Disclaimer : karakter yang berada di cerita ini adalah milik Masashi Kishimoto loh.
Genre : Humor (sedikit mungkin), Romantice (sedikit mungkin), Hurt/Comfort.
Rate : M (untuk perkataan dll.)
Pair : Sasuke U (20-) X Hinata H (19-), Naruto U (19) X Sakura H (19) (pair utama) slight SasuNaru, SakuHina.
Warning : typo (pastinya banyak), AU (tentunya), gaje, abal, pasaran, dll. Dan maaf ucapannya terlalu vulgar.
Summary : "...-apa kau gay?". "Iya. Aku gay. Lalu? Apa kau sudi untuk menikah dengan gay, heh?". "Aku bersedia bila kau mau menikah denganku untuk menutupi bahwa kau adalah gay.". "Maksudmu?"
Keterangan:
-("…") tanda petik dua adalah ucapan atau kata-kata secara langsung. Contohnya: "Naruto"
-('…') tanda petik satu adalah ucapan atau kata-kata dalam hati / kalimat yang diucapkan tapi berulang. Contohnya : 'Sasuke…'
-Kalimat dalam tanda kurung menjelaskan akan sesuatu. Contohnya : meninggalkan ayah Sasuke (Fugaku) sendirian.
-Kalimat dalam tanda kurung kotak (gak tau namanya) digunakan untuk penggunaan nama yang berbeda tetapi kalimatnya sama. Contohnya : "Naruto [Sasuke] tidak mau keluar dari kamarnya." (bisa dibaca; "Naruto tidak mau keluar dari kamarnya." Atau "Sasuke tidak mau keluar dari kamarnya.")
Notes : Bila kalian membaca satu kalimat dan di kalimat selanjutnya berubah nama jangan heran dan teruslah membaca agar kalian tahu. Misalnya kalian membaca kalimat sebelumnya diucapkan oleh "Naruto" dan ucapan selanjutnya diucapkan oleh "Sasuke" jangan heran ok karena ini fic aneh saya jadi teruslah baca.
.
.
.
Hari berganti hari dan kini saatnya hari pernikahan untuk Sasuke Uchiha dengan Hinata Hyuuga dan Naruto Namikaze dengan Sakura Haruno.
Ya, hari ini merupakan hari pernikahan yang ditunggu-tunggu oleh keempat anggota keluarga tersebut (atau lebih tepatnya keempat orang tua dari Sasuke, Hinata, Sakura dan Naruto). Sedangkan keempat orang yang sempat disebutkan namanya hanya mampu pasrah menerima pernikahan (paksa) yang mereka jalanin.
Dan sebelum memulai acara pernikahan antara mereka berempat (walau beda tempat pernikahan) ada saja yang membuat kedua pemuda tersebut (Naruto dan Sasuke) kesal dan jengkel pada hari pernikahan mereka sendiri seperti yang satu ini.
"ITACHI!... KEMARI KAUUU..." Teriak seorang pemuda berambut raven di depan ruang make-upnya dengan sangat kesal sehingga membuat beberapa orang yang berada di dekatnya hanya mampu melayangkan pandangan bingung.
"Hahaha... sampai jumpa lagi Sasu." Ucap Itachi sambil sesekali meledek adiknya dan terus berlari. Sasuke yang melihat sang kakak sudah menjauh hanya bisa mengepalkan tangannya dan menahan geram.
Kalian pasti bertanya apa kiranya yang membuat Sasuke berteriak kesal seperti itu kan?
Baiklah kita mulai flashback beberapa menit sebelum acara pernikahan dimulai.
Flashback.
Saat itu di dalam sebuah ruangan yang saat ini ditempati oleh Sasuke sedang sunyi dikarenakan semua penata rias yang sempat mendandani Sasuke sudah Sasuke usir dari ruangan tersebut sehingga kini hanya Sasuke sendiri lah yang berada di dalam ruangan itu sambil menunggu acara pernikahannya yang akan dimulai sekitar 30 menit lagi.
Mencari tempat yang enak untuk menunggu acara tersebut dimulai membuat Sasuke memutuskan untuk duduk di sebuah sofabad yang berada di pojok ruangan. Menyandarkan punggungnya dan mencari posisi yang nyaman dan enak untuk dirinya. Setelah menemukan posisi yang nyaman Sasuke pun perlahan tapi pasti memejamkan kedua matanya yang kini sudah mengantuk akibat bangun terlalu pagi demi acara pernikahannya.
TOK... TOK... TOK...
Suara ketukan pintu terdengar oleh telinga Sasuke tapi memang dasarnya Sasuke sedang malas saat ini Sasuke pun hanya diam ditempatnya semula sambil berpura-pura tidur.
TOK... TOK... TOK...
