IchiOchaMocha, Present
.
.
Maybe is True
","
","
Disclaimer : Tite Kubo
Pairing : Rukia Kuchiki & Ichigo Kurosaki
Genre : Hurt Comfort
Warning : Fic ini mengandung unsur OOC, AU, TYPOS(maybe), dan kewarasan author sendiri dalam menciptakan karakter unik. Tema yang saya ambil disini adalah dari kisah klasik Sam Pek dan Eng Tay. Untuk masalah ending karena ini event IR happy endding, maka saya sedikit mengubah endingnya.
Summarry : Ini kisah dua orang berbeda kasta, dipenuhi hal menarik tentang arti cinta dan pengorbanan. Rukia dan Ichigo, kisah cinta mereka akan di kenang sepanjang masa. #For The Story of Destiny, an IchiRuki Event.
"."
"."
Hari ini, Rukia untuk pertama kalinya memasuki Akademi Huece Mundo. Akademi ini sangat terkenal di kota Huece Mundo. Akademi khusus laki-laki ini mengutamakan pendidikan kepemerintahan, wajar jika semua orang ingin masuk ke akademi ini karena jika mereka telah lulus dari sini maka, masa depan yang cerah menanti mereka.
Rukia yang saat ini tengah menyamar menjadi seorang pria, mau tidak mau harus berhadapan dengan penghuni akademi yang mayoritas para laki-laki. Ya, ini pengalaman pertama baginya menjadi seorang Rui Kuchiki, dan disinilah ia berada. Ia sedang mengikuti langkah seseorang salah satu guru yang mengajar di tempat ini. "Kuchiki, silahkan ikut aku. Aku akan mengantar ke kelasmu," ucap seseorang bernama Hirako Shinji.
"Sensei, apa masih jauh tempatnya?" tanya Rukia kelelahan.
"Sebentar lagi juga sampai kok. Kau seperti wanita saja," ejek sang Sensei.
'Sebentar kau bilang? Ini sudah hampir setengah jam kita berkeliling baka-sensei. Tentu saja aku kan memang wanita, baka,' batin Rukia kesal.
"Akademi ini memang luas, jadi anggap saja ini olah raga. Nah, kita sudah sampai. Kau tunggu di luar sebentar, aku akan masuk kedalam." Sensei berambut kuning itu kemudian masuk ke sebuah kelas. Menunggu sebentar, Rukia hanya berharap selama tiga tahun ini, penyamaran tidak terbongkar.
Kriieeet (suara pintu terbuka)
"Masuklah Kuchiki, dan perkenalkan dirimu." Rukia menuruti saja perintah senseinya. Ia sedikit gugup menghadapi teman-temannya yang semua para laki-laki. Hal pertama kali yang ia lihat adalah ruangan yang tidak terlalu luas juga murid yang di dalamnya juga tidak lebih dari dua puluh orang. Rukia sedikit lega, dirinya memang tidak menyukai terlalu banyak orang.
Semua orang yang ada di kelas itu memandang Rukia dengan wajah yang sulit di artikan. Demi mengurangi rasa gugupnya karena di tatap seperti itu, akhirnya Rukia membuka suaranya. "Aku Rui Kuchiki. Senang berkenalan dengan kalian dan mohon bantuannya," ucap Rukia sopan.
"Rui, kau boleh duduk di sebelah Kurosaki. Dia berambut paling mencolok di sini," ucap Shinji mempersilahkan Rukia duduk.
"Baik, sensei," kata Rukia melaksanakan perintah sang sensei. Rukia kemudian berjalan menuju bangku di samping pemuda yang berambut paling nyentrik. Ia segera duduk dan kemudian membuka bukunya dan mengikuti pelajaran dengan tenang. Rukia kembali membaca bukunya sambil sesekali memperhatikan penjelasan sang sensinya.
Dua jam mengikuti pelajaran sensei nyentrik yang bernama Shinji Hirako, Rukia tak mengalami banyak kendala. Sebelum masuk di akademi, Rukia telah lebih dulu mempelajari dasar-dasar pelajaran mengenai kepemerintahan. Untung saja otak Rukia itu cukup encer, sehingga ia lebih mudah menyerap pelajaran yang di sampaikan senseinya. Meski Rukia baru saja masuk di akademi ini, Rukia cukup mampu menjawab pertanyaan yang di ajukan senseinya.
