.

.

Title : Yīnwèi yǒu nǐ ( Because of You )

Chapter Two

Author : Titan18

Genre : Romance - Friendship - Family - Crime - Hurt/omfort

Cast : Huang Zi Tao - Wu Yi Fan ( Kris ) - Xi Luhan - other EXO Member, etc.

Rated : M

Disclaimer : All cast belong to them Management ! i just owned the story ^^

Warning :

BOYS LOVE! Yaoi! Rape Scene

.

.

Author tidak menerima berbagai jenis Flame dalam Kotak Review Nanti ne ^^

.

.

Tidak Suka ? Jangan Baca!

That's Simple Point

.

.

.

.


Flashback.

D-2 to South Korean.

Seorang pemuda tampan nyaris dikatakan sangatlah manis memiliki bentuk tubuh ramping dengan tinggi yang sempurna, tidak memakai kemiliteran seperti biasanya. Sebuah waist pant berwarna cokelat dan kaos hitam ketat, berjalan angkuh dan mengangguk biasa saat diberi penghormatan oleh para junior dengan tingkat level dibawahnya.

Tidak ada yang spesial dari penampilannya, kecuali sebuah jaket antipeluru yang menutupi kaosnya.

Huang Zi Tao yang namanya sudah dikenal oleh para prajurit kemiliteran hingga Pejabat penting di Republik China.

Tap.

Tap.

Langkahnya yang anggun menggema sepanjang koridor sekolah kemiliteran yang pernah dimasukinya dulu,

SRET.

Tao menjajaki langkahnya, membuka pintu sebuah Gymnasium tempat pelatihan yang luas. Seketika para junior yang mengetahui kedatangannya membuat barisan rapi tanpa berani mengeluarkan suara sedikitpun.

Tap.

Tap.

Salah satu junior, bisa dibilang pemimpin dalam barisan itu baru saja akan membuat perintah penghormatan akan tetapi segera digagalkan oleh suara sang Mayor.

"Perhatian"

Suaranya yang mengalun membuat para juniornya menahan napas, sepertinya pelatih mereka dalam suasana mood yang sangat buruk.

"Tanggung jawab dan Statusku sebagai Instruktur untuk taktik lapangan akan dialihkan pada Mayor Song" seru Zi Tao dengan tegas, sedikit ada nada tidak rela didalam ucapannya. Bagaimana pun Huang Zi Tao dululah yang memilih melatih para prajurit juniornya itu.

Tanpa disadarinya, para junior itu berpandangan tak berani mengeluarkan suara bahkan saat Huang Zi Ta sudah berbalik pergi keluar ruangan tempat latihan.

Sang pemimpin barisan menjatuhkan tubuhnya, "Yah... padahal Mayor Huang baru saja melatih kita tak sampai setahun, Huh aku jadi tidak bersemangat".

"Aku selalu kagum padanya, bukan hanya cantik tapi dia sangat hebat bisa mengalahkan sebelas orang dari kita dengan tangan kosong" timpal salah satu dari mereka.

"Sst.. jika Mayor Huang mendengar kau memujinya cantik bisa dihukum kita"

"Eh, ada apa ya kira-kira? Mayor Huang tampak terbebani sekali, bahkan wajah malaikat tanpa ekspresinya sama sekali tertutup wajah murungnya?"

"Padahal aku sudah bersemangat sekali pagi ini, bayangkan saja walaupun sekali dalam sebulan tapi kalau dilatih oleh Mayor Huang itu berbeda"

Sang pemimpin barisan yang mendengar keluh kesah rekannya tertawa, "Pesonanya memang luar biasa, seandainya aku lebih kuat pasti Mayor Huang akan melirikku"

"Cih, jangan harap. Kau harus berhadapan dengan kami semua"

"Banyak yang rela menjadi Gay hanya untuk Mayor Huang, lebih baik kalian berhenti berharap. Mayor Huang terlalu sulit untuk digapai Hahahaha salah-salah kalian sudah duluan kalah berhadapan dengannya"

Dan yeah... akhirnya para prajurit tidak lagi membentuk barisan dan hanya menggosipkan salah satu pemuda cantik yang sangat difavoritkan oleh semua orang itu.

.

.

.

.

Setelah berganti pakaian lapangan dengan pakaian resminya, Zi Tao segera menuju kantor kemiliteran dan mengetuk pintu ruangan Sang atasan -Jenderal Tan Hangeng.

KLEK.

Tan Hangeng mengangkat wajahnya, memandang sepasang iris gelap milik Huang Zi Tao. Pria paruh baya itu menghela napas dan mempersilahkan Tao meduduki bangku didepan meja kerjanya.

'Bahkan aku belum mempersilahkannya masuk' batin pria tua itu.

"Sudah kau pikirkan?" seru sang Jenderal.

"Aku tidak bersedia" ucap Tao dengan cemberut.

