Memories of Summer
.
.
Remake of Hotarubi no Mori e
(Yuki Midorikawa's)
.
.
Pairing
Jeon Jung Kook
x
Jung Ho Seok
.
.
Author Note
Maaf lama updatenya! :D Maaf juga kalo Bahasa author makin ancur dan banyak typo ataupun kesalahan kata. Tapi HAPPY READING~
.
.
Arzah el Nhaapresents
.
.
"Apapun yang terjadi… Jangan menyentuhku."
.
.
.
Musim panas selanjutnya, dan musim panas selanjutnya. Jungkook selalu masuk ke dalam hutan untuk menemui Hoseok. Hoseok adalah daftar orang yang harus ia temuni setiap musim panas. Dan Hoseok selalu menantikan itu.
Summer, 2010
Jungkook dengan buru-buru memakaikan seragam baru di tubuhnya. Ia berdiri di depan kaca, memperhatikan pantulan dirinya sambil tersenyum senang.
"Lee Ahjussi aku pergi!"
Jungkook pergi masuk ke dalam hutan dan berhenti di depan gapura. Hoseok sudah menunggu di sana, dan itu membuat Jungkook tersenyum lebar.
"Lihat~ Aku sudah SMP." Ucapnya sambil berpose.
"Dan… Kau jadi terlhat lebih ke-laki-laki-an." Ucap Hoseok dengan nada datar yang selalu ia gunakan saat berbincang.
"Yak! Aku memang laki-laki—tunggu, apa kau selama ini mengira aku perempuan dan mulai jatuh cinta padaku?" Tanya Jungkook dengan wajah yang dibuat mengerikan.
DUAK!
"Ah! Appoo…" Ucap Jungkook mengelus jidat yang selalu menjadi sasaran pukulan Hoseok.
"Dasar bocah, ayo pergi." Ucap Hoseok kemudian mulai berjalan menjauhi Jungkook. Sedang Jungkook langsung berjalan mengikuti Hoseok di belakang.
Mereka berkeliling hutan, sama seperti biasanya dengan diselingi beberapa cerita dan candaan. Dan Jungkook tak bosan-bosannya memperhatikan topeng kelinci Hoseok.
"Jangan melihatku seperti itu, nanti naksir." Ucap Hoseok balik memperhatikan Jungkook.
"Heh?! Yang ada aku naksir topengnya hyung!" Jawab Jungkook tak terima. Sedangkan Hoseok hanya tertawa renyah.
"Mmm… Ngomong-ngomong, walaupun aku sudah SMP beberapa teman SD ku kembali jadi teman sekelasku lagi. Jadi tidak terlalu banyak perubahan." Ucap Jungkook basa-basi.
"Perlahan-lahan usiaku akan sama dengannya. Umur Hoseok hyung berjalan lebih lambat dari manusia biasa. Tiap tahun penampilanku berubah, tapi penampilan Hoseok hyung tetap sama."
"Begini?" Tanya Hoseok yang sedang mengangkat sebuah layang-layang putih.
"Iya, begitu! Lepas saat aku mulai berlari ya?" Sedangkan Jungkook yang memegang tali kendali.
"Satu.. Dua… TIGA!" Jungkook berlari dan Hoseok melepaskan layangan itu. Benda putih itu terbang di langit. Jungkook dengan wajah berbinar mulai menaikkan layangannya lebih tinggi lagi.
Hoseok berjalan ke samping Jungkook dan ikut memperhatikan layangan putih yang diterbangkan Jungkook. Hingga akhirnya ia lebih memilih memperhatikan Jungkook yang terlihat sangat gembira seperti pertama kalinya menerbangkan sebuah layangan.
Jungkook menoleh dan menatap Hoseok. Ia menyodorkan tali yang ia pegang sambil menunjukkan cengiran bodonya. "Hyung mau coba?"
.
Jungkook berjalan menelusuri hutan hendak pulang, dan Hoseok berada di sampingnya. Mereka diam, hening. Tidak ada perbincangan, tidak ada suara, hanya suara daun-daun bergesekan serta langkah kaki mereka.
Hoseok berhenti berjalan. Jungkook yang sudah agak jauh dan menyadari hal itu ikut berhenti. Ia menoleh untuk mengecek Hoseok.
