xxXxx

Way For Love

Author:: Kim Jongmi.

Cast :: Kim Yesung, Cho Kyuhyun, and Other.

Pair:: Official Pairing.

Rate :: T.

Genre:: Family, Romance.

Warning :: Gender-switch, OOC, AU, and Typos. For story sake, Kyuhyun name will be Kim Kyuhyun. I'm sorry for the inconveniences.

Disclaimer :: This story is mine. Casts in here were their own. And casts in here I'm just borrow their name. So you easily imagine the story. Don't bash the casts. Last, Kim Jongwoon aka Yesung is MINE.

A/N: Punya lagu Super Junior KRY yang Dreaming Hero? Chapter ini butuh lagu itu. Recommended song! Meskipun ngga penting, tapi lagunya emang enak dan meaningnya oke. Segeralah download!

xxXxx

Chapter 2

xxXxx

"Coba aduk.."

Kyuhyun dengan patuh mengaduk bahan yang sudah dicampur kedalam wadah besar. Ryeowook beralih menyiapkan roll yang biasa digunakan untuk memipihkan bahan adonan dan beberapa chocochips untuk hiasan kuenya. Beserta krim yang mudah keras.

"Begini sudah belum?" Tanya Kyuhyun.

Ryeowook melirik adonan yang sudah selesai Kyuhyun aduk. "Eung, sudah. Letakkan diatas sini lalu pipihkan. Setelah pipih nanti baru bisa dibentuk dengan bentuk boneka yang–"

"Perlahan, Ryeowook-ah."

Ryeowook terkekeh mencubit pipi Kyuhyun dengan tangannya yang penuh terigu. Untung saja dengan terigu, bisa-bisa terlihat meronalah pipi Kyuhyun jika tidak tertutup terigu. Kyuhyun berpura-pura marah pada Ryeowook, sedangkan tangannya mengambil sejumlah terigu. Dengan jiwa nakalnya, Kyuhyun memeperkan semuanya ke pipi tirus Ryeowook. Beberapa diantaranya terjatuh kemantel Ryeowook.

"Ya! Rumahku itu jauh, Cho Kyuhyun!"

Cengiran Kyuhyun mau tak mau membuat wajah kesal Ryeowook luntur. Yeojya itu malah tertawa sambil menghapus jejak terigu dipipi serta mantelnya. Tidak mempermasalahkan keisengan Kyuhyun yang membuatnya sedikit kotor.

Kyuhyun melirik gerak-gerik Yesung yang baru saja memasuki dapur café untuk sekedar mengambil potongan kue terakhir yang baru saja matang. Setelah ini tidak akan ada pembuatan kue lagi. Jika kue habis, maka akan diletakkan tulisan sold out dikulkas penyimpanannya.

Namja berambut hitam agak keriting itu juga melirik Kyuhyun dengan wajah tanpa ekspresinya. Mencoba menyembunyikan apa yang dipikirkannya sehingga Kyuhyun tak akan mengetahui maksudnya memasuki dapur. Ia hanya ingin mengecek apa yang Kyuhyun dan Ryeowook lakukan.

"Setelah ini dipanggang!" Ryeowook tidak menyadari bahwa namja pucat disampingnya sedang tak fokus. "Kyuhyun-ah.. masukan!"

Namja pucat itu mengangguk canggung dan memasukan loyang kedalam oven. Setelah menutup ovennya, Kyuhyun mengatur suhu dan waktu pembakaran dari instruksi Ryeowook. Cukup memakan waktu, tigapuluh menit.

"Selagi menunggu, kau mau apa? Akan kubawakan untukmu.." Ujar Kyuhyun sambil mencuci tangannya yang kotor akan adonan.

"Bagaimana jika vanilla latte? Entah kenapa sejak pertama kali mencicipinya, aku selalu menyukai minuman itu."

Kyuhyun tersenyum manis, mencoba memberi kesan menawan pada Ryeowook. Namja itu mengelap tangannya pada celemek yang digunakannya. Keluar dapur dan mengambilkan pesanan Ryeowook tadi. Yeojya mungil itu mendesah. Malam ini akan menjadi malam yang panjang untuknya.

"Ryeowook-ah.."

