisyphus memejamkan mata, merasakannya baik-baik. Dan apa yang dibisikkan bukan sebuah kata-kata bermakna penting—hanya rangkaian ungkapan-ungkapan pribadi yang membuat Sisyphus menarik sudut bibirnya menyungkinkan senyum dengan kekeh pelan.
"Nanti. Dan kau tidak perlu merayuku, Aspros. Kita sama-sama menginginkan itu," balas Sisyphus.
"Aku tidak merayu, hanya mengatakan yang sebenarnya." ucap Aspros, tidak ketinggalan tersenyum tipis. "Jangan tutup pikiranmu selama di sana, dan berhati-hatilah." lanjutnya, sambil melepas tangan dari sentuhan di tubuh Sisyphus untuk kini digunakan menyentuh pelipisnya sendiri.
"Aku mengerti," kata Sisyphus, ia membungkuk hormat sekilas sebelum kemudian bergegas untuk berangkat.
Kekhawatiran Aspros sebelumnya, firasat yang seperti menghantui kini sudah mereda. Sekalipun tidak mengurangi kewaspadaan, ia masih mencari kalau-kalau ada celah yang bisa membuktikan kenapa sampai memiliki firasat tidak mengenakkan, dan ia harus memperbaikinya sebelum terlambat. Namun tidak ada yang bermasalah, penyerangan ke Jamir juga terencana. Sekali lagi ia harus menunggu—kali ini mempercayakan semuanya pada Sisyphus. Ia bisa merasakan apa yang akan Sisyphus lihat nantinya, telepati tersambung dengan Sisyphus tidak peduli berapapun jauh jarak yang memisahkan—Ia bahkan tidak mampu melakukan itu dengan adiknya sendiri, tapi berbeda dengan Sisyphus.
Ia memang sudah menyatu dengan Sang General, lebih erat dari sebelumnya.
.
.
Jamir, Himalaya.
Kemelut kabut berwarna merah tipis tertangkap mata Shion—berada di kejauhan namun dengan pasti merapat ke Jamir. Ia mengerahkan cosmonya, mencari keberadaan siapapun di luar sana. Terasa samar—namun sengatan energi menyergap, beberapa sosok sangat kuat memang mendekati Jamir dari berbagai arah, bahkan di antara salju di puncak pegunungan. Dan tidak ditemukannya aura Yuzuriha beserta adiknya dan juga Tenma membuatnya semakin khawatir akan apa yang tengah mengancam Jamir. Betahun-tahun tempat ini aman, tidak tersentuh namun agaknya keamanan itu akhirnya terbongkar.
"Hakurei-sama," seru Shion.
"Aku tahu, mereka mendekat dengan cepat. Kita tidak punya waktu untuk teleport dan memindahkan semua yang ada di sini. Tidak ada pilihan lain selain melawan,"
"Tapi siapa mereka?"
"General dari Hellenic Republic, hanya satu alasan mereka bisa sampai disini. El Cid sudah gagal dalam misinya, atau Sage—" Hakurei tidak bisa meneruskan saat memprediksi keadaan adiknya. "Mereka sangat kuat, Shion. Pastikan Mu sudah meninggalkan Jamir saat mereka tiba."
Sekali lagi Shion memandang ke luar, mencari sisi mana yang tidak terjaga—yang tidak mengandung aura berbahaya. Dapat! Ia kemudian memandang pada pria yang duduk bersila di antara patung-patung Buddha, seakan tengah bermeditasi. "Jalur yang biasa kau pakai, Asmita, menuju negaramu, India. Kau yang memiliki kecepatan paling tinggi di sini. Pergilah, bawa Shaka dan Mu. Jangan biarkan mereka merasakan jejakmu,"
Asmita berdiri, menerima bayi yang tengah tertidur itu dalam gendongannya. "Aku tidak yakin ini pilihan yang tepat, Shion. Kekuatanku diperlukan di sini, aku bisa melumpuhkan indra semua penyerang itu sekaligus."
"Kau sangat kuat, Asmita. Justru karena itu kaulah yang aku percaya untuk melindungi Mu, dia adalah Lemurian terakhir yang hidup di muka bumi ini. Yang terakhir dan sangat istimewa." jelas Shion, "Cepat, Asmita! Mereka semakin mendekat, aku tetap berharap ini bukan selamat tinggal. Tapi sampai jumpa."
