Disclaimer : Kuroko no Basket milik Fujimaki Tadatoshi, tetapi Akashi Seijuuro adalah milikku seutuhnya. *Nyolong restu dari Fuji-sensei*

Summary : Berawal dari kewajiban lalu usaha memanggil namanya, berakhir dengan ciuman pertama yang berkesan.

Pairing : Akashi Seijuurou X You! (Terserah mu OC, Reader atau lainnya. Boleh dah.)

A/N : Sesuai request untuk Akashi Version yang menumpuk, akhirnya gue buatin tuh! Silahkan dinikmati(?)

Warning : Akashi dipastikan MUNGKIN(?) OOC. Sebagian besar hanya adegan kissu. Tingkat keagresifan chara disesuaikan. Tidak ada plot cerita yang tersedia. Abaikan judul yang tidak kreatif.

.

.

I've warned you.

.

.

Kiss x Kiss Vol. 2

.

.

Disinilah aku berdiri. Di dekat lemari besar di pojok ruangan—mengobok-obok isinya. Mencari beberapa berkas lama peninggalan generasi sebelumnya. Sebagai seorang wakil, memang inilah pekerjaanku. Memberikan support pada sang ketua yang membutuhkan bantuan.

Hari ini, begitu sepi. Hari juga mulai menggelap. Tak ada seorang pun di sana selain aku dan dirinya. Kami berdua terpenjara oleh tumpukan kertas hasil keluhan dan juga tugas-tugas yang diberikan pihak sekolah. Berat memang, terkadang. Bahkan aku tidak pernah menyangka, sang ketua pun masih sanggup menghadapi semuanya ditambah lagi ia merangkap sebagai ketua klub basket. Ia memang hebat dalam segala hal.

Ah, aku menemukan berkasnya. Akhirnya.

"Akashi-kun. Aku menemukannya."

Orang yang kupanggil hanya berdeham singkat. Kepalanya bahkan tidak menoleh sedikit pun, masih fokus pada kertas-kertas merepotkan itu.

Segera, aku mendekatinya. Menyerahkan berkas yang kucari sejak lima belas menit yang lalu—meletakkannya di atas meja. Meja di dekat tempatnya duduk adalah meja di tengah ruangan. Sepertinya, duduk dibangku ketua terlalu lama membuatnya lelah. Aku juga lelah. Sebaiknya, aku duduk sebentar. Kakiku melangkah menuju sofa lain yang menyamping dari sofa yang didudukinya.

"Kemarilah," ucapnya berhenti bergerak mendengar ucapannya itu. Setidaknya, aku harus mempersiapkan diri untuk perintah selanjutnya. Meskipun melelahkan tetapi, ya, aku tidak membencinya. Malah, aku merasa senang bisa membantunya lebih banyak.

Ia menoleh dan menatapku lekat. Sekejab, jantungku bekerja lebih keras. Gestur tubuhku mematung. Mungkin, lebih baik jika ia fokus pada yang kertas-kertas itu saja. Namun, apa yang dilakukannya benar-benar tidak terduga. Tangan kanannya menepuk pelan sofa.

"Duduklah di sini."

Ia memerintahkanku untuk duduk di sampingnya? Oh, Tuhan. Apa yang harus kulakukan?

Ragu, aku duduk di sofa tepat di sampingnya—ah, lebih tepatnya di pojok sofa. Entah kenapa rasanya tidak sanggup duduk terlalu dekat dengan Ketua OSIS-ku ini. Dengar saja, jantungku sungguh berisik. Apa wajahku sudah mulai memerah?

"Rapikan berkas-berkas itu," tambahnya, tanpa basa-basi. Jari telunjuknya mengarah pada tumpukan kertas berantakan di pinggir meja. Aku hanya mematung memandangi arah telunjuknya mengarah. Mengedip bingung, akhirnya aku menyadarinya. Jadi, maksudnya ia menyuruhku duduk disini karena ingin memerintahku merapikan berkas-berkas ini? Bodoh. Percuma saja aku berdebar-debar tadi.

