"Hmm... hei, bagaimana kalau kita buat kenang-kenangan?" seru Natsu sambil nyengir dengan cengiran khasnya. Teman-temannya semua menghadap ke sang empunya suara dengan tatapan bertanya.

"Kenang-kenangan apa? Tumben kau punya ide cemerlang seperti itu, Salamander," komentar Gajeel sambil menyeringai ke arah Natsu.

Cengiran Natsu makin melebar ketika dia menyerukan apa yang ada dalam pikirannya.

"Ayo kita buat Time Capsule!"


A Fairy Tail Fanfiction

Sakura-colored Time Capsule

Disclaimer: Hanya milik Hiro Mashima-sensei, saya hanya meminjam beberapa karakternya kok, gak semua. Tenang saja.


[Someone, somewhere, suggested it. An ordinary "Time Capsule Plan".]

"Time...capsule?"

Mereka menatap sepasang onyx indah milik orang yang baru saja mengeluarkan ide—yang menurut mereka aneh bagi Natsu untuk mengetahui hal-hal jarang seperti itu, apa lagi time capsule—dari otaknya.

"Tunggu, aku pernah baca di buku... time capsule—atau kapsul waktu itu kan biasanya dipakai untuk menyimpan barang berharga atau apapun untuk dibuka di masa depan, kan?" Levy menunduk mengusap dagunya serius, lalu kembali menatap Natsu yang masih setia menampakkan barisan gigi-gigi putihnya.

"Oh! Aku juga ingat, banyak komik-komik ataupun drama yang tokoh-tokohnya membuat kapsul waktu, lalu saat mereka dewasa nanti, mereka berkumpul lalu membuka kapsul waktu itu bersama!" Wendy menimpali dengan wajah berbinar sambil menepuk tangannya.

Mimik wajah mereka berbinar setelah mendengar pernyataan dari Wendy tersebut. Lucy pun tak luput, ditatapnya Natsu dengan semangat.

"Lalu, bagaimana cara membuatnya?" Tanya Gray tak kalah antusias.

Natsu yang sedari tadi nyengir menghentikan kegiatannya tersebut. Wajahnya berubah serius, dia mengusap dagunya, menutup matanya. Terlihat dia berpikir keras lalu suara gumaman terdengar darinya. Tak lama, dia membuka matanya sambil menepuk sebelah tangannya dengan kepalan tangannya yang lain.

"Oh—"

Semua mata tertuju pada Natsu yang akhirnya membuka suara, masih dengan tatapan antusias.

"—sayangnya aku tak tahu caranya,"

Hening.

Sesaat setelah keheningan mendadak, sebuah hadiah jitakan spesial dari Erza mendarat di kepala pink Natsu dan membuat Natsu tak sadarkan diri dengan tiga buah benjolan bertingkat di kepalanya.

Mereka mendengus serempak.

"Aku lupa kalau si Salamander itu idiot," Gajeel menoleh ke arah Levy. "Kau tahu caranya tidak, Kecil?"

Levy hanya menggeleng dengan wajah kusut yang disangga dengan telapak tangannya.

"Sudahlah, apa gunanya internet, hah? Ayo browsing!" Lucy mengeluarkan android smartphone-nya dengan bangga, lalu mulai mengetik keyword untuk mencari cara membuat kapsul waktu di suatu situs pencarian.

Senyumnya melebar setelah apa yang dia cari sudah dia dapatkan.

"Di sini tertulis, kita harus menyiapkan kotak atau wadah apapun, yang kedap udara, umm... bisa pakai kaleng bekas, kok. Lalu selotip besar, hanya itu." Lucy membaca dengan seksama, lalu dia mengadahkan kepalanya. "Sepertinya mudah!"

"Baiklah kalau begitu, siapa yang punya kaleng bekas?" Erza mengedarkan pandangannya ke arah teman-temannya. Kepalanya terhenti ketika melihat Juvia mengangkat tangannya.

"Juvia sepertinya punya kaleng bekas di rumah," Erza mengangguk lalu dia menolehkan kepalanya lagi ketika Wendy mengeluarkan suara.

"Aku punya selotip besar."

"Emm... bagaimana kalau kita hias sedikit? Aku yang akan membawa hiasannya," ucap Levy riang.