Untuk beberapa saat Asmita tidak mengatakan apapun, ia lebih bisa merasakan aura daripada Shion. Dan itu benar, aura-aura di luar sana terlalu besar. Meski tidak yakin jalur yang akan dilalui itu aman—karena terlalu mencurigakan jika dari arah pegunungan salju saja ada yang mendekat, namun tidak dari arah India. Tapi ia tidak punya pilihan selain melewati jalur tersebut—jika perlu ia sendiri akan bertempur. Asmita mengerti benar situasinya, jika Shion yang pergi membawa Mu, para Hellenian itu pasti menyadari dan mengejar.
"Sampai jumpa," ucap Asmita. Ia merapatkan selimut Mu, dan bergegas menjemput Shaka di lantai bawah.
.
Satu tangkai mawar merah terlempar dan menancap di sebelah tempat Manigoldo duduk. Bukan mawar tersebut salah sasaran, tetapi Manigoldo tepat waktu dalam menghindar. Dan dari seberang jembatan, terlihat kabut tipis kemerahan—membawa muatan kelopak-kelopak mawar tak terhitung jumlahnya. Waspada akan dua siluet di sisi lain, sosok yang tampak mengabur tersembunyi dalam kabut. Hanya seperti bayang-bayang bahwa apa yang di depan sana menampakkan wujud sayap terbentang—mengepak, menerbangkan kabut dan kelopak mawar mendekat ke arah Manigoldo dan tentunya akan terdorong sampai jauh ke Pagoda di belakang.
"Apa ini? Mawar…" desis Manigoldo, saat ia menarik napas—wangi bunga dan kabut kemerahan masuk ke rongga pernapasannya, mencekiknya. "Ugrh! Sial…"
Memahami jika berdiam diri ia bisa mati, Manigoldo mengerahkan kekuatan dan tekniknya—dari arah dalam jurang berdatangan bola-bola seperti gelembung berwarna biru, mendekatinya lalu berputar-putar mengelilingi. Dengan cahaya berpendar yang dikeluarkan kemudian, ia menghentikan pergerakan kabut dan sekaligus kelopak-kelopak mawar.
"Cih! Hanya seperti ini… bukan apa-apa buatku!" ucapnya, "Terbakarlah! Sekishiki Kiousen!"
"Gigantic Flap!" suara dari arah depan disertai pusaran angin kencang melahap apapun di depannya.
Api biru beradu dengan hembusan angin cepat, percikan energi berbenturan beberapa saat sebelum akhirnya memudarkan seluruh kabut dan kelopak mawar. Saat udara menjadi bersih, Manigoldo melihat sosok di seberang yang sama sekali tidak tampak asing, sayap hitam lebar dan rambut perak panjang sialan itu—Griffon yang telah menangkap Sage.
"KAU! Kalian Hellenian yang menangkap Sage!"
"Oh," seru Minos. "Ternyata bukan orang bodoh berzirah kepiting yang tidak tahu apa-apa. Bagus kalau kau tahu kami ini siapa,"
"Bagaimana bisa kalian ada di sini? Sage—apa yang telah kalian lakukan pada Sage?!"
"Dia bukan Lemurian…" lanjut Minos, mengacuhkan pertanyaan yang diutarakan dalam nada keras. Ia berbincang sendiri dengan Albafica. "Sebaiknya kita bunuh dengan cepat."
"Aku tahu, dia mungkin penjaga seperti El Cid. Sepertinya cukup kuat," Albafica bergerak menyeberangi jembatan.
Setiap gerakan terlihat anggun, langkah kaki menapak hati-hati dan wajah mendongak angkuh—biasanya, kecantikannya membuat musuh lengah. Namun tanpa sungkan Manigoldo menyongsongnya, tangan terkepal diselimuti aura siap dilancarkan, Sang Cancer tidak peduli wajah di hadapannya sejelita apa, pun tidak peduli apakah di depannya itu laki-laki atau perempuan. Yang ia pedulikan hanya satu—orang-orang ini telah mencelakai Sage, mereka yang sudah menangkap ayahnya tidak boleh dibiarkan hidup. Dengan membaranya kemarahan, keras ia menghantamkan tangannya.
"Apa—" ucap Manigodo tertahan. Ia tidak main-main dalam menyerang, tinjunya pun bukan asal-asalan. Tapi setangkai mawar hitam yang dipegang dengan sebelah tangan berhasil menghentikannya.
Mawar hitam tersebut menghancurkan apapun yang bersentuhan dengannya, dan tangkai-tangkai mawar lain menyusul menghantam tubuh Manigoldo sampai terlempar jauh ke belakang. Membentur bebatuan, beberapa bagian clothnya mulai retak, pelipisnya meneteskan darah dan tubuhnya babak belur.