"Sasuke bodoh apa kau di dalam?" Tanya suara seseorang dari balik pintu tersebut yang Sasuke yakini adalah suara kakaknya, Itachi Uchiha. Namun sepertinya suara tersebut tidak dihiraukan oleh Sasuke dan justru membuat Sasuke semakin lelap dalam tidurnya yang tadinya hanya untuk berpura-pura.
TOK... TOK... TOK...
"Sasuke?" Ucap suara itu lagi. "-ada yang tidak beres." Ujar Itachi sambil mengelus dagunya layaknya seorang detektif SMU 17 tahun yang tubuhnya mengecil akibat sebuah obat yang ada dalam sebuah komik favoritnya. Dan setelah mengusap dagunya Itachi pun segera menggerakkan tangannya untuk membuka pintu tersebut-
KLAK...
-dan betapa kagetnya Itachi saat pintu tersebut dibuka. 'OMG! SASUKE!' jerit Itachi dalam hati lalu berlari kearah sang adik. Memeriksa denyut nadi dan juga nafas sang adik.
'Hah, untungnya tidak seperti dugaanku.' Batin Itachi lagi setelah memeriksa keadaan adiknya.
Ya, Itachi berpikir seperti itu karena sebelum datang kembali dari London Itachi sempat mendengar berita seorang pemuda ditemukan tewas sebelum acara pernikahannya dan dugaan tersebut dikarenakan sang pemuda tidak menginginkan pernikahan tersebut. Dan Itachi ingat kalau sebenarnya Sasuke tidak menginginkan pernikahan ini dan berasumsi bahwa Sasuke akan melakukan aksi nekat tersebut. Hah, sepertinya Itachi terlalu banyak membaca komik detektif yang menyantumkan nama kekasih temannya (Pein) tersebut, Detektif Konan Akatsuki.
Melihat adiknya yang kini sedang memejamkan mata membuat Itachi menyeringai jahil pada sang adik. Melihat kanan dan kiri mencari sesuatu untuk mengerjai sang adiknya akhirnya Itachi pun mendapatkan sesuatu yang menarik perhatiannya. Melangkahkan kaki menuju objek tersebut telah Itachi lakukan dan dengan segera Itachi pun mengambil beberapa peralatan yang dibutuhkan olehnya lalu segera berbalik dan mendekati adiknya dan berbuat sesuatu kepada sang adik.
Selesai dengan keisengannya Itachi pun memotret wajah lelap sang adik dengan segera. Selesai memotret Sasuke, Itachi pun melepaskan semua mainan yang berada di tubuh adiknya. Namun belum sempat membereskan semua mainan tersebut Sasuke pun membuka matanya perlahan dan langsung mendapatkan pemandangan dimana sang kakak sedang berada di atasnya.
Melihat Itachi yang berada di atasnya membuat Sasuke secara reflek mendorong tubuh kakaknya sehingga membuat Itachi jatuh dengan pantatnya yang mendarat lebih dulu.
"OUCH... sakit!" Keluh Itachi.
"Apa yang kau lakukan bodoh?" Tanya Sasuke dengan kesal. 'Enak saja mau di atas. Kalau mau main denganku kau yang di bawah bodoh.' Batin Sasuke.
Namun di tengah kekesalannya Sasuke merasakan kepalanya terasa gatal dan sedikit berat. Merasa aneh dengan kepalanya Sasuke pun menggerakkan tangannya ke atas kepala dan merasakan sebuah helaian yang terasa halus di atas kepalanya.
Merasakan dirinya aneh Sasuke pun segera menghampiri kaca besar yang berada di dalam ruangan itu. Dan betapa terkejutnya Sasuke saat melihat dirinya menjadi objek bulan-bulanan sang kakak dihari pernikahannya. Bayangkan saja Sasuke Uchiha yang terkenal dengan sikap yang cool dan berwibawa jadi seperti ini?
Sasuke dengan menggunakan wig hitam panjang dan terselip sebuah bando telinga kelinci di atasnya serta terpasangnya aksesoris wanita (seperti kalung, anting dll). Mending kalau kalung dan antingnya yang berada di leher dan telinganya hanya di pakai satu-satu, nah ini Sasuke dipakaikan 5 kalung tersusun di lehernya dan 5 anting berderet di telinganya. Belum lagi bibirnya dipoles lipstick. Itachi itu benar-benar membuat diri Sasuke kesal dengan wajah merah menahan amarah.
Merasakan aura Sasuke yang berubah membuat Itachi bergidik ngeri dan memutuskan untuk keluar dari ruangan itu selagi melihat Sasuke yang dengan kesalnya melepaskan semua mainannya yang sempat dipasangnya tadi dengan kasar.
"ARRRGH... ITACHI APA YANG KAU LAKUKAN!" Teriak Sasuke dengan marah sambil mengelap bibirnya yang menor dengan lipstick.
