"Maaf saja, tetapi aku ingin sedikit bermain dengan kalian. Carilah maksud dari kalimat ini, maka kalian akan menemukan apa yang kalian cari."

"Semakin lebat rambutku dan tua umurku di setiap awal kemunculan sang raja, dan disaksikan oleh dua persegi panjang tak sempurna dan berlubang di bagian pentingnya."

26 | 19

"Hee!? Apa ini-ssu!?" teriak Kise yang sama sekali tidak mengerti.

"Ck, seseorang ingin berurusan dengan kita." ujar Aomine.

"Kita harus mencari maksud kalimat ini." ujar Kuroko.

"Ya! Ayo!" Kise berseru, sementara Aomine yang mulai serius hanya mengangguk.

Bantu Kuroko, Kise, dan Aomine mencari maksud kalimat itu!

##########

####Tasku Hilang!####

##########

Disclaimer : Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi

WARNING! 1000% OOC, TYPO, GaJe, bahasa tidak baku, bikin mules di kepala & pusing di kaki, dan hal-hal nistaaaa lainnya!

Jangan dibaca kalo dirasa nggak menarik, tapi kalo penasaran & tahan sama kenistaannya, ya monggo! /dilemparbolabasket

##########

####Tasku Hilang!####

##########

Kise kembali membaca kalimat itu, dan menemukan sebuah ide.

"Ah, begitu ya! Mungkin ini menunjukkan si pelaku-ssu!" seru Kise.

"Mana mungkin si pelaku menunjukkan dirinya dengan mudahnya!" protes Aomine.

"Ah, iya juga sih.." ujar Kise pelan.

"Mungkin, maksudnya 'aku' di sini berada di tempat yang tetap.." kini giliran Kuroko yang menganalisa.

"Eh?" Kise dan Aomine bingung mendengar kalimat Kuroko.

"Kan tertulis 'disaksikan oleh dua persegi panjang tak sempurna dan berlubang di bagian pentingnya', berarti mungkin 'aku' selalu berada di sana." lanjut Kuroko.

"Ah, benar juga." ujar Aomine.

"Lalu apa maksud dari 'dua persegi panjang tak sempurna dan berlubang di bagian pentingnya'-ssu?" Kise kembali bertanya.

"Aku tidak tahu." jawab Kuroko seadanya.

"Haah, kenapa harus seperti ini-ssu.." keluh Kise. Dirinya pun memandang jendela kelasnya, yang menyuguhkan pemandangan murid-murid yang sedang bermain di lapangan sepak bola. Terlihat seorang pemain sedang menggiring bola dengan lincahnya, lalu menendang bola tersebut ke pemain lainnya. Pemain yang menerima bola tersebut langsung menendang bolanya ke arah gawang. Sorakan sedikit terdengar dari kelas Kise yang berada di lantai atas itu.

"Hee, lihatlah mereka-ssu. Mereka sepertinya senang sekali.." ujar Kise pelan. Kuroko dan Aomine pun ikut melihat ke arah jendela. Awalnya mereka hanya melihat murid-murid di sana bermain, tetapi...

"A-ano, Kise-kun, Aomine-kun, sepertinya aku telah menemukan jawabannya.." ujar Kuroko tiba-tiba.

"Eh!? Benarkah Kurokocchi!" seru Kise.

"Di mana Tetsu?" tanya Aomine.

"Coba perhatikan mereka–– ah, tidak. Coba perhatikan bola itu." Kuroko berkata sambil tersenyum. Aomine dan Kise hanya menuruti meskipun sedikit bingung. Lagi-lagi terdengar sorakan dari lapangan itu. Setelah beberapa saat, senyuman muncul di wajah Kise dan Aomine.

"Ah, begitu ya.." Aomine terkekeh.

"Yosh, jangan berlama-lama lagi. Ayo kita ke sana-ssu!" Kise bersemangat. Mereka pun pergi ke tempat yang dituju.

##########

####skip time####

##########

"Waah, benar-benar tinggi-ssu!" Kise mendongak ke sebuah pohon di depannya.

