Shingeki no Kyojin (c) Isayama Hajime

FF Story (c) Hanasemi

Warning : OOC, ngawur, undefined couple, typo, dll dsb


Fanfic ini hanya untuk memuaskan author, tidak mengambil keuntungan material lainnya

Hope you'll enjoy!


.

.

.

Sungguh, Levi sangat menyesali keputusannya untuk menampung makhluk yang kini sedang bergelung di sofa kamarnya.

Siang tadi, Mikasa mewakili saran dari Armin. Untuk menghindari teror ketukan pintu kamar Eren yang terletak di ruang bawah tanah, sebaiknya Eren pindah ke kamar yang terletak di lantai atas. Lantai yang sama dengan kamar anggota-anggota squad khusus. Tapi karena Eren belum boleh tidur di lantai atas tanpa ada pengawasan, maka Levi memutuskan untuk menyuruh anak buahnya agar membiarkan Eren menumpang di kamar salah satu dari mereka.

Naasnya, Erd dan Gunther yang tidur bersama di satu ruangan tidak bisa menambah orang lagi di kamar mereka. Auruo kebetulan mendapat ruangan yang sempit yang tidak memungkinkan untuk ditempati dua orang berukuran dewasa(walaupun Eren masih remaja tapi tentu saja tubuhnya bukan tergolong kecil lagi). Lalu Petra yang wanita tidak mungkin mau membiarkan ada laki-laki tidur sekamar dengannya.

Tentu saja mau tidak mau akhirnya Levi merelakan kamarnya yang luas untuk ditambah satu penghuni lagi. Pemilik marga Yeager itu diperbolehkan tidur di sofanya.

"Dengar. Besok aku tidak mau melihat noda air liur yang seharusnya tidak ada, muncul tepat setelah kau menempatinya." Ancam corporal itu diiringi dengan tatapan tajam. Membuat Eren menghentikan aktivitas memperhatikan kamar atasannya yang bagaikan luput dari debu.

Dalam hati ia berdoa agar mulutnya bisa terkatup sepanjang malam.

.

.

Mulanya mereka tidur tanpa ada gangguan sama sekali. Namun sekitar tiga puluh menit setelah keduanya mulai terlelap, ada suara yang mengganggu indera pendengaran lelaki bermata sipit itu.

Eren mendengkur.

Sang corporal mencoba untuk mengabaikan polusi suara yang jelas berasal dari objek yang menumpang di kamarnya. Melanjutkan aktivitas mengistirahatkan mata dan pikirannya yang seharian penuh digunakan untuk mengurusi segala macam tetek-bengek yang merepotkan.

Satu menit.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Levi beranjak duduk di kasurnya dengan wajah ditekuk—tidak habis pikir dengan suara dengkuran Eren yang mampu memukul gendang telinganya dengan keras dan tanpa henti. Padahal jarak antara tempat tidurnya dengan sofa yang ditempati Eren lumayan jauh.

Apakah ini juga termasuk salah satu kebiasaan titan? Dia bersumpah untuk menambahkan satu poin itu di laporan penelitian titan milik Hanji.

Lelaki berponi belah tengah itu merebahkan punggungnya di kasur. Tangannya berusaha menekan bantal di kedua telinga. Berharap dengan melakukannya dapat sedikit mengurangi volume suara dengkur yang tidak ada merdu-merdunya itu. Tapi nihil, dengkuran kuli yang keluar dari pita suara remaja beriris hijau tersebut dapat melewati lapisan-lapisan serat bantal dengan mulusnya dan mendarat tepat di gendang telinga Levi—tanpa ada jeda berkepanjangan.

Kalau saja dia tidak merasa malas untuk bergerak, saat itu juga Levi ingin melempar Eren dari atap benteng.

.

.

Keesokan harinya Mikasa melihat saudara angkatnya sudah segar dan ceria lagi. Eren memang terlihat sangat bersemangat pada latihan pagi hari itu. Armin yang juga menyadari perubahan pada temannya itu bersyukur. Akhirnya Eren kembali seperti biasa, penuh semangat dan enerjik. Ternyata saran darinya tidak sia-sia.

"Eren, semalam kau bisa tidur dengan nyenyak?" tanya Armin ketika mereka diberi jeda untuk istirahat sebentar.

"Iya, suasana kamar Levi Heichou nyaman sekali. Baru kali ini tidurku benar-benar pulas."