Meludahkan darah yang terasa asin di mulutnya, Manigoldo tidak mau mengulur waktu lebih lama, cahaya-cahaya kebiruan mulai terlihat melintas di sekitarnya lagi, "Sekishiki Meika—"
"—Cosmic Marionettion!" sela Minos, ia menghentikan serangan sebelum dilancarkan. "Kami tidak punya waktu. Akan menarik jika bermain denganmu, tapi sayang sekali harus berakhir."
Benang-benang melilit Manigoldo semakin erat—Cancer Gold Cloth akhirnya pecah berkeping, lepas dari tubuh pemaikainya. Satu serangan terakhir berupa mawar putih menancap di dada Manigoldo, Bloody Rose menembus jantungnya. Di antara efek serangan Albafica yang membuat mawar putih tersebut memerah menyerap darah—Minos pun menjentikkan jemari, mengakhiri hidup pria Cancer itu dengan memastikan tubuhnya tidak bisa disatukan lagi.
Sekali lagi Albafica mengeluarkan kelopak-kelopak mawar merah. Angin cepat yang diciptakan Minos membuat mawar itu melayang tinggi—kombinasi keduanya di medan tempur memang paling padu dari semua General Hellenic Republic, teknik-teknik jika digabungkan akan semakin mematikan. Kekebalan Minos terhadap racun Albafica pun tidak bisa dijelaskan sampai sekarang—mereka dapat leluasa bertarung di tengah kabut dan taburan mawar beracun. Seperti saat ini keduanya melayang dan dengan kepakan sayap mengarahkan angin bercampur kelopak mawar untuk menghujani Pagoda.
"Manigoldo-samaaa!"
Teriakan bocah yang menjadi saksi terbunuhnya Manigoldo terdengar dari sisi tebing terdekat dengan Pagoda, kemudian satu kelopak mawar pertama jatuh di kepalanya.
"Atla," panggil Hakurei, ia melompat cepat dan menggendong bocah itu—pelindung di sekitarnya menangkis mawar-mawar yang mengeluarkan racun. Namun terlambat, Atla sudah menyemburkan darah dari mulutnya, dan tewas seketika. "Demon Roses?"
Bersamaan dengan kelopak mawar menyentuh tanah, gemuruh dan denyar cahaya dari arah langit menyambar cepat, meruntuhkan lantai teratas Pagoda. Rhadamanthys dan Regulus sudah bergabung dengan Minos dan Albafica, Kardia menyusul kemudian—mereka berkumpul mengepung Jamir dari arah berbeda—memastikan tidak ada satupun yang lolos keluar. Dengan begitu, membumihanguskan Jamir akan lebih mudah.
Serangan demi serangan membuat energi hitam dan cahaya terang menyilaukan berbenturan disana-sini, reruntuhan pun tidak dapat dihindari. Para General masih sekuat tenaga untuk tidak terbunuh sekaligus tidak membunuh mereka yang Lemurian. Sampai serangan mematikan lebih difokuskan pada pria yang memainkan 6 pasang senjata-senjatanya, dan muridnya yang mengenakan Dragon Bronze Cloth. Pada akhirnya sosok yang menyandang nama Dohko tersebut mati tertusuk tombaknya sendiri setelah Minos dan Rhadamanthys menyerang bersamaan. Dan Shiryu menyusul setelah jantungnya dikoyak Regulus.
Albafica yang menghujani tubuh Hakurei dengan tangkai-tangkai mawar, dibantu tusukan kuku Kardia di 14 titik akhirnya berhasil melumpuhkan Sang Pimpinan Jamir. Menempatkan sosok berlumur darah itu di sebelah Kiki yang sudah dibuat pingsan dan dikekang dengan rantai tersegel yang menahan seluruh cosmo, tidak berbeda dengan Shion yang berlutut—seluruh tubuhnya terantai segel.
.
"Oshishou-sama," suara bocah lima tahun berambut pirang itu terdengar bergetar ketakutan, ia yang semula menoleh ke belakang mengamati puncak Jamir dengan mata birunya sekarang berganti arah. Melihat ke sisi kiri, dibalik pepohonan.
"Ada apa, Shaka?"
"Ada yang mengikuti kita… I—iblis," lanjutnya, definisi yang memang sempurna menggambarkan sosok berkulit tan dengan taring dan rambut kelewat panjang.
