Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuNaru

Rate : T-M (jaga-jaga)

Genre : Romance, Fantasy, dll.

Warning! : Yaoi, BL/Boys Love, jadi yang nggak suka bisa mengklik tombol back atau kembali kehalaman sebelumnya, agak OOC, Typo, bahasa sudah pasti nggak sesuai EYD, alur kecepatan, humor gagal dan lain-lain.

.

.

Summary : Naruto mengutuki dirinya yang mengikuti temannya ke perayaan kerajaan hingga ia bertemu Pangeran Sasuke, bertemu dengan pasangan hidupnya. Takdir yang selalu ia hindari dan sekarang sudah terlambat untuk kabur karena Uchiha Sasuke, tidak akan membiarkannya kabur begitu saja!

.

.

Chapter 2 : Hari Perayaan Kerajaan

Naruto melotot membaca surat ditangannya itu. Surat yang ia temukan saat hendak membangunkan Jiraya-sensei tadi.

Gaki, karena hari ini ada perayaan kerajaan, hari ini kita libur. Aku pergi jalan-jalan dulu, kau juga jangan hanya diam di rumah, bersenang-senanglah, kan jarang ada waktu santai sebanyak ini dan jangan mencoba untuk meramu obat, kunci ruangannya kupegang jadi jangan coba-coba mengurung diri dirumah.

Kalau mau datang ke perayaan dengan Kiba kau kuizinkan, keluarlah sesekali selain untuk berjualan.

Jiraiya.

Naruto tahu pasti ini ulah Kiba, ia yakin sebentar lagi Kiba datang dan memasang wajah senang kearahnya dan berkata, "Naruto!, kau sedang libur kan? Kalau gitu temani aku ke perayaan yuk!" Dengan nada riang tanpa dosa kearahnya.

Naruto mendesah, ia menaruh kembali kertas itu di meja depannya. Naruto berjalan keluar rumah dan memasuki halaman kecil didepannya, ia memperhatikan sekitar dalam diam memikirkan apa yang harus dilakukannya hari ini. Naruto masih mengingat sensasi dingin yang tiba-tiba datang malam itu, ia tahu kalau keluar dari sini mungkin saja sesuatu yang buruk akan terjadi. Naruto menyentuh tanda di lehernya dalam diam dengan pandangan menerawang.

Anak pembawa sial!

Naruto tersentak, ia menatap kosong kedepan saat ingatan itu datang tiba-tiba. Kenangan buruk berputar di kepalanya layaknya kaset rusak yang terus berputar. Naruto jatuh berlutut dan memegang kepalanya erat, menggeleng mengusir ingatan itu dan mencoba kembali sadar.

Setelah berhasil, ia berdiri dan berjalan menuju teras rumah dan mendudukinya, kenapa ingatan itu datang kembali? Batinnya bertanya-tanya. Dengan nafas masih memburu, ia menatap keatas, memandang langit biru disana untuk menenangkan diri.

"Naruto!" Panggil Kiba dikejauhan dengan wajah kelewat senang. Ia mendekati Naruto yang tengah memandang langit lama.

"Naru? Oi Naruto!" Teriak Kiba saat masih tidak mendapat perhatian temannya itu. Naruto langsung menatap tajam sahabatnya itu dan Kiba kembali beralasan, "kau tidak menyahut panggilan ku, kau kenapa?" Tanya Kiba khawatir melihat wajah pucat Naruto.

Naruto menggeleng, tapi Kiba masih memandangnya khawatir. Naruto menunjuk kearah Istana mencoba mengalihkan perhatian Kiba dan berhasil, temannya itu melihat kearah yang ia tunjuk. "Perayaan?" Tanya Kiba melihat arahan tangan Naruto. Naruto mengangguk, ia memasang wajah bertanya seraya menunjuk kearah sana.

"Perayaannya dimulai pagi menjelang siang nanti." Jelas Kiba. Naruto mengangguk mengerti, ia lalu menunjuk ke arah Pasar. "Pasar sekarang sudah mulai sepi, sepertinya semuanya sedang bersiap-siap pergi ke perayaan." Jawab Kiba menjawab pertanyaan tersirat Naruto.

Naruto mengangguk lalu menatap Kiba, Kiba yang ditatap hanya menampilkan cengirannya, Naruto menunjuk Kiba lalu ia menujuk kearah Istana, Kiba yang mengerti menggeleng, ia sebenarnya berniat mengajak Naruto, tapi setelah melihat kondisi sahabatnya itu Kiba langsung mengurungkan niatnya. Ia tidak mau Naruto memaksakan dirinya ikut ke perayaan dalam kondisi seperti ini.