Ryeowook menoleh. "Ah! Sungmin eonnie! Eonnie kenapa disini?"

Yeojya kelinci itu tersenyum manis pada Ryeowook. "Aku bekerja paruh waktu disini. Kau sendiri?"

"Oh, kerja paruh waktu. Aku mengajari Kyuhyun membuat kue jahe," Ryeowook terkekeh sambil menunjuk oven yang masih dalam proses mengolah kue buatan kedua bocah berumur 16 tahun itu. "Berhubung sebentar lagi Natal."

Sungmin menggumam kecil sambil mengangguk mengerti. Padahal sudah lama Ryeowook datang ke café, namun karena Sungmin sibuk didepan bersama Yesung makanya ia tidak menyadari kedatangan Ryeowook apalagi yeojya mungil itu sampai masuk ke dapur café.

"Kalau begitu kutinggal ya. Masih banyak yang harus kukerjakan.." Izin Sungmin.

"Eh? Ne, eonnie. Fighting!"

Sungmin membuat mengepalkan tangannya dan mengucapkan kata yang sama pada Ryeowook. Pas sekali ketika Sungmin pamit, Kyuhyun sudah kembali membawa dua cangkir putih dimasing-masing tangannya. Namja itu tersenyum kecil pada Sungmin yang berpapasan dengannya.

"Aku baru tahu ternyata Sungmin eonnie bekerja paruh waktu dicafemu." Ujar Ryeowook sambil menyesap vanilla latte yang dibawakan Kyuhyun.

"Baru-baru ini kok. Sudah sejak kita pertama kali masuk SMA, berarti ketika Sungmin noona awal kelas 2. Berarti baru dua bulan yang lalu."

Ryeowook mengangguk paham. Bosan, ia mengedarkan pandangannya keseluruh dapur café itu. Beberapa kali ia kaget karena koki café yang berteriak pada asistennya untuk membantunya. Maklum saja karena masih ramai diluar sana.

Pintu dapur terbuka. Yesung melangkah masuk sambil membawa tumpukan baki yang harus dilap karena kotor. Manik karamel Ryeowook memperhatikannya. Paras menawan Yesung begitu menarik, sama seperti Kyuhyun. Kedua kakak-beradik ini mungkin mempunyai feromon yang besar.

"Sudah matang!" Riang Kyuhyun.

Yesung menoleh pada Ryeowook dan Kyuhyun. Yeojya mungil itu masih tidak memperdulikan Kyuhyun yang sudah bersiap-siap mengeluarkan kue jahe yang sudah matang. Ia masih memusatkan pandangannya pada Yesung yang sudah berjalan keluar dapur.

Namja pucat itu merasa tidak digubris, ia menoleh pada Ryeowook. "Ryeowook-ah?"

"Eh? Ne.. ne sebentar."

xxXxx

Namja itu memarkirkan motor besar berwarna hitam digarasi rumahnya buru-buru. Desember semakin dingin saja jika sudah makin dekat dengan Natal. Tak ingin berlama-lama didinginnya salju, ia memasuki rumahnya yang tampak sepi. Biasanya ia mendengar jeritan nista Kyuhyun karena kelakuan sang appa. Berhubung namdongsaengnya itu bermulut iseng, jadilah ia sering dijitak atau dijewer Kangin.

"Aku pulang.."

Yesung melepas sepatunya dan memakai sandal rumahnya yang bergambar kura-kura itu. Telinganya yang masih normal itu bisa mendengar suara tv dari arah ruang tengah rumahnya. Bisa dipastikan sang appa masih menonton berita.

Namja itu mengintip ke ruang tengah. Benar, sang appa memang ada disana dan tv memang dinyalakan. Tetapi namja bertubuh tegap itu tidak sendiri melainkan bersama sang istri. Dipangkuannya. Berpelukan. Menyatukan bibir. Meraba.

"Ugh.." Dengus Yesung risih.

Yesung menggeleng-gelengkan kepalanya melihat adegan dewasa secara langsung dimainkan oleh kedua orangtuanya membuatnya jengah. Daripada menonton adegan dewasa itu lebih baik ia masuk kamar dan beristirahat hari ini. Besok ia harus datang lagi ke café.