Asmita menghentikan langkah cepatnya. Ia menoleh ke sembarang arah, namun tidak merasakan aura apapun di sekitarnya. Tidak ada keberadaan makhluk lain—jiwa manusia tersesat yang perlu disucikan misalnya, ia pun tidak merasakan. Hewan-hewan berada di kejauhan sesekali lewat namun tidak ada yang berjarak terlalu dekat dengan posisinya.
"Di… Di balik pohon itu," Shaka menunjuk, seakan gurunya akan melihat. "Di sebelah sana, tepat arah pukul delapan." lanjutnya.
"Siapapun kau jangan bersembunyi, tunjukkan dirimu."
Dengan langkah pelan, yang bahkan tidak menginjak daun-daun kering Defteros keluar. Ia mengamati sosok berambut pirang tersebut, kecil jika dibandingkan dengan postur kekar tubuhnya, namun tidak terlalu mungil. Akan pas mungkin jika dalam renghukannya—dan ia tidak mengerti kenapa terpikir hal seperti itu.
Masih dengan menekan aura sampai titik terendah, tidak akan ada yang bisa menyadari jika ia menyelinap, kakaknya sendiri saja tidak bisa merasakannya. Pengamatan pada pelarian Jamir yang ia kejar kemudian terfokus pada mata yang terpejam, dan fakta sosok itu tidak mengetahui keberadaannya yang berdiri menantang seperti ini, ia menyimpulkan bahwa pria tersebut buta. Benarkah pria, karena wajah pengguna zirah Virgo itu tampak lebih lembut, sejenis dengan kecantikan Albafica, namun dalam definisi berbeda.
"Dia memakai zirah Gemini emas, Oshishou-sama." bisik Shaka.
Melihat bocah kecil yang terus mendeskripsikan dirinya itu, Defteros melompat cepat—ia mengeluarkan energi, otomatis membuat keberadaanya diketahui. Sebelum ia berhasil menyentuh Shaka, gerakannya ditangkis.
"Pengguna Gold Cloth memang tidak bisa diremehkan," ucap Defteros, dan dalam percobaan kedua ia bisa meraih Shaka setelah mencoba merebut apapun dalam bundelan putih yang lebih mendapat perhatian Sang Virgo.
"Oshis—"
Langkah pertama Defteros membungkam mulut kecil itu, kemudian kembali menghilangkan aura sebelum melompat naik ke atas pohon. Membiarkan tubuh bocah tersebut tergeletak di bawah, dengan luka di leher dan bagian belakang kepala. Panggilan Iblis Gunung Kanon bukan sekedar julukan kosong, sifat tiran mengakar pada keturunan Gemini ada di dirinya juga—ia tidak pernah pandang bulu dalam menghabisi lawan, apapun yang sudah ditargetkan tidak peduli tua renta atau anak-anak, jika itu sudah masuk dalam incarannya, maka semua akan binasa.
"Shaka!" pertama kalinya dalam seumur hidup Asmita berteriak seperti ini, khawatir. "Shaka," panggilnya sekali lagi, ia memeriksa anak didiknya—dan aura kehidupan yang tersisa sangat tipis, mustahil untuk diselamatkan.
"Sayang sekali, padahal dia cukup berpotensi," ucap Defteros, suaranya menggema dari atas—seperti menyelinap di antara pepohonan.
"Hellenian, kau berurusan dengan orang yang salah." kata Asmita, bukan sekedar memperingatkan, karena cahaya terang mulai menyelimuti dirinya, dan teratai raksasa samar membayang di belakang. "Tujuanmu dengan Jamir tidak akan pernah termaafkan. Tanganmu yang berlumur dosa tidak ada jalan pengampunan.
"Buddha?" desis Defteros, masih menjaga agar suaranya tidak diketahui berpusat di mana. "Kau bukan Lemurian, namun apa yang tersimpan dalam dirimu—kekuatanmu tentu begitu besar. Lalu apakah yang membuatmu meninggalkan arena bertempur di rumahmu sendiri, atau kau membawa sesuatu yang berharga?"
"Kau terlalu lancang dalam mengambil kesimpulan,"
Asmita kembali berdiri, memfokuskan kekuatan untuk mencari keberadaan penyerangnya, dan saat hampir merasakan posisi lawan. Sebuah serangan mengenainya telak, bukannya ia tidak bisa menghindar—ia bisa merasakan dengan pasti arah datangnya pukulan, namun tidak ada pilihan selain menunduk memeluk erat Mu, karena jika kali ini ia menangkis perlindungan terhadap Mu akan mengendur.