Naruto terkejut, tidak menyangka sahabatnya itu akan menggeleng, Naruto memasang wajah bertanya khawatir dan Kiba hanya memberinya senyuman bodohnya seperti biasa. "Aku tiba-tiba tidak berniat pergi kesana." Alasan Kiba. Namun Naruto yang tidak percaya langsung berdiri dan pergi kedalam.

"Naruto!" Panggil Kiba melihat Naruto terburu-buru masuk kedalam, ia baru saja akan ikut masuk saat melihat Naruto keluar membawa kertas dan tinta di tangannya.

Naruto menyerahkan sebuah kertas dan Kiba menerimanya lalu membacanya, tulisannya terlihat agak jelek karena ditulis buru-buru.

Kenapa? Bukannya kau mau kesana?

Kiba menatap Naruto dan melihat temannya itu menatapnya khawatir. Kiba tertawa, "aku tidak apa-apa, sungguh." Sekarang Kiba yang malah dikhawatirkan temannya itu. Kiba menarik Naruto duduk kembali di teras dan menatap kearah Istana, "aku hanya merasa kalau disana tidak cocok untukku." Ucap Kiba masih memandang ke sana. Setengah bohong dan setengah memang benar kalau ia merasa tidak pantas kesana. Memasuki Istana rasanya terlalu bagus untuknya.

Naruto memukul kepala Kiba, Kiba meringis dan melotot kearahnya, "kenapa kau memukulku?!" Serunya tidak terima. Naruto mendengus lalu menulis sesuatu lagi.

Kau bukan sahabatku.

Kiba menatap tidak percaya Naruto. Naruto lalu melempar sebuah kertas lagi setelah menulisnya cepat dan Kiba langsung menangkapnya.

Kemana sahabatku yang selalu optimis? Kiba yang kukenal selalu mengacuhkan perkataan semua orang dan selalu melakukan apapun ia mau tanpa berpikir pesimis seperti itu.

Kiba menatap Naruto, tanpa sadar ia tersenyum menatap sahabatnya itu lalu tertawa, "kau memang sahabatku!" Serunya lalu memeluk Naruto. Karena mereka yang berbeda selalu dianggap aneh, Kiba bersyukur masih memiliki Naruto sebagai teman, kalau ia hanya sendirian entah bagaimana Kiba sekarang.

Naruto yang merasa sesak memukul Kiba, "gomen." Ringis Kiba memegang kepalanya, pukulan Naruto selalu keras meski sekarang ia sedang tidak sehat.

Naruto lalu berdiri dan masuk kedalam, membuat Kiba kebingungan dan hendak berdiri mau masuk saat Naruto keluar lagi, kali ini Naruto membawa tas yang biasanya ia bawa dan Kiba tahu niat temannya itu.

"Naruto, kondisimu kan-" Naruto menggeleng, ia tersenyum lalu menunjuk kearah Istana, Kiba memandangnya tidak percaya, "kau kan sedang tidak sehat." Cegahnya menghadang Naruto. Naruto melototinya seakan berkata aku-sehat-dan-tidak-sakit! Kiba tetap menggeleng, "wajahmu pucat!" Kata Kiba keras kepala.

Naruto menulis sesuatu lalu menepukkannya ke kepala Kiba, Kiba mengaduh lalu membaca kertas itu.

Kita kesana, bukannya kau ingin sekali melihat perayaan itu?

"Aku memang ingin kesana, tapi bukan berarti kau harus memaksakan dirimu ikut!" Serunya menggeleng menghadang Naruto. Naruto menatapnya tajam, Kiba berkeringat dingin melihat tatapan maut Naruto. Ia tahu kalau ia akan kalah berdebat kali ini.

.

.

.

"Kau mau kemana otouto?" Tanya Itachi melihat Sasuke hendak keluar Istana.

"Aku mau jalan-jalan sebentar." Ucapnya lalu pergi begitu saja, dibelakangnya, Kakashi membungkuk kearahnya sebelum mengikuti Sasuke.

Itachi mendesah lalu berteriak, " jangan lama-lama Sasuke! Sebentar lagi perayaan akan dimulai!" Dan Itachi bisa melihat Sasuke tidak membalas perkataannya dan tetap berjalan acuh kedepan.

"Punya adik yang dingin memang sulit." Desah Itachi sebelum berbalik masuk. Sudah biasa dengan sikap acuh Sasuke dengan segala hal.

