Unfinished Chapter 2 by Izumi Akita Suzuki

A songfic that based on X Japan song titled 'Unfinished'

Summary : Bagaimana jika sebenarnya Tadashi tidak mati dalam kebakaran gedung itu? Bagaimana jika sebenarnya ia hanya tak ingin melukai perasaan Hiro?

Big Hero 6 Movie belongs to Disney, Big Hero 6 Comic belongs to Marvel, Without You belongs to X Japan, and as always I only have the storyline of this fic.

Fanfic ini mengandung unsure incest antara Tadashi dan Hiro jika anda tak menyukai ini ada baiknya anda menekan tombol back.

I've been walking in the night of tears

There I found someone was holding you

As the night when I falling down

With my love also vanished my vision of you

Malam berikutnya setelah pertemuannya dengan Hiro, Tadashi memutuskan untuk mengunjungi Lucky Cat Café. Tentu saja tujuan utamanya untuk melepas rindu, melepas rindu akan suasana keluarganya walau Aunt Cass maupun Hiro tak akan tau keberadaannya. Bagaimanapun kini ia menggunakan topeng untuk menutupi identitas sebenarnya. Well, memang ide menggunakan topeng itu terdengar konyol tapi Heck! Itu satu – satunya jalan agar dia bisa berjalan bebas di café itu tanpa ada satupun orang yang mengetahui identitasnya yang asli. Setelah beberapa pertimbangan lebih lanjut lagi Tadashi akhirnya memutuskan memasuki café tersebut. Café itu masih saja sama dengan saat terakhir kali dia ada di tempat ini. Semuanya masih benar – benar sama dan sama sekali tak ada perubahan signifikan. Ia tersenyum di balik topengnya, bersyukur bahwa keadaan bibinya baik.

Namun, senyum itu tak berlangsung lama. Saat ia mendapati Hiro berada di salah satu sisi café itu bersama seorang gadis yang tidak ia kenal. Apakah berarti semua perkataan Hiro kemarin hanyalah omong kosong belaka? Heck! Bukankah ini yang Tadashi harapkan? Melindungi Hiro dari belakang tanpa diketahui siapapun? Well, memang itulah yang sebenarnya ia harapkan namun ia tak membayangkan rasanya akan sesakit ini. Gadis yang duduk berhadapan dengan Hiro terlihat sangatlah serasi dengan Hiro. Tadashi hanya dapat tersenyum miris sadar bahwa ia tak dapat menarik kembali kata – katanya. Dia sendiri kan yang menyuruh Hiro membiarkan dirinya pergi? Percuma jika ia menyesalinya sekarang.

Hiro yang asik bicara dengan gadis di depannya. Gadis bernama Ayumi tersebut adalah adik angkatannya di SFIT. Seorang gadis yang brilian dan jenius seperti dirinya, sangat jarang bukan menemukan orang yang sejenis dengannya? Oleh sebab itu Hiro merasa senang saat ia bertemu dengan sosok berambut kecokelatan itu. Namun, ketika Hiro menyadari kedatangan seorang tamu di café bibinya tersebut. Hiro segera berpamitan pada Ayumi untuk melayani pelanggan tersebut. Ayumi hanya mengangguk dengan sebuah senyum terukir di bibirnya.

Tadashi menghela nafas sekali lagi ketika kini di hadapannya sudah berdiri sosok Hiro. Jelas, sosok Hiro membentuk kerutan di dahinya. Well, kalian pasti juga akan melakukan hal yang sama kan semisal kalian mendapati seseorang bertopeng datang ke café kalian? Bisa jadi kan dia seorang penjahat super –seperti er Callaghan pada saat ia menggunakan topeng Yokai-nya- atau lebih buruknya lagi dia seorang teroris yang berusaha meledakkan café milik auntmu. Heck! Kalau sampai hal kedua terjadi… bagaimana Hiro bisa melangsungkan kelanjutan hidupnya? Setelah cukup lama berpikir dengan keras Hiro memutuskan untuk mengabaikan segala pikiran yang telah terlintas di kepalanya.

"Jadi tuan kau mau pesan apa?" Hiro akhirnya mengangkat suaranya setelah segala pikiran berat telah berhenti terlintas di kepalanya.

"Chessecake dan Cappucino."

