No Yuri

.

.

Disclaimer :: Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Pairings :: SakuHina! #plak! Katanya No Yuri? Iye-iye, XD maksudnya NaruSaku dan SasuHina

Rated :: T

Genre :: Romance

Warnings :: No Yuri, AU, OoC, typo/misstypo (s), gaje, abal, garing, EYD ancur, slight humor dikiiiit, dan sederet kekurangan lainnya.

Summary :: Sama seperti judulnya, ini bukanlah cerita percintaan 'antara' Haruno Sakura dan Hyuuga Hinata. Tetapi, ini adalah cerita percintaan 'tentang' Haruno Sakura dan Hyuuga Hinata. Bersahabat sejak duduk di bangku sekolah dasar dan menjomblo sampai saat ini membuat keduanya digosipkan sedang menjalin hubungan 'gelap'. What the—?

Yosh! yonde kudasai, minna~

.

.

.

.

:: Two ::

.

.

.

.

Pagi itu, dari dalam ruang makan kediaman keluarga Hyuuga sedang ada acara sarapan pagi bersama. Terlihat ada enam kursi yang mengelilingi meja makan yang berbentuk persegi panjang itu, namun hanya ada tiga orang yang mengisinya. Sehingga masih tersisa tiga kursi kosong disana. Dan, tiga orang yang menempati kursi tersebut adalah sang kepala keluarga Hyuuga, Hyuuga Hiashi, dan kedua orang putrinya, yakni Hyuuga Hinata dan Hyuuga Hanabi.

Suasana yang tenang dan mencekam memang tidak dipungkiri selalu hadir setiap kali Hyuuga Hiashi ada di tengah-tengah mereka. Terlebih lagi saat pria paruh baya itu diam dan hanya menatap sekelilingnya dengan mata putih khas klan Hyuuga yang dimilikinya. Tidak jarang, hal itu seringkali membuat kedua putrinya—terutama Hinata-menjadi ketakutan setiap kali berhadapan dengan sang ayah. Tapi, meskipun begitu, keduanya mengakui kalau Hyuuga Hiashi adalah tipe ayah yang sangat perhatian dan protektif.

"Hinata,"

Suara berat dan dingin khas Hiashi membuat Hinata sedikit merinding saat mendengarnya. Ia bahkan refleks berhenti mengunyah makanannya. Gadis itu kemudian melirik sedikit kearah sang ayah yang masih terlihat menikmati makanannya dan melanjutkan kegiatan mengunyahnya sampai akhirnya makanan tersebut turun dari mulut ke kerongkongannya kemudian jatuh ke lambungnya.

"Y-Ya, Otou-san."

Tidak ada suara sahutan terdengar keluar dari mulut Hiashi selama beberapa detik setelahnya. Hal itu sedikit membuat Hinata was-was. sedikit, karena setelah itu, Hiashi kembali membuka suaranya.

"Hari ini kau pulang jam berapa?"

Hinata diam seraya berpikir sejenak. Mengingat-ingat jadwal di sekolahnya hari ini. Dan ia yakin kalau hari ini tidak ada kegiatan klub ataupun jam tambahan dari guru yang harus ia ikuti. "S-seperti biasanya, Otou-san."

Hiashi kembali diam. Meskipun Hinata tidak menyebutkan jam pulang sekolahnya secara spesifik, tapi pria paruh baya itu tahu betul jam berapa biasanya Hinata pulang sekolah. Yah, itulah Hiashi. Ia tidak akan pernah tidak tahu sesuatu tentang Hinata.

"Hn, kalau begitu, hari ini kau berangkat bersama Hanabi saja. Pulangnya, biar dijemput saja."

Hinata mengangguk lamat-lamat. Padahal, ia sudah punya janji untuk berangkat bersama Sakura hari ini. Tapi, ia tidak mungkin menolak perintah ayahnya. Dan dengan terpaksa, ia harus menghubungi Sakura untuk membatalkan janji mereka untuk berangkat bersama hari ini.

"Baik, Otou-san."

Selanjutnya tidak ada pembicaraan lagi di antara ketiga orang itu. hanya terdengar suara dentingan alat-alat makan yang mereka gunakan dan detik-detik jam di dinding yang menemani kegiatan sarapan mereka sampai akhirnya ketiganya selesai sarapan bersama.

.

.

.

.

"Hinata!"

Hinata yang sedang berjalan sendirian di koridor kelas menuju ke kelasnya langsung menoleh ke belakang ketika didengarnya suara Ino yang memanggilnya. Gadis berambut pirang pucat itu bersama dengan Sakura tersenyum seraya berlari kecil menghampirinya.

