The Photograph
Author: SheilaLuv
Disclaimer: Me no ownie, me no richie. All of those bishounens belong to Takeshi Konomi-sensei. Gic ini berunsur shounen-ai, so just read on bagi yang suka. Bagi yang anti BL, I humbly offer you to go away.
Summary: Terkadang, sulit bagi kita untuk memaafkan rasa kehilangan…terutama pada sesuatu yang indah. Tezu/Fuji.
Chapter 2: Memiliki Kehilangan
"Aku pulang,"seru Fuji sambil membunyikan bel pintu. Dengan segera dia mendengar derap langkah yang tergopoh-gopoh turun dari lantai atas.
"Shusuke!"sambut Yumiko ceria. "Syukurlah, masih sempat. Yuuta mestinya sampai 10 menit lagi, masih ada waktu." Dia menyilakan Fuji masuk. Fuji melepas sepatunya, dan menyodorkan kantung plastik yang berisi1 kotak raspberry pie.
"Yumiko-nee-san tidak perlu khawatir. Ini pasti enak, cocok dengan selera Yuuta."
Yumiko menatapnya dengan rasa terima kasih. "Ngomong-ngomong, tadi kau pergi mencari ini sendiri?"dia bertanya saat mereka berjalan menuju ruang makan. Fuji mulai mengatur piring dan sendok di sekelilingmeja, sementara Yumiko membuka kotak pie, memotong dan menyajikannya dengan apik.
"Tezuka tadi menemaniku sepulang latihan,"ucap Fuji sambil lalu. Sekarang dia menghangatkan kare labu di panci, sesekali mengaduknya.
"Dengan Tezuka? Hmm..."Yumiko membirakan ucapnnya menggantung. Dia memperhatikan Fuji yang masih mengaduk-ngaduk dengan tenang.
Fuji menoleh. Senyum masih menghiasi wajahnya. "Kenapa, nee-san?"dia bertanya sambil menuang kare ke dalam mangkuk dan menyajikannya di meja.
"Tidak apa-apa, kok,"Yumiko menggeleng kecil. "Sepertinya kau senang berda bersamanya."
"Ya, tentu saja. Kami satu tim dan sudah saling kenal sejak lama, kan?"jawab Fuji. Nada suaranya menunjukkan seolah hal itu terasa sangar wajar.
"Maksudku, Shusuke...dia itu...,"Yumiko menghela napas,"Dia orang yang penting bagimu, kan? Sikapmu padanya bisa dibilang...agak spesial." Yumiko membrikan tekanan pada kata yang terakhir.
Fuji tercenung sesaat, namun tak lama kemudian dia terkekeh geli.
"Yah, kalau dibilang spesial, itu ada benarnya juga."
Kakaknya balas memandang dengan rasa ingi tahu. "Tuh, kan? Sebenarnya, seperti apa sih yang kau maksudkan itu, Shusuke?"
Fuji menjawab santai,"Nee-san tahu, Tezuka itu benar-benar serius. Dia jarang tersenyum, dan selalu menampakkan ekspresi kaku. Akusudah memikirkan bermacam cara untuk mengeluarkan sisi lain dari dirinya, walau sejauh ini gagal. Tapi, aku tak akan menyerah,"bibir Fuji melengkung, membntuk senyum sadis.
Yumiko tertawa tergelak-gelak. "Hahaha...Shusuke! Kasihan Tezuka, selama ini sudah terjebak olehmu."
"Saa...kalau disebut terjebak, tidak juga. Lebih tepatnya , dia tidak akan bisa menghindar dariku. Lagipula,"lanjutnya serius,"Tezuka masih perlu mengetahui banyak hal lain selain tennis."
"Misalnya?"
"Kesenangan,"jawab Fuji tangkas,"dan banyak hal lainnya. Dia harus melihat warna-warni dunia yang tak kalah bersinar dibanding tennis."
"Dasar adikku! Biarpun begitu, Tezuka bisa menerima dirimu apa adanya, ya." Yumiko memandang adik lelakinya dengan tatapan lembut. "Shusuke, tahu nggak? Aku selalu berpikir kalau kalian berdua seperti jigzaw puzzle."
Fuji tak mengerti. "Maksud nee-san apa?" suaranya bernada penasaran. "Maksudku, kalian itu..."
