YOU'RE THE ONE.

LEE DONGHAE X LEE HYUKJAE.

SCHOOL LIFE, ROMANCE, DRAMA, HURT/COMFORT, OOC, GENDERSWITCH.

Remake fic from K-drama : Who Are You ; School 2015 KBS.

Cast ;

Main Pair :

Lee Donghae (M)

Lee Hyukjae/Lee Eunhyuk (F)

Another cast :

Hankyung (M) : Homeroom Teacher.

Kim Heechul (M) : Donghae's Cousin.

Lee (Jung) Yunho (M) : Lee Eunhyuk/Lee Hyukjae's Father.

Kim Jaejoong (F) : Lee Eunhyuk/Lee Hyukjae's Mother.

Students of Classroom 2-3

Zhou Mi (M) : Classroom President .

Choi Siwon (M) : Eunhyuk's best buddy.

Lee Sungmin (F) : Eunhyuk's bestfriend.

Kim Ryeowook (F) : Eunhyuk's bestfriend.

Kim Youngwoon/Kang In (M) : Trouble maker who has best body to fight, Leeteuk's boyfriend.

Park Jungsu/Leeteuk (F) : Pretty girl in the class, Kang In's girlfriend.

Shindong (M) : Kang In's best buddy, dance club's vice chairman.

Yoon Bora (F) : Popular girl, dance club's vice chairman.

Seo Jeohyun/Seohyun (F) : nerd girl who always be treated money bag of everyone.

GS ada untuk keperluan cerita. Jadi, Gak Suka Gak Baca. Okay?

Ah… memori kala itu… entahlah, Donghae sendiri tak mengerti apakah Lee Eunhyuk benar-benar pelakunya atau tidak. Tunggu… seingat Donghae…

.

.

.

"Lepaskan! Siwon ah!" Eunhyuk menjerit agar Siwon berhenti menyeretnya dan melepaskan cengkramannya.

"Apa? Apa yang akan kau lakukan? Kau ingin mengakuinya? Kau bahkan tak mengingat apapun." Balas Siwon.

"Lalu menghindarinya? Kau pikir masalah ini akan selesai jika aku menghindarinya?"

"Apa aku mengatakan jika kau harus menghindarinya?" balas Siwon sengit mendengar kata-kata Eunhyuk.

"Lalu apa?"

"Aku hanya merasa kesal, kau sudah ketakutan seperti tadi. Kenapa kau bertingkah tidak seperti Eunhyuk yang biasanya?"

"Memang sikapku seperti apa?!" kali ini Eunhyuk membalas tak kalah kencangnya, ia frustasi, sebenarnya sebelum ia kehilangan ingatannya ia seperti apa?

"Entah dengan mengatakan ini akan membuatmu menyadari siapa dirimu sesungguhnya. Kau, Lee Eunhyuk adalah gadis kasar yang tak tahu sopan santun dan selalu seenaknya sendiri sehingga membuatku terkadang ingin memukulimu. Tapi itu lah dirimu. Dan dirimu yang kukenal selama ini bukanlah orang yang akan melakukan hal memalukan seperti ini." Setelah mengatakan keresahannya ini, Siwon merasa sedikit lega.

"Jeongmal? Apakah aku… apakah aku bisa mempercayai diriku sendiri?" pertanyaan ini dibalas anggukan mantap dari Siwon.

Dimulai hari itu hingga dua hari kedepannya, wali kelas mereka sibuk menanyai mereka satu persatu. Seohyun yang tak ingin masalah ini semakin merebak mengatakan jika itu hanya salah paham biasa diantara remaja seusianya dan mengatakan jika ia telah mengembalikan perhiasan ibunya maka anggap saja masalah ini tak ada.

Tapi, di hari keenam, saat ibu Seohyun mengetahui jika Eunhyuk yang memaksa anaknya untuk mencuri, beliau datang ke sekolah untuk berhadapan langsung dengan ketua komite kedisiplinan sekolah dan meminta masalah ini segera diselesaikan dengan benar.

Dan akibat dari kedatangan wali murid itu adalah gosip-gosip di balik bilik kamar mandipun mulai merebak.

"Kau tahu? Kasur loker Lee Eunhyuk?"

"Yang di dalamnya ada kalung milik ibunya Seo Jeohyun?"

"Ah, si dompet?"

"Benar!"

"Tapi… tak peduli sekasar apapun Lee Eunhyuk, ia bukanlah gadis yang akan melakukan hal seperti itu."

"Mungkin saja Seo Jeohyun menjebaknya?"

