CHAP 2 UPDATE !

'LAALAAAAYEYEYEYEEEEE' *AUTIS MODE : ON*. Chap 2 update horey!horey! *mencak mencak GJ*. Haloo minna-san aftu-kun datang lagi. Semuanya pasti udah kangen (readers : "ueeekk, gak sudi kangen sama author GJ"). O'iya aftu-kun minta maaf karena chap kemarin penulisannya banyak yang salah. Dan juga ada beberapa scane yang salah tulis. Insyallah kalau ada waktu aftu-kun perbaiki. Jadi aftu-kun mau minta maaf se-BANYAK BANYAAAAKNYA. Langsung aja

WARNING : BANAYK TYPO BERTERBANGAN, FELL- NYA GAK KERASA, GJ-NESS, ANEH, BIKIN MUAL, DAN EFEK SAMPING LAINNYA.

DON'T LIKE, PLEAS TO READ

'*ALONGE*'

'NATSUME'

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Cahaya jingga masih menyelimuti sebagian langit biru. Bunga warna warni mengangguk-angguk di terpa angin pagi. Dedaunan hijau muda khas musim semi masih basah, terkena embun.

Gorden putih dengan corak bunga matahari terpampang di jendela kamar laki-laki inn. Cahaya pagi mulai berbaur ke semua ruangan yang tak tertutup. Terlihat tiga laki laki yang masih berbalut selimut masing-masing. Pria paling ujung dekat pintu, Gray. Dia bangun lebih dulu dari Cliff dan Jack. Jack yang berada di ujung pojok ruangan, dan Cliff berada di tengah. Setiap orang mempunyai ranjang sendiri.

Gray melangkahkan kakinya ke arah pintu. Dengan tubuhnya yang masih mengantuk. Gray menggapai kenop pintu bercatkan ke'emasan. Dingin. Perasaanya tidak enak. Dinginnya sangat menusuk ke tulang, sampai sampai Gray memejamkan matanya. Tadi malam Gray mimpi buruk. Di belakang pintu itu Gray melamun beberapa menit. Saat Gray kembali kea lam nyata Gray langsung menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, langsung beranjak menuju lantai bawah.

'kriiiiiiiing' suara yang sangat mengganggu. Suara itu berulang kali berbunyi dari kamar laki laki inn. Suara yang sangat mengganggu itu ialah jam beker milik Jack. Jam beker itu sudah berbunyi sejak lebih dari jam enam pagi. Dan sekarang sudah jam Sembilan, dan Jack tak bangun bangun.

JACK POV

'Kenapa benda ini tak berhenti bersuara sih, sial!' batinku. Aku merasakan suhu yang tidak lagi dingin. Sekarang suhunya lebih hangat. 'uh' sinar matahari mengenai kelopak mataku, menembus sampai ke kornea coklatku. Ku kerjapkan mataku, kulihat dua tempat tidur yang sudah tertata rapi. Selimut yang membalutku kusingkirkan 'huwaaahhhh,' sambil merenggangkan tubuhku. 'Benda sialan' itu ku lihat 'masih jam sembilan' gumamku.

20%

.

40%

.

60%

.

80%

.

100%

.

"apuaah jam Sembilan?" ucapku kaget. "aku telat" aku turun dari ranjangku. 'sret….' 'jduak', "adawwww". Kakiku terlilit selimut. Dan lebih parahnya aku terjatuh terjungkal ke depan, dan bibirku sebagai bantalannya. Tak kupedulikan rasa sakitku. Aku langsung turun dan masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhku.

JACK POV END

"Paman Doug, aku pesan satu turnip salad dengan tambahan saus di atasnya, di bungkus!" Jack duduk di kursi Inn. "Oke" jawab paman Doug singkat dari arah dapur. Sambil menunggu pesanan datang Jack memainkan neitendonya. 'Yah mungkin terlambat di hari pertama tidak apa-apa' batin Jack sambil terus memainkan neitendo-nya.

Lima menit kemudian Ann keluar dari dapur sambil membawa pesanan Jack. "Ini!" Ann menaruh makanan pesanan jack di meja. Jack terlonjak dan langsung menoleh ke Ann.

"nggak pake ngagetin juga kaleee" Jack langsung sewot.

