"Ge… hidungmu berdarah…" Tangan itu membuang obatnya dan segera mengusap liquid merah yang mengalir di hidung Kris.

sesuatu mendadak menghentikannya.

"A-apa?" Tangan Kris meraih tangan Tao yang barusan mengusap wajahnya. Dan menemukan tangan alabaster itu kini bernoda cairan merah.

Darahnya.

"Ge? Kau tidak apa-apa?" tanya Tao khawatir.

"Ti-tidak, Tao…" Kris berusaha mengusap cairan yang kini semakin banyak.

Gagal.

Pandangannya justru mulai mengabur dan dipenuhi warna-warna yang hilir mudik di kepalanya.

'Prang!'

Bunyi gelas yang jatuh melatari tubuhnya yang kini ikut jatuh dengan gerakan slow motion. Terhempas tertarik gravitasi dan menyentuh dinginnya lantai.

"GEGE!" teriakan Tao adalah hal yang terakhir ia dengar sebelum kesadaran berkhianat padanya.

.

.

.

.

.

.

"Kau sudah sadar?"

Mata itu mengerjap. Pandangannya menemukan langit-langit putih di atasnya. Dan seseorang yang kini tengah memeriksanya.

"Aku… di rumah sakit?" tanya Kris perlahan, setelah masker oksigennya diganti dengan selang oksigen biasa. Di sisinya ada SuHo yang tengah menatapnya khawatir serta KyungSoo yang masih mengecek kondisinya. "Bagaimana?"

"Tao berlari ke EMRC saat kau mendadak pingsan…" terang SuHo.

"Lari?"

SuHo mengangguk.

"Tapi jarak apartemenku dari EMRC sangat jauh…"

"Aku tahu. Dia sangat khawatir sekali." SuHo mengasurkan thermometer pada KyungSoo yang tengah memeriksa suhu tubuh Kris.

"Di mana dia sekarang?" Kris berusaha bangkit.

Sia-sia.

Tubuhnya terlalu lemah. Apalagi dengan KyungSoo yang melempar pandangan melarang padanya.

"Dia baik-baik saja, Kris. MinSeok dan SeHun sedang menenangkannya."

"A-aku harus melihatnya!"

"Kris! Tidak!" SuHo menatap bola mata hitam itu tajam. "Tao baik-baik saja! Sekarang waktunya kau memikirkan keadaanmu sendiri!"

"Kalau kau kambuh sekali lagi. Nyawamu tak akan tertolong," interupsi KyungSoo pelan.

Kris kembali terduduk lesu. Mata pemuda itu mulai basah.

"KyungSoo-sshi, tolong." SuHo memandang KyungSoo memohon. KyungSoo paham, dokter pendiam itu mengangguk singkat.

"Aku akan ke EMRC dulu, nanti aku akan kembali ke sini lagi. Dan selama aku pergi, Kris, jangan lakukan apa pun yang bisa menghilangkan nyawamu."

Setelah berucap tegas, SuHo meraih jas dokternya di kursi pengunjung dan bergegas keluar dari ruangan tempat Kris dirawat. Meninggalkan dua sosok yang kini terlihat canggung dengan Kris yang memasang wajah acuh.

KyungSoo meletakkan stethoscope dan thermometer-nya di mejanya. Dan kembali duduk di sisi ranjang Kris. Sesekali memandang pemuda yang memilih berbaring dan memejamkan matanya.

"Kau tahu? Cita-citaku awal adalah penyanyi…" KyungSoo mengusir keheningan dalam ruangan berbau obat itu. "Aku ingat saat kau dan MinSeok menertawakanku karena cita-cita konyol itu."

"Aku tidak ingat." Kris berujar lirih seraya memunggungi KyungSoo.

KyungSoo tersenyum. "Aku mengerti itu sudah lama sekali. Saat itu kita masih anak-anak."

"…"

KyungSoo melanjutkan kalimatnya. "Saat itu kau bilang cita-citamu adalah psikiater karena—karena MinSeok selalu mengatakan bahwa ia ingin menjadi psikiater."

"…"

"Dan lucunya saat itu aku marah. Aku marah padamu…"

Jarum jam berbunyi pelan di dinding. Teratur.

"Kau tahu kenapa?"

"…"

"Karena saat itu aku tak ingin kau meninggalkanku. Jika kau menjadi psikiater, kau pasti akan pergi jauh untuk menuntut ilmu. Dan nanti kau akan menemukan pasien yang lebih menyenangkan dariku. Pasien yang bisa bicara dan tidak irit bicara sepertiku. Kau juga akan menemukan teman. Teman yang sesungguhnya dan tidak sepertiku yang selalu sibuk dengan buku. Maafkan aku. Maafkan aku yang egois saat itu… Tapi, kupikir saat itu aku hanya cemburu. Cemburu padamu yang sangat memuja MinSeok. Jika kau juga ingin menjadi psikiater, pasti kalian akan selalu bersama."

"Jangan ungkit masalalu…" tegur Kris lirih.

"Mianhae… aku hanya ingin mengatakan apa yang belum sempat aku katakan. Kali ini saja… dengarkan aku…" KyungSoo memohon.

Kris kembali terdiam.

"Namun kau tahu sejak peristiwa itu, cita-citaku berubah. Sejak melihatmu kambuh dan sejak aku tahu bahwa kau menderita kanker. Cita-citaku berubah…"

Kris bergerak pelan.

"Aku memutuskan untuk jadi dokter. Aku berusaha menjadi dokter dan menepis rasa iriku pada MinSeok yang selalu mendapat tempat utama di hatimu. Dan sekarang ini aku berhasil…"

"Tapi kau meninggalkanku, KyungSoo," ucap Kris akhirnya.

"Kita sama-sama meninggalkan, Kris!" tolak KyungSoo. "Hanya saja aku kembali. Aku kembali. Sementara kau tidak. Kau masih saja tenggelam dalam khayalanmu tentang MinSeok."