"Siapa yang tahu? Bahkan kabarnya, keadaan dia yang sekarang… kau tahu kalau dia amnesia 'kan? Banyak yang mengatakan jika ia berpura-pura saja."

Tanpa mereka sadari, Lee Eunhyuk sendiri berada di dalam bilik lainnya dan mendengarkan celotehan itu. Eunhyuk segera keluar dari kamar mandi dan menatap bengis pantulan wajahnya di cermin.

"Ya, Lee Eunhyuk. Sebenarnya kau siapa?"

Setelahnya, Eunhyuk berlalu dan memutuskan untuk menyendiri di atas atap sekolahnya. Begitu tiba, ia pandangi sejenak sekolah yang terasa asing baginya ini. Semilir angin menghembus dan memainkan rambut kecoklatannya.

Tiba-tiba saja sesuatu menabrak kaki Eunhyuk, membuat Eunhyuk segera menunduk ke bawah untuk mendapati sebuah mobil mainan menabrak kakinya.

"Kalau kau mau kau boleh masuk!" tanpa Eunhyuk sadari di tingkatan lainnya atap sekolah mereka, Lee Donghae sedang terkekeh geli mendengar banyolannya sendiri.

"Kau pikir itu lucu?" geram Eunhyuk begitu melihat senyum kekanakkan Donghae. Mendengar itu membuat Donghae segera turun dan berjalan menghampiri Eunhyuk. "Ini apa-apaan coba." Eunhyuk terkekeh geli saat melihat muka Lee Donghae kala ia menyentakkan kakinya ke arah mobil mainan itu.

Sementara Donghae sibuk memeriksa mainannya, Eunhyuk memandangi hamparan rumput lapangan sekolahnya.

"Haa… aku juga ingin turun dari atap dan melompat begitu saja. Sama seperti yang kau lakukan waktu di rumah sakit. Kalau aku melakukannya apakah rasa frustasiku akan menghilang?"

"Pakai ini?" dan dengan jahilnya, Donghae menjawil pelan rok yang dikenakkan oleh Eunhyuk.

"YA! Lee Donghae!" pekik Eunhyuk kesal.

Mereka berdua terdiam agak lama dalam suasana canggung.

"Ya… apakah kau dan aku berteman?" Tanya Eunhyuk sejurus kemudian.

"Eii… mana mungkin." Balas Donghae begitu cepat dan tanpa ragu.

"Lucu ya… aku, aku punya sekali banyak pertanyaan setiap aku bertemu dengan seseorang."

Eunhyuk pun kembali menatap hamparan rumput, diikuti Donghae yang juga kini mengalihkan pandangannya pada sebuah mobil.

"Haruskah kukatakan padamu?" kalimat itu membuat Eunhyuk menatap Donghae penuh rasa ingin tahu. "Kau mungkin tak tahu karena kau sedang hilang ingatan… aku dulu pernah menolak perasaanmu, dan juga dulu kau itu suka sekali mengikutiku. Kirim sms, meneleponku, kau itu sangat menganggu."

"Aku seperti itu?" memang… Eunhyuk yang kehilangan ingatan tak mengerti apapun 'kan? Dan entah kenapa dia merasa bersalah telah menganggu orang di hadapannya ini.

"Hei, mau kuberitahu sebuah rahasia?"

"Apa?"

"Sebenarnya… aku anak pria itu." Donghae menunjuk ke sebuah mobil yang berhenti di bawah mereka, menampakkan direktur sekolah mereka yang baru saja turun dari mobil mewahnya. "Aku adalah si bodoh anak dari direktur yang terhormat sekolah kita ini." Donghae kini menunjuk wajahnya sendiri dan berkedip-kedip lucu pada Eunhyuk.

"Lucu ya?"

"Hah, apa?"

"Maksudnya aku. Meskipun kau mengatakan banyak hal, aku tak tahu apakah itu semua benar atau salah. Kurasa akan menyenangkan bagimu untuk meledekku saat ini."

"Siapa bilang? Kau tak ada lucu-lucunya, kau tahu?"

Mendengar itu membuat Eunhyuk berpaling dan meninggalkan Donghae sendiri.

"Ya! Lee Eunhyuk!" panggil Donghae dan membuat Eunhyuk berpaling. "Baiklah, baiklah. Akan kukatakan padamu. Lokermu, aku pernah membuka lokermu. Bukan yang tempo hari tapi beberapa bulan yang lalu sebelum kau menghilang. Dan hanya itu kenangan yang kumiliki yang dapat kita bicarakan." Mendengar hal yang menurutnya remeh itu, Eunhyuk segera berpaling lagi dari Donghae dan membuat Donghae geram.