Minggu depan sudah libur menjelang Natal dihari Sabtu. Bisa dipastikan café akan tutup selama Natal. Mulai dari hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Ia bisa bersantai dirumah bersama keluarganya. Keluarga kecil yang begitu hangat dikapteni oleh didikan tegas sang appa dan kelembutan sang umma.

"Ne, kue jahenya enak. Appa dan ummaku juga setuju kalau kue jahe buatanku enak," Kyuhyun tertawa. "Ne.. ne, kue jahe buatan kita."

Yesung berhenti sebelum melewati kamar Kyuhyun. Ia berdiri disamping pintu kamar Kyuhyun yang terbuka sedikit, sehingga ia bisa mendengar suara Kyuhyun yang sedang bicara ditelefon. Dan Yesung yakin Kyuhyun sedang bicara dengan yeojya mungil yang tadi datang ke café.

Kim Ryeowook.

"Kalau begitu Christmas Eve kita bertemu di Mouse Rabbit lagi untuk bertukar kado? Bagaimana?" Kyuhyun mencoret-coret sesuatu dikertasnya, senyumnya bahagia sekali. Yesung masih mengintip. "Keurae.. akan kutunggu. Annyeong.."

Mata bulan sabit itu memperhatikan gerak-gerik Kyuhyun yang dianggapnya aneh. Namja bersurai cokelat ikal itu masih terus tersenyum walaupun sudah tidak sedang menelefon lagi. Layaknya orang gila, pikir Yesung bingung.

Namja itu mengangkat bahunya acuh lalu kembali melangkah menuju kamarnya dan menutup pintunya. Jika kamar Kyuhyun didominasi warna biru, Yesung lebih suka warna kelabu. Dindingnya abu-abu sedangkan peralatannya hitam. Suram sekali..

Christmas Eve?

Bertukar kado..

"Jadi dia itu siapanya Kyuhyun?"

Yesung menatap cermin sambil tersenyum simpul. Senyum paling normal yang pernah Yesung coba seumur hidupnya. Entah sudah berapa lama ia tidak tersenyum normal dilingkungannya. Jika dihitung lebih detail, mungkin sepuluh tahun lamanya.

"Sebisa mungkin aku akan merelakannya. Lagi."

xxXxx

Leeteuk membuka matanya ketika seberkas cahaya menyusup masuk dari jendela kamar yang didominasi warna putih itu. Kedua tangan kurusnya beralih mengucek matanya dan menguap. Kangin masih tertidur pulas disampingnya. Mata bundarnya melirik jam diatas meja kecil samping tempat tidur, sudah hampir jam tujuh.

"Omo, sudah siang."

Yeojya dewasa dengan rambut pirang bergelombang itu berusaha duduk untuk melakukan aktifitasnya. Namun pinggangnya dan punggungnya begitu sakit ketika ia hendak duduk. Begitu nyerinya sampai ia harus menahan jeritannya dan kembali merebahkan tubuhnya.

"Ugh.. w-wae.. s-sakit sekali.. sshhh.. ahh.."

Menyerah.

"Kangin-ah, irreona."

Namja itu agak sulit dibangunkan. Sehingga Leeteuk mesti bersabar untuk menunggu Kangin benar-benar bangun dari tidurnya. Tak lama Kangin melirik Leeteuk. Namja itu agak panik melihat mata bundar cokelat almond persis Kyuhyun yang berada dihadapannya mulai berkaca-kaca.

"Waeyo, yeobo? K-kenapa menangis?"

Leeteuk menyibakkan selimutnya. "A-aku tidak bisa duduk. Pinggang dan punggungku sakit sekali sejak kemarin. Tapi sekarang makin sakit dan nyeri, Kangin-ah."

Dengan cemas Kangin langsung beralih duduk disamping Leeteuk. Membantu yeojya cantik itu untuk duduk ditempat tidur. Namun baru sedikit pergerakkan saja Leeteuk sudah berteriak kesakitan, maka itu Kangin tidak berani bertindak lebih jauh.

"Eottokhaeyo, Kangin-ah.." Parau Leeteuk.

