Chapter 2

LIGHTSABER

Author: RyeoKaiSoo/ Park EunRim

Cast: Member Exo and etc

Rated: T

Pairing: HunKai

Genre: Romance, sci-fi, friendship, action, etc.

Disclaimer: EXO punya Tuhan Yang Maha Esa, SM Ent, EXO L, orangtua dll. Tapi cerita ini punyaku ^_^! Jadi aku pinjam EXOnya ya? Inspirasi dari lagu EXO-Light saber

Summary: Keadaan dunia tahun 3015, semua orang semakin sibuk dengan urusan pribadinya, individualisme semakin tinggi. Orang yang tidak memiliki uang tidak akan bertahan hidup, orang yang memiliki uang akan berkuasa atas orang yang tidak memiliki uang. Kejam? Tapi ini hidup yang dijalani manusia tahun 3015. (ff HunKai pertama, tdk suka Yaoi menjauh, maksa silahkan)

Warning: Yaoi, typo, tidak sesuai EYD, cerita pasaran, alur kecepetan dll.


"Kau siapa?"

"Hanya seorang pemulung"

"Kau gila barang seperti ini bisa mengahancurkan bumi?"

"Aku tidak akan menahan perasaanku lagi"


.

.

.

"Kau harus dapatkan Oh Sehun, karena dia tinggal bersama orang yang kita cari. Kalian harus bisa dapatkan Oh Sehun, alat itu, dan orang yang bernama Park Chanyeol. Mengerti?!"

"Ya, saya mengerti. Anda tidak perlu khawatir, sesuai perintah anda Tuan Choi"

.

.

Tempat pembuangan limbah adalah tempat yang terletak di pinggiran kota dan dekat dengan pabrik-pabrik. Tempat yang tidak pernah dilirik oleh siapapun tapi sangat berguna bagi orang banyak, tempat yang tidak pernah dikunjuni orang lain selain pemulung atau kaum atas yang sedang mengadakan penelitian.

Tapi bagi Jongin, tempat ini adalah tempatnya mencai uang dan melakukan pelanggaran hokum yaitu, memperbaiki robot. Jongin yang sedang bekerja mengernyit merasakan getar ponselnya, ia segera mengambil ponselnya dan menekan tombol hijau.

"Yeo-"

"OPPA! AKU MERINDUKAN OPPA!" teriakkan seorang gadis yang sangat nyaring dank eras bahkan sampai terdengar pekerja yang lain, Jongin menghela nafas melihat suara adiknya yang sangat memekakan telinga ini.

"Apa maumu? Kenapa menelfonku saat bekerja?" tanya Jongin. Seorang di seberang sana tersenyum lalu tertawa kecil.

"Datanglah ke restorant yang sering kita kunjungi" pinta orang di seberang sana dengan nada manja yang sangat kental terdengar.

"Aku tidak bisa, aku sedang sibuk"

"Baik, aku menunggumu di café oppa… bye~" belum sempat Jongin bicara banyak adik tersayangnya sudah memutuskan telfon. Jongin berdecak sebal, segera ia berjalan keluar dari tempat tumpukkan limbah ia tidak mau mencari masalah dengan adiknya.

.

Seorang gadis berkuncir kuda duduk manis di salah satu kursi yang tidak melayang, matanya terus melirik jam yang yang ada di hadapannya, gadis berkulit putih itu terus menggeser-geser layar jam miliknya. Gadis itu adalah adik Jongin yang bernama Krystal Kim, Krystal tersenyum manis melihat Jongin masuk dan langsung duduk di depannya.

"Oppa…"

"Kau mau apa?" Krystal berdecak sebal melihat kakak satu-satunya ini yang langsung bertanya tujuannya.

"Aku tidak ingat, mungkin makanan bisa menyegarkan ingatanku"

"Aku tidak bawa uang" tolak Jongin, Krystal mengerucutkan bibirnya kesal.