"Iya benar itu. Ekspresi wajahmu! Intinya, kau tak pernah menganggapku sebagai manusia! Dan itu adalah faktanya." Eunhyuk berpikir, tak ada guna lagi ia berbicara dengan Donghae dan sudah seharusnya Eunhyuk pergi dari tempat ini. "Ah! Dasar jutek!" teriak Donghae di belakangnya.

.

.

.

Saat mereka makan siang, semakin banyak bibir yang membicarakan kasus kalung itu. Bagaimana semuanya membicarakan tentang Eunhyuk dan Seohyun. Bagaimana semua mata memicing pada mereka berdua, menggunjingkan setiap spekulasi yang ada. Dan tiba-tiba saja saat Eunhyuk memandangi Seohyun yang duduk sendiri sembari memakan makanannya, sesuatu terlintas di benak Eunhyuk.

"Ya! Pecundang! Makan yang banyak!" ada tiga orang berdiri buram mengelilinginya, salah satu yang mengucapkan kata-kata menyakitkan itu menumpahkan air ke dalam tempat makannya. Dan dua orang yang lainnya sibuk tertawa sembari sesekali menarik rambutnya.

"Eunhyuk ah! Kau baik-baik saja? Apa kau sakit?" panggilan Ryeowook itu membuyarkan kenangan yang tiba-tiba datang itu.

"Eunhyuk ah, belakangan ini kau pasti sangat frustasi…" ujar Sungmin penuh khawatir.

"Kau ingin istirahat di ruang kesehatan?" Tanya Ryeowook lagi.

"Anniya. Memang sedikit pusing, tapi aku tak apa-apa." Ujar Eunhyuk penuh penolakan agar kedua sahabatnya ini tak khawatir.

.

.

.

"Ya ahgassi, sudah berapa lama? Apa kau tertidur?" Yunho yang saat ini sedang duduk di samping anaknya, menggelitiki kaki mulus anaknya. Melihat hal itu Jaejoong yang menjadi sandaran kepala putrinya pun ikut menggelitiki pinggang sang anak.

"Umma, appa! Jangan menggelitiku! Jadi jatuh semua." Eunhyuk satu persatu memperbaiki letak ketimun yang semula bertengger rapi di wajahnya.

"Ah, sekarang ini umma sangat bahagia."

"Appa juga."

"Sebenarnya sebelum kau kehilangan memorimu, kau jarang tertawa seperti tadi nak." Sambung Jaejoong lagi.

"Yang benar? Kupikir, aku selalu bersenang-senang dengan kalian seperti sekarang ini."

"Saat kau menghilang, kami menyesali banyak hal." Ujar Yunho yang kini sibuk membelai kepala putrinya.

"Kami terlalu fokus pada pelajaranmu, sehingga banyak hal yang tak kami ketahui." Sambung Jaejoong kemudian. "Umma sudah mendengarnya dari ibunya Seohyun. Kenapa kau tak menceritakan apapun pada kami?" Tanya Jaejoong.

"Umma… appa… seandainya yang mereka katakan adalah benar dan aku benar-benar melakukannya, bagaimana? Membuat kalian kecewa, itu yang paling kutakutkan."

"Kalau kau melakukan kesalahan, kau takkan bisa menghindarinya terus-terusan nak. Tapi aku percaya, putriku bukanlah anak yang seperti itu. Appa dan umma akan mencari jalan keluarnya, jadi jangan khawatir dan kita hadapi masalah ini bersama." Ujar Yunho sembari menenangkan putrinya.

.

.

.

Hari itu, kepala sekolah beserta beberapa guru mengadakan rapat yang menghasilkan akan diadakannya rapat komite pendisiplinan siswa terhadap Lee Eunhyuk. Dan Seohyun yang melihat itu semua segera panik kemudian berniat pergi sebelum dihadang oleh Sungmin, Ryeowook, Leeteuk dan Bora.

"Seo Jeohyun, jangan menghindari kami. Kita perlu bicara." Ucap Sungmin dan berakhir dengan mereka yang berdiri di pojok kelam gudang sekolah.

"Kutanyakan satu hal padamu. Kau yang meletakkan bungan krisa di meja Eunhyuk dan kau juga meletakkan kalung itu di loker Eunhyuk, sebenarnya apa maumu?" geram Sungmin yang baru mengetahui fakta jika di minggu pertama Eunhyuk mehilang dan terdapat bunga krisan di atas mejanya, dan itu semua adalah ulah siswi di hadapannya.