"Ah, begitu ya.. jadi 'semakin lebat rambutku dan tua umurku,' maksudnya semakin lebat daunnya dan tentu semakin tua umurnya, lalu 'di setiap awal kemunculan sang raja,' maksudnya setiap hari berganti." Aomine berkata sambil menepuk pohon di sebelahnya.

"Dan 'dua persegi panjang tak sempurna dan berlubang di bagian pentingnya', itu sendiri adalah gawang di lapangan sepak bola. Tidak salah lagi, tas kita berada di sekitar sini." Kuroko melanjutkan.

"Ah, kalimat tadi memang agak tidak masuk akal sih.. tapi, di mana tasnya-ssu!?" Kise bertanya.

"Jawabannya adalah 'aku', berarti di pohon itu." jawab Aomine.

"Ah, iya! Ada di sana–– hee!? Berarti kita harus memanjat-ssu!?" Kise bertanya lagi sambil menunjuk tas yang disandarkan di batang pohon itu.

"Bukan! Ngupil! Ya manjat lah!" Aomine marah-marah nggak jelas.

"Aku nggak bisa manjat Aominecchi! Kamu aja yang manjat-ssu!" balas Kise.

"Nggak mau! Kamu yang manjat!"

"Nggak mau-ssu!" Aomine dan Kise masih terus berdebat, sementara...

"A-ano.. ini tas siapa?" tanya Kuroko.

"Eh? Eeeh!?" Aomine dan Kise kaget dengan tas yang dibawa Kuroko.

"Ini tasku-ssu! Bagaimana Kurokocchi bisa mendapatkannya?" tanya Kise.

"Eh? Aku hanya melemparkan bola sepak ini ke sana, lalu tas itu jatuh. Aku mengambilnya di tanah." ujar Kuroko sambil sedikit memperagakan.

"Ah... begitu ya..." ujar Kise dan Aomine berbarengan dengan wajah sweatdrop mereka.

"Terima kasih, Kurokocchi––"

"Sama-sama, Kise-kun." Kise berniat memeluk Kuroko, tetapi langsung ditahan oleh Kuroko. Tangannya menahan muka Kise.

"Kurokocchi kejam-ssu.." rengek Kise. Sementara Kuroko hanya memasang muka datar.

"Oi Tetsu, jika itu tas Kise, di mana tas kita?" Aomine tiba-tiba bertanya.

"Eh?" Kuroko baru sadar jika tas miliknya dan Aomine belum ketemu.

"Ah, benar juga-ssu! Mungkin masih ada di atas sana!" Kise menunjuk pohon di sebelahnya.

"Tidak, aku tidak melihat apapun selain batang pohon dan daun." Kuroko melihat ke atas.

"Hee!? Benarkah!?" Kise berseru.

"Sial, ada orang yang ingin mengurung kita di sekolah ini.." gumam Aomine kesal.

"Kise-kun, Aomine-kun, sebenarnya saat aku menjatuhkan tas Kise-kun, aku menemukan ini.." tiba-tiba Kuroko berkata sambil menyerahkan secarik kertas yang dilipat rapi dan bersih.

"Ulah si pelaku lagi ya?" Aomine menebak.

"Mungkin, karena ini terjatuh dari tas Kise-kun." jawab Kuroko. Aomine lalu membuka lipatan kertas itu, lalu membacanya. Setelah beberapa saat...

"Oi Tetsu.." Aomine masih melihat kertas yang dipegangnya.

"Ada apa, Aomine-kun?" tanya Kuroko.

"...bukannya ini lirik lagunya Kise ya?" Aomine memandang dengan tatapan aneh.

"Eh!?" Kise yang merasa dibicarakan langsung merespon.

"A-ano, Kise-kun.." Kuroko ingin menahan ketawa di saat dirinya menyerahkan kertas dari Aomine. Di sana tertulis lirik lagu dengan judul 'Shalala Goes On' di atasnya.

"O-oi Kurokocchi! Aominecchi! Dari mana kalian mendapatkannya-ssu!?" Kise langsung merebut kertas itu. Wajahnya sedikit memerah.

