proyektil timah dan senjata api. Bersama mereka, kami membentuk ikatan persahabatan...
Warning : Rate-nya mungkin agak naik dikit. OoC, typo(s), dan kesalahan yang terlalu banyak untuk disebutkan. Tombol back siap menanti~
Kuroko Tetsuya. Bekepribadian terlalu tertutup untuk anak seusianya. Dia tidak pernah terlihat tertawa, menangis, mengejek, bermain dengan teman sebaya, bertingkah jahil, dan berlaku rusuh–dengan teriakan yang sangat mengganggu, kata orang dewasa– seperti kebanyakan siswa sekolah dasar tingkat 2. Sudah terlalu banyak peristiwa yang Ia lalui. Sangat jarang –bahkan tidak pernah– ada yang mendapati garis tawanya terangkat membentuk sebuah senyuman.
Tetsuya. Dalam iris azure-nya, tersirat entah berapa banyak emosi yang infiniti. Ia yang terlalu banyak mencicipi rasa pahit kehidupan. Satu-satunya manis yang Ia rasakan adalah senyuman nenek di pagi dan malam hari. Setidaknya neneknya sekali-dua kali pernah melihat goresan senyum di wajah anak malang itu. Tapi tetap saja, wajah minim ekspresinya bukan karena tidak adanya emosi. Ia hanya seorang bocah. Belum tahu cara dan frasa yang tepat untuk mengekspresikan perasaannya.
.
'PRANGGG'
Vas porcelain jatuh mencumbu lantai dan momentumnya membuatnya berserakan. Puing-puingnya berusdut tajam, membahayakan siapapun yang menginjaknya. Seorang wanita paruh baya, jatuh setelah melangkah ke belakang tanpa tahu keadaan dan menjatuhkan sebuah vas bunga. Badannya gemetar. Kulit di pelipisnya meloloskan beberapa butir keringat.
"Apa yang kalian inginkan dariku?"
Dua orang pria berbadan besar masing-masing memegang senjata api. Mereka menyeringai. Tampak noda rokok dan kopi menyebabkan gigi mereka menguning dengan susunan yang tidak karuan. Salah seorang dari mereka tertawa, entah apa yang lucu.
"Kau tanya apa mau kami? Heh perempuan bodoh, berikan semua harta yang kau miliki! Kalau tidak..."
Salah satu dari mereka sibuk mengacak-ngacak lemari pakaian di salah satu kamar tidur di rumah dengan arsitektur modern tetapi sarat budaya jepang tersebut, berharap menemukan sesuatu yang berharga. Mata berkantung hitam miliknya berbinar saat mendapati sekotak penuh uang dan beberapa perhiasan logam mulia.
"Oi, Toga, Aku sudah mendapatkan yang kita cari, ayo pergi dari sini!"
"Tunggu sebentar! Biarkan Aku bersenang-senang..."
Lelaki berwajah seram yang dipanggil Toga menyeringai. Ia menaruh senjatanya di meja kaca. Senjata terlihat begitu kontras dengan beberapa foto keluarga dan pernak-pernik cantik yang tertata dengan apik di meja berbahan kaca yang tampak terlihat berdempet dengan tembok. Tubuhnya bergerak mengikuti neuron motorik yang diperintah otak bernafsu bejad. Merengkuh wanita berambut icy blue sebahu dan menggerayanginya. Oral milik wanita itu dibekapnya hingga tak ada satu pun gelombang yang mempu meloloskan diri. Ketakutan. Satu dari yang dirasakan oleh wanita yang meronta dalam pelukan orang yang tidak seharusnya.
'Kami-sama, tasukete kudasai...'
TING TONG... TING TONG... TING TONG...
Bel berbunyi. Berkali-kali pertanda si pengunjung tak sabaran.
"AYAME! APA KAU DI DALAM?"
