Disclaimer: TOBOSO YANA sensei desu :)
Previos story:
"Cari si-.." Aku terhenyak. Kata-kataku mendadak tak bisa keluar dari mulutku. Pemandangan seseorang di hadapanku ini membuatku terkejut dan tanpa sadar aku menahan nafas.
Ya, pria berkacamata itu…
NORMAL POV
Alois hampir menjatuhkan sikat giginya karena terkejut melihat seseorang yang berdiri di balik pintu. Wajah kesalnya digantikan raut wajah terkejut dan mulutnya sedikit menganga.
"Ck, lagi-lagi kau,bocah dekil!" Pria berambut merah yang Alois benci itu kini berdiri dihadapannya. Kemeja putih dialik balutan vest merah terang dan celana panjang ketat berwarna senada tampak cocok digunakan oleh pria flamboyant yang bernama Grell Sutcliff itu. Rambutnya diikat kuncir kuda di atas kepalanya dan kacamata beraksen tengkorak kecil di dekat lensa itu cukup mencenangkan. Seperti biasa. Tangannya berkacak pinggang sambil menatap Alois sinis.
Alois yang telah menguasai dirinya lalu menutup mulutnya dan berdeham kecil. Ia membuang wajahnya dari pria dihadapannya. Ia tak membukakan pintu lebih lebar karena ia tak ingin pria itu masuk kerumahnya. Setidaknya, sampai pria itu berpikiran untuk pergi meninggalkannya. Itu lebih baik.
"Ya, ada masalah, tuan Grell?" kataku tak kalah sinis. Aku memang sengaja memanggilnya begitu karena itu akan membuatnya senang dan tak terlalu memandangku dengan tatapan jijik. Dasar pria haus sanjungan!
"Aku mencari ibumu. Madam Red ada?" Meskipun mereka adalah sepasang kekasih, tapi Alois tetap tak mengerti mengapa pria ini masih memanggil ibunya dengan sebutan madam red. Tapi Alois lebih suka begini daripada ia menyebut nama ibunya dengan nama kecil. Membuat Alois merinding saja.
"Ibu sudah pergi ke rumah sakit. Aku hanya diminta untuk memberitahu anda jika anda nanti menelpon. Tak disangka anda akan datang dan bukan menelpon." jawab Alois terus terang tanpa memandang Grell. Grell lalu melipat kedua tangan di dadanya sambil berfikir. Ia masih menatap Alois dari sudut matanya.
"Huh! Aku baru ingat aku punya janji dengan Madam Red, makanya aku datang kesini karena mengira bisa bertemu dengannya sebelum ia pergi ke rumah sakit. Lebih baik aku pergi menemuinya. Aku tak betah harus berduaan dengan bocah lusuh sepertimu. Membuatku muak saja!" Laki-laki melambai itu mengibas-ibaskan tangannya tepat di depan wajah Alois hingga hampir mengenai dahi Alois. Alois memundurkan kepalanya dan menatap geram kearah pria menyebalkan itu. Ia lalu memasang senyum kecil dan bersikap hormat dengan membungkukkan badannya empat puluh lima derajat.
"Selamat jalan, tuan Grell. Hati-hati di jalan." Alois mengepalkan tangannya yang sedang menggenggam sikat giginya masih dengan senyum sopan yang melekat di bibirnya. Grell mendengus kesal dan berlalu begitu saja dari hadapan Alois tanpa mengucapkan sepatah katapun. Alois tak mengubah posisinya sampai ia mendengar deru mobil milik Grell yang menjauh dan akhirnya tak terdengar lagi. Saat ia bangkit dari posisinya tadi, ia menghembuskan udara dari ujung bibirnya tanda mencibir. Ia tak habis pikir mengapa pria itu harus bersikap seperti itu padanya. Alois bersumpah dalam hati bahwa jika pria melambai tadi benar-benar menjadi ayah angkatnya, maka ia memutuskan untuk pergi dari rumah itu.
Tapi, bisa pergi kemana dia?
