Hay guys.

Dengan rahmat Tuhan yang Maha Esa akhirnya Zie bisa update fict ini dengan cukup cepat. Etto, Zie akan jawab dulu pertanyaan kalian seputar fict Zie ini.

Naruto-kun. Apakah itu typo?

Jawaban tidak. Zie penyuka anime dan biasanya beberapa character anime kadang memanggil cewek dengan suffix –kun. Terkadang suffix –kun sama dengan suffix –chan. Teman-teman Zie juga kadang panggil Zie dengan suffix –kun supaya lebih akrab.

Lalu, apakah Naruto seorang dewi atau siluman atau juga jinchuriki?

Nanti Zie akan jawab di cerita saja. tapi sebagai gantinya Zie akan memberikan kalian bocorannya. Sejak lahir, Naruto adalah manusia.

Kisah bagaimana Naruto berubah dan sebutannya akan Zie jelaskan di Chapter ketiga.

Flashbacknya gak terlalu ribet seperti Topeng karena menghindari readers yang gak loading dengan jalan ceritanya. Jadi tenang saja. Untuk jalan cerita, Zie emang lebih paham dengan fict Zie yang satu ini dibandingkan fict Zie yang sebelumnya jadi Zie optimis bisa menyelesaikannya dengan cepat kecuali ada tugas dan ujian dari kampus.

Oke, hanya ini dulu yang Zie sampaikan. Terimakasih atas dukungan para readers, reviewers, followers dan favoriters. Aku mencintai kalian semua. Muach.

Happy reading

Princess of Death Forest

Romance, Misteri

SasufemNaru, ItachiFemKyuu, slight SasuSaku

M for violence. T+

Sinopsis:

Kehidupan Naruto yang tenang terusik oleh kedatangan Sasuke, pangeran bungsu kerajaan Ame yang terpaksa ia selamatkan karena permintaan Mori, dewa penjaga hutan kematian. Dendam, mimpi buruk dan kebencian yang telah ia pendam selama ini pun turut bangkit. Kebencian dan cinta, manakah yang akan ia pilih?

Warning : Naruto is female. Naruto cewek. Tidak ada yaoi atau yuri di sini. Gaje mungkin saja. typo juga. Kata-kata yang kurang jelas, penjelasan sedikit atau yang lainnya.

Sasuke tidak bisa memejamkan matanya. Tubuhnya terasa begitu lelah tapi matanya sama sekali tidak mau diajak bekerjasama. Mendesah pelan, ia kembali menatap langit-langit kamar itu dengan nyalang. Jutaan ingatannya yang lalu berkelebat di dalam benaknya. Sosok ibunya yang penuh kasih sayang, ayahnya yang begitu disiplin dan sangat ia puja, kakaknya yang selalu menganggapnya sebagai anak kecil dan terakhir ia melihat Sakura. Ah, gadis itu tampak selalu mempesona di matanya.

Rambut merah mudanya yang tercium seperti strawberry, mata hijaunya yang selalu menatapnya dengan tatapan memuja dan senyumannya yang lebar. Apa yang sedang dia lakukan sekarang? Tanyanya dalam hati. Entah mengapa ia merasa gundah. Seharusnya malam ini ia datang ke kediaman Haruno dan melamar gadis itu. Seharusnya malam ini ia berada di sana, bersama Sakura dan merencanakan masa depan mereka yang bahagia.

"Brengsek!" Sasuke tanpa sadar bangkit dan mengacak rambutnya frustasi. Dengan gusar, ia mencari barangnya. Ia harus pergi malam ini juga, putusnya. Namun, ia tidak menemukan barang-barangnya. Kamar itu hanya berisi ranjang, nakas dan meja kecil. Di dalam nakas itu pun hanya ada sebuah bingkai foto yang dibalik dan sebuah kotak kecil yang sudah usang.

Mendesah berat, Sasuke memutuskan untuk keluar kamar. Dengan cepat, ia membuka pintu itu yang langsung berderak nyaring, menembus kesunyian malam tapi Sasuke terlalu gusar untuk menanggapinya. Matanya menelanjangi ruangan itu dengan cepat, berharap ia bisa melihat gadis pirang itu. Namun, gadis itu tidak ada di sana.

Mengerang kesal, ia melirik pintu lain dimana Naruto menghilang tadi. Sejenak ia merasa ragu. Gadis itu begitu baik, menyelamatkannya dan memberinya tempat untuk menginap. Apakah gadis itu akan marah jika ia keluar malam-malam? pertanyaan itu mengusiknya. Membuatnya berdiri mematung, bimbang.

Bayangan akan Sakura pada akhirnya mengalahkan rasa bersalahnya. Ia memutar handle pintu dan langsung berhadapan dengan hutan yang gelap. Hawa dingin dan embun yang mulai menebal membuatnya ngeri.

Wo takaku noboru hikaru

Wakitachi taru omo hi

Mamoru beki yu no michi yo

Shi na hasasu sora wo aoi

Suna kaze ara koto mo

Sayup-sayup, Sasuke mendengar lagu yang terasa tidak asing, membuatnya mengerutkan dahinya dalam. Lagu itu lagi, ucapnya dalam hati, tiba-tiba merasa senang. Dengan langkah cepat —melupakan rasa takutnya yang tadi— ia menembus hutan kabut. Mengandalkan pendengarannya dan instingnya, ia berjalan, mengikuti asal lagu yang ia yakini dinyanyikan oleh gadis pirang itu.

Sagi kokoru koko no hi yo hana ni ma ichira.
Rasen ni tsutayu hikari,
Ryu no te wo tatsu niwa e,
Ari shi hi no omo kage yo

Suara itu semakin terdengar jelas. Seakan-akan memuji Sasuke yang mampu mengikutinya. Tersenyum senang, Sasuke semakin mempercepat langkah kakinya, berbelok di salah satu tikungan dan menerobos beberapa semak belukar yang tumbuh liar. Ia terus berjalan, berjalan sampai kakinya berhenti dengan matanya yang terpaku kaget.

