Previous..
"Sehun yang menelpon?" tanya Hangeng begitu Luhan menyodorkan ponselnya, Luhan hanya menggumam tak jelas dan melempar pandangannya keluar jendela.
Hangeng menatap Luhan dengan sedikit sendu, ia berpikir mungkin putrinya itu sedih karena terpisah jarak oleh kekasihnya, atau mantan kekasihnya, pikirnya.
Luhan masih menerawang melihat pemandangan diluar mobil yang akan membawa mereka kerumah orang tua Hangeng, kakek dan nenek Luhan. 'Selamat tinggal, Sehunnie...'
.
.
.
Title : I'm Sorry
Cast : HunHan, pair official EXO. GS for Uke
Genre : Humor, Drama
Chapter : 1-END
Disclaimer : Cast asli itu punya Tuhan, dan atas izin Tuhan juga pheo bisa mengupdate ff ini, jangan men-copas tanpa seizin pheo yaa .. typo bertebaran.
.
.
.
Oh Pheonix present
.
.
.
~2 tahun kemudian~
Suasana kantin di Universitas Daenggu terlihat ramai, beberapa mahasiswa terlihat menikmati jam kosong atau jeda waktu sebelum jam kuliah mereka dimulai, beberapa snack cemilan dan kaleng beserta obrolan-obrolan seru terlihat mendominasi tempat yang memang selalu terlihat seperti pasar itu.
Tak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di meja tujuh, 2 gadis dan 3 pemuda terlihat saling duduk melingkar menikmati pesanan mereka masing-masing, namun sepertinya itu hanya berlaku pada 4 orang diantara mereka, karena seorang pemuda berkulit putih hanya memandangi ponselnya dengan tatapan datar.
"Kyungsoo belum datang ya, Baek?" tanya salah satu pemuda berkulit agak gelap pada gadis yang sedang duduk disamping pemuda tinggi bertelinga lebar.
Gadis yang dipanggil 'Baek' tadi menoleh dan menggeleng pelan, "Kyungie masuk jam 1 siang hari ini."
Pemuda itu mendesah kesal dan beralih menatap teman seperjuangannya yang masih betah memandangi ponselnya, sedangkan gadis disampingnya hanya melirik sekilas dan kembali berkutat dengan jus yang dipesannya.
"Sehun-ah, mau sampai kapan kau menunggu nya?" tanya Jongin jengah, pemuda berkulit agak gelap itu mendengus kesal. Pasalnya selama dua tahun belakangan ini temannya itu berubah menjadi sosok yang jauh lebih dingin dan pendiam, apalagi saat mengetahui orang yang dicintainya pergi meninggalkannya dua tahun lalu karena kesalahpahaman dengan gadis yang duduk disamping Sehun.
Jongin sengaja menanyakan hal itu karena tahu Sehun sangat mencintai dia, dan secara tak langsung menekankan bahwa ia –dan teman-temannya juga sebenarnya- tidak suka gadis itu duduk disamping Sehun dan terus menempelinya selama dua tahun ini.
Sehun mengalihkan pandangannya dan menatap Jongin tanpa ekspresi, Jongin tahu betul itu tandanya Sehun tidak suka dengan topik pembicaraannya.
"Arra, arra.. aku akan diam," dengus Jongin, lebih memilih memakan ayam yang sudah dipesannya sementara Sehun kembali menatap ponselnya. Tepatnya memandangi seorang gadis yang sedang tersenyum manis kearah kamera seperti malaikat.
Baekhyun dan Chanyeol saling bertukar pandang sedih dan lebih memilih tidak ikut campur, gadis disamping Sehun pun tak kalah menatap Sehun dengan tatapan sendu. Sudah dua tahun ini ia berusaha mengalihkan perhatian Sehun, namun nyatanya semua sia-sia, Sehun tidak meliriknya sama sekali meskipun pemuda itu tidak pernah protes saat ia mengikutinya kemana-mana.