"Itu terjatuh dari tasmu, Kise." Aomine menjawab sambil terkekeh.

"Eeeh!? Tidak mungkin-ssu! Aku sudah memasukannya di dalam tas, jadi tidak mungkin jatuh–– hee!?" Kise menutup mulutnya karena keceplosan bahwa kertas itu memang berisi lirik lagunya.

"Kamu mengatakannya, Kise-kun." kini giliran Kuroko berkata dengan sedikit senyuman. Kise masih menutup mulutnya.

"Tunggu, Kise. Jika kau memasukkan kertas itu ke dalam tasmu, berarti ada seseorang yang mengeluarkannya." Aomine menggaruk kepalanya. "Pinjam tasmu sebentar." Aomine langsung mengambil tas Kise yang hanya bengong. Lalu diubek-ubeknya isi tas Kise, dan––

"O-oi Aominecchi! Jangan membuang isi tasku-ssu!" ––dibaliknya tas Kise sampai isinya keluar semua.

"Sudah kuduga, pelaku menaruhnya di sini." ujar Aomine sambil mengambil kertas yang telah diremas yang terjatuh dari tas Kise. Kuroko dan Kise memperhatikan kertas itu.

"Heeh, ini semakin menarik. Jika kalian menemukan kertas ini, berarti kalian telah melewati rintangan pertama dariku, dan maaf, aku sedikit mengacak isi tas si pirang untuk meletakkan kertas ini."

"Sialan kau! Jangan jadi penakut, tunjukkan dirimu!" belum selesai membaca isi kertas itu, Aomine sudah mendecak kesal.

"Pergilah ke perpustakaan. Seseorang sedang menunggu kalian."

"Haaah!? Apa maksudnya ini-ssu?" Kise bingung.

"Tidak ada pilihan lain, ayo kita pergi." Aomine langsung berlari ke gedung sekolah, diikuti Kuroko dan Kise.

##########

####skip time####

##########

"Haah, capek lari-lari dari lapangan ke sini-ssu.." Kise terengah-engah sambil berjalan-jalan di antara rak buku perpustakaan sendirian.

"Aomine-kun, ini bukan saatnya membaca majalah itu." ujar Kuroko kepada Aomine yang tengah membaca majalah dewasa kesukaannya, entah didapat dari mana ––mungkin Aomine menyembunyikannya di tempat tersembunyi di perustakaan––. Mereka berada di rak di sebelah Kise.

"Aa, mengerti." hanya itu jawaban Aomine. Kuroko hanya sweatdrop.

"Eh? Midorimacchi?" suara Kise terdengar sampai telinga Kuroko dan Aomine, yang membuat mereka mengintip dari rak terdekat.

"Ini ponselmu, seseorang memberikannya kepadaku dan katanya ini ponselmu nanodayo."

"Hm? Setahuku ponselku berada di tas-ssu.." Kise menuju ke loker tempat tasnya diletakkan diikuti Midorima, lalu mencari ponselnya. Benar saja, ponselnya tidak ada.

"Ah, benar-ssu, ini ponselku. Terima kasih, Midorimacchi." ujar Kise lalu mengambil ponselnya.

"Tidak perlu berterima kasih nanodayo." ujar Midorima sambil membenarkan posisi kacamatanya, dan langsung pergi ke luar perpustakaan. Kise hanya melihatnya bengong.

"Oi Kise, apa yang dia lakukan?" tanya Aomine begitu menghampiri Kise. Kuroko mengikuti di belakang.

"Midorimacchi mengembalikan ponselku-ssu, ada apa?" Kise balik bertanya.

"Oi Kise! Kamu nggak sadar ya!?" Aomine sedikit teriak nggak jelas. Sementara Kise hanya melongo.

"Aomine-kun, tenanglah sedikit." Kuroko menasehati. Pandangan para pelanggan perpustakaan sudah tertuju pada mereka.

"Sebaiknya kita bicarakan di luar, Kise-kun, Aomine-kun." ajak Kuroko. Kise dan Aomine hanya mengangguk.