Pemuda berambut merah itu merebahkan tubuhnya pada sandaran sofa. Mungkin, ia ingin istirahat sejenak—meskipun kedua matanya masih fokus pada bundal kertas itu; bundal kertas yang kutemukan. Kegiatan OSIS sangat padat akhir-akhir ini dikarenakan dekatnya acara festival sekolah—belum lagi harus mengawasi pelaksanaannya, setiap tempat setiap kelas. Sebagai perwakilan siswa-siswi, OSIS harus berperan lebih dalam perencanaan. Belum lagi perencanaan yang berhubungan dengan kesiswaan, juga penentuan budget dan lain sebagainya.

"Apa kau lelah, Akashi-kun? Ingin kubuatkan sesuatu?"

Ha.. Pasti lelah sekali. Seingatku, jadwal latihan basket juga begitu padat dikarenakan beberapa turnamen yang akan diadakan, bahkan ia baru sempat datang ke ruangan ini setelah selesai berlatih. Apa ia baik-baik saja?

"Tidak perlu."

Ya sudah kalau begitu.

Kembali, aku merapikan hal yang diperintahkannya. Tidak hanya perlu dirapikan ternyata, aku mengecek satu per satu. Alih-alih takut ada yang terlewat. Kalau dipikir, yang membuat berantakan adalah aku sendiri sih, bukan dia. Cara kerjanya sangat rapi, tidak seperti aku. Selama menunggunya, aku mengerjakannya sendirian dan berakhir berantakan seperti ini.

Tu-tunggu dulu…

Entah kenapa aku merasakan keganjalan dengan situasi ini. Dari mana asal perasaan aneh ini? Tak sengaja aku menoleh pada dirinya yang tengah bersandar pada sandaran sofa. A-Ada apa? Kenapa menatapku begitu? Jangan katakan sejak tadi ia terus memperhatikan gerak-gerikku? Jadi… tegang. Sudut-sudut matanya begitu tajam sehingga rasanya menusuk penglihatanku.

"Kenapa kau memanggilku 'Akashi-kun'? Bukankah telah kuperjelas, jika sedang berdua saja, kau harus memanggil namaku?"

Ah. Maafkan aku. Aku belum terbiasa memanggil namanya. Jelas-jelas, hal itu membuat tubuhku bekerja lebih keras. Bahkan saat ingin menyebutnya, bibirku menjadi kaku. Bagaimana mau terbiasa? Jika perintahnya untuk memanggil namanya baru saja diluncurkan dua hari yang lalu?

Jadi, ini sebabnya ia menatapku dingin begitu?

"Aku… belum terbiasa, Aka—ah. Iya.. itu.."

Tuh benar, jadi kaku.

"Jadi? Kau ingin mengabaikan perintahku?" tanyanya dingin. Lihatlah, kelopak matanya mulai menyimpit tajam. Hal yang paling tak kuinginkan terjadi adalah membuatnya marah. Kemarahannya mungkin tidaklah terlihat berbahaya tetapi terasa berbahaya. Hanya aura kemarahannya sudah membuat sel-sel tubuhku mati.

Gelengan kepala aku berikan sebagai jawabannya. Dan, ia menghela nafas.

"Kau harus membiasakan diri, kali ini aku memberimu toleransi melalui kesepakatan dimana kau hanya perlu memanggil namaku ketika berdua saja denganku. Untuk lain kali, tidak ada toleransi tersisa." Ia bangkit dari sandaran. Tubuhnya condong ke arah meja. Bundalan kertas yang digenggam sebelumnya kini berpindah ke atas meja—ia melemparnya sembarangan. Kepalanya kembali menoleh padaku setelahnya. "—jika diingat, belum sekalipun kau mengucap namaku sejak dua hari lalu aku memerintahkanmu."

Entah kenapa rasanya ingin menundukkan kepala padanya. Maaf.

"Maafkan aku, Akashi-kun—ah.."

Keceplosan lagi.

"Lihat. Kau bahkan tak berusaha," ucapnya seraya mendengus. Tubuhnya memutar sepenuhnya menuju padaku. "—katakan sekarang juga. Aku ingin mendengarnya."

