comeback to My Life again, Please!

Aku adalah masa lalumu

Jangan hindari aku,

Karena aku akan tetap berada di pikiran dan hatimu

Luhan masih menatap dengan pandangan kosong ke arah Sehun yang memandangnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Sedangkan Jira hanya menatap bingung kepada dua orang dewasa yang sedang terlihat begitu kaku sekarang.

"Umma!" panggil Jira nyaring. Membuat Luhan tersentak kaget. Ia menatap Jira yang sedang kebingungan.

"Jira, masuk!" Luhan memerintahkan Jira dengan nada yang begitu dingin. Jira segera masuk, tapi ia berbalik. "Ahjuthi, thelamat tinggal! Telhima kathih telah mengantalkan Jilha jalan-jalan." Jira membungkukan badannya dan berlari masuk kekamarnya.

"Luhan," panggil Sehun masih menatap intens kearah Luhan.

"Pulanglah," usir Luhan dingin.

"Lu!"

BRAK!

Pintu tertutup dengan kencang. Sudah Sehun duga. Ia pasti akan di usir. Sehun tersenyum miris sekarang. Ia hanya menghela nafas dan terus memandangi pintu kayu bercat putih itu. Dia sungguh rindu kehadiran Luhan. Empat tahun bukan waktu yang cepat untuk melupakan seseorang yang sangat kau cintai. Itu pendapat Sehun, karena inilah yang dirasakannya sekarang.

Sehun berbalik. Ia pergi. Dan diusir dengan cara yang tidak hormat, seharusnya membuat Sehun tersinggung bahkan marah. Tapi ia tidak mungkin melakukannya jika yang melakukan adalah orang yang dicintainya.

Di balik pintu, namja yang baru saja 'mengusir' lelaki albino itu, menangis. Ia bersender ke pintu. Air matanya jatuh begitu saja. Kakinya lemas hingga membuatnya merosot turun. Luhan terus terisak. Wajahnya sekarang memerah. Ya Tuhan!

SREET!

Seseorang mengusap air mata Luhan yang tak berhenti keluar. Tangisannya berhenti. Ia menatap anak semata wayangnya yang sedang membersihkan air suci itu dengan tisu. Gerakannya begitu lembut, gadis kecil itu tersenyum kecil.

"Umma jangan menangith. Umma haluth kuat. Umma theling bilang, Jilha haluth menjadi anak kuat," nasihat Jira yang nyengir lebar, walaupun Jira tidak mengerti apa yang diucapkan. Luhan menatap tidak percaya ke arah gadis cantik itu. Ia jadi ingin menangis. Langsung saja ia memeluk Jira. Ia memeluk Jira begitu erat. Luhan menyayangi anaknya. Walaupun Jira bukan anak dari darah dagingnya sendiri, ia tidak peduli. Ia menyayangi Jira.

Terlalu menyayangi anak kecil berumur tiga tahun yang begitu polos.

Luhan membantu menyiapkan segala keperluan Jira hari ini. Empat hari setelah kejadian itu, Luhan selalu merasa tak nyaman jika meninggalkan Jira di kediaman keluarga Do. Apalagi menurut indera keenam miliknya, pasti Sehun sering mendatangi Jira. Yang diperkuat dengan Kyungsoo membawa Jira pulang membawa oleh-oleh berupa mainan.

Dan hal tersebut akan berakhir dengan Luhan membuang mainan di tong sampah dan jerit tangis Jira yang sudah tak diperdulikan Luhan. Luhan betul-betul berubah.

Tapi itu terjadi tiga hari yang lalu. Luhan sekarang bisa mengontrol emosinya. Agar hal-hal tersebut tidak terjadi lagi, Luhan memutuskan akan menitip Jira ketempat penitipan anak dengan Kyungsoo.

"Jira-ah, neomu yeoppo!" puji Luhan sambil memberikan dua jempolnya kepada Jira. Jira jadi salah tingkah dipuji oleh lelaki yang berstatus 'oema'-nya ini.

TOK! TOK! TOK!

Ketukan pintu mengalihkan kedua orang itu. luhan dengan tergesa segera membuka pintu apartemennya. Ia tidak ingin disemprot seorang Do Kyungsoo yang terkenal begitu cerewet. Bahkan ia harus geleng-geleng kepala jika sifat cerewet Kyungsoo sedang muncul kepermukaan.

"Hai, hyung!" sapanya, dan langsung masuk. Melihat kelakuan Kyungsoo yang tiap saat seperti itu, Luhan sudah sangat terbiasa.

"Kyungie!" Jira terlihat begitu senang dengan kehadiran Kyungsoo. "Kyungie, Bogo thipeo," ujar gadis polos itu dan memeluk kaki Kyungsoo. Namja bermata bulat itu hanya tertawa kecil dan mengusak rambut hitam legam milik Jira.