Lelaki itu berteriak. Nada khwatir tercetak jelas pada suaranya. Firasat buruk menguasai akalnya. Surai saddlebrown-nya sedikit basah karena ekskresi kulit di dahi dan kepala. Ia menurunkan anak kecil yang sedari tadi memeluk erat punggungnya. Ia tidak berfikir untuk mendobrak pintu dan membuat fraktur pada belikat. Impuls pada tangan yang merogoh saku mencari kunci duplikat dengan cepat. Energi yang tidak sesuai digunakannya untuk mendorong pintu, menyebabkan bunyi bedebam. Melangkahkan kaki dengan tempo cepat. Kekhawatiran kini menguasainya. Ia tidak tahu, sesuatu yang terlalu buruk untuk dilalui akan terjadi.
Anak lelaki yang tadi di sampingnya hanya berdiri terpaku di teras rumah. Naluri seorang anak yang berusia belia mungkin tidak dapat dibohongi. Entahlah, Ia hanya seorang anak kecil. Perasaan yang di rasakannya saat ini hanya bisa Ia definisikan sebagai takut. Takut yang membingungkan. Takut yang membuat jantung tak berirama. Takut yang membuat tangan gemetaran dan menurunkan temperatur tubuh. Takut yang hanya bisa Ia ekspresikan dengan isak tangis.
"TETSUYA! JANGAN MASUK KE DALAM RUMAH! LARI TETSUYA! LARI!"
Teriakan parau dari ayahnya mendistraksi tangisannya. Punggung tangannya menggesek mata, menyeka tetes-tetes air yang keluar dari pelupuk yang sembab. Sebisa mungkin menghentikan isakan dan berakhir dengan sesegukan.
'Ayah? Ibu? Apa yang terjadi?'
Sekian pertanyaan kekhawatiran dan delusi tetang hal buruk terputar bagai film pendek di pikirannya. Rasa takut menyuruhnya lari dari tempat itu. Tapi, entah apa yang menggerakkan. Saraf motorik mengendalikan otot rangka pada kaki, membuat pergerakan. Langkah kecil dengan irama yang cepat. Tidak peduli alas kaki akan mengotori lantai. Jarak hanya beberapa meter kini terasa sangat jauh. Melangkahi barang-barang yang berserak, Tetsuya kecil mengubah direksi ke kiri. Keseluruhan materi tubuhnya kini berada pada ruang keluraga. Ruangan yang semestinya tidak Ia masuki.
Sungguh, Tetsuya belum cukup usia, dan tidak akan pernah cukup usia untuk melihat apa yang baru saja dilihatnya. Wajahnya pucat. Seluruh tubuhnya gemetar, tungkai kakinya tidak sanggup menopang bobot tubuh. Tetsuya jatuh terduduk. Terkejut? Marah? Sedih? Takut? Ia bahkan tidak tahu perasaan apa yang dirasakannya saat ini.
Darah segar menggenangi beberapa petak ubin di lantai. Volumenya bertambah, terus mengalir bersumber dari tubuh tanpa nyawa seorang pria. Surai saddlebrown pria itu basah oleh darah. Cairan merah berbau besi merambat menyentuh kaki Tetsuya.
'Ayah...'
Simpangan gelombang suara isakan Tetsuya menjauh mencapai amplitudonya. Membuat tamu tak diundang dalam rumahnya refleks meningkatkan kewaspadaan.
"Oi, Siapa itu?"
Atensi bocah 7 tahun teralih. Pemandangan leher ibunya yang dicekik kuat oleh pria berbadan besar membuat Tetsuya menyesal mendongakkan kepalanya. Seharusnya Ia tidak melihat ini. Ibunya tanpa sehelai kain menutup aurat, dengan luka sayat dan lebam di beberapa bagian tubuh, serta bekas cekikan di leher. Ibu yang sangat disayangnya, meregang nyawa di tangan orang bengis yang seharusnya musnah dari dunia ini.
"Oh, hanya seorang bocah. Oi, Sato, kemari! Kau mungkin akan senag melihat ini..."