Eh? Tunggu dulu! Aku butuh waktu. Ingin menyebutnya diam-diam saja membuatku berdebar-debar. Bagaimana jika dipaksa untuk menyebut tepat di hadapan orang yang bersangkutan? Aku tidak sanggup. Lebih tepatnya belum sanggup.

"Ta-tapi, Akashi-kun… kertasnya.."

"Kau. Mendengar. Perintahku."

Glek. Dingin sekali. Dan, memaksa sekali. Merapikan kertas-kertas itu juga perintahmu! Ya, ya, aku tau, perintahnya yang diinginkan untuk dijalankan segera adalah perintah barusan, bukan?

"S-Se-..i.."

"Seijuurou." Apa? Ia berusaha membimbingku? Bukan masalah itu! Tapi malu tak tertahan ini yang sulit dicegah! Aku malu. Wajahku panas rasanya. Jangan menatapku begitu! Jangan menatapku dengan ekspektasi penuh aku memanggilmu dengan lancar. "—cepat."

"Se.. Sei..ju..juu..rou…kun."

Hah. Aku tak perduli. Terpenting, aku bisa menyebutnya meskipun terbata.

"Tidak jelas. Sekali lagi dan lebih tegas. Dan, jangan tambahkan 'kun'."

Baiklah. Baiklah. Jangan menatapku begitu. Mengerikan. Tenang! Aku sedang berusaha. Bersabarlah.

"Se. i. juu. rou," sebutku, dengan hentakan disetiap suku kata. Ho. Hebat. Aku sungguh hebat. Kau dengar itu?

"Kau seperti robot."

Ia tersenyum tipis—seraya menumpukan wajah pada punggung tangannya. Ah. Ia tersenyum. Ia tampan sekali, Tuhan. Tidak ada orang yang setampan dia dimataku. Apalagi kedua bola mata indah itu. Sungguh. Jantungku sepertinya akan berhenti berdetak. Aku tidak peduli sebenarnya ia tersenyum atau menyeringai. Apapun yang berhubungan dengannya selalu menakjubkan.

"—baiklah, untuk pertama bisa kuterima. Biasakan diri mulai sekarang. Untuk usaha kerasmu, kau dapatkan hadiahnya."

Tangannya yang hangat mengambil tengkukku dan menariknya mendekat menuju dirinya. Sedetik kemudian, bertemulah dua benda lembut dan hangat milikku dan miliknya. Aku tersentak kaget hingga tak sengaja menarik ujung kemejanya. Akashi Seijuurou menciumku? Tidak. Kumohon. Mataku terus mengejap disetiap gerakan yang ia berikan. Ini pertama kalinya, ia menciumku semejak dua hari lalu kami resmi menjadi sepasang kekasih. Ciumannya begitu lembut dan lembab. Membuat nafasku memburu dalam sekejab. Tu-tunggu dulu, aku tidak bisa menahan sensasi manisnya. Dadaku seperti mau meledak! Jadi, ini yang dimaksudnya sebagai hadiah?!

Pasokan udara dibutuhkan, dan ia memisahkan ciuman pertama kami. Jarak belum terbentuk banyak diantara kami. Deru nafasnya bisa kurasakan dengan jelas—hangatnya dan temponya. Kelopak matanya menunduk—terkesan dingin dan arogan—menatap wajahku yang sudah pasti memerah karenanya. Sebelah tanganku tengah meremas ujung kemejanya. Tangan lainnya tak sadar meremukkan kertas yang berada di genggamanku. Aku menggigit bibirku sendiri, berusaha menahan perasaan membuncah yang berlebihan ini.

Tolong jangan menatapku begitu. Tatapannya membuatku tenggelam dalam pesonanya. Dari jarak sedekat ini, ia tidak hanya tampan tetapi sempurna. Iris matanya memantulkan sosok diriku. Bola matanya jernih. Alisnya tipis dan tajam. Hidungnya mancung dan proporsional. Entah apa yang terjadi, ia hanya diam saja, menatapku lurus tak berkedip. Apa yang terjadi padanya? Kenapa ia tampak berpikir begitu? Posisi ini memalukan, tolong.

"Hmm.. Kupikir, sekali sudah cukup. Tidak ada salahnya. Diamlah sebentar."

Eh? Diam?