"Oppa! Aku akan menggeledahnya, pesankan aku makanan" ancam gadis berkulit putih yang berbanding terbalik dengan kakaknya. Jongin menghela nafas lalu menekan tombol di tengah-tengah meja, beberapa detik kemudian sebuah layar muncul yang menampilakan macam-macam makanan yang disediakan di restorant ini. Krystal memencet beberapa makanan lalu menekan tombol 'send'.

"Kau mau apa? Kenapa menyuruhku pergi saat sedang bekerja?" tanya Jongin lagi. Krystal tersenyum lalu menyerahkan sebuah batang besi mirip ponsel jaman dulu pada Jongin. Jongin menekan tombol yang ada di tengah-tengah lalu tampil sebuah layar yang menampilkan sebuah surat undangan.

"Apa ini? Kau mau aku datang ke acara penghargaanmu?" tanya Jongin, Krystal mengangguk imut. Seorang robot muncul dari tengah-tengah meja menaruh pesanan Krystal.

"Gomawo, robot imut" ucap Krystal. Robot itu hanya mengangguk lalu kembali masuk.

"Oppa, ajak Baekhyun oppa juga. Oppa tidak pernah datang ke acara apapun yang bersangkutan denganku kali ini aku mohon datanglah" pinta Krystal. Jongin menatap adik satu-satunya itu dengan senyum, perlahan kepala Jongin mengangguk membuat Krystal tersenyum gembira lalu kembali makan.

"Satu lagi, minta Baekhyun Oppa memperbaiki cara berpakaianmu"

.

Krystal kembali tersenyum sebelum mereka benar-benar terpisah. Jongin balas tersenyum lalu mengacak-acak rambut Krystal sayang.

"Jangan sampai lupa oppa, aku akan marah kalau oppa lupa"

"Nde, Oppa tidak akan lupa" ucap Jongin penuh penekanan disetiap katanya. Krystal tersenyum lalu memeluk Jongin erat, Jongin balas memeluk Krystal sangat erat.

"Lihat kulitmu, kau bahkan tidak mirip Oppaku lagi karena kulitmu berubah warna menjadi hitam"

TAK

"Aw!" ringis Krystal karena Jongin memeberinya sebuah hadiah yaitu, jitakan. Jongin memang sensitive jika sudah berurusan dengan warna kulitnya, ia tidak suka jika warna kulitnya yang mennurutnya sexy diejek jelek.

"Jangan ejek warna kulitku, aku juga begini untukmu" Krystal tersenyum lalu menduduk, jari-jarinya yang lentik terus memainkan ujung dress berwarna pastel yang ia kenakan.

"Karena itu, aku belajar sangat rajin untuk mencari pekerjaan lalu membawa Oppa dan Baekhyun Oppa keluar dari rumah dan tempat limbah itu"

TAK

Kembali Jongin melayangkan jitakan ke kepala Krystal.

"Oppa! Itu memang tujuanku"

"Jangan pikirkan aku atau Baekhyun sekarang, belajar yang rajin lalu tepati janjimu tadi" Krystal tersenyum lalu memberi hormat pada Jongin. Jongin tersenyum lalu kembali memeluk Krystal, mereka cukup lama berpelukan hingga sebuah suara muncul dari arah belakang memanggil Krystal.

Seorang pria mungkin, menurut Jongin orang itu bisa dikatakan wanita juga pria. Krystal tersenyum melihat orang yang memanggilnya sepertinya mereka saling mengenal.

"Amber"

"Krystal"

Orang itu-Amber memeluk Krystal lalu membungkuk hormat pada Jongin.

"Annyeonghaseyo, Amber imnida" ucap Amber memperkenalkan dirinya, Jongin mengangguk lalu menatap Amber dari ujung kaki sampai ujung kepala.

"Dia yeoja" ucap Krystal menjawab kebingungan Jongin, Jongin mengangguk paham. "Dia teman kuliahku"

"Apa dia kakakmu? Orang yang kau sebut pahlawan?" tanya Amber yang langsung dijawab anggukan oleh Krystal. Jongin menatap Krystal yang tersenyum ke arahnya.