To wa no uta wo kokoro tsunaii.
Te na, na wa, na to uto mo,
Moe sagaru mane no hi yo yami wugi girisa ga.
Ro takaku noboru hikari,

Gadis pirang itu ada di sana. Tengah duduk dengan alat musiknya yang mengalun indah. Gadis itu duduk di sebuah batu besar di tengah danau. Danau itu tidak lebih besar dari ruang dansa di istananya. Membuatnya bisa dengan jelas melihat Naruto yang terbuai oleh lagunya.

Ia tampak memukau dengan rambut pirangnya yang ia sampirkan ke samping dan beberapa kunang-kunang yang hinggap di sana membuatnya terlihat seperti dewi Muse —Dewi musik dan nyanyian— yang turun dari kayangan untuk menghibur penghuni hutan kematian yang murung.

Nakaru ru toki kioku,
Ayumubeki ikiru michi wo,
Yume ni ikiru sora o aogi.

Naruto berhenti. Matanya terpejam, membuat Sasuke sedikit merasakan kesal karena tidak bisa melihat mata biru yang menyala indah di tengah kegelapan.

Hening menyelimuti. Naruto tetap memejamkan matanya dan Sasuke pun tampak menikmati tempat baru tersebut. Danau luas yang dipenuhi oleh kunang-kunang yang menyala dalam kegelapan. Sungguh indah. Ia bahkan tidak bisa membandingkannya dengan taman bunga milik ibunya.

"Sampai kapan kau berada di situ?" Naruto tiba-tiba saja berujar membuat Sasuke terperanjat. Gadis itu sudah membuka matanya dan menatap Sasuke dengan tatapan terganggu. "Bukankah aku sudah menyurumu untuk tidur?" lanjutnya dengan tatapan tajam terarah lurus ke Sasuke. Suara ketus dan tidak bersahabat.

Namun, pemuda itu sama sekali tidak terpengaruh. Dengan tenang, ia berjalan dan mencelupkan tangannya ke dalam danau, merasakan bagaimana air danau yang dingin menyejukkannya. "Aku tidak bisa tidur" ujarnya kemudian. Entah mengapa sama sekali tidak menyukai keheningan diantara mereka.

Naruto mendengus. "Dasar manja" ucapnya setengah mengejek. Ia kemudian mengangkat telunjuknya, tampak senang ketika beberapa ekor kunang-kunang hinggap di sana. Hening kembali menyelimuti mereka. Sasuke larut dalam pikirannya dan Naruto tampak sibuk bermain dengan teman-teman kecilnya itu. "Ada yang ingin kau tanyakan?".

"Hah?"

Naruto merenggut kesal. "Kau tidak akan datang ke sini tanpa tujuan, bukan?" ucapnya yang langsung membuat Sasuke bungkam. Ah, iya. Bagaimana ia bisa melupakan tujuan awalnya.

Memperbaiki posisi duduknya, Sasuke akhirnya membuka mulutnya, "Pertama-tama, siapa kau?"

Naruto mengerutkan dahinya, tampak tidak suka dengan pertanyaan Sasuke. "Aku?" beonya tidak mengerti.

Sasuke mengangguk. "Aku tidak mengetahui namamu sejak awal dan itu sangat tidak sopan menurutku."

Naruto tersenyum. "Ah, etika seorang bangsawan" Naruto mendesah mengerti. "Kau bisa memanggilku dengan nama apa saja. Bagiku semua nama sama saja" jawabnya tenang. Membuat Sasuke mengerutkan dahinya. Kalau gadis pirang itu menyuruhkan untuk memanggilnya dengan nama pilihannya sendiri, maka ia tidak bisa. Ia bukan orang yang dengan mudahnya mendapatkan nama bagus. Terlebih lagi untuk gadis pirang itu.

Lama ia berfikir. Kerutan di dahinya semakin terlihat sampai sebuah ide menarik hinggap di kepalanya. "Kalau begitu, aku akan memanggilmu Dobe" balas Sasuke ringan yang langsung membuat senyuman di bibir Naruto menghilang.

"Siapa yang kau panggil Dobe?" Naruto menyedekapkan tangannya, setengah membentak. Kunang-kunang di jarinya terbang menghindar. Aura yang dipancarkan gadis itu ketika kesal sangat menakutkan.

"Kenapa? Bukankah tadi kau menyuruhku untuk memanggilmu dengan nama pilihanku sendiri?" balas Sasuke polos, setengah polos sebenarnya. Pemuda itu tampak lebih terhibur melihat Naruto yang marah seperti ini. Entah mengapa ia tidak terlalu suka melihat wajah Naruto yang diam dan tanpa ekspresi.

"Kau…" Naruto menghentikan ucapannya. Wajahnya sedikit memerah. Seumur hidupnya, tidak ada yang pernah mengatainya Dobe. Bahkan Mori sahabatnya pun selalu berhati-hati dalam mengerjainya mengingat bagaimana menakutkannya dirinya ketika marah. "Dasar kau, Teme!

Kini, giliran Sasuke yang tersinggung. Apa katanya? Teme? Api kecil di dalam hatinya dengan cepat tersulut menjadi besar. "Siapa yang kau panggil Teme hah, Dobe?" geram Sasuke marah. Matanya begitu tajam, siap membunuh dengan aura mematikan.

Namun, Naruto hanya menatapnya datar dengan seringai kemenangan. Rasakan kau Pangeran bodoh, soraknya dalam hati. "Kau!" jawabnya. Dengan tenang ia berdiri di atas batu, menghadap Sasuke yang masih menatapnya kesal. Dengan gaya anggun, ia menundukkan tubuhnya, "Senang berkenalan dengan anda, Teme-sama" ujarnya sopan yang langsung dibalas dengan pelototan dari Sasuke, membuatnya tidak bisa menahan sikapnya yang sopan dan langsung tertawa terbahak-bahak. Sebuah tawa lepas yang dalam 10 tahun ini menghilang.