"Baiklah, kalau begitu besok kita bawa kalengnya untuk dihias!" Erza mengangkat tinjunya ke udara dengan semangat.


Mereka berdua berjalan beriringan bermandikan cahaya kemerahan yang dipancarkan sang surya yang sudah ingin terlelap di tempat peristirahatannya. Tak jarang terdengar candaan dan gelak tawa dari mereka berdua.

Seperti biasa, Natsu dan Lucy selalu pulang bersama semenjak Lucy menolak untuk diantar-jemput oleh supir pribadinya. Lucy lebih menyukai pulang bersama sahabatnya daripada diantar-jemput supir pribadinya. Lucy lebih merasa bebas—

—dan juga tenang jika bersama Natsu.

Lucy tersentak karena pemikirannya sendiri, dia menggelengkan kepalanya dengan kuat. Wajahnya merona tipis, hampir tidak terlihat karena efek cahaya dari sang surya.

"Luce, ada apa?" Natsu menatap Lucy bingung. Pasalnya, Lucy yang dari tadi tertawa tiba-tiba menggelengkan kepalanya.

"Ti-tidak ada apa-apa kok! Ehe...he...hehe," ucap Lucy sembari tertawa canggung.

Mendengar jawaban Lucy, Natsu mengangkat sebelah alisnya lalu menggumam.

Keheningan tercipta di antara mereka berdua. Salahkan saja Lucy yang tiba-tiba canggung berada di dekat Natsu. Jantungnya tak berhenti berdetak kencang. Lucy terus berjalan sambil menunduk—untuk menutupi wajahnya yang terus merona—menatapi kakinya yang sedang menginjak jalan setapak berdebu.

"Luce, soal kapsul waktu, kau ingin menyimpan apa di dalamnya?"

Suara Natsu memecah keheningan di antara mereka berdua. Lucy mengadahkan kepalanya untuk melihat wajah Natsu yang berbinar. Lucy tahu, Natsu sangat bersemangat dengan rencananya ini. Entah Lucy tak habis pikir, dari mana dia mendapatkan ide cemerlang seperti membuat kapsul waktu untuk menyimpan kenangan mereka.

Lucy mengusap dagunya, lalu bergumam pelan.

"Aku tidak tahu, kau sendiri?"

Natsu menyeringai, lalu menggaruk pipinya yang sama sekali tidak gatal.

"Aku mau menyimpan sesuatu yang akan aku berikan kepada orang yang berharga untukku nanti," Lucy yang masih menatap Natsu terbelalak kaget. Dia mengerjap-ngerjapkan matanya, masih tak percaya akan apa yang ada di depan matanya—

—wajah Natsu yang merona.

Deg.

Lucy masih tercengang melihat wajah Natsu yang menurutnya sangat manis sekarang—

—apa? Manis?

Yah setidaknya itu yang sedang dipikirkan Lucy sekarang.

Namun, ada satu hal yang mengganjal di hatinya, membuat dirinya sesak entah kenapa. Lucy merutuki perasaannya sendiri. Rasa sesak memenuhi relung hatinya.

"Tidak mungkin, kan... aku pasti hanya kelelahan," batinnya. Lucy tersenyum.

Tiba-tiba, perkataan Levy dua hari lalu saat dia curhat tentang Gajeel datang lagi mengganggu pikirannya. Ya, dia tahu, dia masih ingat dengan jelas apa yang Levy katakan waktu itu.

"Lu-chan, tapi saat melihat Gajeel dekat-dekat dengan gadis lain, aku merasa sesak dan panas. Sepertinya aku cemburu,"

Lucy tersentak, dia menutup matanya erat, menepis semua pikiran anehnya.

"Jangan bercanda, masa aku cemburu sama Natsu. Aku kan tidak menyukainya," lagi-lagi batin Lucy menepis pemikirannya sendiri.


Aku menghempaskan diriku ke tempat tidur empuk kesayanganku. Ya, aku baru saja sampai di rumah dan aku harus berterima kasih kepada Natsu yang mau mengantarku pulang.

Natsu.