Tan Hangeng menarik napasnya mencoba memaklumi perasaan lawan bicaranya, "Kau harus hormat padaku Mayor Huang, bersikaplah profesional. Kau memakai pakaian militer dibawah pangkatku"

"Tapi Jenderal, kita hanya berdua."

"Apa aku harus memanggil prajurit lain menonton agar kau bisa bersikap hormat padaku Mayor Huang"

Huang Zi Tao terkejut, sosok Jenderal yang sudah dianggapnya Paman tidak main-main sepertinya. Oh tapi Tao sudah memikirkan ini sejak kemarin, perintah yang diberikan Hangeng dirumahnya kemarin masih membuat Tao merasa aneh. Kenapa harus dia? Tao hebat... Misinya selalu berhasil tapi ini terlalu berat bukan karena fisik tapi batin dan perasaannya.

Huang Zi Tao tak ingin misi ini akan menjadi kegagalannya yang pertama selama memegang jabatan seorang Mayor -pejabat dalam Kemiliteran.

"Jangan melibatkan perasaanmu Tao, Bertanggung jawablah"

Masih memasang wajah cemberutnya, Tao terpaksa mengeluarkan kekhawatirannya "Jenderal, siapa sebenarnya status Xi Luhan? Dia hanya anak seorang aktris bukan? Ya kecuali fakta kalau dia anak kandung dari Brigadir Huang"

"Aku tahu cepat atau lambat kau akan bertanya, aku sudah bersamamu sejak kecil Mayor Huang. Kau punya rasa ingin tahu yang besar, kakek Xi Luhan atau Ayah dari Artis Xi Xiao Yu adalah Menteri pertahanan Negara China"

Tao mengangguk, "Baiklah, aku akan menerima tugas ini. seperti bodyguard ? Oh GOD, aku lebih memilih misi Lapangan"

"Ini misi lapangan Zi Tao"

"Ya.. Ya.. Ya.. Melindungi dua anak hasil selingkuhan gelap, dan pewaris Wu Corp. sang jutawan Cina yang terkenal. Great, kelam sekali dunia ini."

Hangeng berusaha untuk tak mengangkat sebelah tangannya untuk menampar sang Mayor muda, "Jaga mulutmu Huang Zi Tao, yang kau maksud adalah anak dari orang berpengaruh di dataran China. Kau hanya perlu mengawasi dan melaporkan siapa dan apa saja kegiatan mereka"

Tao bungkam, ingin membalas tapi merasa percuma. Memang siapa dirinya? Jabatan Tao terlalu jauh untuk menentang sang Jenderal.

Hangeng sadar bahwa dia telah melukai batin pemuda dihadapannya, suaranya sedikit melembut–

"Misi tunggal Mayor Huang, tugasmu hanya memantau mereka dari jauh saja selama sebulan. jangan membuat langkah-langkah yang dapat membuat penyamaranmu ketahuan, kau berada di sana tanpa status resmi pemerintahan China. Jika ketahuan maka bukan hanya statusmu yang dicabut, perjanjian politik China dan Korea Selatan bisa terganggu"

"Siap, Jenderal" seru Tao, bangkit dari kursinya dan memberi hormat resmi.

"Sekarang pergilah, kau tidak usah kembali ke markas dan persiapkan segala kebutuhanmu agar dapat menyesuaikan diri dengan kehidupanmu selama bertugas"

Tao tersenyum tipis, "Aku pamit, Paman ahh.. maksudku Jenderal Tan"

Tan Hangeng membalas senyumnya, memperhatikan Tao yang sudah menghilang dibalik pintu. Seolah teringat, pria paruh baya itu menyentuh telepon kantornya dan menekan nomor salah satu bawahannya.

Plip.

"Mayor Song, tolong gantikan posisi Mayor Huang pada pelatihan prajurit"

"..."

Sebelah alisnya terangkat, "Benarkah? Baiklah selamat bertugas"

Plip.

Hangeng tiba-tiba tertawa, "Anak nakal, berkata tidak mau padahal sudah melangkah jauh dari yang kuduga."

Matanya terpaku pada potret bingkai foto yang berisi dua orang sahabat yang memakai pakaian kemiliteran, "Sahabat, aku tidak tahu harus berada di pihak mana saat ini. Kesalahan fatal yang kau buat dulu bukan hanya berdampak pada hubunganmu dengan Almarhum istrimu, anak-anakmu Huang Zi Tao dan Huang Luhan. Aku penasaran akan seperti apa wajahmu kalau tahu aku mempertemukan mereka, Brigadir Huang"

Kali ini pandangannya menerawang kearah berkas kecil dengan cap kepresidenan China, berkas yang sama yang diberikan pada Tao kemarin.

Flashback End.


.

.

.

.

Suara gemerisik pancuran air terdengar beberapa saat sebelum berhenti,

Cklek.

