Act V. Easily Asking for Reward

"Draco!"

Sang vampire mengangkat jari-jarinya ke depan wajah—semua kuku-nya menajam, runcing dan siap mencabik. Iris kelabunya bersinar ketika senyum menakutkan mengembang di wajah pucatnya. "Apa harus kubunuh dia, master?"

Hermione mendelik. Kedua tangannya masih terkepal kuat di sisi tubuhnya. Ia menjawab gusar, "Sudah berapa kali kubilang bahwa aku tidak butuh kau membunuh seseorang untuk diriku, Draco! Usir dia kembali ke hutan."

Draco meliriknya sekilas. Mengangkat bahu, ekspresi senangnya telah terganti wajah bosan. "Baiklah." Biar saja. Lagipula darah Troll juga tidak enak.

Hermione tidak bisa melihat wajahnya saat pria itu membelakanginya. Namun, saat tiba-tiba vampir itu mengeluarkan auman menggelegar dari tenggorokan, Hermione langsung tahu rupa macam apa yang terpampang di wajah pucatnya. Pasti sangat mengerikan, penuh taring dan bola mata sewarna darah melotot seperti ingin memakan hidup-hidup.

Si troll malang langsung kabur dengan menembus dinding, melolong panjang dengan cara menyedihkan.

Dan, yeah, dia memang jatuh ke karena kamar mandi perempuan ada di lantai 2. Hermione berjengit, menahan ringisan saat mendengar suara bedebam di luar sana.

Draco mendengus, melipat tangannya seraya tersenyum pongah pada Hermione. Iris kelabunya berkilat penuh misteri saat ia membungkukkan badan, menyejajarkan mata dengan gadis pemberani, majikannya. "Kau harus memberiku hadiah, master."

Sudut bibir Hermione berkedut. "Troll bukan lawanmu, Draco. Ini hal yang terlalu mudah untuk kau meminta hadiah."

Si vampir memalingkan wajah, mendengus menahan tawa. "Dasar pelit."

Memberungut, Hermione melayangkan tatapan tajam. "Jangan memanggilku begitu."

Draco mengangkat alis. Menantang. Lidahnya bergerak menjilat satu taringnya yang perlahan memanjang.

Menyebalkan sekali. Hermione menghela nafas. Ia melepaskan satu kancing lengan bajunya lalu menyodorkan pergelangan tangannya pada pria itu—yang pancaran wajahnya penuh kemenangan.

Tangan dingin menggenggam lengan gadis itu di tempat.

Lalu dua pasang taring siap menghujam.

Dua orang anak laki-laki menghambur masuk. "Hei! Granger! Kau tidak apa-apa!?" Si rambut hitam berseru, "Aku mendengar teriakan..." Ia tak mampu melanjutkan kata-katanya ketika menyaksikan bongkahan batu dan lain sebagainya berhamburan di tempat itu.

"Woaah!" Ronald Weasley menganga saat melihat kerusakan besar di kamar mandi itu. "Apa yang sudah terjadi di sini!?" Iris biru menangkap sepasang manik hazel yang menatap mereka, terkejut. "Err," Ron menaikkan satu alis merahnya, "kau sedang apa?"

Hermione mengerjapkan mata. "Aa," katanya, tidak tahu bagaimana menjelaskan postur tubuhnya yang aneh begini—tangan telanjang terulur ke depan dengan lengan baju yang telah digulung sampai siku.

Di dalam bayangan, Draco Malfoy mendongkol.


Act VII. Training the Master

"Ugh!"

Hermione menghempaskan badannya ke atas ranjang, membenamkan wajah ke bantalnya dan berteriak. Ranjang itu berderit ketika beban bertambah. Draco Malfoy berbaring di sisinya seraya menonton gadis itu dengan menopang kepalanya di tangan. Menyeringai.

"Aku tidak pernah bosan melihatmu frustrasi, my dear. Kau tahu, aku bisa kenyang jika hanya hidup dari rasa frustrasi yang setiap hari selalu kau rasakan." Ia tertawa kecil saat Hermione menoleh sedikit dan menatapnya tajam dari ujung matanya. Menggemaskan. "Aku hanya menggodamu, Hermione."