"Apa maksudmu?"

"Aku kembali setelah mendapatkan gelar dokter. Kembali untukmu. Karena aku ingin menjadi dokter untukmu. Tapi apa yang kutemukan?"

Kris terdiam. Tak menjawab pertanyaan retoris KyungSoo.

"Kau yang semakin parah. Kenapa, Kris? Seharusnya obat-obatan itu bisa membuatmu lebih baik? Apa karena MinSeok lagi atau pemuda itu?"

"Siapa? Tao maksudmu?"

"Ya."

"Jangan sangkut-pautkan semua ini dengan Tao ataupun MinSeok, KyungSoo," ucap Kris tajam. Pemuda itu kini berbalik dan menghadap KyungSoo.

"Kau mencintai pasienmu sendiri, Kris?" tebak KyungSoo sarkastis. Kris kini telentang, mata itu kembali menatap langit-langit yang suram.

"Aku tak pernah menganggap Tao pasienku. Selain itu kau tidak tahu apa yang terjadi padaku selama kau pergi…"

"Kris!" sentak KyungSoo tiba-tiba. "Kumohon, berhentilah bersikap seolah semua ini salahku. Aku pergi untukmu. Sama dengan alasanku kembali." Dokter muda itu tak tahan lagi. Airmata mulai jatuh di pipinya. Sama dengan Kris yang tetap menangis tanpa suara. "Aku kembali juga untukmu."

"Banyak hal yang membuatku terikat dengan Tao…" Suara itu terdengar getir. Sangat getir.

"Kalau begitu, ayo kita putuskan satu persatu…" jemari KyungSoo bergerak dan meraih jemari Kris yang tak merespon atas remasan tangannya.

"Aku mencintai Tao, KyungSoo." Kris memejamkan matanya. "Sangat mencintai Tao. Dan tak akan meninggalkan Tao."

"Tapi aku juga mencintaimu.."

Kris menoleh, melempar senyum pahit pada wanita manis di sisinya. "Waktu mengubah semuanya, Chagiya."

"Kris? Apa kau ingin membuat pengorbananku sia-sia?"

"Untuk apa kau berharap pada orang sekarat sepertiku, Do KyungSoo?"

"Aku… aku tak akan membiarkanmu mati. Aku akan menyembuhkanmu. Aku janji…" KyungSoo terisak semakin keras. Wajah perempuan itu kini tersembunyi di atas ranjang. Membiarkan air mata membasahi selimut Kris di depannya.

"Kalau begitu… sembuhkan aku, Do KyungSoo. Tolong sembuhkan aku…"

Sembuhkan aku—

untuk Tao….

"Delusional perception?"

"Pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat? Aku rasa bukan itu." SuHo yang tengah membuka-buka buku di tangannya berbalik dan menatap MinSeok yang kini tengah mengetuk-ketukkan jemarinya di atas meja seraya berpikir keras.

"Bagimana dengan 'thought echo'?" MinSeok menatap SuHo, bertanya.

"Mengenai isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya walau secara tidak keras, dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun kualitasnya berbeda, maksudmu? Gejala dasar. Tapi aku yakin LuHan bukan hanya mengalami gejala dasar ini." SuHo menolak pendapat MinSeok dan kembali membuka-buka bukunya. "Kita benar-benar butuh Kris untuk masalah seperti in—Ah! Ketemu! Bagaimana kalau ini? 'Delusion of passivitiy', waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari luar; tentang "dirinya" yang secara jelas merujuk kepergerakan tubuh atau anggota gerak atau ke pikiran, tindakan, atau pengindraan khusus."

MinSeok mengangguk. "Benar, itu dia. LuHan seolah pasrah pada sosok 'Henry' itu dan sangat bergantung padanya. Dan pergerakan tubuh itu berwujud pada dia yang bersikap seolah 'Henry' sangat nyata dan mulai mengabaikan suara-suara lain."

"Bagaimana perilakunya sekarang?" SuHo duduk di kursi di depan MinSeok yang kini memutar kursinya dan menghadap ke arah SuHo.

"Sangat apatis, jarang bicara, dan respon emosional yang tidak wajar." MinSeok mengangkat kedua tangannya singkat. "Kurasa aku harus berbuat lebih untuk mendekatinya."

SuHo tersenyum. "Kau sudah melakukan yang terbaik. Lalu bagaimana dengan SeHun?"

"Delusi dan halusinasinya mulai jarang dan hampir tak ada laporan dia kambuh di sekolah. Tapi, ia masih sering mengalami mimpi buruk. Dan kau tahu? Saat aku sibuk menenangkannya, LuHan datang dan marah-marah karena terganggu."

"Tapi, kenapa kita tidak mencoba satu cara terapi baru?"

"Apa maksudmu?"

SuHo mendekatkan tubuhnya ke arah MinSeok. "Kalau mereka mirip, kenapa kita tidak memancing kedekatan mereka secara emosional? Siapa tahu dengan mereka berdekatan, membuat mereka—!"

"—saling terbuka," sambung MinSeok pelan. "Genius."

MinSeok mengangguk-angguk paham. Sementara SuHo tersenyum cerah.

"Kurasa ini bukan kebetulan, MinSeok."

Matahari bersinar bersahabat di atas langit Seoul keesokan harinya.

Sebuah hari yang hangat di tengah musim semi yang sedang berjalan menginjak beberapa minggu ini.

Bunga-bunga yang bermekaran menebarkan bau-bau harum yang dengan senang hati membelai hidung-hidung yang tak sengaja berada di dekatnya. Langit terlihat biru dengan matahari yang melubanginya saat ia berhasil sampai di puncak tertinggi di siang hari.

Tapi sekarang masih pagi.