Huang Zi Tao baru saja keluar dari kamar mandi hanya dengan dibalut bathrobe putih, pemuda itu mendudukan tubuhnya pada bangku kecil didepan lemari hias. Setelah memastikan tangannya kering, Tao mengambil sebuah hair dryer yang telah dicolokkannya terlebih dahulu.

Grrrr... Grrrr...

Suara berisik mesin kecil itu sama sekali tak diperdulikan, Tao terus mengeringkan rambutnya hingga setengah basah kemudian kembali menaruh benda itu. Kata ibunya tidak baik untuk kesehatan rambut jika terus dikeringkan seperti itu, lebih baik alami. Dan Zi Tao lebih memilih setengah-setengah, dikeringkan menggunakan mesin setengah dan sisanya biarkan mengering alami.

Ah lupakan.

Tao membenarkan jubah mandinya yang sedikit terbuka, matanya terpaku saat beberapa goresan bekas luka lama dan memar baru terlihat.

–Huh.

Kembali mengangkat wajahnya, pemuda itu tersenyum kecil. Mengagumi struktur wajahnya yang tampan –menurut Tao– setelah puas, dengan telaten dan terlatih Zi Tao mengambil berbagai macam perlengkapan perang a.k.a kosmetik, serum, dan vitamin yang berguna untuk merawat wajahnya.

.

.

.

.


#

"Tao –er ibu sudah bilang kan, anak ibu itu harus memperhatikan perawatan wajahnya nomor satu. Kau itu cantik dear, ingat apapun yang terjadi jangan biarkan seorangpun me-lukai wajahmu oke"

Tao mengerucutkan bibirnya, menatap kesal saat ibunya menarik Zitao kesana kemari memasuki semua Shop yang ada pada mall besar itu. Yang membuatnya malu terlebih karena Zitao masih mengenakan seragam kemiliteran.

'Uh, ibu... mana ada hadiah kelulusan seperti ini' batinnya pasrah.

"Sudahlah ibu, kulitku itu bisa-bisa alergi" protesnya

Sang nyonya Huang hanya tertawa singkat, "No... No... No... umurmu sudah 19 tahun, dan itu wajar saja dear. Ibu sangat senang melihat wajahmu, mirip sekali dengan Ayahmu saat muda dulu"

"Tsk, kenapa ibu tidak memaksa ayah saja"

"Ayahmu terlalu err –jantan?! Sedangkan kau... ya ampun Ibu bangga sekali punya anak laki-laki semanis dirimu dear"

Akhirnya, 'Manis' – 'Cantik' – apa lagi yaa? Huang Zi Tao sudah bosan dengan pujian itu sedari dulu, membuatnya capek dan letih kalau harus protes setiap waktu.

Mana ada seorang lulusan sekolah kemilitiran yang jago tembak, pintar berkelahi, pandai berperang, cerdas bertaktik se –Manly dirinya dikatakan seperti itu.

"Ohh... Ibu, setidaknya tadi aku ganti baju dulu. Ini memalukan"

#


.

.

.

.

Tak butuh waktu lama, setelah memilah-milah pakaian dengan merk fashion ternama yang baru saja dia beli sebelum berangkat kesini -dengan kartu kredit milik Tan Hangeng- Huang Zi Tao memutuskan memakai black denim pant yang terasa ketat bagi Tao, t-shirt black cotton dengan leher V-neck ( yang untungnya tak mengekspos bekas lukanya).

Tao memperhatikan penampilannya lagi, 'Tidak buruk'.

Semua merek pakaian yang dibeli Zitao adalah 'Gucci', serius... satu pieces kaos yang dipakai Tao saja harganya $240. Sebenarnya masih ada branded terkenal seperti Balenciaga, Armani Exchange, Miu Miu, dan blahhhhh masih banyak lagi. Sayangnya Huang Zi Tao tak peduli dan asalkan 'Gucci' itu merk brand fashion terkenal maka cukuplah itu saja.

Begini yaa... Zi Tao itu tidak terbiasa memakai pakaian khas remaja normal lainnya, Tao lebih suka segala hal yang terlihat rapi dan bersih dan terlihat berkelas. Seperti kemeja dan jas?! Seleranya cukup parah dan sangat formal. Mereknya pun apa saja asalkan terlihat pas.

Apapun itu lah, Huang Zi Tao terbiasa dengan memakai pakaian pilihan ibunya -semuanya -Tao manja?! Tidak. Dia bahkan tidak ingin menjadi sosok manja seperti itu, sekali lagi Tao ingin menyalahkan ibunya yang kelewat protektif dengan segala hal menyangkut anak semata wayangnya tercinta.