Jemarinya yang lain menarik daguku, hingga mendongak, menyesuaikan diri dengannya. Mataku kembali terbelalak ketika bibirnya mulai mengecup bibirku. Tangan yang mengangkat daguku kini berpindah ke sisi tubuhku. Tidak hanya mata yang mengejap-ngerjap, tetapi bahuku pun ikut tersentak di setiap kecupannya. Kecupannya begitu singkat tetapi beruntun. Menimbulkan perasaan aneh di sana. Haruskah aku berkata ciumannya benar-benar manis? Kurasa iya. Aku perlu mengatakannya, namun hanya dalam hati. Aku menginginkan lebih, ta-tapi.. aku tidak sanggup melanjutkannya.

"A-Aka..Se-seijuurou," panggilku sekuat tenaga di sela-sela ciumannya. Berusaha sekeras mungkin, agar ia mau mendengarkan—apalagi aku memanggil nama kecilnya. Tetapi, apa yang terjadi? Ia malah melanjutkan ciumannya yang tertunda di bibirku. Lebih lama dan lebih intens. Sampai-sampai entah bagaimana wujud kertas yang kugenggam saat ini. Bahuku sudah naik terlalu tinggi, menahan diri. Jantungku, berhentilah melaju cepat.

Pada akhirnya, ciuman keduanya berakhir. Nafasku tersengal. Menatapnya dengan tekukan alis dalam. Ia hanya menatapku datar. Kenapa ia masih bisa berwajah sama sepeti biasa begitu?

Keningnya ia tempelkan pada keningku. Beberapa saat, aku melihat kelopak matanya memejam. Gesekan rambutnya terdengar nyaman di telingaku. Bisa terlihat dadanya naik dan turun konsisten di setiap tarikan dan hembusan nafasnya.

Kedua matanya beralih pada tumpukan kertas di pangkuanku. Beberapa lembar kertasnya sudah kusut tak karuan. Tanpa mengatakan apapun, ia melepaskan sentuhannya di tengkukku. Ia mengambil berkas-berkas itu dan meletakkannya di meja. Selama ia melakukan itu, aku berusaha menenangkan hati dan pikiran. Aku tau, ia adalah orang yang akan dominan dalam segala hal namun aku tak menyangka ciumannya sangat dominan. Bahkan, aku tak diijinkan bergerak ataupun mengambil nafas.

Tetapi setidaknya, ini membahagiakan. Dicium oleh orang yang kau sukai dan sayangi. Benar-benar momen tak tergantikan.

"Sepertinya, tidak hanya membiasakan diri untuk memanggil namaku. Kau juga harus terbiasa dengan sentuhan yang kuberikan padamu."

Kenapa ia mengatakan itu? Apa yang ia tau bahwa aku begitu tegang saat ia melakukannya? Ya, ia memang selalu benar.

Dalam hitungan detik, aku merasakan dorongan pelan pada bahuku. Memaksa tubuhku bersandar sepenuhnya pada sofa. Tubuhnya pun ikut mendekat seiring bersandarnya tubuhku pada sofa. Tidak ada habisnya suara detak jantung mengisi telingaku. Refleks, aku menempatkan kedua tanganku yang mengepal di kedua bahu dan tulang keringnya. Lagi, kedua bola matanya menyihirku hingga membeku. Bergerak saja aku tidak bisa.

Tangan kirinya menyentuh kepalan erat tangan kananku, menariknya dan menempatkannya di sisi tubuhku—sedangkan tanganku yang lain dibiarkan berada di dadanya. Jari-jarinya menyusup masuk di antara kepalan tanganku yang terbuka disaat bibirnya kembali menyentuh bibirku. Sensasi itu timbul lagi, membuatku menggenggam keras jari-jarinya yang tengah menaut erat pada jari-jariku. Eratan yang kuberikan semakin kuat seiring dengan kecupan manis yang diberikannya. Kecupannya disusul dengan lumatan ringan pada bibir bagian atas. Kecupan, lumatan, terlepas, menarik nafas dan kembali menempel—hal itulah yang terus terjadi. Deru nafasnya pun selalu menyapu kegelisahanku.