"Kenapa tiba-tiba ayahmu mau mengantarmu tadi pagi?" Tanya Sakura ketika ia dan Ino sudah sampai di dekat Hinata. "Untung saja, aku masih di rumah saat itu."

Hinata tersenyum tak enak. "M-maaf, Sakura-chan." Ucapnya lirih. "A-aku juga tidak tahu k-kenapa Otou-san tiba-tiba mau mengantarku."

"Yah, sudahlah. Tidak apa-apa, kok." Kata Sakura seraya tersenyum tipis.

"S-sekali lagi, maaf, S-sakura-chan."

"Sudah, tidak apa-apa, kok."

Hinata tersenyum lembut. Gadis itu sudah hendak mengatakan sesuatu kalau saja tidak ada suara seseorang yang menginterupsinya.

"Ooy, Sakura-chan!"

Ketiga gadis itu menoleh kearah belakang mereka. Dari arah sana, terlihat dua orang pemuda yang sedang berjalan kearah mereka. Seorang pemuda yang mempunyai rambut jabrik kuning yang tengah tersenyum lebar dan seorang pemuda berambut raven yang berwajah datar. Melihat pemuda jabrik kuning itu, tiba-tiba membuat Sakura memutar bola matanya.

"Ino, Hinata, aku duluan ke kelas saja, ya."

Ino yang tadi masih asyik menatap wajah tampan Uchiha Sasuke langsung berpaling kearah Sakura. "Eh, Kenapa?"

"Yah, pokoknya aku—" kata-kata Sakura terhenti ketika dirasakannya pergelangan tangannya ditahan oleh seseorang. Dan orang itu—

"Kenapa buru-buru, sih, Sakura-chan? Bel masuk kan masih sepuluh menit lagi."

Sakura mendengus ketika menyadari Naruto-lah yang menahan pergelangan tangannya. "Ada yang harus kukerjakan, Naruto."

Sejak kejadian kemarin siang, Sakura mulai kesal pada pemuda yang mempunyai rambut jabrik kuning ini. Bayangkan saja, mereka baru berkenalan bahkan belum sampai satu hari tapi pemuda itu sudah mengajaknya pacaran. Itu benar-benar tidak masuk akal. Sungguh.

Ino mengernyit. "He-hei, kenapa kalian mendadak akrab begini?" matanya menyipit curiga kearah Sakura yang kini memasang wajah dongkolnya.

"Aku duluan," tanpa memperdulikan panggilan Naruto dan yang lainnya, akhirnya gadis berambut pink itu melangkah pergi meninggalkan yang lainnya menuju ke kelasnya.

Naruto mencibir kesal. "Sakura-chan kenapa sih?"

"Hei, Naruto, kenapa kalian berdua mendadak jadi akrab begitu?" Tanya Ino yang masih heran dengan kejadian tadi.

"Kami 'kan pacaran,"

"Apaa?"

.

.

.

.

Sakura sudah berusaha untuk tidak memperdulikannya. Ia benar-benar sedang tidak mood berbicara sekarang ini. Tapi, ini sudah terlalu menyebalkan. Dipandangi oleh Ino sejak bel masuk sekolah sampai jam pelajaran kelima—olahraga, tidaklah menyenangkan.

"Aku tidak akan berhenti, sebelum kau cerita semuanya, Forehead."

Sakura mendengus. "Sudah kukatakan, itu bohong, Ino." Kata Sakura malas. "Kau lebih percaya kata-katanya?"

Kini ganti Ino yang mendengus. Gadis berambut pirang pucat itu sudah siap dengan seragam olahraganya. "Bukan begitu, aku 'kan hanya ingin mendengar ceritanya langsung darimu." Jeda sejenak, "Apa salah cerita pada kami, sahabatmu?" Lanjutnya seraya menarik tangan Hinata agar berdiri disampingnya.

Sakura mendengus mendengar kata 'kami' dari Ino. Padahal jelas-jelas, Ino saja yang dari tadi mendesaknya untuk bercerita bagaimana ia dan pemuda jabrik kuning itu bisa pacaran.

Sakura melirik Ino yang masih memasang senyum anehnya, gadis pink itu akhirnya menghela napas. Menyerah. "Haah, baiklah."


Flashback : On


"Kau bercanda?"

Naruto mengernyit. "Aku serius, Sakura-chan!"

"Aku tidak mau. Aku mau pulang." kata Sakura sudah berniat pergi dari sana namun tidak jadi karena pergelangan tangannya yang ditahan oleh Naruto.

"Jadi, bagaimana? Ya atau tidak?"

Sakura mendengus. "Tidak, terimakasih."