Mendengar suara Sasuke yang sudah meninggi Itachi pun segera bangun dari jatuhnya dan langsung berlari keluar ruangan mengabaikan Sasuke yang sedang marah.
"ITACHI!... KEMARI KAUUU..."
End flashback.
Dan itulah hal yang membuat Sasuke kesal dan marah pada kakaknya yaitu Itachi. Lain Sasuke lain pula Naruto. Bila Sasuke kesal dengan kakaknya maka Naruto sedang jengkel dengan sosok yang kini berdiri di depannya. Sosok yang mempunyai status sebagai sepupuh jauhnya, Karin Uzumaki. Keponakan dari ibunya sendiri yang kini sedang berdiri sambil bertolak pinggang di depannya sambil terus mengoceh tentang hal yang tabu bagi Naruto.
Memang Karin adalah wanita yang hiperaktif seperti dirinya dan sudah menikah pula selama 1 tahun, umurnya pun lebih tua 2 tahun darinya. Dan sekarang sepupuh tersayangnya itu sedang berbagi tips pada Naruto tentang bagaimana menikmati malam pertama yang menyenangkan untuk dirinya. Dan bagi Naruto itu adalah hal tabu yang malas untuk di dengar olehnya. Ya, tabu karena Naruto tidak akan mungkin melakukan sex dengan seorang wanita kecuali dengan sesama jenisnya terutama dengan Sasuke Uchiha.
"-nanti malam setelah kau selesai dengan acara ini kau harus segera menguncinya di kamarmu. Lalu kau ajak dia 'main'. Apa kau paham dengan semua hal dan materi yang aku berikan padamu?" Tanya Karin setelah memberikan materi sex pada Naruto. Naruto yang mendengar pertanyaan tersebut hanya memutarkan kedua bola matanya malas dan mendengus karena mendengarnya.
'Kau pikir aku mau melakukannya dengan wanita yang harus dimanja terus bila mau berhubungan. Mana mau aku menyerang lebih dulu. Dan mana mau aku jadi penyerang, lebih baik aku jadi mangsanya saja dan pasrah untuk diapa-apain.' Batin Naruto sambil mengkhayalkan tubuhnya disentuh oleh Sasuke. Dan tanpa sadar bahwa dirinya sendiri malah seperti perempuan yang katanya selalu ingin dimanja-manja terus bila mau ML.
Melihat sepupuhnya yang terdiam dan tidak menjawab pertanyaannya membuat Karin kesal dan dengan entengnya menginjak kaki sang sepupuh dengan sepatu hak tinggi yang dia gunakan dengan keras dan hal tersebut membuat Naruto memekik kesakitan.
"AKH... SAKIT KARIN!" Bentak Naruto sambil mengelus kakinya yang sempat terinjak Karin.
"Makanya kalau aku bertanya kau harus menjawabnya BODOH." Ujar Karin sambil menekan kata 'bodoh'. "-sekarang katakan apa kau paham atas apa yang aku katakan tadi?"
"Iya aku tahu." Jawab Naruto sewot.
"Apa?"
"Kunci dia di kamar setelah acara selesai lalu ajak dia main di dalam kamar kan?" Ucap Naruto malas.
"Bagus." Respon Karin. "-oh iya kalau boleh tahu nanti kau mau menggunakan gaya apa dalam permainanmu?" Tanya Karin pada Naruto sekaligus untuk dia praktikkan.
"Kocok dadu." Jawab Naruto dengan santai sambil melepas sepatu dan kaos kakinya untuk melihat kakinya yang sempat diinjak Karin apakah bengkak atau tidak.
"Kocok dadu?" Ulang Karin dalam bentuk tanda tanya. 'Memangnya ada?' Tambah Karin dalam hati.
"Iya. Kenapa? Hei Karin kau lihat kakiku merah." Ucap Naruto sambil menunjuk kakinya yang merah. Karin hanya melirik kaki Naruto sekilas dan kembali menatap wajah Naruto lagi.
"Memangnya ada gaya 'kocok dadu'?" Tanya Karin bingung.
"Ada kok."
"Rasanya aku tidak pernah mendengar atau pun membaca gaya itu sih." Ucap Karin sambil memiring kepalanya. "Bagaimana caranya?"
"Gampang. Siapkan saja ular tangga atau monopoli."
"Maksudmu? Aku tidak mengerti."
"Tadi kau bilang 'nanti malam setelah kau selesai dengan acara ini kau harus segera menguncinya di kamarmu. Lalu kau ajak dia main.' Kan?" Karin pun mengangguk mendengar ucapan Naruto. "Nah, nanti malam saat di dalam kamar aku akan mengajak Sakura bermain permainan monopoli atau ular tangga."