Untuk beberapa saat membuat Sasuke terpana. Suara Naruto yang tertawa begitu ringan dan terdengar seperti suara lonceng peri.

"Aku tidak menyangka kau begitu lucu, Teme" ujar Naruto setelah tawanya sedikit mereda. Ia dengan cepat menyeka cairan bening yang berada di ujung matanya. "Oke, pertanyaan kedua"

"Dimana barang-barangku?"

"Barangmu?"

Sasuke mendesah berat. "Ya, pedang, busur dan panah. Juga beberapa keping emas. Dimana mereka?" tanyanya tidak sabar.

Namun, Naruto hanya menatapnya dengan tatapan aneh. Membuatnya semakin kesal. "Apa?" bentak Sasuke kesal.

"Aku tidak tahu kau begitu bodoh" ucap Naruto akhirnya setelah terdiam beberapa menit. Ia kemudian duduk kembali dan mencelupkan kakinya ke dalam air danau yang dingin. Tampak tidak peduli dengan Sasuke yang masih kesal. "Aku tidak tahu darimana dan seperti apa kehidupanmu sebelum ini. Tapi di sini, kami memiliki kehidupan yang lain. Hutan kematian memiliki aturannya sendiri" jelasnya tanpa menatap Sasuke. Namun, ia yakin pemuda itu masih mendengarnya. "Ketika aku menemukanmu, kau hanya memakai pakaian yang penuh dengan darah kering. Tidak lebih dari itu"

Ia mendengar suara geraman Sasuke dan derak pohon yang dihancurkan. Namun, ia sama sekali tidak tertarik untuk melihatnya. ia lebih tertarik dengan wajahnya yang terlihat aneh di atas permukaan danau yang beriak akibat ulah kakinya yang bergerak.

"Dimana mereka?"

Naruto menaikkan alisnya sebelum akhirnya mendesah mengerti. "Maksudmu, perampok itu?"

Sasuke terdiam tapi Naruto tahu jawabannya. Pemuda itu pasti berniat untuk mengambil barangnya kembali, mungkin memberikan mereka satu-dua pukulan balasan. "Lupakan. Kau tidak bisa mengalahkan mereka"

Sasuke kembali menggeram. Gadis itu meremehkannya, membuatnya teringat akan sifat kakaknya Itachi yang selalu menganggapnya sebagai anak kecil. Menyulut amarahnya kembali ke permukaan. "Kau pikir aku lemah?" tanyanya marah. Suaranya bergetar karena menahan amarahnya.

Naruto tersenyum masam. "Ya. Bangsawan sepertimu tidak ditakdirkan untuk berada di sini.

Kalian ditakdirkan untuk selalu berada di bawah sinar lampu lantai dansa dan pakaian mewah." Suaranya tenang bak air danau tanpa riak yang mengganggunya, tapi entah mengapa Sasuke merasakan kepedihan dalam suara itu.

"Dobe"

"Kau mengerti kan?" Naruto tiba-tiba berdiri. "Nanti pagi, aku akan mengantarmu sampai perbatasan. Lupakan barangmu itu. Aku yakin kau memiliki lebih dari cukup uang untuk membeli yang baru" setelah mengatakannya, Naruto menghilang di balik kabut yang tiba-tiba menebal. Membuat Sasuke yang ingin meluncurkan protes menghentikan protesnya di detik terakhir.

Mengerang kesal, Sasuke membiarkan tubuhnya ditarik gravitasi bumi. Gadis itu benar-benar pintar membangkitkan amarahnya yang sejak lama ia simpan rapat. Dengan caranya sendiri, ia membuatnya marah, terpukau dan penasaran dalam waktu yang singkat. Ia bahkan sedikit merasa aneh kepada dirinya sendiri.

Sejak kecil, ia sudah terbiasa memendam perasaannya sendiri, menipu semua orang dengan topeng dinginnya. Tapi kenapa ia tidak bisa melakukannya kepada gadis itu?

Ia mengacak rambutnya kasar. Mendesah berat, ia akhirnya memutuskan untuk berdiam diri di sini, menjernihkan pikirannya. Ia berusaha mengindahkan tanah yang berada di bawahnya basah oleh embun atau dinginnya hawa malam. ia terlalu lelah untuk memikirkan hal remeh seperti itu.

Langit yang gelap berangsur menjadi lebih terang ketika pada akhirnya matanya memberat dan deru nafasnya bergerak teratur. Ia tertidur. Ditemani nyanyian makhluk malam yang membimbingnya tidur.

Ketika ia terbangun, ia merasakan sebuah benda hangat yang memeluk tubuhnya. Benda itu cukup berat tapi terasa begitu pas bagi tubuhnya yang memang terasa kaku karena kedinginan. Mendesah senang, ia menarik benda itu semakin melingkupi tubuhnya. ia sudah hampir menyambung mimpinya sebelum suara dengusan tertangkap telinga.

Sontak, ia mengerutkan dahinya tanpa membuka matanya. Matanya terlalu berat untuk terbuka.

"Dasar pemalas"

"Naruto, berhentilah"

"Tidak akan. Lagipula, dia memang pemalas"

"Naruto"

"Apa?"

"Diamlah. Kau mengganggunya tidur"

"Cih"

Byur!

Kerutan di dahinya semakin dalam. Sedikit kesal dengan suara berisik yang mengganggunya. Mengerang kesal, Sasuke akhirnya memutuskan untuk membuka matanya. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah pohon yang gelap, semak berbunga kuning dan rumput hijau.

Ia mengerjapkan matanya bingung sebelum akhirnya mendesah lega.

