Ketika Nyonya dari Keluarga Zhou meminta dirinya untuk memanggilkan putri cantik mereka yang tiba-tiba menghilang dari ruang tengah tempat mereka semua berkumpul, Baekhyun awalnya agak bingung di mana dia harus menemukan nona muda tersebut. Tapi dia bukanlah orang dalam, tempat yang biasa dikunjungi orang-orang yang bertamu biasanya tidak akan jauh-jauh dari taman mansion mereka.

Terkaannya benar. Baekhyun berdiri di balik salah satu pilar megah bangunan Keluarga Park, menatap lurus ke depan. Bayangan Zhou Jie Qieong ada di dalam manik matanya. Perempuan itu sedang berjalan-jalan di sekeliling kolam koi Keluarga Park yang sangat luas, bercerita dengan seseorang di seberang sambungan handphonenya. Sesekali gadis itu tertawa, menutup senyum cantiknya dengan malu-malu –tipikal tuan putri sekali. Dia awalnya ingin memanggil langsung nona muda itu, tetapi dia meragu di saat yang sama, siapa yang berada di sambungan panggilan itu? Bagaimana jika dirinya mengganggu? Dia bisa saja terkena masalah yang serius.

"Apa? Kau meragukan diriku?" Nona Zhou itu berhenti dan menatap ikan-ikan koi cantik yang berenang di permukaan air kolam. "Jack, please, ini hanya sementara. Ibuku hanya bermain dan ayah mengambil keuntungan darinya. Impas. Setelah semua selesai kita bisa bersama lagi."

Pembicaraan itu mengalir begitu saja, pemilik suara bahkan tak mengkhawatirkan kemungkinan ada orang dalam yang akan mendengar hal tersebut.

Baekhyun masih berdiri diam pada tempatnya.

"Anak itu bahkan sangat jelek. Dia lebih dari apa yang pernah ibu ceritakan. Aku bahkan tidak dapat menelan sesendok saja makananku dan kau mengira hidup bersamanya itu perkara serius? Yang benar saja, aku akan menjanda dalam waktu semalam."

Baekhyun masih terus bertarung dengan pikirannya.

"Itu bukan masalah karena dia berasal dari orang-orang Park. Aku akan menjadi anak baik untuk beberapa saat, lalu membuatnya bersalah dan memutuskan segalanya. Mudah, karena kami akan mendapat keuntungan itu."

Baekhyun bermaksud untuk pergi saja, berpura-pura tidak tahu, karena dia rasa dia telah melampaui batasnya. Tidak akan ada yang bisa memercayai seorang pelayan seperti dirinya.

Saat dia telah memantapkan keputusannya, dia menangkap hal lain yang lebih penting dari segala halnya.

"Chan, Chanyeol?"

Dia tahu bahwa Chanyeol pastilah sangat terluka. Baekhyun tahu hal itu dengan seluruh dirinya. Anak itu memang sering merasakan luka dari orang-orang di sekitarnya, bukan hanya anak-anak lain di luar sana, keluarganya pun juga berpengaruh banyak.

Ketika Baekhyun menyadari Chanyeol berada di belakangnya, dia kehilangan kata-katanya begitu saja. Apa yang ingin diucapkannya tenggelam bersama perasaan yang dia tak dapat gambarkan seperti apa. Chanyeol mungkin tidak menangis, tapi tatapan mata yang begitu terluka dari mata yang selalu memancarkan binar kebahagiaan itu menyadarkan Baekhyun bahwa hal ini lebih dari sekadar sakit yang dia terima di hari-hari sebelumnya. Jieqieong merupakan sosok yang begitu sempurna, pangeran mana yang tidak menginginkan anak perempuan itu. Dia memang terlahir untuk menjadi seorang putri, memiliki segala hal yang dimiliki seorang putri, dan hidup sebagai seorang putri pula.

"Chanyeol..." panggil Baekhyun dengan suara yang begitu pelan.

Chanyeol hanya diam, lalu anak itu berbalik untuk masuk kembali ke dalam istananya. Baekhyun berpikir sejenak, melirik sebentar kepada Jie Qieong yang masih tertawa ceria dengan perkataannya pacarnya, kemudian berlari kecil menyusul Chanyeol.

Para orangtua menampakkan wajah begitu bingung ketika mereka berpapasan dengan wajah tak bersahabat Chanyeol. Bagaimanapun Chanyeol adalah seorang "Tuan Muda", yang mana dia pasti memiliki jiwa keras dan inginnya sendiri, jadi dia hanya melewati orang-orang di ruang tengah itu tanpa berpaling sedikitpun.

Baekhyun mengbungkuk demi suatu kesopanan, dia memberi pandangan kepada Nyonya Jung guna memberinya pengertian, kemudian berjalan dengan agak cepat menyusul Chanyeol. Dia menemukan bahwa Chanyeol memang benar-benar bersedih. Pintu yang setiap waktu selalu terbuka untuk dirinya itu kini tertutup rapat. Untuk pertama kali dalam masanya menjaga Cahnyeol, anak itu tak mau terbuka dengan dirinya.