Mendengar jawaban Eren yang ceria, Mikasa yang duduk bersama mereka memasang wajah lega. Sebenarnya dia sangat-sangat tidak rela membiarkan Eren menginap di kamar corporal-nya. Hatinya was-was akan kemungkinan lelaki pendek itu kembali melakukan tindakan asusila kepada Eren. Tapi melihat keadaanya yang kini sangat bugar, sepertinya kecemasan gadis berwajah oriental tersebut tidak menjadi kenyataan.

Suasana di lapangan semakin menyenangkan bagi Mikasa juga Armin dengan kembalinya keceriaan Eren.

.

.

Di ruangan rapat Irvin mengernyitkan alis tebalnya. Heran.

Pasalnya, dia belum pernah melihat wajah rekannya sekusut ini. Walaupun memang tampang spesies 1,6 meter itu selalu kusut, tetapi tidak sampai separah ini. Kedua matanya merah, rambutnya acak-acakan, dan lingkaran hitam di sekeliling matanya yang biasanya tipis sekarang makin terlihat gelap.

Padahal bawahannya itu merupakan orang yang disiplin. Sesibuk apapun dengan pekerjaannya, Levi tidak pernah mengabaikan jam tidur. Apalagi sampai membiarkan rambutnya tidak tertata.

Apa dia begadang mengerjakan laporan yang kutugaskan kemarin? Ah, tidak mungkin seorang Levi sampai bergadang demi mengerjakan laporan semudah itu, pikiran Irvin berusaha menebak-nebak.

"Woaaah ... aku seperti melihat benang kusut terpampang di wajahmu, Levi."

Hanji memperhatikan wajah rekannya dari dekat. Di saat peserta rapat lainnya berusaha mengabaikan wajah kusut kapten muda tanpa ekspresi itu, Mayor Hanji malah terang-terangan memancing bahaya.

"Diam, atau kutebas tengkukmu."

Levi menjawab singkat ledekan dari manusia abnormal di sebelahnya. Tidak lupa diiringi dengan tatapan mengintimidasi yang makin mengerikan mengingat warna matanya yang kemerahan akibat kurang tidur.

Tapi tentu saja Hanji bukan orang kebanyakan yang bisa dipengaruhi ekspresi wajah mengerikan milik Levi.

"Aaaaw ... Levi marah ya? Makin ganteng deh kalau melotot begitu~"

Peserta rapat—kecuali Irvin—yang menyaksikan adegan tersebut hanya bisa komat-kamit tanpa suara melantunkan doa berjamaah agar Hanji segera menyadari bahwa tindakannya itu tidak hanya berbahaya bagi dirinya sendiri, tapi bagi orang lain yang berada di ruangan itu juga.

Untungnya Levi mengacuhkan godaan dari Hanji. Walaupun tangannya sudah gatal untuk mencekik manusia bergender tidak jelas di sebelahnya itu. Tapi matanya yang berat membuatnya malas untuk mengambil tindakan lebih jauh. Lagipula rapat tidak akan pernah dimulai jika mereka melanjutkan aksi tersebut.

Selama rapat, Levi tidak bisa berkonsentrasi ke materi yang sedang dijelaskan Irvin. Berkali-kali dia berusaha menahan kelopak matanya agar tidak saling melekat satu sama lain. Alhasil wajahnya makin membuat orang lain yang berada di ruangan tersebut bergidik ngeri. Sudah wajah tanpa ekspresi dengan mata merah, melotot pula. Persis dengan tokoh antagonis di film horor yang akhir-akhir ini sedang laris.

Kenyataannya, semua usaha yang ia lakukan untuk menaruh perhatian kepada rapat tersebut berakhir sia-sia.

.

.

"—Vi, Levi..."

Lelaki pengidap clean-freak itu bisa merasakan ada seseorang yang menepuk-nepuk pundaknya. Tetapi indera penglihatannya hanya bisa menangkap kegelapan. Pupil matanya seakan tidak menangkap cahaya dengan baik.

"Siapa itu?" Kepalanya menoleh ke arah suara yang memanggil namanya. Tidak ada seorang pun yang terlihat. Semuanya hitam.

"...Levi...!"

Suara yang memanggilnya makin jelas dan keras. Levi menoleh ke bahu kanannya yang makin merasakan guncangan yang kuat. Tapi matanya tetap tidak menangkap sosok yang memanggil-manggilnya. Emosinya mulai terusik.