"Tapi, bukannya kau ingin menyangkal gosip itu?"

"Nanti juga hilang."

"Bagaimana kalau tidak?"

Sakura menggeram kesal. tenaganya baru saja terkuras karena habis berlatih dan sekarang ia harus kembali menguras energinya hanya untuk berdebat dengan pemuda jabrik ini?

"E-eh, Sakura-chan mau kemana? bagaimana dengan kesepakatannya?" tanya Naruto ketika dilihatnya Sakura yang sudah berjalan menjauhinya.

"Terserah!" balas gadis itu ketus.


Flashback : Off


"Jadi, dia secara sepihak mengatakan kalau kalian pacaran?" tanya Ino setelah selesai mendengar kisahnya dari Sakura.

Sakura mengangguk malas.

"Tapi, idenya bagus juga Sakura. Aku setuju."

Sakura mendelik. "Aku tidak perlu kata setuju darimu, Ino-pig. Sudahlah, tidak ada gunanya bercerita denganmu." kata Sakura seraya menarik Hinata dan pergi meninggalkan Ino menuju lapangan Indoor Konoha High School.

"He-hei, tunggu!"

.

.

.

.

Sakura mengernyit seraya memegang pelipisnya ketika dirasakannya kepalanya terasa berputar-putar. Langkahnya yang baru saja mencapai seperempat jalan menuju ke rumahnya harus terhenti. Gadis berambut pink itu menepi sebentar untuk memijat-mijat pelan pelipisnya. Rasa pusing di kepalanya mulai berkurang secara perlahan-lahan meskipun masih sedikit terasa mengganggu. Gadis itu tahu dengan jelas penyebab sakit kepalanya ini adalah karena kelelahan berlatih. Yah, untungnya hari ini jadwal latihannya yang biasa diadakan setelah sepulang sekolah libur.

"Hey, Sakura-chan."

Sakura terdiam sesaat sebelum akhirnya menoleh ke sebelah kanannya. Dilihatnya wajah tan seorang pemuda yang sudah hampir beberapa hari ini membuatnya sedikit kesal. Pemuda itu berdiri di sebelah sepeda berwarna biru yang dituntunnya.

"Ne, Sakura-chan, wajahmu pucat. Apa kau sakit?" Tanya Naruto lagi.

Sakura kembali mengalihkan pandangannya ke depan sebelum akhirnya kembali menegakkan badannya. "Aku tidak apa-apa, Naruto. Sudah ya," Kata Sakura seraya tersenyum tipis dengan sedikit paksaan tentunya. Ia jadi sedikit heran karena hampir setiap saat ia bertemu dengan pemuda itu.

Naruto mengernyit. "Kau yakin, Sakura-chan?" tanyanya lagi untuk memastikan keadaan Sakura yang kemudian hanya ditanggapi dengan anggukan kepala oleh gadis itu.

"Sudah ya," ucap Sakura lirih dan hendak melangkah pergi menjauh dari sana. Gadis itu sudah merasa tidak kuat lagi kalau harus berlama-lama di luar. Ia harus segera pulang ke rumahnya,makan siang kemudian minum obat dan vitamin, setelah itu istirahat. Yah, memikirkannya saja sudah membuatnya tidak sabar ingin cepat-cepat pulang.

Namun, gadis itu tidak jadi melangkah pergi lantaran pergelangan tangannya yang ditahan oleh Naruto.

"Ayo, ku bonceng, Sakura-chan," tawarnya seraya tersenyum lebar. Sebelah tangannya menepuk boncengan sepeda yang ada di belakang.

"Tidak usah, terimakasih. Aku pulang sendiri saja."

"Tidak apa-apa, Sakura-chan. Tidak usah malu-malu."

Sakura mengernyit mendengarnya. Kenapa ia harus malu-malu?

"Aku tidak malu, aku hanya tidak ingin merepotkanmu, Naruto. Sudah ya," ucap gadis itu seraya memijit pelipisnya yang mulai terasa pusing lagi dan berniat untuk pergi menjauh dari sana—atau Naruto tepatnya.

Setelah beberapa langkah kakinya menjauh dari Naruto, Sakura kembali dibuat terheran-heran dengan kehadiran pemuda itu yang menaiki sepeda birunya sampai di sampingnya kemudian turun dari sana dan kembali menuntun sepeda itu di samping kanan pemuda itu.

Langkah Sakura kembali terhenti. Dahinya mengernyit bingung. "Ada apa lagi, sih?"

"Apanya?" Tanya pemuda jabrik kuning itu polos.