"Minna, ini sudah molor lima menit dari jadwal. Cukup sekian pelajaran hari ini. minggu depan persiapkan bab selanjutnya. Jaa," ucap Shinji mengakhiri pelajarannya.
"Baik, sensei," ucap serentak para murid di kelas tersebut. Setelah sang sensei meninggalkan ruang kelas, mereka membubarkan diri dari kelas dan mereka memilih kembali ke asrama karena hari ini hanya satu mata pelajaran saja yang mereka ikuti.
"Kurosaki-san, apa setelah ini masih ada pelajaran lagi?" tanya Rukia sembari membereskan buku-bukunya.
Ichigo Kurosaki, ia pemuda berambut secerah matahari itu menoleh kesampingnya. "Biasanya jika hari sabtu seperti sekarang, hanya ada satu pelajaran saja. Setelah ini kau mau kembali ke asrama, Rui-san?" tanya Ichigo ramah.
"Aku kembali ke rumah, Kurosaki-san. Kakakku tidak mengijinkanku tinggal di asrama. Oh, ya. Kita belum berkenalan. Namaku Rui Kuchiki, salam kenal." Rukia kembali memperkanalkan dirinya pada teman di samping tempat duduknya itu. Sebenarnya ia sempat ragu mengajak ngobrol teman disampingnya yang terlihat cuek, namun demi melancarkan kegiataanya selama di akademi, Rukia berusaha untuk mengenal teman-teman di kelasnya.
"Ya, aku sudah tahu itu. Namaku Ichigo Kurosaki. Panggil saja Ichigo," ucap pemuda itu ramah. Rukia cukup lega, dugaannya salah. Temannya yang bernama Ichigo Kurosaki ini tidak secuek yang ia kira.
Terdiam sejenak, Rukia kembali memperhatikan wajah Ichigo. "Kau tahu, aku kira kau saudara kembar Kaein Shiba, karena wajah kalian mirip," ucap Rukia menilai.
"Oh, si Kaein itu ya? Mereka memang selalu salah sangka ketika melihat wajah kami, tapi kami sebenarnya memang bukan saudara kembar," ucap Ichigo menanggapi pernyataan Rukia.
"Ah, maafkan aku, Ichigo."
"Tidak apa-apa." Suasana kembali hening. Rukia masih sibuk dengan pikirannya. Sebenarnya ia masih belum percaya dengan penjelasan Ichigo.
"Ada apa? Kau masih belu percaya dengan penjelasanku? Apa aku sangat mirip sekali ya dengan Kaein?" tanya Ichigo seolah tahu apa yang sedang di pikirkan temannya itu.
"Ah, tidak kok. Aku percaya kalian bukan saudara kembar," ucap Rukia sekenanya.
Ichigo tersenyum. Gelagat temannya ini mudah sekali ia tebak jika sedang berbohong. "Kalau begitu ayo kita pulang," ajak Ichigo pada Rukia.
"Tunggu, Ichigo. Sebelum aku pulang, maukah kau mengantarku ke perpustakaan di akademi ini? jujur saja, tempat ini membingungkan. Aku takut tersesat, hehehhehe." Dengan wajah tanpa dosa yang di tampilkan Rukia, tak pelak Ichigo juga ikut tertawa di buatnya.
"Baiklah, ayo kita kesana. Aku juga akan meminjam buku disana." Keduanya akhirnya mulai meninggalkan kelas mereka yang tampak sudah sepi. Hari sabtu memang hari bebas, tidak banyak pelajaran di akademi yang harus mereka ikuti. Baik Rukia dan Ichigo cukup lega, setidaknya mereka bisa menghabiskan waktu mereka untuk bersantai dan belajar.
Rukia dan Ichigo telah berjalan sekitar sepuluh menit dari kelasnya menuju perputakaan, dan kini mereka telah sampai. Rukia melongo melihat perpustakaan di depannya.