Aku mengacak-acak rambutku sendiri. Jujur, aku bingung. Kenapa akhir-akhir ini pikiranku selalu dipenuhi oleh Natsu, Natsu, dan Natsu. Ada apa denganku sebenarnya?

Bukankah seharusnya aku memikirkan kepindahanku ke Crocus sebentar lagi?

Sial.

Seharusnya aku tidak memikirkan soal Natsu sialan itu sekarang.

Aku memeluk gulingku, membenamkan kepalaku. Aku termenung memikirkan apa yang akan Natsu simpan di kapsul waktu nanti, dan siapa orang yang berharga baginya itu.

Memikirkannya entah kenapa malah membuatku ingin menghancurkan barang di sekitarku saja. Hatiku panas dan sesak. Hey, kenapa sih aku?

Mana mungkin aku menyukainya, kan? Dia sahabatku!

"Argh, sudahlah!" aku beranjak dari tempat tidurku menuju ke kamar mandi. Mungkin berendam bisa menenangkan pikiranku.

Aku mengambil handuk dan baju ganti lalu membawanya ke kamar mandi yang ada di dalam kamarku.

Saat aku baru mau masuk ke bath tub yang telah terisi air panas, tiba-tiba handphone-ku berbunyi, menandakan adanya telepon masuk.

Aku bergegas mengambil handukku dan kembali ke dalam kamar untuk mengambil handphone yang tergeletak di atas tempat tidurku.

"Levy-chan?" aku segera mengangkat panggilan dari Levy sembari menuju kamar mandi untuk berendam.

"Halo?"

"Halo, Lu-chan!" terdengar suara riang Levy dari seberang, aku tersenyum.

"Levy-chan, ada apa?"

"Umm... begini, Lu-chan, aku bingung aku harus membawa hiasan apa untuk menghias kalengnya besok," aku mendengar suara Levy yang terdengar sedikit ragu. Benar juga, dia kan yang akan membawa hiasan untuk kaleng.

Aku berpikir sebentar, "Bagaimana kalau di cat saja," ucapku.

"Benar juga, menurut Lu-chan, bagusnya cat warna apa?" tanyanya lagi. Iya juga ya, kaleng itu sebaiknya di hias seunik mungkin agar hasilnya menarik.

Aku berpikir sejenak, jika hanya satu warna tentu kalengnya tak akan menarik. Aku menutup mataku untuk berpikir—

—eh, benar juga. Kenapa bukan itu saja.

"Beli cat warna-warni, Levy-chan! Kita akan menghias kaleng itu dengan warna bunga sakura tujuh warna, menarik, kan?" kataku dengan semangat. Aku bisa mendengar suara Levy yang tak kalah semangatnya.

"Ide bagus, Lu-chan! Aku akan membeli catnya sekarang! Sudah dulu ya, sampai jumpa be—"

"—tunggu!" aku menghentikan Levy untuk menutup sambungan teleponnya. Mungkin saja dia bisa membantuku, kan?

Mungkin, kan?

"Ada apa, Lu-chan?"

Deg.

Aku merasa tidak nyaman, jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Sebenarnya ada apa denganku?

Padahal aku hanya ingin meminta pendapat Levy saja, kan? Apa yang salah?

Aku hanya ingin meminta pendapat Levy tentang perasaanku, tentang rasa aneh yang selalu muncul dalam diriku, tak lebih kan?

"Lu-chan?"

Aku tersentak dari lamunanku setelah mendengar Levy memanggil namaku lagi.

"Eh, iya, maaf Levy-chan, ehehe. Jadi begini, aku mau minta penapatmu," aku menggigit bibir bawahku.

"Eh, tumben sekali, Lu-chan.. pendapat apa?"

Aku lalu menceritakan semua yang aku rasakan ke Levy. Tentang rasa panas dan sesak yang memenuhi relung hatiku saat mendengar Natsu mempunyai orang yang berharga baginya, semua yang aku rasakan aku ceritakan pada Levy.

Dan aku kesal saat mendengar Levy tertawa dari seberang sana.

"Aduduh, Lu-chan... kamu cemburu sama Natsu? Kamu suka ya sama dia?" aku melotot entah kepada siapa mendengar Levy mengatakan hal—yang tidak mungkin—seperti itu.