"Seohyun ah, kita perjelas saja. Kenapa kau lakukan hal seperti ini pada teman sekelasmu?" Tanya Leeteuk.

"Sejak kapan kalian menganggapku teman kalian? Kalian sendiri juga telah mengakuinya, kalian semua hanya menganggapku sebagai dompet kalian." Balas Seohyun.

"Ya! Memangnya kami memintamu untuk membayarnya?" Tanya Bora sejurus kemudian.

"Memang tidak. Tapi kau selama ini memperlakukanku seperti aku ini tak ada. Dan tiba-tiba kalian mengajakku bermain. Artinya aku yang harus bayar kan? Karena sejujurnya kalian tak ingin main denganku."

"Jadi itu yang selama ini kau rasakan? Dasar mental korban." Desis Ryeowook.

"Kenapa kau tak katakan saja jika kau tak mau?" tekan Sungmin.

"Benar, kau hanya bilang tak mau, dan itu akan menyelesaikan semuanya." Sambung Leeteuk.

"Geurae, aku yakin itu mudah bagi kalian. Aku harus bilang tak mau ketika ada yang mengajakku pergi. Mau pergi bersama… tahukah kalian betapa susahnya aku mendengar kalimat itu? Aku tahu betul, yang kalian butuhkan hanya uangku, bukan aku. Tapi aku tetap saja tak bisa mengatakan tidak. Tahu kenapa? Karena aku tak mau mengatakannya. Meskipun begitu resikonya, aku ingin berteman dengan kalian. Haah… aku terlalu malu untuk menghadapinya, bahkan sampai akhir aku menghindari komite kedisiplinan. Namun sekarang aku berubah pikiran. Sekarang masalah sudah jadi seperti ini, kuharap bukan hanya Lee Eunhyuk… tapi kalian semua akan mendapatkan hukumannya." Dan setelah mengatakan kalimat panjang disertai tangisan itu, Seohyun pergi meninggalkan keempatnya terdiam tak percaya.

.

.

.

Saat sekolah sedang sepi, karena murid-murid yang telah pulang sekolah, Eunhyuk melihat Seohyun memasuki kelas mereka dengan mengendap-endap. Eunhyuk masih saja memperhatikan siswi itu saat ia memutuskan untuk membuka lokernya.

"Seo Jeohyun." Panggil Eunhyuk lantas membuat Seohyun terkesiap. Eunhyuk pun masuk kedalam kelas mereka. "Sedang apa?" Tanya Eunhyuk.

"Menurutmu? Aku hanya tak ingin bertemu dengan salah satu dari kalian, jadi aku baru mengambil tasku."

Mendengar itu, hanya membuat Eunhyuk mendengus sebelum mulai mengarahkan tangannya ke loker "kali ini pintunya sudah tak rusak. Lee Donghae yang sebelumnya telah tanpa sengaja merusak pintunya 'kan? Kau dan aku bertukar loker 'kan? Sebelum study wisata?" pancing Eunhyuk, dan untuk beberapa saat mereka berdua terdiam.

"Kau sudah mengingat semuanya?" pada akhirnya Seohyun pun terpancing.

"Jadi aku benar?" dan Eunhyuk pun kemudian pergi ke loker yang tadi hendak dibuka oleh Seohyun untuk mendapatkan buku bertuliskan namanya berada di dalam loker yang diketahui orang-orang sebagai milik Seohyun.

"Baguslah, sekarang katakan pada semua orang. Seo Jeohyun bersandiwara dan telah membohongi semuanya."

"Ada yang ingin kutanyakan padamu… alasan kau menuduhku apakah hanya karena loker ini saja ataukah kau benar-benar membenciku?"

"Ya, benar. Aku membencimu. Seandainya bisa, aku ingin menghancurkan ingatanmu, kebanggaanmu, semuanya. Aku ingin kau tahu rasanya dipermalukan di depan orang lain."

"Kenapa? Kenapa kau ingin melakukannya?"

"Kau… kupikir ingatanmu telah kembali." Dan setelah mengucapkan itu, Seohyun pun meninggalkan Eunhyuk sendirian.

.

.

.

Teman… teman adalah kata yang paling sulit untuk Seohyun dapatkan. Dia berpikir, bahwa ia akan melakukan apapun untuk mendapatkan teman, bahkan dengan merelakan uangnya keluar begitu banyak. Tapi… anggapan itu sangat dibenci oleh Lee Eunhyuk.