.

.

.

Sementara itu, Kiba akhirnya menyerah dan membiarkan Naruto mengikutinya ke perayaan, sekarang mereka tengah berjalan menuju Kota hendak ke Istana, "kalau terjadi apa-apa kita kembali, mengerti?" Cerewet Kiba sejak tadi mewanti-wanti kalau-kalau Naruto mendadak tumbang atau apa. Naruto mengangguk-angguk disampingnya, tidak berniat memprotes apapun dan membiarkan Kiba berbicara terus hingga ia lelah. Naruto malas membantah dan berujung perdebatan lagi yang memakan waktu.

Kiba akhirnya diam juga, ia merengut mendapati temannya itu acuh saja mendengar ocehannya sejak tadi padahal Kiba sangat mengkhawatirkan sahabatnya itu, sahabat macam apa dia ini? Batin Kiba dongkol.

Mereka terus berjalan maju dan melihat suasana kota yang memang lumayan sepi, sepertinya tidak semua orang mengikuti perayaan dan tetap di rumah. Naruto melihat kesamping memperhatikan seorang anak kecil berlari kearahnya, Naruto berhenti.

Kiba yang melihat Naruto berhenti ikut berhenti dan mengikuti arah tatapannya dan melihat anak kecil berlari mendekati mereka.

"Nii-san!." Sapa anak kecil itu. Naruto berjongkok mensejajarkan pandangan mereka, "terimakasih untuk obatnya kemarin!." Bungkuknya lagi, Naruto tersenyum lalu mengelus kepala anak itu, di sebelahnya, Kiba yang tahu kebiasaan Naruto tersenyum, pasti Naruto menolong anak itu kemarin, tebak Kiba melihat interaksi mereka.

Seseorang mendekati mereka, tatapannya terlihat khawatir kearah anak kecil itu, "Konohamaru!, kenapa kau keluar tiba-tiba?" Teriaknya seraya mendekat.

Naruto berdiri dan melihat seseorang itu mendekat, orang itu menatap Naruto sebentar sebelum bertanya, "anda yang menolong Konohamaru kemarin?" Tanyanya menatap Naruto teliti.

Naruto tersenyum lalu mengangguk, orang itu lalu membungkuk dalam kearahnya, "arigatou." Katanya tulus lalu berdiri lagi, ia menatap Naruto hangat penuh terimakasih lalu menunjuk ke sebuah rumah kecil dibelakangnya. "Apa anda mau berkunjung sebentar?" Ajaknya tulus.

Naruto menatap Kiba, Kiba yang mengerti mengangguk, "masih ada waktu sebelum perayaan dimulai, tidak masalah kalau kita kesana sebentar." Katanya dan Naruto tersenyum. Mereka masuki rumah itu dan berbincang sebentar. Toh masih ada waktu sebelum ke perayaan nanti.

Disisi lain.

Sasuke berjalan memasuki Pasar kemarin diikuti Kakashi dibelakangnya, suasana disana sudah sepi saat ia memasukinya. Namun Sasuke tidak mempermasalahkannya dan berjalan menyusuri tempat itu.

Ingatannya kembali ke saat ia berada disini kemarin, saat dimana ia mungkin bertemu dengannya. Sasuke menatap sekitar dan menelaah tepat saat ia tiba-tiba merasakan lehernya memanas, tanda yang ia miliki memberitahunya kalau dia berada didekatnya saat itu. Sasuke menyentuh tandanya dan berhenti tepat di tempat saat itu, menatap kedepan dan menatap kebelakang seperti saat itu. Kakashi yang melihatnya hanya diam, ia membiarkan Pangeran Sasuke sendiri sejenak.

Sasuke lalu menatap kedepan lagi, ia menerawang memikirkan sesuatu sambil memandang kesana, "dimana kau sekarang?" Gumam Sasuke bertanya-tanya, membiarkan kesunyian membalas pertanyaannya itu. Ia lalu berbalik dan berjalan lagi, "kita kembali, Kakashi." Perintahnya dan Kakashi tanpa berkata apapun mengikutinya dari belakang.

Kembali ke Naruto.

Naruto mendadak menyentuh lehernya, sensasi dingin kemarin tiba-tiba datang lagi entah kenapa. Naruto mengernyit merasakan firasat buruk lagi, apa lagi ini?, pikirnya bingung.

