Miracle

Final Chapter : Call Your Name

Fairy Tail

Disclaimer by Mashima Hiro

Original Story By Cattleya Dragneel

Warning : Typo, Alur berantakan, OOC

Read and enjoy the Story

.

.

Summary :

Natsu tidak bisa memilih salah satu dari mereka, Lucy dan Lisanna. Tapi Natsu harus memilih dan kini Natsu bersama Lisanna dan meninggalkan Lucy. Jadi seperti apa kelanjutan hubungan cinta segitiga mereka? Ikuti terus cerita ini karena author hanya membuat 2 shoot saja.

.

.

.

.

I want a Miracle, I hope that is true

If Miracle happen once, so can I hope for second time?

And if Miracle happen for second time, so what they're called?

Maybe this is a Destiny

.

.

.

Musim semi ini terasa begitu hampa. Bunga sakura yang indah itu tak menarik perhatian seorang wanita berambut pirang. Helaian surai itu terbang menari-nari karena hembusan angin. Angin musim semi ini sangat kencang. Melihat kelopak sakura yang berjatuhan mengingatkannya kepada seorang pemuda tampan, pemuda yang mengisi seluruh hatinya, namun sayangnya pemuda itu tak memiliki perasaan yang sama. Ia lebih memilih seorang gadis cantik dan lembut untuk dijadikan kekasihnya.

Semilir angin menyadarkan Lucy dari lamunannya. Ia merasakan pening yang luar biasa. Ia selalu teringat akan kejadian malam itu. Awal dari permasalahan Natsu dan Lucy yang kini belum selesai.

Disisi lain, seorang pemuda dengan rambut mencolok tengah memandang kosong pemandangan dihadapannya. Ketika melihat rumput keemasan itu, membuat Natsu merasakan sakit yang luar biasa disudut hatinya. Ia mengingat kejadian itu, yang masih sangat jelas dikepalanya. Biasanya Natsu akan melupakan kejadian penting sekalipun, namun ia tak bisa melupakan momentnya bersama wanita lain, yang bukan kekasihnya.

Natsu dan Lucy masih tidak berbicara satu sama lain. Mereka saling mendiamkan bahkan mengacuhkan, ini sudah hampir 3 bulan dan mereka belum berbaikan. Sebenarnya seberapa berat masalah yang mereka alami?


Flashback Natsu & Lucy

Lucy yang hendak mengelap keringat Natsu tiba-tiba didekap dengan kuat oleh Natsu. Dekapannya sangat kuat sehingga ia tak bisa melepaskan dirinya dari Natsu.

"Luce, maafkan aku Luce.." gumam Natsu.

Lucy hanya termenung mendengarnya. Ternyata Natsu masih peduli padanya.

"Lucee…" Natsu kembali bergumam.

Gadis pirang itu tidak lagi menolak pelukan yang diberikan Natsu. Ia membalas pelukan Natsu yang begitu hangat dan menyakitkan.

"Aku sudah memaafkanmu Natsu meskipun rasanya sangat menyakitkan.." ucap Lucy lembut.

Mendengar sayup-sayup perkataaan Lucy, Natsu menyinggungkan senyumnya. Tanpa banyak bicara Natsu menindih tubuh Lucy. Lucy semakin tak nyaman dengan itu semua, namun Natsu mencium bibir Lucy dengan cepat dan panas tanpa memberikan Lucy waktu untuk menelaah semua yang tengah terjadi.

Posisi ini sangat berbahaya, apalagi keadaan Natsu yang tengah mabuk. Tangan Lucy tak henti-hentinya mendorong pemuda pinkish itu untuk menjauh, namun kekuatan seorang laki-laki terlalu besar sehingga ia tak kuat untuk melawan seorang Natsu.

Natsu yang tidak nyaman dengan tangan Lucy yang terus mendorongnya menjauh, kedua tangan itu ia ikat kuat-kuat dengan slayer miliknya sehingga kini Lucy tak bisa melawannya.

Pemuda itu terus menindih tubuh indah putri Heartfilia itu, dan ia kembali mencium bibir ranum yang basah akibat ciuman yang ia lakukan tadi. Natsu memaksakan lidahnya untuk masuk kedalam mulut Lucy dan aroma kuat dari alkohol yang diminum Natsu menyeruak kedalam mulutnya.

Kepala Lucy sangat pening, dan ia pun merasa mabuk saat itu juga. Sial hanya dengan aroma yang kuat saja Lucy sampai mabuk seperti ini.

Sesaat kemudian Lucy terjatuh pingsan dengan tubuh yang sudah tidak mengenakan sehelai benangpun.

Lucy pingsan sekitar 20 menit. Ia membuka matanya dan melihat Natsu masih menindihnya. Tidak, Natsu bahkan menggila ketika ia menindih Lucy. Lucy melihat detailnya setelah mata Lucy terbuka sepenuhnya dan kesadarannya telah pulih dengan benar. Mata Lucy membulat tak percaya ketika ia melihat Natsu yang tengah telanjang dan membelainya penuh nafsu.

Natsu sadar bahwa Lucy sudah bangun, dan ia pun tersenyum.

"Kamu sudah sadar sayang?" tanyanya dengan suara maskulin.

"Natsu apa yang kau-." Belum sempat Lucy menuntaskan kalimatnya ia merasakan sakit didalam kewanitaan miliknya.

"Ahhhh ahhh ahhhh Nat-suhh ahhh hentikann Natsuhhh…" Lucy mendesah, tapi bukan mendesah nikmat, melainkan ia tak bisa menahan rasa sakit diarea pribadi yang tengah Natsu jamah dengan kejantanannya.

Natsu masih mengehentakan miliknya dengan cepat dan penuh dengan gairah.

"Luce kamu sangat cantik.."

Rupanya Natsu masih mabuk dan setengah sadar. Natsu memang memiliki nafsu yang besar, jadi sekali tersulut ia langsung membara.

"Natsu hentikan Natsu…" Lucy mendorong Natsu lagi dan lagi, namun Natsu seolah tuli dengan semuanya.

"Natsu aku mohon berhentii…" Lucy menjerit..

Pria itu masih tetap menulikan pendengarannya sampai akhir. Suara Lucy bagaikan angin lalu untuk Natsu.

Natsu telah mencapai klimaksnya.. "Ahhh haahhhh Luceehh aku keluar Luceee…"

Sesaat setelah Natsu mengatakannya, ia pun menyemburkan cairan spermanya didalam rahim Lucy.

Air mata tak dapat dibendung lagi, Lucy kini menangis sejadi-jadinya. Sekarang ia sudah tidak bisa menikah. Dan lihatlah situasi sekarang, ia melakukan hubungan suami-istri diluar nikah, dan ia melakukannya dengan Natsu. Lucy kecewa dengan dirinya sendiri, meskipun melakukannya dengan Natsu, tapi semua ini adalah tindakan yang salah.

Natsu melakukannya lagi dan lagi sampai ia tepuaskan sepenuhnya. Lucy tak kuat lagi, ia tak sanggup menerima semua kenyataan menyakitkan ini.

Kedua insan itu tertidur setelah melakukannya, tidak bahkan Lucy tak menikmati itu semua. Ia tak bisa bergerak leluasa karena tangannya yang masih terikat kuat sampai akhir.

Matahari pun menyapa mereka berdua. Lucy masih terbaring lemas disana, sedangkan Natsu masih tertidur disamping Lucy. Ketika gadis- wanita itu terbangun, ia kembali menangis. Padahal semalam ia berharap bahwa itu semua hanya lelucon, hanya mimpi indah sekaligus buruk untuknya.

Mata onyx itu terbuka sedikit demi sedikit. Ia melihat kesekeliling ruangan, dan ia sangat mengenal ruangan itu karena itu adalah kamar Natsu. Matanya membulat sempurna ketika mendapati seorang gadis menurutnya, tengah menangis tersendu-sendu.

"Lucee.." panggil Natsu terkejut.

"Luce apa yang telah terjadi?" tanya Natsu lagi.

Lucy masih tak bergeming dan terus diam. Ia tak bisa bergerak sama sekali. Tubuhnya serasa hancur, tenaganya serasa menguap entah kemana, terlebih lagi ia merasakan sakit yang luar biasa diantara kedua kakinya.

"Luce maafkan aku Luce.." kini Natsu melepas ikatan tangan Lucy.

Wanita pirang itu menatap tajam kearah Natsu. Memancarkan kemarahan yang sangat kepada Dragon Slayer itu.

"Ne Natsu.." Lucy akhirnya membuka suara, namun nadanya terdengar sangat sinis. "Apakah kau akan bertanggung jawab?" lanjutnya.

Perkataan Lucy seakan menembak mati dirinya. Perkataan itu seakan menembus jantung Natsu.

"Luce…" ujar Natsu lemah.

"Hah sudah aku duga. Kau takkan pernah bertanggung jawab kan Natsu?" tanya Lucy lagi yang kini memojokan Natsu hanya dengan kata.

Natsu menjambak rambut pink nya dengan kasar "Aku tak tahu harus bagaimana Lucy! Aku tidak mungkin meniggalkan Lisanna, aku sudah berjanji padanya! Aku berjanji untuk menikahinya.."

"Ya aku tahu!" Lucy mencoba untuk bangkit dan pergi dari sana meskipun terseok-seok sekalipun ia ingin pergi menjauh dari lelaki yang sudah menodainya.