Tao itu pandai loh, walaupun sedikit lemah dalam bidang matematika sih -_-

Masa elementry school diselesaikan tepat waktu, Junior high school & Senior high school justru dilewati dengan cepat karena mengikuti kelas akselerasi. Sejak kecil Huang Zi Tao kecil sangat menghormati dan mengagumi ayahnya dulu, itulah yang memotivasinya untuk masuk kedalam sekolah kemiliteran. menjadi Kebanggaan ayahnya, Zitao tidak menyesal karena buktinya dia mampu.

Jabatannya saat ini sudah cukup membuktikan keprofessionalitasnya,

Menyesuaikan sikap dan tingkah lakunya nanti selama beberapa saat kedepan itu perlu, dan Huang Zi Tao sudah menyiapkan dirinya lahir dan batin. Ini tidak akan mudah, Hangeng memang tidak memaksanya untuk berteman dan berusaha mendekati mereka secara pribadi tapi bagaimanapun juga Tao gugup.

'Ah... pukul 8 malam'

Tao bergegas mengacak rambut hitamnya, bertingkah 'sok cakep' didepan cermin dan tersenyum setengah hati pada bayangannya.

Setelah memastikan ponselnya sudah dimasukan, Zitao segera bergegas melapisi kaosnya dengan sebuah wool cardigan berwarna putih senada dengan warna sandalnya.

Baru saja pemuda manis itu menutup pintunya, sepasang tangan tanpa aba-aba melingkar dipinggang Tao tanpa permisi.

"HEY apa –y"

SRET.

Zitao kembali merapatkan bibirnya saat sosok kurang ajar itu memutar tubuhnya sendiri hingga membuat Tao yang pada dasarnya tak siap justru bersandar pada dada bidang namja pelaku, posisi mereka yang berdempetan membuatnya dapat mencium aroma maskulin dari tubuh orang dibelakangnya.

'Sshhh.. diamlah' bisik orang itu.

"See... Minki -ya? Namja ini jadi partner seksku malam ini, jadi sebaiknya kau menyerah untuk memaksaku oke" suara berat dengan seringaian menyebalkan dari namja dibelakangnya membuat Zitao tak suka.

'Ahh... hampir saja anak ini kuwushu' pikir Tao kesal.

Seolah tersadar, Tao menatap kedepan -kearah sosok cantik yang masih berstatus 'laki-laki' walaupun rambut pirangnya sebahu dengan poni dijepit.

'Hell yeah... Seperti wanita'

Choi Minki meremas kepalan tangannya erat, menatap kearah Tao dengan tatapan tak suka yang sangat kentara. "Tapi kau sendiri udah berjanji untuk melakukan seks denganku di kafetaria tadi, Kai" protesnya, bibir pink alami itu mengerucut seperti yeoja.

WHAT?!

Kim Jongin a.k.a Kai menarik nafasnya, "Sudahlah, kita bisa melakukannya lain waktu. Nah ayo..."

Eh?

Huang Zi Tao membulatkan kedua matanya saat tubuhnya diseret masuk kedalam kamarnya lagi, tapi tidak sendiri -pemuda yang dipanggil Kai ikut masuk tanpa permisi dan menutup pintunya dengan bantingan keras.

Kim Jongin melepaskan tangan Tao seketika, mengeluarkan cengiran seinnocent mungkin saat melirik wajah kelam Tao.

"Ah maaf, seperti biasa namja itu menyebalkan. Tadi aku ingin meminta bantuan Kyungsoo baby yang kamarnya didepan kamarmu tapi yahhh kebetulan sekali kau yang keluar dan aku terpaksa memakai dirimu sebagai tameng dan -"

"Cepat keluar"

Kai tersenyum konyol, sepertinya pemuda itu tidak menyadari bahwa Tao sedang mencoba menahan emosinya sendiri.

"Dengar dulu, walaupun aku terkenal sebagai seorang mantan cassanova tapi aku berubah oke ? hatiku dan tubuhku sekarang hanya milik Kyungsoo baby. Hah.. ini semua karena taruhan Sehun hinggga Choi Minki yang genit itu terus mengejarku dan Yah kau tahu aku minta maaf. Hey tunggu... apa kau namja transferan itu? Ya aku baru ingat kalau didepan kamar Kyungsoo baby itu kosong"

Tao memijit keningnya, suasana damai dan hening yang sempat dirasakannya beberapa saat lalu pecah sudah, pemuda didepannya itu bahkan dengan lancangnya melihat-lihat kamarnya.

Dan apa tadi? Seks? Taruhan? Siapa itu Kyungsoo baby? Sehun?

Tao berjalan dengan langkah tegap,

Sret.

"Tunggu" tanpa memperdulikan protes pemuda yang seenaknya itu, Tao membuka kamarnya sembari menarik tangan Kai kemudian mendorong tubuh pemuda itu keluar kamarnya.

Klek.

Tok. Tok. Tok.

"Heyyy -apa kau marah, aku minta maaf oke." teriak Kai dari luar kamar, sesungguhnya namja dengan kulit eksotis itu terkejut Tao berhasil mendorongnya. Padahal Kai benar-benar sudah mengeluarkan tenaganya untuk bertahan.