"Becanda" sambil tersenyum mengejek.

"Ini bayar buat menginap di sini" Jack menyulurkan tangannya ke arah Ann.

"Bukannya bayarnya di akhir bulan?"

"Dari pada nanati kelupaan" Jack mengembil potongan turnip di piring.

"Dasar pikun…ha…ha..ha" Tawa yang terdengar tidak berkeperempuanan .

"Yeee, ngeldek aja dari tadi. Yaudah! aku mau pergi dulu"

.

.

Jack keluar dari Inn dengan berlari sambil membetulkan topinya. Jack lari lari kecil sambil memandangi lingkungan sekitar. Lingkungan yang indah sejuk dan rindang.

'tok tok tok' Jack menggedor pintu rumah kecil yang ada di peternakan. Tidak ada jawaban. 'tok tok tok' Jack mengetuknya sekali lagi. Tapi tetap tidak ada jawaban.

Jack yang panik mulai mendobrak pintu. Pada gebrakan ke empat barulah pintu tua itu terbuka. Tapi di dalamnya tidak ada Claire kakaknya. Jack mencoba untuk menenangkan diri. Jack yang dari tadi menyimpan neitendonya di saku overall, menaruhnya di laci dekat tempat tidur kakaknya.

.

.

"Paman Gotz apa anda di dalam?" Jack berteriak di pintu rumah kayu Gotz. 'Sepertinya belum buka' pikir Jack, dan tambah membuatnya tambah panic. Jack mencoba mencari ke permandian air panas. Jack ke permandian dengan laju nafas yang terengah engah. Dan dia melotot kaget dengan apa yang dia lihat sekarang. Jack melihat Claire basah kuyub di pinggir air terjun dengan beberapa luka lebam di bagian tubuh.

Jack langsung menghampiri kakaknya. Jack mencoba mengecek denyut jantung Claire di pergelangan tangannya. "Syukurlah" Jack melebarkan tangannya seperti orang berdoa. Tapi tiba tiba Jack langsung kaget ketika denyut jantungnya mulai bergerak lebih pelan.

.

.

Awan hitam mulai tertata di atas Mineral Town. Cahaya mulai berganti dengan hitam kelam yang merambat. 'Tik tik' hujan mulai menitikkan air matanya. Semakin banyak air yang turun dari sang awan.

Terlihat Jack sedang membopong seseorang di pundaknya. Gadis itu terlihat tak bergerak. Jack Berlari dari arah permandian air panas ke pusat kota. Meskikpun hujan dia tetap berlari. Air yang menggenang di setiap jalan membuat kesan seperti kota tak terawat. Gelegar halilintar mulai bersahutan dari arah sang awan.

.

.

Jack langsug memasuki bangunan berbau obat-obatan itu tanpa mengetuk pintu. Mugkin karena keadaan darurat. "Dokter Trent!" di panggilnya lantang sang dokter. Dokter Ternt langsung keluar dari arah ruangannya.

"Ada apa?" Tanya dokter Ternt datar. Dia masih memegang buku catatan pasien. Sepertinya selesai dari pengecekan bulanan.

"Tolong hah…. Se…lamatkan hah… ka…kakku hah…. dok" Jack ngos-ngosan karena berlari dari tadi pagi dan sekarang hampir menjelang siang. Badannya yang basah kuyup terlihat sangat lemas.

"Baik, sekarang taruh dia di ranjang pasien!" Trent menyuruhnya untuk menaruh Claire di ranjang seperti dia di rawat dulu.

"Elli bisakah kau bantu aku di bawah?!" Dokter segera masuk ke arah ruang pasien. Dengan mengenakan jubah putih dan sarung tangannya.

Elli datang dari lantai atas sambil membawa bebrapa obat di tangannya. Kemudian dia memasuki ruang kerja Trent membawa beberapa alat khusus. Dan Elli masuk ke ruang pasien seperti Ternt.

Jack duduk di sofa sambil memainkan jarinya. Jack sangat cemas dengan keadaan sang kakak. Beberapa menit kemudian Trent kembali dengan wajah datar. Meskipun wajahnya datar tapi Trent memancarkan sorotan mata kesedihan.

"Apakah kakakku baik baik saja?" Jack langsung berdiri dan menghadp sang dokter.