"Tiket untuk empat murid." Seohyun memesan tiket untuk ia, Eunhyuk, Sungmin, dan Ryeowook kala mereka bermain ke bioskop.

"Biar aku saja." Saat itu Eunhyuk langsung menyela dan mengeluarkan uangnya.

"Tak apa, Eunhyuk ah. Aku saja." Ujar Seohyun

"Aku tak suka. Aku yang akan bayar untuk ini semua."

Dan mereka berdua kini berjalan menghampiri Sungmin dan Ryeowook…

"Tapi… apa yang selalu kamu beli dengan uang? Makanan? Tiket nonton? Teman? Atau… waktu?"

"Apa maksudmu, Eunhyuk ah?"

"Aku benar… kau menghabiskan uang dan orang lain akan menghabiskan waktu denganmu. Aku bahkan benci untuk menjual sepuluh menitku padamu." Setelah mengucapkan itu, Eunhyuk berlari kecil menuju teman-temannya, meninggalkan Seohyun sendiri.

Meninggalkan Seohyun yang tak mengerti arti sebuah ketulusan dalam mencari teman. Teman… bukan orang yang dibayar waktunya untuk menemanimu, bukan juga orang yang akan tersenyum bila melihatmu seakan kau adalah dompetnya. Teman… bukan seperti itu, dan Seohyun masih belum bisa menyadari kesalahannya itu.

.

.

.

Eunhyuk kini duduk berdampingan dengan Siwon di tepi kolam renang tempat Siwon selama ini berlatih.

"Kurasa kau benar tentang semuanya Siwon ah."

"Soal apa?" Tanya Siwon yang tak mengerti.

"Aku tak punya sopan santun, kasar dan semua orang ingin memukulku." Ujar Eunhyuk yang masih memainkan air di tepian kolam renang.

"Kau sudah menyadarinya." Ujar Siwon dengan nada jenaka.

"Kurasa… aku sudah menyelesaikan masalah kalung, tapi… hatiku masih belum tenang."

"Kenapa? Karena masalah komite kedisiplinan?" Tanya Siwon.

"Ung. Meminta maaf ketika aku tak mengingat apapun takkan menjadi masalah 'kan? Bukan berarti malam ini aku akan mengingat semuanya…"

Ucapan bernada jenaka yang diutarakan Eunhyuk itu… siapa yang tahu akan jadi kenyataan 'kan? Dan memang benar menjadi kenyataan, sesaat setelah selesai mengucapkan itu mereka berdua mulai saling memainkan air dan membuat basah baju masing-masing karena mereka menemukan selang air untuk saling menyerang. Tanpa sadar, kedua kaki Eunhyuk mulai melangkah dekat sekali ke tepian kolam hingga akhirnya ia terjatuh ke dalam kolam renang.

Untuk sesaat, Eunhyuk bergerak gusar. Namun sebuah bayangan melintas begitu saja di dalam air, membuat mata Eunhyuk membelalak terkejut karenanya.

Di sana, di hadapan Eunhyuk. Ia seolah melihat dirinya dengan pakaian kasualnya tengah bergelut melawan air yang menelannya sebelum kepasrahan menerjangnya. Dan tiba-tiba saja ingatan itu membludak di kepala Eunhyuk.

Ingatan kala Eunhyuk dipermalukan di dalam kelas, ingatan kala Eunhyuk harus mengakui hal yang tak pernah diperbuatnya, ingatan kala Eunhyuk yang putus asa karena dikeluarkan dari sekolah membuatnya memilih tindakan paling gila yang pernah dilakukannya. Bunuh diri.

Eunhyuk yakin ia pasti akan mati saat melihat bayangan dirinya penuh akan kepasrahan menerima tekanan air itu, sebelum… sebuah bayangan yang mirip dengannya datang dari atas dan dengan perlahan membawanya naik ke permukaan. Tangan itu… tangan itu menariknya ke permukaan, menariknya untuk keluar dari tekanan air yang menakutkan.

"Eunhyuk ah! Eunhyuk ah!" panggil Siwon yang terkejut melihat Eunhyuk yang tak kunjung naik ke permukaan, aneh… sama sepertinya, Eunhyuk termasuk perenang yang baik tapi kenapa Eunhyuk belum juga naik kepermukaan? Tak ingin berpikir lebih lama lagi, Siwon pada akhirnya terjun ke dalam air dan mulai membawa Eunhyuk ke permukaan.