"Kita sudah sampai, Rui. Sebelum masuk sebaiknya kita mengisi buku kunjungan," ucap Ichigo.
"Umm. Baiklah, Ichi." Mereka kemudian meletakkan barang-barang mereka di tempat yang telah disediakan. Segera setelah itu, mereka mengisi daftar kunjungan.
"Ayo kita cari bukunya di rak sebelah sana, Rui." Sambil menunjuk, Ichigo berjalan kearah yang dituju.
"Kau hafal sekali dengan tempat ini, ya."
"Aku anggap itu pujian, Rui."
Keduanya menuju rak yang di maksud Ichigo. Rukia melihat-melihat buku di depannya. Ia mencari buku yang telah disebutkan senseinya untuk tugas sabtu depan. Sedang sibuk mencari buku, Rukia samar-samar mendengar suara yang sangat familiar. Ia pelan-pelan mendekat ke arah suara itu sampai akhirnya ia bisa mendengar suara itu lebih jelas dari jarak kurang dari dua meter.
'Itu kan Kaein. Ya, ampun aku tak percaya bisa bertemu dengannya,' batin Rukia senang. Rukia bermaksud menghampiri Kaein, namun ia urungkan mengingat ia sekarang bukan Rukia, tapi Rui.
"Kalian tahu, Rukia Kuchiki? Minggu lalu aku bertemu dengannya saat menghadiri pesta yang di adakan keluargaku," ucap Kaein pada teman-temannya.
"Lalu?" ucap teman Kaein itu.
"Aku bermaksud membuatnya jadi koleksiku," ucap Kaein enteng.
'APA? Pasti aku salah mendengar. Kaein tidak mungkin seperti itu,' batin Rukia tak percaya.
"Kau gila. Kau sudah punya Miyako. Miyako kurang apa lagi, baka?" sahut teman Kaein yang merasa geram dengan kelakuan Kaein.
"Aku akan menginggalkan Miyako. Dia sudah tidak berguna lagi," ucap Kaein enteng. Rukia yang mendengar hal itu, merasa marah. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Meia meski ingin beranjak pergi dari tempat itu, masih ingin mendengar apa yang dikatakan Kaein.
'Kau membuatku kecewa Kaein,' batin Rukia sedih. Tidak ingin mendengar lagi pembicaraan Kaein, Rukia segera pergi dan mencari keberadaan Ichigo.
"Kau dari mana saja? Ini untukmu," ucap Ichigo memberikan buku itu pada Rukia.
"Ah, maaf Ichigo. Aku terlalu asik dengan perpustakaan ini, sampai aku lupa mencari buku literatur itu," ucap Rukia berbohong.
"Ya sudah, itu untukmu. Ayo pulang."
"Kau tidak kembali ke asrama, Ichi?"
"Tidak. Setiap akhir pekan aku membantu ayahku di pabrik tahu."
"Wah, ternyata kau anak orang kaya juga ya."
"Tidak juga. Kami keluarga sederhana, bukan dari kelas bangsawan. Untuk bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari, kami mendirikan usaha kecil-kecilan. Hasilnya cukup lumayan untuk bertahan sehari-hari."
"Maaf Ichi. Aku tak bermaksud mengejekmu. Aku salut denganmu yang masih mau membantu kedua orang tuamu."
"Itu sudah kewajiban seorang laki-laki, Rui. Kau sendiri bagaimana. Apa kau sama seperti bangswan lainnya?"
"Aku selalu belajar, kadang juga kabur dari mansion kalau sedang bosan. Mereka tidak mengijinkanku membantu usaha kakakku di kantornya. Ya, jadinya aku cuma bisa duduk manis saja."
"Kelihatannya kehidupanmu membosankan, ya. Kapan-kapan aku kenalkan kau ke keluargaku, kau tidak akan bosan kalau mengenal mereka," ucap Ichigo meyakinkan.
"Wah, benarkah itu?" kata Rukia antusias.
Melihat senyum girang sang 'pemuda' di depannya Ichigo jadi ikut tersenyum. Tingkah kekanak-kanakan Rui Kuchiki menurut Ichigo ini sungguh membuatnya geli. "Tentu saja, Rui," ucap Ichigo tersenyum.