'Apa aku memang sudah tidak ada harapan, Sehunna? Bahkan disaat 'dia' tidak berada disini..' batinnya sedih.
"Annyeong semuanya.." kelimanya mendongak saat satu suara ceria menyapa indera pendengarannya, Jongin yang paling senang.
"Kyungie-ku!" pekik Jongin berbinar, "Kau tidak tahu betapa aku merindukanmu, sayang..."
"Cih, mendramatisir." Decih Baekhyun malas. Chanyeol tertawa dan mencubit pipi kekasihnya dengan gemas.
Kyungsoo tersenyum pada kekasih nya itu dan duduk disamping Jongin, tepat disebelah Baekhyun, "Kalian tahu? Aku berpapasan dengan mobil Heechul ahjumma tadi saat masuk keparkiran."
Sehun langsung mendongak dan menatap Kyungsoo begitu intens, sementara Baekhyun tampak mengernyit, "Heechul ahjumma? Untuk apa dia kemari?" tanya Baekhyun heran, Kyungsoo mengangkat kedua bahunya tanda ia juga tidak tahu.
"Apa mungkin...," Chanyeol menggantung kata-katanya dan mengalihkan pandangannya kearah Sehun, Baekhyun menoleh.
"Mungkin apa? dia kembali?"
"Mungkin saja.."
"Sudahlah, kita masuk kelas saja, kita sekelas kan hari ini?" ujar Jongin, mengalihkan pembicaraan.
Kyungsoo mengangguk dan tersenyum pada Seulgi yang duduk disamping Sehun, hanya untuk basa-basi dan sopan santun.
"Ayo, Sehun-ah." Baekhyun menggamit lengan Sehun dengan manja, Chanyeol yang berjalan dibelakangnya hanya tersenyum kecil, ia tahu Sehun butuh seseorang disampingnya, dan Chanyeol tidak keberatan membiarkan kekasihnya menemani Sehun, asal bukan Seulgi.
Mereka berlima –dengan Seulgi yang mengikuti- memang memutuskan untuk masuk ke Universitas yang sama, karena mereka memang sudah bersama sejak JHS.
Chanyeol dan Jongin duduk bersebelahan dengan Sehun yang hanya terdiam memandangi layar infokus dengan tatapan kosong, sementara Baekhyun dan Kyungsoo duduk didepan mereka sambil mengobrol. Suasana kelas yang menyerupai ruang bioskop yang tempat duduk nya semakin kedepan semakin rendah membuat Baekhyun dan Kyungsoo terlihat agak pendek, meskipun mereka memang pendek.
Dosen Kim mulai memasuki ruang kelas membuat suasana kelas yang tadinya ramai berangsur sepi. Dosen paruh baya itu menelusuri seluruh penjuru kelas, mencoba mencari seseorang sepertinya.
'Sepertinya belum datang,' gumamnya pelan, "Baiklah semuanya, ma-"
Tok tok tok
"Jeseonghamnida, Kim Seonsei. Saya terlambat."
Dosen Kim menoleh kearah pintu begitu mendengar sebuah suara lembut menyapa indera pendengarannya, ia tersenyum samar dan memberi gestur pada mahasiswa barunya untuk segera masuk.
Baekhyun dan Kyungsoo melongo tak percaya dengan apa yang mereka lihat, tak jauh beda dengan raut wajah Jongin dan Chanyeol. Mahasiswa itu jelas adalah orang yang sangat mereka kenal, dengan cepat Jongin menyikut Sehun yang sedang mencoret-coret lembaran kertasnya dengan pandangan kosong.
"Ouch! Ap-"
"Lihat kesana!" Jongin berbisik dengan nada gelisah bercampur kaget, sejenak Sehun mengernyit melihat ekspresi temannya itu, dengan gerakan lambat ia meluruskan kepalanya mengikuti arah telunjuk Jongin dan membulatkan kedua matanya.