"Anggap saja semua ini tidak pernah terjadi! Anggap saja semua ini hanya mimpi! Dan jangan pernah menyebut namaku lagi dengan bibirmu itu Natsu!" ucap Lucy dengan penuh kebencian kepada Natsu.

Lucy memungut pakaiannya yang sedikit robek karena ulah Natsu. Ia memakainya tanpa menghiraukan Natsu yang melihatnya.

"Lucy…" panggil Natsu..

"Akhirnya kau menyebutkan namaku dengan benar eh.. Dan sudah aku katakan, jangan pernah menyebut namaku lagi Natsu Dragneel!" dengan nada sarkastik.

Setelah berpakaian lengkap, Lucy langsung meninggalkan rumah Natsu dan membiarkan Natsu dengan rasa frustasinya.

"Harus bagaimana lagi Luce! Apa yang harus aku lakukan? Aku mencintai Lisanna dan aku menginginkanmu Luce!"

Flashback End


Hari yang ditunggu oleh seluruh anggota guild telah tiba, yaitu hari dimana ujian untuk menjadi penyihir kelas S diadakan. Dan untuk tahun ini, Master memutuskan untuk mengadakan ujian ini dipulau Tenroujima. Disana merupakan makam dari Shodai Master yang mendirikan guild ini.

Beberapa peserta yang terpilih adalah, Natsu, Gray, Juvia, Levy, Cana, Freed, Elfman, dan Mest. Mereka menentukan pasangan mereka sendiri untuk mengikuti ujian kali ini. Semua peserta sangat antusias karena ini adalah acara tahunan guild untuk menciptakan penyihir kuat dan siap menyandang gelar S Class Mage.

Natsu memilih Happy sebagai partnernya, Gray memilih Loke karena sudah berjanji, dan Juvia memilih Lisanna. Sebetulnya Lisanna ingin sekali menjadi partner Natsu, tapi Natsu lebih memilih Happy.

Cana memilih Lucy sebagai parnernya dan Lucy berjanji untuk menjadikan Cana sebagai S Class Mage.

Natsu dan Lucy masih tidak berbicara satu sama lain. Mereka saling mendiamkan bahkan mengacuhkan. Happy yang melihat hal itu merasa sedih. Ia ingin agar Natsu dan Lucy bisa kembali seperti dulu.

.

.

.

Tantangan demi tantangan dilalui oleh beberapa pasangan yang menjadi peserta ujian kali ini. Beberapa telah gugur dan beberapa melaju ke tahapan selanjutnya.

Cana dan Lucy yang melawan Freed dan Bickslow menjadi pemenang. Namun, kekuatan sihir Lucy terasa cepat terkuras dan habis.

"Hahhhh haahhhh…" Engah Lucy.

"Ada apa Lucy?" tanya Cana khawatir.

"Tidak apa-apa kok Cana.." Lucy mencoba tersenyum.

"Apa kamu kelelahan Lucy?"

"Ya sepertinya begitu.."

Cana sempat berfikir sedikit, penyihir hebat seperti Lucy kelelahan? Padahal ini baru permulaaan. Ada apa dengan Lucy? Lucy bukanlah penyihir yang lemah..

"Sebaiknya ayo kita istirahat dulu Lucy, aku mengkhawatirkanmu.." Ajak Cana.

"Maaf karena merepotkanmu Cana.."

"Tidak apa Lucy.."

Mereka pun hendak ketenda tempat yang kalah berkumpul. Namun ketika mereka berada diperjalanan mereka dihadang oleh beberapa orang.

"Siapa kalian?" tanya Cana.

"Kami? Kami adalah utusan yang mulia Zeref!" kata seorang berambut hitam dengan wajah yang sangar.

"Apa? Zeref?" kata Lucy terkejut.

"Ada urusan apa kau kemari?" tanya Cana.

"Kami ingin menghancurkan pulau ini, dan seluruh manusia yang berada dinegeri ini!"

"Apa?" teriak Lucy dan Cana bersamaan.

"Kami akan melakukan apapun agar bisa menyenangkan Zeref-sama, jiwa kalian akan kami sembahkan untuk Zeref-sama.."

"Apa kau fikir kami akan menyerahkan jiwa kami begitu saja?" ujar Lucy sinis.

"Kami akan memaksa dan membunuh kalian semua!"

Lalu segerombol penjahat yang mengaku utusan Zeref itu menyerang Lucy dan Cana. Namun, mereka kalah karena Lucy dan Cana lebih hebat tentunya.

"Lihatlah siapa yang dihancurkan sekarang ini.." kata Cana. "Kemenangan ini mutlak milik kita, Lucy.." lanjutnya.

"Umm"

Setelah mengeluarkan Celestial Spirit, Lucy tiba-tiba tersungkur dan terjatuh.

"Lucy kamu baik-baik saja?" tanya Cana khawatir sembari menahan tubuh Lucy.

"Aku baik-baik saja.." Lucy terus menerus mengatakannya, berlawanan dengan keadaan tubuhnya.

"Lucy sebaiknya kita cepat ketempat Master untuk memberitahu penyerangan ini.."

"Iya aku rasa begitu Cana.."

"Ayo aku bantu kamu untuk berjalan.."

"Terimakasih Cana.."

Lucy pun dibopong oleh Cana dan mereka segera menuju ketempat dimana mereka berkumpul.

.

.

.

Mereka telah sampai ditenda. Dan benar saja, bukan hanya mereka berdua yang terkena serangan itu, rupanya yang lain pun sama. Semua orang berada ditenda itu dan yang terakhir datang adalah Lucy dan Cana.

"Lu-chann…" panggil Levy yang terkejut melihat Lucy dibopong Cana. Sontak semua mata menuju kearah Lucy. Levy dan Gajeel menghampiri Lucy dan Cana.

"Lucy-san ada apa denganmu? Apa Lucy-san terluka?" tanya Wendy yang langsung mengeluarkan sihir penyembuhan.

"Aku baik-baik saja Wendy.."

Erza, Gray dan Juvia pun berjalan menghampiri Lucy dengan raut tak kalah khawatir. Happy? Jangan ditanya, ia langsung terbang melesat kearah Lucy dengan maxspeed nya karena khawatir.

"Lucy kenapa kamu bisa selemah ini?" tanya Gray.

"Lucy tadi terlalu banyak mengeluarkan roh sucinya.." jawab Cana.

"Lucy seharusnya kamu tak perlu memaksakan dirimu.." kini Juvia yang menasehati.

"Juvia benar Lucy, kami semua khawatir padamu.." timpal Erza

"Maaf telah membuat kalian khawatir.." Lucy tersenyum.

"Lucyyy…" panggil Happy dengan raut wajah sedih.

Wanita cantik itu mengelus wajah kucing biru itu yang sedikit kotor dengan lembut "Aku tidak apa-apa Happy.." Lucy tersenyum.

Dari kejauhan, Natsu hanya bisa menguping pembicaraan Lucy dan yang lainnya karena tentunya Lisanna takkan suka jika Natsu ikutan nimbrung kesana. Sejujurnya Natsu khawatir dengan keadaan Lucy, apalagi setelah 3 bulan ini mereka bahkan tak bertegur sapa, membuat Natsu gelisah dan tak bisa tenang.

Lisanna menghampiri Natsu dan duduk disampingnya.

"Natsu, apa kamu baik-baik saja?" tanya Lisanna.

"Ya aku tak apa-apa.." jawab Natsu.

"Apa kamu mengkhawatirkan Lucy?"

Deggg….

Pertanyaan itu seakan menyayat hati Natsu yang paling dalam.

"Ya sedikit…" Jawab Natsu tak ingin membuat Lisanna salah sangka.

"Sedikit yaa…"

"Memangnya ada apa Lis?" tanya Natsu penasaran dengan sikap Lisanna.

"Sebenarnya apakah kamu memiliki perasaan kepada Lucy walau sedikit saja Natsu?"

Deggg…

Lagi-lagi pertanyaaan itu melukai perasaan Natsu. Kini ia bingung harus menjawab apa. Mungkin 3 bulan yang lalu Natsu akan menjawab bahwa ia tak memiliki rasa apapun pada Lucy, namun sekarang berbeda.

Perasaan aneh ini berkembang biak direlung hati Natsu. Rasa bersalah, khawatir dan kesepian yang ia rasakan semuanya karena Lucy tak ada lagi disampingnya. Ia sangat merindukan bagaimana Lucy memanggil namanya, memerhatikannya, memasak untuknya, dan melakukan banyak hal untuknya.

"Kenapa kamu bertanya seperti itu Lis?" Natsu bukannya menjawab ia malah mengalihkan pembicaraan.

"Aku takut kamu lebih memilih Lucy.." jawab Lisanna murung.

"Aku takkan pergi kemanapun.." perkataan Natsu seolah menjadi mantra penenang untuk Lisanna.

Seseorang datang ketempat itu dengan aura yang mematikan. Mereka langsung menoleh kearah seseorang kakek betubuh mungil yang didampingi oleh seorang gadis berambut silver panjang.

"Master.." panggil Erza "Master sebenarnya ada apa ini?" lanjutnya.

"Bersiaplah bertempur! Aku merasakan akan adanya bahaya yang datang kemari.." perintah Master.

Semua yang mendengarnya langsung bersiap-siap dan waspada.

"Jangan sampai kita terpencar dan berpisah!" lanjut sang Master memperingati anak-anak didiknya.

"Hai.."