'Tentu saja, dasar hitam'

Tok.

Tok.

"Ah aku lupa menanyakan namamu" teriaknya lagi.

'Memangnya penting, bodoh cepat pergilah' batinnya.

Tao bersandar dibelakang pintu, melipat tangannya dengan gaya tidak sabar. Dari bawah bayangan lampu yang terlihat dari pintu kamarnya, Tao sadar kalau pemuda itu masih berdiri didepan kamarnya.

"Lupakan, lebih baik aku mengetuk pintu kamar Kyungsoo baby" seru Kai pasrah, Zitao mengangguk setuju.

Krik.

Krik.

Merasa lega beberapa saat, Tao berbalik memegang kenop pintunya dan memutarnya pelan agar tidak menimbulkan suara. Berniat mengintip tapi justru kedua bola matanya menangkap bayangan sosok namja manis yang berjalan melewati pintu kamarnya menuju dapur lantai itu.

'Zhang Yixing'

Dengan perlahan tanpa menimbulkan suara, Tao melangkah keluar dan mengtapkan kartu identitas yang juga berfungsi sebagai kunci kamar pada mesin pintu agar terkunci.

Untung saja Kai sudah tidak ada lagi, mungkin Kyungsoo babynya sudah membukakan pintu.

Lokasi dapur lantai itu memang berdekatan atau bisa dibilang strategis berada di samping kamarnya,

"Ehem... ah haus sekali" ucapnya manja, Tao sengaja memakai bahasa mandarin berharap namja yang seumuran dengannya itu menyadari.

Tao mendekat, memperhatikan bahwa Yixing hanya mengambil sebuah susu sachet dan berbalik ingin pergi lagi.

DUG.

"Awwww" pekiknya dengan sedikit dibesarkan, berpura-pura menabrakan kakinya pada pinggiran lemari kaca yang berisi gelas dan piring.

"..."

Yixing berbalik, memandang Tao yang sedang menunduk meringis kesakitan sembari memegangi lututnya.

'Setelah diperhatikan lebih jelas, wajahnya hampir mirip dengan presiden Zhang' pikirnya. Tao memberikan cengiran kecil, membuat wajahnya terlihat konyol dihadapan namja manis itu. Zhang Yixing bahkan sama sekali tak merubah pandangan datarnya... tidak dingin hanya kalian tahu...? seperti tidak ada ekspresi.

Sikapnya sangat tenang, membuat senyuman Tao luntur.

1 detik.

2 detik.

3 detik.

dan –Yeap, Zhang Yi Xing berlalu tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun untuk Tao.

'Oh great... Tao sekarang kau yang tampak bodoh karena diabaikan' pikirnya asal.

Tao mengerutkan dahinya beberapa saat, melipatkan tangannya dengan gaya angkuh sebelum "Arghhhh..." menggeram tertahan dan menghentakan kakinya kelantai berulang kali, sangat kesal.

.

.

.

.

Berbeda dari universitas pada umumnya, Ada banyak rahasia yang ada pada Perguruan tinggi ini, SBIC ( Seoul Business International College ).

Gedung SBIC yang terdiri dari 3 Gedung utama berada di Ibukota negara Korea Selatan, Seoul. Bukan menjamin bahwa tempat ini dikelilingi bangunan mewah dan publik mall atau jalanan dan gedung terkenal seperti District Gangnam, Lotte world, 63 Building di Yeouido, D-Cube city di Sindorim Station. SBIC berada didaerah terpencil, masih didalam wilayah Seoul pada Gangseo District -lokasinya tertutup dan berada didekat aliran sungai besar Seoul.

Bangunannya Kampusnya hampir mirip Kastil dalam versi mini milik Arcadia University, sedangkan bangunan kedua yaitu asrama yang ditempati mahasiswa.

Gedung Asrama ini terdiri dari 4 lantai dengan sebuah rooftop luas yang diisi tiap angkatan ( FYI karena Zitao semester 3 menempati Lantai 2), arsitektur gedung ini seperti sebuah Dome House, yang berwarna putih terlihat indah dengan arsitektur kubah yang unik dan menarik.

Gedung ketiga adalah bangunan dua lantai yang lebih biasa, simple dan minimalis. Tempat yang sengaja dibagi dua dan bisa diakses mahasiswa 24 jam penuh, lantai 1 berisi perpustakaan sedangkan lantai 2 diisi dengan ruang Komputer dan pusat Wifi.

Bisa dibilang tempat ini sangatlah terisolasi, ponsel yang digunakan Tao hanya berfungsi untuk melakukan panggilan dan pesan singkat hanya pada 80 Nomor mahasiswa yang sudah didaftarkan khusus.