Sinar matahari tenggelam yang mengisi ruangan kini telah sirna, tersisa gelap di luar sana. Biarpun begitu, aku tetap merasa gelisah dengan keadaan kami. Seketika, ia berhenti mencumbuku. Lebih memilih untuk menyingkirkan helaian rambut dari pipiku. Menatapku dalam menggunakan bola mata dwiwarna bereksistensi kuat. Sesekali kembali mengecup singkat bibirku. Seringaian kadang muncul, membuat jantungku berdegup semakin kencang.

"Aka—Se-sei..juurou. Nanti ada yang melihat."

"Biar saja."

"Tapi—" Bibirku ditahan bicara oleh telunjuknya. Wajahku semakin panas. Apa ada asap keluar dari kepalaku?

"Kau. Mendengar. Ucapanku."

Ba-baiklah. Ia sangat keras kepala. Jika sudah berkata, maka harus seperti itu. Ditambah kata-kata yang diucapkan mutlak tanpa keraguan. Tidak ada kata-kata yang membuatku tak berdaya selain kata-kata yang meluncur dari bibirnya itu. Gelisah berada di dekatnya adalah hal sia-sia.

Ia terus memberikan sentuhan pada pipi dan wajahku. Menyelipkan helaian-helaian rambut pada daun telingaku. Pandangan matanya terlihat damai entah kenapa. Sesuatu yang aneh terjadi padanya.

Ia kembali mendekat. Memberikan kecupan di telingaku, menimbulkan sensasi geli di sana. Belum puas dengan bibir dan telinga, ia mulai menyusuri wajahku menggunakan bibirnya. Hembusan nafasnya terus menerpa tiap inci kulit yang disentuh bibirnya—menyisakan jejak-jejak lembab dari atas hingga bawah. Terkadang, ia berhenti untuk mengecup beberapa bagian seperti kening, ujung dan kelopak mata, pipi, hidung dan pelipis. Suara ecapan kecupannya menjadi melodi indah yang terlantun.

Tidak bisa. Tubuhku sudah mencapai batasnya. Aku tidak bisa menahannya lagi. Aroma tubuhnya sungguh menyejukkan. Menyeruak masuk ke dalam diriku. Perlahan dan perlahan. Rambut scarlet itu terlihat seperti goresan lukisan elegan tak bernilai. Kedua kelerang beda warna itu sama persis seperti bola Kristal ajaib yang bisa mematikan lawan dengan sekali harapan terucap. Sudut matanya tajam, dan siap menangkapku. Seringaian dan senyumannya memabukkan. Ciuman, kecupan, dan cumbuannya membuat candu. Sudah cukup.

Jika dipikir, kenapa berubah jadi seperti ini? Bukankah kami sedang sibuk dengan berkas-berkas itu? Lalu, kenapa menjadi begini? Hanya berawal dari nama panggilan dan hadiah. Dan, sekarang hadiah berupa ciuman pertama itu terus berlanjut. Tak pernah terpikir akan ada momen seperti ini di antara kami. Aku tak pernah mengharapkannya jika mengingat bagaimana seorang Akashi Seijuurou. Tapi, aku juga ingin menunjukkan kasih sayangku padanya. Kasih sayang yang selalu tertahan setiap melihat dirinya di kejauhan. Meskipun telah terbalas, namun aku tak pernah berani menunjukkannya. Tidak seperti dirinya.

Ia masih setia memberikan kecupan pada bagian wajahku. Jika dirasa lebih dalam, ciumannya terasa begitu posesif dan serakah di saat bersamaan. Mutlak dan berkesan. Setiap sentuhannya mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang akan menyentuhnya selain dirinya sendiri. Sangat terasa.

Kecupannya berhenti ketika bibir tipis itu mencapai ujung bibirku. Bibirku adalah sasaran terakhirnya. Sekali lagi, ia memberikan ciuman dalam di sana. Bibirnya sangat mahir bergerak. Ah, aku mulai terbuai karena candu yang ditimbulkan. Aku mengeratkan kepalan pada kemejanya. Tangan lainnya terus menggenggam lebih erat. Perlahan kedua mataku memejam untuk merasakannya lebih dan lebih. Dan, saatnya aku membalas kasih sayangmu.