"Diam," suara teredam terdengar kesal. Draco tergelak. Tertawa keras dan sangat tidak peka terhadap perasaan majikannya. Hermione berdiri di kedua tangannya dan melayangkan salah satunya ke wajah pucat pria itu. Tentu saja, Draco lebih cekatan dan gerakannya lebih cepat saat menangkap pergelangan tangannya.

Tersenyum miring. "Aku bisa mengajarimu. Kau tidak mengucapkan mantranya dengan 'leviOUsa', tapi 'leviosa'. Ini hal sederhana bagi vampir kuno sepertiku."

Hermione merengut. Bibirnya melengkung ke bawah angkuh saat menatap iris kelabu misterius "pelayannya". Bukannya berterima kasih, gadis itu malah berkata, "Old man,"

Senyuman Draco lenyap seketika. Raut wajahnya jelas-jelas menunjukkan bahwa ia tidak terkesan dengan panggilan itu. Iris kelabunya tampak kelam dan tenang, seolah tengah memperingati gadis itu tanpa kata-kata.

Namun bukan Hermione namanya jika harus tunduk pada pelayannya sendiri.

Ekspresi penuh kemenangan tampak jelas di wajahnya. "Ooh, kau tidak suka dibilang tua, eh? Draco, tidak kusangka kau sangat tersinggung oleh," iris hazel berkerling, "hal sederhana seperti itu."

Iris kelabu membelalak.

Ah, wicked girl!

Ia lantas menekuk kepalanya ke belakang sambil tertawa terbahak-bahak. Hermione menunggu. Draco menghembuskan nafas untuk menenangkan diri sembari memandang majikannya dengan penuh rasa kagum. "Aku akan mengajarimu mulai dari sekarang, master."

Air muka gadis belia di hadapannya lantas bersinar riang, penuh semangat.


Act VII. Surprising Others

"Katakan semua yang kau ketahui tentang Voldemort," perintah Hermione tanpa tedeng aling-aling.

Profesor, atau mantan profesor lebih tepatnya, PTIH melemparkan sorot mata penuh nafsu membunuh padanya. "Mudblood, berani-beraninya darah rendah seperti kau—"

Iris hazel bergulir malas, "Draco."

"Hehehe," si vampir muncul di belakang Quirrell, berbisik dengan nada mengejek, "Kau membuat tuanku marah, squirrel."

"Gyaa!" "Gaaa!"

Draco diam sejenak. Ia berdiri tegak seraya memperlihatkan ekspresi datar pada sang tuan. "Kau seharusnya sudah terbiasa, Hermione."

Hermione menarik nafas berang, mengabaikan komentarnya saat berkata, "kupikir kau akan muncul di belakangku!"

Satu-satunya pria yang memiliki rambut di tempat itu memutar bola matanya. Maaf saja, master, Draco akan muncul di tempat mana saja yang ia sukai.


Act VIII. Showing His Intention to Support

Ketika dua sahabat barunya telah pergi duluan, Hermione menoleh ke belakang. Draco telah berdiri entah sejak kapan di sana, memandang gadis itu dengan sesuatu yang mirip rasa sayang dan kagum di matanya. Di dalam senyuman kecilnya.

"Draco?"

Pria pucat itu memejamkan mata tatkala ia membungkukkan badan, berlutut di hadapan sang gadis seperti saat pertama mereka mengikat kontrak berdarah. Ia mengulurkan tangan, meminta gadis itu menyambutnya. Kepercayaan Hermione padanya sangat besar karena tanpa bertanya ia menaruh tangannya di tangan pria itu.

Draco mengecupnya.

"Aku akan membantumu memanjat tangga kerja keras menuju impianmu, menjadi seorang penyihir besar di dunia sihir. Kau akan sangat terkenal dan dihormati. Ketika saat itu tiba, tidak akan ada lagi orang-orang yang bisa menghina dirimu. Ataupun darahmu."