"Luka luarnya tidak begitu parah. Tapi luka dalam itu sangat membahayakan. Di paru-parunya." Sambil menundukkan kepalanya. Pernyatan tak langsung yang berarti simpati.

"….." Jack hanya menunduk dan menahan tangisnya. Begitu dalam rasa sakit yang terbumbung di hatinya.

"Dia mempunyai luka yang ada di dalam peru-parunya. Mungkin dia akan siuman dari 'tidurnya' sekitar 5-7 hari" Trent langsung meninggalkan Jack sendiri dengan badan yang basah kuyub.

.

.

Jack meratapi nasibnya yang tak mujur. Baru saja pindah mengelak dari masalah yang ada di kota seberang. Dan sekarang di timpa masalah yang lebih besar.

Jack tak bisa menahan air mata yang terus mengeruyak keluar dari sudut matanya. Jack menagis sambil mengusap matanya. Dia masih duduk di sofa klinik.

"Tenanglah, Claire pasti akan selamat" sekarang Elli sedang duduk di samping Jack setelah memberi beberapa alat yang di pasangkan pada Claire. Elli mencoba menghibur Jack.

"Aku yakkin Claire itu akan selamat karena dari aku pertama bertemu dengan kalian berdua, kelihatannya kalian sama-sama tangguh. Aku yakin itu."

"….." Jack masih menagis dengan posisi menunduk. Karena malu menagis di depan perempuan yang baru ia kenal. Di luar masih hujan. Masih terdengar gemercik air yang terbilang banyak. Tapi halilintar tidak lagi singgah di atas sang awan.

"Sudahlah, jangan terlalu pesimis. Lakukan apa yang harus kau lakukan. Dengan merawat kebun kalian. Agar Claire senang saat melihat kebun kalian yang sudah bersih dan rapi itu."

Jack langsung berdiri dari sofanya. Matanya sedikit sembab. Bajunya juga lusuh karena basah dan tak begitu rapi.

Elli merapikan pakaian Jack yang sedikit tak rapi itu. Elli memegang kapala Jack yang masih menunduk dengan kedua tangannya. Kemudian mengangkatnya. Mempertemukan dua pasang mata yang berwarna coklat. Tapi mata cokalt yang diangkat sedikit memudar warnanya. Seperti orang yang pesimis dan hilang kepercayaan.

"Percayalah. Claire kakakmu pasti akan selamat," ucap Elli sambil tersenyum tulus.

"Terima kasih hiks atas semangat hiks yang kau berikan hiks pada ku," Jack terlihat kembali dengan semangatnya. "Aku akan percaya" sambil menghapus air matanya.

Jack menunduk ke arah Elli. "Arigatou-gozaimasu." Jack sudah mulai mempunyai semngat kembali.

Detik berganti menit, menit berganti jam, dan jam berganti hari.

Sudah sekitar tiga hari Claire masih belum membuka matanya. Masih terdiam di ranjang berwarna biru. Wajahnya yang terlihat sendu. Dan ruangan yang bercatkan putih. Sunyi yang masih berdiam di ruangan itu. Cahya matahari yang juga mewarnai ruangan melewati celah dan jendela kaca.

.

.

Perkebunan yang dulunya berantakan dan tak terurus kini sudah bersih tak ada sampah yang berserakan. Sekarang lebih berwarna dengan adanya beberapa tumbuhan yang tumbuh di tanah perkebunan itu. Dan ada beberapa bunga yang tumbuh di sisi barat dekat dengan kolam ikan. Terdapat bunga yang mempunyai banyak warna.

Di bawah pohon apel terlihat seorang bertopi biru terbalik sedang duduk menghadap ladangnya. Jack tampak kelelahan. Dengan keringat yang masih menetes di dahinya turun ke overall birunya. Jack tidak tidur dia hanya mengistirihatkan tubuhnya yang butuh beberapa energy. Karena dia setelah ini dia ada kegiatan rutin yang baru-baru ini di kerjakan. Yaitu menjaga kakaknya di klinik.

Jack bangun dari duduknya. Jack menghampiri petak bunga yang ada di dekat kolam ikan. Memetik bunga berwarba biru dan merah sebanyak masing-masing tiga buah.