Suara itu terdengar amat familiar di telinga Hiro. Itu suara yang baru saja ia dengar kemarin di pemakamam umum. Sial, apakah dia harus bicara terus terang bahwa ia tau bahwa sosok itu adalah Tadashi? Hiro rasa tidak, Tadashi yang ia kenal sudah mati. Tadashi yang menyayanginya dengan teramat dalam sudahlah mati. Sekarang yang tersisa adalah Tadashi yang pengecut yang bahkan tak berani mengungkapkan dirinya di dalam keluarganya sendiri. Hiro mengangguk sambil tersenyum –setengah miris- dan segera pergi ke dalam untuk mengambilkan pesanan Tadashi.

Tadashi kini kembali menatap sosok yang sedari tadi menarik perhatiannya. Sosok berambut cokelat dan bermata emerald yang nampaknya telah berhasil menarik perhatian adiknya. Jika diperhatikan dari wajahnya, sosok itu berusia dua tahun lebih muda dari Hiro. Tadashi kemudian tersenyum dalam pilu sadar bahwa saat ini adalah saatnya ia merelakan adiknya bagi orang lain dan tetap mencintai adiknya di dalam diam yang tak akan pernah dimengerti siapapun juga.

My heart is cold now

Hiro datang kembali ke meja Tadashi dengan membawa Chessecake dan Cappucino setelah itu Hiro kembali ke tempat duduknya kembali berbicara dalam bahagia dengan Ayumi. Hati Tadashi benar – benr terasa sakit. Tapi bukankah ini jalan yang telah dipilihnya sedari awal? Untuk tak kembali ke dalam kehidupan Hiro agar ia tak menyakiti adiknya tersebut lebih dalam? Ia menghela nafas panjang, tak tau apa lagi yang bisa ia lakukan. Tadashi kemudian memilih mengacuhkan makanannya karena sama sekali tak bisa melepaskan pandangannya dari adiknya dan gadis yang bersama adiknya tersebut. Hatinya seolah mati begitu saja ketika ia melihat pemandangan itu, rasa pilu di dalam hatinya bertambah kuat. Apakah benar selama ini jalan yang dipilihnya benar – benar salah?

Tadashi akhirnya memutuskan untuk menghentikan segala hal yang sedang mengalir di pikirannya dan akhirnya ia akhirnya mulai makan dengan hanya membuka topengnya sampai sebatas hidungnya. Hiro menghela nafas melihat pemandangan yang ada di dekatnya itu. Hiro rasa ia masih perlu bicara dengan kakaknya tapi ia tahu ini belum waktunya. Ia menatap Ayumi.

"Aku rasa setelah ini aku mau pergi. Kau bisa selesaikan tugasmu sendiri kan?"

Pertanyaan dari Hiro hanya mendapat respon anggukan dari sang gadis yang lebih muda drinya. Setelahnya Hiro memutuskan untuk keluar dari café dan menunggu kedatangan Tadashi dari luar. Melihat Hiro yang keluar dari café begitu saja membuat Tadashi mengerutkan keningnya. Apa lagi yang berusaha dilakukan adiknya itu? Menarik perhatiannya agar dirinya mau bicara lagi? Baiklah! Jika Hiro mengharapkan hal itu darinya, ia akan lakukan. Setelah beres dengan urusan makanannya Tadashi langsung keluar dari café masih dengan hati yang getir tentunya. Ia tahu kemungkinan besar adiknya akan membahas soal gadis itu agar Tadashi tak lagi menganggu kehidupan Hiro karena Hiro mungkin sudah benar – benar menyerah akan Tadashi yang kini telah sangatlah berubah.

Wipe yours tears from your eyes

Just leave and forget me

No need to be hurt anymore

Tadashi akhirnya menggerakan kakinya ke depan café dan benar saja dengan mudah ia mendapati Hiro disana. Tadashi menghela nafas dan mendekati adiknya tersebut.

"Aku tau kau mau bicara tapi disini terlalu dekat dengan Aunt Cass aku masih tak mau mengecewakannya." Tadashi bicara dengan sejujur – jujurnya pada Hiro.

Hiro hanya mengangguk mendengar perkataan kakaknya tersebut. Kemudian ia menatap Tadashi dengan setengah hati – hati.

"Aku akan mengikutimu dimanapun kau mau bicara denganku."

Tadashi kemudian langsung berjalan dan Hiro mengikuti di belakangnya. Mereka berdua akhirnya sampai di jembatan yang berada di dekat gedung yang dinamai setelah nama Tadashi. Gedung yang menyisakan kenangan buruk bagi Hiro. Hiro menatap kakaknya itu ragu – ragu bingung dengan apa maksud dari kakaknya tersebut. Tadashi akhirnya membuka topengnya dan terlihatlah kembali wajah miliknya.