TING TONG! TING TONG!
"Oh, itu pasti Yuuta!"seru Yumiko ceria, lalu bergegs menuju pintu depan. Fuji mengikuti.
Sesosok raut wajah dengan mata kecokelatan yang mereka tunggu telah tiba.
"Yuuta,"sambut Fuji dan Yumiko serempak.
"Aku pulang, Yumik-nee-san, Aniki,"ucapnya pelaln. Dia tampak letih sekali.
"Ayo, masuk. Sudah kami sediakan makanan kesukaanmu,"kata Fuji.
"Thanks,"sahut Yuuta. "Oh ya, dimana Otou-san dan Okaa-san?"
"Sedang pergi ke pesta salah satu rekanan bisnis mereka,"kali ini Yumiko menimpali. "Nggak masalah, kan ada kami. Ya, Shusuke?"
Fuji menggangguk.
Mereka bertiga duduk di kursi mengelilingi meja makan. Bau harum masakan hangat menguar di udara, melayang dan membangkitkan rasa lapar. "Bagaimana keadaan di asrama, Yuuta?"tanya Fuji.
"Baik-baik saja,"balas Yuuta,"walaupun Mizuki-san tidak mengizinkan aku pulang malam in."
Mata Fuji seketika terbuka. "Hmm...si Mitsuki itu, ya."
"Mizuki-san, Aniki,"ralat Yuuta. "Sudahlah, aku sudah disini, kan?"Yuuta mengatupkan kedua tangannya mengucapkan,"Itadakimasu!" Yumiko dan Fuji turut melakukan hal yang sama. Ternyata, hari ituklub tennis cukup menguras tenaga (akibat porsi latihan khusus dari Mizuki). Yuuta menikmati hidangan dengan lahap.
"Hmm...kalau melihatmu seperti ini, aku jadi terkenang masa kecil,"kata Fuji tiba-tiba saat Yuuta menikmati potongan ketiga raspberry pienya. "Yuuta benar-benar manis di saat begini, ehehe...,"godanya tanpa ampun.
Wajah Yuuta memerah. Seketika dia terbatuk-batuk. Yumiko menepuk-nepuk punggungnya sambil tersenyum geli. Beberapa hal memang tak pernah berubah.
"Shusuke benar,kok,"Yumiko menyetujui, tertawa kecil.
Kau tidak pernah berubah, Aniki,"gumam Yuuta.
"Memang tidak,"akunya. "Kita bertiga jarang punya waktu bersama seperti ini, kan? Belakangan ini, kita bertiga terlalu sibuk dengan kegiatan masing-masing. Suasana rumah pun tak seakrab dulu. Karena itu, aku senang kau pulang, Yuuta. Rasanya kehadiranmu melengkapi bagian yang hilang dari rumah ini."
Yuuta menunduk malu. "Aku juga,"ucapnya pelan.
Malam sudah larut. Bulan bersinar terang di langit malam, memancarkan keagungannya. Fuji belum tidur. Dia sedang merapikan koleksi foto-fotonya. Selagi menyusun semuanya dengan rapi dalam album, sebuah foto menarik perhatiannya. Foto yang selalu dipajangnya di sudut meja belajarnya.
Perlahan-lahan, jemarinya mengusap bingkai foto yang saat ini sedang diamatinya. Bola mata biru milik Fuji memngamati setiap wajah bahagia yang saat itu tersenyum, diiringi jepretan kamera. Foto itu diambil saat meeka sedang berpesta di Kawamura Sushi setelah memenangkan Kejuaraan Nasional.
Fuji tak dapat menahan senyumnya. Ia ingat betul kejadian yang mewarnai hari bersejarah itu. Tezuka harus diseret oleh Eiji dan Momo agar mau bergabung. Fuji ikut-ikutan menggoda Tezuka dengan memintanya tersenyum, yang tentu saja ditanggapi dengan tatapan mematikan ala Tezuka. Kaido saat itu cuma mendesis kesal, dia tak begitu senang saat Momo meneriakinya agar bergabung. Nyaris saja terjadi keributan karena itu, tapi setelah Tezuka mengancam akan menyuruh mereka lari 200 putaran dan Inui akan mengujicobakan Inui Super Deluxe Hit Remix, semua menurut.