Mendengar ucapan Naruto yang terkesan santai tapi nyolot membuat empat siku-siku di dahi Karin mulai bermunculan dan berkedut karenanya. Dan tanpa basa-basi lagi Karin pun menginjak kembali kaki Naruto yang satunya dan langsung pergi meninggalkan sepupuhnya yang meringis kesakitan.
"KARIN... BODOH!"
.
Selepas acara pernikahan yang sudah selesai sejak satu jam yang lalu kini waktunya bagi pasangan pengantin baru tersebut untuk melakukan malam pertama mereka di kediaman Uchiha dan Namikaze (tentunya Sasuhina di kediaman Uchiha dan Narusaku di kediaman Namikaze).
Apakah malam pertama mereka akan seperti pasangan normal lainnya mengingat bahwa yang laki-laki adalah gay dan yang wanitanya adalah lesbian?
Lalu apa yang akan orang tua mereka lakukan untuk mengetahui kegiatan anak-anak mereka?
Baiklah kita mulai dari malam pertama siapa dulu ya?
Akh... karena pembukaan cerita yang pertama adalah tentang kekesalan Sasuke maka malam pertama kita kunjungi kediaman Namikaze saja dulu ya.
Kediaman Namikaze. Di kamar Naruto.
Saat ini di dalam sebuah kamar terdapatlah dua sosok manusia yang berbeda gender. Satu pemuda kuning yang bernama Naruto sedang tergeletak di atas ranjang dengan pasrah dan satunya lagi sosok perempuan pink bernama Sakura yang sedang duduk di depan meja rias sambil berusaha menghilangkan noda-noda make-up yang mengotori wajahnya.
"Hei!..." panggilan Sakura yang di dengar Naruto membuat Naruto menggerakkan kepalanya kearah Sakura namun tidak menjawab panggilan tersebut.
"Hei kau dengar aku rubah!?" Ucap Sakura dongkol karena tidak mendapat sahutan dari orang yang dipanggilnya.
"Kau memanggilku?" Tanya Naruto masih dengan posisi semulanya.
"Memangnya siapa lagi kalau bukan kau." Ujar Sakura gondok.
"Ada apa?"
"Bisa buka bajuku?" Tanya Sakura yang langsung membuat Naruto duduk di atas ranjang dan menatapnya.
'Buat apa dia menuruhku membuka bajunya? Dia lesbian kan?' Batin Naruto saat mendengar perkataan Sakura. Padahal perkataan Sakura tidak ada yang aneh. Perkataan itu hanya sebuah kalimat tanya yang diucapkan Sakura pada Naruto, namun pendengaran Naruto saat menangkap kalimat itu terdengar seperti nada sebuah tantangan.
"Hei! Kenapa diam lagi? Kau bisa tidak membuka bajuku? Aku tidak bisa meraih retseletingnya dan kalau aku tidak menariknya aku tidak bisa mandi. Kau tahu acara tadi membuatku gerah." Ucap Sakura dan membuat Naruto bernafas lega.
"Baiklah. Kemari." Perintah Naruto sambil menepuk kasur dan memerintahkan agar Sakura duduk di pinggir ranjang (atau lebih tepatnya duduk di tengah-tengah selangkangannya yang terbuka dan menyisakan sedikit ranjangnya untuk Sakura).
Mendengar perintah Naruto, Sakura pun berjalan dan menghampiri Naruto lalu duduk di tengah kedua kaki Naruto yang terbuka di pinggir ranjang. Menyingkap rambut panjangnya ke sebelah kanan sehingga memperlihatkan leher jenjangnya yang putih bersih tanpa cacat di depan Naruto.
Naruto yang melihat leher Sakura terdiam sejenak dan mencoba untuk menyentuhnya sedikit saja. Menyentuh leher tersebut dengan jari telunjuknya dan mulai menggerakkan jari tersebut secara sensual di leher jenjang tersebut.
'Putih dan halus. Hampir sama seperti Sasu.' Batin Naruto.
Mendapat perlakuan yang tiba-tiba dari Naruto membuat Sakura sedikit mendesah dan merinding jadinya. Dan melihat respon tersebut dari Sakura membuat Naruto sedikit penasaran dengan leher putih itu, maka dengan sekali lagi Naruto pun mengelus kembali leher itu secara keseluruhan dan sensual.
"Akh... hah..." desah Sakura kembali lolos begitu saja hanya karena sentuhan tangan Naruto.
TOK... TOK... TOK...
Mendengar suara ketukan pintu tersebut membuat Naruto berhenti melakukan aktivitasnya dan segera sadar atas apa yang dia lakukan pada Sakura. Sakura pun tersadar atas apa yang dia lakukan tadi.
Maka dengan segera Naruto pun segera menjauh dari Sakura dan membuka pintu tersebut. Setelah pintu dibuka Naruto pun dapat melihat Karin berdiri di depan kamarnya dengan seringai diwajahnya.