"Oppa jangan lupa datang ke acara penghargaanku, ingat minggu depan" Jongin mengangguk. Krystal mengecup kedua pipi Jongin lalu ia dan Amber pergi ke sebuah took buku. Jongin hanya tersenyum menatap punggung adiknya yang mulai menjauh, Jongin berpikir mereka pasti pergi kencan di took buku.

"Lebih baik aku kembali bekerja" gumam Jongin lalu berjalan ke tempat pembuangan sampah yang lumayan jauh. Beberapa pria berbadan besar dan berbaju hitam berjalan ke arahnya, Jongin yang cuek terus berjalan ke depan tidak menghiraukan pria-pria itu.

"Kau!" Jongin mengernyit melihat jalan yang ia lewati dihadang oleh pria-pria itu. Jongin menunjuk dirinya sendiri dan dibalas oleh anggukan.

"Apa?" tanya Jongin.

"Kau mau kami antar ke tempat pembuangan limbah?" tawar salah satu pria yang tepat berdiri di hadapan Jongin. Jongin tersenyum lalu menggeleng, ia kembali berjalan tapi kembali jalannya dihadang.

"Kami sedikit memaksa sekarang, mobil kami tidak kelihatan berbahayakan?" tanya pria tadi sambil menunjuk mobil milik mereka yang berwarna hitam sepertinya mobil itu bisa di kendarai di udara dan darat.

"Tidak, aku bisa jalan sendiri" tolak Jongin yang merasakan firasat buruk akan menimpanya saat melihat pria di hadapannya semakin banyak jumlahnya. Jongin berbalik lalu berlari menjauh tapi kembali jalannya di hadang oleh sejumlah pria yang jumlahnya lebih banyak dari yang tadi. Kali ini firasat Jongin benar, akan ada sesuatu yang buruk terjadi, Jongin kembali berbalik tapi pria-pria tadi sudah menghalanginya.

"Kau mau kami antar?"

.

Sehun menatap Chanyeol yang masih serius dengan beberapa monitor, mouse, keyboard dan beberapa alat yang Sehun tidak tahu namanya.

"Kapan kau mau bekerja? Kau sudah bolos satu minggu lebih" tanya Sehun yang kesal melihat sahabatnya itu yang tidak peduli dengan pekerjaan yang sangat susah sekali ia dapat karena latar belakang pendidikannya yang bahkan tidak lulus SMA.

Chanyeol membuka kacamata silinder miliknya lalu menatap Sehun yang berdiri di ambang pintu kamarnya.

"Kau tahukan aku sedang berusaha membobol CCTv jalan raya agar kau bisa bergerak cepat mengalahkan polisi-polisi malas itu" Sehun menghampiri Chanyeol lalu menjitak kepalanya cukup keras.

"Kau bergurau? Itu namanya curang bodoh!" maki Sehun yang tidak suka cara Chanyeol membantunya seolah-olah ia tidak berguna sama sekali menjadi polisi, tapi memang benar sih.

"Terserah, pergilah kau menggangguku" usir Chanyeol yang tidak peduli dengan tatapan tajam Sehun. Chanyeol kembali sibuk dengan huruf (alphabet), angka, tanda baca yang aneh dan masih banyak lagi tulisan-tulisan aneh yang hanya Chanyeol dan beberapa orang yang tahu.

"Yeay! Berhasil, aku berhasil membobolnya" Chanyeol bersorak senang beberapa detik kemudian layar monitor miliknya menyajikan gambar yaitu, kondisi jalanan udara maupun darat. Chanyeol mencari gambar lain yang menurutnya menarik, jarinya berhenti mengklik mouse melihat salah satu gambar CCTv memunculkan seorang pemuda sedang diancam sepertinya.

"Sehun! Oh Sehun! Bantu pemuda ini, kau pasti kasihan melihatnya. SEHUN!" panggil Chanyeol cukup keras. Sehun yang kesal menghampiri Chanyeol lalu duduk di bangku yang berada di samping Chanyeol.