"Kau tidak apa-apa?" beruntung, saat Siwon membawa Eunhyuk ke tepi kolam renang, Eunhyuk masih belum hilang kesadaran dan Eunhyuk masih bisa mengeluarkan sendiri air yang sempat ia telan.

.

.

.

Dengan pakaian yang masih basah dan badan yang menggigil kedinginan, Eunhyuk kini sampai di kamarnya. Satu persatu laci dibukanya, puluhan buku ditebarnya, sebelum ia menemukan sebuah buku yang tersimpan apik jauh dari buku lainnya. Dibukanya buku itu dan ia menemukan selembar guntingan artikel dari koran. Gambar di sana terang saja membuat Eunhyuk tercengang. "Love Orphanage". Dan tulisan yang menyertai artikel itu membuat Eunhyuk terjerembab jatuh.

"Hyukjae yah, kau sudah sehat nak?"

"Hyukjae eonni!"

"Hyukjae noona!"

Lalu, potongan memori yang kini terkumpul satu persatu masuk ke dalam kepala Eunhyuk. Bukan, dia bukan Eunhyuk… dia adalah Hyukjae. Ya, Hyukjae…

Hyukjae… gadis malang dari panti asuhan yang menjadi bahan olok-olokan teman-teman di sekolahnya. Hyukjae, gadis malang yang selalu menderita akibat olok-olokan itu. Hyukjae, gadis malang yang terpaksa meninggalkan sekolahnya karena ia tak mau mengakui kesalahan yang tak pernah dibuatnya. Hyukjae, gadis malang yang memutuskan untuk bunuh diri.

Dan begitu kakinya mendapati sedikit kekuatan, ia mencoba berdiri sebelum mendapati dirinya kembali goyah untuk kemudian terjatuh dan menabrak potongan istana lego yang tadinya berdiri kokoh di tengah kamarnya.

.

.

.

"Eunhyuk ah! Guru mencarimu!" Zhoumi yang baru saja kembali dari ruang guru bersuara.

"Ya." Ujar Eunhyuk sebelum menuju ruang guru untuk duduk di hadapan seluruh guru yang bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah pencurian kalung.

"Seperti yang sudah kami katakan, berhubung ingatan murid Lee Eunhyuk belum pulih maka dari itu memastikan fakta terkait kasus yang terjadi pasti akan sulit." Mulai seorang guru yang menjadi ketua penyelidikan kasus ini.

"Tidak Pak Guru. Aku ingat. Memang belum sepenuhnya kembali, tapi aku rasa aku bisa mengingatnya." Ucapan ini membuat semua yang hadir di ruang guru sedikit tercengang.

.

.

.

Sementara itu, Seohyun kini sedang duduk berhadapan dengan Hankyung.

"Tadinya aku berniat mengosongkan lokerku. Tapi ketika ayah Zhoumi datang ke sekolah, aku terkejut. Aku sangat ketakutan. Dan ya, aku yang melakukannya saem. Maaf karena sudah berbohong." Ucap Seohyun dengan suara lirih dan bergetar.

"Tak apa. Terima kasih karena sudah berani untuk mengakuinya. Rapatnya masih berlangsung. Aku rasa kita bisa mengatakan yang sebenarnya pada mereka."

"Biarkan aku yang mengatakannya."

Lalu kemudian guru dan murid itu beranjak ke ruang guru dan mendengar kelanjutan rapat itu.

"Karena kau bilang ingatanmu sudah kembali, silahkan ceritakan pada kami. Apakah yang dikatakan murid Seo Jeohyun adalah benar?" dan pertanyaan itupun dilontarkan.

"Ya benar." Jawab Eunhyuk tanpa ragu. Membuat Seohyun dan juga wali kelas mereka tercengang.

"Kau juga mengakui jika kau telah mengancam murid Seo Jeohyun?" lagi… pertanyaan itu kembali diiyakan oleh Eunhyuk. "Ancaman apa yang telah kau katakan?"

"Yang kukatakan, adalah hal yang palling menakutkan di dunia. Hal yang tak seharusnya kukatakan pada teman sekelasku."

Ingatan kala ia baru saja di kerjai kembali merebak. Saat ia kembali ke kelas dengan bau yang bahkan tak bisa dihilangkan, dan bagaimana teman-temannya mengolok-oloknya.

.

.

.