Semua anggota Guild waspada penuh dengan segala ancaman yang datang dari luar. Namun, tiba-tiba tanah dipulau itu seakan ada yang memukulnya sehingga menjadi hancur dan mengakibatkan seluruh orang terpisah-pisah tempat.

Natsu melirik kesekeliling dan ia pun terpisah dari yang lainnya. Kini ia mencari-cari kesekitar, siapa tahu ada orang yang kini berada dekat dengannya.

Mata onyx Natsu membulat sempurna ketika ia melihat 2 wanita yang tersungkur akibat runtuhnya permukaan tanah.

Natsu menghampiri gadis berambut perak itu dengan cepat "Lisanna…"

Tampaknya Lisanna hanya terbentur dan tergores. Natsu menghembuskan nafasnya lega.

"Syukurlah kau baik-baik saja Lis.."

Lisanna tersenyum "Natsu.."

Natsu membantu Lisanna untuk berdiri, Lalu terdengarlah pijakan ditelinga Natsu. Beberapa orang tengah berlari menghampiri wanita berambut pirang yang tengah tak sadarkan diri.

"Luce…" panggil Natsu.

Gray dan Juvia yang berlarian menghampiri Lucy langsung mengangkat tubuh Lucy dan membaringkanya dipangkuan Juvia. Gray mencoba menepuk-nepuk pipi Lucy untuk membangunkannya. Keadaan Lucy cukup mengkhawatirkan karena ia tak kunjung bergerak.

"Hey Lucy, bangunlah Lucy.." Gray masih menepuk pipi Lucy pelan.

"Lucy sadarlah…" Juvia nampak sangat khawatir.

Melihat keadaan Lucy yang seperti itu, Natsu hendak berlari menghampiri Lucy. Namun, Lisanna tentunya mencegah Natsu untuk melakukannya. Tapi Natsu tetap berlari dan akhirnya Lisanna ikut melihat bagaimana keadaan Lucy.

"Dimana Wendy? Kita harus segera menemukannya.." Gray celingak celinguk dan melirik kearah sekitar, namun sepertinya Wendy tidak ada disekitar sana.

"Luce.." dalam Hatinya iya ingin sekali menyentuh Lucy.

"Ayo kita pergi dari sini, kita harus membawa Lucy kepada Wendy.." Usul Gray.

Sialnya sebelum mereka membawa Lucy pergi dari sana untuk mencari Wendy, musuh datang.

Dia adalah seorang Pria tinggi dan berambut hitam jabrik. Dia melihat kearah Natsu dan yang lain.

"Apakah kau yang bernama Natsu?" tanya pria itu menatap tajam kearah pria berambut mencolok itu.

"Ya itu aku. Ada urusan apa kau mencariku?" tanya Natsu tajam.

"Aku ingin membuatmu menderita, lalu akan aku bawa kau kepada Zeref-sama sebagai persembahan.."

"Enak saja kau bicara.." Natsu mengepalkan tangannya.

"Gray, Juvia, Lisanna, cepat kalian pergi dari sini, dan Gray, bawa Lucy bersama kalian.." Natsu pun memerintahkan yang lain untuk pergi sedangkan Natsu harus melawan bajingan didepannya ini.

Namun Gray dan yang lain tidak bisa pergi dari sana karena seseorang menghadangnya.

"Kalian tidak akan bisa pergi kemanapun.." ucap wanita berelmen angin.

"Sialan, musuh mulai berdatangan.." decih Gray.

"Gray-sama, biar Juvia yang menjaga Lucy.."

"Terimakasih Juvia.." Gray tersenyum kepada kekasihnya itu, sedangkan Lisanna mengkhawatirkan Natsu..

Natsu melawan pria itu dengan sekuat tenaganya. Serangan demi serangan dilancarkannya.

Natsu melemparkan bola api yang berasal dari kepalan tangannya "Karyuu no Kouen"

Serangan Natsu meleset, pria itu menghindari serangan Natsu dengan baik.

Natsu tidak panik sama sekali. Ia pun melancarkan serangannya lagi "Karyuu no Houkou" dan munculah semuran api yang sangat panas dan dapat melahap apapun yang diserangnya.

Serangan barusan mengenai pria itu, meskipun tidak fatal setidaknya ia terluka akibat serangan itu.

"Natsu Dragneel, apa kau tahu apa sihir yang aku gunakan ini?" tanya pria itu.

"Untuk apa aku tahu! Tak peduli apapun sihirmu, aku akan mengalahkanmu!" teriak Natsu.

"Sihirku adalah Memory, dengan kata lain, aku bisa melihat semua kenangan seseorang yang aku tatap matanya.."

Natsu terjengah mendengarnya.

"Natsu Dragneel, sepertinya hal yang menarik akan segera menghampirimu.." ucap pria misterius yang bahkan tidak diketahui namanya itu.

Dengan secepat kilat, pria itu sudah berdiri dekat dengan para wanita, yaitu Juvia, Lucy dan Lisanna.

"Brengsek!" Natsu menggeretakan giginya. Pria itu hanya menyeringai. Natsu berlari secepat mungkin mengejar keparat itu.

"Saaya…" panggil pria itu kepada wanita yang sedang dihadapi Gray. Saaya pun dengan cepat menghampiri pria itu.

"Marco, apakah sudah saatnya?" tanya Saaya kepada pria yang bernama Marco itu.

"Ya.."

Pria yang diketahui bernama Marco itu menoleh kearah Natsu yang sedang berusaha untuk berlari kearah mereka.

"Sampai berjumpa lagi, Natsu Dragneel.." ucap Marco.

Sesaat Natsu sampai dan memegang tangan Lisanna dan Lucy, mereka serta Juvia telah menghilang diteleportasi. Genggaman tangan Natsu pun terlepas dari tangan Lucy dan Lisanna.

"Lisanna… Lucy…" teriak Natsu frustasi.

"Juvia.." Gray pun berteriak karena Juvia ikut menghilang..

.

.

.

Ditempat Lain, Erza, Gajeel dan Wendy serta Happy menghadapi banyak monster yang sepertinya dikendalikan oleh sekelompok penjahat yang menyerang mereka.

Ditempat lain juga, pertempuran tak dapat dielakan. Semua terdesak dan mengalami kesulitan serta anggota guild yang sudah banyak terluka.

Natsu dan Gray berusaha melacak keberadaan para wanita yang dibawa kabur oleh Marco dan Saaya. Ditengah perjalanan, Natsu bertemu dengan Erza, Wendy, Gajeel dan Happy.

"Natsu, Gray.." panggil Gajeel.

"Kenapa wajah kalian seperti ini? Ada apa?" tanya Erza penasaran.

"Lisanna, Lucy dan Juvia diculik oleh mereka.." ujar Gray yang membuat Wendy syok.

"Aku harus menemukan mereka bagaimanapun caranya.." kata Natsu dengan aura mematikannya.

"Natsuuu…" Happy memanggil Natsu yang terlihat menyeramkan.

"Baiklah, ayo kita lacak keberadaan mereka.." ajak Gajeel.

"Ya ayo kita berangkat sekarang.."

.

.

.

Penjahat yang diketahui adalah iblis dari buku Zeref itu kini sedang merapalkan sebuah mantra. Entah apa yang mereka rencanakan, namun kedengarannya ini adalah hal yang sangat berbahaya.

Juvia yang dibuat pingsan itu tergeletak ditanah. Dan sepertinya mereka berada didalam sebuah ruangan tua yang terdapat dipulau itu.

Tangan Lisanna dan Lucy diborgol dengan borgol khusus penetralisir sihir. Mereka berdiri sedikit berjauhan karena borgol yang membuat mereka menggantung disebuah tembok itu. Tubuh mereka tak bisa bergerak sama sekali.

"Lepaskan aku!" Lisanna pun berontak. "Lepaskan kami!"

"Tidak akan sampai ada yang mati diantara kalian.." jawab Saaya.

"Apa maksudmu?" kini Lucy yang bertanya. Ia terbangun dari pingsannya karena mendengar suara Lisanna.

"Ini adalah sebuah permainan.." ujar Marco "Permaian ini berakhir jika salah satu diantara kalian berdua mati."

"Apa jangan becanda!" teriak Lisanna.

"Memang aturannya aku buat begitu!" jawab Marco.

"Jadi ini adalah sebuah rune? Kuno sekali.." sela Lucy.

"Meskipun dibilang kuno, tapi tidak ada sihir yang lebih sempurna dari rune! Rune akan terus berlangsung jika aturannya tidak terpenuhi.." jawab Marco santai "Dan aturan yang mutlak adalah, Natsu Dragneel harus menyelamatkan nyawa kalian berdua, tapi hanya satu diantara kalian yang akan hidup!" lanjutnya.

"Kalau begitu, bunuhlah aku!" kata Lucy tanpa beban.

"Aku tak bisa menyentuhmu! Ini adalah aturan mainnya!"

"Licik sekali kau.." tuding Lucy.

"Ya aku memang licik. Segala cara akan aku lakukan untuk menyenangkan Zeref.. dan tenang saja pirang, kau akan segera mati.."

Mendengar hal itu, Lucy tersenyum kecut. 'Aku akan mati yah..' Lucy pun meneteskan air matanya 'Tak apa jika aku yang mati, dengan begitu bebanku akan menghilang. Natsu akan berbahagia tanpaku, karena kebahagiaan Natsu berasal dari Lisanna.' Ucap Lucy dalam hati.