Aku membalas tiap ciumannya perlahan. Awalnya sedikit canggung tapi lama-kelamaan terbiasa. Aku harus membiasakan diri dengan hal seperti ini, karena sepertinya aku menginginkannya lagi suatu saat nanti. Menginginkan bibirnya lebih banyak menyentuhku. Membalasnya membuatku sadar bahwa bibirnya begitu tipis dan lembut lebih dari yang sebelumnya kurasakan. Tak mau kalah, ia melumat bibirku sehingga ciuman yang kuberikan padanya terhenti. Ada beberapa saat dimana lidahnya tak sengaja menyentuh bibirku karena lumatan yang diberikan. Menambah lembab bibir-bibir kami. Campuran nafas kami menghangatkan pipi-pipiku. Apa ini yang disebut ciuman panas? Tapi, yang kurasakan adalah manis yang melebihi rasa manis gula dicampur madu. Tentu saja, tubuhku memanas karenanya. Meskipun begitu, rasa lelah di tubuh yang menumpuk sejak beberapa minggu lalu sirna begitu saja karena ciuman ini. Benar-benar keajaiban.

Dadaku terasa sesak. Udara di dalamnya berkurang drastis. Tetapi, ia tak mengijinkanku untuk mengakhiri ciuman ini. Ia benar-benar serakah dan tak mau mengalah. Hal yang bisa kulakukan hanya mencuri udara sebanyak mungkin ketika tercipta jarak meskipun tak berarti. Namun, sepertinya ia menyadari keadaanku pada akhirnya, sehingga ia memisahkan diri. Entah merasa belum puas atau bagaimana, ia melepaskan eratan jemarinya pada jemariku. Kedua tangannya terselip antara punggungku dan sofa. Tubuhnya merengkuh tubuhku dengan erat setelahnya. Sedangkan kepalanya tenggelam di bahu kananku. Sepenuhnya tubuh itu bersandar pada tubuhku. Menumpukan lelah dan beban yang dibawanya.

Bibirku masih terasa lembab. Nafasku juga belum normal. Berbeda dengannya. Dadanya mengembang dan mengempis konsisten. Otot-otot tubuhnya sangat rileks. Helaan nafas lega lolos darinya—aku yakin itu. Aku memeluk balik tubuhnya. Ikut menyembunyikan diri di balik bahunya. Aroma tubuhnya semakin terasa memabukkan. Aku berbisik pelan tanpa sadar.

"Seijuurou, aku sangat menyukaimu."

Lagi, aku… lancar menyebut namanya. Jadi, senang.

Ia mengeratkan pelukannya. Mengangkat wajahnya sampai mencapai leherku. Nafasnya begitu panas menghembus di sepanjang leherku. Rambutnya menusuk telingaku—geli. Entah apa yang dilakukannya, hal yang jelas terjadi adalah bibirnya yang lembut itu menangkap tengkukku. Mengecupnya beruntun hingga garis leherku.

"Kau adalah milikku. Milikku seorang," bisiknya seduktif. Terdengar pelan tetapi tegas dan posesif. Apalagi jaraknya tak jauh dari telingaku. Satu hal lagi kesan terbentuk, yaitu ia sangat posesif dalam perkataan dan tindakan. Aku tak menyangka. Aku tak perduli apapun saat ini. Ia orang yang seperti apa, aku tidak perduli. Aku menyukainya bagaimanapun dia.

Ya, hanya kau saja yang boleh memiliku, Akashi Seijuurou.

Posisi seperti ini tidak ada salahnya. Nyaman. Apa aku akan tertidur sebentar lagi? Ia meraih puncak kepalaku dan menepuknya. Sentuhannya selalu berkesan.

Aku merasakan gerakan tubuhnya. Ia melepaskan pelukannya dan menyingkir dari tubuhku. Senyuman tipis terbentuk di wajahnya. Salah satu alisnya naik. Entah kenapa senyuman itu seakan meledekku.

Hentikan. Pasti kau senang melihat wajahku yang sudah memerah lebih daripada warna rambutmu! Melihat senyuman itu sungguh membuatku senang, sesungguhnya.