Sakura memijit dahinya. Pusingnya semakin bertambah gara-gara kejadian ini. "Kau, Baka."

Naruto memasang wajah bingungnya yang semakin membuat Sakura kesal setengah mati.

"Kenapa kau mengikutiku lagi?"

"Memangnya tidak boleh?"

Sakura mengepalkan jemari tangannya, Kesal. Berhadapan dengan Naruto benar-benar membuat stok sabarnya selalu menipis. "Harusnya kau sadar kalau aku tidak menyukainya."

"Tapi, kita 'kan pacaran, Sakura-chan. Aku hanya ingin mengantarmu sampai kau tiba di rumahmu."

Sakura terdiam sesaat. Ia dan Naruto pacaran? Bagaimana bisa? Sakura bahkan tidak pernah mengatakan setuju atau ya pada pemuda itu. lagipula, ide pacaran ini 'kan ide sepihak dari Naruto. Ia juga tidak pernah menyetujuinya. tapi, meskipun begitu, gossip tidak berguna yang menimpanya dan Hinata akhir-akhir ini juga sudah mulai tidak terdengar lagi di telinganya. Jadi, sebenarnya, Niat pemuda itu baik juga.

"Sakura-chan, kau marah?"

"…"

"Sakura-cha—"

"Diam dan cepat jalan kalau kau mau mengantarku, Naruto." Ucap Sakura seraya melangkahkan kakinya meninggalkan pemuda itu.

Naruto yang awalnya memasang wajah bengongnya langsung tersenyum lebar seraya menuntun sepedanya dan berjalan lebih cepat agar bisa menyusul dan berjalan di samping Sakura.

"Tunggu, Sakura-chan."

.

.

.

.

Keluarga Hyuuga memang sangat terkenal dengan segala sesuatunya yang sangat tradisional. Makanya, tidak heran kalau arsitektur kediaman Hyuuga pun masih mengandung unsur-unsur rumah tradisional jepang. Jika ada kunjungan makan malam di kediaman Hyuuga pun, maka suasana tradisional jepang akan sangat terasa. Mulai dari menu makan malam sampai ruangan yang akan digunakan untuk menjamu tamu yang akan datang nanti.

Namun, Hinata sedikit penasaran siapa orang yang hari ini akan bertamu ke rumahnya. Pasalnya, ia dan Hanabi juga harus siap-siap dan kelihatan rapi sampai-sampai memakai *Iromuji segala. Biasanya, hanya sang ayah saja yang akan menyambut tamu tersebut. Yah, terkecuali kalau ada tamu kehormatan yang datang bertamu ke rumahnya saja yang harus disambut sampai seperti ini.

Dan untuk acara malam ini, Hinata mengenakan Iromuji berwarna merah bata dengan obi putih bermotif bunga lili. Sederhana saja namun tetap terlihat anggun jika dikenakan. Rambut panjang gadis itu pun di gelung agak keatas namun tetap disisakan sedikit beberapa helai di dekat telinganya. Tidak ketinggalan, sapuan make up tipis di wajah Hinata yang semakin membuat gadis berambut indigo itu terlihat anggun dan dewasa.

Tok tok.

Cklek.

"Hinata-nee-san,"

Hinata menoleh ketika didengarnya Hanabi memanggil namanya. Adik perempuan Hinata yang masih kelas satu SMP itu tampak cantik dengan Iromuji berwarna krim dan obi yang dipenuhi dengan motif bunga.

"Tamunya sudah datang. Nee-san sudah siap?"

Hinata tersenyum lembut. "Ya, Hanabi-chan."

Hanabi balas tersenyum lembut. "Hinata-nee-san terlihat cantik malam ini,"

Hinata terdiam sesaat sebelum akhirnya tersenyum lembut dengan wajah yang sedikit merah karena malu. "Terimakasih, tapi, Hanabi-chan juga cantik,"

"Hn, ayo, Nee-san."

Setelah itu, keduanya keluar dari kamar Hinata dan menuruni tangga menuju ruangan khusus yang sudah dipersiapkan untuk makan malam bersama tamu mereka nanti. Entah kenapa, tiba-tiba saja gadis berambut indigo itu berdebar tak keruan ketika langkahnya sudah semakin mendekati dengan tujuan mereka.

"Silakan masuk, Hinata-sama, Hanabi-sama," ucap seorang pria berumur dua puluh lima tahunan yang menjabat sebagai kepala pelayan di kediaman Hyuuga saat dilihatnya kedua kakak-beradik itu berada di hadapannya.

Hinata mengangguk seraya tersenyum lembut. "Terimakasih, Ebisu-san."