Ia menggelengkan kepalanya keras sembari mengenyahkan pikiran bodohnya tadi. Sudah bagus bisa tinggal dengan nyaman dengan keluarga barunya. Jikalau ia memiliki tempat lain untuk bernaung dan tinggal, pastilah hanya tempat orang itu...
Hah! Lagi-lagi pikirannya melayang pada sesosok pemuda itu.
"Cukup! Mengapa hari ini pikiranku terus-terus pada dirinya. Aku sudah tak boleh berurusan dengannya lagi!" Alois menegaskan pada dirinya sendiri dan berlalri menuju lantai atas untuk menyelesaikan kegiatannya yang tertunda.
Jam telah menunjukkan pukul 1 siang dan Alois masih saja asyik dengan video game terbarunya. Meskipun terlihat serius dengan permainan yang ada di hadapannya, tapi matanya sempat mencuri-curi pandang pada jam dinding disebelahnya. Perutnya sudah terasa lapar dan ia tahu harus turun ke bawah untuk makan siang sebelum para pelayan mulai membujuknya untuk makan siang. Dengan langkah berat, ia menhentikan sejenak permainannya dan berjalan ke luar kamar. Terlihat seorang maid berjalan menuju kamarnya, wajahnya sedikit terkejut.
"Ah, Alois-sama. Saya baru saja mau memanggil anda untuk makan." kata Margareth, yang biasa disapa Marge, dengan senyum polos ciri khasnya. Ia adalah maid yang bertugas mengurus segala keperluan Alois. Alois cukup akrab dengan gadis yang usianya tak jauh dengannya itu. Setidaknya Alois tak pernah menjahatinya. Alois juga tersenyum kecil.
"Terima kasih, Marge. Aku tahu jika kau akan datang dan mengajakku untuk makan siang, jadi aku bertindak lebih cepat darimu." Alois lalu memasang senyum jahil yang membuat Marge bersemu merah.
Itu salah satu hal yang membuatnya betah disini. Marge menunduk dan rona merah diwajahnya belum mereda. Ia lalu mengulurkan tangan agar Alois berjalan terlebih dahulu dan ia mengikuti.
Saat mereka menuruni tangga Alois bertanya, " Apakah ada tamu yang datang?" Marge menggeleng meski Alois tak bisa melihatnya karena Alois berdiri di depan Marge.
"Tidak ada, danna-sama." jawabnya santun. Alois mendengus kecil. Berarti tamu yang ibu katakan itu belum datang. Ia masih punya waktu untuk makan siang lalu kembali melanjutkan video game-nya yang ia hentikan tadi.
Namun rencana itu buyar ketika ia sedang menikmati dessertnya, yaitu puding coklat vanila, bunyi bel menggema di rumah besar itu. Alois menghela nafas dan dengan agak malas mempercepat suapan pudingnya.
"Biar saya saja yang membukakan pintu." Butler keluarga Burnett yang kikuk dan pemalu, yang herannya memiliki nama yang mirip dengan kekasih Madam Red, berkata sambil berlalu meninggalkan ruang makan menuju pintu depan. Beliau juga merupakan hal yang membuat Alois takjub mengenai keluarga barunya. Bagaimana bisa orang se-kikuk dan se-ceroboh tuan Grelle Sutcliffe, bisa menjadi butler keluarga ini. Menurut keterangan dari Madam Red, keluarga Sutcliff telah turun temurun menjadi butler keluarga Burnett. Tapi entah mengapa butler pada generasi saat ini begitu,ehm-tak berguna. Mungkin karena usianya yang kurang lebih sama dengan Madam Red, Alois tak tahu pasti.
Tak lama terdengar pintu depan di tutup dan langkah kaki yang menuju ruang tamu. Rumah ini begitu besar dan sunyi sampai kau bisa mendengar deru nafasmu sendiri jika suasana rumah sedang sepi seperti ini. Tak sulit bagi Alois menerka berapa orang yang ada di rumah ini berdasarkan dari bunyi langkah kaki mereka. Ketika suapan pudingnya yang terakhir habis, Alois beranjak dari meja makan dan berjalan menaiki tangga. Ia baru saja akan menyampaikan pesan ibunya pada marge ketika sang butler datang dengan tergopoh-gopoh.