"Mana mungkin aku suka sama Natsu! Dia kan sahabatku! Toh aku hanya kesal saja kenapa aku tak tahu dia punya orang yang berharga baginya!" aku memanyunkan bibirku kesal. Aku mendengar Levy tertawa lagi.

"Kamu jelas cemburu, Lu-chan. Kamu suka sama dia," ucap Levy lembut. Aku terdiam, larut dalam pikiranku sendiri.

Aku? Suka sama Natsu?

Tapi, kenapa bisa?

"Hey, Lu-chan, kalau kamu memang punya perasaan untuk Natsu, kenapa kamu gak jujur saja sama dia?" aku tersadar dari lamunanku, aku terdiam tak bisa mengatakan apa-apa.

Jujur tentang apa? Aku saja tak mengerti bagaimana perasaanku. Selama ini aku menganggap Natsu tak lebih dari sahabat. Dia memang sedikit ceroboh, bodoh, tidak peka. Tapi dia baik, manis, perhatian, lucu, tampan—

—tunggu, Tampan?

Wajahku memanas saat wajah Natsu melintas di pikiranku. Aku memekik pelan lalu menggelengkan kepalaku.

Ah, diriku mesum! Kenapa aku memikirkan Natsu saat sedang berendam begini?!

"Halo, Lu-chan? Kau masih di sana?" suara Levy menyadarkanku lagi, aku menghela napas pelan.

"Levy-chan, apanya yang 'aku harus jujur' pada Natsu? Aku tak mempunyai perasaan apapun ke dia kok, aku tak menyukainya!"

"Hmm, kalau begitu, coba kau pikirkan nanti, aku mau pergi belanja hiasan dulu. Sampai jumpa besok, Lu-chan!" sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Levy, aku hanya mendengus dan meletakkan handphone-ku di meja wastafel di samping bath tub.

Aku segera menyelesaikan mandiku yang sempat tertunda, setelah memakai baju aku langsung lompat ke tempat tidurku. Aku melirik sebentar ke meja belajarku yang di atasnya terdapat laptop yang masih dalam sleep mode—tentu aku tahu karena lampu navigatornya masih berkedip-kedip. Ah, aku tak punya feel menulis malam ini.

Aku menenggelamkan wajahku ke dalam bantal, kata-kata Levy barusan masih terngiang di kepalaku.

Benarkah aku menyukai Natsu?

Tapi kalau kupikir, aku memang merasakan gejolak yang aneh saat aku berada di dekatnya. Tidak seperti saat aku di dekat Gray atau si Loki.

Aku merasa nyaman saat berada di dekat Natsu.

Aku merasa terlindungi saat berada di dekat Natsu.

Aku senang saat berada di dekat Natsu.

Aku bahagia saat berada di dekatnya.

Aku tersenyum. Benar, aku sudah banyak menghabiskan waktu dengannya.

Dibandingkan dengan yang lain, aku lebih sering bersama dengan Natsu. Aku benar-benar nyaman dengannya.

"Aku mau menyimpan sesuatu yang akan aku berikan kepada orang yang berharga untukku nanti,"

Kata-kata Natsu yang barusan melintas di pikiranku sukses membuatku kesal. Memang siapa sih orang berharganya si Natsu?

Memangnya aku kurang berharga, hah?

...eh.

Kenapa aku berharap menjadi orang berharganya dia?

"ARGH!" aku melempar bantal yang aku gunakan untuk menenggelamkan kepalaku tadi ke sembarang arah. Aku menggembungkan pipiku.

Lho, kenapa aku marah?

Apa aku cemburu?

Aku terdiam beberapa saat. Ya, aku tahu sekarang. Aku tahu perasaanku sekarang. Aku tak sebodoh itu untuk terus mengelak, kan?

Benar apa yang dikatakan Levy.

Kupikir, aku menyukai Natsu.

Aku tersenyum, lalu menutup mataku. Bersiap menuju ke alam mimpi.


"SELESAI!"

Sore itu, mereka telah selesai menghias kaleng yang akan mereka gunakan untuk membuat kapsul waktu. Mereka tampak puas dengan hasil kerja mereka, walaupun terdapat masalah saat menghias—seperti percekcok-an Gray dan Natsu saat memilih warna—namun mereka menyelesaikannya juga.