"Baru kemarin Jira bertemu dengan Kyungie. Tapi kenapa sudah kangen lagi?" tanya Luhan menyendarkan badannya pada dinding sebelah pintu. Jira hanya terkikik geli.

"Kalhena Jilha suka Kyungie," jawab Jira terus terang dan makin mempererat pelukannya. Kedua orang yang sudah begitu dewasa memunculkan ekspresi yang begitu berbeda. Kyungsoo sendiri hanya tertawa dan mengangkat badan Jira dan mendekap di dadanya. Terlihat ia begitu gemas dengan perkataan Jira yang begitu polos.

Luhan? Entahlah, jangan tanya. Ia terkejut –tentunya- darimana anak berumur tiga tahun bisa dengan mudah mengatakan kata menyukai. Perkembangan zaman memang begitu cepat untuk dirasakan. Apakah Jira mengalami masa pubertas yang bisa dikatakan masih dini atau prematur (?)?

"Hyung, kapan kita berangkat?" ucapan Kyungsoo mengintrupsi Luhan yang sedang memasang wajah cengo. Dengan segera Luhan merubah raut wajahnya yang nampak seperti semula. "Ya, berangkat sekarang. Lalu kapan lagi kalau tidak sekarang?" jawab Luhan tegas. Dengan segera Luhan bersiap-siap. Kyungsoo hanya mengangguk malas.

DRRT! DRRT!

Deringan ponsel Kyungsoo terdengar. Kyungsoo menurunkan Jira yang berada digendongannya. Ia mengambil ponselnya yang berada di saku kanan celana jeans levis lusuh kesayangannya.

"Yeoboseyo," salamnya pelan.

"…"

"Ini hari libur sajangnim, kenapa harus sekarang?" terdengar sekali jika Kyungsoo sedang frustasi.

"…"

"Hari ini saya akan menemani teman saya. Bisakah saya selesaikan hari senin saja," mohon Kyungsoo. Ia sedang mengumpati atasan tidak tahu diri, tidak tahu waktu, menyebalkan, suka seenaknya sendiri, ah, apapun itu. kyungsoo tahu jika atasannya ini masih muda setahun dari dirinya. Jadi, masih wajar jika atasannya –yang sangat menyebalkan- memiliki sifat yang begitu. Tapi ini sangat keterlaluan bagi Kyungsoo.

Ia tidak terlihat begitu bebas belakangan ini ditempat kerjanya. Jika yang lain pulang pukul 5 sore, ia akan pulang diatas jam 7 malam. Ini disebabkan atasan 'sialan' itu. Sudah berapa lama ia terus mengumpati Direktur Kim yang begitu bawel?

"Ne" akhirnya Kyungsoo bisa lepas juga dari pekerjaan yang menghantuinya. Ia segera mematikan sambungan telefon. Mengganggu saja! Luhan yang sekarang berada di sebelah Kyungsoo menatap heran pada doengsengnya yang makin lama makin terlihat aneh dan gila, mungkin?

"Kyung…" panggil Luhan pelan. Kyungsoo menatap Luhan dengan pandangan kosong. Luhan jadi merinding. "Kyung, jangan menatapku seperti itu," tegur Luhan.

Kyungsoo hanya membuang muka malas. "Ayo hyung, sebelum siang." Kyungsoo memimpin duluan. Luhan dan Jira yang melihat Kyungsoo terlihat begitu hanya saling pandang, dan setelah itu mereka berdua mengikuti langkah kaki Kyungsoo yang begitu cepat.

Sudah hampir dua setengah jam mereka mengubek-ubek (?) kota Seoul. Tapi, keduanya ditambah Jira yang terus-terusan mengutak-atik rubik yang belum selesai, (hingga membuat Luhan gemas sendiri untuk menyelesaikan rubik tersebut) tidak menemukan satupun tempat penitipan sesuai dengan hati Luhan.

Kyungsoo melirik bangunan-bangunan yang sudah sangat ia kenali. Gedung-gedung baru juga mulai bermunculan, menambah sesak ibukota negeri Ginseng ini. Orang-orang lokal, pendatang, ataupun turis terlihat berlalu lalang di trotoar. Alat transportasi pun memadati jalanan Seoul. Mungkin jika dilihat dari atas langit (tidak dilihat dari luar angkasa, pastinya yang terlihat hanya birunya laut, dan putihnya awan yang seperti kapas) mereka layaknya semut.

Kyungsoo tertawa kecil mengenai pemikirannya. Luhan (yang sedang menyetir, karena Kyungsoo sedang malas) hanya melirik kelakuan Kyungsoo dengan senyum kecil. Betul dengan dugaannya yang sempat mampir (?) diotak cerdasnya.

Kyungsoo seperti orang gila. Tadinya terlihat sedih, ogah-ogahan, dan tadi Kyungsoo menyempatkan diri untuk mengomel dirinya selama lima menit (dan Luhan iseng menghitung omelan Kyungsoo dengan stopwatch). Menurutnya itu rekor tercepat omelan Kyungsoo selama ini.