"Maafkan saya, danna-sama. Tamu yang datang ini menunggu nyonya. Apakah danna-sama akan menemuinya?" Suaranya yang tinggi melengking membuat Alois harus menjauhkan daun telinganya dari sumber suara sang butler. Ia lalu berfikir sejenak sebelum bertanya.
"Memangnya siapa yang datang, Grelle-san?" Jujur saja, ia agak risih jika harus menyebutkan nama butlernya itu. Karena mengingatkannya dengan Kekasih ibunya.
"Kenalan nyonya, danna-sama. Dan ia menanyakan tentang anda. Sepertinya beliau juga mengenal anda, danna-sama." Grelle kemudian telah sanggup mengendalikan suaranya sebelum ia dapat delikan tajam dari Alois karena suaranya yang melengking. Alois menaikkan satu alisnya sambil memangdang heran pada butlernya. Kenalan ibu yang juga mengenalku? Siapa dia?
"Baiklah, aku akan menemuinya. Siapkan minuman untuk tamu kita. Tak baik membiarkannya menunggu lama." perintah Alois yang disambut dengan anggukan kedua pelayannya itu dan ia sendiri bersiap untuk berganti pakaian yang lebih sopan. Sementara di dalam otaknya ia masih berfikir siapakah gerangan tamu yang datang ini.
ALOIS POV
Aku berputar beberapa kali di depan cermin untuk memastikan aku tampak cukup sopan untuk menyambut tamu di bawah. Hasil dari pemikiranku tadi adalah nol. Aku tak bisa berspekulasi siapakah tamu yang juga mengenalku itu. Aku tak banyak ikut dalam perjamuan yang diadakan teman ibu ataupun makan malam bersama dengan kerabat ibu. Jadi tak ada satu namapun yang terlintas di otakku mengenai hal ini. Kecuali satu orang itu..
Ah, sudahlah! Aku bosan jika harus memikirkan orang itu! Itu masa lalu!
...
Masa lalu...?
Aku kemudian memukul kepalaku untuk mengenyahkan pikiran ini lagi. Aku benar-benar tak ingin mengingatnya dan ini cukup membuatku pusing. Terdengar ketukan dari pintu kamarku dan menandakan Marge telah memanggilku. Aku lalu keluar dari kamar dan kemudian Marge mengikutiku. Saat kutanyakan siapa tamunya, Marge tak menjawab. Aku menoleh memandang wajahnya namun maid lugu itu hanya menunduk, berusaha menghindari tatapan mataku. Aku menghela nafas dan tanpa sadar kami telah menuruni tangga dan sudah berdiri di pintu besar menuju ruang tamu. Aku menelan ludah sembari mengumpulkan keberanian untuk memasuki ruang dihadapanku. Ini konyol tapi aku merasa sangat gugup.
"Silahkan masuk,danna-sama." Marge membukakan pintu ruang tamu untukku danb pemandangan pertama kali yang tertangkap mataku adalah seseorang yang tengah duduk memunggungiku dan Marge. Orang itu tak menoleh dan aku kemudian berjalan ke hadapannya dan nafasku tercekat. Tamu yang tengah duduk sambil menyesap tehnya dengan perlahan itu kemudian menurunkan cangkirnya dan menatap mataku. Matanya yang berwarna emas itu menatap lurus ke mata biruku. Aku terkejut hingga tak dapat berbuat apa-apa. Pemuda itu bangkit dari tempatnya duduk dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan denganku. Senyumnya yang dingin namun lembut itu terukir di wajahnya.
"Apa kabarmu, Alois?"
Senyum yang sama seperti dulu yang khusus ditunjukkan padaku.
"Claude..?"
A/N: yeeeeeeeeeeyyyyyyyyyyy~~~
Akhirnya update juga. maaf menunggu lama. hehe :P
saya enjoy sekali mengerjaikan cerita ini, entah kenapa. mungkin saya cuma mau buat sekitar 8 sampai 10 chapter. semoga kesampaian.
selahkan membaca dan jangan lupa tinggalkan review,ya? ;)