Dengan jarum jam yang masih belum beranjak dari angkai sembilan. Jam itu mati—atau memang karena begitu lambat pergerakannya? Dan tak ada yang repot-repot mencari jawaban atas waktu yang selalu menampilkan ritme sama. Membosankan.

Termasuk pemuda yang kini duduk di atas kursi rodanya dengan pandangan yang terfokus pada dedaunan yang bergoyang terseret angin yang angkuh.

"Kris?" Sebuah suara yang terdengar dari pintu merayap ke arahnya dan membelai telinganya yang sedang berusaha fokus pada melodi alam di depannya.

"Kris?" panggilan itu terulang. Tetap dengan ritme dan intonasi yang sama. Menyadari bahwa sosok di seberang tak ingin mengakhiri tatapan panjangnya pada kondisi alam di luar jendela, membuat KyungSoo memilih menyerah. Ditutupnya rekam medis dan diletakkannya benda berbentuk lembaran kertas itu di atas meja. Sebelum ia membawa tubuhnya mendekat ke arah seseorang yang masih bertahan di belakang jendela.

"Ada yang menarik?" KyungSoo meraih kursi roda pemuda itu dan berdiri di belakangnya.

"Menurutmu… kupu-kupu itu tahu kapan mereka akan mati? Atau daun-daun itu tahu kapan mereka akan jatuh dari rantingnya?"

"Kau percaya Tuhan, Kris?" KyungSoo ganti bertanya lirih.

Kris terdiam. Lama.

"Aku percaya. Bahkan aku sangat memercayainya sejak ia terlalu sering mengajak bercanda dalam hidupku."

"Kau tahu apa yang akan terjadi satu detik nanti?"

"Kau akan tetap di sini? Dalam posisi ini?"

"Tidak… Bisa saja aku segera pergi sebelum detik ini berakhir… dan membuat tebakanmu tadi salah."

"Apa maksudmu?"

"Kita, kau, kupu-kupu, bahkan dedaunan itu memiliki satu kesamaan, Kris. Tak tahu kapan akan mati. Bahkan Tuhan yang sering bercanda dengan kita untuk menunjukkan betapa akrabnya kita dan Dia pun, tak mengizinkan kita tahu rahasianya tentang kematian."

"Tuhan jahat kalau begitu…" ucap Kris sarkastis.

"Tuhan tidak jahat. Justru dengan dia merahasiakan kematian, itu membuat kita lebih menghargai kehidupan dan kesempatan."

"Kau bijak sekali, KyungSoo."

"Aku belajar darimu, Kris."

"Hm?" tanya Kris sekali lagi.

KyungSoo tersenyum. Wanita itu berjongkok sehingga kini pipinya bersentuhan dengan pipi porcelain milik Kris.

"Kau bisa saja berpikir bahwa kau akan segera mati, melihat sakitmu yang seolah tak bertoleransi. Tapi, daripada memikirkan kematianmu, kau lebih memikirkan bagaimana orang-orang yang kau tinggalkan. Kau begitu menghargai kehidupan dan kesempatan, Kris. Walau tanpa kau sadari."

"Aku tak pernah memikirkan itu."

"Percyalah, kau memikirkan itu." KyungSoo berucap seraya mengalungkan lengannya pada pemuda di depannya. Memberi pelukan yang mengalirkan kehangatan di pagi yang membentang di luar jendela.

"KRIS!"

Sebuah teriakan terdengar. Keduanya menoleh.

Mata Kris terpaku menemukan Tao yang memandangnya dengan mata berkaca-kaca melihatnya tengah berada dalam pelukan KyungSoo.

"Tao?" ucap Kris nyaris seperti bisikan.

"Kris jahat!"

Dan pemuda itu pun bergegas pergi meninggalkan Kris yang belum sepenuhnya sadar atas apa yang terjadi.

...

"Kau tahu, SeHun? Kenapa hujan begitu dingin?"

"…"

"Karena dalam keheningan dan kesedihan, kita bisa saling memeluk dan berbagi kehangatan, kesedihan, dan penderitaan... Tanpa perlu nada, tanpa suara. Hingga saat nanti hujan berhenti, semua itu akan luruh bersamanya..."

"Hujan akan menyisakan mendung, JongIn."

"Tidak, SeHun. Langit tetap biru dan akan kembali biru dengan lengkung pelangi di sisinya…"

"…."

"Aku ingin melewati hari bersamamu... Maukah kau selalu bersamaku, SeHun?"

.

.

.

"Mama sangat mencintaimu, SeHun. Mati untukmu pun aku rela. Cintaku sudah habis untukmu."

"Hentikan! Hentikan semua kata-kata cintamu. Aku tak ingin mendengar semua itu! Jangan sakiti aku dengan kata-kata itu… Kenapa kau selalu berkata seperti itu… padahal kau membenciku…"

"Aku sangat bangga sudah melahirkanmu…"

"Aku tidak ingin kata-kata itu! Jangan paksakan padaku. Kalau kau benci katakan saja, Mama!"

.

.

"Ya, Hae. Aku sangat membenci SeHun! Dia yang membuat papamu menceraikanku dan pergi. Aku tidak ingin melihatnya. Dia adalah anak yang tidak kuinginkan! Aku membenci SeHun, Hae! Sangat benci!"

.

.

"SeHun-ku yang manis. Aku tidak ingin kau pergi keluar, karena aku ingin menyimpan wajah manismu itu untukku sendiri. Aku sangat mencintaimu SeHun. Mama mencintaimu…"

.

.

"Mama apa yang kau lakukan pada SeHun! Kau menyakitinya!"

"Tidak, Hae. Aku tidak menyakitinya, karena aku mencintai SeHun kecilku."

"Ikatanmu itu menyakitinya! Lepaskan tali-tali itu kumohon!"

"Kenapa kau membelanya, Hae? Kenapa kau membela setan kecil itu!"

"Dia adikku. Bagaimanapun SeHun, adalah adikku. AKU MENYAYANGI SEHUN. Tidak sepertimu, Mama!"