"Jadi kenapa?" Hiro menatap kakaknya tersebut.

"Kau yang kelihatannya mau bicara, kenapa kau malah bertanya kepadaku?" Tadashi menghela nafas sembari menatap dalam mata adiknya tersebut.

"Entahlah, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu sebelum kau menghilang lagi?' kata Hiro dengan sejujur – jujurnya karena ia tahu mungkin ini benar – benar akan menjadi saat terakhirnya melihat Tadashi.

"Aku sudah bilang Hiro, aku hanyalah bisa melukaimu. Apa yang kau harapkan dariku? Kau harusnya bisa melupakanku begitu saja dan maju dengan orang lain. Misalnya saja dengan gadis yang tadi bersamamu itu." Tadashi mengucapkan segalanya dengan penuh emosi.

Hiro membelakkan matanya mendengar perkataan kakaknya tersebut. Tadashi cemburu akan seorang Ayumi? Hiro menggeleng dan menghela nafas. Bagus! Sekarang ia telah membuat kakaknya tersebut salah paham, apa gerangan salahnya selama hidup ini? Terlalu banyak bertaruh dalam bot-fight? Well, mungkin itu benar tapi kenapa semua ini menimpanya secara beruntun?

"Tadashi! Aku sudah bilang bahwa perasaanku sama denganmu! Dan Ayumi hanyalah seorang junior di kampus." Kata Hiro dengan nada yang cukup bisa dibilang kasar dan penuh dengan emosi.

Tanpa Hiro sadari di tengah perkataannya yang penuh emosi, air mata jatuh dari pelupuk matanya. Secara spontan Tadashi langsung menghapuskan air mata yang mulai membasahi Hiro tersebut. Tadashi benar – benar sadar dirinya tak akan bisa menutup luka adiknya dan ia hanya akan selalu menambah lukanya bagi adiknya tersebut dan bukankah itu berarti keputusannya untuk menghilang itu sudah benar – benar tepat? Namun kenapa hatinya masih belum bisa merelakan adiknya tersebut untuk bahagia? Sebegitu egoiskah dirinya? Menyuruh adiknya menanggung beban yang sama dengan dirinya padahal seharusnya adiknya tersebut tak menopang beban yang sama dengannya? Ia menghela nafas dan menatap adiknya tersebut lagi.

"Hiro, sudah aku kan sudah bilang padamu sebaiknya kau melupakan semuanya tentangku. Lihat aku kembali memperdalam luka yang telah kau miliki." Tadashi berkata dengan wajah kekhawatiran ala seorang kakak yang dimilikinya tersebut.

Hiro menatap Tadashi, ia benar – benar masih tak terima dengan Tadashi yang terus menyalahkan dirinya. Lagipula Hiro tak masalah merasakan rasa sakit sebesar apapun, asalkan Tadashi bersamanya itu sudah lebih dari cukup.

You said I miss you always

Everyday thinking of you

And living loneliness

Hiro menatap Tadashi sekali lagi, ia ingin mengutarakan semua perkara yang terukir di pikiran dan di hatinya pada Tadashi. Namun, ia sama sekali tak tau harus mulai dari mana. Ia benar – benar bingung, karena ia takut bila ia mengatakan sesuatu lagi Tadashi akan makin merasa bahwa dirinya adalah orang yang hanya bisa selalu melukai Hiro. Namun, Tadashi menyadari bahwa adiknya tersebut memandanginya dengan dalam seolah sangat ingin bicara dengannya. Tadashipun mengangkat suaranya guna mencari tahu apakah gerangan yang menganggu pikiran adiknya tersebut.

"Katakan saja apa yang mau kau katakan Hiro."

"Tadashi aku tau kau merasa selalu melukai diriku tapi menurutku kau tak pernah melukaiku. Aku benar – benar merasa aku tak bisa hidup tanpamu." Hiro berkata sekali lagi dengan ekspresi sendu yang terukir jelas di wajahnya.

Hiro merasa bahwa dirinya sudah cukup melewati hidupnya tanpa Tadashi. Hell, setiap hari rasa rindu akan kakaknya itu bertambah jadi dan dia tau sendiri dia tak akan bisa melepaskan pikirannya dari kakaknya. Ia tau bahwa kakaknya memanglah segala – galanya baginya karena dari awal mereka sudah selalu bersama. Sejak kematian orang tua mereka berdua, mereka tak pernah terpisahkan dan mereka baru terpisahkan setelah insiden ledakan yang diperkirakan telah menewaskan Tadashi.