Telinga Juvia menangkap semua percakapan antara mereka. Juvia kini sudah sadar namun ia masih belum bisa menggerakan badannya. Ia hanya bisa mendengarkan secara seksama.

"Natsu-san, Gray-sama cepatlah datang.." gumam Juvia.

.

.

.

Beberapa saat kemudian, mereka mendengar suara gaduh seperti seseorang yang menghancurkan pintu. Seseorang itu muncul dan ditemani beberapa orang lagi yang berada dibelakangnya.

"Yoo Natsu Dragneel, lama sekali kau, padahal hanya menemukan tempat seperti ini membutuhkan waktu yang cukup lama.." Ejek Marco.

"Diam kau!" kata Natsu dingin namun wajahnya menyiratkan kemurkaan.

"Whoaa menakutkan sekali jika Dragon Slayer marah.." ujar Marco.

Gray yang melihat Juvia terkapar langsung meraih tubuh ringkih Juvia.

"Gray-sama.."

"Tenanglah, aku disini Juvia.." Gray memeluk tubuh Juvia.

Natsu melirik kesegala arah dan mendapati Lisanna dan Lucy yang diborgol dengan keadaan mengenaskan.

"Lucyyyyy…" teriak Happy karena terkejut melihat Lucy terluka dan ia tak terlalu memerhatikan Lisanna yang sama-sama terluka. Bibirnya refleks menjeritkan nama Lucy.

Natsu memanas melihat mereka berdua "L-." Natsu pun hendak berteriak namun dihentikan oleh suara lain.

"Natsu-san.." panggil Juvia. Natsu hanya menoleh dengan wajah yang bisa dikatakan menyeramkan.

"Natsu-san aku mohon dengarkan aku! Jangan sebut nama mereka berdua. Kau harus menyebutkan nama salah satu dari mereka jika kau benar benar menginginkan salah satu dari mereka.." ujar Juvia yang membuat Natsu bingung.

"Apa maksudmu Juvia?" tanya Natsu.

"Hanya ini satu-satunya cara Natsu-san, agar kau tak menyesal.." Juvia menangis.

Natsu semakin tak mengerti dengan situasinya saat ini, tanpa banyak bicara ia langsung berlari mendekat kearah Lisanna dan Lucy, namun ia tak bisa mendekat karena ada penghalang yang tak terlihat.

"Hoy biarkan aku masuk sialan!" teriak Natsu kepada Saaya dan Marco.

"Nah Natsu Dragneel, kau tak bisa masuk kedalam sini jika kau tak menaati peraturannya!" ujar Marco.

"Persetan dengan itu semua!" amarah Natsu sudah mencapai puncaknya. Ia pun mencoba menghancurkan penghalang transparan itu dengan tinju apinya namun tak bergeming sama sekali.

"Sudah kubilang, itu percuma!" kata Marco lagi.

"Natsu, tolong aku Natsu.."

Natsu mengakihkan fokusnya kearah sumber suara, suara itu terdengar serak.. ia mendapati Lisanna yang terus menerus meminta pertolongan kepada Natsu.

"Natsuuu…"

Pandangan Natsu dialihkan kepada Lucy yang sedari tadi hanya diam saja. Ia tak panik, bahkan ia sangat tenang. Ia seperti sudah menyerah dengan hidupnya.

'Luce..' ucapnya dalam hati.

Marco menyuruh Saaya untuk menghampiri Lucy dan ia sendiri menghampiri Lisanna. Mereka berdua bersiap untuk menikam kedua wanita cantik itu. Pisau sudah mengenai leher mereka sehingga kulit mereka mengeluarkan sedikit darah. Padahal pisau itu tidak akan berhasil membunuh Lisanna dan Lucy.

Kedua pisau itu bersiap untuk memenggal siapa saja yang berada didekatnya. Dan sedikit lagi Natsu pun berteriak.

"Tidak jangan sakiti Lisanna!"

Deggg….

Dada Lucy sangat sesak ketika mendengar Natsu menyebut Lisanna, detak jantung Lucy tiba-tiba melambat, Lucy tak sanggup menahan air mata yang keluar seenaknya, dan untuk yang terakhir kalinya Lucy menatap Natsu yang panik dan tampan seperti biasanya. Hatinya sakit, sungguh sakit. Dalam hati kecilnya, ia berharap namanya lah yang akan keluar dari bibir manisnya, dalam hati kecilnya ia ingin sekali terus hidup untuk memandang Natsu-nya tercinta.

Dalam sekejap mata, Lucy sudah tak bergerak dan tak bernafas lagi. Kini rune yang terpasang sudah hancur ketika Natsu mengucap nama Lisanna.

Lisanna dihampiri oleh Erza, dan Lucy dihampiri oleh Wendy dan Happy yang memasang raut wajah khawatir. Kedua penjahat itu telah menjauh dari posisi mereka semula ketika Wendy dan Erza menyerang mereka yang berani-beraninya menyentuh teman mereka.

Mata Wendy membulat sempurna ketika merasakan bahwa Lucy sudah tak bergerak dan tak bernafas lagi. Ia mencoba mengeluarkan sihir penyembuhannya.

Ini sangat aneh. Natsu pun berfikir keras dalam kepalanya. Tidak mungkin kan ini adalah permainannya!

Natsu mengepalkan tangannya "Jangan becanda kau keparat! Apa yang telah kau lakukan brengsek?" dengan secepat kilat Natsu menghantam tubuh Marco sampai terpental.

"Kau lebih memilih gadis berambut perak itu heh Natsu Dragneel?" Marco mencoba untuk berdiri setelah menghantam dinding itu.

"Apa maksudmu?" tanya Natsu penuh kemurkaan.

"Kau memilih gadis itu daripada wanita yang tengah mengandung anakmu! Aku sudah menduganya ketika aku melihat masa lalu wanita pirang itu." Marco terus memanas-manasi Natsu.

"Mengandung?" semua orang yang berada disana bingung. Kucing biru yang mendengar itu semua tak percaya dengan apa yang ia dengar.

'Lucy hamil?' hanya satu kalimat itu yang kini tercetak jelas diotak mereka semua.

"Hidup wanita pirang itu sangat menyedihkan. Ia mati dengan kondisi mengandung dan dibunuh oleh seseorang yang ia cintai."

"DIBUNUH? APA MAKSUDMU? AKU MEMBUNUH LUCY? ITU TIDAK MUNGKIN!" teriak Natsu.

"Bagaimana rasanya menjadi wanita malang itu… diperkosa oleh temannya sendiri yang sangat ia cintai, mengandung dan tak mendapatkan pertanggung jawaban dan parahnya lagi dibunuh secara tidak langsung oleh ayah dari bayinya sendiri. Wanita itu sangat cantik sekali, coba saja ia masih suci, pasti aku akan menjadikannya istriku."

Natsu masih berfikir keras dengan perkataan Marco. Lucy mengandung? Mengandung anaknya? Dibunuh olehnya? Secara tidak langsung? Ia mengatakan ingin menjadikan Lucy istrinya?

"Sialan!" Natsu kembali menghantam tubuh Marco sampai babak belur dan sekali serangan Natsu menghanguskan tubuh Marco dengan api naganya sampai tak bersisa lagi.

Saaya langsung ditangani oleh Gajeel dan dia pun bernasib sama seperti Marco, mati mengenaskan.

Sebenarnya, mereka adalah lawan yang mudah, namun mereka sangat licik.

Setelah mengalahkan musuh, Natsu berjalan gontai kearah Lucy dan Wendy. 'Wendy dan Happy menangis? Ada apa?'

"Wendy, Happy kenapa kalian menangis? Luce baik-baik saja kan?" tanya Natsu. Feeling Natsu sangat tak karuan sekarang ini.

Natsu berkata dalam hati. Ia tak ingin apa yang dikatakan Marco adalah kebenaran. 'Benarkah apa yang dikatakan Marco bahwa Lucy-. Sebelum sempat melanjutkan kata terakhir dibenaknya suara Wendy menyadarkan Natsu akan kenyataan.

"Natsu-san, Lucy-san sudah meninggal.." semua yang berada disana syok mendengar apa yang diucapkan Wendy, terlebih untuk Natsu. Kucing biru itu hanya bisa menangis dan memeluk lenganan Lucy dengan kuat..

"Tidak… ini hanya lelucon saja kan! Mana ada rune yang bisa membunuh manusia!" Natsu menyangkal kenyataan pahit itu. "Tidak mungkin kan Luce… Luce kau bisa bangun kan Luce?" Kini Natsu menyentuh dan menggoyangkan tubuh Lucy yang mendingin dan tak bergerak.

"Apakah ini rune terlarang yang dikatakan Freed?" gumam Gray.

"Rune yang dikembangkan untuk membunuh manusia. Dengan bantuan batu penyegel sihir dan mantra yang telah disempurnakan maka-." Erza tak berani melanjutkan penjelasannya, kini Erza ikut meneteskan air matanya.

Lisanna memandang nanar Natsu. Apakah Natsu sangat mencintai Lucy? Lisanna tak kuasa menahan perasaannya saat ini. Ia sangat bersalah kepada Lucy. Ia selalu memandang bahwa Lucy akan merusak hubungannya dengan Natsu. Lucy bahkan hanya diam saja meskipun sudah tahu bahwa jika Natsu menyebutkan salah satu nama dari mereka berdua, maka nama seseorang yang tidak disebutkan itu akan mati karena rune itu menyerap sihir seseorang yang dianggap dibuang sampai habis melalui batu penyegel.