Jaringan dan akses Internet hanya didapatkan pada gedung ketiga dengan seluruh server yang telah dibatasi, inilah alasan kenapa tempat ini Sangat Menyebalkan bagi Zi Tao. Kenapa Hangeng terus mewanti-wantinya dengan keras agar tidak ketahuan.

Tempat ini bukanlah untuk sosok sepertinya, mereka yang berada didalam disini adalah kumpulan namja terpilih yang harus melewati seleksi ketat. Sedikit heran, Zi Tao memikirkan bagaimana caranya Tan Hangeng berhasil meloloskannya.

Posisi gedung ketiga dibelakang 'Dome House' dan harus melewati jalan lebar yang dikelilingi pemandangan pohon dan taman yang cukup bagus membuat Tao sedikit rileks, angin yang menerpa tubuhnya membuat namja cantik itu mengeratkan cardigannya.

Tap –

Tap –

"Menyebalkan sekali, seharusnya mereka memberi info lebih cepat sedikit. Untung saja aku menyelesaikan tugas tepat waktu, bisa-bisa dihukum Mrs. Selena besok" salah satu dari tiga namja dengan tinggi yang sama rata berjalan dengan memegang beberapa buku.

'Pasti dari perpustakaan' pikir Tao.

Ketiganya berjalan dari arah yang berlawanan dengan Tao,

"Iya, party kali ini diatap setelah jam 10 malam. Park Chanyeol yang menyediakan semuanya, hah padahal baru saja beberapa hari lalu mereka membuat acara lagi. Kau pergi Moonkyu –ya?" tanya temannya yang lain.

Kim Moonkyu yang berada diposisi paling ujung mengendikan bahunya, "Tentu saja, lagian siapa yang mau menolak eoh? Suho hyung saja fine-fine dengan komplotannya"

Salah satu namja yang sedikit manis, yang dikenal Tao sebagai orang yang pertama kali bicara tampak mengangguk antusias. "Malam ini panas lagi, apalagi pasangan mesum Chanyeol dan Baekhyun dan Kris Hyung dan Lulu Hyung juga hadir"

Tao hanya mengacuhkan bahunya, dalam hatinya bergidik 'dasar anak muda'. Sedikit memikirkan party apa yang mereka maksudkan, begitu berpapasan dengan ketiga orang itu Tao hanya menunduk tak peduli.

"Yeap, masih ingat pesta Sehun kemarin? Oh astaga Lulu Hyung yang cantik itu sampai memerah sempurna" tawa salah satu dari mereka, Tao tak melihatnya karena mereka sudah berada dibelakang.

"Kemesuman sang Wu Yi Fan itu sudah terkenal sejak dulu, Hahaha"

DEG.

Tao berhenti, pemuda manis itu menelan salivanya gugup.

'Wu Yi Fan? Ah, sang pewaris Wu itu ya?', sedikit mendengus Tao kembali melanjutkan perjalanannya. Dia harus mengirim email pada Hangeng dan memberi tahu pria tua itu kalau Tao sudah tiba dengan selamat.

Urusan party dan disebutnya nama Wu Yi Fan bisa diurus belakangan, mungkin setelah Tao pulang dan membuat makan malam untuk dirinya sendiri.

.

.

.

.

Ini konyol,

Atap yang seharusnya sepi dan tenteram disulap menjadi redup dengan musik techno bervolume yang sangat menyakitkan bagi telinga Tao, namja manis itu yang masih memakai pakaiannya tadi benar-benar mendatangi atap dan berusaha untuk tetap mempertahankan ekspresi stoicnya saat melihat berbagai macam puluhan botol bir dan minuman keras jenis lainnya bertebaran dibeberapa sudut meja.

Sofa yang entah didapat dari mana diletakan di beberapa tempat, pasangan namja yang terlihat sedang memadu kasih saling melumat bibir pasangannya masing-masing.

Lainnya terlibat pembicaraan dengan tangan memegang gelas yang sudah bisa Tao tebak diisi apa, aroma rokok yang langsung bertubrukan dengan udara bebas masih sanggup ditoleransi indera penciumannya.

Pantas saja, koridor lantai satu dan dua kamarnya terlihat sepi.

Baiklah ini sesak dan terasa sempit, mungkin saja masih ada beberapa mahasiswa lainnya yang tak ikut bergabung tapi... astaga bagaimana mungkin perguruan tinggi seperti ini?

Tao yang masih berdiri didepan satu-satunya pintu di atap berakhir dengan mulut menganga dengan ekspresi aneh,

'Suho? Dan... Zhang Yi Xing' ketajaman matanya masih berfungsi untuk memperhatikan kedua orang itu, kakinya melangkah mencoba mendekat –bagaimanapun perintah Hangeng tanpa disadari membuat Tao memutuskan mencari tahu.

Apalagi namja yang sempat mengacuhkannya itu terlihat seperti akan menangis, sedangkan Suho –namja yang seharusnya bertanggung jawab sebagai Ketua Asrama malah membentak namja manis itu.