"Ada apa, Naruto?" Tanya Kiba yang melihat sikap Naruto. Naruto menggeleng dan tersenyum, memasang ekspresi biasa dan menatap Konohamaru yang duduk didepannya. Naruto mengelus sayang surai cokelat Konohamaru dan tersenyum senang.

Naruto lalu menulis sesuatu dan memberikannya kepada Kiba. Kiba membacanya dan menatap Naruto tidak yakin, Naruto mengangguk.

Hiruzen datang sehabis keluar sebentar dan duduk di depan mereka, Kiba yang bisa berbicara langsung bertanya, "Hiruzen-san apa kalian mau ikut kami ke perayaan?" Tanya Kiba.

Hiruzen terkejut dan menatap mereka berdua, "ikut ke perayaan?" Tanyanya tidak yakin. Kiba mengangguk begitu juga Naruto. Konohamaru menatap mereka semua bingung.

Hiruzen terlihat ragu. "Semua orang diperbolehkan ikut, jadi Hiruzen-san dan Konohamaru tidak masalah datang kesana." Ucap Kiba mencoba membujuk Hiruzen.

Hiruzen masih terlihat ragu, Naruto lalu menulis sesuatu dan memberikannya ke Hiruzen. Hiruzen membacanya, ia menatap Naruto lalu menatap Konohamaru, setelah terdiam sebentar, Hiruzen akhirnya mengangguk, "tapi yang ikut hanya Konohamaru." Ucapnya membuat senyum Naruto dan Kiba berhenti mengembang. Konohamaru yang tidak tahu-menahu menatap mereka semua.

"Ikut apa?" Tanya Konohamaru polos. Hiruzen mendekat dan mengelus kepala Konohamaru, "di Istana akan ada perayaan, banyak orang yang akan berada disana, apa Konohamaru mau ikut?" Tanyanya pada cucunya itu.

Konohamaru tampak berpikir sebelum bertanya, "apa mereka akan memukulku lagi?" Tanyanya polos.

Naruto menggeleng, "mereka tidak akan memukulmu, ada Naruto Nii-san dan Nii-san yang menjaga kalian." Ucap Kiba di sebelahnya mewakili.

Konohamaru lalu mengangguk semangat, "kalau ada Nii-san disana Konohamaru mau!" Serunya semangat. Naruto mengelus kepala Konohamaru lagi dan menatap Hiruzen.

"Aku sudah tua, Naruto." Hiruzen memanggil nama Naruto sesuai keinginan Naruto tadi. "Orang tua sepertiku seharusnya berdiam dirumah ketimbang mendatangi perayaan itu." Naruto menggeleng, tapi Hiruzen tetap keras kepala menolak. "Mengertilah." Ucap Hiruzen seraya tersenyum.

Akhirnya, Naruto, Kiba dan Konohamaru berdiri diluar berpamitan pada Hiruzen. Hiruzen mengangguk dan menatap kepergian mereka. Setelah mereka menjauh, Hiruzen terlihat berpikir, tatapannya terlihat serius, "Naruto..." gumamnya menerawang, "kenapa aku merasa pernah mengenal nama itu?" Hiruzen bertanya-tanya mengingat bagaimana ia terkejut melihat rupa Naruto dan merasa mengenalnya, apalagi saat mengetahui namanya membuat Hiruzen yakin kalau ia pernah mengenal Naruto, tapi Hiruzen tidak ingat bagaimana ia mengenalnya atau merasa pernah bertemu Naruto disuatu tempat. Hiruzen mendesah saat masih tidak bisa mendapat jawabannya sebelum masuk kembali kedalam.

.

.

.

"Apa disana benar-benar akan ada banyak orang?" Tanya Konohamaru menatap Naruto. Naruto mengangguk, "disana juga akan ada banyak makanan." Kata Kiba disisi lainnya.

Mata Konohamaru seketika berbinar, "makanan?" Ucapnya senang. Kiba mengangguk, "ya, banyak dan enak-enak!" Tambah Kiba membuat Naruto tertawa tanpa suara. Konohamaru terlihat bersemangat mendengarnya, "kalau gitu, kita cepat kesana ya Naruto-nii!" Kata Konohamaru bersemangat. Naruto mengangguk dan Kiba tersenyum kearah mereka. Mereka terus berjalan menuju Istana.

.

.

.

"Sudah dimulai?" Tanya Kiba menatap penjaga dihadapannya itu. Penjaga itu mengangguk, "kalian terlambat datang, perayaannya sudah dimulai sejak tadi." Ujar si penjaga.