Senyum kecil terlepas di wajah sang remaja. Membalas sorot mata Draco dengan penuh kebanggaan. "Sudah kubilang kan, Draco?" katanya, "Kau lebih berguna hidup daripada mati. Aku senang mendengar niatmu untuk mendukungku, tapi asal kau tahu saja, dari dulu aku sudah berniat untuk memanfaatkanmu untuk membuat namaku besar di masa depan nanti."

Ekspresi Draco Malfoy kala itu terlihat tajam dan lapar. Senyumannya melebar, memperlihatkan deretan gigi tajam seputih gading berkilat di dalamnya redupnya malam. Tidak menyadari bahwa kuku-kukunya telah memanjang, namun tidak melukai tangan majikannya. Ia tanpa sadar mencondongkan badan, mendesis gembira dengan bola mata semerah darah melebar, "I expect no less from my master!"

Draco Malfoy tidak pernah mengatakan sekuat apa ia harus menahan diri agar tidak menancapkan taringnya dan mengisap darah Hermione saat itu juga.


Act IX. Eating the Nightmare Away

Hari itu adalah hari yang melelahkan. Harry, Ron, dan Hermione telah dijanjikan hadiah setelah masalah Squirrell selesai—dan Voldemort, mereka belum bisa membuktikan kalau Voldemort bermukim di belakang kepala plontos Squirrell, tidak ada yang percaya. Mereka pikir tiga murid itu salah lihat. Draco, di dalam bayangan Hermione, mendengus seolah sudah mengira bahwa hal ini akan terjadi. Tapi, untuk malam ini—Hermione menguap— mereka buru-buru diantar ke asrama untuk beristirahat atau mungkin besoknya bisa menadapatkan terapi—setelah menyaksikan bahwa hanya karena seseorang menutup kepalanya, bukan berarti dia botak. Pasti pengalaman yang sangat menggetarkan jiwa. Ya, Ron, itu semua tentang kau.

Hermione membersihkan diri dan mengganti bajunya dengan piyama, kemudian menyusup masuk ke dalam kukungan selimutnya yang hangat. Draco bermaterialisasi di sampingnya saat gadis itu sudah menemukan posisi yang ia sukai. Ia mengerjapkan matanya dengan mengantuk. Draco mengelus rambutnya lalu turun ke punggungnya, begitu berulang kali. "Selamat malam, Hermione, semoga kau bermimpi indah."

"Hmm." Gadis itu tidak terlihat seperti ingin tidur dulu. Iris hazelnya yang dipenuhi kabut ngantuk lurus memandang Draco seolah ingin mengukir wajahnya. Draco mengangkat alis saat ujung jarinya menyentuh pipi pucatnya. Tumben sekali. Hermione tidak pernah mau menyentuhnya saat hendak tidur karena kulit vampir sangat dingin.

Bibir gadis itu berkedut. "Kau punya mata yang indah."

"Aku tahu."

"Narsis...hoaam..."

"Pejamkan matamu dan tidur, my dear."

Hermione menutup matanya. Berbicara untuk terakhir kalinya, "Jangan pergi kemana-mana."

"Tidak akan."

.

"Tolong aku..."

Keringat mengucur di wajah yang tampak kesakitan. Penuh penderitaan. Ia meronta, berkali-kali menggelengkan kepala. "Tidak! Henti...ukh! Draco...Draco...kau dimana—!"

"Ssshhh."

Tangan besar dan dingin. Hermione mendadak tenang saat tangan itu mengusap punggungnya yang berbalut selimut tebal. Lalu kain yang menyeka mukanya hingga kering. Draco dengan lihai menghindari kontak kulit agar tidak membangunkan gadis itu.

Waktu itu ia berbisik di telinga gadis itu, "Aku di sini. Selalu bersamamu. Selamanya. Sampai kau tak membutuhkanku lagi."

Di dalam keheningan malam yang menghanyutkan, sesosok vampir tersenyum dan mengusir mimpi buruk.

"Master."