Leeteuk mulai menangis ketakutan. Kangin duduk disamping tubuh yeojya yang sejak 8 tahun lamanya menjabat mejadi istrinya. Namja itu hanya bisa memeluk Leeteuk dan membiarkan yeojya cantik itu menangis didadanya. Tentu saja dengan posisi tidur menghadap masing-masing.

"Aku akan memanggil dokter. Yesung dan Kyuhyun–"

"Jangan sampai mereka tahu, Kangin-ah. Sembunyikan dari mereka tentang hal ini, terutama dari Yesungie. A-aku.. hiks.. tidak mau."

Kangin menghela nafasnya lelah.

"Aku akan menyembunyikannya dari mereka."

xxXxx

Kyuhyun sedang menyuap sarapannya yang hanya semangkuk sereal lengkap dengan susu yang menenggelamkan serealnya. Yang ia tahu, ummanya sedang sakit saat ini dan membutuhkan waktu istirahat yang cukup. Kyuhyun mengerti dan sudah cukup dewasa untuk tidak merengek minta dibuatkan sarapan bergizi.

Kangin sendiri belum mengkonsumsi apa-apa sejak bangun tidur. Ia langsung mandi dan menelefon dokter untuk segera datang kerumahnya. Untung karena biasanya mereka memang memanggil dokter pribadi kerumah, jadi tidak asing lagi jika dokter datang kerumah untuk memeriksa anggota keluarga mereka yang sakit.

Yesung baru saja keluar dari kamarnya. Menatap aneh Kyuhyun yang memakan sarapan sereal yang paling mudah dibuat. Matanya mencari-cari makanan lezat buatan sang umma dimeja makan, namun ia tidak menemukan apa-apa disana.

"Umma kemana?" Tanya Yesung.

"Sakit."

Khawatir, Yesung berjalan buru-buru menuju kamar orangtuanya didekat ruang tengah. Dengan mengetuk pintunya sekali duakali, Yesung langsung membukanya tanpa menunggu jawaban. Mata beriris hitam itu menatap ummanya yang masih merebahkan tubuhnya dibalik selimut.

"Yesungie? Sudah bangun dan rapi rupanya," Ujar Leeteuk dengan senyum angelic-nya. "Waeyo, aegya?"

Yesung langsung duduk disamping Kangin dan menatap ummanya takut. "Umma sakit? Sakit apa? Sudah menelefon dokter? Mananya yang sakit, umma?"

Yeojya dewasa yang tidak terlihat pucat itu mengelus pipi sang bocah berumur 18 tahun itu. "Umma hanya sakit biasa kok. Badan umma memang rentan, jadilah umma butuh istirahat. Tidak apa kan kalau umma tidak membuat sarapan hari ini?"

"Aku tidak peduli umma tidak membuat sarapan atau tidak. Aku hanya ingin umma sehat, itu saja. Umma harus menjaga kesehatan umma. Aku tidak mau umma sakit. Umma tidak boleh banyak bekerja. Apalagi sekarang menjelang Natal. Bagaimana kalau Natal umma malah sakit? Shirreo!"

"Yesung!" Tegur Kangin.

"Kangin-ah," Leeteuk memandang Kangin lemah, lalu menatap Yesung lagi.. "Umma akan sehat sebelum Natal. Kkeokjeongma, Yesungie. Yesungie juga lebih baik jangan memakai motor dulu selama Musim Dingin. Umma takut Yesungie kenapa-kenapa belum lagi udara sedang dingin. Ne?"

Yesung menghela nafasnya. "Tapi umma harus sembuh dan sehat."

Yeojya cantik itu mengangguk. "Ne, umma janji. Sekarang ppoppo umma dulu.."

Tiba-tiba wajah Yesung merona. Meskipun ummanya sendiri, tapi kebiasaan mencium memang bukan tipenya sekali. Lihat saja Kangin yang sudah tertawa geli melihat ekspresi wajah Yesung yang tadinya panik sekarang melemah.

Cup.

"Sudah!"

Yesung langsung berlari keluar kamar orangtuanya dan menutup pintunya dengan hentakan. Tidak sengaja, karena memang Yesung agak kuat menutup pintunya. Kangin hanya bisa tertawa geli melihat kelakuan anaknya. Anak sulung yang begitu pemalu.