Eunhyuk… bukan, Hyukjae. Hyukjae memutuskan untuk mengakui hal ini karena ia pernah merasakan apa yang dirasakan oleh Seohyun. Saat dirinya menjadi orang asing di kelasnya. Saat tak ada siapapun yang berdiri di sampingnya sebagai seorang teman. Saat ia sudah lelah namun masih berusaha untuk bertahan.

.

.

.

Saat Seohyun berjalan untuk kembali ke kelasnya, sebuah mobil mainan menghampirinya. Di atas mobil itu tersemat tulisan untuk mengikuti mobil itu. Perlahan, mobil itu membawa Seohyun untuk berada di depan lokernya. Seohyun pun membuka loker tersebut dan mendapatkan sebuah pesan.

"Hanya tangan temanlah yang bisa mencabut duri yang tertancap di dalam hati. Seohyun ah, maukah kau menerima uluran tanganku?"

Itu adalah pesan penuh ketulusan yang ditulis oleh Hyukjae. Ketulusan yang murni serta berhasil mencapai hati Seohyun, membuat Seohyun menangis karenanya.

Sementara itu, tak jauh dari kelas mereka, Hyukjae dan Donghae berdiri mengamati.

"Hah… benar-benar macet." Ujar Donghae yang masih saja mencoba menggerakan mobilnya dengan konsol yang berada di tangannya.

"Setidaknya kau telah melakukan hal yang baik sebelum pergi." Ujar Hyukjae. "Kerja bagus." Lanjut Hyukjae sembari menepuk-nepuk bahu Donghae.

Dan dengan refleks, Donghae meraih dagu Hyukjae sebelum menggoncangkannya dengan kasar. "Jaga sikapmu." Lalu kemudian Donghae pun berlalu pergi.

.

.

.

Suara pintu yang diketuk terdengar dari luar kamar.

"Pintunya tidak dikunci." Jawab sang pemilik kamar.

"Oh, apa yang terjadi? Kau sudah tak mengunci kamar lagi?" rupanya itu adalah ibu Seohyun.

Seohyun pun mengembalikan kartu kredit yang dimilikinya pada sang ibu.

"Kenapa? Kuncinya rusak?" Tanya sang ibu.

"Bukan, sekarang aku sudah tak membutuhkannya lagi. Mulai sekarang aku akan meminta uang saku secukupnya saja." Ujar Seohyun.

"Tumben…" ujar sang ibu yang masih belum mengerti dengan perubahan sang anak.

"Aku juga ingin pindah sekolah… aku ingin memulai semuanya dari awal. Dengan teman-teman dan juga dengan umma. Tak menggunakan uang untuk mendapatkan teman, tapi menggunakan cara yang lain."

.

.

.

"Eunhyuk ah kau sudah siap?" dari luar kamar, Hyukjae mendengar panggilan sang ibu.

"Iya sebentar lagi aku keluar." Balasnya.

Hyukjae pun berlalu dan meninggalkan meja belajarnya. Di atas meja belajar itu terletak sebuah surat, buku diari dan sebuah ponsel. Di surat tersebut tertulis, 'Dari Lee Hyukjae.'.

.

.

.

"Perhatian." Panggil Hankyung untuk mendapatkan perhatian anak didiknya. "Kasus Lee Eunhyuk, yang merupakan sebuah kesalahpahaman telah selesai dengan rekonsiliasi damai." Tepuk tangan bergemuruh didapatkan Hyukjae dari teman sekelasnya. "Tapi, aku mempunyai berita sedih untuk kalian. Seo Jeohyun, telah pindah sekolah sejak kemarin. Bukan pindah karena paksaan, tapi karena ia menginginkannya." Lanjut Hankyung.

"Tanpa mengucapkan salam perpisahan?" Tanya Hyukjae.

"Aneh… Seo Jeohyun bilang dia telah mengucapkan salam perpisahan pada kalian semua."

Semua murid saling berpandangan dan merasa tak mendapatkan satupun salam perpisahan.

"Coba saja kirim pesan padanya. Hari ini cukup sekian." Pamit Hankyung dan pergi dari kelasnya.

"Terima kasih saem." Ujar para murid.

"Oh iya… kalian semua tahu tidak? Kalau Seo Jeohyun adalah seorang ilustrator komik handal?" lalu setelah itu, Hankyung pun pergi dari kelasnya.

Leeteuk yang ingin mengambil barangnya di loker sekolah, cukup terkejut saat melihat sebuah kertas bergambarkan dirinya berada di dalam lokernya.

"Apa ini? Ya! Coba kalian lihat loker kalian." Ujarnya, dan satu persatu anak-anak di kelas mereka membuka loker untuk mendapatkan kertas yang sama.