"Janji ya."
"Ya. Kau ini seperti gadis saja jika seperti itu."
"Hehehe.. maaf, aku terlalu senang karena aku belum pernah berteman selain dengan Renji, Ichigo."
'Hampir saja aku ketahuan. Menjadi laki-laki ini benar-benar sangat sulit,' batin Rukia gugup.
"Ough, jadi begitu ya. Mulai sekarang, kita berteman ya."
"Dengan senang hati Ichigo."
...
Malam hari, Mansion Kuchiki di Huece Mundo
Malam ini, Rukia sedang sibuk mengerjakan tugas dari senseinya. Ia mengerjakan tugas tersebut dengan serius. Ya, demi untuk masuk ke akademi apapun akan Rukia lakukan. Tugas yang di berikan senseinya lumayan banyak, untung saja ia sudah lebih dulu mengerjakannya tadi siang.
"Huh, capeknya," gumam Rukia pada dirinya sendiri. Ia berhenti sejenak mengerjakan soal yang terdapat di dalam buku itu. Rukia kemudian bangkit dari duduknya untuk sekedar meregangkan ototnya yang kaku akibat terlalu lama duduk dan menulis.
"Permisi Rukia-sama, ini teh untuk anda," ucap seorang pelayan wanita pengurus mansion ini.
"Ah, terima kasih banyak Hinamori-san." Rukia kemudian mengambil teh yang di sediakan pelayan yang bernama lengkap Hinamori Momo itu.
"Kalau sudah tidak ada lagi yang anda perlukan, saya permisi," ucap Hinamori sopan.
"Kenapa buru-buru. Duduklah disini bersamaku Hinamori-san," ajak Rukia. Hinamori yang masih sibuk dengan pemikirannya sendiri, baru sadar ketika tangannya di tarik Rukia.
"Kenapa melamun? Santai saja jika denganku. Aku tidak sekaku nii-sama ataupun tetua lainnya, Hinamori."
"Ah, maafkan saya, Rukia-sama."
"Panggil saja Rukia, kalau tidak ada nii-sama, oke. Selama disini, kita berteman ya."
"Baiklah, Rukia." Hinamori terlihat sedikit canggung dengan majikannya. Ia memang baru pertama kali melihat Rukia mengunjungi tempat ini bahkan tinggal di mansion ini. Hinamori sempat mengira jika Rukia akan seperti kakaknya, namun ternyata dugaannya salah. Rukia yang Hinamori kenal saat ini jauh dari bayangannya yang angkuh dan manja.
"Rukia, aku ingin bertanya sesuatu padamu, tapi jangan marah ya," kata Hinamori dengan sedikit canggung. Hinamori sesekali memperhatikan Rukia yang tengah asik menyesap teh buatannya. Rukia tampak puas menikmati teh buatan Hinamori.
"Katakan saja, aku tidak akan marah padamu," ucap Rukia santai.
"Sebenarnya sebelum kau kesini, aku telah diberi tahu Byakuya-sama ingin masuk ke akademi sebagai seorang laki-laki. Sebenarnya apa yang ingin anda cari saat anda menjadi seorang laki-laki?" tanya Hinamori penasaran.
Rukia tertawa ketika Hinamori menanyakan hal seperti itu. Gadis itu kemudian menoleh ke samping Hinamori. Ia kemudian meletakkan cangkir yang sejak tadi ia pegang. Rukia menghela nafas sebentar hingga akhirna ia bersiap menjawab pertanyaan Hinamori. "Sebenarnya, aku masuk ke akademi demi untuk selalu dekat dengan cinta pertamaku," ucap Rukia tenang.
"Benarkah itu? Lalu siapa laki-laki yang beruntung itu, Rukia?" tanya Hinamori lagi.
"Namanya Kaein Shiba. Ia juga sedang menjalani pendidikannya di Akademi Huece Mundo. Itulah sebabnya aku sampai rela harus menyamar menjadi seorang laki-laki," jawab Rukia lagi.
"Apa kau sudah bertemu dengannya, Rukia?"
"Sudah, tapi tidak seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Aku bahkan sangat kecewa dengannya."