"SIAPA KAU? JANGAN MAIN-MAIN!"

"—CUKUP LEVI! TOLONG BANGUN SEKARANG JUGA!" Irvin mengguncang-guncang pundak rekannya yang mulai mengigau itu. Usaha awal untuk membangunkan penyandang jabatan corporal itu dengan memanggil lembut namanya gagal, dan berakhir menjadi teriakan menggelegar khas komandannya.

Mata biru gelap itu terbuka tepat sebelum Irvin berniat melempar kursi ke arahnya. Pria yang baru bangun itu mengerjap sekali—kemudian menatap sang komandan yang sedang berada di sebelahnya.

"Rapatnya?"

Masih setengah tidur, Levi melontarkan kalimat—atau tepatnya satu kata pertanyaan kepada Irvin.

"Sudah selesai sejak sepuluh menit yang lalu," Irvin lega melihat rekannya ini akhirnya terbangun, sehingga ia tidak perlu melakukan tindakan kekerasan lebih lanjut.

"Rapatnya?"

Ucapan Levi membuat alis tebal komandan itu mengerut. Apa suaranya barusan kurang keras? Kenapa bawahannya ini malah mengulangi pertanyaannya?

"Rapatnya sudah bubar. Tumben sekali kau memilih tidur di tengah-tengah diskusi?" Hanji tiba-tiba berjalan dari belakang Irvin dan menjawab pertanyaan Levi. Benaknya masih lumayan heran melihat pemandangan langka selama rapat tadi.

Iya, corporal satu ini tiba-tiba tertidur pulas ketika mereka tengah membahas rencana penyerangan keluar dinding. Pemandangan yang tidak lazim itu sempat membuat seluruh peserta rapat terpana. Terpesona oleh polosnya wajah Corporal Levi ketika sedang tidur—ralat—terpana karena tiba-tiba disuguhi pemandangan super langka di meja rapat.

Bayangkan, humanity strongest soldier yang sangat berdisiplin tinggi, berwajah tanpa ekspresi, dan paling benci dengan pemalas itu tiba-tiba tertidur pulas sambil bertopang dagu—di meja rapat. Bagaimana bisa mereka melewatkannya? Kalau saja saat itu kamera telah marak beredar, Hanji pasti telah mengabadikan momen langka tersebut dan menyebarkan cetakannya ke seluruh khalayak umum.

Namun karena tidak ada yang berani menegur pria berambut gelap itu, akhirnya mereka melanjutkan rapat bagaikan tidak terjadi apa-apa. Dan hingga detik terakhir rapat itu dibubarkan, pemilik rambut hitam itu masih tenggelam di dalam alam mimpinya. Akhirnya, Irvin memutuskan untuk turun tangan dan membangunkan rekannya tersebut—yang malah dijawab oleh igauan Levi.

"Sudah bubar?!"

Kelopak mata sipit tersebut melebar dengan sempurna. Otaknya ternyata sudah mulai menjalankan fungsinya dengan baik. Tercengang atas kalimat-kalimat yang baru saja dicernanya.

Demi titan peliharaan Hanji yang tidak akan pernah jinak, belum ada sejarah Levi yang mencatat kegiatannya tertidur di tengah rapat.

"Ya ampun Levi Heichou... Perlu berapa kali kami mengulangi kalimat yang sama? Rapatnya sudah bubar, titik. Tanpa koma. Sebenarnya apa yang kau kerjakan semalam sehingga tidak mampu menyimak rapat?"

Oke, mayor berkuncir itu sekarang SANGAT heran dengan perubahan drastis rekannya ini. Tadi Levi mengigau, kemudian mengulang-ulang pertanyaan seperti burung beo, dan baru sekarang dia mencerna kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh Hanji dan Irvin. Sejak kapan otak pria yang biasanya berpikir dengan cepat itu mengalami malfungsi?

Spontan, Hanji menjentikkan jarinya dengan girang.

"Aha! Jangan-jangan semalaman kau melakukan 'itu' dengan seseorang yaaa~ Siapa? Siapa?"

Lelaki bewajah datar itu kembali mengenyit kesal mendengar kalimat tuduhan dari mulut sang mayor. Diam-diam komandan yang masih berada di sebelahnya—Irvin—sudah memasang telinga. Bersiap untuk mendengar jawaban dari rekannya tersebut. Dia penasaran juga akan pertanyaan dari Hanji.