"Natsu.." panggil Lisanna pelan namun tak terdengar oleh Natsu.

Pria pinkish itu masih memeluk Lucy erat. ia tak berniat unuk melepaskan Lucy lagi. Ia menyesal telah melakukan kesalahan dan mengabaikan apa yang Juvia katakan saat itu.

Natsu-san aku mohon dengarkan aku! Jangan sebut nama mereka berdua. Kau harus menyebutkan nama salah satu dari mereka jika kau benar benar menginginkan salah satu dari mereka.

Hanya ini satu-satunya cara Natsu-san, agar kau tak menyesal.

Kata-kata itu terus terngiang-ngiang ditelinga Natsu. Kenapa ia sangat ceroboh dan membiarkan Lucy menjadi seperti ini.

Natsu tak ingin kehilangan Lucy, namun ia juga tak ingin kehilangan Lisanna untuk yang kedua kalinya, apalagi ia sudah berjanji untuk menjaga Lisanna apapun yang terjadi. Ia pun menjadi lebih mengkhawatirkan Lisanna dan mengabaikan Lucy yang sama-sama terluka.

"Lucee…" Natsu menangis.

"Natsu-san, Lucy-san benar mengandung. Apa itu anakmu?" tanya Wendy yang masih mengurai air mata.

Mata Natsu tertuju pada perut Lucy yang sedikit membesar, tidak datar seperti dulu.

Bukannya menjawab perkataan Wendy, Natsu malah menatap dan megelus perut Lucy "Hey Luce, kenapa kau tak mengatakan bahwa kau hamil hah?" Natsu sedang berbicara kepada Lucy yang kini sudah tak ada.

"Ah aku lupa, kau pernah bertanya padaku, apakah aku akan bertanggung jawab kan Luce? Dan aku tak menjawabnya.. apakah ini sebabnya kamu tak mengatakan sepatah kata pun padaku Luce? Kau mengandung anakku dan kau diam saja seperti tidak ada yang terjadi.." Natsu terus terisak.

"Kau tahu Luce? Aku merasa bersalah setiap harinya. aku selalu merasakan sakit setiap kali aku melihatmu. Aku tersiksa harus berpura-pura tak mengenalmu, aku tersiksa Luce!" Natsu terdiam.

"Luce, aku akan bertanggung jawab sekarang. Apapun akan aku lakukan untukmu dan anak kita Luce, jadi aku mohon bukalah matamu Luce. Aku salah Luce aku salah.. Aku membuangmu, dan kini aku sadar aku membutuhkanmu Luce, aku mencintaimu Luce. Sejak saat itu aku selalu memikirkanmu, aku mencintaimu.."

Melihat kondisi Natsu yang menyalahkan dirinya sendiri membuat semua yang ada disana merasakan kepiluan yang dialami oleh kedua sahabatnya itu.

"Natsuuuu…" panggil Happy pelan sembari menangis melihat kondisi Lucy dan keadaan Natsu yang merasa bersalah.

Gray sendiri tak menyangka bahwa Natsu melakukan hubungan itu dengan Lucy sampai Lucy akhirnya mengandung.

Kondisi Lisanna saat ini masih syok mendengar apa yang terjadi antara kekasihnya dengan Lucy. Kenapa bisa Lucy sampai hamil? Apa yang dilakukan Natsu sampai Lucy mengandung?

Lisanna tak dapat menerima semua kenyataan ini. Namun, semuanya sudah terjadi dan kini Lucy sudah tiada. Ia tak bisa egois seperti biasanya. Ia tak bisa memaksa Natsu untuk menjauhi Lucy lagi.

"Lisanna, apa kau tahu?" tiba-tiba Natsu bertanya kepada Lisanna tanpa melepaskan pelukannya pada Lucy.

"Sebenarnya aku meneriakan namamu bukan karena keinginanku. Aku tak bisa menyebutkan nama Lucy karena ia melarangku melakukannya! Maafkan aku karena aku menyakiti kalian berdua. Maafkan aku yang sebenarnya memiliki perasaan pada Lucy.."

Lisanna mematung, ia berharap apa yang dikatakan Natsu hanyalah angin lalu semata. Lisanna meneteskan air mata dan terisak.

"Maaf Lisanna. Seharusnya aku mengatakan ini semua setelah aku memperkosa Lucy, seharusnya aku bisa mengambil keputusan dengan bijak." Natsu tak kuasa melanjutkan semua kata-kata yang selama ini ada dalam benaknya.

"Maaf karena aku selalu menjanjikan kata-kata manis padamu. Maaf aku mengatakan bahwa aku akan melindungimu selalu. Dulu aku selalu meyakinkan diriku sendiri bahwa aku tak ingin kehilanganmu Lisanna, aku tak ingin merasakan hal yang sama untuk yang kedua kalinya. Aku terus memegang perkataanku dan mengabaikan perasaan Lucy, menyakiti Lucy, menghancurkan hidup Lucy." Natsu menarik nafasnya dalam-dalam "Aku tak pantas untuk siapapun Lis, aku adalah bajingan yang tak pantas dicintai oleh siapapun. Kini aku sudah yakin Lis, aku mencintai Lucy. Seharusnya aku mengatakannya dari dulu padamu dan Lucy, tapi aku malah meninggalkan Lucy dan memilihmu karena janji ku padamu..." Natsu meneteskan air mata dan kini ia memandang Lucy yang masih berada dalam pelukannya.

"Lisanna… Aku ingin hubungan kita berakhir saja. Aku tak ingin menyakitimu lebih dari ini.. Aku mencintai Lucy, dan aku tak ingin kau tambah terluka Lis." Natsu mengatakannya dengan yakin.

"Natsu maafkan aku. Aku egois Natsu. Akulah yang salah karena selama ini aku sudah tahu bahwa kamu memiliki rasa kepada Lucy, dan aku selalu menghalangimu untuk dekat dengannya. Aku juga tahu bahwa Lucy sangat mencintaimu, tapi aku tak ingin kamu menjadi milik orang lain. Aku memaksamu untuk memasukan aku kedalam timmu dan mengeluarkan Lucy. Aku jahat Natsu, aku jahat pada Lucy. Padahal Lucy adalah seseorang yang sangat baik, ia tak pernah melukaiku bahkan menyinggung perasaanku. Sampai saat terakhir ia berusaha melindungiku dan menyerahkan nyawanya." Lisanna merasa orang yang paling jahat saat ini dan sampai nanti. Karena keegoisan nya, semua orang terluka.

"Maafkan aku yang selalu menutup mata dan telingaku dari kalian yang saling mencintai Natsu, Lucy.."

Natsu hanya bisa diam dan mengeratkan pelukannya kepada Lucy. Ia terkejut mendengar pengakuan dari Lisanna, ia sangat kecewa dengan semua yang telah terjadi. Karena dirinya, Lucy tiada. Dan karena ia memanggil nama Lisanna, Lucy meregang nyawa.

Pria bersurai sakura itu tak dapat menahan gejolak didadanya lagi. Jantungnya sangat sakit, dadanya sesak dan ia pun meremas kuat dadanya.

Natsu berteriak histeris "AAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRGHHHH"

"LUCEE…" teriak Natsu.

"LUCEEE BANGUN LUCEE!" teriaknya lagi.

"LUCEEE BANGUNLAH LUCEEE!"

"MULAI DETIK INI AKAN AKU SEBUT NAMAMU SAMPAI KAPANPUN LUCEE, AKU TIDAK AKAN PERNAH BOSAN MEMANGGIL NAMAMU.." teriak Natsu dengan buliran air mata yang membasahi wajah Lucy.

Natsu menangis sejadi-jadinya. Happy semakin larut dalam tangisannya karena melihat Natsu yang hancur seperti itu.

Mata Natsu menyendu, ia memandang wajah cantik wanita yang kini singgah dihatinya itu.

"Lucy Heartfilia aku mohon bangunlah Lucy.." Natsu pun mengatakannya dengan suara parau dan rendah.

Semua orang yang menyaksikan hal itu pun merasakan sakit dan kepiluan yang Natsu rasakan.

Erza menepuk pundak Natsu pelan "Natsu, biarkan Lucy tenang Natsu.."

"Mana mungkin aku bisa melakukan itu Erza?" Natsu mengatakannya dengan penuh amarah "Aku tak bisa membiarkan Anakku dan Lucy mati begitu saja Erza!" lanjutnya.

"Natsu-san.." Juvia tak kuasa melihat Natsu yang menderita, begitu pula Gray dan yang lainnya merasakan hal yang sama.

"Aku mengerti Salamander, tapi jika kau terus seperti ini, Lucy takkan bisa pergi dengan tenang.." akhirnya Gajeel menyebutkan nama Lucy, dan bukan Bunny Girl lagi.

"Apa yang dikatakan Gajeel benar Natsu, jangan biarkan Lucy tetap menderita dengan sikapmu ini. Relakan Lucy pergi Natsu.." Gray menasehati Natsu dengan sabar.

"Lucee jangan pergi Luce…" isak Natsu.


Lucy's Dreams

Apakah aku sudah mati?

Apakah aku tidak bisa kembali lagi?

Apakah ini akhir untukku?

Apakah ini semua adalah takdirku?

Natsu aku menyayangimu, aku mencintaimu..

Lucy melirik kesekelilingnya. Semuanya berwarna putih, bersih dan suci.

Suara gadis kecil mengganggu pendengaran Lucy yang sangat tajam.