Orang yang selama ini tak tahu bagaimana kabarnya, orang yang selama ini selalu Sehun rindukan, orang yang selama ini tidak bisa tergantikan dihati dan pikirannya, orang yang selama ini tidak bisa Seulgi geser posisinya dihati Sehun, orang yang amat Sehun cintai. Sedang berdiri didepan sana sembari mengobrolkan sesuatu dengan Dosen Kim sambil sesekali mengangguk dan tersenyum manis. Orang itu kembali. Dia kembali. Dia...
"Baiklah semuanya, perkenalkan ini Xi Lu Han. Mahasiswa pindahan dari Universitas Beijing. Luhan-ssi semoga anda bisa beradaptasi dengan baik."
"Kamsahamnida, Seonsei..."
...Luhan.
..
..
"LUHEEENNNNNNNN!" Luhan berjengit kaget saat mendengar suara lengkingan memekakkan telinganya, ia memutar tubuhnya dan mendapati seorang gadis mungil berlari menghampirinya dan langsung memeluknya dengan erat, wajah gadis rusa itu mengernyit bingung dengan orang asing yang tiba-tiba memeluknya, belum lagi seorang gadis lain bermata bulat ikut memeluknya dengan erat.
"Luhannie! Kami merindukanmu!" pekik Kyungsoo terisak, ia sudah menahan diri untuk tidak langsung memeluk Luhan saat itu juga karena mata kuliah sedang berlangsung. Luhan semakin mengerutkan dahinya. Belum sempat ia bertanya, 3 orang pria datang menghampirinya dan memeluknya juga.
"Kami merindukanmu, Luhannie.. si albino itu juga merindukanmu," ujar Jongin, Baekhyun langsung menarik jauh-jauh Luhan dari pelukan pria tan itu.
"Ya! Kkamjong! Kau mau dibunuh oleh pangeran es itu?" tanya Baekhyun mendelik. Jongin tertawa konyol dan menggaruk kepalanya.
"Maaf, aku terbawa suasana.."
Baekhyun berdecih pelan dan kembali memeluk Luhan yang tampak kebingungan dari arah samping, "Kau kemana saja? Kenapa tidak mengabari kami? Kau tahu Sehun sudah seperti orang gila dan mayat hidup semenjak kau pergi," celoteh gadis bereyeliner itu.
"Sehun?" tanya Luhan linglung, Baekhyun mengangguk dipundak sahabatnya itu dan melirik sekilas kearah Sehun yang sekarang sedang mematung memandangi Luhan.
"Aku pikir semuanya sudah jelas, Oh-ssi."
"Tidak perlu, aku sudah mendengarnya kemarin."
"Maaf, Sehun. Tapi aku memang harus pergi. Kututup teleponnya."
Sehun masih membeku ditempatnya tanpa melepas pandangannya dari Luhan. Sekelebat percakapan terakhirnya dengan Luhan dua tahun lalu berseliweran dikepalanya, lelaki itu mencoba berjalan perlahan menghampiri Luhan.
"Lu..."
Luhan menoleh, menatap Sehun dengan tatapan bingung, ia mencoba melepaskan pelukan Baekhyun dan Kyungsoo namun nyatanya tak berhasil sama sekali. Gadis itu memandangi lima orang dihadapannya bergantian, tak mengerti situasinya.
"Maafkan aku..." ujar Sehun lirih. Luhan makin mengernyit bingung.
"Maaf? maaf... tapi kalian siapa?"
DEG!
Baekhyun, Kyungsoo, Jongin, Chanyeol dan Sehun sendiri tercengang mendengar pertanyaan Luhan. Apa katanya tadi?
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Luhan lagi dengan nada bingung, membuat kelima orang itu menatap Luhan tanpa berkedip.
"Lu, jangan bercanda!" seru Kyungsoo tak percaya, ia yakin Luhan hanya ingin mengerjai mereka. Tidak mungkin Luhan melupakan mereka begitu saja.