Giliran Kangin yang mencium kening Leeteuk, tempat yang sama dimana Yesung mengecup Leeteuk barusan. "Bocah itu memang lemah terhadap yeojya."

"Sepertimu.."

Kangin mencibir ketika Leeteuk menyamainya dengan Yesung. Dengan gemas namja bertubuh besar itu mencium bibir Leeteuk dan melumatnya dalam. Sejenak melupakan tentang rasa sakitnya pahitnya kehidupan mereka selama ini.

xxXxx

"Setelah obat habis dalam dua hari, langsung cek kerumah sakit. Sepertinya ada yang salah dengan tulang belakang. Yang kukhawatirkan kau menderita kelainan sumsum tulang belakang," Ujar Shim uisanim. "Yang jelas coba sedikit-sedikit untuk duduk. Tidak perlu memaksa, perlahan saja."

Leeteuk mengangguk dan tersenyum simpul. Kangin mengantar dokter itu sampai keluar rumahnya dan kembali ke kamar lagi. Leeteuk sudah mulai menutup matanya akibat obat dan suntikan yang diberikan dokter yang barusan memeriksanya.

Bersyukurlah ia karena Leeteuk mulai tenang sekarang meskipun harus waspada. Seperti yang dikatakan dokter. Takutnya kelainan sumsum tulang belakang. Yang paling menakutkan itu kanker sumsum tulang belakang. Yang setahu Kangin belum ada obatnya. Kecupan kecil Kangin berikan dikening yeojya cantik itu.

"Saranghae.."

xxXxx

Yeojya manis dengan rambut pirang itu melirik kearah parkiran café. Sebuah mobil berwarna hitam diparkirkan dengan luwes disana meskipun memang agak ramai. Sungmin makin mengerutkan keningnya ketika pintu penumpang dibuka lebih dahulu dari pintu pengemudi.

Memang itu mobil Kyuhyun yang baru saja diparkirkan. Namun yang keluar dari kursi penumpang adalah Kyuhyun. Dan Sungmin tahu benar, Kyuhyun itu selalu berhati-hati dan cenderung gugup untuk memarkirkan mobilnya ditempat sempit.

Setelah pintu pengemudi dibuka dan terlihat siapa yang mengendarai, Sungmin mengangguk kecil. Seharusnya ia tahu kalau yang mengemudi tadi itu Yesung. Namja yang lebih dewasa dibanding Kyuhyun itu memang lebih mahir.

"Kya! Yesungie oppa dan Kyuhyunie datang bersama!"

"Padahal aku ingin lihat Yesungie oppa memakai motornya. Dia terlihat gagah!"

"Auh.. aku mau dong digagahi Yesungie oppa."

"YEI! Dasar yadong!"

Sungmin sweatdrop mendengar ocehan-ocehan tidak penting dari beberapa sasaeng Yesung dan Kyuhyun yang sudah menempati kursi didepan kasir sejak satu jam lalu. Para sasaeng pasti tau kapan pastinya kedua namja menawan itu datang ke café untuk bekerja paruh waktu.

Kyuhyun yang lebih dulu masuk ke café langsung mengambil celemek café yang berwarna merah marun itu. Dengan pakaian kasual Musim Dingin, mantel cokelat serta kemeja denim lengkap dengan celana jeans hitam dan sepatu berbahan blue jeans. Kyuhyun mampu membuat Sungmin sejenak memperhatikannya.

"Kami datang~" Ujar Kyuhyun riang. "Sungmin noona boleh pulang sekarang kalau noona mau."

Yeojya itu menggeleng. "Aku masih bisa disini kok. Lagipula Leeteuk ahjumma juga belum bisa datang kan? Sedang banyak pelanggan, aku tidak mungkin pulang sekarang."

Namja bersurai hitam itu ikutan mendekati Sungmin, tapi tidak berniat ikut nimbrung dalam obrolan Kyuhyun dan Sungmin. Yesung hari ini memakai mantel hitam, topi hitam, kaus merah bergambar, celana jeans hitam, dan sepatu converse berwarna merah. Sekali lagi, Yesung terlihat suram meskipun dengan warna merah cerah yang dipadukan dengan warna hitam khas dirinya.