...

"—Goleman pada tahun 1995 menyatakan bahwa; emosi merujuk pada suatu perasaan atau pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis serta serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Sementara Lewis dan Rosenblum mengutarkan proses terjadinya emosi melalui lima tahapan. Yaitu: elicitors, receptors, state, expression, dan terakhir—!"

Pemuda berambut sewarna caramel bernama LuHan itu masih termenung di bangkunya, deretan tengah dalam ruangan lebar ini. Mata redupnya lurus ke depan, ke arah sang dosen yang tengah menerangkan mata kuliah Emotional Education dengan tangan yang sesekali bergerak untuk memperjelas keterangannya. Padahal pikiran pemuda berwajah alabaster itu mengembara bersama seluruh hati dan perasaannya seiring makin mengaburnya sosok sang dosen dan ruangan yang dicat warna broken white dengan Air Conditioner yang terpasang di sudut-sudut kelas.

"Kau bosan?" suara seorang pemuda mendadak membuat LuHan terkejut. LuHan menoleh dan menemukan sosok pemuda manis yang tengah tersenyum lebar ke arahnya.

"Henry…" jawab LuHan hampir berbisik.

Matanya menatap pandangan latar sekitarnya yang kini berubah.

Tak ada lagi bangku-bangku dengan mahasiawa yang duduk terkantuk-kantuk di atasnya maupun dosen tua yang suaranya berdengung mencoba mengalahkan suara salah satu AC yang rusak di sudut belakang kelas. Jendela-jendela tinggi dengan pinggiran besi yang mengurung kelasnya di lantai tiga juga telah menghilang.

Kini di hadapannya terbentang lautan bunga matahari yang menunjukkan warna cerahnya dengan angkuh. Mencoba bersaing dengan eksistensi matahari di atasnya yang meredup di bawah langit biru. Suara angin membisikkan bahasa halus dedaunan dan aroma sun flower. Riak gelombang lautan sun flower menyambut mesra keheningan dan keindahan itu.

"Kau seharusnya tidak membawaku ke sini," sentak LuHan seraya menjulurkan tangannya untuk menjitak sosok di sisinya, yang sayangnya berkelit dengan lincah membuat tangan LuHan menyentuh udara kosong.

"Wae? Di sini indah," bela Henry yang mendudukkan diri di atas rerumputan di pinggir lautan matahari.

"Kau tahu 'kan aku tidak suka bunga."

"Tapi aku suka." Henry terkekeh.

LuHan mengerucutkan bibirnya. "Kau itu egois sekali."

"Walaupun begitu kau menyukaiku, 'kan?" Henry melemparkan lirikan menggoda yang membuat LuHan segera memalingkan muka ke arah riak kelopak bunga di depannya. Semburat merah yang nyaris tak terlihat terbentuk di tulang pipi pucatnya.

"Hah, sekali-sekali pilihlah tempat yang jauh dari bunga." LuHan mendesah. Tangannya bergerak memeluk kakinya dan menjatuhkan dagunya di belahan lutut. "Kemarin kau membawaku ke padang Red Carnation, sebelumnya lagi Red Cattleya. Dan sekarang sun flower. Benar-benar perbedaan yang dramatis."

Henry terkekeh semakin keras. Tangannya terjulur mengusap surai LuHan lembut.

"Kau seharusnya tahu arti dari bunga-bunga itu, Lu," ucap Henry setelah tawanya reda.

"Memangnya kau tahu artinya?" LuHan mengangkat wajahnya dan menatap Henry penasaran.

"Tentu saja." Henry menepuk dadanya bangga. "Red Carnation flower itu artinya—!"

'Kringgg…'

Suara bel yang mendadak terdengar menyadarkan LuHan bahwa ia masih di kelas, sekaligus menghilangkan hamparan bunga matahari di depannya. LuHan kembali berada dalam ruangan dengan bangku-bangku yang kini mulai kosong dan dengung AC yang rusak di sudut belakang.

Sosok sang dosen mulai melangkah keluar kelas dan LuHan sempat menangkap mata itu menatapnya. Menatap dengan sorot mata yang sudah sering ia jumpai berbulan-bulan ini. LuHan sudah menebak, dosen tua itu menyadari bahwa dirinya tak memperhatikan apa yang diterangkannya di depan kelas tadi. Masa bodoh! Satu-satunya yang dipikirkannya adalah sosok manis Henry yang berdiri di pintu dan kini tersenyum ke arahnya seraya melambaikan tangan.

Tanpa membuang waktu LuHan beranjak dari duduknya. Tangan pucatnya dengan terampil mengemasi buku-bukunya yang bertebaran. Lantas menyampirkan tas dan melangkah menuju pintu kelas.

"Ayo…" ucapnya pada Henry yang segera disambut dengan anggukan dan bergegas keduanya berjalan menuju tangga yang akan membawa mereka ke lantai bawah.

LuHan bukannya tak menyadari tatapan teman-temannya yang menghujam ke arahnya. Namun mereka tak berkata apa pun. Bahkan tak ada yang mencoba menahan LuHan dengan pertanyaan-pertanyaan penuh selidik.

"Bolos lagi?" tanya Henry yang tengah berjalan seraya melipat tangan di sampingnya. LuHan mengangguk singkat. Pemuda itu sudah terbiasa dengan kepulangannya sebelum jam kuliah berikutnya usai.

"Bolos bukan salah satu cara menghilangkan kebosanan," nasihat Henry saat mereka tengah duduk di salah satu bangku taman kampus. LuHan hanya meneleng-nelengkan kepalanya dan sesekali menjilat ice cream di tangannya. Seolah tak peduli dengan nasihat pemuda di sisinya maupun tatapan iba dan menusuk yang lagi-lagi diterimanya dari mahasiswa yang berlalu lalang di taman.