"Maaf, tapi aku benar-benar tidak mengenal kalian. Kalian mungkin salah orang."
"Luhan!" Luhan kembali berjengit saat mendengar teriakan Baekhyun, "Baiklah, hentikan kekonyolan ini, Xi Luhan. Kau boleh tidak mengenal kami. Tapi tidak mungkin kau tidak mengenal Sehun!"
"Sehun? Siapa yang kau maksud, Nona? Aku benar-benar ti-"
"Apa kau begini karena aku?" tanya Sehun, Luhan kembali menoleh kearah pria albino dan menaikkan salah satu alisnya. "Apa kau pura-pura tidak mengenal kami karena aku?"
"Aku ti-"
"Nona muda," omongan Luhan terpotong oleh sebuah suara berat dari depan pintu kelasnya, Luhan menoleh dan menemukan paman Lee berdiri disana dengan membungkukkan tubuhnya sedikit pada Luhan.
Luhan dengan segera menghampiri paman Lee, orang kepecayaan babanya dan bersembunyi dibelakang punggung pria paruh baya itu.
"Paman, mereka menakutkan." adu Luhan sembari menunjuk kelima teman nya dengan gemetar.
Paman Lee menoleh dan membungkuk singkat pada mereka begitu tahu siapa yang dimaksud Luhan, "Nona muda bisa kemobil lebih dulu, saya akan berbicara pada mereka." ujarnya lembut namun tidak mengurangi rasa hormatnya pada nona mudanya ini.
Luhan mengangguk dan langsung pergi meninggalkan kelasnya, sementara paman Lee menghampiri kelima remaja itu dan membungkuk hormat.
"Maafkan sikap Nona Muda Xi, kalau tidak salah kalian teman Nona Muda bukan?" tanyanya ramah, Baekhyun dan Kyungsoo mengangguk kaku.
Paman Lee tersenyum, "Mungkin ada baiknya kalian tidak berprasangka buruk dulu pada Nona Muda."
"Paman, apa yang terjadi?" tanya Sehun tak sabar, paman Lee menoleh dan sejenak mengerutkan keningnya.
"Oh Sehun, paman." ujar Sehun lagi, seakan tahu pemikiran orang tua itu.
"Ah, kekasih Nona Muda," sahutnya sembari mengangguk kecil, "Saya mungkin tidak berhak menjelaskan apa yang terjadi, tapi bisakah kalian datang ke Green Cafe besok sore? Nyonya besar ingin bertemu."
"Heechul ahjumma?" tanya Jongin memastikan, paman Lee tersenyum kecil dan mengangguk.
"Kalau begitu saya permisi dulu, saya akan menyampaikan ini pada Nyonya besar. Dan sekali lagi maafkan sikap Nona Muda. Permisi." ujarnya sembari membungkuk singkat dan berbalik meninggalkan kelima orang disana yang saling berpandangan heran.
..
..
"Luhannie~ sudah pulang?" Heechul menyambut kepulangan putri semata wayangnya dengan tangan terbuka, Luhan langsung masuk kedalam pelukan ibunya dan menaruh kepalanya dibahu wanita itu.
"Apa hari pertama kuliah di Korea menyenangkan, hm?" tanya Heechul lembut sembari mengusap surai coklat madu Luhan dengan sayang.
"Sedikit, Mama. Tapi aku diganggu oleh orang yang tidak kukenal." sungutnya sebal. Heechul mengernyit dan menatap paman Lee yang sedang tersenyum kecil.
"Baiklah, sekarang anak Mama harus mandi dan segera turun untuk makan malam, oke? Baba sebentar lagi pulang dari kantor." ujarnya lagi, mengelus kedua pipi Luhan sambil tersenyum manis. Luhan mengangguk.
Gadis itu mengecup pipi ibunya sebelum berlari kecil menuju kamarnya dilantai dua, Heechul menatap kepergian Luhan sampai gadis itu menghilang dibalik tangga, setelah memastikan Luhan naik dan masuk kekamarnya, Heechul kembali menatap paman Lee menuntut penjelasan.