"Apa?" tanya Sehun. Chanyeol menunjuk gambar yang masih menampilkan peristiwa tadi. Sehun mengernyit melihat pemuda yang terekam di CCTv jalanan ini. Pemuda yang tidak asing di matanya, Sehun mezoom ke wajah pemuda yang sedang dihadang oleh beberapa pria bertubuh besar.

"Maaf aku tadi tidak sengaja"

"Aku bilang tidak ap-"

"a… a… aku tidak apa-apa. Permisi aku buru-buru"

"Trotoar?" gumam Sehun yang baru teringat wajah berkulit tan itu, pemuda yang tidak sengaja ia tabrak kemarin.

"Wow, apa dia diculik? Sepertinya yang menculik orang kaum atas, mobilnya saja bisa dikendarai di udara atau darat. Kenapa dia mau menculik pemuda itu?" tanya Chanyeol yang mulai menebak-nebak apa yang terjadi. Sehun menatap Chanyeol lalu mencengkram kerah kemeja yang digunakan sahabatnya.

"Kau harus membantuku, semua ini terjadi karena kau. Kita juga harus segera mengungsi. Kau harus membantuku" Chanyeol mengangguk patuh meskipun matanya menatap Sehun bingung, ia memberikan earphone yang terhubung dengan miliknya, sebuah kacamata yang bisa merekam dengan cepat, dan kunci mobil.

"Pergilah, aku akan membimbingmu dari sini" Sehun mengangguk, ia segera berlari keluar tapi sebelum itu Sehun mengambil sebuah senapan.

.

Kembali ke Jongin, Jongin kali ini sangat gugup dan jujur saja ia ketakutan. Jongin melirik ke kanan dan kirinya yang di apit oleh pria berbadan besar.

"Kau siapa?" tanya suara yang berasal dari samping kirinya. Jongin menggigit bibirnya lalu menggeleng.

"Kami bukan orang jahat, kau tenang saja. Kau siapa?" tanya pria itu lagi kali ini lebih lembut.

"Hanya seorang pemulang" jawab Jongin. Pria itu mengangguk lalu menyalakan sebuah monitor yang ada di hadapan mereka.

"Kau mengenal Oh Sehun atau Park Chanyeol?" tanya Pria itu lagi. Jongin mengernyit, wajahnya nampak bingung dengan nama yang sangat asing di telinganya. Jongin menggeleng sebagai jawaban tidak.

"Kami dari FBI, Oh Sehun dan Park Chanyeol adalah orang yang berbahaya" Jongin kembali mengernyit mendengar penuturan orang yang sama sekali tidak ia kenal ini.

"Aku tidak mengenalnya, mungkin kalian salah orang" ucap Jongin kakinya yang semula diam mulai bergerak gelisah.

"Yang ada di video ini kau kan?" tanya Pria itu lebih memaksa sambil menyetel sebuah video. Video itu menampilkan dirinya saat menyebrang lalu tidak sengaja ia bertabrakkan oleh seorang pemuda berkulit putih.

"Ya, itu aku"

"Pemuda yang menabrakmu adalah Oh Sehun, orang yang sangat berbahaya. Sahabatnya bekerja sama dengan professor gila untuk menguasai dunia, kau harus menjauhinya" ucap Pria. Jongin diam ia menatap layar monitor itu lebih tepatnya wajah pemuda bernama Oh Sehun. Menurut Jongin sepertinya orang ini tidak berbahaya, tapi kalau FBI yang bicara Jongin tidak bisa mengelak.

"Kalian orang baik?" tanya Jongin pada Pria yang masih menatapnya dari samping. Pria itu mengangguk lalu menaruh tangannya di paha Jongin.

"Tentu saja" Jongin yang rishi melihat tangan pria itu di pahanya segera menyingkarkan tangan nakal itu.

"Turunkan aku, aku harus bekerja" ucap Jongin penuh penekanan. Pria tadi tersenyum lalu mendekati wajah Jongin sambi menaruh tangannya ke paha Jongin lagi.

"Kau lumayan manis ya, sepertinya Oh Sehun menyukaimu. Sepertinya kau juga tertarik dengannya" Jongin membuang wajah jengah melihat wajah mesum pria di hadapannya ini.