"Kenapa? Harusnya kau senang bisa bertemu dengannya."
Rukia tampak diam sebentar. Ia masih mengingat memorinya yang terjadi tadi siang ketika ia berada di perpustakaan. "Huff, aku mendengar dari mulutnya sendiri jika ia mendekatiku karena ingin menjadikanku mangsanya. Benar-benar kejam bukan," ucap Rukia lirih.
"Kenapa anda seyakin itu, mungkin saja kau salah dengar."
"Aku tidak salah dengar, Hinamori. Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Kaein dengan temannya. Saat dia bilang ingin menjadikanku mangsa, aku sempat menyerah untuk melanjutkan ini," ucap Rukia sedih.
Hinamori turut prihatin dengan keadaan teman barunya itu. Ia bisa memahami perasaan Rukia yang sedang buruk saat ini. "Tenanglah, Rukia. Mungkin jika kau tidak sengaja mendengar pembicaraa mereka, kau tidak akan tahu siapa yang sebenarnya Kaein. Aku percaya kau bisa kuat dan sanggup melalui ini semua," kata Hinamori menghibur.
"Ya, akan aku coba, Hinamori. Setidaknya aku tidak akan berhenti belajar hanya karena Kaein yang mengecewakanku. Terima kasih telah mendengarkan ceritaku, Hinamori," ucap Rukia tulus.
"Kapan saja kau ingin cerita, aku siap menjadi pendengar yang baik."
"Kau boleh kembali ke kamarmu dan beristirahatlah, Hinamori."
"Baiklah. Kau juga." Hinamori kemudian menginggalkan Rukia sendirian di perpustakaan mini milik kakaknya. Rukia kemudian melanjutkan tugasnya yang sebentar lagi selesai.
'Tinggal sedikit lagi tugas ini selesai, Rukia. semangat!' batin Rukia menyemangati dirinya sendiri.
.
.
Dua minggu kemudian
Hari-hari Rukia di akademi tak terasa sudah menginjak minggu ke dua. Semenjak itu, Rukia kini telah memiliki banyak teman berkat ia mengenal Ichigo Kurosaki. Berkat Ichigolah, Rukia bisa mengenal banyak hal yang selama ini belum ia ketahui, termasuk tingkah para laki-laki sehari-hari. Meskipun Rukia sedang menyamar, tentu saja ia tidak melupakan jiwanya sebagai seorang perempuan.
"Kau sedang apa, Rui?" tanya Ichigo yang tiba-tiba duduk di samping Rukia
"Sedang bosan, Ichigo. Rasanya aku ingin membolos saja hari ini." Rukia terlihat tidak bersemangat hari ini. Apa yang menyebabkan ia menjadi malas, Rukiapun tidak tahu jawabannya.
Ichigo tertawa sebantar. Pemuda itu kembali menelusuri apa yang sedang dipikirkan temannya. "Sifat liarmu muncul, heh?" ejek Ichigo.
Mengendus kesal, Rukia hanya bisa membenarkan apa yang dikatakan Ichigo. "Itu sudah sifat alami seorang laki-laki, kan?" jawab Rukia santai.
"Piffttt.. aku rasa juga begitu. Minggu depan saja kita membolos pada jam Yumichika-sensei, Rui," tawar Ichigo. Pemuda itu juga merasa minggu-minggu ini ia lalui dengan hal yang membosankan. Ia sudah lama tidak menikmati yang namanya hidup. Ia perlu hiburan bersama seseorang. Ya, setidaknya kalau ia membolos harus ada temannya, itu menurut pemikiran pemuda berambut secerah mentari itu.
"Aku inginnya sekarang, kenapa harus menunggu minggu depan. Bisa jadi jamur kalau menunggu selama itu," ucap Rukia cemberut.
"Hari ini dan besok, adalah waktunya sensei terhoror di akademi ini menjajah otak para murid dengan tugas dan hafalan. Jangan sampai kita membolos kalau tidak ingin nasibnya seperti yang ada di depanmu itu," ucap Ichigo sambil menunjuk beberapa siswa yang tengah dihukum.