"Heh, jadi besok sudah upacara kelulusan, ya." Gray berkacak pinggang sambil melihat langit sore lewat jendela. Dia mendengus, memperlihatkan dada bidangnya karena seragamnya entah sudah pergi ke mana.

"Juvia tidak mau berpisah dengan Gray-sama, hiks!" Juvia mengaitkan kedua tangannya di lengan Gray, lalu menangis. Gray hanya bisa pasrah tangannya akan basah karena air mata Juvia yang kelewat banyak itu.

"Berpisah apanya, kau juga nanti pasti akan ke Universitas Fairy, sama seperti Gray, kan? Kalian tak akan terpisah, Juvia." Ucap Erza sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Benar juga! Juvia senang, Juvia akan terus bersama Gray-sama!" teriak Juvia yang masih memeluk lengan Gray, namun kali ini lebih kencang daripada sebelumnya.

Bisa terdengar suara tulang retak dari arah Gray.

"Gihee, kalau begitu saatnya pulang! Siapa yang akan menyimpan kaleng ini?" ucap Gajeel sambil mengangkat kaleng yang telah dihias.

"Aku saja yang membawanya, Gajeel-san," ucap Wendy sambil mengangkat tangannya, wajahnya terlihat berbinar melihat kaleng yang sedang dipegang Gajeel tersebut.

"Sepertinya kau sangat suka kaleng itu, Wendy," ucap Natsu mengangkat kedua alisnya, lalu melipat kedua tangannya di depan dadanya.

Wendy tersenyum, diambilnya kaleng yang sudah dihias itu dari tangan Gajeel, lalu dipeluknya dengan gemas.

"Habisnya, ini manis sekali!"

"Oh, oke, ayo pulang!" Gray mengambil tas-nya lalu berjalan menuju pintu kelas. Diikuti Wendy yang masih berseri-seri dengan kaleng yang menurutnya manis itu, lalu Erza, Gajeel, Juvia dan Levy.

Natsu mengambil tasnya, ia juga hendak menuju pintu kelas untuk pulang, namun ia merasakan sebuah tangan menahan ujung kemejanya. Ia menoleh mendapati Lucy yang masih duduk di tempatnya. Ia menaikkan sebelah alisnya, lalu berbalik menghadap Lucy.

"Ada apa, Luce? Ayo pulang,"

Lucy tak bergeming, ia hanya menatap Natsu dalam diam, membuat pemuda di hadapannya sedikit risih.

Lucy akhirnya menghela napas keras-keras.

"Natsu, ada sesuatu yang harus aku bicarakan. Duduklah dulu,"

Natsu menurut, ia menarik bangku di sebelahnya dan menempatkannya tepat di depan bangku Lucy, lalu ia duduk menghadap ke arah Lucy yang masih diam.

"Kau ingin membicarakan apa?"

Lucy tampak ragu, ia meremas ujung roknya sendiri. Ia menunduk, tak mau bertatapan langsung dengan Natsu.

"Luce? Kau kena—"

"Maaf," kata-kata Natsu terpotong oleh ucapan maaf dari Lucy. Natsu yang tambah bingung menaikkan sebelah alisnya.

"Kenapa kau meminta maa—"

"Maaf karena aku tidak memberi tahu sejak awal, Natsu. Maafkan aku." Ucapan Natsu kembali di potong oleh Lucy yang kini sudah bergetar. Natsu membelalakkan matanya ketika melihat air mata Lucy yang kini terjun bebas di pipi porselennya.

Natsu tak tahu harus berbuat apa. Ia bingung, kenapa Lucy tiba-tiba menangis seperti ini.

Diulurkan tangannya untuk mengusap puncak kepala Lucy.

"Natsu, aku..."

Natsu menajamkan pendengarannya, ditatapnya Lucy dengan intens sembari tetap mengusap kepalanya.

"...maaf...aku..." Lucy berusaha menahan suaranya agar tidak bergetar, namun sia-sia. Suaranya tetap terdengar bergetar walau pelan. Lucy menatap wajah Natsu yang sedari tadi menatapnya.