"Ada apa?" Tanya Naruto langsung.
"Aduh, duh yang lagi ML gak mau diganggu." Ledek Karin. "-bagaimana suara desahan Sakura? Merdu ya?" Tanya iseng Karin membuat Naruto terdiam.
"-ok, aku tidak akan lama-lama mengganggumu. Aku hanya ingin memberikan ini padamu." Ujar Karin sambil menyodorkan sesuatu yang terbungkus kertas kado. Naruto pun hanya mengerutkan alisnya sambil mengambil benda tersebut.
"Ok, kau bisa melanjutkan kegiatanmu." Ucap Karin lalu melangkah pergi.
Setelah kepergian Karin tanpa butuh waktu lama Naruto pun segera masuk kembali ke dalam kamarnya dan mengunci pintu kamarnya sambil menatap hadiah yang dibawa Karin.
"Apa itu?" Tanya Sakura membuat Naruto menatapnya sejenak dalam diam lalu menatap kembali hadiah yang saat ini ditangannya.
"Entahlah. Tapi firasatku tidak enak mengenai hadiah ini." Ujar Naruto ragu.
"Coba kau buka." Mendengar ucapan Sakura langsung dituruti oleh Naruto.
Setelah membuka bungkusan tersebut Naruto pun hanya memasang wajah bingung saat melihat sebuah CD yang kini menggantikan hadiah tersebut.
"CD?" Gumah Sakura dan Naruto heran.
"CD apa itu?" Tanya Sakura.
"Sepertinya... apa kau ingin mandi?" Ucapan Naruto terpotong dan terganti menjadi sebuah pertanyaan untuk Sakura.
"Kenapa kau mengahlikan pembicaraan kita. CD apa itu?"
"Kalau menurutku lebih baik kita jangan menonton dan kau segera mandi saja. Aku akan membakar CD ini." Ucap Naruto.
"Memangnya. CD. Apa. Itu?" Tanya Sakura penuh dengan tekanan disetiap kalimatnya.
"Firasatku mengatakan kalau CD ini berisi BF."
Mendengar perkataan Naruto membuat Sakura tidak percaya dan segera merebut CD itu lalu menyetelnya pada DVD yang berada di dalam kamar Naruto.
Di ruang tamu Namikaze.
"Kau dari mana Karin?" Tanya sosok parubaya bernama Kushina.
"Dari kamar Naruto untuk memberikan hadiah agar mereka berdua bisa 'bermain' bagus malam ini." Ucap Karin sambil tersenyum gaje dan membuat Kushina ikut tersenyum.
"Aku tidak sabar untuk mendengar desahan mereka." Ucap Kushina yang ketularan virus mesum Karin.
"Bagaimana kalau kita sama-sama mendengarkannya nanti." Usul Karin.
"Kenapa tidak sekarang saja?"
"Aku yakin mereka sedang menonton filmnya." Ucap Karin sambil menyeringai.
Sambil menunggu Karin dan Kushina melakukan rencananya mari kita intip keluarga Uchiha yang satu ini.
Kediaman Uchiha.
Saat itu Itachi baru saja keluar dari kamarnya dan berniat untuk turun ke lantai satu menuju ruang keluarga. Namun langkahnya terhenti di depan kamar milik Sasuke saat mendengar teriakkan yang nyaring dari dalam kamar Sasuke.
"ARGH... SAKIT SASUKE!"
"KAU TIDAK APA HINATA?"
"INI SAAKIT..."
"Maaf ini salahku..."
Mendengar suara seperti itu membuat Itachi semakin berani untuk mencuri dengar atas kegiatan yang terjadi di dalam.
"Itachi apa yang kau lakukan?" Suara seseorang yang Itachi kenal kini menyapa indra pendengarannya.
"Ayah, ibu?"
"Kau sedang apa di depan kamar Sasuke." Tanya Fugaku.
"Hanya mencuri dengar sedikit." Jawab Itachi.
"Curi dengar apa?" Tanya Mikoto.
"Sepertinya Sasuke dan Hinata sudah memulai malam pertama mereka." Ujar Itachi membuat Mikoto dan Fugaku kaget.
"Masa?" Tanya Fugaku.
"Iya. Tadi aku mendengar teriakkan Hinata yang memekik kesakitan dan ucapan sesal Sasuke. Dan aku yakin 'adik' Sasuke sangat besar sampai-sampai membuat Hinata menjerit sekaligus menangis."
"Kalau gitu ibu juga mau dengar." Ucap Mikoto antusias. Dan suara itu pun terdengar lagi.
"Sakit Sasuke hiks..."
"Maaf ini salahku. Biar aku lepas saja ya. Lihat darahmu keluar."
'Sasuke bodoh. Jangan dikeluarin. Masa karena darah aja langsung keluar. Itu namanya selaput darah yang berarti dia masih perawan.' Batin tiga orang yang sedang menguping.