Ia meraih tangan kananku. Mengangkatnya tinggi dan memperhatikannya baik-baik. Dikecupnya punggung tanganku dalam waktu lama. Kecupannya berlanjut pada jari-jariku, telapak tangan dan pergelangan tangan. Menghirup udara seraya menempelkan pergelangan tanganku pada bibirnya. Matanya memejam. Bibirnya melengkung menyerupai seringaian. Gawat. Jantungku…

Tiba-tiba saja, kelopak matanya terbuka—mengekspos iris matanya yang sebagian masih tertutup pergelangan tanganku. Aku tersentak kaget lagi. Degupan kaget tak bisa dihindari. Ia berkata, tanpa melepaskan koneksi pergelangan tanganku dengan bibirnya.

"Aku sangat menyukaimu, lebih dari dirimu sendiri. Kau adalah milikku dan selamanya milikku."

Sukses, besok, aku akan absen ke sekolah karena terjangkit demam karena tindakan dan perkataannya hari ini. Hari ini adalah hari yang melelahkan—ah, lelahnya bahkan hilang dalam sekejab—namun membahagiakan.

Kami melanjutkan tugas yang ada. Hari ini harus diselesaikan sebagian. Selama itu, kami terus bergandengan tangan bahkan hingga waktu pulang tiba. Sebenarnya, aku tak sanggup berada di dekatnya, tetapi di saat yang sama juga masih ingin merasakan sentuhan telapak tangannya pada telapak tanganku. Jadi, tidak ada pilihan lain selain menahannya. Meskipun begitu, kata-kata terakhirnya sebelum kami terpisah jarak dan ruang,hampir membuat jantungku lepas dari organnya.

"Terima kasih padamu. Berkat ciuman bersama denganmu, rasa lelahku hilang begitu saja. Nyatanya, tidak hanya kau yang mendapatkan hadiah."

Lagi-lagi ia menyeringai. Lupakan.

Lalu, ia kembali menciumku dalam dan lama di depan pagar rumah. Ah, iya, ia mengantarku sampai rumah. Aku harap supirnya di sana tidak melihat aksinya kali ini.

.

.

The End.


A/N :

KOK ADA YANG GANJAL YA? OH. MUNGKIN KARENA FORMATNYA BEDA SAMA KUROKO YA! OKELAH!

Sebenernya, gue bikin apa sih? Bingung sendiri pas baca. *garuk2* Ya, memang fic ini tidak berplot sih. Yg penting kissu, seperti drama cd kiss x kiss. MAU GIMANA KEK CERITANYA, YANG PENTING KISSU2AN, IYA KAN? Kalo Akashi-nya OOC ya maap yak. Bikin adegan kissu itu susahnya minta ampun, apalagi kalo terus-terusan. Klo cm sekali, okelah. Ampe bingung gue, selanjutnya gue kudu nulis apa. AHAHAHA. Di saat yg sama, gue mau Akashi gak OOC tapi gak bisa kalo adegannya kissing terus. Ya, akhirnya pasti OOC-lah. Bodo ah. Lagipula, kualitas kissingnya akan berkurang krn udah ada kuroko duluan. Gue jamin itu.

TAPI! AKHIRNYA! RIKUES MENUMPUK MEMINTA KISS X KISS VERSI AKASHI TERPENUHI! OH LEGANYA DIRIKU! OKE! STOP MEMINTA AKASHI VERSION, OKEY?! HUAHAHAHAHA. INI DIA VERSI AKASHI! MAAP KALO MENGECEWAKAN DAN FAIL! OKE, FINEEEEE~ *ngeselin bgt nih author* SILAHKAN DINIKMATI!

Thanks buat support, semangat dan rikuesnya. Gue harap, kalian tidak bosan dengan karya gue. Maaf kalo mengecewakan. Saya hanya manusia yang kepincut abang Seijuurou. Itu aja.

Sip. Jikalau kalian mau memberikan kontribusi berupa review, fave, follow ataupun lainnya dipersilahkan. Untuk fic gue yg lain, sabar menunggu ya. Ngetiknya butuh waktu lama. Jaa nee.