"Apa yang terjadi, Lee Ahjussi?" tanya wanita itu, pria didepannya membungkuk sopan.
"Nona Muda bertemu dengan teman-teman lamanya dan juga kekasihnya, Nyonya." jelasnya, Heechul terkejut.
"Sehun?" tanyanya tak percaya, pria didepannya mengangguk pelan.
"Saya meminta mereka bertemu dengan Nyonya besok sore di Green Cafe, sesuai perintah Nyonya jika saya bertemu mereka."
"Jadi mereka satu kelas dengan Luhan?"
"Ya, Nyonya."
"Syukurlah.." desis Heechul lega, ia tersenyum pada pria yang sudah bersama suaminya sejak Luhan lahir, "Terima kasih, Ahjussi. Aku akan menemui mereka besok."
Paman Lee kembali mengangguk, "Kalau begitu saya permisi dulu, Nyonya." ujarnya dan membungkuk singkat sebelum meninggalkan Heechul diruang tamu.
"Semoga kalian bisa menyembuhkan Luhannie-ku.." gumam Heechul.
..
..
..
..
..
"Annyeong anak-anak."
"Heechul ahjumma!" pekik Baekhyun begitu melihat Heechul dan Hangeng berdiri didepan mereka. Kelima remaja tanggung itu memang mengikuti permintaan orang kepercayaan Hangeng untuk bertemu dengan orang tua Luhan.
"Luhan tidak ikut, eommonim?" tanya Sehun, Heechul tersenyum dan membelai pipi tirus Sehun dengan sayang.
"Tidak sabaran sekali, eoh?" goda wanita paruh baya itu.
"Silahkan duduk, Ahjumma, Ahjussi.." kata Chanyeol sopan, menarik kursi untuk kedua orang tua itu.
Hangeng tersenyum dan mengacak surai hitam pria tinggi itu, "Kalian semua tidak berubah."
"Bagaimana kabar kalian, hm? Baik-baik saja kan?" tanya Heechul begitu ia dan suaminya duduk dan memesan makanan. Kelima remaja itu mengangguk.
"Baik-baik saja, ahjumma. Luhan sendiri bagaimana?" tanya Kyungsoo balik, mereka memang tidak pernah berhubungan dengan Luhan lagi maupun kedua orang tuanya semenjak Luhan pindah ke China dua tahun lalu.
Bukan. Bukan mereka ingin memutuskan kontak begitu saja, namun Luhan yang melakukannya. Alamat email gadis itu diganti dan nomer ponselnya pun ikut diganti. Mereka sudah mencoba menghubungi nomer baru Luhan yang mereka dapatkan dari Heechul namun hasilnya nihil. Luhan tidak pernah mau mengangkatnya.
Raut wajah Heechul dan Hangeng berubah sendu, keduanya saling tatap sebelum beralih menatap lima pasang mata yang sedang memandangi mereka dengan bingung.
"Sebenarnya ada yang ingin ahjumma sampaikan... Mengenai Luhan."
"Ada apa dengan Luhan?" sambar Sehun langsung, mereka hanya menatap maklum pria albino itu sebelum Hangeng berdehem.
"6 bulan yang lalu, Luhan mengalami kecelakaan di China.."
"APA!?"
"Ahjumma tahu akan begini reaksi kalian," desah Heechul.
"Ahjumma, tapi Luhan baik-baik saja kan? Dia tidak mengalami luka parah sampai permanen?" tanya Kyungsoo panik. Heechul tersenyum kecil.
"Dia sempat koma selama 1 setengah bulan karena luka parah dikepala dan patah rusuk," jelas Hangeng kalem, "Tapi gadis itu benar-benar kuat, rusa kecil itu..."