Kiba menatap Naruto dan Konohamaru lalu mendekat, "kita terlambat, perayaannya sudah dimulai." Beritahu Kiba lesu, tidak rela ketinggalan ikut perayaan yang sangat jarang terjadi ini. Naruto hendak mendekati penjaga itu saat seseorang datang mendekat.

Sasuke berjalan melewati Naruto tanpa melihatnya, ia berjalan mendekati pintu masuk Istana diikuti Kakashi di belakangnya dan terlihat penjaga tadi langsung mendekati Sasuke, ia membungkuk hormat kepadanya.

Sasuke hanya melihat sekilas lalu mengangguk dan penjaga itu dengan sigap memerintahkan pintu dibuka.

Naruto terpaku, ia entah kenapa mundur menjauh saat merasakan sensasi dingin di lehernya lagi, Naruto berbalik tepat saat Kiba maju kesana. Naruto berbalik lagi dan melihat Kiba mendekat menyapa pria itu, Naruto hendak melarangnya saat Konohamaru menarik ujung bajunya, "Naruto-nii." Panggilnya membuat Naruto berbalik lagi bersamaan dengan Sasuke yang melihat kearahnya.

Sasuke melihat pria bersurai gelap itu sejenak sebelum menatap pria didepannya itu, "apa Tuan bisa membiarkan kami ikut masuk?" Tanya Kiba sopan. Kakashi menatap pemuda itu dalam diam lalu menatap Sasuke.

Sasuke tanpa berkata apapun lanjut berjalan, ia membiarkan Kiba mematung disana membuat Kakashi menatap kasihan kearahnya sebelum mengikuti Sasuke masuk kedalam.

"Biarkan mereka masuk." Perintah Sasuke saat melewati pintu masuk Istana. Kakashi cukup terkejut dengan perintah itu sebelum mengangguk kearah penjaga itu dan seketika Kiba yang juga mendengarnya tersenyum, ia berbalik mendekati Naruto yang sudah menatap kearahnya. "Kita bisa masuk!, pria itu membantu kita jadi kita boleh masuk ke dalam." Beritahunya senang, nyaris saja Kiba mengutuki pria itu karena mengacuhkannya tapi ia langsung berterimakasih karena pria itu mau membantu mereka.

"Meski dingin pria itu cukup baik juga." Ucap Kiba saat mereka akan memasuki Istana. Naruto tidak mendengarkan melainkan merasakan perasaan waswas itu kembali. Ia tidak melihat pria itu dimana pun dan Naruto tidak tahu kenapa ia merasa aneh dengan pria itu. Naruto melirik sekitar lagi dan masih tidak mendapati pria itu dimanapun, ia mencoba mengusir sensasi asing itu dan membiarkan Kiba serta Konohamaru membawanya menuju ke tempat perayaan berlangsung sekarang.

.

.

.

"Kenapa kau baru kembali otouto?" Tanya Itachi yang melihat Sasuke masuk kedalam Istana. Sasuke hanya berjalan melewatinya sedangkan Kakashi membungkuk kearahnya sebentar sebelum kembali mengikuti Sasuke.

Itachi mendesah, ia lalu berbalik dan berteriak, "cepat lah ke perayaan, Sasuke! Tou-san memerintahmu kesana sekarang." Dan Itachi kembali mendapatkan sikap acuh Sasuke yang malah main masuk ke kamarnya begitu saja. Meski sudah terbiasa dengan sikap Sasuke, Itachi tetap mengelus dada mencoba sabar dengan sikap adikknya yang sayangnya ia sayangi itu. Itachi akhirnya memilih berbalik pergi dan kembali ke tempat perayaan.

"Keluarlah Kakashi, aku akan bersiap-siap." Perintah Sasuke dan Kakashi tanpa banyak kata lagi langsung keluar dari sana.

Sasuke termenung diam sebentar, tiba-tiba ia malah mengingat kejadian tadi saat di pintu masuk Istana. Sasuke mengingat pria bersurai gelap yang memunggunginya saat itu, entah kenapa Sasuke merasakan sensasi asing saat menatap punggung pria itu. Sasuke menyentuh lehernya, dimana tandanya berada sambil memikirkan pria itu dalam diam.

Konohamaru menatap sekitar dengan takjub, Kiba memandang sekitar dengan mata terperengah begitu juga Naruto disebelahnya, "ramai sekali disini Naruto-nii!" Seru Konohamaru memperhatikan sekitar. Banyak orang-orang berdiri di halaman Istana yang luasnya bukan main, tanaman-tanaman yang tumbuh disana memperindah halaman Istana dan hiasan yang terdapat dimana-mana terpajang indah sepanjang area Istana itu.