"Hati-hati saat mengeluarkannya. Ini sakit sekali."
"Iya, aku tahu."
"Akh..."
"Sepertinya kita tidak bisa melanjutkannya untuk beberapa hari ini."
"Iya. Maafkan aku Sasuke hiks..."
"Tidak apa. Lebih baik kau tidur."
"Selamat malam Sasuke."
"Malam."
'Akh payah. Masa baru masuk udah keluar aja. Mana harus ditunda lagi.' Ucap kecewa ketiga pengintip tersebut dalam hati dan memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing.
Dan mari kita lihat kembali keadaan kediaman Namikaze.
"Ayo bibi Kushina kita dengar mereka berdua." Ajak Karin yang kini sudah hampir dekat dengan kamar Naruto.
"Sabar Karin." Ujar Kushina.
Saat di depan kamar Naruto.
"Akhhh... sakit Naruto."
"Hahaha... itu hukuman buatmu istriku. Kau harus menahan sakitnya sampai permainan kita berakhir."
"Tapi ini sakit. Kau lihat badanku sudah merah semua dan sakit disana sini."
"Sabar saja. Lagi permainan kita baru babak ke... berapa ya? 1... 2... 3... akh, baru 3 babak. Aku mau kita main sampai aku puas dan aku yang akan memenangkannya."
"Kau gila Naruto!"
"Tidak. Dan terima ini Sakura."
"AAKKHH..."
Mendengar ucapan Naruto yang seperti itu membuat kedua wanita berambut merah tersebut mimisan karena membayangkan 'bermain' sepuasnya selama semalaman. Dan karena itu kedua wanita itu pun menutuskan untuk pergi menemui suami masing-masing dan mengajak mereka untuk bertempur seperti Naruto dan Sakura.
.
Keesokan paginya, pukul 8.
Seorang perempuan berambut indigo panjang yang kita kenal dengan nama Hinata kini sedang berjalan di kediaman Uchiha dengan tertatih-tatih akibat kejadian semalam. Berjalan menuju ruang makan keluarga besar tersebut. Sesampainya diruang makan Mikoto selaku ibu mertuanya memang dirinya dengan senyum binar yang lebar membuat Hinata sedikit kikuk. Saat dilihat tempat sekitarnya rupanya ayah mertua dan kakak iparnya pun menatapnya sama seperti Mikoto menatap dirinya.
'Kenapa dengan mereka? Aku jadi takut tinggal disini.' Batin Hinata dan tidak lama Sasuke pun berdiri dibelakangnya dengan rambut basah sehabis keramas.
"Ngapain di de-" ucapan Sasuke yang ditujukan pada Hinata terhenti saat melihat semua keluarganya menatap bangga pada dirinya. "-kalian kenapa menatap kami?"
"Tidak. Kami hanya senang rupanya kau jantan juga." Ucap Itachi.
"?" Sasuke dan Hinata.
"Apa kau bisa berjalan Hinata?" Tanya Mikoto.
"Sedikit."
"Apa punya Sasuke besar?"
"Iya, lumayan besar." Balas Hinata sedangkan Sasuke malas menanggapi ocehan mereka semua.
"Kapan kalian akan melakukannya lagi?" Tanya Fugaku.
"Sasuke bilang kalau keadaanku sudah membaik."
"Bagus. Lebih cepat lebih baik." Tanggap Fugaku.
'Mereka semua kenapa sih hari ini?' Batin Sasuke dan Hinata heran.
.
"Naruto, Sakura dimana?" Tanya seseorang yang bernama Kushina sambil menyiapkan makanan di meja makan yang kini sudah ditempati oleh Minato, Naruto, Karin + suami Karin.
"Dia masih tidur. Semalam kami habis begadang." Jawab Naruto.
"Kenapa kau tidak melanjutkan tidurmu saja kalau kau masih lelah." Ucap Karin iseng.
"Aku kan harus pergi ke kampus jam 10 nanti. Nanti aku juga harus membangunkan Sakura untuk mengantarnya ke kampus juga." Ucap Naruto sambil memakan sarapannya.
"Hei, kalian kan baru menikah masa sudah mau kuliah. Pokok hari ini kalian tidak boleh masuk kuliah." Omel Kushina.
"Tapi bu-"
"Tidak ada tapi-tapian sekali tidak boleh kuliah tetap tidak."
"Baiklah." Ucap Naruto lesu. 'Ibu kenapa sih? Padahal ini kesempatanku untuk bertemu Sasuke. Akh... nasib."
.
.
Omake.
Malam pertama di kamar Sasuke.
"Kamarmu besar ya." Ucap Hinata saat baru memasuki kamar Sasuke setelah selesai makan malam bersama keluarga Uchiha.