Darah mengalir pelan dari sudut bibir Asmita, ia tidak mungkin meletakkan Mu di tanah, tapi jika sambil mengendong Mu seperti ini, jelas ia tidak bisa memakai satupun tekniknya. Sekalipun ia kini merasakan benar cosmo agresif sosok yang berdiri di hadapannya, tidak lagi bersembunyi seperti tadi—menjulang tinggi, dengan badai energi yang menyelimuti bergulung kuat.
"Siapa namamu?" tanya Defteros, matanya tidak lepas dari wajah Sang Virgo—wajah yang begitu tenang dan tidak kenal takut sama sekali, meskipun tengah diincar kematian tidak ada kesan gentar. "Namamu wajib kuingat sebelum kematian mendatangimu,"
"Jangan terlalu menyombongkan diri. Apa kau bahkan mengerti seperti apa kematian itu sendiri, dalam dunia gelap penuh siksaan." balas Asmita.
"Aku tahu neraka itu seperti apa, aku hidup di dalamnya."
"Apakah itu hanya sebuah perkiraan, melihatnya berbeda dengan merasakan langsung."
Terpaksa melepaskan Mu dari dalam pelukannya. Asmita lalu duduk bersila, cahaya mulai kembali beserta teratainya. Memakai Rikudou Rinne mungkin tepat. Namun, belum ia menggerakkan tangan—jari telunjuk lentiknya bahkan belum bersatu dengan ibu jari untuk mengerahkan salah satu teknik yang dimiliki—tangis keras Mu sudah pecah terlebih dahulu.
Yang tentu saja merebut perhatian Defteros juga, dalam waktu bersamaan keduanya menyentuh selimut Mu, menariknya—menampakkan wajah dengan tanda Lemurian khas. Tidak ada yang bereaksi, baik Defteros dan Asmita untuk sejenak terpaku memandangi Mu, sampai mata Mu terbuka—menatap Defteros lekat, sesaat kemudian ketiganya seperti terjun dalam pusaran hitam. Mengerjap sekali mereka sudah terdampar di tepi pantai dalam sekejap mata.
"Teleport," desis Defteros. "Aku paham sekarang, makhluk inilah yang kau lindungi. Lemurian."
Asmita merasakan keadaan sekelilingnya, pasir yang dipijak, suara debur ombak, angin yang berhembus menekan dedaunan dan menggoyangkan ranting-ranting, ada tebing juga di sisi lain. "Tempat ini—"
"Kau menyadarinya?" lanjut Defteros. "Selamat datang di wilayah kesatuan Hellenic Republic. Anak itu sangat pintar—dia melihat mataku sebelum teleport, kemungkianan dia mendapat visualisasi negara ini dan memujudkannya."
"Mu?" panggil Asmita lirih, meraih bayi berambut ungu itu dalam gendongannya lagi. Tujuannya adalah mengamankan Mu sejauh mungkin, tapi kenapa justru anak ini membawanya ke wilayah musuh.
Situasi yang Defteros sendiri akhirnya berdiri diam, aura bertarungnya perlahan turun meski tidak mengurangi kesiagaan. Cosmo yang tadi dikeluarkan pria Virgo tersebut, ia berani mengatakan tingkatannya berbeda dari manusia manapun, intensitas energi saat pria itu duduk bersila cukup membuatnya meremang—sekaligus penasaran untuk melihat seberapa tinggi kemampuannya.
Sampai kemudian Mu kembali menanangis, matanya yang bulat sedikit berair. Lalu ketiganya kembali terdorong melewati pusaran gelap, terkirim ke lereng curam dengan suhu panas. Sisi lain Gunung Kanon, dimana Milo tengah sembunyi-sembunyi memakan apel milik Kardia dibuat kaget karena kemunculan Defteros yang tiba-tiba. Dan dalam sekejap kembali menghilang sampai menapak lagi jauh di dalam hutan. Di ujung tebing curam dimana di bawah sana air mengalir deras. Pulau Crete.
Secara acak Mu memindahkan mereka setiap kali Defteros dan Asmita akan mulai bertarung. Seakan ia sensitif dengan cosmo yang berisi energi perang.
"Kau membawa pulang satu yang paling berharga, Defteros. Lemurian terakhir dengan kemampuan yang sudah terlihat bahkan sejak masih bayi."
Sambutan sebuah suara yang hadir di antara mereka membuat Defteros menoleh, begitupun dengan Asmita yang telah kehilangan Mu dalam digendongnya, ia sedikit memerlukan waktu mencerna kejadian di hidupnya yang semakin memburuk dan memburuk.
"Aspros?" panggil Defteros, "Kau lambat, bawa bocah itu, dan akan aku selesaikan sisanya."