Konohamaru menujuk kedepan, "sedang apa mereka Naruto-nii?" Tanyanya penasaran menujuk kerumuman depan sana.

"Itu Raja Fugaku dan Ratu Mikoto" Kata Kiba melihat siapa yang tengah duduk didepan sana. Naruto dan Konohamaru mengangguk mengerti, lalu mereka mendekat kearah sana melihat lebih dekat Raja dan Ratu Kerajaan Uchiha itu meski tetap saja karena posisi mereka yang terlalu jauh dan berada dipaling ujung belakang tidak memungkinkan mereka melihat lebih jelas. Naruto tanpa sadar tersenyum tulus sebelum melihat Kiba yang menatap kedepan dengan senang.

"Tapi kenapa Pangerannya hanya satu?" Tanya Kiba menatap Pangeran Itachi yang duduk disebelah Raja Uchiha itu. Naruto hanya diam memperhatikan ke depan tanpa niat sampai keadaan mendadak sunyi tanpa sebab.

Kiba memperhatikan dengan penasaran dan Naruto menunduk memperhatikan Konohamaru yang menatap takut kesebuah arah hingga memegang bajunya terlalu erat. Naruto mengikuti arah tatapan itu dan mendapati ketiga anak yang memukul Konohamaru kemarin berdiri disana menatap tajam kearah Konohamaru.

Naruto langsung melindungi Konohamaru dari tatapan tajam mereka dan balas memberikan tatapan tajam kearah mereka. Mereka tersentak mundur saat melihatnya sebelum dengan gemetar berbalik dan berlari dari tatapan Naruto dan aura mengerikan yang ia keluarkan saat itu.

Naruto menatap Konohamaru dan mengangguk seraya tersenyum, memberitahunya kalau ia akan selalu melindunginya dan Konohamaru membalas senyumannya. "Arigatou Naruto-nii." Ucapnya senang.

Naruto mengangguk sebelum melihat kearah Kiba lagi yang tengah ternganga menatap kedepan, Naruto menatap heran kearahnya dan mendekatinya bersama Konohamaru lalu mencoba menyadarkan Kiba dari keterkejutannya, Kiba mengerjap lalu menatap Naruto, ia menunjuk ke depan dengan tidak percaya, "pri-pria itu yang membantu kita tadi ter-nyata seorang pangeran." Ucapnya terbata tidak percaya.

Naruto langsung menatap kedepan dan melihat siapa yang tengah berjalan hendak duduk di kursi samping Pangeran Itachi dan mematung melihatnya, pria itu, pikir Naruto lalu tiba-tiba lehernya terasa dingin lagi, reflek ia memegang lehernya sambil mengernyit saat sensasi itu datang tiba-tiba.

Naruto tidak menyadari tiba-tiba Sasuke berhenti berjalan didepan sana hingga membuat semua orang memperhatikannya, ia menoleh kesamping mengikuti instingnya dan dikejauhan sana, ia menemukan seorang pria bersurai gelap tengah memegangi lehernya seraya mengernyit tanpa melihatnya.

"Sasuke!" Teriak seseorang. Suasana yang awalnya sunyi langsung riuh seketika, Naruto yang mendengar suara teriakkan itu langsung menatap kedepan dan terbelalak hingga melangkah mundur tanpa sadar. Disana, pria yang ia tatap tadi menatap kearahnya seraya berjalan turun membuat orang-orang menjauh seketika memberinya jalan dan berjalan kearahnya, Naruto berjalan kebelakang mendapati tatapan pria itu memakunya dan sensasi dingin yang ia rasakan tadi langsung berubah menjadi panas membakar membuatnya menyadari kebingungannya sejak tadi, ini... tidak mungkin... batin Naruto takut dan berbalik mencoba lari menghiraukan panggilan Kiba dan teriakkan Konohamaru dibelakangnya. Ia mencoba menjauh dari pria itu dan berlari hendak keluar Istana sampai sebuah lengan tiba-tiba menahan tubuhnya diiringi suara terkejut banyak orang.

"Akhirnya aku menemukanmu." Ucap seseorang tepat dibelakangnya.

÷ My True Destiny ÷

Bersambung...