"Tapi bukannya Sungmin noona sudah masuk dari pagi? Noona kan hanya paruh waktu, jangan mau disamakan dengan pegawai yang lain. Sudah istirahat saja.." Bujuk Kyuhyun lagi.

"Kyuhyun-ah."

Kyuhyun dan Sungmin –entah kenapa yeojya itu ikut menoleh ketika Yesung memanggil Kyuhyun. Namja yang memakai topi itu menghela nafasnya. "Aku lelah mendengarmu berdebat dengan Sungmin. Kalau dia masih ingin bekerja lalu kenapa? Toh umma akan menghitungnya sebagai lembur."

"Ta-tapi aku bukan ingin lembur, Yesung oppa. Sungguh aku–"

"Tetap saja hitungannya kau lembur jika kau bekerja lebih lama daripada jam kerja yang seharusnya. Aku tidak mau membuatmu rugi meskipun kau tidak merasa rugi sekalipun," Ujar Yesung tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor kasir. "Kembalilah bekerja jika kau ingin, Sungmin-ah."

Yeojya manis itu mengerjapkan matanya beberapa kali, bingung. Lalu ia merunduk dan memasuki dapur dengan langkah canggung. Kyuhyun yang daritadi diam sekarang menahan amarahnya untuk tidak memukuli Yesung saat ini juga.

"Bisa-bisanya kau memarahinya. Didepanku terlebih?"

Yesung menoleh pada Kyuhyun, memandang namja yang lebih muda itu dengan tatapan angkuh. "Aku tidak memarahinya. Aku hanya mengatakan apa yang ingin kukatakan."

Namja bermata cokelat almond itu tertawa sarkastik. "Apa kau tak tahu kalau yang kau katakan itu cukup kasar? Oh aku lupa kau tidak punya hati."

Yesung ikut tertawa, miris. "Tahu apa kau tentangku."

"Kau itu hanya bocah berumur 10 tahun yang tidak punya hati. Kalaupun kau punya, mungkin sudah usang karena terlalu lama tidak digunakan. Mungkin juga membeku. Kau bahkan tak tahu apa-apa tentang yeojya, bagaimana perasaan mereka. Kau hanya mempedulikan dirimu sendiri."

Kyuhyun mendecih kencang sehingga Yesung bisa mendengarnya. Namja muda itu berbalik dan meninggalkan tempat kejadian perkara. Sedangkan Yesung menunduk dalam, menatap sedih sepatu merahnya yang dipilihkan oleh Leeteuk. Yesung ingat apa yang Leeteuk katakan ketika ia memberi Yesung sepatu itu ditoko.

Pakailah warna agak terang. Padukan dengan pakaianmu yang kebanyakan berwarna hitam itu. Umma yakin sekali Yesungie pasti tampan jika memakai pakaian agak cerah. Ne?

Namja itu membuka kembali celemek café yang dipakainya lalu ditaruh ditempatnya. Tangannya merogoh saku mantelnya, mengeluarkan kunci mobil Kyuhyun dan menaruhnya dimana Kyuhyun menyimpan barangnya. Yesung memakai tudung mantelnya dan keluar café setelah menitipkan kasir pada pegawai lain disana.

xxXxx

Hari ini Kyuhyun tidak bersemangat menjaga mesin kasir. Melayani pelanggan saja rasanya malas untuk sekedar beramah tamah. Beberapa sasaeng fansnya juga tidak kalah khawatir apalagi semenjak Yesung keluar dari café tadi sore.

Suasana makin keruh tanpa senyuman Kyuhyun.

Yang biasanya menjadi hiburan ketika Yesung sama sekali tidak tersenyum itu hanya senyuman Kyuhyun. Terlebih aneh lagi, fans Yesung justru makin mencintai Yesung dan menghitung kapan saja namja dingin itu tersenyum. Terhitung, Yesung baru dua kali tersenyum dicafe.

Pertama, Yesung tersenyum ramah itupun tipis pada yeojya yang merupakan pendatang dari Canada. Susah payah Yesung bicara dengannya dengan Bahasa Inggris seadanya karena memang ia tidak begitu lancar dan bisa berbahasa asing. Kecuali satu, Bahasa Alien. Ya, Yesung mahir sekali.