Kemudian Jack masuk ke dalam rumah. Meletakkan bunganya di meja kecil dekat pintu. Kemudian mengambil selembar plastic dari dalam tasnya. Setelah itu dia kembali ke meja kecil tadi. Dan merangkai bunga merah dan biru tadi menjadi sebuah buket yang sederhana dan cantik.

Di tutup pintu rumahnya dengan pelan. Sesampainya di sepan farm Jack kembali ke arah petak bunganya tadi dan mengambil sebuah bunga berwarna merah muda bercabang dengan dua bunga indah di tiap ujungnya. Sebenarnya bibit bunga sebanyak sepuluh petak itu tidak beli. Melainkan pemberian dari Elli yang kebetulan di beri oleh neneknya.

.

.

"Selamat pagi" Jack menyapa orang yang ada di dalam klinik terebut. "Selamat pagi juga Jack" Elli membalas sapaan Jack dengan ramah dan senyuman, yang menurutnya manis. Dan seseorang yang ada di dalam ruangan luas berdinding kai. Seperti biasanya, selalu tidak menjawab setiap orang yang menyapanya. Itu-lah sikap dokter yang salalu menempel di tubuhnya. Dingin.

"Ini untukmu" Jack memberikan sebuah bunga berwarna merah muda yang tadi dipetik kepada Elli.

"Terima kasih" Elli berterima kasih dengan wajahnya yang bersemu merah. Mungkin baru kali ini dia diberi bunga(benda favorit-nya) oleh seorang laki-laki.

"Apakah kau sakit Elli?" Jack sedikit bingung karena wajah Elli yang tiba-tiba memerah.

"Ohh… e.. tidak apa-apa. Ya tidak apa" Elli gelagapan menjawabnya.

"Kau yakin?" Jack semakin heran dan mendekatkan wajahnya ke wajah Elli.

"Ya, dan bisakah kau tidak terlalu dekat dengan ku Jack?!" Elli masih bersemu merah dan terus bertambah merah.

"Oh.. maaf maaf. Oke, aku pergi ke ruangan kakakku dulu, bye!" Jack langsung pergi ke ruang kecil di pojok yang lebih kecil dari ruangan Ternt.

Sesampainya di dalam ruangan Claire Jack langsung mengambil buket di vas kecil dan menggantinya dengan yang segar. Ruangan yang minimalis itu hanya terisi beberapa barang-barang, kasur dan meja kecil yang di atasnya terdapat vas biru. Tidak ada peralatan canggih, hanya menggunakan metode kuno. Karena klinik Mineral Town yang sangat terpencil. Jadi bantuan dari pemerintah tidak sampai ke Mineral Town.

Jack menduduki sebagian kasur yang di tempat kakaknya dirawat. Kemudian Jack menyisir rambut Claire dengan tangannya. Jack mencurahkan isi hatinya.

"Kakakku yang ku sayang dan ku rindukan. Cepatlah bangun wahai kakakku. Aku di sini merindukanmu. Tanpamu di sini aku kesepian hiks". Jack mencoba menyeka air matanya yang ingin keluar.

"Tolong bangunlah kak!. Aku kesepian maafkan aku atas kesalahanku. Kau yang biasanya menghiburku kak. Yah meski aku tak bisa melihat matamu yang berwarna biru saphir yang berarti semangatku. Dan tak yakin akan pendengaranmu yang mendengar ocehanku atau tidak. Tapi aku yakin kau akan selalu ada di dalam hatiku. Dan aku percaya itu" Setelah itu Jack pergi meninggalkan kamar sang kakak. Tapi sebelum Jack pergi dia mengecup dahi sang kakak yang pucat.

.

.

"Bu, bahan untuk nanti makan malam apa saja?" tanaya seorang perempuan berbadan kecil dengan baju biru dan kaca mata bulat. Dan juga rambutnya yang dikepang, Mary. "Kau ambil bubuk kare, nasi, dan minyak masing masing tiga!" Yang ditanya menyuruh anaknya mengambil bahan yang di butuhkan untuk makan malam nanti. "Baik bu" sesegera mungkin Mary mengambil bahan yang di suruh ibunya tadi, Anna.

'klinting' terdengar bunyi bell super market yang menandakan seseorang masuk. "Selamat datang" sapa Jeff sang pemilik super market. Yang disapa membalas dengan tersenyum.