'Sial' batin Tao tak suka.

SRET.

Tubuh Tao tiba-tiba didorong entah siapa membuatnya terhimpit saat menyadari Suho telah menarik Yi Xing dari tepi atap,

Zi Tao menutup matanya, mencegah rasa mual yang melanda karena aroma bir tercium jelas dan sepertinya akan menempel pada pakaiannya karena terus bersinggungan dengan kerumunan namja-namja ini.

Matanya kembali berjelajah saat sadar kerumunan didekatnya berkurang, para namja-namja itu berjalan kearah tengah atap dan menyoraki sesuatu.

Tao tak dapat melihat jelas, namja itu terlalu fokus mencari keberadaan Yi Xing.

"Kris"

"Kris"

"Chanyeol"

"Chanyeol"

Namja manis itu kembali melihat bimbang kearah pintu, 'Bisa saja mereka kembali, tapi...' tatapannya kembali menatap kearah kerumunan, sedikit penasaran dengan apa yang mereka ributkan membuatnya ikut berbaur.

'Uhh..' tubuhnya memanas saat merasa beberapa tangan tak sengaja bersinggungan dengan tubuhnya yang terus mencoba menyusup.

"Hey"

Tak memperdulikan protes, Zi Tao berhasil menarik napasnya lega saat berhasil maju kedalam barisan yang paling depan. Kepalanya ditengadahkan menghirup udara bebas sebisanya.

Bias pantulan cahaya membuat Tao sedikit banyak melihat empat namja –pasti dua pasangan yang sedang berkerumun dengan banyak botol minuman keras dan empat gelas. Dua namja yang lebih manis itu menatap masing-masing pasangan dengan wajah yang memerah sempurna.

DEG.

DEG.

"Lu..Luhan" bibirnya bergetar, menatap dalam shock kearah namja manis bertubuh kecil. Namja yang disebut Luhan itu keadaan kacau sekali, kemeja putihnya terbuka sedikit mempelihatkan beberapa bekas hickey atau kissmark yang sepertinya belum lama ini dibuat.

Wajah namja manis itu memerah karena efek mabuk, pandangan matanya sudah tak konsen. Tao meremas cardigannya, perasaan yang tak dapat tergambarkan membuat tubuh Tao ingin limbung saja jika salah satu namja tampan disampingnya tak menahan tubuhnya.

"Kau baik-baik saja? Mabuk eoh? Wahh.. kau cukup manis" namja yang memeluk pinggangnya dan menyeringai mesum itu segera tertawa saat Tao menatapnya linglung dan mencoba kembali berdiri tegak.

Huang Zi Tao menutup matanya, liquid bening seolah memaksa keluar dari kedua iris gelapnya.

"Siapa kau?" tanya Tao pelan, nyaris berbisik.

Namja tampan itu mengernyit, sadar bahwa Tao bertanya padanya menggunakan bahasa Mandarin.

Oh Sehun menarik tubuh Tao kearahnya, mendekatkan wajahnya ketelinga Tao dan sedikit memperbesar suaranya karena kondisi sekitar cukup ribut.

"Oh Sehun.. Sehun, apa kau mahasiswa transferan itu?"

Zi Tao mengangguk tanpa sadar, matanya menatap kearah dimana Xi Luhan dan Yeah... namja dengan senyum angkuh menyebalkan yang wajahnya sudah dihafal mati oleh Huang Zi Tao.

Namja itu... Wu Yi Fan, kekasih Xi Luhan.

Sehun yang menyadari pandangan namja manis didekapannya menyeringai lebar, "Cih, Chanyeol Hyung dan Kris Hyung membuat uke mereka tak berdaya"

"Ap-apa yang akan mereka lakukan?" tanyanya yang masih tak sadar menggunakan bahasa ibunya –mandarin.

Sehun yang cerdas tentu saja telah lancar berbahasa bahasa China hanya menunjuk mereka acuh, "Tentu saja mereka taruhan, pasangan siapa yang akan bertahan mereka menang dan yang kalah harus menuruti pasangan yang menang, memangnya kenapa? Kau tertarik? Bagaimana kalau berpasangan denganku"

Tao menahan napasnya, tak benar-benar mendengarkan penjelasan Sehun.

BRAK.

Tao melepaskan paksa pelukan Sehun, membuat tubuh namja tampan itu tak siap dan terbanting ketanah –tindakan itu membuat kondisi sekitar seketika menjadi senyap dan semua orang beralih memandang kearah Tao.

Wu Yi Fan dan Park Chanyeol yang masih sadar berpandangan saja dan kembali melirik para uke mereka dengan pandangan mesum, Tao yang sudah merasa muak dan entah kenapa perasaannya seolah terluka berjalan kearah keempat namja itu.