Tetsuya berusaha berdiri meski tremor pada kedua kakinya. Kilatan amarah dan kesedihan terlihat jelas di manik azure-nya. Mengambil langkah pertama yang terasa sangat berat bagi kedua tungkai kakinya. Pikiran naif mendorongnya untuk meninju pria jahat yang berjarak beberapa meter darinya seperti pada anime yang ditontonya saat libur di mana seorang bocah dapat mengalahkan beberapa orang dengan satu pukulan di tengkuk.
Tapi siapalah Tetsuya. Ia hanya seorang bocah biasa. Seluruh tekad runtuh ketika langkahnya menginjak genangan darah tepat di sebelah tubuh tanpa nyawa sang ayah. Kakinya gemetar dan kembali jatuh terduduk. Cairan merah membasahi betis dan celananya. Kornea matanya kembali tergenang cairan ekskresi kelenjar air mata.
"Apa lagi yang kau lakukan Toga. Aku kira kau sudah puas."
Seorang pria tampak berjalan dengan santai keluar dari kamar orang tua Tetsuya. Tangan kanannya tampak membawa kantung yang terlihat berat. Wajahnya tak kalah seram dengan pria jahat satunya.
"Lihat itu! Mungkin kita bisa menjualnya. Harga anak yang seperti itu sekarang sedang mahal,"
Ekspresi antusias terlihat di wajah orang yang dipanggil Sato. Bibir gelapnya menyunggingkan seringai. Akal Tetsuya menangkap hal buruk yang akan menimpanya. Tetsuya memalingkan wajah. Entah bisa disebut kebetulan atau keberuntungan, pandangannya jatuh pada sebuah senjata api laras pendek yang ditaruh di meja kaca tepat di depan foto dirinya sewaktu lulus dari Taman Kanak-kanak. Jarak meja kaca itu tidak mencapai 3 kaki. Yang perlu dilakukan hanyalah berdiri dan menjulurkan lengan ke arah jam dua.
Tubuh Tetsuya bergerak entah perintah dari siapa. Semua pergerakan Ia lakukan dengan cepat. Kedua tangannya kini menggenggam senjata api yang entah apa nama dan jenisnya. Menodongkannya pada kedua pria jahat yang sedang terkekeh melihat apa yang baru saja dilakukannya.
"Heh bocah! Kau mau apa, hah? Menembak kami?"
Seingatnya, Tetsuya tidak pernah diajari ataupun mempelajari bagaimana mengoperasikan senjata api. Ia hanya mengikuti naluri. Jemari kecilnya merengkuh. Telunjuknya berposisi menempel pada pelatuk senjata, bersiap untuk menekan.
"Cih, bocah sialan! Dia memakai senjataku."
Tangan Tetsuya gemetar. Bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Pertanyaan kalau Ia menembakkan pelurunya berarti Ia akan membunuh orang lain seakan menghantui pikirannya. Ketakutan merasuki hatinya. Keraguan menyurutkan tekadnya. Genggamannya melemah. Otot bisep dan trisepnya berelaksasi menandakan tangannya turun kearah vertikal. Senjata api itu masih ada dalam genggaman lemahnya. Hanya saja, Tetsuya kecil masih takut. Ia masih takut.
"Kenapa bocah? Kau takut? Tenang, Aku tidak akan membunuhmu seperti aku membunuh ayahmu atau ibumu. Kau berharga. Akan lebih menguntungkan jika kami menjualmu."
Tetsuya tersentak. Bayangan akan kematian orang tuanya yang sadis seakan terputar kembali dalam pikirannya seperti sebuah video playback. Kemarahan dan kebencian mengkudeta rasa takut dari hatinya. Cukup cepat, mungkin kurang dari dua detik. Tetsuya menodongkan ujung pistol ke arah salah satu pria dan tanpa ragu menekan pelatuk. Bunyi yang cukup keras menganggu kerja gendang telinganya. Dengung sejenak terdengar akibat indera yang belum beradaptasi. Tubuhnya terjungkal kebelakang bersamaan dengan penciumannya yang terusik bau mesiu.