Ia sepertinya tertidur tadi tapi…

Ia mengerutkan dahinya ketika matanya menangkap sebuah selimut tebal yang berasal dari kulit beruang berwarna coklat gelap.

"Sepertinya kau sudah bangun"

Sasuke mengubah posisinya menjadi duduk, memandang Naruto yang tengah berenang dengan senang di tengah danau tanpa berkedip. Pemandangan Naruto yang tengah mandi dengan rambut panjangnya yang basah dan pundak coklat madunya yang terlihat begitu manis untuk digigit.

Sasuke tetap terdiam dengan matanya yang tidak bisa ia alihkan dari tubuh menggoda Naruto.

"Teme"

"…."

"Teme"

"…."

Naruto mengerang kesal. Ia memutar otaknya dengan cepat dan Ting! Ide cemerlang meluncur masuk ke dalam otaknya. Membuatnya tidak bisa menyembunyikan seringai jahilnya. Pemuda itu perlu diberi pelajaran dan Naruto dengan senang hati menawarkan dirinya untuk itu.

Dengan tenang, ia menangkupkan kedua tangannya ke dalam danau. Menampung air sebanyak yang tangannya bisa tampung dan Byur!

"Hei" Sasuke berteriak terkejut, merasakan bagaimana air danau yang dingin menyegarkan dirinya. Beberapa rambutnya basah kuyup akibat air yang dicipratkan Naruto kepadanya. Sukses membuat Naruto tertawa terbahak-bahak. Wajah Sasuke yang terkejut terlihat begitu menarik baginya.

"Hahaha, Teme. Seharusnya kau lihat wajahmu itu. Hahaha" ucap Naruto tanpa bisa menghentikan tawanya sehingga ia sama sekali tidak menyadari jika Sasuke sudah berdiri dan menceburkan dirinya ke dalam danau yang dingin. Ia dengan cepat menangkap tangan Naruto sebelum gadis itu bereaksi.

"Hai, Dobe. Menikmati pertunjukan?" Sasuke tersenyum puas melihat wajah Naruto yang terkejut.

"Teme, tunggu!"

Terlambat. Sasuke dengan cepat menangkup air dengan setengah tangannya yang bebas dan membuat Naruto kewalahan dengan air yang menabrak wajahnya.

Tidak mau kalah, Naruto akhirnya melakukan hal yang sama. Ia menangkupkan air dengan tangannya yang bebas dan membalas serangan Sasuke terhadapnya. Tidak lama, mereka pun larut dalam permainan air mereka, sama sekali tidak menyadari Mori yang duduk di salah satu dahan pohon. Mata coklatnya bersinar senang dengan matanya yang terpaku pada wajah gembira Naruto.

Ia bahkan sama sekali tidak mengindahkan kedatangan Mei, calon istrinya. Ia hanya melirik gadis itu sekilas sebelum kembali memandang Naruto yang tampak kewalahan melawan Sasuke.

"Sepertinya rencanamu berhasil" gumam Mei, duduk anggun di samping Mori. Kimono emas merahnya menjuntai indah, terlihat begitu cocok dengan kulitnya yang putih.

"Aku hanya membantu sedikit" balas Mori merendah meskipun senyuman bangga terukir jelas di bibirnya.

Mei mendengus. Matanya ikut memandang Sasuke dan Naruto yang masih bermain. Kemudian bibir itu mengulas senyum. "Kushina pasti akan sangat senang melihatnya"

"Tentu. Ia pasti akan sangat senang" gumam Mori tersenyum. Membayangkan wajah wanita berambut merah yang selalu memarahinya setiap hari. Wajah garang yang entah mengapa sangat ia sayangi.

Akan kupastikan Naruto mendapatkan kebahagiaannya yang terenggut dan akan kupastikan juga mereka mendapatkan balasan karena telah menghancurkanmu, Kaa-san.

"Hatchi"

Sasuke mengusap ujung hidungnya kesal. Tubuhnya menggigil kedinginan. Ia tidak menyangka bermain air sebentar bisa membuatnya kedinginan seperti ini. Mendesah kesal, Sasuke menarik selimut kulit itu melingkari tubuhnya sementara matanya terus terpaku ke jalan yang tadi dilalui Naruto. Gadis itu tadi mengatakan akan pergi ke rumah untuk mengambil pakaian ganti untuk mereka sementara dirinya duduk di sini menjaga ikan mereka yang sedang dibakar dengan api unggun yang menyala kecil.

Mendesah kesal, Sasuke mengedarkan pandangan ke segala arah. Jika terus begini, ikan itu akan matang nanti siang dan ia tidak memiliki cukup kesabaran untuk menunggu terlalu lama. Perutnya terlalu kosong sehingga ia mulai berfikir jika dua ekor ikan sama sekali tidak cukup baginya.

Namun, ia hanya melihat semak dan beberapa batang pohon yang terlalu besar dan basah oleh embun pagi. Pada akhirnya, ia memutuskan untuk diam dan menunggu Naruto kembali. Tubuhnya masih menggigil dan mustahil bagi dirinya yang sejak kecil hidup mewah untuk bekerja seperti ini.

Tidak lama kemudian, Naruto datang dengan kayu bakar, keranjang piknik, dan pakaian kering untuknya. Gadis itu juga sudah berganti. Ia mengenakan kimono lusuh berwarna kuning pucat yang mungkin saja pada awalnya berwarna orange. "Berhentilah berwajah murung seperti itu" ucapnya serius. Ia lalu menyerahkan pakaian kering kepada Sasuke yang menerimanya dengan enggan dan menatapnya dengan pandangan bingung.

"Darimana kau mendapatkan pakaian ini?" tanyanya dengan tatapan menyelidik.