"Kau mungkin tak merasakannya Hiro tapi aku merasa telah gagal menjadi seorang kakak." Tadashi berkata dengan nada pilu yang amat kentara.

"Dashi, aku tak pernah bisa melepasmu dari pikiranku tanpa kenapa kau melepasku dari pikiranmu begitu saja? Apakah itu karena perasaan kita disebut terlarang?" Hiro berkata dengan nada yang terdengar lebih pilu daripada Tadashi.

Tadashi memandangi adiknya tersebut dengan bertambah sedih. Sialan, dia telah melukai adiknya lagi. Sudah dia buktikan bukan? Ia menemui adiknya dua kali dan dia juga telah membuat adiknya menangis dan merasa terluka lebih dari dua kali. Tadashi sekali lagi tersenyum miris pada kegagalan yang dirasakannya

"Aku hanya tak mau melukaimu. Aku datang lagi padamu dan kau tahu sendiri aku hanya bisa membuatmu menangis dan merasakan kepedihan yang dalam." Tadashi berkata sambil menatap Hiro dengan tatapan pilu yang cukup dalam.

Hiro memandang kakaknya tersebut. Apakah kakaknya tersebut tak tau jika selama ini ia telah hidup dalam kesendirian dan kesepian? Ataukah kakaknya tersebut tak mau tau segala kesendirian yang telah ia lalui? Sekali lagi air mata turun dari pelupuk matanya. Satu lagi pertanyaan terukir di kepalanya, Akankah kakaknya tersebut menyadari kesendirian yang ia jalani selama sejauh ini? Ataukah kakaknya hanya akan pergi lagi tanpa mempedulikan segala luka yang telah terukir di hati Hiro?

But when you feel sadness

Never can I stay with you

Tadashi kembali menatap Hiro dan kembali mendapati adiknya tersebut menangis dalam pilu sekali lagi. Tadashi menghela nafas dalam, semua yang ada di pikirannya memanglah benar dan kedatangannya memang hanya akan selalu membawa kesedihan dan pilu bagi adik semata wayangnya tersebut. Tadashi kembali menghapus air mata yang mengalir turun dari mata Hiro.

"Hiro seharusnya kau tau aku paling benci melihatmu bersedih." Tadashi berkata dengan suara tenang namun dalam.

Hiro memandang kakaknya tersebut tajam. Benci melihatnya bersedih? Heck! Kalau Tadashi memang benci melihatnya bersedih, kenapa Tadashi tak mau berhenti dari permainannya dan langsung kembali ke hidupnya? Hiro mendengus dan tertawa bak orang gila karena merasa dirinya telah dipermainkan.

"Hahaha! Kau benci melihatku bersedih? Lalu kenapa kau tetap meninggalkanku dalam kesepian dan kesunyian? Aku ini tak bodoh!" Hiro kemudian berteriak setengah frustasi.

"Aku meninggalkanmu karena aku hanya bisa melukaimu, Hiro! Semua ini juga demi kebaikanmu." Tadashi berkata dengan nada yang tegas.

Jujur Hiro merasa bahwa ada baiknya kalau dia menarik kakaknya tersebut dan langsung membawanya pulang serta menunjukkannya pada Aunt Cass tapi Hiro rasa itu hanya akan membuat bibi mereka jantungan. Hiro sekali lagi tertawa bak orang gila karena tahu bahwa kakaknya telah mempermainkannya terlalu dalam.

"Buktikan Tadashi! Kalau kau tak bisa melihatku terluka! Buktikan!" Hiro kemudian berteriak dalam frustasi yang lebih dalam dari sebelumnya.

Suara yang kali ini dimunculkan oleh Hiro benar – benar menunjukkan betapa terlukanya sang jenius. Tadashi hanya dapat menatap adiknya dalam pilu. Berharap agar dia benar – benar bisa membuktikan segalanya, well tapi ia tak bisa karena kemunculan dalam hidup adiknya hanyalah bisa melukai hidup adiknya tersebut. Dan ia tak akan pernah kuat melihat adiknya terluka secara terus – menerus oleh dirinya sendiri.