Hoseok tengah mendongakkan kepalanya karena sebuah kupu-kupu hinggap di topengnya. Perlahan ia melepaskan topengnya dan membiarkan kupu-kupu itu terbang mengelilinginya. Hoseok memejamkan matanya, menikmati udara sore yang berhembus seperti mengelus wajahnya.
Jungkook diam. Hoseok memang tampan. Bisa dibilang Jungkook sekarang jatuh dalam pesona Jung Hoseok, yang bahkan ia tidak tau dia siapa, darimana, atau apapun tentangnya. Tapi… Entahlah.
.
.
.
Jungkook berbaring di atas lantai kayu sambil memandangi langit-langit. Wajahnya tampak berpikir, pandangannya menerawang. "Suatu hari nanti, aku akan lebih tua dari Hoseok hyung, ya?" Tanya Jungkook dalam hati. Jungkook kembali diam.
"Jungkookie, ahjussi punya semangka. Ayo makan." Ucap pamannya.
"Baik~" Jawab Jungkook bergegas mengikuti pamannya kemudian duduk di sebelahnya. Ia mengambil sepotong semangka merah nan besar dan melahapnya.
"Dimana eomma?" Tanya Jungkook.
"Eomma dan ahjumma pergi berbelanja ke pasar."
"Besok, kau naik kereta jam berapa?" Lanjut pamannya sambil membuang biji semangka dari mulutnya.
"Tidak tau, tapi eomma bilang ada waktu sampai siang."
"Cuaca musim panas ini bagus, jadi semangkanya manis. Tapi jika begini musim dingin akan bertambah dingin, bahkan hutan itu bisa saja beku." Ucap pamannya sambil terus melahap semangkanya. Sedangkan Jungkook terdiam mengamati semangkanya.
Jung Hoseok
Itulah satu orang yang tengah berada di benaknya sekarang. Entah mulai kapan tapi Jungkook tak henti-hentinya memikirkan namja itu.
.
.
.
Hoseok memandang heran sebuah pelastik yang berada di tangannya. Setelah agak lama berpikir ia kembali menatap Jungkook.
"Syal?" Tanya Hoseok.
"Hmm! Pakailah saat musim dingin nanti." Ucap Jungkook. Ia berjalan dengan berat hati meninggalkan Hoseok. Jungkook membalikkan badannya dan sekali lagi melambaikan tangannya.
"Hoseok hyung, sampai jumpa tahun depan!" Teriak Jungkook sebelum ia berlari menjauh untuk keluar dari hutan.
.
.
.
Bel pergantian jam sudah berbunyi sedari tadi. Tapi Jungkook masih belum beranjak dari tempat duduknya. Ia menatap keluar jendela, memperhatikan rumah-rumah yang di selimuti salju putih yang semakin lama semakin banyak.
Cklek.
Jimin masuk ke dalam kelas yang sudah sepi, sekedar untuk mengambil sebuah buku yang ketinggalan. Saat hendak kembali, Jimin berhenti dan melihat Jungkook.
"Jeon Jungkook? Bukankah kita harus pergi ke pelajaran selanjutnya?" Tanya Jimin membuyarkan lamunan Jungkook.
"Ah benar! Tunggu, semuanya sudah pergi? Huaaa!"
Di sekolah, bahkan di rumah Jungkook menjadi begitu pendiam dan selalu tampak memikirkan sesuatu.
"Aku selesai." Ucap Jungkook sambil menaruh sumpitnya di atas meja. Ia beranjak dari meja makan dan mulai berjalan masuk ke kamar. Jungkook merebahkan dirinya di atas kasur dan mulai melamun lagi.
"Jung Hoseok… Kau membuatku gila!" Ucap Jungkook sambil menutupi dirinya dengan selimut.
.
Jungkook berjalan, berangkat sekolah di pagi hari yang sangat dingin. Lagi-lagi ia melamun, tidak fokus pada jalannya.
"Jungkook."
"JEON JUNG KOOK" Jungkook tersadar dan menoleh ke sumber suara. Itu Jimin, teman sekelasnya.
"Hati-hati, di depanmu jalan membeku." Ucap Jimin. Jungkook berhenti dan memperhatikan jalanan di depannya. Benar-benar membeku.
"Itu licin. Hati-hati, nanti kau terpeleset." Ucap Jimin sambil mengulurkan tangannya pada Jungkook. Jungkook tersenyum. "Terima kasih" Jawab Jungkook sambil menerima uluran tangan Jimin.