"Mama…"

Lucy segera menoleh kearah suara itu.

"Mama…" gadis kecil itu menanggil Lucy dengan sebutan Mama.

Gadis kecil itu sangat cantik sekali. Matanya persis seperti dirinya, rambut pirang panjangnya sangat menawan. Rambut pirang itu ujungnya berwarna pink indah. Sangat elegan dan sangat menawan. Senyumnya sangat menenangkan hati.

"Anakku…" Lucy mengurai air mata…

"Mama aku menyayangimu Mama.." gadis kecil itu memeluk Lucy erat. dan Lucy pun membalas erat pelukan itu.

"Mama juga sangat menyayangimu sayang.."

"Mama ayo kita pergi.. Papa tidak menginginkan aku dan Mama. Ayo kita pulang ketempat kakek dan Nenek.." ajak gadis kecil itu.

"Iya sayang.. ayo kita pergi…"

End of Lucy's Dream


6 Tahun Kemudian

Beberapa tahun telah berlalu sejak kejadiaan naas itu terjadi. Kini, rata-rata anggota Guild Fairy Tail sudah menjadi Penyihir kelas S, bahkan lebih. Natsu telah menjadi Penyihir yang sangat kuat, lebih kuat dari Erza atau siapapun di Fairy Tail.

Seperti biasa, Guild Fairy Tail selalu ramai, namun seseorang datang berlari dengan nafas tersenggal-senggal dan raut wajah khawatir.

GBRAKKKKKK….

Pria berambut mencolok itu masuk dan langsung berlari menuju ruang kesehatan.

"Lisanna! Lisanna!" panggil Natsu dengan berteriak.

"Ada apa Natsu? Jangan teriak-teriak begitu dong.." kesal Lisanna.

Natsu melihat Lisanna dan Mira serta Wendy yang tengah melakukan pengobatan dibalik tirai.

"Bagaimana keadaan Nashi? Dia baik-baik saja?" Natsu membuka tirai yang menghalangi pandangannya.

"Papa, jangan berisik dong, telingaku sakit jika papa berteriak seperti itu.." celoteh gadis kecil bersurai merah jambunya yang panjang yang tengah diobati oleh Wendy. Wendy hanya tersenyum melihat kelakuan kedua keluarga Dragneel itu.

"Nashi? Kamu baik-baik saja sayang?" Tanya Natsu dengan penuh kasih sayang.

"Um aku baik-baik saja.." gadis kecil bernama Nashi itu pun menunjukan grins andalan yang diturunkan oleh ayahnya. Manis, gadis ini sangat manis dan cantik seperti ibunya.

Natsu memeluk Nashi dan mengelus pucuk kepalanya. Kedua pemilik surai merah jambu itu berpelukan dengan waktu yang cukup lama.

Sang Papa melepaskan pelukannya dari anak semata wayangnya itu.

Sekarang raut wajah Natsu bisa dibilang menyeramkan. "Jadi, kenapa kau bisa terluka begini Nashi Dragneel?"

Sadar dengan kemarahan ayahnya, Nashi pun begidig ketakutan."Um, aku tadi sedang berlatih dan tak sengaja aku melukai diriku sendiri.."

"Yasudah, jangan lakukan hal yang berbahaya lagi. Papa tak ingin kehilanganmu seperti Papa kehilangan Mama dan Kakakmu dulu.." Ucap Natsu lemah dan kini berurai air mata.

"Kamu selalu mengingatkanku pada masa lalu itu jika kamu terluka Nashi, Papa tak ingin itu terjadi lagi. Kamu mengertikan?"

Nashi jadi merasa bersalah karena selalu mengabaikan perkataan Papanya "Baik Papa, Nashi akan lebih berhati-hati lagi.."

"Natsu, jangan memarahin Nashi seperti itu. Sifat ceroboh Nashi turun darimu juga kan?" Ucap suara lembut itu.

Suara itu membuat Natsu menolehkan pandangannya kearah wanita Cantik yang selalu ia rindukan setiap saat. Surai pirangnya yang dikepang panjang itu, membuatnya sangat anggun dan menawan.

"Luce.." Panggil Natsu..

"Iya Natsu.." Lucy tersenyum lembut kearah Natsu.

Pria pinkish itu langsung menerjang tubuh Lucy yang sedang membawa sayur dan buah-buahan dalam keranjang.

"Luce aku merindukanmu.." ucap Natsu lembut.

"Baru 3 hari misi, kamu sudah sebegitunya merindukanku Natsu?" tanya Lucy.

"Jadi kamu tidak merindukanku Lucy Heartfilia Dragneel?" kesal Natsu.

Lucy memandang gemas Natsu. Ia mengusap pipi kembung Natsu yang kini sedang merajuk.

"Aku merindukanmu setiap saat Natsu.." Lucy tersenyum lembut. Ketika mereka hendak berciuman, suara lain menginterupsi mereka.

"Ehem…" suara itu mengganggu keromantisan kedua sejoli yang sedang bermesraan ditempat umum.

"Maaf Lucy aku mengganggu, tapi sebaiknya kamu istirahat dulu, dan Natsu juga kamu baru saja pulang dari misi sebaiknya istirahatlah.." ujar Mira.

"Ah iya, maaf aku lupa tempat kalau bersama Luce.." Natsu pun menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal, sedangkan Lucy tersenyum atas tingkah Natsu yang sangat tak sabaran dan bodoh tentunya.

"Mama tidak memeluk Nashi?" tanya Nashi.

"Hee kenapa tiba-tiba minta dipeluk?" tanya Lucy gemas.

"Nashi ingin dipeluk Mama dan Papa.." kata gadis kecil itu.

"Ah baiklah kalau begitu, Papa akan memeluk Nashi.." Natsu berjalan menuju ranjang pasien yang diduduki anak semata wayangnya itu. "Mama,ayo kesini.." suruh Natsu kepada Lucy.

Lucy tersenyum. Ia pun meletakan keranjang berisi sayur dan buah itu dimeja. "Iya tunggu sebentar.."

Mereka bertiga berpelukan, dengan Nashi yang berada ditengah. Mereka bertiga berbahagia. Lisanna, Mira dan Wendy yang belum beranjak dari ruangan itu bersyukur karena melihat kebahagiaan keluaraga kecil itu.

Lisanna tersenyum melihat Natsu berbahagia dengan Lucy, dan mereka pun akhirnya memiliki seorang anak yang sangat cantik dan pintar seperti Nashi. Syukurlah..

"Nah, ayo sini menghadap ke kamera. Aku akan mengambil foto yang bagus.." ucap Lisanna sambil tersenyum.

"Ah terimakasih Lisann-." Sebelum Lucy mengucapkan rasa terimakasihnya, tiba-tiba seekor kucing biru melesat kearah mereka.

"Hidoiy yo Natsu, kalian tidak mengajak aku berfoto.." ucapnya sambil menangis-nangis bombay. "Lucy juga tidak mengajakku, apalagi Nashi menginggalkan aku ditempat latihan.."

Semua orang disana tertawa. Mendengar ruangan itu berisik, Gray dan Juvia pun kesana dan menyaksikan drama keluarga itu.

"Haha maafkan aku Happy…" tawa Natsu.

"Baiklah, ayo kemari Happy, kita berfoto bersama.." ajak Lucy.

"Ayo om Happy kemarii…" cengir Nashi.

"Ayee sirrrr…"

Mereka berempat pun tersenyum menghadap kamera. Natsu tersenyum dan menunjukan grins andalanyya, begitupula dengan Nashi. Lucy tersenyum cantik dan Happy yang berada dipelukan Nashi menujukan kebahagiaannya.

.

.

.


Hari sudah malam. Keluarga Dragneel itu sudah pulang dari Guild, dan mereka sekarang berada disebuah rumah yang bagus, dengan pekarangan yang indah dan juga luas.

Keluarga Dragneel itu, baru saja menyelesaikan makan malamnya. Dan sekarang mereka sedang berada diruang keluarga.

"Mama, Papa, Nashi mau tidur.." rengek gadis berusia 5 tahun itu.

"Nashi sudah mengantuk yaa.." kata Natsu dan Nashi hanya mengangguk sambil mengucek matanya yang sudah berat.

"Yasudah, ayo Mama temani Nashi tidur.." ajak Lucy dan ia pun menggendong Nashi.. mereka berjalan kekamar Nashi yang terletak di lantai 2 rumah itu.

Lucy menyanyikan lagu kesukaan Nashi sebagai penghantar tidur. Dan dengan begitu, Nashi akan langsung terlelap kealam mimpinya. Lucy mematikan Lampu dikamar Nashi, dan membiarkan lampu tidur berbentuk jamur itu tetap menyala agar tidak gelap gulita. Setelah menidurkan Nashi, Lucy kembali keruang keluarga, dan Natsu masih stay disana sambil membaca buku.

Wanita cantik itu memeluk Natsu.

"Nashi sudah tidur?" tanya Natsu.

"Um dia sudah tidur dengan nyenyak.." jawab Lucy masih memeluk Natsu. Natsu meletakan bukunya dan balas memeluk Lucy.

"Kalau Happy?" tanya Natsu lagi.

"Happy menginap dirumah Wendy dan Charla.."

"Sekarang Nashi sudah besar, 6 tahun tak terasa ya Luce.." ucap Natsu.

"Um kamu benar Natsu.. kita menikah 6 tahun lalu, dan sekarang kita memiliki Nashi.." gumamnya.