Apa benar ternyata Levi yang terlihat tidak perduli dengan siapa pun ternyata melakukan skandal di malam hari? Kalau iya siapakah orang yang beruntung tersebut? Ehm, bukan maksudnya aku menganggap orang tersebut beruntung. Yah ...

"Ciyeeeee ternyata Levi bisa nakal jugaaaaa~"

BRAKK!

Hanji terlonjak melihat meja rapat tiba-tiba digebrak dengan keras oleh orang yang baru saja digodanya. Irvin serentak mengangkat alis tebalnya—kaget, tapi tetap berusaha terlihat elegan.

"—CK!"

Pelaku yang menggebrak meja beranjak dari posisinya. Lengkap sudah kekesalan menggerogoti emosinya. Kakinya melangkah lebar-lebar menjauhi ruang rapat. Meninggalkan Hanji dan Irvin tanpa menoleh. Pikirannya hanya tertuju pada satu tempat.

"Heeeei, kau belum menjawab pertanyaanku!"

Sayup-sayup terdengar suara Hanji yang dipenuhi perasaan tidak puas.

.

.

"Eren!"

Kegiatan di ruang makan terhenti seketika begitu sosok lelaki pendek berambut belah tengah muncul dari pintu ruangan tersebut—tanpa peringatan. Berpasang-pasang bola mata seketika bergantian menoleh ke arahnya dan pemuda beriris hijau yang diduga sedang dipanggil namanya.

Yang dipanggil juga terdiam. Mulutnya batal menyambut suapan pertama makan siangnya. Air mukanya bingung bercampur cemas. Hari ini aku melakukan kesalahan apa? Otaknya berusaha menelaah serangkaian kegiatan yang sebelumnya ia lakukan. Tapi ia tidak mengingat akan ada tingkahnya yang layak mendapatkan hukuman di hati itu.

Seakan tidak menyadari bahwa kedatangannya telah mengganggu kenyamanan prajurit-prajurit baru yang sedang menikmati santap siang, Levi melangkah ke arah meja dimana orang yang ditujunya berada. Kepalanya menoleh sekilas ke orang-orang yang menatapnya penuh tanda tanya, memberi tatapan penuh peringatan—yang sukses membuat semua makhluk di ruang tersebut mengalihkan pandangan. Kecuali Eren, ditambah Mikasa dan Armin yang duduk di meja yang sama.

"A—ada apa, Heichou?"

"Ikut aku keluar, ada yang ingin kuutaran kepadamu." corporal tersebut menghendikkan dagunya ke arah pintu.

Tanpa buang waktu, kaki Levi berjalan menuju koridor. Memimpin Eren yang segera bangkit dari kursinya setelah mendengar kalimat perintah tersebut—tentu saja diikuti oleh Mikasa. Armin yang awalnya dilema antara mengikuti kedua sahabatnya atau melanjutkan kegiatan santap siangnya, akhirnya memilih untuk menyusul juga. Setidaknya dia bisa mencegah ledakan emosi Mikasa kalau-kalau gadis oriental itu lagi-lagi terpancing untuk menghajar lelaki pendek yang sedang memimpin langkah di depanmereka.

Yah, walaupun pemuda pirang itu sudah dapat meramal jika corporal mereka tidak mungkin kalah dari Mikasa dalam duel satu lawan satu.

"Malam ini aku akan tidur di kamarmu."

Kalimat penyataan yang terlontar tanpa basa-basi itu sukses membuat ketiga remaja tersebut melotot. Mencoba mencerna ucapan ambigu yang terdengar sekilas itu. Armin bahkan segera menyisipkan rambut-rambutnya ke belakang telinga, mengira rambutnya telah menghalangi jalan keluar masuk gelombang suara ke gendang telinganya.

"Maaf, sir? Maksudnya, anda akan tidur di kamar ruang bawah tanah bersama—saya?" Eren mengkonfirmasi ucapan dari atasannya. Memastikan kalau ia tidak salah dengar.

"Tentu saja bersamamu, bocah. Kau kira aku akan mengizinkan kau menghuni kamarku satu malam lagi?" Mata biru gelap itu bergerak menatap iris hijau di hadapannya dengan pandangan kesal. Dia tidak suka menjawab pertanyaan yang sudah jelas jawabannya.