"Itu pakaian buatan ibuku" jawab Naruto tenang. Dengan cekatan, ia menata kayu bakar dan mengiris daging asap yang ia bawa dari rumahnya. Sama sekali tidak menoleh kearah Sasuke yang menatapnya dengan tatapan prihatin. Ia tidak butuh dikasihani. Hanya orang lemah yang butuh dikasihani, dan ia benar-benar tahu jika ia tidak termasuk orang lemah.

"Maaf"

Naruto tersenyum tipis. "Tidak apa. Ibuku suka sekali menjahit. Ia biasanya akan menyuruhku untuk membeli kain di pasar setiap minggu untuk membuatkanku pakaian" jelasnya setengah berdusta.

Namun, tampaknya pemuda itu tidak menyadari kebohongan kecilnya. Pemuda itu tampak larut dalam pikirannya sendiri. Ia bahkan tidak menyadari jika pakaiannya masih basah dan perlu diganti.

Mendesah pelan, Naruto akhirnya berdiri dan dengan cepat mengambil selimut yang menutupi tubuh Sasuke dan detik itu juga, angin yang dingin menyelimuti tubuh Sasuke. Membuatnya harus menahan diri untuk tidak menggigil kedinginan.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Sasuke tidak terima.

Namun, Naruto hanya menatapnya datar. "Aku tidak membawa selimut untuk dijadikan handuk" ucapnya tenang. Ia kemudian melipat selimut itu dan duduk kembali di tempatnya, sibuk membalikkan ikan yang hampir matang. "Kau bisa menggunakan gua di sana untuk mengganti pakaianmu" lanjutnya ketika pemuda itu tampak terpaku dengan tatapan mata protes. Mengedikkan bahunya kearah gua kecil yang ditutupi dahan pohon kecil.

Sasuke menolehkan kepalanya, memandang gua kecil itu dengan ragu. Ia tidak pernah mengganti pakaiannya di tempat terbuka, termasuk gua. Kalau tidak salah, ia pernah membaca jika gua selalu dijadikan tempat tidur bagi hewan buas seperti beruang.

"Tenang saja. Musim ini mereka tidak akan tinggal di gua itu" Naruto kembali menyahut, menyadari alasan mengapa pemuda itu tidak beranjak dari tempatnya.

"Bagaimana kau tahu?" tanya Sasuke sangsi.

Naruto menolehkan wajahnya dan tersenyum misterius. "Percayalah. Mereka tidak akan berani ke sana" ucapnya, membuat Sasuke menaikkan alisnya.

Keadaan istana pagi ini begitu buruk. Itachi yang biasanya sudah duduk di meja kerjanya dan mengerjakan dokumen kerajaan, kini hanya duduk termenung. Pria itu hanya mengetukkan jarinya di atas meja dengan tidak sabaran.

Tadi pagi sekali, utusan dari kerajaan Haruno datang ke istananya. Mereka bertiga datang dengan tubuh yang kelelahan, membawa sebuah perkamen yang ditulis langsung oleh raja mereka.

Pada awalnya Itachi mengira jika isi perkamen itu hanyalah ajakan kerjasama antar kerajaan. Namun, tubuhnya langsung melemas ketika matanya menangkap kata 'Sasuke' dan 'menghilang' di dalam kalimat itu.

Sasuke, satu-satunya adik yang sangat ia sayangi sekarang hilang.

Itachi menutup matanya sedih. Selama ini ia tidak pernah terlalu baik pada Sasuke. Ia selalu sibuk dengan persiapannya untuk menjadi raja selanjutnya, menggantikan ayahnya yang akan pensiun sebentar lagi.

"Sasuke…"

Tok.. Tok..

Itachi tanpa sadar menegakkan tubuhnya. Berdehem pelan, ia mempersilahkan tamunya untuk masuk. Dari balik pintu, ia melihat Kakashi datang. Pria itu tampak begitu tenang dengan sebagian wajahnya yang tertutup masker.

"Itachi-sama" sapanya sembari sedikit membungkuk.

Itachi mengangguk pelan. "Maaf sudah memanggilmu jauh-jauh dari Konoha" ucapnya tulus.

Kakashi tersenyum dari balik maskernya. "Tidak apa. Minato-sama mengucapkan salam untuk anda."

"Terimakasih" jawabnya yang kemudian mendesah ketika merasakan kepalanya terasa pening. "Lalu, bagaimana perkembangannya, Kakashi?"

"Anjing-anjing saya mencium aroma tubuh Sasuke-sama memasuki hutan kematian. Kemungkinan besar Sasuke-sama pergi kemarin pagi."

Itachi mengerutkan dahinya. "Untuk tujuan apa?"

Kakashi menggeleng. "Saya masih belum tahu pasti. Hutan kematian memiliki ribuan misteri di dalamnya. Tidak ada manusia yang berani masuk seorang diri ke sana"

"Kecuali Sasuke" desah Itachi kesal dengan tingkah adiknya yang tidak pernah dewasa. "Aku tidak tahu apa yang dia lakukan di sana, tapi aku harap kau bisa menemukannya hidup-hidup, Kakashi"

Kakashi mengangguk kecil meskipun hatinya mengatakan hal itu mustahil. Hutan kematian adalah tempat seluruh kejahatan berasal. Terlalu banyak penjahat dan moster yang tidak diketahui tinggal di sana.

Setelah perdebatan kecil mereka, Sasuke akhirnya mengalah. Pemuda itu dengan langkah berat berjalan menuju gua dan menengok beberapa kali sebelum memutuskan untuk masuk kedalam.

"Ikan yang enak" gumam Mori tiba-tiba muncul di samping Naruto. Pemuda itu mencubit ikan yang masih dibakar dan memasukkannya ke dalam mulutnya. "Hmm, memang enak" komentarnya kemudian.

Naruto mendengus kesal. "Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tidak muncul secara tiba-tiba, Mori?" tegur Naruto dengan penuh menekanan. Namun, pemuda itu hanya melirik Naruto sejenak dan tersenyum jahil.