"...aku...akan pergi dari Magnolia, Natsu."

Tangan Natsu yang sedari tadi mengusap kepala Lucy terhenti. Tangannya kaku—bukan hanya tangannya—seluruh badan Natsu kaku mendengar pernyataan dari Lucy.

Pergi...

dari... Magnolia?

"Pergi? Luce, kau mau kemana?" ucap Natsu setengah berbisik.

"Crocus, aku akan kuliah di sana."

Natsu terdiam. Ia tahu jarak Crocus dan Magnolia tergolong jauh—sangat jauh malahan. Kalau begini, ia tak bisa bertemu dengan Lucy lagi, kan?

Lucy juga tak akan bisa bertemu dirinya dan teman-temannya yang lain, kan?

Natsu menggertakkan giginya.

"Aku bingung, Natsu. Aku tak mau pergi kesana. Aku tak mau berpisah dengan kalian. Aku ingin tinggal di sini. Aku ingin kuliah di Universitas Fairy seperti kalian..." ucap Lucy setengah mendesis. Air matanya masih turun dengan derasnya dari manik karamel indahnya.

"Aku...tidak mau pindah ke Crocus, Natsu!" tangisan Lucy makin menjadi.

Natsu menatap Lucy dengan miris. Ditariknya Lucy ke dalam dekapannya. Dia mengelus rambut Lucy dengan lembut. Membiarkan gadis itu menumpahkan emosinya.

"Jadi hal ini yang mengganggu pikiranmu kemarin, Luce?" Natsu merasakan Lucy mengangguk di dalam dekapannya. Natsu menghela napas pelan.

Lucy masih menangis di dalam dekapan Natsu. Dia menangis sejadi-jadinya.

Lucy merasakan adanya rasa hangat memenuhi relung hatinya. Dia merasa nyaman.


Upacara kelulusan telah usai. Murid-murid pun berkumpul untuk berbagi kebahagiaan dengan teman-temannya. Semuanya, tanpa terkecuali.

Termasuk mereka.

Mereka telah berkumpul di bawah satu-satunya pohon sakura tujuh warna di halaman belakang sekolah.

Dapat terlihat di situ telah digali sebuah lubang yang cukup dalam untuk mengubur kaleng yang mereka hias kemarin. Tentu dengan barang-barang yang menurut mereka menyimpan kenangan saat mereka bersama.

Mereka tidak lain adalah Erza Scarlet, yang memasukkan sepucuk surat dan piring kecil yang biasa ia gunakan untuk memakan cake strawberry-nya saat istirahat siang ke dalam kaleng.

Erza tentu menghiraukan tatapan aneh dari teman-temannya.

"Erza, kenapa kau memasukkan piring cake?" Saat Natsu dan Gray menanyakan hal itu, Erza malah menampakkan wajah horornya.

"Daripada kalian yang aku kubur?"

Dan kata-kata itu berhasil membungkam sepasang frienemy itu.

Lalu ada Juvia Lockser yang tidak segan-segan memasukkan kolor milik Gray yang entah darimana ia dapatkan. Tentu saja kolor itu sudah ditulisi dengan berbagai macam tulisan—salah satunya 'Juvia adalah milik Gray-sama dan Gray-sama milik Juvia selamanya' dengan tinta warna warni—dan berhasil membuat Gray pucat pasi.

Lalu Gajeel Redfox yang memasukkan berbagai macam paku dan mur ke dalam kaleng dan mengundang tatapan aneh dari teman-temannya.

Ada Wendy Marvell yang memasukkan boneka kucing putih mini yang telah diselipkan surat.

"Untuk aku baca nanti di masa depan, bagaimana reaksiku saat membaca surat itu, ya?" katanya sambil terkikik.

Lalu Gray Fullbuster yang memasukkan sepucuk surat. Hanya sepucuk surat dan itu membuat Natsu heran.

"Kenapa kau hanya memasukkan sepucuk surat, hah, Ice-head?"

"Kok lo protes?! Suka-suka gue dong, dasar Flamebrain!"

"Kampret lo, dasar mata sayu!"

"Mata sipit!"

"DIAM!" bentakan Erza berhasil membungkam mereka seketika.