"Chanyeol? Apa kau bisa mendengarkan aku?"

Tak ada suara jawaban.

"Chanyeol?"

Hanya ada grasak-grusuk tak jelas yang terdengar.

"Aku berharap kau baik-baik saja."

Entah kena tapi Baekhyun merasa dia juga bersedih.

"Aku akan berjaga di sini. Kau bisa memanggilku kapan saja."

Dia berdiri di depan pintu kamar itu. Pikirannya pergi menelusuri perkara tentang Chanyeol. Siang tadi dia sangat bahagia, menyapa seluruh pelayan mereka, berkali-kali mengunjungi kamar ibunya, dan bertanya-tanya tentang suit yang akan digunakannya. Kemudian sekarang dia mengurung diri di dalam kamarnya. Seorang diri. Dengan kesedihan yang dia pendam.

Sejam berlalu dan Nyonya Jung berada di hadapannya, Baekhyun membungkukkan tubuhnya dan menyapa dengan begitu formal.

"Apa yang terjadi dengan Chanyeol?" Raut wajahnya menampilkan kekhawatiran, setidaknya itu lebih baik dibanding wanita itu tak memperdulikan anaknya.

Pertanyaan itu pasti akan keluar, tapi Baekhyun belum menyiapkan jawabannya sedikitpun. Dia bingung. Dia hnya seorang pelayan dan itu aka sangat langcang membicarakan apa yang telah dia ketahui.

"Nyonya... Tuan Muda..." Dia mendapati nada suaranya yang bergetar.

Sooyeon meraih pundaknya dan memandang dengan sedikit mengasihi. "Kau bekerja untuk Keluarga Park, Baekhyun. Katakan semua apa yang kau lihat."

Itu benar. Dia bekerja untuk Keluarga Park. Abdinya hanya untuk keluarga itu, bukan Keluarga Zhou yang berusaha melakukan hal buruk kepada keluarga yang telah menghidupi dirinya. Lalu dengan segala keberaniannya, Baekhyun menceritakan apa yang telah dilihat oleh dirinya beberapa saat yang lalu dengan begitu singkat, tanpa harus memberitahu apa isi dari yang telah dikatakan nona muda itu tentang Chanyeol. Sooyeon terlihat berpikir sejenak, lalu dia menghela napas berat.

"Chanyeol? Ini Mama. Kau tak ingin membukakan pintu untuk Mama?"

Chanyeol masih tak membukakan pintu kamarnya.

"Sayang, Baekhyunie telah memberitahukan Mama apa yang terjadi. Segera setelah ini kita tidak perlu berhubungan lagi dengan keluarga anak itu."

Anak itu terlihat sangatlah sedih, dia tak pernah melakukan hal seperti apa yang dia lakukan kini sebelumnya. Tidak ada respon berarti yang keduanya dapatkan. Sooyeon lalu menatap Baekhyun, kemudian mengalihkan pandangan pada beberapa penjaga keamanan di beberapa sudut ruangan.

"Baekhyun, biarkan Chanyeol tenang untuk malam ini. Semua orang, tinggalkan lantai ini dan jauhi kamar Chanyeol." Lalu dia berlalu pergi.

Baekhyun masih bimbang, dia ingin tetap berada di tempat itu, menunggui Chanyeol dan memastikan anak itu tidak melakukan hal-hal berbahaya. Meski dia ingin, tapi perkataan Nyonya Park juga benar –yang Chanyeol butuhkan saat ini adalah ketenangan.

0oo0

Malam itu adalah malam pertama dalam hidup Chanyeol di mana dia tak tidur bersama pelayannya –Baekhyun. Rasa sedih masih dia rasakan dan itu sangat sulit baginya untuk menghapuskan rasa tersebut. Segala panggilan yang Baekhyun lakukan tidak dapat dia balas, bahkan ibunya sekalipun. Dia hanya tidak bisa saja, tapi dia tak dapat menjelaskan dengan benar bagian mana yang membuatnya tidak bisa.

Jie Qieong adalah gadis pertama yang dapat berbuat baik pada dirinya. Perempuan itu begitu cantik, lembut, dan juga menawan. Senyumnya Chanyeol begitu suka. Dia sudah tak sabar menunggu hari di mana dia akan bersama gadis itu untuk waktu yang lebih lama.

Tapi segalanya tak seindah apa yang dia bayangkan. Gadis itu sama seperti anak-anak lain yang tidak menyukai dirinya. Dia terlalu jahat, juga munafik. Chanyeol memang menyukai Jie Qieong, ada banyak alasan kenapa dia bisa menyukai gadis itu. Kemudian, ada satu alasan kenapa dia harus membenci gadis itu.

Dia berbeda.

Dia tidak sama seperti Baekhyun.