"Hari ini dingin." Ucap Jimin sambil terus menggandeng tangan Jungkook. "Kau melamun lagi. Kau sering melakukannya, bukan begitu?"
Jungkook hanya terdiam.
Hoseok hyung… Apa yang kau lakukan sekarang? Aku ingin bertemu denganmu.
Sedangkan di hutan. Setumpuk salju menghiasi pepohonan tanpa daun. Hoseok duduk di dekat gapura dengan jaket tebal, celana hitam panjang dan… Syal pemberian Jungkook. Hoseok membuka topengnya dan merasakan dingin yang menusuk tulangnya.
Hoseok hyung… Aku ingin menyentuhmu.
.
.
.
Summer, 2013
Jungkook tersenyum manis dengan seragam hitam yang terbalut di tubuhnya. Hoseok memperhatikannya dari atas ke bawah, kembali lagi bawah ke atas.
"Biar kutebak… Ini seragam barumu?" Tanya Hoseok. Jungkook mengangguk lucu.
"Kau sudah SMA? Cepat sekali. Rasanya seperti baru kemarin kita bertemu, haha." Ucap Hoseok.
Hari ini Hoseok dan Jungkook pergi ke danau. Mereka duduk di atas rerumputan dan memperhatikan seekor katak yang berenang di dalamnya.
"Kau tidak bermain kejar-kejaran denganku lagi?" Tanya Hoseok.
"Hmm… Aku sudah belajar dari kesalahanku kemarin. Kau menyebalkan, hyung." Ucap Jungkook dengan mengerucutkan bibirnya.
Mereka tertawa kecil dan kemudian kembali diam. Hingga akhirnya Jungkook angkat bicara.
"Jika sudah besar nanti, aku akan mencari kerja di sekitar sini. Jadi aku bisa terus bersamamu." Ucap Jungkook tersenyum sambil menatap langit.
"Musim semi… Musim gugur… Bahkan musim dingin. Aku akan terus bersamamu."
Hoseok cukup tersentuh mendengarnya. Senyuman tulus Jungkook mempu membuat jantungnya terpompa begitu cepat.
"Jungkook-ah… Aku ingin menceritakan tentang diriku." Ucap Hoseok.
"Aku bukan arwah. Tapi, aku bukan manusia. Saat aku bayi, orang tuaku membuang diriku di sini. Karena sedih, aku menangis. Seharusnya aku sudah mati. Tapi dewa gunung di sini memberiku kekuatan agar tetap hidup. Tubuh yang dialiri sihir seperti ini sangat lemah. Makanya, kau tidak apa melupakanku. Lagipula sekali tersentuh, sihirnya akan hilang, aku akan lenyap. Sangat rapuh."
"Sesuatu yang hilang saat di sentuh… Seperti salju, kan?" Tanya Jungkook sambil tersenyum kemudian menunduk.
"Hoseok hyung, jangan lupakan aku, jangan pernah. Waktu mungkin saja memisahkan kita, tapi hingga saat itu, teruslah bersamaku."
.
.
.
"Festival arwah?"
"Bukan, festival musim panas yang diadakan oleh para arwah." Hoseok menyangkal.
"Haish, sama saja." Ucap Jungkook tak mau kalah. "Tapi nuansanya sangat berbeda!" Hoseok ikut-ikutan. "Sebenarnya dari dulu aku ingin mengajakmu, tapi aku pikir aku akan ketakutan. Makadari itu… Malam ini… Kau bisa keluar diam-diam dan pergi ke hutan?"
Jungkook menganggukkan kepalanya senang. "Aku akan pergi!" Teriaknya.
"Tapi… Pasti banyak arwah-arwah menakutkan, dan lagi itu malam hari."
"Tenang saja, rasanya sama seperti festival manusia. Lagipula, aku akan melindungimu Jeon Jungkook." Jungkook tersenyum, jantungnya terasa geli. "Ughh… Saat hyung berkata seperti itu rasanya aku ingin memelukmu—"
"Lakukan saja" Ucap Hoseok dengan cepat memotong.
"Aku tidak main-main, lakukan saja."
.
.
.
Malam ini Jungkook benar-benar pergi secara diam-diam ke festival. Matanya seakan berbinar melihat festival yang sedang digelar para arwah. "Wuah… Benar-benar seperti biasa. Mereka semua berubah menjadi manusia ya?" Tanya Jungkook.