Levy McGarden memasukkan beberapa lembar kertas kedalamnya. Lalu dia nyengir saat ditanyai tentang kertas-kertas itu.

"Itu hasil-hasil ulangan terbaikku saat aku bersekolah di sini!" jawabnya dengan ceria.

Lalu giliran Natsu Dragneel yang memasukkan sebuah kotak beludru kecil yang masih disegel oleh pita berwarna kuning. Ia tersenyum sebelum memasukkan kotak beludru itu.

"Ini untuk orang yang berharga untukku nanti," gumamnya lalu ia benar-benar memasukkan kotak beludru itu ke dalam kaleng.

Lucy menatap Natsu sebentar lalu ia maju ke dekat kaleng dan memasukkan dua pucuk surat dengan amplop berwarna merah muda dengan motif bunga sakura.

Setelah semua barang telah masuk, Erza menyegel kaleng itu dengan selotip besar yang sudah dibawa Wendy dengan erat. Lalu Gajeel mengubur kaleng itu dan ia beri tanda dengan papan kayu yang sudah ditulisi:

'Kapsul Waktu ini milik Natsu, Gray, Lucy, Erza, Wendy,Levy, Juvia dan Gajeel. Dikubur tanggal xx tahun X791 dan akan dibuka tanggal xx tahun X801.'

Lucy tersenyum, ia menatap wajah sahabat-sahabatnya satu per satu. Lalu ia menundukkan badannya. Membuat teman-temannya kebingungan.

Belum sempat Erza mengeluarkan suaranya untuk bertanya, Lucy telah mendahuluinya.

"Maaf aku tidak memberi tahu hal ini dari awal kepada kalian," Lucy berdiri tegak, menatap teman-temannya lagi. Lalu ia melanjutkan.

"Aku akan meninggalkan Magnolia dan akan melanjutkan studiku di Crocus." Sontak mereka—minus Natsu yang mengalihkan pandangan—kaget mendengar pernyataan dari Lucy.

"Aku senang telah mengenal kalian semua. Aku bahagia, terima kasih." Lanjut Lucy yang kini telah mengeluarkan air matanya. Ia tersenyum lebar ke arah sahabat-sahabatnya yang kini bergetar.

Bahkan Wendy dan Levy sudah mulai mengeluarkan air mata.

"Lu-chan, ka-kapan kau berangkat ke Crocus?" Levy menghampiri Lucy dengan mata yang sudah sangat basah, siap untuk mengeluarkan butiran-butiran bening dari matanya.

"Levy-chan..."

"Iya, Lucy-san, kapan kau akan berangkat?" timpal Wendy yang kini sudah menangis.

"Aku—"

Bunyi handphone milik Lucy menginterupsi perkataannya. Ia mengambil handphonenya dari saku kanannya, membuka kunci layar dengan cepat lalu membaca pesan yang baru saja masuk.

Lucy menghela napas.

"Aku akan berangkat sekarang, aku sudah dijemput supirku di depan. Maafkan aku semuanya, aku tidak bisa berlama-lama di sini," Lucy memeluk Levy dan Wendy yang sudah menangis. Erza menghampiri mereka bertiga, menepuk pelan pundak Lucy.

"Lucy, ingat sepuluh tahun kedepan, kau harus datang ke tempat ini, di tanggal yang sama. Tidak ada pengecualian. Kau harus datang," Erza tersenyum ke arah Lucy yang mengangguk lalu membalas senyuman Erza.

"Bunny-girl, saat dirimu kembali, kau harus jadi orang yang sukses. Gi hee!" Gajeel mengacungkan ibu jarinya kearah Lucy, lalu menyeringai. Lucy balas mengacungkan ibu jarinya dan mengedipkan sebelah matanya.

"Kau juga, saat kau kembali, aku harap kau sudah peka terhadap perasaan gadis yang menyukaimu!" Levy memerah mendengar ucapan Lucy.

"Lucy, jangan lupakan kami, ya." Gray tersenyum lalu mendekati Lucy, menepuk pelan pucuk kepala Lucy. Lucy tertawa pelan.

"Juvia akan merindukanmu," Juvia memeluk Lucy dan mulai menangis. Lucy membelai punggung Juvia pelan.