"Kenapa ahjussi tidak memberitahu kami?" tanya Jongin yang sedari tadi hanya diam, "Atau setidaknya beri tahu Sehun yang notabe nya adalah kekasih rusa itu.."
"Maaf sayang, kami terlalu kalut saat itu."
"Apa ini ada hubungannya dengan Luhan yang tidak mengenali kami, ahjumma?" tanya Baekhyun pelan, keempat remaja itu menoleh sejenak kearah gadis mungil itu yang menatap meja. "Aku mungkin bisa terima kalau Luhan tidak mengenali Sehun, karena sebelum dia pergi Luhan dan Sehun sempat bertengkar. Kupikir Luhan sedang bergurau..." kalimat Baekhyun menggantung karena teredam oleh isak tangisnya, Chanyeol dengan segera merangkul bahu gadis itu dan menenangkannya.
"Luhan memang sadar dari koma saat itu, tapi dia mengalami amnesia..."
DEG!
Bagai tersambar petir disiang bolong, kelima pasang mata itu membulat seketika mendengar penjelasan Hangeng.
Sehun merosot tersandar dibangkunya dengan tatapan kosong, "A-apa..?"
Hangeng yang saat itu memang duduk disamping pemuda itu langsung menepuk bahunya, berusaha memberi semangat.
"Dia tidak ingat apapun, bahkan kami, siapa dirinya, siapa kami. Luhan bahkan sempat mengamuk dirumah sakit." kenang pria paruh baya itu dengan sendu, "Kami bahkan butuh waktu 3 minggu untuk meyakinkan siapa kami dan siapa dirinya sendiri."
"A-apa amnesia yang dideritanya permanen, ahjussi?" tanya Chanyeol terbata, kali ini Heechul yang menjawab sembari menggeleng pelan.
"Dokter bilang itu tidak permanen, tapi bisa jadi permanen jika tidak ada orang yang memotivasinya untuk mengingat masa lalunya. Itu sebabnya kami memindahkan Luhan ke Korea. Karena hanya kalian satu-satunya harapan kami untuk menolong Luhan."
"Kami akan membantu, ahjumma. Luhan temanku!" sahut Kyungsoo langsung dengan tegas, Baekhyun mengangguk dengan sungai yang menganak dipipinya.
Heechul memandang kedua gadis itu dengan pandangan penuh terima kasih, lalu beralih menatap Sehun yang masih shock.
"Sehunnie~" panggil Heechul lembut, menggenggam kedua tangan pucat itu. "Eommonim mohon bantu Luhan, sayang... walaupun mungkin kau sudah tidak mencin-"
"Aku masih mencintainya, eommonim." potong Sehun tegas. "Aku akan mengembalikan Luhan apapun caranya."
"Terima kasih..." desah Heechul dan Hangeng lega. Mereka semua tersenyum bersamaan.
..
..
"Luheeeennnnnnnnnn~" Luhan mendongak dari kegiatannya yang sedang menyalin catatan kala mendengar suara nyaring memanggil namanya. Gadis itu mendapati seorang gadis dengan eyeliner dan senyum lebar tengah melambai padanya.
Luhan mengernyit bingung, pasalnya ia memang tidak terlalu akrab dengan teman-teman barunya, atau sengaja tidak mau mengakrabkan diri. Tapi sepertinya gadis eyeliner itu dan teman-temannya senang sekali menganggu Luhan.
Baekhyun –gadis eyeliner itu- duduk tepat disamping Luhan dengan senyuman yang masih bertengger manis dibibirnya.
"Apa yang sedang kau lakukan, Lu?" tanya Baekhyun sembari melirik beberapa buku tebal dan notes file Luhan yang terlihat berantakan.
Luhan tak menjawab, melainkan hanya memandangi Baekhyun dengan mata mengedip polos. Jika gadis itu ada disini, itu artinya...
"Luhannieeeee!"