"Hentikan tanganmu ini pria tidak tahu malu" Jongin mendorong tubuh pria mesum itu ke belakang, sedetik kemudian sebuah peluru menembus ke kepala pria itu.

"KYAAA!" teriak Jongin terkejut dengan kejadian yang ada di hadapannya yang betul-betul sangat cepat.

"Ada apa ini?"

.

Sehun terus mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia berharap sangat tidak ada polisi yang melihatnya kalau ada dijamin ia bisa ditilang lalu keeskokkan harinya ia akan dipecat.

"Chanyeol, dimana posisi pemuda itu sekarang?" tanya Sehun setelah menembak mobil yang ia yakini mobil yang membawa Jongin pergi.

"Mobil yang kau tembak, mobil yang membawa pemuda itu. Kejarlah, tapi…" suara Chanyeol terputus membuat Sehun panik, apa Chanyeol sudah tertangkap?

Kemarin ia sempat mendengar ada seorang anggota FBI dan polisi yang bekerja sama dengan kelompok mafia yang sangat berpengaruh di kota ini, mereka mengincar barang ciptaan Chanyeol. Chanyeol memang bodoh karena sudah tertipu dengan orang yang ia sebut professor ternyata anak buah mafia itu. Sehun mengetahui semua itu kemarin, dirinya tidak sengaja mendengar pembicaraan salah satu polisi yang berjaga malam dengannya.

"Chanyeol! Park Chanyeol!"

"Ada dua mobil dari arah depan dan dua mobil yang mengejarmu, aku akan berusaha memecahkan kode rahasia ke empat mobil itu. Kau fokus saja mengejar mobil yang membawa pemuda itu"

Sehun bernafas lega, ternyata sahabatnya ini belum diculik. Sehun mengarahkan senapannya ke mobil tadi dan… tepat sasaran sepertinya mengenai orang lagi.

.

"KYAAA! Dua mayat ada di hadapanku!" jerit Jongin ketakutan dan panik, ia segera mencengkram kerah kemeja pengemudi mobil mewah dan canggih ini.

"Jalankan mobil ini dengan kecepatan tinggi!, aku tidak mau mati!" jerit Jongin lalu mengambil posisi duduk di samping pengemudi mobil ini, menurutnya tempat ini lebih nyaman.

"Cepat Pak Tua!" bentak Jongin sambil sesekali melirik ke arah belakang, melihat situasi di belakang. Dua mobil mengikutinya, dirinya tidak tahu apa mobil itu berbahaya atau tidak, pikirannya benar-benar kacau.

Jongin sangat berharap orang bernama Sehun itu membantunya, karena dia Jongin berada dalam masalah serumit ini.

Sehun yang masih belum mendapat jawaban dari Chanyeol menggeram kesal, ia segera mengeluarkan senapannya menarik pelatuk senapan itu sebanyak dua kali.

"Mati kau"

DOR

"KYA!" jerit Jongin saat mendengar suara tembakan untuk ketiga kalinya dan peluru itu menembus kepala pengemudi mobil.

"Astaga mayat lagi!" Jongin membuka pintu mobil yang anehnya mobil ini masih bisa berjalan, dengan pelan Jongin melempar mayat itu keluar, beberapa detik kemudian pintu itu terbang dan hancur karena sebuah mobil lain melaju tidak terkendali.

Jongin menatap setir di hadapannya ini dengan takut, ia pemulung belum pernah sekalipun menggunakan mobil seperti ini.

"Bagaimana ini?" Jongin mulai panik, dengan rasa gugup yang masih mendominasi Jongin memegang setir itu lalu menatap ke depan. Jongin hampir saja menabrak sebuah truk kalau saja dirinya tidak bergerak cepat dengan cara membanting setir.

"Tuhan, Bagimana ini? Aku harus hidup sampai minggu depan, aku tidak ingin mengecewakan Krystal"

.

Sehun masih fokus adu tembak dengan satu mobil tersisa, masalahnya pengemudi itu menggunakan sebuah robot untuk menembaknya. Sehun terus mengumpat mati-matian, mimpi apa semalam dirinya kenapa dia bisa terjebak dalam masalah besar.