Mereka, satu persatu mendapatkan kertas yang bergambarkan diri mereka, hasil gambar dari Seohyun yang diibaratkannya sebagai salam perpisahannya untuk teman-teman sekelasnya.

"Dia, kenapa sampai akhir, masih saja menyebalkan?" keluh Sungmin saat melihat gambarnya.

"Dia, kenapa sampai akhir, masih saja menyebalkan?" kali ini Donghae yang berujar.

"Kenapa?" Tanya Ryeowook bingung.

"Apa aku terlihat seperti ini?" Tanya Donghae sembari menyandingkan gambarannya yang tersenyum lebar menyentuh telinga diiringi bibirnya yang juga tersenyum. Membuat trio itu tertawa karenanya.

"Mwo?" Tanya Donghae saat melihat Hyukjae juga tertawa. Pertanyaan yang hanya dibalas senyuman oleh Hyukjae.

"Lee Eunhyuk, terima kasih karena sudah mau mengulurkan tanganmu terlebih dahulu. Setelah hal ini berlalu, kuharap kita dapat berteman."

Hyukjae hanya bisa tersenyum mendapatkan pesan yang tertulis di kertas bergambarnya.

.

.

.

Hari itu… seperti biasa, Hyukjae akan pulang ke rumah dengan Siwon di sampingnya jika ia tak ada latihan.

"Ya, kenapa hari ini kau tak mengangkat teleponmu?" Tanya Siwon.

"Ponselku ketinggalan." Jawab Hyukjae.

"Dasar ceroboh." Ujar Siwon sembari tersenyum mengejek. "Hei, aku membuat rekor saat latihan hari ini." Tambahnya.

"Oh ya? Selamat ya." Hanya itu saja respon Hyukjae, karena sekarang di pikirannya berkecamuk banyak hal.

"Aku benar-benar tak bisa terbiasa denganmu." Ujar Siwon yang masih belum bisa untuk terbiasa dengan Eunhyuk yang hilang ingatan.

"Apa?" Tanya Hyukjae.

"Dulu kau bilang seperti ini. 'Hei, rekor tak resmi tidak diperhitungkan.'. 'Kembalilah saat kam mencetak rekor resmi.'." ujar Siwon lagi.

"Lee Eunhyuk keren ternyata." Ujar Hyukjae yang memuji Eunhyuk.

"Tiap hari aku mengajarimu jadi lebih lembut. Apa kau tak terlalu patuh?" Tanya Siwon lagi.

"Aku harus ke suatu tempat. Kita berpisah di sini ya." Potong Hyukjae yang mulai merasa tak nyaman dengan obrolan mereka.

"Baiklah." Jawab Siwon.

"Karena aku begitu kesal, aku terlalu keras berusaha mengingat. Mungkin tak seharusnya aku seperti itu."

"Kenapa?" Tanya Siwon lagi yang tak mengerti akan ucapan Hyukjae.

"Hanya… kurasa aku akan merindukan hari saat aku tak bisa mengingat apapun. Choi Siwon, selamat tinggal." Ujar Hyukjae sembari mengajukan tangannya.

"Apaan sih? Selamat tinggal juga." Memang tadinya Siwon merasa aneh, namun ia masih saja menerima jabatan tangan itu. "Hei, selamat tingga! Telepon aku ya." Teriak Siwon saat Hyukjae sudah berlalu dari hadapannya.

Senyum Siwon itu… berbanding terbalik dengan Hyukjae yang kini sedang menangis.

TBC

Aloha! #dikeplak

Hehehe… maaf ya kalau kesel nungguin ff ini update… apalah daya, saya hanya seorang fans baper gegara ditinggal wamil… saya juga moody-an, jadi jangan heran kalau saya sering lama update…

Ah ya… saya cuma mau bilang, saya akan tetap menulis ini seperti di dramanya. Saya hanya akan merubah dan merangkai drama ini tepat setelah kehidupan sma mereka berakhir. Bagi yang sudah menonton drama ini namun masih penasaran dengan versi D&E nya, bersabar sampai beberapa chapter lagi ya~ soalnya gak asik kalau kehidupan sma mereka gak ditulis, karena kehidupan smanya yang bikin saya gemes~

Ngomong-ngomong soal gemes, beneran deh yang gemes sama saya karena lama update, maaf ya~ tapi gajanji bakalan cepet update hehehe, doakan mood saya baik maka cerita ini akan berjalan lancar.

#haetdalnim2017