"Ehh ada Elli. Tidak biasanya kamu pergi ke super market siang-siang begini" Anna memasukkan barang yang di ambil Mary ke dalam keranjang belanja.

"Ohh bu Anna saya mau membuat makanan untuk seseorang" Elli pergi ke sudut ruangan dan mengambil sayuran segar dari frezer.

" 'seseorang' siapa, Elli?, berapa pak Jeff?" Anna memberikan keranjang belanjanya dan Jeff mulai menghitungnya.

"Seseorang yang sedang bersedih" Elli telah menaruh beberapa sayur mayur di dalam keranjangnya.

"Maksudmu Jack?" Mary mencoba menebak. Dan sekarang ibu dan anak itu sudah keluar dari super market setelah membayar pada Jeff tanpa menghiraukan jawaban yang akan di sampaikan Elli.

Elli yang masih berada di sudut super market terdiam dengan wajah memerah. Elli langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan kemudian mengambil buah segar di keranjang yang ada di tengah super market.

"Jadi jumlahnya lima ribu empat ratus gold" Ucap Jeff sambil menatap layar mesin kasir yang menampilkan digit angka. Elli langsung mengambil uang yang tadi disebutkan dari sakunya.

"Terima kasih" Jeff tersenyum ramah sambil menerima uangnya.

.

.

'ctak..ctak..ctak..' dentuman belati terdengar dari rumah kecil sebelah timur perpustakaan.

"Tidak biasanya kau membuat salad?" terlihat seorang nenek sedang berda di kursi goyangnya yang terus berayun.

"Pasti untukku" sahut seorang anak kecil berambut hitam dengan pakaian biru gelap.

"Ini bukan untukmu Stu" jelas Elli. Yang masih mengiris turnip di telenan.

"Terus untuk siapa?" Stu semakin ingin tau untuk siapa makanan itu.

"Kasih tau gak ya?" Elli menggoda adiknya. Sambil menata semua sayur mayur di dalam kotak makan berwarna coklat terang.

"Kasih tauuu." Stu mulai merengek dengan menarik baju bawah kakaknya.

"Oke..oke.." Elli segera berhenti menggoda adiknya karena sekarang Stu mulai semakin kuat menarik bajunya.

"Kamu masa' nggak tu sih Stu?" dan hanya di balas gelengan oleh sang adik.

"Ini untuk kak Jack. Kau taukan kalau kak Jack sedang di dilanda kesedihan? Maka dari itu kak Elli mau menghibur kak Jack dengan membawakan kak Jack makanan kesukaannya." Jelas Elli panjang lebar yang di akhri dengan anggukan Stu tanda kalau dia mengerti.

.

.

"SELAMAT DATANG". Jack terlonjak kaget karena dikagetkan oleh DUO ORANYE yang menyambut Jack tepat ketika Jack masuk ke Inn.

"Selamat datang Jack" Ucap si 'oranye' berambut panjang dengan gaya dikepang, Ann.

"Kau adalah pelanggan SPESIAL kami, Jack" Oranye berambut cepak dan rapi menyeret Jack ke meja makan Inn, Doug.

"Pelanggan SEPSIAL?" Jack masih bingung dengan keadaan sekarang. 'apa maksud dari planggan SPESIAL?' batin Jack dalam hati.

"Kau mendapat beberapa makanan garatis dari kami." Seru Ann.

"Dan inilah hidangannya." Doug membawa Loyang yang berisikan makanan dan minuman di dalamnya.

Di dalam loyang terdapat sepotong pie strawberry dengan olesan madu di atasnya, dan juga segelas jus anggur dengan hiasan keju sebagai toping.

JACK POV

Sebenarnya aku sekarang tidak berselera untuk makan. Yah tapi apa mau dibuat. Mereka sudah menyiapkan makanannya. Bicara tentang makan apakah kakak tidak lapar?.

Ku lap bibirku dengan tisu yang sudah tersedia di meja. Ku lihat paman Doug dan juga Ann mimic wajah mereka sepertinya menegang ketika aku selesai makan.

"Terima kasih atas makannya. Ennaak sekali" Ku jawab seadanya dengan menambahkan beberapa ke-lebay-an di dalam kalimat terakhirku. Karena sekarang aku sedang tidak berselera dengan makanan.

