Comfort
Disclaimer: It's sad, but I only own the fic
Warning: DON'T LIKE, DON'T READ! Typo, OOC dan OOC, shounen ai and probably yaoi
.
.
Enjoy!
.
.
"Kau tidak takut jatuh?"
Naruto melemparkan tatapan heran dan menaikkan alis mendengar pertanyaan dari pemuda yang ia kenal sebagai putra dari guru favoritnya di sekolah. Ia menggelengkan kepala dan kembali memastikan keamanan dari boots yang sudah ia siapkan khusus untuk pertandingan.
"Kalau kau bertanya begitu, aku juga harus bertanya padamu. Apa kau tidak takut terluka? Dimataku hoki terlihat lebih menakutkan daripada figure skating."
Sasuke mengangkat bahu dan melemparkan pandangan ke beberapa atlit lain yang juga sedang bersiap. Ini adalah kali pertama ia mendapatkan kesempatan untuk ada di bagian khusus yang menjadi tempat dimana para atlit figure skating bersiap. Kalau saja ia tidak dipaksa sang ibu datang, ia mungkin akan melewatkan kesempatan berharga melihat persiapan para skater ini dari dekat.
"Aku serius, Naruto. Apa kau tidak takut jatuh? Kau meluncur di atas ring sendirian dan kau tidak memiliki teman yang akan membantumu bangun kalau kau jatuh di sana, berbeda denganku yang bermain dalam sebuah tim."
Balasan yang tidak juga ia dapatkan membuat Sasuke menolehkan kepala, hanya untuk menyadari kalau lawan bicaranya sedang berusaha mengeratkan kuncian boots-nya dengan wajah kesal. Adik dari Uchiha Itachi itu menggelengkan kepala sebelum berlutut di depan sang Uzumaki, menepis dua tangan yang berukuran lebih kecil darinya itu dan membantu si pemuda pirang melakukan apa yang sejak tadi gagal dia lakukan.
"Arigatou."
"Hn."
Sasuke mengangkat pandangan setelah menyelesaikan tugasnya dan menyadari keadaan tangan Naruto yang gemetar di atas pangkuannya. Ia berusaha keras untuk tidak mendengus geli karena ternyata Naruto berhasil menyembunyikan kegugupan dari nada suaranya.
"Dibandingkan dengan terjatuh, aku lebih takut kalau aku tidak bisa melakukan yang terbaik dan mengecewakan orang-orang."
Pengakuan itu membuat Sasuke mendongakkan kepala. Ia gagal menatap sepasang mata beriris biru itu karena sang pemilik lebih memilih untuk menundukkan kepala dan memperhatikan kedua tangannya sendiri. Keadaan Naruto saat ini mengingatkan Sasuke dengan keadaannya sendiri ketika ia pertama kali diturunkan pelatih di pertandingan pertamanya.
Sasuke merogoh saku mantel yang ia kenakan sebelum mengulurkan kedua tangan untuk meraih sekaligus menggenggam sebelah tangan lawan bicaranya.
"Aku tidak pernah mempercayai apa yang Itachi niisan katakan karena sejak dulu dia selalu mengerjaiku, tapi dia mengatakan sesuatu yang menarik satu hari sebelum pertandingan pertamaku."
Sasuke bisa melihat bagaimana mata Naruto kini beralih ke genggaman tangan mereka. Ini adalah kali pertama ia berusaha menenangkan seseorang, itulah kenapa ia menarik napas dalam-dalam dan berharap semoga apa yang ia katakan bisa membuat sang Uzumaki merasa lebih baik, sama seperti apa yang ia rasakan ketika sang kakak melakukan ini padanya beberapa tahun yang lalu.
"Hal terpenting setelah kau menginjakkan kaki di arena adalah kau harus mempercayai dirimu sendiri. Kau tahu apa yang sudah kau lakukan untuk bisa berdiri di sana, kau juga tahu apa yang harus kau lakukan setelah berdiri di sana."
Sasuke menatap wajah si pemuda berkulit tan, memastikan kalau remaja ini bisa mengerti apa yang ia katakan.
"Penonton dan juri memang memperhatikan sekaligus menilai penampilanmu, tapi anggota timmu, pelatihmu dan yang terpenting, keluargamu, tidak akan pernah melakukan itu. Mereka tidak peduli dengan apa yang akan kau dapatkan di akhir, hasil apa yang harus kau terima nanti, karena mereka menyukaimu dan kurasa orang tuamu tidak akan pernah bisa berhenti melakukan itu."
.
..
-0-0-0-
..
.
Naruto memejamkan mata, menikmati momen pendek yang selalu ia dapatkan setiap kali penampilannya berakhir, dimana telinganya menangkap semua teriakan dan tepuk tangan yang diberikan penonton.
Ia tidak tahu apakah ia sudah melakukan semua koreografi yang ia pelajari dengan benar. Ia tidak tahu apakah semua lompatan dan putaran ia lakukan dengan sempurna. Ia tidak tahu apakah semua yang ia lakukan bisa membuatnya mendapatkan nilai tertinggi, tapi ia tahu kalau ia sudah melakukan semuanya dengan kemampuan terbaik yang ia miliki—dan itu cukup membuatnya bangga.
Naruto membuka mata, menegakkan tubuh dan mulai menyapukan pandangan ke arah tempat duduk penonton, berusaha mencari satu sosok yang menjanjikan hadiah khusus untuk penampilan final pertamanya ini. Pandangannya terhenti pada kedua orang tuanya yang sebelumnya tidak sempat ia lihat saat penampilannya baru dimulai. Sepertinya mereka berhasil datang beberapa saat setelah ia tampil.
Si pemuda pirang menarik napas panjang saat tidak berhasil menangkap sosok yang ia harapkan dan segera membalikkan tubuh untuk keluar dari ring. Langkah Naruto terhenti ketika sudah berhasil mencapai tepi ring dan sebuah tawa lepas yang meluncur dari mulutnya membuat beberapa staff yang ada di dekatnya menolehkan kepala. Tanpa menunggu apapun ia segera meluncur ke arah pintu masuk ring dan memeluk pemuda berambut raven yang mengacungkan satu kantong berukuran besar yang berisikan puluhan permen lembut yang sempat dia selipkan di tangannya tiga tahun yang lalu.
.
.
End
.
.
a/n: you don't have to tell me 'cos I'm fully aware that the title and the story didn't match that well *sigh*. Saya tidak tahu apakah ini memenuhi standar untuk prompt salju-marshmallow, tapi HAPPY BIRTHDAY SHRINE~ :D *lempar konfeti dan tiup terompet*