Sebelum aku membalas review kalian di chapter sebelumnya, saya minta maaf karena kendala masalah kemarin membuat cerita ini baru bisa di update sekarang. Karena saya masih ragu dan plinplan sehingga kelanjutan ff ini tertunda. Saya minta maaf sedalam-dalamnya kepada para pembaca. Dan terimakasih untuk para readers yang masih membaca cerita saya ini setelah masalah kemarin. Terimakasih.

Balasan Review.

Lady Tika : ini sudah lanjut dan masih SasuNaru. ^^

C : soal masalah rambut hitamnya Naruto dan tanda lahirnya punya alasannya kenapa bisa begitu. Dichapter kedepannya bakalan dijelasin kenapa tapi nggak tahu kapan, hehe...

Chabyqueen : ini sudah lanjut dan maaf lama. ^^

Moymoyya : sudah kujawab lewat PM dan terimakasih untuk sarannya kemarin. ^^

Guest : soal akun, aku ada kok bisa langsung dicari.

Seilurou : di chapter ini mereka sudah ketemu, baru nyadar aja kalau mereka deketan. Makasih untuk perkataannya kemarin, saya baru nyadar banyak yang baca ff ini, nggak pede soalnya.

aka-chan : Thanks for your comment, ^^. Untuk penjelasan mengenai rambut Naruto memang akan ada penjelasannya sendiri tapi nggak tahu kapan, hehe... nggak apa-apa kok soal itu, kamu hanya menyampaikan pendapat dan itu tidak menyinggungku sama sekali. Terimakasih untuk pendapatnya. ^^ maaf ya nggak kubalas pakai bahasa inggris semua, nggak terlalu fasih soalnya. Hehe..

huuuu r uuuu : maaf kalau pendek, soalnya idenya mentok segitu waktu itu. Untuk couple Itachi, masih mikir sih tapi aku suka ItaKyu, jadi mungkin aja aku buat begitu disini. Maaf ya kalau tidak suka.

Vilan616 : Naru bisu itu benar, hanya saja bisu bohongan, ada penjelasannya kenapa ia begitu. Kemungkinan ada Mpreg. Maaf ya karena sempat bikin kecewa, saya tidak akan merubah ke femnaru tapi tetap Yaoi alias sasunaru. Maaf sempat bimbang.

gyumin4ever : terimakasih ^^. Di chapter ini mereka sudah ketemu dan mungkin pada bilang nanggung. Hehe... untuk kemarin makasih komentarnya, aku tetap membuatnya SasuNaru nggak bakal kuubah kok. Maaf ya sempat berpikir gitu.

ong : Makasih. ^^

Saera : ini sudah lanjut, Terimakasih. ^^

Fahzi Luchifer : saya sudah balas lewat PM, maaf ya karena tidak sesuai pendapatmu kemarin, saya sudah menetapkan kalau akan tetap SasuNaru, maaf kalau tidak sesuai saranmu kemarin.

Guest : ini sudah lanjut. ^^

sivanya anggrada : kamu bener kok, Naruto memang bisu tapi cuma pura-pura, ada penjelasannya untuk itu. Makasih untuk pujiannya ^^.

Park RinHyun-Uchiha : nggak salah, Naruto memang bisu tapi pura-pura, penjelasannya dichapter kedepannya. Nggak tahu kapan. Hehe... ini tetap SasuNaru nggak bakalan kuubah, makasih komennya kemarin. ^^

Hairulchan Ukeyaoiyadonger769 : makasih untuk reviewnya dan komentarnya kemarin, saya sudah memikirkannya dan tetap SasuNaru. ^^

Okun-Rin : tetap jadi SasuNaru kok, nggak saya ubah. Makasih untuk pendapatnya.^^

: nggak jadi saya ubah, makasih untuk sarannya. ^^

Guest : saya nggak jadi ubah dan tetap SasuNaru, makasih untuk pendapatnya kemarin.

nitasyanur : makasih untuk pendapatnua kemarin, nggak jadi saya ubah, tetap SasuNaru yang penting Sasuke sama Naruto kan? ^^

Sitijamilahkormi : X itu siapa ya? Saya?

SN : nggak saya ubah, tetap SasuNaru. Makasih untuk pendapatnya. ^^

Dian syafitri : makasih untuk pendapatnya. ^^ saya sudah memikirkannya dan mengikuti keinginan saya dari awal. Makasih. ^^

Yamito : makasih untuk pendapatnya kemarin, ini sudah lanjut. ^^

vho : saya tetapin SasuNaru. ^^ makasih untuk pendapatnya.