"Sama-sama" Jawab DUO ORANYE secara bersamaan. Setelah itu aku pamit untuk pulang ke rumah. Karena sekarang rumah yang ada di perkebunan tidak ada yang menempati.

.

.

"HAAAH" aku menghela nafas sudah kesekian kalinya. Mencoba untuk menghilangkan kesedihan di dalam hatiku. Kulihat album photo dari dalam tas kakakku. Banyak sekali foto manis tertempel di dalam buku berwarna biru dengan sampul bertuliskan 'My Life'. Aku semakin asyik melihat gambar-gambar yang ada. Ada ketika aku dan kakak bermain kejar-kejaran dan di akhiri dengan aku yang menangis karena terjatuh. Dan juga ketika Ayah dan kakak membetulkan sepeda, yang membuat aku tertawa ketika kakak memutar roda sepeda yang terbalik, rambut kuning keemasannya terjepit ke roda tadi. Kenangan yang indah.

'tok..tok..tok..' ku arahkan pandanganku ke pintu. 'Siapa yang bertamu malam-malam begini?'. Lebih baik cepat kubuka.

Dan yang kulihat ialah sesosok perempuan dengan baju biru dan rambut coklat sebahu, Elli. Dia membawa sebuah bungkusan berwarna merah muda.

"Silahkan masuk" aku mempersilahkan Elli masuk ke rumah kecilku. Aku menyeret kursi kecil agar di duduki oleh Elli. Dan Elli duduk di sana disebrangku. Saling berhadapan. Berdua,

disatu rumah. Aku mulai membayangkan …

"Terima kasih, Jack. Jack?" aku langsung tersadar dari lamunan*mesum*ku karena Elli yang melambai lambaikan tangannya di depan wajahku.

"Oh.. ya.. . Eee… ada perlu apa kamu kemari?" Kenapa aku malah berbicara seperti Mary. Sudahlah lupakan.

"Aku mau memberimu ini." Elli menyodorkan bungkusan berwarna merah muda tadi. Aku membuka bungkusan itu dan terdapat sebuah kotak berwarna coklat cerah. 'Hanya peraaanku saja atau memang kotak ini mirip dengan warna kornea mataku?'. Itu tidak penting. Lebih baik aku melihat isinya.

Dan isinya terdapat sebuah salad turnip yang aku sukai dengan toping-toping tambahan yang menambah selera makanku. Aku mengambil sumpit yang ada di ataas kotak coklat tadi, dan mulai memakannya.

'BODOH'. Kenapa aku lupa melupakan orang yang memberiku makanan ini?. Aku melihat kea rah Elli. Dia hanya tersenyum melihat yang melah membuatku kembali gugup.

Aku berdiri dari dudukku setelah aku menghabiskan salad yang ada di mulutku. Dan kemudian berjalan kearah tas kakakku. Dan aku menemukan barang yang kucari yaitu sumpit.

Secepatnya aku kemabali ke tempat dudukku semula. Dan terlihat Elli yang kebingungan atas semua kegiatan yang baru saja aku kerjakan. Elli dengan wajah yang kebingungan juga terlihat …. MANIS.

"Kamu pakai ini saja" Aku menyodorkan sumpit yang ku ambil tadi. Elli masih tampak kebingungan. Yang tambah membuatku ingin mencubit pipinya.

"Aku juga ingin kamu menikmati makanan enak ini" Setelah aku manjelaskannya barulah Elli mengerti maksudku. Elii mangambil sumpit dari tanganku sangat anggun *menurutku* membuat ku terpesona dalam kecantikannya.

Aku sungguh senang bisa makan bersama Elli. Rasanya hatiku sangat tenang ketika ditemani Elli. Aku sedikit merasakan beban pundakku yang semakin ringan.

Dan ketika aku ingin mengambil potongan terakhir sumpit kami berdua bersamaan mengapit sebuah radish. Aku langsung merasa kalau pipiku berwarna merah.

"Untukmu saja" Elli menyuruhku memakn potongan terkhir dengan mukanya menhadap ke belakang. Dan aku memotong radish itu manjadi dua. Kumasukkan potongan pertama ke mulutku. Dan potongan selanjutnya akan kusuapkan kepada Elli.