"Telepatimu hilang-muncul, Adikku." balas sang kakak, ia menarik jubahnya sendiri untuk membungkus Mu yang sudah aman dalam pelukannya. Tangis anak itu pun reda, agaknya Mu kembali tertidur. "Saga, bawa ini pulang ke istana." lanjutnya pada pemuda yang mengikutinya dari tadi.
Menerima bayi yang tengah lelap tersebut, Saga mengerti benar jika harus secepatnya pergi. Aura adu cosmo di tempat ini jauh dari level yang bisa diperkirakannya.
"Kalian," ucap Asmita, "Harus mendapatkan balasan atas dosa-dosa yang telah kalian perbuat," kemudian terdengar alunan OM yang membuat refleksi serangan cahaya mengarah ke Aspros. Sempurna dipatahkan Defteros yang sudah berdiri tepat di depan kakaknya. Tanpa kata terucap, Tenma Kofuku menggema. Asmita kembali menyerang.
"Galaxion Explosion!"
Dengung Khan melindungi Asmita dari hantaman. Dan pertama kalinya kedua Gemini melihat serangan mereka digagalkan begitu saja, kekuatan individu Aspros dan Defteros sudah cukup tinggi, tapi jika dibandingkan dengan cosmo yang menyelimuti tubuh Virgo itu, akan menjadi kesulitan tersendiri. Tidak akan ada akhirnya jika bertahan seperti ini, pertarungan 1000 hari bisa terjadi. Dengan saling memandang—dua Gemini mengirimkan isyarat, sepakat melakukan hal yang sangat berbahaya.
Tekanan cosmo seperti angin kuat yang membuat rumput dan dedaunan bergolak. Asmita mendongak, menghadap arah energi membara yang masuk dalam kategori mengerikan. Ia kini hanya manangkap keberadaan satu sosok—kemana yang satu lagi, pergi? Tidak, ia tahu bahwa keduanya bergabung menjadi satu. Ia pun bisa merasakan keberadaan Gold Cloth Gemini kosong yang berputar pelan.
"Galaxion…" dua suara perpadu menjadi satu, seperti auman buas yang akan membuat manusia normal kabur ketakukan.
Asmita pun sudah siap, menyadari lawan tidak akan bisa dikalahkan jika ia tidak menggunakan seluruh energi kehidupannya untuk menyerang, mengerahkan semua cosmo yang dimiliki ke titik tertinggi. "Tenbu…"
"—Explosion!
"—Hourin!"
Serangan yang mengenai Asmita membuat tubuh ramping itu lepas dari Virgo Gold Cloth, terhempas ke belakang dengan kuat. Agak terasa lambat, selain ia kehilangan seluruh cosmo, luka-luka dalam yang diterima membuat kebas. Dan matanya yang terbuka kemudian melihat seorang pria bersurplice yang begitu gagah, dengan sisi kiri wajah berbeda dengan sebelah kanan. Seumur hidup kali pertama mata butanya dapat difungsikan—justru kesempatan itu untuk menyaksikan sosok-sosok Gemini yang kembali terpisah, salah seorang memutuskan menerima serangannya secara penuh untuk menyelamatkan yang lain.
Pria berkulit tan yang tampak nyalang dengan pandangan mata kosong, tubuhnya mengambang kaku di udara menelan seluruh siksa satu persatu sebelum menuju tidur abadi, kemudian yang mengenakan Gemini Surplice di belakang—keduanya begitu mirip… Cahaya terakhir yang dilihat Asmita, adalah pria bersurplice melindungi yang berkulit tan, entah bagaimana memasuki otak sang kembaran—memutus rangkaian serangan terakhirnya.
Maaf, Shion… Aku tidak bisa melindungi Mu.
Memejamkan mata. Gelap kembali Asmita rasakan, seperti perulangan saat ia teringat masa kecilnya di Jamir, bersama Shion dalam didikan Hakurei. Sampai ia mendapat Shaka—apa yang terjadi pada Shaka kecilnya? Ia tahu kemana jiwanya akan terbang setelah jasadnya mati, apakah Shaka sudah menunggunya di sana. Ia akan mencarinya nanti. Jika dirinya sudah tidak berada di dunia lagi, ia hanya tinggal menanti datangnya karma pada mereka yang penuh dosa.
Namun ia terus saja merasakan gelap, hanya gelap dan tidak ada apa-apa, mati rasa. Tidak menyadari tubuhnya yang terlempar jauh ke dalam jurang, jatuh ke sungai di bawah.