"Aku juga akan merindukanmu, Juvia." Sahutnya.

Lucy yang sedang dikerubungi oleh sahabat-sahabat lainnya tidak menyadari akan keberadaan Natsu yang sedari tadi mengalihkan pandangan.

Bukan, bukan karena Natsu tidak ingin melihat Lucy. Ia hanya—

—belum siap menerima kepergian Lucy.

"Salamander?" sebuah suara terpaksa membuat dirinya mengalihkan pandangannya ke arah kerumunan yang sedang mengerubungi Lucy.

"Apa, muka besi?"

"Cosplay-girl akan pergi, kenapa kau tidak kemari? Ini terakhir kalinya kita bersama dia lho,"

Natsu mendekat ke arah kerumunan itu, ia berdiri tepat menghadap ke arah Lucy. Lalu ia tersenyum—senyum lembut yang belum pernah ia keluarkan selama ini.

"Ini bukan terakhir kalinya," Natsu menarik tangan Lucy agar mendekati dirinya. Ia memegangi kedua tangan Lucy dengan erat.

"Berjanjilah, sepuluh tahun lagi kau harus kembali, Luce." Natsu menunjukan seringai trademark-nya.

Lucy tercengang. Ia merasakan hatinya hangat. Ia merasa ia lebih siap untuk meninggalkan Magnolia karena kini ia sadar,

Ini bukanlah yang terakhir kalinya.

Benar, ia akan bertemu dengan para sahabatnya lagi, sepuluh tahun yang akan datang, ia akan bertemu dengan mereka di sini.

Lucy tersenyum lembut. Ia menganggukan kepalanya lalu memegang kedua pundak Natsu.

"Sebelum aku pergi, Natsu, ada suatu hal yang ingin aku katakan,"

Natsu menaikkan sebelah alisnya, menunggu apa yang akan dikatakan oleh Lucy.

"Kau tahu, Natsu," Lucy menarik napasnya dalam-dalam, lalu menatap mata Natsu dengan lembut.

"Berhentilah bertindak ceroboh," Lucy mencubit pipi Natsu pelan. Lalu ia berbalik meninggalkan sahabat-sahabatnya.

"Aku mencintaimu, Natsu." Gumamnya pelan, sangat pelan sehingga tidak ada yang mendengarnya.

Lucy berbalik lagi, lalu berteriak dari kejauhan.

"Aku akan kembali sepuluh tahun lagi, di tanggal yang sama, di tempat ini! Aku akan merindukan kalian, jadi jangan putus hubungan denganku, ya! Jika kalian ganti nomor atau e-mail, hubungi aku!"

Lucy melambaikan tangannya dan di balas oleh sahabat-sahabatnya.

"Dan aku harap, aku bisa mengatakan perasaanku yang sebenarnya sepuluh tahun yang akan datang," batinku.


-end-


Author Notes:

OMG APA INI APA INI APAA-/diam. Oke, akhirnya fic ini selesai juga. Uum, alurnya terlalu cepat kah? Maaf orz;

dan terima kasih, ternyata fanfic perdanaku di FFTI mendapat sambutan yang luar biasa! Terima kasih banyak *bows.

Dan aku lupa bilang, fanfic ini terinspirasi dari sebuah lagu dengan judul yang sama. Lagu karangan Suzumu, seorang Vocaloid produser yang masih muda nan ganteng /jduk.

Jadi, ada yang mau sekuel? /hus.

Oh, review anda sudah saya balas satu per satu lewat PM, jadi saya disini hanya akan membalas review yang menggunakan Guest Account saja, oke! /o/

Reka amelia: oke ini sudah dilanjut, terima kasih ya! /o/ selamat membacaaaa~

Sadsa: Terima kasiiih X3, umm... aku anime sama manga tinggal nunggu yang baru aja kok XD ehehehe. ini sudah di update, selamat membacaaa /o/

santika widya: makasiii x3 ini sudah dilanjut, selamat membacaaa /o/

LHearfilia: Makasih ^^ ini sudah dilanjut, selamat membaca XD

Yosh, akhir kata... terima kasih sudah membaca! Review yang membangun sangat dibutuhkan ya ^^

Salam Hangat,

-Nacchan