"Kau bisa melihatnya sendirikan." Jawab santai Sasuke sambil berjalan menuju sebuah ruangan yang terdapat di dalam kamarnya.
"Ruang apa ini?" Tanya Hinata sambil melongokkan kepalanya ke dalam ruangan tersebut.
"Ini ruang belajarku. Dulu aku sering bermain bersama seseorang disini dengan alasan mengerjakan tugas kuliah."
'Gila! Ruang belajar segede gini? Ini mah kamar tidurku.' Batin Hinata dalam hati saat mendengar penuturan Sasuke tentang ruangan yang berisi meja komputer, rak buku besar dll. "Ngomong-ngomong aku tidur dimana?" Tanya Hinata lagi.
"Tentu saja dikasurlah. Apa kau mau tidur dilantai?"
"Tidak. Aku tidak mau."
"Kalau begitu naik saja ke kasur sekarang. Kau capek kan seharian ini." Ujar Sasuke sambil memindahkan sesuatu barang ketempat lain.
"Tapi kau tidak akan melakukan sesuatu yang 'aneh-aneh' padaku kan selagi aku tidur." Ucap Hinata.
BUAAG...
Mendengar perkataan Hinata, Sasuke pun menaruh kardus bawaannya kepojok ruangan dan segera menatap Hinata.
"Kau mau kita bermain sekarang." Ucap Sasuke datar.
"Tidak. Aku tidak mau denganmu."
"Kalau gitu aku juga tidak mau. Lagi pula kau sudah tau aku ini seperti apa." Ucap Sasuke dan kembali berjalan sambil berusaha mendorong meja komputernya menuju pojok ruang yang masih kosong. "-justru aku yang meragukanmu. Apa kau benar seorang #lesbian#?"
"Seterah kau saja sih mau percaya atau tidak, toh aku tidak peduli." Ucap Hinata masih menatap Sasuke yang sibuk mengangkat, menggeser dan memindahkan barang-barang yang berada di ruangan itu. "-kau sedang apa sih?"
"Main catur." Jawab Sasuke nyolot sehingga membuat dahi Hinata berkedut.
"Maksudku kau ngapain geser-geser barang dan ngangkat barang-barang itu segala?"
"Aku ingin menjadikan ruangan ini sebagai kamarku." Jawab Sasuke.
"...?"
"Aku tahu kau tidak mau tidur seranjang denganku kan? Makanya aku akan mengubah dekorasi ruangan ini sehingga sesuai dan layak untuk dikatakan sebagai kamar tidur."
"..."
"Nanti jika aku tidur di sini (ruang belajar Sasuke) kau tidur di sana (nunjuk kasur Sasuke). Dan saat ibu datang kemari atau masuk ke kamar kita kau harus menutup ruangan ini agar ibu tidak curiga kalau kita pisah ranjang."
"Ok boss. Perintahmu akan aku turuti." Ucap Hinata dengan senyum manisnya dan membuat Sasuke sempat terdiam sejenak.
'Senyumnya mirip Naruto.' Batin Sasuke.
"Nah, Sasuke apa ada yang bisa aku bantu?" Ujar Hinata sambil melangkah mendekati Sasuke.
"Kau bisa membantuku mengangkat kardus itu kepojok sanakan." Kata Sasuke yang kini sibuk merapikan meja komputernya.
"Iya,tentu."
"Aku harap kau hati-hati saat berjalan karena di lantai ada beberapa pa-"
"ARGH... SAKIT SASUKE!" Ucapan Sasuke terpotong saat mendengar Hinata yang menjerit kesakitan.
"-ku yang bertebaran." Lirih Sasuke. Namun selanjutnya Sasuke pun mendekati Hinata yang bersandar di dinding sambil menangis. "KAU TIDAK APA HINATA?" Ucap panik Sasuke saat tahu kaki Hinata berdarah.
"INI SAAKIT..." rintih Hinata.
"Maaf ini salahku. Seharusnya aku pindahkan paku ini terlebih dahulu. Maaf" gumah Sasuke.
"Sakit Sasuke hiks..." mendengar Hinata yang menangis Sasuke pun segera mengangkat Hinata ala #bridal style# dan membawanya ke atas ranjang.
"Maaf ini salahku. Biar aku lepas saja ya. Lihat darahmu keluar." Ucap Sasuke lagi saat melihat kaki Hinata yang tertusuk paku. 'Gila! Pakunya gede.' Batin Sasuke.
"Hati-hati saat mengeluarkannya. Ini sakit sekali."
"Iya, aku tahu."
"Akh..." Teriak Hinata menahan sakit.
"Sepertinya kita tidak bisa melanjutkannya untuk beberapa hari ini." Kata Sasuke sambil menatap ruang belajarnya.
"Iya. Maafkan aku Sasuke hiks..."