Bagaikan de javu, Armin dengan sigap menahan Mikasa yang bergerak penuh amarah ke arah corporal pendek tersebut. Wajah cantiknya meredup oleh ekspresi kebencian seketika usai mendengar deretan kalimat yang dilontarkan Levi. Kalau hanya sekali ia masih bisa membiarkan Eren sekamar dengannya, tapi dua kali? Kurang ajar! Mikasa tidak akan membiarkan makhluk buas itu berduaan lagi dengan saudara angkatnya.

"Malam ini akan kutangkap 'hantu' di depan kamarmu." Levi kembali menampakkan raut kekesalan. Ya, malam ini Levi akan menjebak makhluk apapun itu yang menyebabkan dia kena imbasnya juga.

"Tidak boleh!"

Gantian Eren menatap Mikasa bingung. Padahal, pemuda brunette itu sudah merasa lega mendengar atasannya akan turun tangan membantu menangkap sosok yang menghantuinya sepekan ini. Mikasa menghentakkan tangan Armin yang menahannya. Matanya menatap nyalang ke lelaki yang biasa dipanggil dengan sebutan heichou itu. Masa bodoh dengan jabatan, yang penting Mikasa membencinya.

"Kalau dia tidur di kamarmu, maka aku juga, Eren." Mikasa menatap pemilik mata jade yang disayanginya dengan penuh tuntutan.

Emosi Eren naik ke ubun-ubun karena gadis di depannya yang lagi-lagi bertingkah over protektif.

"HENTIKAN MIKASA! Sudah berkali-kali kukatakan kalau aku bukanlah adikmu atau anakmu yang tidak bisa apa-apa tanpa kehadiranmu! Tidak bisakah kau membiarkan aku bertindak sesuai keinginanku?" Eren membentak saudara angkatnya yang terkadang terlalu melindunginya secara berlebihan itu. Padahal usia mereka sebaya.

"Tapi—" Mikasa kembali menatap lelaki pendek di sebelahnya dengan sorot tidak suka.

"Ck, kenapa tidak kau persilahkan Ackerman ikut berjaga di kamarmu, Eren? Biarkan dia melindungimu dengan tenang." Levi melangkah pergi. Tidak berminat untuk mendengar lanjutan dari ocehan mereka. Namun ucapannya berhasil menutup debat tak berujung oleh kedua remaja tersebut.

"Oh ya," langkahnya terhenti. Matanya kembali melirik Eren—sekilas, tapi tajam. "Jangan lupa untuk membersihkan kamarmu sebelum aku melangkahkan kaki ke dalamnya."

.

.

Malam itu Levi menepati ucapannya dan mendatangi kamar Eren. Setelah mengecek ulang kadar debu di kamar pemuda itu, dia beranjak tidur—tentu saja dengan bantalnya sendiri yang sengaja ditenteng ke kamar tersebut. Si pemilik kamar terpaksa mengalah untuk tidur di lantai dan hanya beralaskan selimut tipis demi atasannya yang mengambil alih kasurnya.

Diam-diam, Mikasa yang telah diwanti-wanti oleh Eren agar tidak menyelinap ke kamarnya lagi-lagi melanggar ucapan pemuda itu. Gadis itu sudah siaga bersembunyi di celah tangga di depan kamar Eren dengan berbekal selimut dan scarf merah yang selalu melilit di lehernya.

.

.

Pukul sebelas malam, Eren sudah nyenyak dibuai mimpi. Sedangkan Levi maupun Mikasa masih terjaga. Mereka memang tidak berniat untuk tidur. Masing-masing memasang telinganya baik-baik, bersiap untuk menangkap suara mencurigakan di pintu kamar itu.

Tiga puluh menit, tidak terdengar apa-apa. Mikasa menguap, rasa kantuk menjalar di matanya. Levi mulai mondar-mandir di dalam kamar.

Satu jam, masih belum terjadi apa-apa. Mikasa mencubit kedua pipinya untuk menghilangkan rasa kantuk. Sementara Levi yang capek mondar-mandir, memilih duduk bersandarkan pintu kamar. Nyaris saja keduanya memejamkan mata ketika terdengar suara ketukan berirama lambat.

TOK

TOK

TOK

Kantuk yang tadinya menggoda mereka tiba-tiba hilang dalam sekejap. Tanpa berpikir panjang, Levi menendang pintu kamar Eren hingga terlepas dari engselnya dan jatuh dengan sukses. Tidak kalah ekstrim, di sisi luar Mikasa dengan gesit menerjang ke arah suara ketukan pintu terdengar.