Pandangan matanya yang tajam, menusuk kearah Kris.

"Ikut denganku"

Kris memandang Tao dengan tatapan meremehkan, "Hn?"

Tao mengeraskan rahangnya, mencoba tidak kelepasan dan justru menghajar wajah tampan menyebalkan itu. Sedikit melirik kearah Luhan yang benar-benar teler dan hampir tak sadarkan diri membuat Tao dengan seluruh kekuatannya menarik tangan Kris tanpa ijin.

BRAKKK

Prangggggggg

Zi Tao yang berhasil membuat Kris bangun menendang meja hingga membuatnya terbalik, bunyi pecahan beling terdengar disela dentuman musik.

"FUCK" umpat Kris kasar.

Tao memandangnya dan tersenyum miring, mengangkat tangan kanannya yang bebas dan mengacungkan jari tengah kedepan wajah sang Wu, "Fuck You Too, Wu Yi Fan"

Sret.

Kerumunan segera membuka jalan saat Tao berjalan dengan menyeret tangan Kris, seolah terhipnotis tak ada yang berani mencegah namja manis itu. Ekspresi Kris yang shock dan hopeless karena tak dapat melepaskan diri membuat yang lainnya tak macam-macam,

'Tenaga monster' batin Kris.

"Kim Jongdae" panggilan dingin Tao membuat Chen yang berada dibagian tengah mengangguk kaku,

Tao memberi kode dengan arah tangannya, "Antarkan Luhan dengan selamat kekamarnya sekarang, Jangan macam-macam atau...

Pranggggg

Aku akan menghancurkan kalian dengan pecahan botol, Arraseo?"

Glup.

Chen menelan salivanya dengan susah payah, namja itu berseru dengan gugup "I-iya"

Kris bahkan tak sanggup menyela, aura dan sikap memerintah namja yang menariknya sangat menekan. Apalagi Zi Tao masih memegang pecahan botol yang dirampasnya dari salah satu anak.

"Jawab dengan sungguh-sungguh" teriak Tao.

"IYA" balas Chen cepat, keringat dingin mengalir dari pelipis namja itu.

Tap –

"Lepaskan a –"

Tao memandang Kris tajam, membuat namja itu kembali mengunci bibirnya dan membiarkan saat Tao terus menariknya hingga menuju Pintu besi atap dan

BRAK.

Membanting pintu itu tanpa perasaan.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued

.

Fact about BOY ( Because Of You )

Umur Tao 23 Tahun memasuki 24 Tahun, yaa jelas bahwa Tao di FF ini lebih tua dibandingkan cast EXO lainnya.

Luhan sama sekali tidak mengenal Tao ataupun ayah Tao, karena sudah dijelaskan author di Chapter satu bahwa Ibu Luhan tetap mengaku sebagai Single Parent.

Tao sedang menyamar sebagai mahasiswa semester 3 berarti tahun kedua, umur 18 Tahun. Setingkat dengan Zhang Yi Xing -Anak hasil hubungan gelap Presiden Zhang. Yang sudah diketahui adalah Suho, Kris dan Luhan berada di tingkat tujuh –tahun ke empat atau tahun terakhir,

Zhang Yi Xing : 18 Tahun

Kim Joonmyeon : 20 tahun.

Wu Yi Fan ( Kris ) : 21 tahun.

Xi ( Huang ) Luhan : 20 tahun.

Di FF ini umur Kris lebih tua satu tahun dari cast lainnya.


A/N:

Sepertinya chap ini membosankan T^T, so classy dan garing. Kayak sinetron ._.

Mianhae jika terdapat typo(s) yang menyebar. No edit ._.

Buat readers setia, author mau ngasih tahu nih jadwal Update Next Chapter untuk Klan Xue tanggal 30 May 2014. Untuk XOXO akan diupdate Dua hari setelah Klan Xue, Crooked akan diupdate dua hari setelah XOXO.

Untuk jam pastinya belom bisa ditentukan, so stay tune and check notif emailnya *deep bow.

Saranghae yeorubun, big thanks buat para reviewer, para followers dan semua readers yang sudah mengfavoritkan FF ini ._. gak menyangkan FF BOY diminati juga hehehehe...

( Mind to Review? ) [x]


Mai Mei : Hei dear... aku ingat kok -_- gini2 memori author cukup baik untuk mengingat pen name reviewer di tiap ff nya, kkeke~

Maaf apabila, cast dan umur cast FF ini tidak berkenan dihati readers sekalian *uhuk* semua demi jalan cerita :3 *modus* padahal sekali2 author pengen bikin story dimana Maknae Tao baby lebih dewasa umur dibandingkan semua member EXO padahal ga yakin sikapnya bakal sedewasa umurnya apa kagak ? -_-

Hahahaha, maafkan daku Naga Pedo :p disini Zi Tao bukan Baby lagi ._.

xoxo

Titan18