Ryoma diapit oleh Tezuka dan Fuji, dia merangkul mereka berdua. Taka-san dan Momoshiro berada di kana dan kiri mereka. Oishi dan Eiji serta Inui dan Kaido berada di barisan depan, duduk dengan santai. Mereka semua memamerkan medali kejuaraan nasional yang berkilau.
Momen yang terekam di selembar foto ini akan jadi kenangan yang indah, pikir Fuji. Pada saat yang sama, hatinya terketuk oleh rasa gelisah.
"Memangnya sampai kapan kau berharap saat-saat seperti ini akan terus bertahan? Waktu akan terus melaju meninggalkannya..."
Suara itu terus terngiang-ngiang di kepalanya sejak hari tiu. Kalau saja waktu itu aku tak bertemu dia...akankah aku akan merasakan hal ini?
Pertemuan yang membekas di hatinya kembali terbayang di benaknya.
Minggu, 16.00 pm, 3 hari lalu...
Etalase toko kamera digital itu memajang berbagai macam model kamera terbaru.Mata Fuji berbinar senang ketika mengamati setiap detil salah satu kamera di deretan New Arrival. Keputusannya untuk datang mengunjungi pameran alat elektronik ternyata tidak sia-sia. Satu hal lagi, dia sendirian dan bebas dari pertandingan hari ini. Kerumunan orang yang berlalu lalang di sekitarnya tanpa henti. Fuji menikmatinya.Kemudian, tanpa bisa dicegah, telinganya mendengar beberapa potong percakapan yang ditimpali oleh suara yang rasanya dikenalnya.
"Bagaimana kondisi keamanan dan pengaturan sound system?"tanya sebuah suara.
"Sudah beres, Tuan Muda. Kami sudah mengaturnya sebaik mungkin sesuai instruksi,"jawab sebuah suara pria.
"Bagus, kalau begitu, saya serahkan semua pada Anda, Suzuki-san,"Fuji makin merasa suara itu terasa familiar.
Dia mengangkat matanya dan bertemu pandangan Keigo Atobe, kapten klub tennis reguler Houtei Gakuen.
"Atobe?"
"Fuji?"balas Atobe, agak terkejut. ""kebetulan sekali kau bisa bertemu Ore-sama disini."
Senyum Fuji mengembang. "Ya, memang. Aku sedang jalan-jalan. Dan kau...?"
"Orangtua Ore-sama adalah salah satu sponsor besar pameran tahunan ini. Ore-sama datang mewakili mereka yang tidak bisa datang untuk mengawasi keadaan,"jawab Atobe bangga. "Dimana anggota Seigaku yang lain? Tezuka tidak ikut?"
Fuji menggeleng. "Aku cuma sendiri. Tak masalah, kok."
"Kalau begitu, ada yang ingin Ore-sama bicarakan. Biarpun begitu, tidak sopan bicara terus tanpa ada tempat yang pas. Kita ke cafe saja,"Atobe memutuskan.
"Jadi, ceritakan tentang Tezuka. Ore-sama sudah mendengar beberapa kabar dari Pelatih Sakaki tentangnya. Dia sudah menerima banyak tawaran beasiswa sebagai atlet. Hanya tinggal memilih dan memutuskan akan menjalani pilihan yang ada. Mungkin, pada tahun-tahun sebelumnya dia terus menolak karena terikat akan tanggung jawabnya sebagai kapten Seigaku. Namun, apalagi yang dia tunggu? Kalian sudah memenangkan Kejuaraan nasional. Baik dia maupun kalian semua pasti sudahtahu waktu yang tersisa tak lama lagi sebelum upacara kelulusan,"jelas Atobe panjang lebar.
Fuji mengerti dengan pasti setiap kata yang dilontarkan Atobe. Yang dikatakannya memang benar, pikirnya. Ujian kelulusan dan perpisahan sudah diambang pintu.
"Tezuka pasti sudah memutuskan hal yang terbaik bagi dirinya. Dia orang yang punya prioritas. Dia pasti menginginkan yang terbaik bagi Seigaku, bagi kami,"Guji meyakinkan Atobe. Lucu, pikirnya. Sebenarnya aku seolah meyakinkan diri sendiri alih-alih Atobe.