"Memang bukan. Tapi di kelas juga hanya menambah kebosananku," jawab LuHan acuh. "Hei! Kau ini kenapa mendadak sok begini?"

LuHan menatap Henry horor yang hanya dibalas senyum di sudut bibir Henry.

"Entahlah. Hanya tidak ingin saja melihatmu seperti ini terus."

LuHan mendadak menunduk mendengar kalimat Henry barusan, manik caramel itu menatap sepatu putihnya, nanar...

Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi.

MinSeok baru saja hendak pergi ke Exost Medical Research Center saat terdengar bel apartemennya berbunyi nyaring. Bergegas gadis itu meletakkan jas yang belum sempat dikenakannya dan berjalan untuk membuka pintu. Seseorang yang nekat bertamu pagi-pagi tentu orang penting. MinSeok sejenak mengambil keycard dan tergesa untuk membuka pintu, karena bel yang tidak henti-hentinya berbunyi di luar.

"Anny— LuHan?" MinSeok menatap pemuda berwajah pucat dengan tas yang terselempang asal di bahunya itu saat pintu berhasil ia buka. "Kau sudah pulang kuliah?"

"Kau tidak melihat kalau aku sudah di sini, huh?" Kalimat yang terdengar dari mulut pemuda itu sangat tajam, membuat senyum ramah MinSeok berganti dengan senyum getir.

"Aa…" MinSeok menjawab singkat. "Aku sudah memberimu kunci apartemen ini, 'kan? Besok-besok lagi kau bisa langsung masuk saja."

LuHan terdiam. Dengan wajah dingin dia berjalan melewati MinSeok.

"Kau tidak bolos lagi, 'kan?" tanya MinSeok sebelum pemuda itu lenyap di kamarnya. Tubuhnya sedikit terhuyung saat entah sengaja atau tidak LuHan menyerempetnya dengan kasar saat berjalan tadi.

LuHan tak menjawab.

'Brak.'

Hanya bantingan pintu kamar yang terdengar keras sebagai jawaban untuk pertanyaan MinSeok. Mata onyx MinSeok menatap pintu yang tertutup itu nanar. Ada belati tajam yang rasanya mengoyak ulu hatinya begitu kuat.

MinSeok telah siap berangkat ke EMRC. Gadis itu mulai menenteng tasnya dengan jas yang masih tersampir di bahunya. Langkahnya pelan saat ia berjalan menuju kamar LuHan. Tangannya terjulur untuk mengetuk pintu dan memberitahu LuHan bahwa ia akan berangkat ke EMRC. Namun gerakan tangan pucat itu terhenti. Lagi-lagi ia mendengar suara-suara yang sudah dihafalnya sejak kedatangan LuHan di apartemennya itu. Terdengar gelak tawa LuHan. Seolah ia tak tertawa sendirian.

Namun berkali-kali yang MinSeok lihat dari CCTV yang memang terpasang di beberapa sudut apartemennya itu tak menunjukkan sosok lain di samping LuHan. Pemuda itu sendirian.

Bicara sendirian.

Tapi sikapnya seolah ada orang lain yang sedang berinteraksi dengannya.

MinSeok berkali-kali mencoba agar LuHan mau mengenalkan 'teman khayalannya' itu. Tapi pemuda itu selalu menolak dan bersikap sangat kasar kepada MinSeok. Sikap yang sangat berbeda dengan SeHun-nya, bahkan yang membuat MinSeok merasa gagal adalah, sosok tak terlihat itu seolah lebih bisa mengerti LuHan.

Dan MinSeok pernah mendengar LuHan memanggil sosok itu dengan nama… 'Henry'.

"LuHan?" panggil MinSeok dari luar kamar. Tawa LuHan masih terdengar.

"LuHan?" ulang MinSeok sekali lagi.

"Wae?" terdengar sahutan kasar dari dalam.

"Aku berangkat dulu… makan sudah kusiapkan di meja. Ajak SeHun makan jika ia susah pulang sekolah nanti…" petuah MinSeok panjang.

Tak ada jawaban dari dalam. MinSeok menunggu.

Dan tak lama kemudian terdengar lagi suara tawa LuHan.

MinSeok menghela napas dan segera beranjak menjauh dari kamar itu untuk beragkat ke MRC.

Tak ada suara yang terdominasi warna putih khas ruang pengobatan di EMRC itu. Hanya isakan lirih yang sesekali terdengar dari MinSeok.

"MinSeok..." panggil SuHo lirih. "Aku tahu ini berat bagimu."

MinSeok terdiam, tak juga mengalihkan isakannya pada bahu SuHo. Ada kepedihan yang dalam yang membuat seorang Kim MinSeok menangis.

"Menangani dua orang yang sama-sama mengalami masalah mental tentu bukan hal yang mudah."

"Aku tak tahu... Apa aku bisa..." ucap MinSeok lirih di sela isaknya.

SuHo mengangkat kepala bersurai hitam itu. Memaksanya untuk membalas tatapannya. Mata indah SuHo beradu dengan manik berair seorang Kim MinSeok.

"Aku tahu kau bisa. Kita bisa melewati semua ini. Tak ada salah satu dari mereka yang harus kau prioritaskan. Yang ada hanyalah beri waktu yang sama untuk kau sembuhkan, oke?"

"MinSeok-noona?"

Dua pasang mata itu menoleh ke arah pintu dan menemukan sosok SeHun. Di sisinya ada Kim JongIn yang menunggu dengan raut tak sabar.

Tergeragap MinSeok segera mengusap air matanya. Berusaha agar SeHun tidak melihat butiran bening yang sempat membasahi jas dokter SuHo.

"Ya?" sahut MinSeok lembut. Gadis itu segera bangkit dan berjalan mendekat ke arah SeHun.

"Bolehkah malam ini aku menginap di tempat JongIn?" pinta SeHun seraya menatap mata MinSeok memohon.

"Kenapa harus menginap?" tanya MinSeok.