Timah panas melesat mengenai pria yang memegang kantung berisi hasil rampokan. Layaknya penembak profesional, proyektil yang ditembakkan Tetsuya menembus tulang rawan pada pangkal tenggorokan dan mengenai medulla oblongata. Kerja beberapa organ terhenti dalam hitungan detik. Pria jahat itu mati diiringi bunyi gemercik logam mulia dalam kantung yang lepas dari genggamannya dan jatuh membentur lantai.
"Sial! Oi Bocah! Kau pikir Aku takut? Aku akan membunuhmu sekarang juga..."
Pria itu mengeluarkan pisau lipat dari balik jaketnya. Garis tawanya terangkat membentuk sebuah seringai. Sepatu kulit coklat yang berlumuran darah yang Ia kenakan membentuk jejak pada lantai.
Tetsuya masih dalam keadaan telentang. Berusaha bangkit, kini bobot tubuhnya bertumpu pada tulang panggul. Trisep lengannya kontraksi. Kedua tangannya menggenggam pistol dan mengarahkannya pada pria jahat yang melangkah mendekatinya.
"Jangan mendekat,"
"Apa? Kau memintaku jangan mendekat? Kenapa? Takut? Bukannya kau bisa menembakku dari situ?"
Nada mengejek mewarnai tiap kalimat yang dilontarkan bibir pria itu. Kakinya menendang tubuh tak bernyawa ibu Tetsuya yang dianggap menghalangi jalan. Tetsuya tersentak melihat kelakuan pria itu.
"JANGAN SENTUH IBUKU!"
Teriakan Tetsuya dan desing peluru menjadi suara sangkakala bagi pria itu. Jatuh bersimbah darah setelah dua butir peluru bersarang pada perut dan dadanya.
Hujan turun deras mlam itu. Angin bertiup kencang disertai gemuruh halilintar menjadi lulabi pengantar tidur bagi Tetsuya yang meringkuk kesepian di pojok ruang tamu. Bau anyir darah yang menyengat tidak mengusir kantuknya.
.
Kuroko mengerjapkan matanya berulang-ulang. Cahaya dan sinar matahari menerpa wajah dan membangunkannya dari mimpi buruk yang terus terulang. Biasanya di pagi seperti ini, neneknya akan membangunkannya dengan aroma roti panggang dan susu coklat hangat.. Tapi itu hanya sekedar 'biasanya'. Dan kata 'biasanya' itu merujuk pada hari-hari dimana neneknya masih sehat dan belum pergi menemui anak semata wayangnya jauh di sana. Sedikit banyak, Kuroko merindukan tatapan menenangkan dari iris sewarna langit milik neneknya.
Terkadang, kuroko merasa hidupnya seperti sebuah drama. 7 tahun yang lalu Ia masih bisa merasakan nyamannya rumah dan hangatnya keluarga. Sekarang? Semenjak kejadian itu, Ia merasa sudah tidak punya apa-apa lagi.
Kuroko melangkahkan kaki keluar rumah. Yah, rumahnya. Saksi tuna wicara kenyataan pahit yang menimpanya. Setidaknya rumah inilah satu-satunya yang mengingatkannya kalau Ia dulu pernah punya suatu hal yang sangat indah bernama keluarga.
Kulit pucat Kuroko memang tidak pernah bersahabat dengan udara penghujung musim gugur. Kuroko menautkan kedua telapak tangan dan menggerakkannya berlawanan mencoba membuat friksi, berharap gesekan akan menimbulkan panas. Energi kinetis? Kalor? Setengah massa dot kecepatan yang dikuadratkan? Kuroko tidak tahu. Pelajaran formal yang dia ingat hanya bagaimana cara menarik akar dari bilangan kuadrat. Bukannya Kuroko bodoh. Hanya saja, itu memang pelajaran formal terakhir yang Ia dapatkan –sebelum putus sekolah saat baru setengah semester di tingkat 3 sekolah dasar. Seingatnya Ia pandai dalam membuat puisi. Puisinya yang terbaik saat masih di tingkat 1. Yah, puisi tentang keluarga. Entah mengapa ada keperihan luar biasa dalam hatinya ketika memikirkan, mendengar, ataupun sekedar membaca kata itu.