Benar kan. Rutuk Luhan dalam hati. Belum juga ia menyelesaikan persepsinya, seorang gadis lain muncul dan duduk disamping lain Luhan dengan senyuman tak kalah lebar. Luhan mendengus pelan. Hancur sudah acara menyalinnya.
"Maaf, aku harus menyalin. Bisa minggir sebentar?" tanya Luhan sesopan mungkin, mengabaikan tatapan sendu Baekhyun dan Kyungsoo.
Dua gadis itu memang sudah tahu dari Heechul jika semenjak Luhan amnesia gadis itu sulit sekali didekati oleh orang lain, dan mereka harus bersabar jika ingin Luhan menerima mereka. Luhan hanya dekat dengan orang tuanya dan juga paman Lee yang selalu mengantar gadis itu kemana-mana.
"Apa yang kau salin? Kukira kita tidak ada tugas dari dosen manapun." ujar Kyungsoo, mencoba mengabaikan sikap dingin Luhan. Maklum akan keadaan.
"Aku mahasiswa baru." Jawab Luhan singkat, dua gadis itu langsung paham kemana arah perkataan Luhan. Mengejar ketinggalan tentu saja.
"Hei, Lu." Luhan kembali mendongak saat mendengar namanya dipanggil, dilihatnya seorang pria berkulit pucat yang Luhan ingat bernama Sehun sedang duduk didepannya dengan seulas senyum manis.
Luhan menatapnya sebentar sebelum akhirnya memilih mengabaikannya dan kembali berkutat dengan buku dan catatannya, membuat tiga pasang mata itu menghela nafas panjang.
Mereka bertiga akhirnya lebih memilih memperhatikan Luhan yang terlihat tak terusik sama sekali. Fokus dengan bukunya. Wajah dan bentuk tubuh Luhan tak banyak berubah selama dua tahun ini. Hanya terlihat sedikit lebih dewasa.
Luhan sebenarnya cukup risih diperhatikan oleh tiga pasang mata sekaligus, namun lebih baik ia tidak berkomentar apa-apa. Dalam hati ia mengutuk Mamanya yang seenaknya memindahkan pendidikannya.
"Lulu..." Luhan tersentak saat mendengar suara pelan dari arah samping. Tadi dia memanggilnya apa? Lulu?
"Lulu, ayo pesta piyama dirumahmu,"
"Tapi nanti Mama marah..."
"Aniyo.. Heechul ahjumma tidak akan marah, lagipula besok hari minggu."
"Ah! Benar juga. Johaa, kajja..."
"Yeeaayyy~"
Luhan mengernyit dan memejamkan matanya saat sebuah ingatan mampir dipikirannya. Seketika pening menyapanya saat Luhan mencoba menggali lebih dalam lagi siapa yang berbicara didalam sana.
"Akh!" Luhan mengerang tanpa sadar, memegangi kepalanya saat mendengar ingatan itu kembali mampir dikepalanya.
Baekhyun, Kyungsoo dan Sehun yang sedari tadi memperhatikannya berubah panik melihat Luhan yang menggenggam erat kertas ditangannya dan juga kepalanya secara bersamaan.
"Lu? Kau tidak apa-apa?" tanya Sehun panik. Baekhyun dan Kyungsoo pun tak kalah panik dengan keadaan Luhan yang memekik tiba-tiba.
"Sehunnie,"
Sehun menoleh, mendapati Seulgi yang berdiri didepan pintu kelas dengan wajah penuh senyuman, gadis sipit itu belum sadar jika ada Luhan karena gadis rusa itu tertutupi oleh Sehun dan Baekhyun tanpa sengaja.
'Sehunnie?' batin Luhan bingung.
"Sehunnie~ ayo beli bubble tea."
"Nanti, Lu. Kita harus bertemu Jongin dulu.."
"Aish, tapi aku mau sekarang."
"Tunggu sebentar, sayang.. oke?"
"Sehunnie menyebalkan!"