"Kau tahu aku tak tahan dengan pemuda itu," ucap SeHun jujur. "Dia lebih menakutkan daripada aku."

MinSeok tersenyum getir.

"Baiklah. Tapi hanya malam ini, okay?" MinSeok mengusap kepala SeHun lembut. "Bagaimanapun kau harus mencoba membiasakan hidup dengan LuHan."

"Okay. Terima kasih." SeHun mengangguk. Tubuhnya sedikit menunduk untuk memberi kecupan singkat pada MinSeok yang lebih pendek darinya.

"Ayo, JongIn!" Pemuda itu segera berbalik dan meninggalkan MinSeok yang terkejut dengan keberaniannya untuk menciumnya di depan orang barusan.

MinSeok menunduk. Menatap dinginnya lantai yang baru saja menjadi tempat berpijak SeHun.

"MinSeok…" panggil SuHo pelan, setelah cukup lama gadis itu terpaku di depan pintu. MinSeok melirik sejenak. Memberi tanda bahwa ia mendengarkan.

"Aku yakin. Dua orang itu akan saling mengerti."

"Aku harap juga begitu…" ucap MinSeok lirih. Gadis itu terjebak dalam pusaran pikiran apa yang akan terjadi selanjutnya.

Dalam hidupnya…

Dengan dua orang pemuda yang 'sama' di sisinya…

MinSeok tersenyum. Mencoba tersenyum. Berharap menemukan satu hal yang bisa membuatnya bertahan.

LuHan, seorang pria yang mengalami trauma setelah membunuh kekasihnya sendiri. Sementara SeHun…

MinSeok tersenyum. Mencoba tersenyum. Berharap menemukan satu hal yang bisa membuatnya bertahan. Kenangannya saat pertama bertemu dengan SeHun. Namun, tak ada yang lebih baik antara keduanya.

Entah sudah berapa lama JongIn membuat minuman di dapur saat ia kembali ke kamarnya. JongIn memutuskan untuk masuk sebelum telinganya lebih dulu menangkap sebuah isakan lirih.

"Maaf, Hyung Maafkan aku. Aku tahu aku salah. Sesuai permintaanmu aku akan mati. Aku akan menyusulmu, Hyung."

JongIn tercekat. Dengan siapa SeHun berbicara. Bukankah tak ada siapa pun di apartemennya….

Dengan gerakan cepat didobraknya pintu rapuh itu. Tubuhnya segera melesat ke dalam. Dan matanya membulat sempurna menemukan sosok SeHun tengah meringkuk, kedua lututnya terlipat ke dada, dan tubuhnya bergoyang ke belakang dan ke depan. Kamarnya yang baru saja ia tinggalkan terlihat begitu berantakan. Jangan-jangan SeHun….

"Maaf, Hyung. Maafkan aku." Kata-kata itu terus diulang-ulangnya. Dan wajah alabaster itu pun sudah tercetak jelas jejak-jejak airmata.

"SeHun…" panggil JongIn pelan.

SeHun tak menjawab. Ia justru membenamkan kepalanya di antara kedua lututnya. Ia terisak, tampak dari bahunya yang berguncang.

Akhirnya JongIn berjongkok di depan sosok yang tengah terisak itu.

"Jangan mendekat… menjauhlah dariku…" usir SeHun tersendat.

Tak kuasa melihat apa yang ada di depannya, JongIn bergerak maju. Diangkatnya kepala bersurai caramel itu. Dipeluknya erat. Membiarkan tetesan air mata hangat itu mengalir membasahi kemejanya.

"Aku… aku takut. Tapi, ini semua bukan salahku."

"Sshh, aku tahu."

"Tidak kau tidak tahu. DongHae-hyung akan membunuhku. Dia ingin aku mati…"

"Tidak ada yang akan membunuhmu atau menyakitimu," ucap JongIn lagi. Hatinya teriris melihat sosok yang tengah meringkuk tak berdaya dalam pelukannya.

Sejak pertama SeHun menjadi murid baru di kelasnya, ia tahu. Ada luka yang ditanggung pemuda itu. Ada duka yang disembunyikannya melalui wajahnya yang selalu terlihat ceria. Dan ia tahu tanpa SeHun mengatakannya. JongIn tahu, bahkan saat teman-temannya yang lain tidak tahu alasan SeHun sering berteriak seperti ketakutan di kelas mereka. Menghancurkan kelas mereka. JongIn tahu. Dan ia satu-satunya orang yang akan mendekati SeHun saat itu terjadi. JongIn menatap luka di tangannya. Luka karena goresan kayu dan kaca–yang di dapatnya saat ia mendekati SeHun, dan itu tidak hanya satu. Tapi, JongIn tak ingin menyerah. "Aku tak akan membiarkan itu terjadi."

"DongHae-hyung akan membunuhku. Dia tidak akan membiarkanku hidup… Aku… aku tahu kalau dia tidak membunuh mama. Semua itu tidak sengaja. Bukan DongHae-hyung yang membunuh mama." SeHun semakin terisak. "Aku tahu semua itu. Namun karena aku takut, aku tidak mengatakan apa-apa. Aku tidak membela DongHae-hyung. Ketakutanku, keegoisanku, dan karena aku terlalu pengecutlah kakakku harus mati dan menanggung semuanya. Dan sekarang… ia ingin membalasku."

"Nama lengkapnya Oh SeHun, dia tinggal sendirian di sebuah kontrakan kecil di kawasan kumuh dan rawan pinggir kota. Tidak jauh dari sekolahan ini," terang Kepala Sekolah Altair pada JongIn yang mendengarkan dengan seksama di depannya.

"Dia tinggal dengan siapa?" tanya JongIn.