.
.
Sisyphus memasuki Pagoda Jamir dengan pandangan tidak percaya. Ia sampai harus berputar 360 derajat untuk meyakinkan diri. Bukan hanya tumpukan—tapi gunungan Cloth dan Surplice ada di depan matanya. Baik yang utuh, hidup, mati, sampai pecahan-pecahan kecil semua berbaur. Jika satu negara memiliki armor dan tenaga manusia bercosmo sejumlah sama dengan seluruh zirah di Jamir—ia bisa memastikan, jaman kekuasaan mutlak seperti Roman Empire akan kembali. Seluruh daratan Eropa akan jatuh pada kuasa satu pemerintahan.
"Kau belum melihat yang di lantai dua dan tiga, Sisyphus." kata Rhadamanthys.
"Aku tidak akan heran lagi, apakah lebih banyak?" tanya Sisyphus sambil melangkah cepat menaiki tangga.
"Bukan jumlahnya, tapi jenisnya."
"Jenis apalagi memangnya, Steel Cloth?"
Sisyphus tidak meneruskan ucapannya lagi. Benar, memang bukan lebih banyak dari yang berada di bawah. Ia mendekati apa yang berjajar di lantai dua Pagoda tersebut—seluruh Scale lengkap, kecuali Sea Dragon tentunya. Naik satu lantai lagi, napas Sisyphus seakan tercekat, apakah optiknya memvisualisasi hal yang salah, namun bukankah benar semua yang dilihatnya ini adalah Kamui—yang hanya disebut-sebut sebagai legenda, perwujudan yang tidak mungkin turun ke dunia manusia. God Cloth yang dikatakan mitos semata, lalu bagaimana bisa berada di sini, tersimpan di Jamir. Ini bukan lagi sekedar Hades Surplice dan Poseidon Scale. Namun armor para dewa yang sesungguhnya.
"Ini tidak mungkin," gumam Sisyphus. "Kekuatan sebesar ini. Tidak ada satupun manusia yang bisa memilikinya. Ternyata benar apa yang diperkirakan President, tempat ini neraka—dan Lemurian adalah makhluk paling luar biasa yang ada di dunia."
"Keputusan Anda, Sisyphus-sama?" lanjut Rhadamanthys, panggilan kali ini menujukkan bahwa sang General bersurplice Sagittarius tersebut memiliki otoritas tinggi yang harus dipatuhi.
"Bawa Cancer, Aries, dan Libra Gold Cloth. Ke-12 Gold Cloth lengkap akan menjadi milik Republic," kata Sisyphus.
"Bagaimana dengan Scale, tidak kah sayang jika dimanfaatkan untuk kepentingan Republic?"
"Cukup dengan itu. Sisanya… termasuk God Cloth, President akan datang untuk mengubur dan menyegel seluruh tempat ini beserta isinya."
Dalam perjalanan turun, Sisiyphus mengambil Trident yang berada di sebelah Poseidon Scale, benda itulah yang dicari Kanon. Sementara Kanon sendiri masih menyusuri semua sisi Jamir bersama Dégel, memastikan semua aman dalam radius yang ditentukan untuk penghancuran lokasi. Ia pun masih harus menentukan apa yang akan dilakukan terhadap tiga Lemurian yang masih hidup.
"Sisyphus," Regulus berjalan menyonsong pamannya, "Kami tidak menemukan bayi sekitar satu tahun, tapi Kanon menemukan seorang bocah terluka parah tak jauh dari sini—tapi sudah agak besar, Dégel merawatnya di sana."
"Bayi itu sudah ditemukan," jelas Sisyphus. "Aspros-sama sudah mendapatkan anak itu, datang bersama Defteros ke Republic."
"Baguslah, jadi mereka tidak penting lagi?" lanjut Regulus, menujuk pada tiga orang Lemurian yang masih terikat.
"Sayangnya, Sisyphus. Yang itu tidak tertolong," kata Kardia, menunjuk pada Hakurei. "Dia terlalu kuat, aku dan Albafica terpaksa bertindak cepat."
"Bukan masalah,"
Membiarkan Lemurian tetap berlutut di tanah, Sisyphus menghampiri Kanon untuk memberikan Trident dan mendekati Dégel kemudian. Melihat bocah kecil berambut pirang di pangkuan pria dingin berkacamata itu, ia bisa merasakan bibit cosmo luar biasa—bukti kenapa bisa bertahan dari luka fisik, dan ia tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh poni anak itu, suhu panas terasa di telapak tangannya—demam. Pelan didengarnya bocah itu mengeja sebuah kata dengan suara menggemaskan, 'Oshishou-sama'.