"ADUH!"

Lelaki itu mengernyit ke arah gadis oriental yang sudah berdiri di depannya. Keduanya saling melempar tatapan kesal. Levi menarik kakinya yang diinjak (dengan sengaja) oleh Mikasa. Telapaknya balas menginjak kaki gadis itu. Mikasa kembali menginjak kaki Levi, lupa akan jabatan corporal yang disandang oleh lelaki yang tengah berebut tempat pijakan bersamanya di atas pintu kamar Eren. Levi balas menginjak lagi. Pertarungan berlanjut.

"Ada apa ini?"

Eren bangun. Tangannya mengucek matanya yang masih setengah tidur seakan melihat adegan yang berlangsung sengit di depan kamarnya sebagai hal biasa.

"ADUH! ADUH!"

Mata jadenya kemudian bergerak ke arah pintu kamar yang teronggok tak berdaya menimpa lantai—atau tepatnya menimpa sumber suara mengaduh yang baru terdengar. Mikasa dan Levi bertatapan, suara itu jelas bukan bersumber dari mereka. Keduanya memutuskan untuk menghentikan pertarungan dan beranjak dari pijakan awal mereka.

Bola mata ketiganya melebar ketika menangkap sosok yang tertimpa bongkahan pintu kamar Eren—

"—Jean?"

Rahang bawah manusia setengah titan itu terbuka. Kaget mengetahui bahwa pelaku asli peneror tidurnya selama ini ternyata manusia dan kaget melihat keadaan Jean yang sudah babak belur.

"Jadi selama ini, kau yang—" Eren masih mengerjap tidak percaya.

Jean terduduk sambil meringis. Dia mendapat ide untuk menjahili Eren setelah melihat raut wajah rivalnya itu ketika sedang berkumpul dan mendengar cerita seram di kamarnya. Pemuda itu berpikir Mikasa pasti akan kehilangan minatnya dari Eren jika dia ternyata penakut. Maka setelah semua orang terlelap, Jean memberanikan diri menyelinap ke markas Tim Levi dan mengetuk pintu kamar Eren setiap malam. Jika ternyata pintunya dibukakan, Jean segera bersembunyi di celah bawah tangga.

Namun gadis incarannya malah mendatanginya bukan karena berpaling dari Eren. Jean mendapat teguran menyakitkan agar tidak menakut-nakuti pemuda brunette itu. Dan kini badannya sakit bukan main setelah ditimpa pintu kayu dan dijadikan pijakan pertarungan bagi dua manusia berbobot lebih dari 50 kilogram.

Kepala berambut coklat itu menoleh. Siap untuk memuntahkan kalimat makian kepada kedua orang yang telah menyebabkan tubuhnya babak belur. Namun kata-kata yang sudah dirangkainya seakan tersangkut di tenggorokan begitu melihat wajah mereka.

"Mi—Mika... He—"

Mikasa dan ... Levi Heichou?

Bayangan dari dua manusia perlahan menyelimuti sosok Jean yang masih terduduk di depan kamar Eren. Dua pasang mata menatapnya seperti tatapan hewan karnivora yang akhirnya menemukan mangsa setelah berminggu-minggu kelaparan. Aura gelap seketika menguar dan merebut oksigen dari jangkauan Jean. Bahkan bagaikan mimpi, gadis idamannya kini tersenyum kepadanya. Tak luput dari perhatian Jean, corporal muda yang menyandang julukan humanity strongest soldier juga tengah tersenyum. Lebih akuratnya, kedua prajurit terkuat itu sedang menyeringai. Menyadarkan Jean bahwa kisah cintanya telah runtuh seruntuh tembok Maria.

Air mata penyesalan mengalir secara imajiner di kedua belah pipi Jean. Tanpa perlu diberitahu secara lisan pun penerus marga Kirschtein tersebut bisa menebak nasibnya setelah ini.


Happy Ending? :')


A/N :

Holaaaaaaa taratengkyu udah mengikuti FF dari semi yang gak banget ini sampe akhir. Walaupun akhirnya gak jelas ya hepi apa sed ending AwA mungkin hepi ending buat eren dan sed ending buat jean *dikeroyok sama fansnya Jean*

lagi-lagi mohon ampun kalau ada salah pemilihan kata atau salah pemilihan cerita huhehehe maklum, saya demen ngeliat jean yang tersiksa sih unyu unyu gimana gituh

Review puhlease? :')