"Ya, kau sudah mengatakannya beratus kali, Nona. Tapi sayangnya aku tidak akan pernah mematuhinya. Bukankah kau sudah mengetahuinya?" balasnya tenang. Membuat Naruto hanya mendesah pasrah. "Dasar dewa menyebalkan" gerutunya dalam hati sementara Mori kembali melahap ikan bakar langsung dari tempatnya dibakar tanpa menghawatirkan api yang menjilat mengenai kulitnya yang putih pucat.

Keheningan merebak setelahnya. Naruto kembali membakar ikan baru dan berharap kalau Mori tidak akan menghabiskan ikan bakar mereka. Bagaimanapun Sasuke tidak bisa melihat Mori. Mori hanya bisa dilihat oleh dewa lain, dirinya dan beberapa manusia yang Mori kehendaki bisa melihatnya dan Sasuke tentu saja tidak termasuk kedalamnya.

"Bagaimana menurutmu, Naruto?" Mori tiba-tiba bertanya, membuat Naruto tanpa sadar langsung menoleh. Mori sudah menghabiskan satu ikan bakar yang besar dan sekarang sedang menjilat jemarinya yang sedikit terluka karena api. Sesaat luka di jarinya bersinar dan dengan sekejap mata, luka bakar itu sembuh dengan sendirinya. Kalau saja Naruto tidak memiliki kemampuan seperti itu, Naruto yakin ia pasti akan terpana.

"Apa maksudmu?" tanya Naruto bingung. Kerutan di dahinya mulai muncul. Terkadang Mori memang selalu mengatakan hal yang ambigu.

Mori mengerucutkan bibirnya, berusaha mengubah wajahnya seperti orang yang cemberut meskipun ia terlihat aneh dimata Naruto. "Sasuke, tentu saja. Bukankah dia terlihat baik?"

"Well, jika dikurangi dengan sifat sombong, menyebalkan, keras kepala dan jahil, mungkin aku bisa mengatakan jika ia cukup baik"

Mori mendesah berat. "Jadi menurutmu dia menyebalkan?" tanyanya yang langsung dibalas dengan senyuman tipis Naruto.

"Apa yang bisa kita harapkan dari bangsawan kaya sepertinya" ucapnya santai.

Mori terdiam. Ia baru saja akan membuka mulutnya ketika ujung matanya menangkap Sasuke yang sudah keluar dari gua. Ia terlihat begitu tampan dengan kimono hitam dengan sedikit ukiran bunga sakura di bagian depan kimono. "Kita akan membicarakannya nanti" ucapnya sebelum menghilang bersama hembusan angin musim gugur yang dingin.

Tak lama kemudian, Sasuke sudah duduk di samping Naruto. Rambutnya yang tadi lepek kini telah kembali ke bentuknya semula. Membuat Naruto bertanya-tanya dalam hati bagaimana cara pemuda itu membentuk rambutnya menjadi pantat bebek?

Merasa diperhatikan, Sasuke akhirnya menoleh ke arah Naruto. Kemudian, seulas senyum jahil menghiasi wajahnya. "Jangan menatapku seperti itu. Aku tidak ingin bertanggung jawab kalau kau jatuh cinta padaku" godanya yang langsung membuat Naruto langsung tersentak kaget karena ketahuan memperhatikan Sasuke. Membuat Sasuke tidak bisa menahan dirinya untuk terkekeh geli.

Dengan kesal, Naruto meletakkan ikan itu di atas piring yan terbuat dari kayu mahoni yang diasah kasar. "Kau terlalu percaya diri" tukasnya kesal yang langsung membuat senyuman di bibir Sasuke semakin melebar.

Melihat Naruto kesal entah mengapa sangat menyenangkannya. Dalam hati, Sasuke sudah menetapkan bahwa kegiatannya yang paling menyenangkan adalah membuat Naruto kesal. Tersenyum senang, Sasuke mulai menikmati sarapannya dan dalam waktu singkat, ia sudah memakan dua ikan bakar besar, tiga roti isi dan susu kuda liar yang nikmat. Sama sekali melupakan Sakura dan tujuan awalnya.

Di tempat lain, 20 kilometer dari tempat Naruto dan Sasuke berada, Kakashi berdiri dengan tenang. Masker yang menutupi matanya telah terbuka, menampilkan pupil matanya yang berbentuk berbeda dengan pupil matanya yang lain sementara kedua tangannya menekan tubuh Sakon, menahan tubuh itu untuk tidak memberontak dalam kekangannya.

"Katakan dimana dia?" tanyanya tenang meskipun aura yang ia keluarkan begitu menakutkan.

Sakon tergagap. Baru kali ini ia bertemu dengan musuh yang memiliki aura dan kekuatan yang terlampau besar untuk dilawan kelompoknya. Namun, pemuda itu tidak cepat menjawab. Matanya memandang liar ke sekitar. Melihat bagaimana anak buahnya babak belur oleh pengawal pria itu.

"Aku tidak tahu siapa yang kau maksud" jawabnya kemudian. Firasatnya menyuruhnya untuk tidak melawan pria yang di depannya itu dan ia terlampau takut untuk tidak menuruti firasatnya.

"Pemuda, tinggi 180 cm, memakai kimono putih, bangsawan." Jelasnya yang langsung dibalas dengan umpatan pelan Sakon.

Sakon jelas sangat mengingat pemuda itu. Pemuda sombong itu.

"Dimana dia?" Kakashi kembali mengulangi pertanyaannya. Ia tidak memiliki banyak waktu untuk bercakap dengan perampok amatiran seperti mereka.

"Dia sudah mati" jawab Sakon mantap, tanpa ada penyesaan sedikitpun. Pemuda itu pantas mati, ucapnya dalam hati.