Go away from me now

I don't know what is love

No need to be hurt anymore

Tadashi kemudian menatap Hiro. Air mata Hiro kini telah mongering dan Tadashi sadar jika ia ungkapkan hal yang kini terukir dengan jelas di pikirannya air mata akan kembali jatuh dari mata indah milik adiknya tersebut. Tadashipun memilih untuk memeuluk Hiro sebagai permulaan, ia kemudian mengangkat wajah Hiro agar mata mereka berdua saling bertemu.

"Apa lagi kali ini, Dashi? Perkataan untuk melukaiku lagi?" Hiro bertanya dengan nada yang sangat kecewa.

"Ya, untuk membuktikan bahwa aku yang selalu melukaimu." Kata Tadashi dengan yakin.

Hiro langsung merutuki dirinya sendiri. Sial! Ia ingin bukti bahwa Tadashi benar – benar tak bisa tahan melihat dirinya dalam kesedihan, tapi kenapa ia dapatkan malah bukti bahwa Tadashi adalah orang yang selalu melukainya? Hiro menatap mata yang memiliki warna sama dengan matanya dengan dalam dan pilu.

"Kau tak pernah melukaiku, Dashi! Kau yang selalu peduli denganku selama ini." Hiro bicara dengan nada tegas namun penuh dengan emosi.

"Kalau aku tak pernah melukaimu, lalu siapa yang telah membuatmu menangis? Lagipula Hiro ini waktunya kau maju! Lupakan saja aku, anggap saja bahwa aku sudah benar – benar mati." Tadashi kembali mengungkapkan keinginannya pada sang adik.

Hiro kemudian menggelengkan kepala, pertanda ia menolak untuk mendengarkan permintaan Tadashi. Tadashi kemudian memilih mencium adiknya tersebut, ketika ia melepaskan ciumannya ia kembali menatap dalam Hiro.

"Semuanya cukup sampai disini, Hiro. Aku tak mau melihatmu terluka oleh diriku lagi." Tadashi berkata secara berjalan meninggalkan Hiro sendirian di atas jembatan.

Hiro memandangi kakaknya tersebut dengan tak percaya. Benarkah semudah itu Tadashi melepaskan dirinya dari Hiro? Benarkah Tadashi akan semudah itu melupakannya. Hiro kembali menahan tangisnya dalam pilu, hidup memang terkadang tidaklah adil.

Can't find my way

Tadashi yang berjalan meninggalkan Hiropun bergumul dengan hatinya sendiri. Sejujurnya ia tak mengerti kenapa ia terus memilih jalan yang menyakiti dirinya sendiri ini? Well, mungkin memang benar alasan utamanya adalah untuk mencegah adiknya terjebak dalam lara yang memilukan. Tapi tak dapatkah ia bahagia dengan jalannya ini? Ataukah selama ini jalan yang dipilihnya adalah sebuah kesalahan?

Tadashi tau ada satu pertanyaan yang tak akan pernah terselesaikan dalam hidupnya. Yaitu pertanyaan tentang benar atau tidaknya jalan yang ia pilih. Namun, setidaknya dengan jalan yang ia pilih ini ia merasa puas karena ia tak akan membiarkan adiknya terlalu lama terjebak dengan dirinya yang bukanlah seorang kakak yang baik. Walau ia tak menemukan jalan yang terbaik tapi baginya inilah jalan alternatif yang bisa dilakoni.

Sementara itu Hiro masih benar – benar tak bisa mengetahui bagaimana jalan pikiran Tadashi dan dia tak akan benar bisa menemukan jalannya sendiri tanpa adanya seorang Tadashi. Dan sekarang yang menjadi sebuah pertanyaan yang tak terselesaikan bang sang jenius adalah akankah ia terjebak disini selamanya, terjebak pada rasanya akan Tadashi dan tak akan pernah menemukan jalannya sendiri? Entahlah, Hiro hanya bisa menyerahkan jawabannya pada takdir yang akan menimpanya di masa depan.

~END~

A/N: Yeay! Selesai akhirnya setelah berjuang dengan penuh pikiran dan editing sana sini akhirnya chapter 2 alias chapter terakhir dari Unfinished selesai. Yuhu seperti biasa author menunggu review dari reader sekalian. Oh ya dan balesan untuk review kemarin

Mami Fate Kamikaze : ehehe halo lagi! Iya Hiro kasihan ya disini saya juga gak tega tapi biarkanlah si jenius bersedih! /disepak/ Tadashi hidupnya ya begitu. Sudah ya ini lanjutannya