Dan sekarang Kyungsoo tertawa. Luhan betul-betul merasa aneh dengan tingkah namja mungil ini.

Daripada melihat kelakuan doengseng 'stres'nya, Luhan menyempatkan diri untuk menengok-nengok sekitar. Siapa tahu ia menemukan tempat penitipan anak. Dan Gotcha! Namja China itu menemukannya.

Kyungsoo merasakan mobil miliknya berbelok memasuki halaman gedung bertingkat tiga. Kyungsoo dapat melihat dari papan nama tersebut, yang tertulis 'Bunny Baby'. Dari namanya saja Kyungsoo sudah menilai kalau tempat ini sangat aneh untuk penitipan anak.

"Hyung!"

"Wae?" tanya Luhan. Ia agak terkejut saat Kyungsoo menyentuh tangannya. Kyungsoo menatapnya dengan pandangan kau-yakin-ini-tempat-penitipan-anak-?

Luhan tertawa tanpa suara. Kyungsoo memang polos. "Tentu ini tempat penitipan anak, Kyungie baby." Luhan mulai menjelaskan.

"Tapi namanya…"

"Itu hanya perumpamaan," jelas Luhan. "Dan ini bukan tempat penitipan hewan, lihat saja dari spanduknya yang bergambar bayi besar." Luhan menatap tajam Kyungsoo yang akan mengatakan sesuatu.

Kyungsoo nyengir karena apa yang dipikirkannya tertebak oleh Luhan. Luhan turun sambil mengambil alih Jira dari pangkuan Kyungsoo, dan langsung berlalu keluar. Karena tidak mau ditinggal Kyungsoo langsung keluar dari mobil hasil jerih payahnya ini.

Ketiga manusia itu memasuki gedung yang sangat colourful. Mereka disambut oleh seorang yoeja yang berwajah begitu imut (bahkan Kyungsoo dan Luhan ingin sekali mencubit pipi yoeja itu), berperawakan pendek, tapi terlihat begitu manis.

"Anyeonghaseyo!" sapa yoeja kecil itu dan membungkukan badannya, dress biru lautnya terlihat sangat pas dengan tubuh mungil milik yoeja itu.

Luhan dan Kyungsoo ikut membungkukan diri walaupun tidak benar-benar bungkuk. "Perkenalkan saya pemilik penitipan anak ini. nama saya Sunny Lee," yoeja bernama sunny itu memperkenalkan dirinya. Kedua namja itu hanya mengangguk.

Semua berjalan dengan lancar.

Luhan dan Kyungsoo mulai mengerti mengapa nama dari tempat penitipan anak ini 'bunny baby', itu dikarenakan dari pemiliknya. Keduanya sepakat jika Sunny Lee ini mirip seperti bunny. Wajahnya itu lho! Imut Banget!

Luhan, Kyungsoo dan Jira berpamitan untuk pulang. ketiganya masih menyempatkan diri berkeliling Seoul (sesuai dengan permintaan Luhan). Mungkin hal ini bisa menjadi obat penghilang stres untuk keduanya.

Sehun sedari tadi hanya menatap datar orang didepannya yang terus mengoceh tidak jelas. Bahkan Sehun ingin menendang namja yang berkulit kontras dengannya ini.

"Dia betul-betul berbeda. Tambah cantik Hun. Kukira ia akan mengingatku, nyatanya tidak sama sekali. Apa ingatannya begitu buruk, ya Hun? Padahal kita baru bertemu empat tahun yang lalu… bla~ bla~ bla~"

Dasar bodoh! Kau kira empat tahun itu bukan waktu yang lama untuk melupakan seseorang yang sekejap dilihatnya?

"Aissh! Aku frustasi!" orang itu akhirnya menyerah untuk berbicara panjang lebar. Hampir satu jam waktu Sehun dihabiskan oleh namja berkulit tan ini.

Namja itu menoleh kearah Sehun yang kembali berkutat dengan pekerjaannya. Namja melotot melihat Sehun yang terlihat tidak peduli sama sekali.

"YAK!"

"Mworago?" tanyanya datar.

"Kau tidak mendengar apa yang kukatakan?"

"Aniyo"

"Kau menyebalkan!"

"Terima kasih"

Namja itu mendelik kesal, kemarahannya sampai di ubun-ubun.

"YAK, OH SEHOOON!"

TBC

A/N :

Hai… semua!

Saya kembali membawa lanjutan ffnya. Seneng banget waktu baca riviewnya.

Makasihh udah menyempatkan membacanya. Dan endingnya gaje banget, ya di chap 2 ini.

Dan saya sangat menyadari hal itu, soalnya saya gak tahu bagaimana cara melanjutkannya. Semua mengalir kayak air gitu aja. Dan saya melupakan bagaimana ending ff ini *curhat

Ok! Selamat membaca! (dan maaf jika kependekan)