Rukia yang melihat ke arah yang di tunjuk Ichigo juga bergidik ngeri melihat mereka yang dihukum seperti tahanan. 'Benar-benar mengerikan,' batin Rukia ngeri.
"Baiklah. Kita membolos saat pelajaran Yumichika-sensei."
"Kalau begitu ayo kita ke kelas. Sebentar lagi pelajaran di mulai, Rui."
"Umm.. ayo ke kelas." Keduanya kemudian menuju kelas mereka. Saat dipersimpangan menuju kelas mereka, Rukia dan Ichigo berpapasan dengan Kaein yang tampak sibuk menjani hukuman.
"Kau kenapa Kaien? Tanya Ichigo menghampiri Kaein. Ichigo memperhatikan interaksi yang terjadi antara Kaein dan Ichigo. Saat melihat mereka berdua ngobrol, terlihatlah mereka di mata Rukia bahwa Ichigo dan Kaein seperti saudara kembar.
"Ini semua gara-gara Yamamoto-sensei yang memergokiku sedang tidur, Ichigo. Kau sendiri sedang apa disini dengan murid baru itu?" tanya Kaein heran. Kaein memang mengetahui perihal kedatangan murid baru di akademi, namun baru kali ini ia melihat murid baru yang sekarang sedang bersama Ichigo.
Samar-samar dari jauh, Rukia bisa mendengar keluhan Kaein yang dihukum akibat perbuatannya. 'Rasakan itu, pria hidung belang,' batin Rukia puas. Rukia kembali memperhatikan pembicaraan mereka.
"Aku hanya sedang berjalan-jalan dengan temanku," ucap Ichigo santai.
"Oh. Aku kira kau sudah tidak ada lagi jam pelajaran, Ichigo." Kaein sedikit heran, karena temannya itu bisa dengan leluasa berkeliaran di sekitar koridor pada jam pelajaran seperti sekarang ini.
Ichigo tertawa sebentar, sebelum akhirnya ia berpamitan pada Kaein. "Sebentar lagi aku ke kelas. Aku duluan, Kaein. Jaa nee."
"Hem.. ya," ucap Kaein singkat. Pemuda yang wajahnya mirip dengan Ichigo itu, kembali menjalankan hukumannya. Sesekali ia melihat punggung temannya yang perlahan menjauh darinya. Ia benar-benar merasa malu ketika Ichigo melihatnya di hukum seperti ini. 'Sungguh ini bukan Kaein yang dikenal Ichigo,' pikirnya.
Ichigo kemudian berlari ke arah Rukia. Mengingat sebentar lagi pelajaran di mulai, Ichigo lantas menarik tangan Rukia dan berlari agar cepat sempai di kelas. Rukia yang merasakan tangannya di genggam erat oleh Ichigo merasakan hal yang tidak biasa. Entah kenapa, tangan Ichigo begitu besar dan hangat membuat Rukia merasakan degupan jantung yang berdebar-debar lebih cepat dari biasanya.
"Ichigo, kenapa harus lari-lari. Aku capek," ucap Rukia mengalihkan rasa berdebarnya akibat terlalu memikirkan posisi tangan mereka yang saling mencengkeram erat.
"Baka! Ini supaya kita tidak terlambat, bertahanlah sebentar. Kau itu laki-laki, harus kuat," kata Ichigo tanpa dosa.
"Aku bukan baka, stroberi." Rukia menggerutu tak terima jika ia dikatakan baka oleh Ichigo.
'Sialan anak ini, seenaknya memanggilku stroberi,' batin Ichigo kesal.
"Kenapa diam. Aku sedang bicara denganmu," bentak Rukia. Ichigo yang semula masih berlari sambil menarik tangan Rukia, menghentikan langkahnya.
"Dari pada berdebat denganmu, lebih baik kita mengejar waktu agar cepat sampai ke kelas," ucap Ichigo ketus. Masih pada posisi yang sama, Ichigo seolah tak sadar jika sejak tadi ia belum melepaskan genggaman tangannya. Keduanya tak ingin melanjutkan kembali perjalanan mereka menuju kelas, sambil berlari di lorong kelas.
...