"Oh iya Lucy, bagaimana dengan permintaan Nashi tadi.. apa kita akan membuatnya?"

Mendengar perkataan Natsu, Lucy pun mengingat pas mereka makan malam tadi.


Flashback

"Nee Mama, Papa.."

"Ada apa Nashi?" tanya Natsu.

"Bulan depan adalah ulang tahunku, jadi apakah Nashi boleh meminta sesuatu?"

Natsu menaikan alisnya..

"Ya boleh saja sayang.. memangnya Nashi mau apa?.." kini Lucy yang bertanya.

Gadis cilik itu hanya tersenyum penuh arti.

"Kamu mau mainan?" tanya Natsu.

Nashi menggeleng..

"Mau kue yang lebih besar dari tahun lalu?" tanya Natsu lagi.

Namun, gadis kecil itu masih menggeleng.

"Lalu Nashi ingin apa?" tanya Natsu dan Lucy bersamaan.

Nashi tesenyum "Nashi ingin punya adik.."

Natsu yang sedang minum teh pun tersedak.

UHUKKKKKK….

Lucy langsung mengambilkan air putih untuk Natsu..

Flashback End


"Tidak ada salahnya kan menambah satu anak atau lebih?" tanya Natsu.

Lucy terdiam…

"Apakah ini saat yang tepat Natsu?" tanya Lucy

"Memangnya ada apa Lucy? Kamu tidak bisa melahirkan lagi?" tanya Natsu was-was.

"Tidak bukan begitu.."

"Terus? Katakan padaku Lucy ada apa?"

"Ah tidak ada apa-apa Natsu.." Lucy tersenyum ramah kepada Natsu. "Jadi apa kita langsung buat saja Natsu?" kekeh Lucy.

Natsu menyeringai penuh arti. Natsu langsung menyerang tubuh Lucy yang sudah terbuka dan diap untuk disantap Natsu. Natsu menciumi tubuh Lucy mulai dari leher, dada, perut dan yang terakhir adalah bibirnya.

Mereka berciuman dengan lembut dan penuh cinta. Tidak seperti ciuman saat mereka pertama kali melakukannya, saat mereka mabuk 6 tahun lalu. Natsu menggendong Lucy ala bridal style dan membawanya kekamar mereka yang terletak dilantai 2. Kamar mereka, berjauhan dengan kamar Nashi, sehingga mereka tak khawatir jika melakukannya.

Natsu mulai melepaskan piyama yang dipakai Lucy dan melemparnya kesembarang arah.

Natsu menidurkan Lucy diranjang mereka dengan lembut. Natsu menyerang lagi tubuh Lucy yang sudah polos tanpa sehelai benang pun. Natsu menghisap dada kiri Lucy dan memainkan dada kanan Lucy serta meremasnya.

"Ahhh Nat-suhhh…" desah Lucy.

Mendengar Lucy mendesahkan namanya, ia pun sudah tak tahan lagi. Natsu langsung membuka seluruh pakaiannya dan langsung menindih kembali tubuh Lucy. Lucy tak lagi menolak sentuhan yang diberikan Natsu seperti duu. Dengan senang hati, Lucy berikan tubuhnya kepada Natsu, yang sekarang ini telah menjadi suami sahnya.

Natsu memasukan kejantanannya kedalam kewanitaan Lucy yang masih terasa sempit seperti saat mereka pertama kali melakukannya.

"Ahhh Luc-ehhh… sempittt seperti saat kita pertama kali melakukannya.." ucap Natsu dengan nada menggoda dan merangsang Lucy.

"Hahhhhh aku merasa masih perawan Natsu.." erang Lucy.

Padahal ini bukanlah pertama kalinya mereka melakukannya, namun lubang kewanitaan Lucy selalu membuat Natsu mabuk kepayang dan selalu mebuat Natsu merindukan Lucy setiap saat. Lucy bahkan sudah pernah melahirkan, tapi kewanitaannya sungguh sempurna, membuat Natsu menginginkannya lagi dan lagi.

"Lucehhh,, hahhhh Lucehhh…" desah Natsu.

"Ahhh Natsu keluarkan semuanya Natsuhhh,. Hahhhhhh ahhhhhh.." desah Lucy.

Natsu meghentakan miliknya dengan cepat ketika mereka sudah diujung percintaan mereka. Natsu mengeluarkan semua cairannya dikewanitaan Lucy.

Mereka menyelesaikan kegiatan itu dengan cepat. Natsu memeluk tubuh Lucy dengan erat, dan tak melepaskannya. Natsu mengeluarkan kejantanannya namun Lucy mencegahnya.

"Biarkan tetap seperti ini Natsu.." pinta Lucy.

"Baiklah.."

Lucy memeluk Natsu erat..

"Natsu…"

"Hmmm?"

"Aku hanya ingin bertanya.."

"Bertanya? Tentang apa?" tanya Natsu penasaran.

"Ya tentang peristiwa 6 tahun lalu.."

"Peristiwa 6 tahun silam yaa.."Natsu mendesah dan merentangkan dirinya dikasur empuk itu. Ia membaringkan tubuhnya disebelah tubuh istrinya itu.

"Kenapa aku bisa hidup? Seingatku aku sudah mati.."

"Baiklah akan aku ceritakan semuanya, dan alasan anak pertama kita meninggal.."

Lucy memblakan matanya ketika ia mendengar kata anak pertama yang diucapkan Natsu.


Flashback

"WENDY CEPAT KELUARKAN SIHIRMU SEKARANG JUGA WENDY. LUCE TAK BOLEH MATI. WENDY CEPATLAH!" teriak Natsu.

"Natsu tenanglah, Wendy sedang berusaha sekuat tenaga.." Ucap Gray sambil melirik Wendy yang menggunakan sihirnya.

"Lucee, Lucee…" panggil Natsu sambil berderai air mata.

"Tuhan, aku mohon tuhan berikanlah aku sebuah keajaiban untuk yang kedua kalinya.."

"Aku bersedia menukarkan jiwa dan ragaku agar Lucy bisa hidup.."

"Aku sadar bahwa aku seorang pendosa yang tak pantas mengharapkan keajaiban darimu tapi aku mohon untuk kali ini saja tuhan. Berikanlah Lucy kehidupan, ia tak pantas meninggalkan dunia ini karena ulahku."

"Aku berjanji, aku akan terus melindunginya, mencintainya, menjaganya dengan seluruh jiwa dan ragaku, dengan nyawaku dan takkan membiarkannya pergi lagi.."

"Aku mohon kepadamu tuhann…"

Natsu memohon kepada tuhan dengan air mata yang tak bisa berhenti. Semua yang melihat Natsu, ikut iba dan sedih dengan keadaannya.

Lisanna merasa bersalah karena membuat mereka menderita. Semua ini kesalahannya.

"Natsu-san." Panggil Wendy.

"Natsu-san, didalam Perut Lucy-san mengalir sihir." Ucapnya.

"Apa?" semuanya tercengang mendengar ucapan Wendy.

"Bukannya Lucy sudah meninggal? Tapi kenapa masih ada sihir ditubuhnya?" tanya Erza.

"Itu karena kandungannya.. Bayi Lucy-san masih hidup." Kata Wendy.

Natsu terkejut mendengarnya.

"Sepertinya Lucy-san bisa diselamatkan, tapi terlebih dulu kita harus pulang ke magnolia dengan harus menbawa Lucy-san kepada nenek Porlyusica.."

"Baiklah ayo kita pergi.."

"Tunggulah Luce, aku akan menyelamatkanmu.." ucap Natsu sambil menggendong Lucy bridal style.

.

.

.

Semua orang sudah kembali ke Magnolia dan terlebih untuk Lucy yang sedang meregang nyawa. Lucy sudah sampai diruang kesehatan Guild, dan disana juga ada ahli obat Porlyusica.

"Porlyusica-san, Lucy-san sudah mening-." Sebelum Wendy menuntaskan perkataannya, Porlyusica sudah memotongnya.

"Belum. Masih ada kesempatan untuk menolongnya.. memang tubuhnya sudah tidak merespon, bahkan jantungnya sudah tidak berdetak, namun sihir diperutnya bisa kita gunakan untuk menghidupkannya."

"Jadi Natsu, aku ingin bertanya hal penting padamu.." Porlyusica pun menatap Natsu penuh arti. "Kau lebih memilih wanita yang telah kau campakan atau bayi yang telah kau ciptakan?"

DEGGGGGG

Dada Natsu seakan mencelos ketika mendengarnya. Jantungnya yang sedari tadi berpacu kencang menjadi berhenti.

"Apa maksudmu nek?" tanya Natsu.

"Jadi siapa yang akan kau pilih Natsu?" tanya Porlyusica lagi memastikan.

Semua anggota Guild yang telah mengetahui kebenaran ini, ikut merasakan ketegangan dan kewas-wasan yang dirasakan Natsu.

"Aku memilih Lucy untuk hidup nek. Aku ingin Lucy tetap hidup. Aku tahu aku adalah ayah yang tidak bertanggung jawab tapi aku ingin Lucy tetap bersamaku.." ucap Natsu.. Natsu mengelus perut Lucy dan menggumamkan sesuatu "Maafkan Papa sayang, Papa menyayangimu.."

"Baiklah Natsu, aku akan menyelamatkan Lucy, dan akan kugunakan sihir bayimu untuk menyelamatkan Lucy. Sebagai gantinya, Bayimu akan meninggal.." Porlyusica pun menjelaskan.