'Sehun, aku harus pergi ada beberapa orang menuju rumah kita. Kau harus tetap mengejar mereka, selamatkan namja tan itu. Arra?'

"YA! Chanyeol! Chanyeol! PARK CHANYEOL!" Sehun terus mengumpat habis-habisan Chanyeol yang seenak jidatnya meninggalkan dirinya antara hidup dan mati seperti ini. Sehun menatap dua mobil yang masih ngotot menghalangi jalannya, ia menekan tombol merah di mobilnya beberapa detik kemudian sebuah senapan laras panjang muncul dari bamper depannya menembak brutal dua mobil itu.

Jongin berusaha bernafas tapi tetap fokus mengemudikan mobil ini, dia bisa mati jika ia tidak pergi dari sini. Sekarang yang ada dipikiran Jongin adalah kabur dari dua mobil di belakang dan di sampingnya.

"Keluar dan loncatlah" teriak seorang pria yang mengemudikan mobil di samping kanan Jongin. Jongin menggeleng takut, ia kembali menatap jalanan di depannya dan terus memutar stir mobil mewah ini.

"Aku tidak mau mati! Aku tidak mau loncat!" tolak Jongin keras, pria tadi menggeram kesal lalu membuka pintu mobilnya.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Jongin garang dan galak melihat pria itu berniat meloncat ke dalam mobilnya. Siapa pria ini? Dan apa maunya? Jongin menancap gas menghindari mobil itu, tapi pria itu berhasil menggapai mobil yang di kendarai Jongin dan kaki pria itu berada di dalam mobil. Keberhasilan itu tidak berlangsung lama bahkan detik, sebuah mobil dengan sengaja menabrak mobil yang lebih mewah tadi. Jongin pastikan pria tua tadi mati terbelah.

"KYAAA! SIAPAPUN YANG BERNAMA OH SEHUN ITU, SELAMATKAN AKU!" jerit Jongin frustasi, takut, dan panik melihat mobil-mobil yang mengejar dirinya semakin banyak. Apa dia akan mati seperti ini? Dikejar-kejar atas kesalahan orang lain, Jongin lebih memilih mati di penjara karena ketahuan merakit robot.

"Kenapa menyebut namaku? Aku ada di sampingmu" Jongin membuka matanya lalu menatap ke samping kanannya tadi, sebuah mobil berwarna putih dengan kaca jendela terbuka menampilkan seorang namja berpakaian kemeja merah dan berjas hitam, wajah yang sama persis di layar tadi.

"Kau Oh Sehun?!" tanya Jongin berteriak, namja itu-Sehun mengangguk lalu membuka pintu darurat mobilnya yang terletak di bagian atap mobilnya. Jongin menelan ludahnya kasar melihat pemuda itu keluar dari mobil.

"Kau mau apa?" tanya Jongin masih berteriak. Sehun diam, ia terlalu sibuk untuk menjawab pertanyaan Jongin. Sehun harus menghitung waktu yang pas untuk loncat ke atas mobil Jongin serta membaca gerak-gerik beberapa mobil yang mengejar dirinya dan Jongin.

"Mafia sialan! Aku hanya punya waktu 60 detik untuk bisa loncat ke mobil itu, mati kalian semua! 1" Sehun berdecak sebal menyadari orang-orang itu keluar dari mobil menembakinya.

Jongin melirik Sehun yang masih berada di atap mobil putih itu dengan senapan panjang yang terus mengeluarkan peluru. Sehun benar-benar orang baik kan? Orang yang benar-benar menolong dirinya kan? Bukan orang yang sama seperti tadi kan? Jongin menginjak gas dan tombol secara asal agar mobil ini melaju sangat kencang.

Sudah cukup hari ini menjadi sangat kacau dan tidak jelas seperti ini, Jongin ingin kembali bekerja dan bekerja. Sudah cukup untuk hari ini, ia dikejar-kejar seperti seorang pengkhianat negara, penjahat, hacker, pelanggar aturan atau seperti sekarang. Sudah cukup Jongin merasakan kekacauan untuk hari ini, ia harus bekerja, istirahat lalu datang ke acara Krystal.