Kepala Sekolah yang terlihat berwibawa itu menghela napas panjang, "Itulah masalahnya. Dia tinggal sendirian. Ayahnya cerai dengan ibunya, dan kemudian terdengar kabar kalau beliau meninggal di Amerika, itu saat SeHun berusia empat tahun. Setelah itu dia tinggal dengan ibu dan seorang kakaknya. Dan kejadian itu…"

"Kejadian apa itu…?"

Raut kesedihan mulai terlihat di wajah sang kepala sekolah.

"DongHae saudara dari SeHun ditemukan membunuh sang ibu…"

"Me—membunuh?" JongIn tercekat.

Kepala Sekolah itu mengangguk kecil. "Sepertinya itu karena DongHae merasa tertekan dengan sikap ibunya kelewat keras dan bisa di katakan bukan wanita baik-baik. Dan itu belum selesai, karena setelah itu DongHae dipenjara, namun akhirnya entah bagaimana caranya, dia bisa bunuh diri di dalam penjara. Dan sejak saat itu SeHun mulai hidup sendirian. Itu menjadi alasan dia masuk sekolah ini. JongIn, aku tahu kau bisa mengerti dia. Tolong bantu dia."

JongIn memaksa sosok SeHun menatapnya. Onyx-nya menatap caramel yang kini telah memerah. Diremasnya surai hitam itu pelan.

"Tatap aku. Tak ada yang akan menyakitimu. Apalagi membunuhmu. Aku janji DongHae-hyung sudah tidak ada. Hanya ada kita! Kau dan aku! DongHae-hyung yang bunuh diri bukan salahmu. Itu karena pilihannya sendiri. Dia tidak akan membalas dendam padamu. Aku tak akan membiarkan hal itu terjadi. Karena aku tak akan meninggalkanmu. DongHae-hyung menyayangimu. Sangat menyayangimu. Karena itulah dia ingin kau tetap hidup."

"Kubilang menjauh dariku!" SeHun tiba-tiba menyentakkan tangan JongIn dan berdiri. "Menjauhlah dariku!"

Mata yang sembab itu menatap JongIn yang berada di bawahnya dengan pandangan penuh kebencian. Namun yang JongIn tangkap bukanlah tatapan kebencian, namun takut, luka, dan kesakitan. Dan mata yang penuh air mata itu sudah mengatakan semuanya… semuanya tentang perasaannya dan beban yang ditanggungnya. Tanpa menunggu respon dari JongIn, SeHun segera berlari. Menarik kakinya keluar dari ruangan itu. Menembus kegelapan malam yang telah turun sedari tadi.

"Oh SeHun!"

JongIn keluar menyusur dan mencari SeHun mengitari jalanan yang sepi dan berujung di taman. Sekali lagi mata onyx JongIn menelusur taman yang suram dan akhirnya ia menemukannya. Menemukan pemuda yang tengah terduduk, meringkuk di sudut taman. Di atas sebuah bangku panjang..

"Kau sudah melihat semuanya, 'kan?" SeHun akhirnya bersuara.

"Melihat apa? Taman?" tanya JongIn dengan sedikit bergurau.

"Bukan. Kau sudah melihat semuanya dan aku tahu, kau tidak akan bisa melakukan apa-apa," lanjut SeHun tak peduli dengan gurauan JongIn.

Mendengar vonis dari pemuda itu JongIn tersenyum. Berniat mencoba untuk serius JongIn menjawab, "Aku memang bukan seorang psikiater. Namun, sayang bagimu karena aku bukan orang yang mudah menyerah sebelum mencoba."

"Kau tidak tahu apa-apa tentangku." Angin yang berhembus pelan memaksa beberapa daun di sisi mereka beterbangan.

"Aku tahu."

"Kau tidak tahu apa-apa." SeHun masih bersikeras.

"Aku tahu kau yang kesepian. Aku tahu bagaimana sakitmu atas semua beban yang kau tanggung selama ini. Aku tahu perasaan kehilanganmu…"

"Kau tidak tahu." SeHun berbalik dan menatap mata JongIn dalam. "Kau hanya tahu apa yang kau lihat. Tapi kau tidak mengerti perasaanku sesungguhnya. DongHae-hyung adalah anak yang baik. Dan dia…" SeHun merasa berat melanjutkan kalimatnya, "…dia bunuh diri."

JongIn menahan napas. Ditatapnya punggung pria itu dalam.

"Dan semua menyalahkan aku atas semua itu. Termasuk diriku sendiri…" SeHun menunduk.

"Tak ada yang menyalahkanmu, SeHun."

SeHun menggeleng. Airmata kembali mengalir di pipinya. "Seandainya saja aku lebih berani mengatakan semuanya… DongHae-hyung tidak…"

"…tidak akan meninggal…" sambung JongIn pelan. Onyx-nya menerawang ke atas, menatap langit-langit yang suram. JongIn tersenyum. "Kakakku juga meninggal karena kecelakaan. Sebelum kejadian itu aku sempat bertengkar dengannya dan meninggalkan rumah. Setelah melihat jenazahnya yang terbaring. Aku berpikir… kenapa saat itu aku bertengkar dengannya? Kenapa saat itu aku meninggalkan rumah? Aku terus menyesali diri. Entah sudah berapa kali aku berdoa kembali ke waktu itu, waktu sebelum kecelakaan itu terjadi. Bahkan dadaku terasa sakit saat mengingat semua itu…" JongIn bangkit dan duduk, onyx-nya menatap caramel SeHun dalam. "Tapi, betapa pun aku menyesali hal itu sampai sekarang… kakak tak akan kembali. Kita tak bisa melakukan apa pun untuk membuat mereka kembali."

Perlahan JongIn bergerak dan –ragu-ragu— merengkuh SeHun dari belakang, lembut. Tangannya memeluk erat pinggang SeHun dan menyandarkan dagunya pada bahu SeHun.

Nyaman.

"Maaf," ucap JongIn lirih.

SeHun kembali menunduk.