"Ya aku siap akan hal itu.." Natsu pun yakin dengan keputusannya. "Maafkan Papa nak.."

"Natsu, berikan sihir pada Lucy setelah aku menyebarkan sihir yang ada diperutnya!" perintah Porlyusica.

"Bagaimana caranya?" tanya Natsu.

"Salurkan kekuatan sihirmu padanya agar ia tak kekurangan sihir.."

"Ah baik.."

Porlyusica menyiapkan ramuan obat-obatannya dan menggunakan sihirnya untuk menyebarkan sihir dari janin yang dikandung Lucy.

"Sekarang salurkan sihirmu Natsu!" teriak Porlyusica.

Natsu langsung mencium Lucy dan mengalirkan kekuatan sihirnya melalui mulut.

'Luce, tetaplah hidup dan tinggalah bersamaku Luce..' ucap Natsu dalam hati.

Setelah mengobati Lucy, Porlyusica memberi tahukan bahwa mungkin Lucy tidak akan sadar untuk beberapa hari kedepan.

"Tunggu saja dengan sabar Natsu. Lucy adalah penyihir yang kuat.." Porlyusica menasehati.

"Iya, terimakasih nek.."

Flashback End


"Lalu setelah seminggu berlalu kamu sadar.." kata Natsu.

"Jadi itu alasan aku kehilangan bayiku, Luna.." kata Lucy sedih.

"Maafkan aku Luce, hanya itu satu-satunya cara agar kamu kembali.." Natsu kini memeluk Lucy yang berderai air mata.

"Luna maafkan Mama.." Lucy menangis.

"Maafkan aku Luce.." kini Natsu pun ikut menangis.

Lucy menatap wajah Natsu "Terimakasih Natsu, karenamu aku kembali kedunia ini.." Lucy tersenyum.

"Aku juga bermimpi Natsu. Aku bermimpi kamu menjemputku dipadang rumput emas.." ucap Lucy.

"Ceritakan padaku Luce.."

"Umm.."


Lucy's Dream Flashback

"Mama ayo kita pergi.. Papa tidak menginginkan aku dan Mama. Ayo kita pulang ketempat kakek dan Nenek.." ajak gadis kecil itu.

"Iya sayang.. ayo kita pergi…"

Lucy dan gadis kecil yang Lucy sebut Luna itu bergandengan tangan dan berjalan semakin jauh.

"Luce!"

Lalu suara baritone seseorang mengejutkan Lucy. Lucy terhenti.

"Tunggu sebentar Luce! Jangan pergi Luce! Aku mencintaimu, aku menginginkanmu Luce! Aku berjanji akan menebus semua dosaku padamu Luce!"

Terlihat seorang dengan baju khasnya yang berwarna hitam, lenganan kirinya panjang dan bagian kanan tangannya tidak ada lenganan. Rambut merah jambunya yang khas tertiup hembusan angin.

"Natsu.." gumam Luce.

"LUCEE!" teriak Natsu dan berlari menghampiri mereka berdua.

Natsu langsung memeluk tubuh Lucy, mendekapnya penuh cinta, dan tak berniat melepaskannya. Setelah memeluk Lucy, Natsu mengalihkan attention-nya kepada gadis bersurai pirang dengan warna pink diujung rambutnya.

"Luna maafkan Papa. Papa tidak bisa membawa Luna kembali. Papa hanya bisa membawa Mama."

"Maafkan Papa yang menelantarkan kalian. Papa menyayangi kalian berdua.."

Gadis kecil itu tersenyum.

"Papa datang untuk menjemput Mama?" tanyanya.

"Iya, inginnya Papa menjemput kalian berdua tapi itu tidak bisa. Maafkan Papa sayang.." Natsu memeluk putri kecilnya.

"Tidak apa Papa, selama Papa bisa menjaga Mama, Luna tidak apa ditinggal sendiri disini.." gadis kecil itu masih tersenyum. Wajahnya sangat mirip dengan Lucy ketika ia masih kecil.

"Kamu tidak sendirian sayang.." ucap seseorang paruh baya. Dia tidak sendiri, melainkan sedang bergandeng tangan dengan seorang pria paruh baya.

"Papa, Mama.." gumam Lucy.

"Papa dan Mama akan menjaga Luna disini. Pergilah Lucy, belum saatnya kamu menyusul kami.." ucap Layla sayang ibu. Ia tersenyum kepada Lucy dan Natsu.

"Mama.." panggil Luna.

"Iya sayang.." kini Lucy menatap putri semata wayangnya.

"Aku senang menjadi putri kecilmu Ma meskipun hanya sebentar dan walaupun aku tidak diharapkan oleh Mama dan Papa.."

Setelah Luna mengatakan hal yang memilukan itu, Jude, Layla dan Luna menghilang bagaikan buih dilautan, tak tersisa sedikitpun..

"LUNAAAAA!" teriak Lucy. Natsu hanya meneteskan air mata. Kata-kata Luna menjadi cambuk baginya dan Lucy.

Aku senang menjadi putri kecilmu Ma, walaupun aku tidak diharapkan oleh Mama dan Papa.

"Maafkan Mama Luna.." Lucy menangis tersendu-sendu. Dan kini Natsu memeluk Lucy.

"Luce, maafkan aku.." Ucap Natsu lemah..

Lucy pun berusaha untuk tegar dan berhenti menangisi Luna.

"Natsu…" gumam Lucy.

"Iya Luce, aku disini.."

Tiba-tiba sekarang mereka berada dipadang rumput emas. Natsu menggenggam tangan Lucy erat.

"Hangat, tanganmu hangat Natsu.." gumam Lucy lagi.

"Iya, mulai sekarang, kehangatanku adalah milikmu, seluruh jiwa dan ragaku adalah milikmu Luce.." ucap Natsu yang kini menyentuhkan dahinya dengan dahi Lucy.

"Luce aku mencintaimu.."

Lucy memblakkan matanya. Ia tak percaya dengan apa yang diucapkan Natsu. Ia berfikir tak apa kalau ia jujur dan mengakui perasaannya, karena semua ini adalah mimpi.

"Aku juga mencintaimu Natsu.."

Perlahan, Natsu mendekatkan bibirnya dan menempelkan bibirnya pada bibir Lucy. Mereka saling melumat satu-sama lain. Tak ada paksaan dengan ciuman ini, hanya ada rasa cinta yang tersalurkan saja. Natsu menyudahi ciuman hangat penuh kasih sayang itu. Dan ia pun mengulurkan tangannya pada Lucy.

"Ayo Luce, kita akan pulang.."

Lucy menerima uluran itu "Um…"

Flashback End


"Jadi ketika aku menyalurkan sihirku, dalam alam bawah sadarmu aku menjemputmu?" tanya Natsu.

"Um.. Tanganmu yang hangat itu menandakan bahwa sihirmu telah masuk kedalam tubuhku Natsu.. dan aku senang, akhirnya aku tahu alasan meninggalnya Luna yang sebenarnya…" ucap Lucy.

"Maafkan aku, seharusnya aku mengatakannya dari awal.." Natsu pun murung.

"Tak apa Natsu, aku bahagia denganmu. Aku menyayangi Luna, dan juga aku bersyukur karena telah diselamatkan olehnya.." Lucy tersenyum.

"Luna, terimakasih, Mama dan Papa menyayangimu nak.." Gumam Lucy lagi.

Natsu tersenyum tulus ketika menatap istrinya. Ia pun memeluk Lucy erat.

"Aku menyayangi kalian, Lucy, Luna dan Nashi.." ucap Natsu.

"Um terimakasih, kami juga menyayangimu Natsu.." Lucy mengecup kening Natsu dengan sayang dan mengelus rambut spike Natsu yang basah akibat peluhnya.

"Jadi, apa kita mulai ronde selanjutnya untuk membuatkan adik untuk Luna dan Nashi, Luce?" Natsu pun menidih Lucy dan menggodanya.

"Hee Natsu?" pekik Lucy.

"Kyaaaaaaaaaa…." Jerit Lucy.

Malam ini adalah malam yang tak bisa mereka lupakan. Semua hal yang mengganjal dihati Natsu pun sudah ia utarakan.

Semua masa lalu memang tak bisa diputar kembali, namun kita bisa memperbaiki masa lalu dimasa sekarang dan yang akan datang.

"Aku akan terus menyebutkan namamu Luce, takkan pernah aku menyebutkan nama selain namamu dihidupku. Aku mencintaimu, dan aku takkan menyia-nyiakan keajaiban yang datang pada kita, sehingga kita bisa bersama.."

.

.

.

FIN


Haaahhhh yokatta fic ini sudah selesai. Bagaimana minna? Gaje ya endingnya, tapi aku buat ending itu sebisaku dan karena kalo sad ending, author sendiri suka gedek kalo bacanya, makanya author tidak membuat sad ending.

Yosh terimakasih untuk kalian yang sudah mengapresiasi fic ini. Pokonya tunggu fic aku yang lain yaa. Oh iya, bagaimana nih Fairy Tail S3 udah mau rilis loh. Aduh senangnya.

Pokoknya terus nantikan fanfic Complicated Love dan When You're Gone dichapter selanjutnya ya.

Sebenarnya author ingin bikin sequel Miracle, dan kalo review ini banyak, author bakal buatkan sequelnya.

Akhir kata, Thanks for your reviews guys, Your review is my happines.