"Dia sudah mati?" tanya Kakashi menyipitkan matanya. Ia memandang Sakon dengan pandangan menilai sebelum akhirnya ia mengalihkan pandangan kearah Kiba, salah seorang anak buah yang ia tunjuk khusus untuk misi pencariannya kali ini.

"Ada tanda Sasuke-sama, Kiba?" tanyanya kepada pemuda pecinta anjing yang duduk jongkok tidak jauh darinya. Pemuda itu tampak begitu tertarik dengan semua barang jarahan kelompok Sakon yang belum sempat mereka bawa pulang. Ada beberapa batang emas, perhiasan, uang, bermeter-meter kain sutera mahal dan pedang.

Kiba mengambil salah satu pedang itu, mengendusnya kemudian membelalakkan matanya.

I-ini…

"Kapten!" suara Kiba terdengar sedikit bergetar. Mau tidak mau membuat Kakashi sedikit penasaran dan menengok untuk melihat Kiba berlari dengan pedang di tangannya. Pedang hitam yang sering ia lihat berada di pinggang Sasuke. "Tidak salah lagi. Ini pedang Sasuke-sama" ucapnya memastikan. Aroma tubuhnya sangat kuat dengan darah kering yang terlihat di beberapa bagian pedang itu.

Oh, tidak! Mereka terlambat.

Sakon yang menyadari perubahan raut wajah Kakashi tiba-tiba terkekeh senang. Entah mengapa ia senang telah membunuh pemuda itu meskipun ia tahu ia tidak akan selamat dari jeratan pria ini. "Bukankah sudah kukatakan padamu. Dia sudah mati. Kalau saja kalian datang lebih cepat, kalian mungkin bisa melihat tubuhnya dimakan serigala hutan" ucapnya santai, seolah-olah mereka sedang membicarakan tentang cuaca.

Kakashi menggeram. Bola matanya yang tadi berpupil koma tiga hitam berputar, membentuk pola aneh dan seketika itu juga, Sakon ambruk. Matanya terbelalak dengan ekspresi ketakutan. Ia telah masuk kedalam neraka seorang Hatake Kakashi.

"

Naruto baru saja selesai mencuci pakaiannya yang basah dan berniat untuk menjemurnya ketika ia tiba-tiba merasakan chakra kuat muncul. Ia juga mencium bau darah dan teriakan beberapa orang. Ia memicingkan matanya, sedikit ragu untuk pergi memeriksanya. Sudah lama sekali ia tidak mendeteksi adanya chakra kuat di hutan kematian, membuatnya sedikit awas.

Dengan hati-hati ia menengok Sasuke yang sibuk dengan ikan kecil yang ditangkapnya barusan. Pemuda itu bersikeras membantunya untuk menangkap ikan tadi. Ia mengatakan jika ia harus melakukan sesuatu untuk membalas kebaikannya sehingga Naruto akhirnya memutuskan untuk membiarkan pemuda itu memancing beberapa ekor ikan untuk makan malam mereka nanti malam.

"Mereka bukan musuh, Naruto." Mei tiba-tiba muncul di sampingnya. Kimono emas merahnya menjuntai ke tanah. Aroma madu manis menguar dari tubuhnya. Gadis itu menyelipkan beberapa helai rambutnya ke balik telinganya. Matanya yang hijau menatap Naruto ramah. "Lama tidak berjumpa, rubah kecil" sapanya dengan senyuman manis yang mampu membuat ribuan pemuda mati bahagia.

Naruto mendengus. Terakhir kali mereka bertemu adalah ketika pertemuan para dewa dan siluman 5 tahun yang lalu. Itupun berakhir tidak menyenangkan karena gadis itu tiba-tiba saja menuduhnya telah mencuri tunangannya yang kebetulan datang bersama dengan dirinya. Membuatnya harus menahan nafsu membunuhnya karena dengan cepat ia langsung menjadi pusat perhatian.

"Mori sedang tidak ada di sini"

Mei tersenyum. "Aku tahu. Dia sedang melihat tamu baru kita" jawab Mei tenang, membiarkan beberapa helai rambutnya kembali keluar dari tempatnya berada karena ulah angin yang nakal.

Naruto mengangguk singkat. Sebenarnya meskipun mereka musuh, Naruto sangat yakin bisa membunuhnya dengan cepat. Ia sudah terbiasa membunuh musuh yang datang dengan niat buruk ke dalam hutan kematian, mengingat tugasnya sebagai penjaga hutan kematian bersama Mori.

"Oh" Naruto kembali melanjutkan acaranya yang tertunda sementara Mei masih berdiri tidak jauh darinya. Matanya yang sehijau padang rumput memandang Sasuke yang baru saja mendapatkan ikan keduanya. Pemuda itu tampak beitu puas dengan hasil pancingannya meskipun ikan itu tidak terlalu besar dari telapak tangannya sendiri.

"Kau tahu, kau tampak begitu serasi dengan pemuda itu" Mei tiba-tiba saja berujar, membuat Naruto langsung menghentikan niatnya untuk mengambil pakaian terakhirnya.

"Apa?"

Mei berdecak pura-pura kesal. "Aku yakin kau mendengar perkataanku dengan jelas tadi, rubah kecil" ucapnya menyeringai senang ketika melihat wajah Naruto yang kesal. Dia sepertinya mulai mengerti mengapa Mori sangat suka menjahili Naruto.

"Kau tahu, aku sekarang mengerti mengapa kalian bisa berjodoh" balas Naruto ketus. Dengan kesal, ia menjemur pakaian terakhirnya dan berbalik. Ia harus berburu beberapa rusa atau kijang sekarang sebelum benar-benar yakin persediaan makanannya tidak akan habis sebelum musim semi datang.

"Ayolah, kau tidak bisa membohongi dewi kehidupan manis"

Naruto melirik Mei kesal. Ia baru tahu jika gadis itu begitu berisik dan selalu ingin tahu. "Tersera kau saja" tukasnya yang kemudian menghilang dalam sekejap, meninggalkan Mei yang tersenyum penuh kemenangan dan Sasuke yang sama sekali tidak menyadari kepergian Naruto.