Jungkook kembali memperhatikan sekitar. Semuanya benar-benar mirip dengan festival manusia biasa. Dan itu membuat Jungkook kagum.
"Jungkook-ah." Panggil Hoseok. Ia mengeluarkan sebuah kain putih berukuran satu meter. "Ikat ini di tanganmu. Kau bisa saja tersesat." Hoseok mengikat bagian kanan di tangannya dan bagian kiri di tangan Jungkook. "Wuah… Terlihat seperti sevuah kencan~" Ucap Jungkook tersenyum. "Ini memang sebuah kencan~" Jawab Hoseok sambil mendekatkan wajahnya.
Pertunjukan kembang api, toko pernak-pernik, bahkan jajanan. Semuanya sama. Ya, Jungkook menikmati kencan ini. Bahkan beberapa arwah anak kecil menggoda mereka, Jungkook yang mengejar anak-anak kecil serta Hoseok mau tidak mau ikut mengejar.
"Lihat! Topeng ini jelek sekali, hahaha!"
.
Jungkook dan Hoseok berjalan pulang. Jungkook tampak senang malam ini. Ia merasa hebat karena telah mengikuti festival para arwah di hutan pada malam hari. Dan itu membuatnya percaya diri.
"Tadi menyenangkan sekali!" Teriak Jungkook.
Hoseok tersenyum.
"Jungkook-ah. Aku tidak tahan menunggu musim panas tahun depan."
Jungkook berhenti. "Eh?"
"Saat jauh, aku ingin bertemu dengan mu."
Hoseok melepaskan topeng kelincinya dan memasangkannya pada wajah Jungkook. Perlahan ia mendekatkan wajahnya pada Jungkook kemudian mencium topeng itu.
Hoseok kembali berjalan. "Topeng itu… Buatmu saja." Ucap Hoseok.
"Dia mungkin tidak akan disini lagi saat musim panas selanjutnya."
"Hahaha! Tunggu aku!" Teriak seorang namja kecil mengejar kakak perempuannya.
"Ehh…" Namja itu hendak jatuh. Hoseok dengan sigap menangkapnya.
"Hati-hati!" Hoseok memegang lengan namja itu.
"Kau baik-baik saja?"
"Terima kasih!" Namja itu kemudian pergi bersama kakaknya.
Jungkook membalikkan badannya dan—
"Hoseok... Hyung?" Matanya terbelalak kaget. Tangan Hoseok bersinar, sekeping, dua keping segel mulai melayang dan menghilang.
"Tunggu! Tadi itu, manusia?" Tanya Jungkook panik. Sedangkan Hoseok hanya bisa memandangi tangannya yang mulai menghilang seiring terlepasnya berkeping-keping segel yang membalut tubuhnya.
Ketika wajah Hoseok mulai ikut bersinar Jungkook semakin panik dan terus meneriakkan nama Hoseok. Hoseok menatap Jungkook dan membuka lebar tangannya.
"Kemarilah, Jeon Jungkook. Akhirnya aku bisa menyentuhmu."
Tanpa pikir panjang Jungkook melepaskan topengnya dan memeluk tubuh Hoseok erat. Semakin erat hingga tubuh tinggi yang selalu berada di pikirannya itu lenyap tanpa sisa.
"Hiks… Hiks… Bisa menyentuh? Tapi akhirnya kau menghilang, bodoh—hiks… Hiks…" Air mata Jungkook tak mampu dibendung lagi.
"Aku mencintaimu, Jeon Jungkook." Hanya itu pesan terakhir dari Hoseok yang disampaikan angin pada Jungkook.
.
.
.
Sangat hijau. Itulah hutan tempat para arwah berkumpul. Dengan kunang-kunang menyala yang menghiasi pepohonan di malam hari. Aku mungkin tidak akan bisa menunggu musim panas lagi. Tapi kenangan musim panas yang lalu akan terus hidup di dalam hatiku.
.
.
.
END
Yeyeyeyeye~ Akhirnya selesai juga! HAHAHAHA (^o^)
Maaf updatenya lama! Author dengan tega meninggalkan projek ini dan mulai mengerjakan cerita yang lainnya. Maap yah kalo rada aneh gimana gitu, gk terlalu niat buatnya. Hehehe (v)
Sekian, gomawooo! (/^o^)/