Sehun melirik Jongin yang mengemudikan mobil itu lumayan kencang, ia pikir Jongin seorang pemulung melihat warna kulit tan itu tapi sepertinya salah karena Jongin bisa mengemudikan mobil mewah dan sangat canggih itu dengan baik. Tapi tetap saja, setelah ini Jongin akan tetap dikejar seharusnya ia tidak berpapasan dengan Jongin pasti Jongin tidak harus terlibat hal mengerikan seperti ini.

Sehun kembali menatap ke depan dan kembali menembak brutal mobil-mobil sialan itu, setelah kondisi cukup aman Sehun melompat ke mobil Jongin dan mendarat di atap mobil dengan mulus. Jongin terkejut merasakan lonjakan aneh di atap mobil ini, ia ingin mengeluarkan kepalanya untuk melirik ke atap mobil tapi mendengar suara tembakan membuat Jongin berpikir dua kali.

Sehun memajukan tubuhnya lalu tiarap tepat di kaca depan mobil Jongin. Jongin jelas terkejut melihat Sehun tiarap di kaca mobilnya.

"YA! Apa yang kau lakukan menyingkir dari kaca mobil ini!" perintah Jongin, Sehun menggeleng lalu menunjuk pintu mobil sebelah kiri yang masih utuh.

"Apa? Aku tidak mengerti" teriak Jongin, Sehun berdecak kesal lalu menoleh ke belakang melihat mobil-mobil itu masih mengejar Jongin.

"BUKA PINTU MOBILNYA!" teriak Sehun, tapi Jongin masih menatapnya bingung.

"MENYINGKIR! PERGILAH!" usir Jongin kasar dengan sengaja ia membanting stir mobil ini agar pria berkulit putih itu jatuh, tapi pria itu tidak jatuh bergerak seinchi pun tidak. Jongin menggeram kesal melihatnya, ia melajukan mobilnya semakin kencang.

"Dasar bodoh!" maki Sehun yang kesal melihat Jongin yang sangat keras kepala seperti ini. Sehun kembali naik lalu melihat ke depan, sebuah truk yang entah darimana asalnya melaju tak terkendali.

Sehun menatap bagian mobil yang sudah tidak memiliki pintu, dengan gerakan cepat Sehun masuk ke dalam mengambil alih kemudi karena Jongin yang shock dan takut menutup matanya dengan tangan melepas stir mobil saat melihat truk besar mengarah padanya.

"Aku daritadi bilang buka pintunya, karena aku melihat truk" ucap Sehun lalu merangkul Jongin agar dia tidak jatuh keluar lalu Jongin hanya tinggal nama.

Jongin menatap Sehun yang sibuk menyetir dan mencari jalan keluar dari jalanan maut ini, pria albino ini lumayan tampan… tapi Jongin menggelengkan kepalanya kuat-kuat kenapa ia berpikir sepeerti itu? Apa ia punya syndrome orang kaya? Lagipula, ia tidak tahu Sehun orang baik atau bukan?

Sehun memutar stir mobil mewah ini hingga mobil ini berputar-putar lalu terpental ke luar jalur jalan raya. Jongin terus berteriak histeris merasakan mobil ini berputar kencang lalu terpental ke luar jalur setelahnya Sehun mengendarai mobil ini mundur. Jadi, Jongin melihat jelas berapa banyak mobil mengikuti mereka dan mobil-mobil yang tidak selamat dari truk sialan itu.

"Bernafaslah, aku biasa mengendarai mobil seperti ini" ucap Sehun sambil mengedipkan sebelah matanya, Jongin membuang wajahnya jengah melihat pria ini masih sempat bercanda di situasi seperti ini? Orang gila.

Sehun menekan tombol berwarna merah di dekat stir yang memerintah mobil ini agar berkendara sendiri, sementara Sehun kembali menembaki mobil-mobil keras kepala itu.