Atobe mengangkat bahu. "Kapten yang baik, si Muka Kaku itu,"komentarnya.
Fuji menyetujui. "Mungkin karena itulah aku--maksudku, kami jadi bergantung padanya. Tezuka tak akan pergi tanpa pemberitahuan apapun."
"Begitukah?"tanya Atobe menyelidik.
"Ya,"jawab Fuji lugas.
"Ck ck ck...Fuji, kau benar-benar punya rasa percaya yang besar pada Tezuka. Sepertinya, kehadirannya memberi atmosfer yang lain, begitu menurut Ore-sama."
"Kami teman baik,"kata Fuji sederhana. Senyum yang terpahat di wajahnya masih tetap sama, namun sorot matanya agak berubah. Lebih dingin dari yang seharusnya.
Atobe menangkap isyarat yang hampir tak terbaca itu.
"Ore-sama tak bermaksud mengintrogasimu tentang Tezuka maupun Seigaku,"Atobe berkata dengan tenang. "Ore-sama cuma berpikir kali ini Tezuka akan menerima tawaran yang sejak dulu diacuhkannya."
"Kalau itu pilihan Tezuka, aku akan jadi oarang yang mendukung pilihannya,"balas Fuji tegas.
Atobe mengangkat alis. "Walaupun dia akan pergi jauh?"
"Ya. Dia mungkin akan pergi, tapi bukan untuk meninggalkan kami,"jawab Fuji. Dia mengeluarkan dompet dan meletakkan selembar uang untuk membayar minumannya, lalu bangkit dari kursi. "Aku harus pergi sekarang. Sampai nanti."
""Hmph, baiklah. Ore-sama juga tak bermaksud menahanmu lebih lama lagi." Dia mengamati ekspresi Fuji sesaat, berkata dalam hati,"Fuji...sedang memikirkannya. Pasti."
Fuji berbalik dan berjalan menjauh. Langkahnya tertahan oleh sesuatu yang diucapkan Atobe, pelan namun jelas,"Memangnya sampai kapan kau berharap saat-saat seperti ini akan terus bertahan? Waktu akan terus melaju meninggalkannya."
Langkah Fuji terhenti sesaat. Dia memutuskan untuk tidak berbalik. Fuji terus berjalan, melewati orang-orang yang lalu lalang. Beberapa kali pundaknya berbenturan dengan pengunjung lain, namun dia tak peduli. Tak ingin merasa. Mulutnya terkunci. Meskipun hatinya, tanpa bisa dicegah, meneriakkan satu nama yang selama ini terkunci rapat di hati yang terdalam. Perasaan yang menggebu-gebu memenuhi rongga dadanya, menggedor segala pintu akal sehatnya.
Tezuka...
Tezuka...
Tezuka...!
Langkahnya berderap semakin cepat. Fuji tak berhenti sampau kesadarannya mengambil alih. Dia merasa galau. Dia tak mengerti mengapa satu nama itu mampu menimbulkan perasaan ini.
Inilah awalnya. Awal dari semua rasa yang sudah lama terpendam. Rasa yang terkunci, tapi tak pernah mati dan kehilangan nafasnya, dengan setia menunggu waktu bersemi untuk memberinya kehidupan.
Author's note : Haai!!! Yo, minna-san! Sorry for the long wait. This week is really hectic. Banyak banget tugas yang mesti dikerjain, dan...chapter 2 benar-benar ditulis dengan penuh perjuangan disela-sela malam-malam panjang yang tanpa akhir (maksudnya, begadang buat ujian...sweatdrop).
So here it is, chapter 2. Thanks buat semua yang udah review. Chapter ini aku dedikasikan buat review kalian semua yang berhasil buat aku bertahan nulis, meskipun capek. Buat penggemar Hyoutei, puaskah dengan appearance Atobe-sama? Hehehe...Atobe di chapter ini benar-benar provokatif. Sebaliknya, Fuji jadi lebih mellow. But, tenang aja, chapter 3 bakal memunculkan sesuatu, terutama tentang Tezuka(kukuku...)
Pokoknya, stay tune for the next chapter, yang bakal di-update minggu depan! Have a nice day, guys!