Tubuh ringkih Kuroko terus menyusuri trotoar. Tinggal satu belokan lagi hingga Ia sampai di konbini terdekat. Lapar. Manusiawi kalau Kuroko juga merasakannya. Membeli beberapa makanan instan dan memasaknya sendiri di rumah sudah cukup baginya.
Brukk...
"Ah, sumimasen,"
Kuroko membungkuk hampir membentuk siku-siku. Atensinya terpantek pada orang yang baru saja Ia tabrak. Kebingungan merayap di pikirannya. Seingatnya orang ini tidak ada di depannya tadi. Apa mungkin Ia sengaja?
"Oi, bocah! Lama sekali. Sudah lama sekali hingga kami hampir mati karena menunggu."
'eh? Kami?' Kuroko menggerlingkan bola mata. Menangkap siluet seseorang yang berjalan pelan dari persimpangan mendekat ke arahnya.
"Kau tidak perlu takut, kami hanya akan mengajakmu mengobrol sebentar,"
Gestur tubuh Kuroko menyiratkan kewaspadaan. Kaki kirinya bergerak pelan hendak melangkah mundur. Tapi cengkraman di bahunya pertanda seseorang menahannya untuk tidak kabur.
"Jangan coba lari, bocah! Kami punya beberapa pertanyaan untukmu."
"Maaf, tapi Aku harus segera pergi. Ayah dan Ibu menungguku di rumah."
Mencoba beralasan, Kuroko mengucapkan dua kata tabu yang menimbulkan gejala traumatik bagi dirinya sendiri.
"Ayah? Ibu? Kau yakin kau punya? Aku kira mereka terbunuh 7 tahun yang lalu,"
Nada mengejek pada kalimat retoris itu mendistraksi Kuroko. Membuatnya mengingat kejadian yang seharusnya tidak memiliki tempat dalam memorinya.
"Dan kami ingat, kau bocah tengik yang dengan sok berani telah membunuh dua teman kami,"
Kuroko takut. Sebuah pisau ditodongkan di perutnya. Kuroko tahu ia harus lari tapi kakinya gemetar. Pusat koordinasinya seakan lumpuh. Membunuh? Berarti sekarang Kuroko telah resmi disebut sebagai pembunuh? Tidak! Seharusnya Ia bukan orang jahat.
Kuroko bergerak mundur dan berbalik. Gerakannya cepat. Namun piasu yang tadi menodongya tela menembus jaket yang Ia kenakan dan membuat luka di baliknya. Kuroko berusaha lari meski rasa sakit dan perih terus disampaikan oleh saraf reseptornya. Tubuhnya yang lemah kekurangan asupan energi membuatnya memilih untuk melarikan diri ke sebuah gang gelap dan bermaksud menyembunyikan diri.
"Cih, dasar bocah sialan. Sombong sekali dia! Kau tdk akan bisa lari dari kami..."
.
Nafasnya terengah-engah. Kuroko duduk bersandar pada tembok berseni lukis 3 dimensi. Ia kekurangan banyak darah. Kuroko memegangi perutnya. Berharap pendarahannya akan berhenti. Rintihannya Ia bungkam. Takut kedua pria yang berusaha mengejarnya menemukan keberadaannya.
Sayup-sayup terdengar langkah seseorang. Langkahnya terkesan pelan dan tenang. Pemuda itu –setidaknya itu yang dapat disimpulkan Kuroko– tidak terlalu tinggi dan rambutnya berwarna merah terang. Hanya itu yang Kuroko tau sebelum kehilangan kesadaran.
'Pendarahannya banyak, lukanya parah.'
Kesan pertama seorang pemuda melihat seseorang tak sadarkan diri dalam kondisi bersimbah darah.
"Dia belum mati, setidaknya lukanya harus cepat dirawat..."