Guest : Naru tetap cowok kok, nggak bakalan berubah. ^^

Name Klariska : nggak jadi saya ubah, tetap SasuNaru. ^^

maryateme : terimakasih untuk pendapatnya ^^. Pairnya tetap SasuNaru serta alpha omeganya nggak saya hilangin.

InmaGination : nggak jadi saya ubah, tetap SasuNaru. ^^

Orenjiii : terimakasih untuk pendapat dan nasihatnya. Saya sudah menetapkan pilihan dan tetap sasuNaru. Terimakasih. ^^

Haru : terimakasih untuk pendapatnya kemarin, pairnya tetap SasuNaru. Aku senyum baca komenmu kemarin, sungguh, kali ini updatenya beneran isinya cerita kok dan saya bakalan usahain namatin ff ini. Makasih untuk reviewnya. ^^

fatan : pairnya nggak kuubah kok tetap SasuNaru. Makasih untuk pendapatnya. ^^

Zizi Kirahira Hibiki 69 : makasih untuk pendapatnya, Sama-sama. ^^

yunaucii : maaf ya saya sempat plinplan sama karya saya sendiri tapi sekarang saya sudah netapin keputusan dan pairnya tetap SasuNaru dan terimakasih untuk nasehatnya. ^^

Jiun : makasih untuk pendapatnya, pairnya tetal SasuNaru. ^^

fyodult : lebih condong ke sasufemnaru ya, kalau sekarang bagaimana? Minta pendapatnya biar saya bisa perbaiki lagi. ^^

Hyull : tetap SasuNaru kok, omega alphanya juga nggak kuhilangin. Makasih untuk pendapat dan sarannya. ^^

kinkinkin1024 : nggak saya ubah, tetap SasuNaru. Makasih untuk pendapatnya. ^^

kagurra amaya : makasih untuk saran dan pendapatnya. Saya sudah tetapin pairnya tetap SasuNaru, nggak bakalan saya ubah. Makasih. ^^

xafier : terimakasih untuk saran dan nasihatmu. Aku memang nggak terlalu pede makanya memikirkan pendapat mereka, tapi setelah membaca semua saran dan nasihat para pembaca aku mencoba percaya dengan diriku sendiri dan membuat cerita sasuai keinginanku sekarang. Terimakasih. ^^

dwip98 : pairnya tetap SasuNaru. Makasih untuk pendapatnya. ^^

Rizk Cloud9 : makasih untuk saran dan nasihatnya. Pairnya nggak kurubah tetap SasuNaru, aku sudah memikirkannya sebagai penulis dan memutuskannya begitu. Kak Taz? Aku selalu suka karyanya juga. Hehe.. ^^

Amelya541 : tetap SasuNaru kok, makasih untuk pendapatnya. ^^

Novalia Airis : terimakasih untuk pendapatnya, ^^. Untuk cerita ini kemungkinan mpreg bakalan ada.

we done did good : terimakasih untuk pendapat dan sarannya, ^^. Bakalan kucoba untuk menerapkannya. ^^

Neko chan : tetap SasuNaru dan Yaoi. ^^

AoiFuu : pairnya tetap SasuNaru, ^^ makasih untuk pendapatnya. ^^

ardidani51 : makasih untuk pendapatnya, pairnya tetap SasuNaru. Cerita ini bagus nggak? Hehe...

anon : terimakasih untuk perkataannya, ^^ semoga kamu masih mau membaca cerita saya. ^^

Shirube Hikari : terimakasih untuk pendapatnya. Soal diksi bakalan saya coba buat lebih bervariasi tapi nggak tahu bakalan pas atau nggak, hehe..., saya terlalu memikirkan pendapat pembaca hingga memikirkannya begitu. Tapi saya sudah menetapkan akan tetap tidak merubah pairnya, sebagai penulis itu sendiri saya sudah memikirkannya baik-baik dan memutuskannya begitu. Makasih. ^^

Arum Junnie : ada alasannya kok naru pura-pura bisu, dijelasinnydi chapter kedepannya, nggak tahu kapan. Hehe... makasih untuk komentarnya. ^^

Allen491 : makasih untuk pendapatnya, apa masih membaca cerita ini? ^^

Akane rihime : terimakasih untuk komentarnya. ^^. Hehe...

K.S : ^^, tetap akan terus SasuNaru, nggak bakalan kurubah. ^^

Ishiro : iya, ^^ makasih untuk perkataannya. ^^

Untuk para Guest tanpa nama, aku jawab satu-satu. Soalnya nggak tahu kalau orangnya sama apa nggak. Nggak tahu dan nggak mau nebak soalnya. ^^