Seminggu kemudian
Hari ini, merupakan hari yang di nantikan Ichigo dan Rukia. Tentu saja, karena minggu lalu, mereka sepakat untuk membolos pada pelajaran Yumichika-sensei. Ichigo kini menunggu Rukia di tempat yang mereka telah sepakati yaitu di sebuah kedai ramen yang terletak lima ratus meter dari akademi.
Lama menunggu, Rukia belum juga menampakkan batang hidungnya. Ichigo sendiri nampak resah, temannya hingga sekarang belum datang. "Lama sekali dia," gerutu Ichigo semakin frustasi.
Beberapa menit kemudian, orang yang di tunggu datang. Rukia tampak sangat lelah. Sepertinya ia berlari untuk tidak datang terlambat menemui Ichigo. "Maaf, terlambat. Aku tersesat," ucap Rukia tanpa dosa.
"Kau lama sekali, bocah."
"Aku bangun terlambat, baka." Gadis itu, masih berdiri dan mengatur nafasnya yang terlihat tersenggal-senggal.
"Duduklah dan minum ini. Kau terlihat mengenaskan dengan wajah seperti itu, Rui," cibir Ichigo. Ichigo kemudian menuangkan air minum dan memberikannya pada Rukia. "Minumlah, kau pasti kehausan karena berlari."
Rukia langsung meneguk habis isi yang ada di gelas itu. Dengan rakus, air dalam gelas itu habis tak bersisa. "Terima kasih, Ichigo," ucap Rukia lega.
"Sudah tidak haus lagi?"
"Tidak, ini sudah cukup bagiku. Ayo kita segera berangkat, Ichi." Puas hanya dengan minum dan istirahat sebentar, Rukia mengajak Ichigo untuk segera menuju ketempat yang akan mereka kunjungi. Sebelum berangkat, Ichigo mengeluarkan beberapa uang koin untuk membayar minuman yang tadi mereka pesan.
Mereka, keluar dari kedai itu. Ichigo kemudian membawa Rukia ketempat biasa ia menghabiskan waktu saat liburan. Sesekali Rukia bertanyapada Ichigo tentang seperti apa tempat yang akan mereka datangi, namun Ichigo hanya menjawab sekenanya.
"Apa masih jauh tempatnya?" tanya Rukia penasaran. Sepanjang perjalanan Rukia hanya melihat hamparan pohon-pohon dan bukit yang menjulang. Rukia sendiri belum pernah melihat pemandangan yang begitu indah selain di Seiretei. Ia begitu menikmati perjalanan ini, sampai-sampai rasa lelah yang sejak tadi ia rasakan, sama sekali hilang karena kekagumannya pada tempat ini.
Ichigo berhenti mendadak ketika melihat pemandangan di depannya. Danau yang indah terlihat jelas menghipnotis Rukia dan Ichigo. "Kita sudah sampai. Ini tempat yang aku maksud, Rui. Indah bukan?" ucap Ichigo takjub.
Rukia tak mampu mengucapkan kata-kata selain kagum akan keindahan di depannya. "Wah, ini baru namanya surga," ucapnya senang.
"Ayo naik ke rakit itu. Kita berkeliling danau dengan rakit itu, Rui."
"Hehehe, kau yang mendayung. Aku masih capek." Kekehan kecil terdengar dari bibir Rukia. Dengan senyum andalannya, ia berusaha merayu Ichigo agar Ichigo yang mendayung rakit tersebut.
"Huft, dasar bangsawan manja," gerutu Ichigo.
Ichigo kemudian membawa Rukia menuju rakit yang terikat di dermaga kecil itu. Dengan hati-hati, Ichigo menuntun Rukia naik ke atas rakit itu. Memastikan semua aman, Ichigo perlahan mendayung rakit itu dengan hati-hati.
"Kau senang?" Pemuda itu tiba-tiba bertanya saat Rukia hanya diam menikmati suasana yang masih alami itu ada didepan matanya.
"Tentu saja."
"Lain kali kita kembali kesini jika kau mau, Rui."
"Dengan senang hati, tuan Kurosaki."
..
To be continued
A/N: kayaknya saya salah ngasih judul dech.