"Sama-sama, Hinata-sama," Jawab Ebisu seraya sedikit membungkuk kearah keduanya.

Hinata masih memasang senyumannya sampai akhirnya ia dan Hanabi masuk kedalam ruangan tersebut dan terkejut ketika melihat siapa tamu yang kini duduk bersama sang ayah.

.

.

.

.

Hinata tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Saat ia tahu bahwa keluarga pemuda itu yang ternyata menjadi tamu di rumahnya dan ayahnya yang menyuruhnya untuk mengajak pemuda itu berkeliling di kediaman hyuuga hingga akhirnya ia harus duduk berdua saja dengan pemuda itu. sebenarnya ada apa?

"Kau baik-baik saja?"

Hinata melirik sedikit kearah pemuda itu. Bola mata onyx-nya menatapnya datar seperti biasa. Rambut ravennya pun tetap ditata seperti biasanya. Tidak ada yang berubah. Hanya saja, pemuda itu memakai kemeja dan jas formal berwarna hitam malam ini. Dan itu sukses membuatnya terlihat sangat tampan dan dewasa.

Hinata mengangguk pelan dengan wajah yang sedikit merona. Duduk berdua dengan Sasuke, terlebih dengan jarak yang tidak terlalu jauh, bisa membuatnya mencium wangi parfum yang digunakan oleh pemuda itu. Wangi yang lembut namun memabukkan.

Pikiran Hinata sedikit menerawang ke belakang dimana saat ia sedang piket dan Sasuke menunggunya sampai ia selesai mengerjakan tugas piketnya. Dan sekarang, Sasuke yang ternyata adalah putra dari teman semasa kuliah ayahnya datang bersama keluarganya.

"A-ano…" jeda sejenak, "T-terimakasih k-karena sudah m-mengantarku pulang kemarin, U-uchiha-san."

"Sasuke," ucap Sasuke. "Dan aku akan memanggilmu Hinata."

"E-eh?"

"Untuk yang itu, kau sudah mengucapkannya berkali-kali kemarin. Jadi, lupakan."

Hinata menunduk dengan wajah yang merona karena malu. "B-Baik,"

Keadaan hening kembali tercipta di antara mereka. Hinata sudah tidak berani lagi membuka percakapan diantara mereka. Nada suara Sasuke yang datar bercampur dingin membuatnya sedikit kapok bahkan hanya untuk sekedar berbasa-basi.

Tapi, Hinata benar-benar tidak tahan berada dalam suasan hening yang mencekam seperti ini. Dan ia akan mencoba lagi.

"S-sasuke-san—"

"Apa kau tahu kenapa aku dan keluargaku hari ini kerumahmu?"

Hinata menggeleng. Ia tidak tahu dan akan bertanya kalau saja Sasuke tidak memotong perkataannya.

Kening pemuda berambut raven itu mengernyit. "Jadi, Ayahmu belum memberitahumu?"

"M-memberitahu a-apa?"

Sasuke menghela napas. "Memberitahu bahwa kita dijodohkan."

"E-ehh? D-dijodohkan?"

.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

.

Author's Note :: Aye-eye, minna~ sya balik lagi buat update chap 2 nya! maaf, kalo banyak kesalahan-kesalahan yang terjadi di chap 1 nya. sya bner-bner minta maaf. sebagai author baru, sya masih perlu bnyak belajar lagi. dan di chap kedua ini sya udah nyoba memperbaiki dan mengurangi kesalahan-kesalahan sya. gimana? semoga emang bner berkurang.

Mini-Dict (dari mbah Wiki) ::

*Iromuji : kimono semiformal, namun bisa dijadikan kimono formal bila iromuji tersebut memiliki lambang keluarga (kamon). Sesuai dengan tingkat formalitas kimono, lambang keluarga bisa terdapat 1, 3, atau 5 tempat (bagian punggung, bagian lengan, dan bagian dada). Iromoji dibuat dari bahan tidak bermotif dan bahan-bahan berwarna lembut. Iromuji dengan lambang keluarga di 5 tempat dapat dikenakan untuk menghadiri pesta pernikahan. Bila menghadiri upacara minum teh, cukup dipakai iromuji dengan satu lambang keluarga.

oh ya, sejujurnya sya sedang dalam perasaan 'andilau' nih. akibatnya sya jadi males buat ngetik #tendanged

tapi, sya akan berusaha buat bangkit dan update cepet untuk menghargai teman2 yang emang suka dan nungguin nih fic *emang ada?*

yosh, buat teman2 yang mau berbaik hati untuk ngasih uneg-unegnya dalam bentuk apapun, silakan review! \\^o^/

Big hugs,

Zena Scarlet