"Kau merusak kacanya, berhentilah menembak" perintah Jongin yang sayang melihat kaca mobil mewah ini berlubang dan retak dimana-dimana.

"Kalau aku berhenti menembak, berarti kepala mu akan berlubang" ucap Sehun santai sambil melirik ke arah belakang berharap tidak ada pembantas jalan atau apapun yang akan menghalangi mobil ini berjalan.

"Apa? Aku tidak mau kepalaku berlubang"

"Jadi, berhenti bicara" perintah Sehun lalu kemballi menembaki mobil-mobil sialan ini, tapi anehnya mobil itu tidak berkurang malah bertambah.

"Sial, mereka semakin banyak" umpat Sehun lalu memutar stir mobilnya agar mobil ini kembali melaju seperti mobil normal pada umumnya. Jongin kali ini tidak berteriak tapi tubuhnya tidak bisa berbohong kalau ia ketakutan dan Sehun menyadari itu. Sehun menepuk-nepuk pundak Jongin yang masih ia rangkul sangat kuat.

"Tenanglah" Sehun membanting stir untuk terakhir kalinya lalu memberhentikan mobil ini dengan posisi kepala mobil membelakangi mobil-mobil sialan tadi. Sehun menatap Jongin lalu menarik tangan pemuda berkulit tan ini, tapi Jongin menggeleng dan lebih memilih diam di tempat.

"Keluarlah, aku akan menjagamu" Jongin mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nafasnya kasar, ia mengangguk mantap lalu keluar bersama Sehun disambut dengan suara tembakan dan peluru bertebrangan.

"Kau tetaplah di sini, aku akan membawamu pulang" perintah Sehun, ia merogoh jasnya lalu menyerahkan sebuah pistol berwarna perak ke Jongin. Jongin melotot kaget melihat tangannya memegang sebuah pistol. Seumur hidup Jongin tidak pernah memegangnya karena hukuman bagi kaum rendah seperti Jongin yang memegang bahkan memiliki senjata akan di penjara seumur hidup tanpa boleh di jenguk.

"Pegang ini, untuk berjaga-jaga. Tetaplah di sini" Jongin hanya mengangguk lalu Sehun berjalan ke depan menghadapi beberapa orang bertubuh besar. Jongin menatap ngeri mereka berdua, meskipun Jongin pria dirinya tidak pernah bertarung seperti Sehun itu.

"Aku harus pergi" gumam Jongin lalu berlari pergi begitu saja, dia tidak mau terlibat banyak masalah lagi. Ia membuang pistol yang di berikan Sehun ke tong sampah yang langsung mengahancurkan setiap sampah yang masuk. Sudah cukup Jongin tidak ingin terlibat lagi dengan pria bernama Sehun itu, sudah cukup bagi Jongin untuk hari ini.


To Be Continue

(TBC)

Mianhae, telat banget update nya... beberapa hari lalu aku kehilangan modem dan baru ketemu juga beberapa tuga mulai menumpuk... argh! sial! oke nikmati chapter ini^^


Review kemarin

ohkim9488: Nde, imajinasi EunRim soal kehidupan bumi di masa depan meskipun nggak tahu bumi bakal lebih baik atau buruk... gomawo for review... review lagi ya ^^

: Nde, gomawo for review... ini udah update... review lagi ya ^^

novisaputri09: Nde, gomawo forreview... ini sudah next... review lagi ya

cute: Nde, gomawo for review ini sudah lanjut... review lagi ya

KaiNieris: Nde, gomawo kritik dan sarannya yang sangat membangung... gomawo for review... review lagi ya

11: Nde, welcome nem reader... aku nggak tersinggung malah kritik yang membangun kok ^^.. semoga kali ini typo nya sedikit berkurang *tapi nggak yakin* gomawo for review... review lagi ya ^^

Ucinoze: Nde, ini sudah next... gomawo for review.. review lagi ya ^^

SparkyuELF137: Nde, gomawo sudah berminat dengan ff ini... ini sudah lanjut. gomawo for review... review lagi ya