JongIn melanjutkan kata-katanya, nyaris menyerupai bisikan, "Kita memang tak bisa membuat mereka kembali. Namun bukan berarti kita tak bisa melakukan apa-apa. Kehilangan orang yang dicintai memang sakit. Sakit sekali. Namun kita masih bisa bangkit. Mereka, orang-orang yang telah meninggalkan kita pun pasti tak ingin kita bersedih. Kita tidak bisa mengembalikan waktu yang terlewati, namun kita masih punya waktu dengan orang yang kita sayangi yang masih ada di dekat kita. Masih ada banyak waktu untuk kita mengubah kesedihan…" JongIn mempererat simpul tangannya, "menjadi kebahagian untuk bangkit…"

Diraupnya tubuh itu kembali dalam pelukannya. Membiarkan ia menumpahkan duka, sakit, dan laranya padanya malam ini. Karena JongIn ingin saat pagi menjelang esok hari, tak ada lagi delusi.

Tak ada lagi halusinasi… cukup malam ini.

Esok SeHun tak akan terluka lagi…

"Membiarkanmu hidup dengan hidupmu sendiri. Tanpa dihantui rasa bersalah padanya. Kumohon kembalilah. Kembalilah pada hidupmu…"

Sekarang Kim JongIn mengerti, apa yang ia tak ketahui tentang seorang Oh SeHun.

Sesosok pemuda tampan dengan rambut caramel terlihat tengah berjalan menuju salah satu ruang guru yang terletak di ujung koridor. Wajah pemuda bernama Oh SeHun itu terlihat hangat, satu ekspresi yang sangat jarang nampak dari wajah yang memiliki kulit alabaster itu. Dan memang tak bisa dipungkiri kehadiran sang guru psikologi sejak sebulan lalu, yang bernama Kim MinSeok itu benar-benar mampu mengubah aura wajahnya serta suasana hatinya. Tapi, ada juga sosok lain yang juga telah berhasil menyentuh dasar hatinya. sosok itu… Kim JongIn. JongIn-lah seseorang yang mampu menyentuh ke dasar hati seorang SeHun. Menemaninya dan selalu ada saat orang lain menjauh dan bersikap seolah dirinya adalah monster. Membuatnya merasa hidup kembali.

Tangan pucat itu sudah hampir mengetuk ketika tak sengaja telinganya menangkap percakapan dua orang, yang dua-duanya sangat ia kenal karena akhir-akhir ini selalu ia dengar, suara lembut itu. Hal itu membuat SeHun mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan.

"Jadi ada perkembangan yang bagus dari anak itu?"

"Tentu saja." Suara JongIn.

"Lalu, setelah ini apa yang akan kau lakukan? Kau tidak bisa terus-terusan mendekatinya, 'kan?"

Ada apa ini? Kenapa MinSeok bertanya seperti itu. Lama, JongIn belum menjawab. SeHun memejamkan matanya, berharap JongIn tidak menjawab dengan–

"Aku akan pergi dari sini. Aku akan menjauhi SeHun. Bukankah itu perjanjiannya?"

Hati SeHun mencelos. Sesuatu yang ia dengar serasa menohoknya tajam. Rasa sakit yang aneh mengalir dalam dirinya. Ternyata selama ini… SeHun tercekat. Ia terluka dengan apa yang ia dengar. Dia tak ingin mendengar lebih dari ini. Tak ingin. Tanpa peduli pada keadaan sekitarnya pemuda itu pun berbalik dan berlari.

Ia ingin lari. Lari entah kemana. Yang ia tahu, ia harus menghindari JongIn.

Lari sejauh-jauhnya. Asalkan tidak bertemu dengan JongIn.

SeHun merasa dikhianati.

Ternyata mereka sama saja. Dia akan membiarkan JongIn pergi. Dan membiarkannya sendiri.

Membiarkannya menanggung luka sendirian. Setelah sebuah kepercayaan ia pertaruhkan pada sosok JongIn…

"SeHun menghilang lagi!" teriakan seorang pemuda yang MinSeok tahu bernama TaeMin terdengar keras dari arah pintu kantornya. Hal itu mengejutkan MinSeok dan JongIn yang tengah berbincang.

"Apa maksudmu menghilang?" tanya JongIn, ditatapnya TaeMin tajam.

"Tadi, aku lihat dia lari dan hampir saja menabrakku, sepertinya dia tadi dari ruangan Anda, dan sekarang SeHun lari ke luar sekolah."

.

.

.

.

.

BERSAMBUNG...


Special thanks to:

Babypanda518 | park sung gi | RaDisZa | lilis kepo | Guest

EXO12 | KimMinHan | Guest | abc | chanbaek

Dewicloudsddangko | Nareudael | Krisooexotic | SungJinRin | EXO shipper

Guest | MidnightPandaDragon1728 | FlameKeyoonKey | Lee eun san | Haren Sshi

twentae | Guest | KimKeyNa2327 | Hasti | Guest

henma | Ruiki Kaera | Guest | baekbutton | Baby Ziren KTS

Jin Ki Tao | GaemGyu92 | 196 | lay-gege | noona-saranghae | nicha


Haren Sshi: Beberapa obat bisa diminum dengan susu, namun memang benar tidak semua. Salah satu yang tidak boleh diminum dengan susu adalah jenis antibiotika—karena susu menghambat penyerapan zat-zat tertentu yang ada terkandung dalam antibiotika. Contoh antibiotika sudah dikenal itu Amoxicilin atau obat-obatan untuk flu. Tapi, obat yang diminum ZiTao bukan termasuk jenis antibiotika, melainkan anti-psikosis, dengan kata lain, susu yang dipakai Tao untuk minum obat tidak akan berpengaruh/menetralkan obat tersebut. Thanks untuk koreksinya. :)

Hasti: Saya lebih nyaman memakai couple ini, karena dengan begitu saya tidak terlalu meng-ooc-kan para karakter. Thanks untuk sarannya. :)