"Kau akan membawanya pulang, Dégel?"
"Ya," Dégel berucap yakin, sekalipun tahu bocah ini kemungkinan sisa penghuni Jamir yang dilawan Defteros. "Ingatannya masih putih, dia bisa dibentuk menjadi prajurit yang tangguh."
"Cosmonya berbeda, yakin kau bisa?"
Dégel tidak bereaksi, namun anak-anak korban perang banyak yang tumbuh menjadi prajurit setia Hellenic Republic, baik dengan campur tangan kekuatan para Gemini atau tidak. Jadi ini pun pasti tidak akan jadi masalah.
Sisyphus kemudian mengangguk, tanda ia menyetujui keinginan Dégel. Dan suara yang tiba-tiba masuk dalam kepalanya membuatnya mengangkat busur, lalu menarik tiga anak panah sekaligus. Membunuh semua Lemurian yang tersisa. Mengakhiri seluruh Jamir beserta eksistensi kehidupan yang pernah ada di sana. Puncak ini akan manjadi tandus, seluruh bangunan akan diratatanahkan—Himalaya kembali menjadi rentetan pegunungan tanpa peradaban.
.
.
Kanon Island, Hellenic Republic.
Aspros seakan tidak peduli dengan semua prajurit militernya yang menepi sambil berlutut hormat saat ia tiba di pulau ini, ia hanya memperdulikan sang adik yang dirangkulnya—nyaris tidak bisa dirasakan lagi apakah masih hidup atau tidak. Serangan terakhir dari Virgo diterima telak Defteros, ia tahu Defteros tidak mau mengambil resiko dengan keselamatannya, dan jika Defteros tidak menamenginya tadi—dirinya pun pasti akan celaka. Pilihan adiknya untuk menyerap semua serangan lawan, dengan pertimbangan dirinya akan bisa menghentikan semua teknik tersebut—itu benar, namun sayangnya perhitungan kemudian meleset. Teknik lawan lebih mematikan dari perkiraan.
Dan Aiacos yang membuka jalan di depan bahkan sambil berlari untuk secepatnya tiba di kastil, mendorong beberapa penjaga yang akan menggeser pintu untuknya. Ia pilih melakukannya sendiri, pun membuka gerbang besar yang menuju ceruk di dalam gunung dengan dorongan terlalu keras, sampai pintu dari besi terbanting membentur dinding batu.
"Defteros," entah sudah berapa kali Aspros memanggil adiknya. Namun tidak ada respon yang menandakan suaranya didengar. "Lebih dalam, Aiacos. Langsung menuju magma,"
Satu gerbang lagi yang tidak pernah terbuka sebelumnya, kini rantai sebagai pengaman tambahan dipatahkah. Pintu yang sangat berat karena Aiacos bahkan sampai menggunakan kekuatan untuk mendorongnya. Dapat dirasakan panas begitu tinggi menyengat, tempat dimana berisi cairan merah pijar, menciptakan gelombang panas menguap seperti tirai tipis di udara—lava yang mampu menyembuhkan luka serangan cosmo. Tanpa ragu Aspros masuk ke dalamnya, mendudukkan Defteros di sana bersandar pada batu besar. Membiarkan tubuh adiknya terendam.
"Ayolah, Defteros. Kau lebih kuat dari ini… Kau adikku! Defteros!" teriakan frustasinya menggema, Aspros berlutut di dalam cairan bergolak, mencari tanda pada diri adiknya bahwa semua akan baik-baik saja. "Defteros, beristirahatlah."
Namun apakah ini arti firasat Aspros, apakah sampai disini saja. Adiknya yang selalu bersamanya, adik yang mendukungnya—dan juga mendapat dukungan darinya. Ia tidak akan bisa kehilangan Defteros, bukan karena sebagai seorang General Perang terbaik yang dimiliki Republic, tapi demi Dewa di Olympus sana… Defteros adalah adiknya, keluarganya. Defteros adalah dirinya juga.
-o-o0o-o-
To be continued…
-o-o0o-o-
Cliffie.. Cliffie.. Apa yang terjadi dengan Asmita? Dan kapan ini pacarannya kalau Defteros dan Asmita masih rusuh begini. Oke. Suatu saat takdir akan membawa bibit cinta, lalu tumbuh di antara keduanya. #heh
Terima kasih sudah membaca… Dan terima kasih juga untuk yang mengikuti dari chap pertama, serta untuk yang menanti chap selanjutnya. XD