Pemuda itu tampak bicara pada dirinya sendiri. Iris scarlett-nya menatap tidak senang pada dua pria yang berjalan mendekat.
"Pergi dari sini!"
Intonasinya terdengar seperti perintah. Kata-katanya tegas dan tidak sedikitpun terselip ketakutan.
"Kau temannya? Kalau begitu tidak apa-apa, kami bunuh saja kalian berdua..."
Dari kantung jaket pemuda beriris scarlett, revolver dikeluarkan. Tanpa terlontar kata, peluru terlontar dari moncong revolver, mengenai kardiovaskular salah satu pria itu.
"Dan Kau? Masih mau mendekat?"
Alisnya menukik, bibirnya membentuk seringai. Sekilas mirip seperti kapten tim american football salah satu sekolah di kota itu. Pemuda itu memasukkan selongsong peluru. Pria yang tadi menggebu-gebu, kini mengambil langkah mundur dan berbalik hendak melarikan diri. Terlambat. Pelatuk telah ditekan. Timah panas menembus punggung, melewati celah antar tulang rusuk dan bersarang pada jantung, mengusir nyawa pada tubuh yang bersimbah darah.
.
Perih pada perutnya masih terasa saat kesadarannya kembali. Kepalanya terasa pening. Mungkin efek dari kehilangan banyak darah. Kuroko berusaha bangkit ke posisi duduk. Sulit. Otot perutnya tertekan membuat sakit di lukanya makin terasa.
"Jangan bodoh! Kau mau lukamu terbuka lagi?"
Kuroko ingat siapa pemuda ini. Setidaknya Ia mengingat warna rambutnya.
"Aku tidak tahu kau kriminal sekaliber apa sampai membuatmu dikejar seperti itu..."
"Kau menyelamatkanku? Terima kasih... anu... etto–"
"Akashi. Seijurou Akashi. Belum Desember, Aku masih 14. Sepertinya kau seumuran denganku."
Visualisasi ala kartun-akhir-bahagia milik rumah produksi dengan modus tema kerajaan, puteri-puteri cantik dan kisah cinta sejati, seperti ada seberkas cahaya masuk kedalam hati Kuroko Tetsuya. Sepertinya Ia bisa punya sesuatu yang berharga lainnya yang disebut 'teman'.
"Arigatou Akashi-kun..."
"Sama-sama Tetsuya..."
"Ehh? Sejak kapan kau ada di sana?"
Riko langsung bertanya selepas siuman dari kekagetannya. Pertanyaan yang mewakili isi kepala teman-temannya.
"Saya disini sejak tadi, berlatih menembak."
Matanya membulat. Terlihat polos dan... err, imut, mungkin?
'Apa dia punya kemampua menyembunyikan keberadaan? ARGGHHH! Riko kau mulai tertular pikiran ala manga-nya Hyuuga!'
Atensi Riko mengarah kepada kedua pemuda di depannya. Yang berambut merah terlihat kelebihan gizi dengan tubuh kekar dan tingginya. Sementara yang satunya... mungkin Riko akan diam-diam menaburkan kapsul protein pada makan siang anak ini.
"Tunjukkan padaku kemampuan kalian, tapi sebelumnya–"
"BUKA BAJU KALIAN!"
Hyuuga menambahkan dengan penuh semangat. Entah karena dorongan masa lalu atau alasan lain, mungkin.
"APAA!"
Dan teriakan Kagami menyambutnya separuh keberatan.
-Continue-
(A/N) : Akhirnya update juga /pfiuuh/ maaf karena updatenya telat, hehehe aku sibuk di sekolah /sok.
Ini chapter duanya, cukup melelahkan. Maaf kalau jelek. Akhir-akhir ini aku merasa degradasi dalam diri T_T
Terima ksih atas apresiasinya pada chapter lalu BlukangBarak-san, mr DongDong-san, Tanaka Akira-san,dan freakyfujoshi-san.Dan kepada seluruh pembaca hening /silent reader maksudnya *plakkss*
ARIGATOU~