"Tidak apa. Lebih baik kau tidur." Ujar Sasuke sambil mengobati luka di kaki Hinata.
"Hm. Selamat malam Sasuke."
"Malam."
.
Malam pertama di kamar Naruto.
"Film apa nih? Gak asik." Komen Sakura saat melihat film yang diberikan Karin pada Naruto yang hanya dilihatnya setengah dari pemutaran film itu.
"Kan sudah ku bilang lebih baik aku bakar saja tapi kau malah menyetelnya." Ucap Naruto sambil geletakan tidur dilantai dan Sakura yang berada di sampingnya.
"Hah..." dengus Sakura. "-kau punya mainan?" Tanya Sakura lagi sambil melihat wajah Naruto.
"Untuk?"
"Aku bosan. Kita main yuk." Ajak Sakura membuat Naruto berpikir sejenak.
"Aku hanya punya kartu. Mau?"
"Boleh. Kita main kartu saja, kau punya penjepit jemuran. Nanti yang kalah badannya harus dijepit, bagaimana?" Ujar Sakura.
"Boleh. Aku cari dulu kartu dan penjepitnya." Kata Naruto dan langsung mengacak-acak laci meja belajarnya. Setelah menemukan apa yang dicarinya mereka berdua pun langsung bermain.
45 menit selama permainan berlangsung.
"Akhhh... sakit Naruto." Pekik Sakura saat merasakan hidungnya dijepit dengan penjepit jemuran oleh Naruto.
"Hahaha... itu hukuman buatmu istriku. Kau harus menahan sakitnya sampai permainan kita berakhir."
"Tapi ini sakit. Kau lihat badanku sudah merah semua dan sakit disana sini." Keluh Sakura menatap badannya (mulai dari telinga, leher, lengan, dll) yang mulai merah dan melepaskan penjepit dihidungnya.
"Sabar saja. Lagi permainan kita baru babak ke... berapa ya? 1... 2... 3... akh, baru 3 babak. Aku mau kita main sampai aku puas dan aku yang akan memenangkannya." Ucap senang Naruto dan merebut penjepit itu dari tangan Sakura.
"Kau gila Naruto!"
"Tidak. Dan terima ini Sakura." Ujar Naruto memasang kembali penjepitnya dihidung Sakura.
"AAKKHH..."
.
.
TBC
.
.
Hai mina! Jumpa lagi sama saya si author baru ;-)
Hayo siapa yang mikir kalau Sasu dan Naru lagi begituan ama istri"nya?
Ok, mengenai fic ini ada yang nanya
"Fic ini berakhir straight pairing kan author-san?"
Saya ambigu membaca kalimat "straight pairing"nya. Maksudnya "straight pairing" itu menuju kearah pasangan cewek cowok atau pasangan normal yang awal fic ini?
Tapi jika yang dimaksud dengan "straight pairing" itu pasangan normal cewek dan cowok maka jawabannya IYA yaitu "sasuhina dan narusaku".
Tapi jika yang dimaksud dengan "straight pairing" itu pasangan normal yang awal cerita, yaitu Sasu-Naru dan Saku-Hina maka jawabannya TIDAK. Fic ini berakhir Sasuke dengan Hinata dan Naruto dengan Sakura.
Dan yang minta buat dibikin yaoi ku pikir gak bisa diubah deh, kan sesuai judul juga "I am Straight" (aku normal) yang artinya dari keempat orang tersebut yang tadinya memiliki penyakit kelainan seksual mereka akan kembali menjadi wanita dan pria tulen yang sesungguh-sungguhnya dan normal senormal-normalnya. Bagaimana caranya mereka kembali normal? itu rahasia.
Chapter depan Sasu-Hina dan Naru-Saku bakalan bertemu berempat loh. Bagaimana reaksi mereka berempat saat bertemu dengan pasangan lama mereka? Liat aja sendiri.
Oh iya mina, boleh gak aku masukin orang ketiga dan keempat di antara kedua pair tersebut, Sasuhina punya orang ketiga dan keempat yang lain (selain Narusaku) dan Narusaku punya orang ketiga dan keempat (selain Sasuhina)?
Soalnya aku pengen bikin konflik percintaan yang anehnya lewat begitu saja diotak saya untuk mereka berempat. Mohon jawabannya bagi yang suka.
Dan terima kasih bagi yang sudah memberikan saya saran, fav, follow, and, yang me-reviews cerita saya loh yaitu : sheila-ela, hanazono yuri, Luluk Minam Cullen, Author Tanpa Nama, Pixie-Yank, nonono, Ouchh emmm, X, apelbusuk, ZeeMe, Rafa LLight S.N, hiru nesaan, choco conaru, Renita Nee-Chan. komentar kalian saya sudah baca semua. bagi hanazono yuri maaf pair fic bukan Sasusaku tapi Sasuhina.