Baekhyun sangat baik pada dirinya. Lelaki mungil itu begitu perhatian, memiliki perangai menyenangkan, terlepas apakah ada orang lain di sekitar mereka atau hanya mereka berdua saja. Chanyeol tidak memiliki alasan lain kenapa dia harus bermain bersama anak-anak lain yang begitu jahat padahal dia memiliki Baekhyun. Baekhyun punya segala hal yang dia dambakan dari seorang teman.

Poin tambahan dari segalanya, Baekhyun itu sangat cantik.

0oo0

Ketika pagi datang, segalanya tidak berjalan dengan baik.

Malam tadi, Nyonya dan Tuan Keluarga Park melakukan pembicaraan terkait apa yang telah dilakukan Keluarga Zhou. Mereka tidak terlalu terkejut dengan apa yang dilakukan keluarga itu. Yang mereka lebih permasalahkan adalah bagaimana mendapatkan seseorang yang pantas menjadi pendamping Chanyeol.

Chanyeol telah memasuki umur lima belas tahun. Teman-teman seumuran dengan dirinya telah bersanding dengan pasangan mereka masing-masing. Itu akan sangat mudah jika keluarga mereka adalah keluarga hybrid, Chanyeol hanya perlu menunggu siapa yang akan menjadi matenya, tapi hal tersebut tidak akan terjadi pada ras manusia. Ras lain yang tidak memiliki mate selain manusia adalah orang-orang yang telah kehilangan mate mereka atau para keturunan pelayan.

Di saat kedua pasangan itu saling berdiam diri. Mereka dikejutkan dengan teriakan Chanyeol dari lantai atas.

"BAEKHYUN! AKU MAUNYA BAEKHYUN! PERGI!"

Lalu terdengar suara pintu dibanting dan Chanyeol terlihat begitu berantakan –masih dengan bajunya yang kemarin, dan menatap kedua orangtuanya.

"Baek-hyung mana? Kenapa para pelayan ini yang membangunkanku?"

Yoochun –Tuan Park, melihat Chanyeol dengan pandangan tak suka, dia tidak pernah mengajarkan Chanyeol menjadi anak yang tidak sopan. Sooyeon yang menyadari ketidak-sukaan suaminya segera menyentuh lengan Yoochun dan memberi isyarat untuk meredakan marahnya.

"Chanyeol dalam keadaan tidak baik," bisiknya. Lalu dia memandang Chanyeol sambil tersenyum. "Sayang, Baekhyun berada di kamarnya, dia mungkin tengah membantu pelayan lain di dapur."

"Tapi Baekhyun biasanya selalu bersamaku!"

Yoochun melepaskan tangan Sooyeon dari lengannya. "Chanyeol, kau sudah dewasa. Berhenti bersikap..." Sooyeon menghentikan Yoochun kembali dengan senyuman yang menyatakan bahwa suaminya itu lebih baik diam saja.

"Bukankah tadi malam Chanyeol sendiri yang tidak memperbolehkan seorangpun untuk masuk ke kamar? Mama meminta Baekhyun untuk istirahat di kamarnya, dia tidak mungkin menunggu di depan kamar Chanyeol sepanjang malam."

Chanyeol terdiam, lalu wajahnya samar-samar memerah. "Ish! Ch-Chanyeol kan lupa!" Dia berbalik untuk memasuki kamarnya lagi, tapi kemudian berjalan melihat ibunya lagi, mengalihkan wajah ke kamarnya, lalu ke ibunya lagi. "Pokoknya, besok Baek-hyung harus ada setiap Chanyeol bangun!"

Sooyeon tertawa kecil melihat tingkah laku Chanyeol. "Jangan terlalu keras pada Chanyeol. Jarang-jarang dia berperilaku seperti itu."

"Dia benar-benar tak dapat lepas dari pelayan Byun Baekhyun itu."

"Hm, kau benar." Sooyeon terdiam sejenak. "Sayang, ini mungkin gila, tapi bagaimana jika kita memasangkan Chanyeol dengan Baekhyun?"

"Baekhyun? Dia seorang pelayan."

"Ya, dan sudah dipastikan dia tidak akan memiliki mate. Ibunya berasal dari salah satu pack yang sangat besar. Dia menjadi pelayan hanya karena keadaan."

"Ibunya seorang penghianat."

"Ibunya bukan pengkhianat. Dia dipaksa menikahi lelaki pack lain di saat matenya dibunuh, jadi dia melarikan diri dan Keluarga Byun menyelamatkannya. Hanya seperti itu."

Yoochun terdiam beberapa saat, sedangkan Sooyeon diam menunggu apa yang akan suaminya putuskan.

"Kita akan melihatnya nanti."

To Be Continued

Note: Baru selesai UN, maaf baru update sekarang. Ke depannya akan lebih dioptimalkan lagi deh. Dan pastinya gk akan selama ini. Liburan is coming hehe