##########

####skip time####

##########

"Ittai! Kenapa Aominecchi selalu menjitakku-ssu!?" teriak Kise di kelas mereka.

"Karena kamu lengah, bodoh!" balas Aomine.

"Eh? Maksud Aominecchi?" tanya Kise bingung.

"Mungkin Aomine-kun mengira Midorima-kun adalah dalang dibalik semua ini." ujar Kuroko, sementara Aomine hanya mengangguk.

"Nggak mungkin-ssu! Untuk apa Midorimacchi melakukannya?" tanya Kise.

"Oi, jangan perhatikan orang dari penampilan dan sifatnya di luar. Midorima mungkin terlihat tidak tahu apa-apa, tetapi bisa saja itu adalah akting. Lalu, apa hanya membaca buku saja kepentingannya di perpustakaan?" Aomine berkata. Kise membayangkan Midorima yang tadinya membaca buku tiba-tiba saja meliriknya dengan seringaian, yang membuat Kise bergidik sendiri.

"Aomine-kun, jangan berprasangka dulu. Midorima-kun memang suka membaca. Mungkin saja pelakunya mencantumkan namanya di teka-teki itu." tanggap Kuroko.

"Hah, bisa jadi sih.." Aomine berkata. Mereka bertiga sudah pusing hanya mencari satu tas, dan mereka belum mengetahui apa lagi yang direncanakan sang pelaku.

"Kise-kun, coba periksa ponselmu. Siapa tahu ada yang salah atau hilang." pinta Kuroko.

"Kurokocchi perhatiaan!" Kise ingin memeluk Kuroko, namun––

"Terima kasih, Kise-kun." ––sayangnya Kuroko sudah siap mengantisipasi dengan cara yang sama seperti tadi, tangannya menahan muka Kise.

"Kurokocchi kejam-ssu.." Kise hanya menangis seperti anak kecil, tapi tak lama kemudian dia mengutak-atik ponselnya, dan benar saja, ada sesuatu yang janggal.

"Eh? Sejak kapan ada catatan baru di sini?" gumamnya yang sedikit terdengar oleh Aomine dan Kuroko yang hanya melihat ke arah Kise. Kise lalu membuka catatan itu, dan membacanya.

"Sepertinya kalian sudah tidak sabar untuk pulang. Kini aku beritahu tempat di mana barang yang kalian cari."

whpsdw sdunlu vhshgd

16 | 18

"Apa-apaan ini?" Aomine mengerutkan dahinya sambil melihat catatan di ponsel Kise. Kuroko pun ikut melihat.

"Aah, pusing-ssu.." mata Kise sudah seperti obat nyamuk.

"Ini.." Kuroko berpikir keras. Dirinya mengeja satu persatu huruf yang menjadi teka-teki pelaku.

"Eh, Tetsu?" Aomine melihat ke arah Kuroko.

"Kurokocchi?" Kise pun ikut memandang Kuroko.

Setelah beberapa saat, Kuroko membuka suara. "Aomine-kun, Kise-kun, mungkin aku tahu jawabannya." ujar Kuroko. Sejenak Aomine dan Kise heran mendengar jawaban Kuroko.

"Benarkah Kurokocchi!?" seru Kise, yang dibalas anggukan kecil dari Kuroko.

"Baiklah, kamu memang bisa diandalkan, Tetsu." Aomine mengacak rambut biru muda Kuroko, yang hanya tersenyum tipis.

Kira-kira apa yang akan dilakukan Kuroko?

##########

To be continued...

##########

Chapter 2 selesai x)

Hehe, maaf kalo update-nya lama, baru sempet karena barusan ujian sekolah.. ^^

Makasih yang mau baca fic aneh ini, dan kalo berminat bisa meninggalkan kritik & saran berupa review. Jangan flame lohh..

Oh ya, maaf juga kalo chapter selanjutnya bakal lama, bisa sebulan lebih /dikeroyok

Mohon maaf kalo ada kata-kata yang kurang berkenan, dan sekali lagi terima kasih!