Siang yang hangat berubah menjadi malam yang dingin dengan cepat. Udara berubah menjadi semakin dingin, membuat Sasuke enggan meninggalkan perapian yang hangat. Perapian itu berbentuk lorong yang cukup untuk seorang dewasa masuk di dalamnya. Di sana, ada gantungan kecil untuk menggantung beberapa daging kelinci yang tadi diburu Naruto.

"Sampai kapan kau duduk di sana, Sasuke?" tanya Naruto penasaran. Gadis itu tadi pamit untuk keluar sebentar. Jaket kulit yang dipotong asal terlihat manis ketika melekat di tubuh Naruto yang mungil.

Sejenak, Sasuke terpana sebelum memutuskan untuk memusatkan perhatiannya kearah api yang meliuk di depannya.

"Aku kedinginan" jawabnya asal. Sama sekali tidak berani menatap Naruto.

"Oh" Naruto tampak tidak peduli dengan sikap aneh Sasuke. Dengan cepat, ia menutup pintu dapur yang merangkap sebagai ruang makan dan membuka jaket tebalnya. Jaket itu sedikit bau dan berat. Padahal ia sangat yakin jaket itu sudah sangat kering dibuatnya.

Mendesah berat, Naruto memutuskan untuk menegenyahkan pikirannya tentang jaket kulitnya. Ia bisa mengeringkannya lagi pada musim panas yang akan datang. Ia memiliki masalah lain yang lebih berat dibandingkan masalah jaketnya. Tanpa sadar, matanya terpaku kea rah Sasuke yang masih meringkuk. Pemuda itu begitu sombong dan memiliki harga diri yang begitu tinggi, tapi ia tidak bisa menghentikan dirinya untuk tidak memperhatikan setiap gerak gerik pemuda itu.

"Naruto"

"…."

"Naruto"

"Hah?" Naruto mengerjapkan matanya, linglung. Sejenak ia kebingungan sampai mata birunya bertubrukan dengan mata hitam Sasuke. Pemuda itu menatapnya khawatir membuat Naruto semakin kebingungan. "Apa?"

"Kau melamun" jawab Sasuke pendek. Suaranya terdengar begitu khawatir.

"Maaf" Naruto memejamkan matanya sejenak, berusaha menekan amarahnya sebelum membuka matanya dengan tatapan yakin menyala di dalam mata itu. Keyakinan yang sudah ia pupuk seumur hidupnya. Keyakinan yang membuatnya bisa hidup selama ini. membuat Sasuke yang melihat sedikit terpana meskipun ia merasakan perasaan aneh yang menyesakkan dadanya ketika melihat tatapan mata itu.

Tatapan itu bukanlah tatapan mata biasa. Cahaya mata yang terpancarkan di dalam mata itu bukanlah cahaya biasa. Tatapan itu penuh dengan ribuan emosi yang terbungkus oleh ketenangan palsu.

Cinta, kasih sayang, kearifan, kebijaksanaan, kedinginan, benci, dendam, kesedihan dan kesendirian.

Hanya dalam waktu sedetik, Sasuke merasakan tubuhnya membeku. Otaknya lumpuh. Lidahnya kelu. Beberapa menit kemudian, ia hanya mematung layaknya orang bodoh sementara Naruto dengan cepat beranjak dan menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.

Makan malam terakhir mereka. Malam terakhir mereka sebelum Sasuke pergi. Pergi jauh, kembali ke dalam dunianya yang penuh kehangatan dan kekayaan. Naruto tersenyum pahit memikirkannya.

Malam ini, ia akan memasak masakan yang lezat untuk Sasuke. Bukan untuk mematuhi perintah Mori, melainkan untuk berterimakasih kepada pemuda itu yang telah menemani kesediriannya.

Cinta tidak cocok untukku. Oleh karena itu, Aku akan melepaskanmu dan berharap gadis lain akan menggantikan tempatku di hatimu.

To be continued.

Yosh. Sudah selesai fict Zie chapter 2. Zie menulisnya selama dua malam berturut-turut dan berharap hasilnya tidak terlalu buruk. Zie berusaha untuk membuat perasaan mereka berdua tumbuh dengan cepat tanpa mereka sadari. Mereka hanya menyadari ada perasaan sedikit tertarik dan akan terlihat di chapter 3.

Sebenarnya ini fict adalah fict yang terinspirasi dari lagu Yovie and Nuno 'Tergoda Bidadari'

Zie selalu membayangkan bagaimana jika pada akhirnya Sasuke yang begitu mencintai dewinya yang bernama Sakura, dengan cepat jatuh cinta dengan Naruto sang bidadari yang Zie ganti menjadi bidadari kegelapan yang penuh dengan dendam dan kesedihan.

Akankah Sasuke tetap mencintai Sakura atau beralih ke Naruto?

Well, Zie rasa hal itu harus dipercantik dengan beberapa konflik baru dan ribuan scene manis dan menyedihkan berterbangan di dalam benak Zie. Hohoho.

Seperti yang Zie janjikan, fict ini akan update setiap minggu kecuali ada pengunduran kalau Zie ada acara dadakan atau ujian yang mengharuskan Zie off untuk sementara waktu.

Oke, seperti sudah dulu bicaranya.

Asal usul dan bagaimana Naruto menjadi seperti ini, akan Zie ceritakan di chapter 3. Kedatangan anggota baru ada chappie 3 juga. Sakura, Kyuubi dan lain-lain kemungkinan besar akan Zie ceritanya di chappie 3 lho.

Dengan kata lain, chappie ke 3 akan sangat menyenangkan dan banjir pemain baru. Yuhu!

See you later guys.

Review yang banyak ya #ditendang readers