Luhan merasa pusing dikepalanya semakin hebat, belum lagi ia melihat sekelebat ingatan-ingatan yang ia sendiri tak ingat siapa dan dimana. Detik selanjutnya saat gadis itu membuka matanya hawa gelap datang menerpanya dan ia tidak ingat apa-apa lagi, ia hanya mendengar samar-samar seseorang memanggil namanya dengan nada panik.
"LUHAN!"
..
..
Seulgi melangkahkan kakinya perlahan menyusuri koridor gedung dengan bersenandung pelan. Sesekali melirik kotak makanan ditangannya dan tersenyum kecil. Rencananya ia ingin mengajak Sehun makan masakan buatannya, tak sabar, gadis itu berlari kecil menuju kelas dimana Sehun berada.
"Sehunnie," panggilnya ceria, dilihatnya Baekhyun dan Kyungsoo berwajah panik. Sejenak ia tertegun.
Gadis itu melihat Sehun menoleh dan segera saja ia melemparkan senyum manis, baru ia ingin beranjak menghampiri Sehun, ia malah dikejutkan dengan teriakan Baekhyun dan Kyungsoo.
"LUHAN!"
Seulgi tertegun mendengar Kyungsoo menjeritkan nama seseorang yang selama ini selalu dirindukan oleh Sehun, nama yang selalu membuat Seulgi kalah dalam hal apapun. Dan sekarang, bukan hanya namanya saja, melainkan sesosok gadis yang saat ini tengah didekap oleh Sehun dan dibawa keluar ruangan, melewatinya begitu saja. Luhan.
Seulgi jatuh terduduk bersama dengan kotak makanan yang dibawanya begitu Sehun, Baekhyun dan Kyungsoo beserta Luhan menghilang dibelokan. Dadanya sesak melihat kemungkinan yang selama ini ada padanya seperti sia-sia. Luhan kembali, gadis itu kembali. Dan sekali lagi, Seulgi kalah...
.
.
.
.
.
.
To be continue...
Gimana? Udh sweet? Udh gereget? Udh baper? Sama pheo juga baper :v hahaha
Pasti banyak yg nanya kenapa pheo update sekarang, padahal pheo bilang chap 2 nya akan di update setelah 'Look At Me' tamat, alasannya... KARENA HARI INI PHEO SEDANG BERULANG TAHUN *yeheetttt* *tiup lilin*
Maka dari itu, dihari bahagia pheo, pheo berbaik hati mengupdate selama dua hari berturut-turut. Baik kan? Baik kan? xD
Hehe oke, pheo akan jawab review yg masuk dulu yaa..
jsyosh, deerhanhuniie, Arifahohse, Sevarin509, lulu-shi, 13, : udh dilanjut ya^^
nisaramaidah28 : hehe sehun emang begitu bukan? :v
Juna Oh : haha pheo juga gak rela, udh dilanjut yaa.. oh dan terima kasih karna selalu mendukung karya2 pheo juga mensupport pheo, Juna^^
laabaikands : hehe pheo juga baper :v sengaja disini gak diperjelas karakter sehun ke seulgi nya, biar readers berspekulasi sendiri ^^ maaf, pheo tidak ikut event atau lomba apapun chingu^^
babybear96 : tuh udh ketemu HunHan nya ^^
oohme614 : itu HunHannya udh diketemuin lagi ^^ ditunggu aja yaaa =))
samiyatuara09 : iya ini udh dilanjut yaa, khusus utk para pembaca ^^ terima kasih .. ^^
terima kasih yaa udh mau mengapresiasi ff karya pheo, jujur aja kejadian beberapa waktu lalu menjadi tamparan keras utk pheo nd pheo sempat down. Tapi pheo berpikir itu hak mereka, jadi pheo cuma bisa membuktikan kalo pheo juga bisa menulis, bukan hanya me-remake karya org lain^^
terima kasih semua nya, tetap ditunggu yaaa^^ annyeooongggggggg~
.
.
Oh Pheonix 2016
..
..