"Elli!" Elli menoleh dengan wajah yang memerah."Ini potongan terakhir" ucapku sambil menyodorkan potongan radish tadi ke Elli. Elli membuka mulutnya dengan ragu-ragu. Tapi pada akhirnya dia mau untuk membuka mulutnya dan "nyam" terlahaplah potongan terakhir.

Terlihatlah seorang perempuan dengan baju biru dan selingan putih di sekitar lehernya sedang tergesa-gesa. Dia berlari ke arah peternakan CJ FARM.

'tok tok tok' "Jack! Jack! Apa kau di dalam?" Suara itu terdengar khawatir bisa di lihat dari air mukanya. "Jack!" Meskipun dia berteriak tapi suaranya tetap terdengar lembut.

"Ada apa Elli?" Jack keluar dari kandang sapi dengan membawa sikat sapi. Jack yang melihat Elli panic langsung menghampirinya.

"Jack…huh….Claire…huh…Claire!" Elli terlihat kelelahan setelah berlari dari klinik ke rumah Jack. Peluh keringat membasahi wajah Elli yang putih. Dan membasahi sabagian seragamnya di bagian kerah.

"Elli, atur dulu nafasmu, baru bicara. Oke tariiiik keluarkan" Setelah Elli mengatur nafasnya dia mulai bicara kepada Jack.

"Calire sudah.." Elli tiba memutus perkataannya yang membuat Jack penasaran. Di lihat dari wajahnya Jack masih lelah stelah mengurus peternakannya.

"Claire kenapa?" Jack mulai memegangi pundak Elli dengan sedikit keras karena penasaran. Elli menatap Jack dengan dengan tatapan kesedihan.

"Claire…." Memotong perkataanya lagi tapi sekarang dia meneruskanperkataannya. "Meninggal" setelah Elli mengucapkannya Elli langsung menunduk.

Mata Jack membulat sempurna dengan mulut yang terbuka. Pupil coklatnya mengecil. Nafasnya mulai tak beraturan. Ingin rasanya dia menagis. Tapi tertahan akan kagetnya.

Kakak kenapa kau meninggalkanku. Aku belum siap untuk hidup sendiri. Aku rindu keceriaanmu. Aku rindu senyummu. Aku rindu pukulanmu. Jack membatin dan mengingat semua yang pernah dia lakukan bersama kakaknya.

Elli juga tampak sedih mengatakannya pada Jack. Dia tak tega akan kejadian yang minggu-minggu ini menimpa Jack. Yang mungkin walau beberapa hari mereka baru berkenalan. Tapi Elli mereasa senang dan nyaman bilamana di dekatnya. Dipeluknya Jack kedalam dekapannya. "Menangislah semaumu, tanganku selalu terbuka untukmu" Dipersilahkannya Jack menangis di pelukannya.

Jack langsung memeluk Elli. Air matanya menyeruak keluar tak bisa dibendung lagi. Semua kesedihan ditumpahkannya dengan tangisan yang terbilang keras.

Setelah Jack mulai tenang dia mulai membersihkan sisa air mata di pelupuk matanya. Tadi berlangsung selama beberapa menit.

"Ayo kita ke klinik" Jack mengajak Elli sambil mengambil tas kecil oranyenya.

"Apa kau tak apa?" Elli masih khawatir dengan keadaan Jack yang masih shock.

"…." Jack hanya membalas dengan mengagguk. Setelah Jack mengunci pinti rumahnya. Dia menggandeng tangan Elli dengan menggenggamnya erat, erat sekali.

Bagaimana kelanjutan dari hidup Jack? Nasib dari ladangnya? Atau pasangan hidup.

.

.

.

.

.

.

Akhirnya selesai juga. Maaf ya atas banyak typo yang berterbangan. Dan juga kayaknya feel-nya kurang kerasa.

Di Chapter ini Jack memang sedikit cengeng. Maaf ya buat Jack FC. Aku juga nggak tahu kenapa aku buat Jack cengeng.

Yah saya hanya mengucap terima kasih karena telah meluangkan waktu untuk membaca fic saya. Dan tolong beri revew, tapi kalau nggak juga nggak papa koq. cerita ini akan tetap saya lanjutkan. terima kasih

R

E

V

E

W

ll

V