Kedua, ketika pelanggannya adalah namja kecil yang masih berumur lima tahunan. Kali ini senyum Yesung lebih tulus karena ia terhibur dengan celotehan polos khas anak kecil. Bahkan Yesung kelihatan senang sekali melayaninya.

Bagi fans Yesung, itulah moment paling bahagia milik mereka.

"Ugh.. padahal kalau tidak ada Yesung oppa, kita masih bisa melihat senyuman Kyuhyun oppa. Tapi kenapa keduanya tak ada senyum sama sekali?!"

Sungmin menepuk pundak Kyuhyun. Namja itu menoleh malas, ia tidak ada niatan untuk bekerja saat ini. Inginnya hanya berduaan dengan PSP cantik kebanggaannya. Hanya saja ia lupa membawanya, makanya ia hanya bisa diam aneh.

"Senyum. Fansmu rindu senyumanmu, tahu.." Goda Sungmin.

"Fansku atau noona yang rindu senyumanku?"

Sungmin mencibir. "Aku bukan fansmu, Kim Kyuhyun. Lihat saja mood café yang tidak enak sekarang. Lebih baik layani pelanggan dan tersenyum. Ne?"

Yeojya manis itu mengepalkan tangannya dan mengucapkan kata 'fighting' pada Kyuhyun. Dengan santainya ia kembali ke dapur untuk mengambil makanan lainnya yang dibutuhkan. Kyuhyun merasa Sungmin benar, maka itu ia berdiri dan berniat mengambil alih kasir lagi.

Dengan senyumnya, ia berkata.

"Selamat datang di Mouse Rabbit. Mau pesan apa?"

xxXxx

Entah sudah berapa lama ia berjalan kaki menuju arah yang tak tentu. Meskipun tak tentu, bukan berarti ia kebingungan. Ia hanya ingin berputar-putar diwilayah perumahan dengan bangunan tempo dulu. Masih dengan tudung kepala yang sengaja ia pakai.

Menutupi wajahnya memerah habis menangis.

Bukan, Yesung bukan namja cengeng. Yesung bahkan lupa kapan terakhir ia menangis dalam diam begini. Mungkin delapan tahun yang lalu? Atau mungkin juga empat tahun yang lalu. Masa bodoh, Yesung tidak mau mengingat-ingat lagi.

Matanya yang sembap melihat sebuah taman kecil dengan mainan khas anak kecil yang diselimuti salju. Dengan senyum kecil, ia melangkahkan kakinya memasuki wilayah taman bermain itu. Ia mendudukan dirinya disebuah bangku taman.

Cukup lelah.

"Bogoshipeoseo, umma.."

"Ya! Pelan-pelan nanti kalian terpeleset!"

Yesung menghela nafasnya. Dikiranya disini adalah tempat terbaik untuk berdiam diri, memikirkan kehidupan. Tapi suara cempreng khas yeojya malah terdengar mengganggu telinganya. Namja itu mendongak dan mencari siapa yang bicara melengking begitu.

Yeojya dengan baju hangat dan sepatu boot cokelat. Rambutnya dikuncir kuda dan memakai pelindung telinga karena mantelnya tidak mempunyai tudung kepala. Masing-masing tangannya menggandeng dua namja dan dua yeojya yang mungkin berumur 5-6 tahunan. Semuanya ada empat.

"Kalian ini! Kalau terjatuh aku tidak mau menggendong, ya! Kalian itu sudah besar dan berat! Berhati-hatilah," Kalimat terakhirnya menggunakan nada lembut. "Arraseo?"

"Ne, noona/eonnie.."

Kim Ryeowook yang barusan berkacak pinggang langsung menurunkan tangannya ketika bocah-bocah itu kembali bermain. Bosan, ia melirik bangku taman yang menjadi tempat biasa ia duduk menunggu bocah-bocah itu sampai selesai bermain. Mata cokelat karamel itu mendelik.

"Yesung sunbae?"

Baru saja yeojya itu akan melangkah mendekat, namun tiba-tiba ia membeku. Mata Yesung terlihat sembap, tapi apa itu yang ada diwajahnya? Apa Ryeowook tidak salah lihat? Sejak kapan Yesung bisa tersenyum setulus dan se –tampan itu?

"Semuanya.. adikmu?"

"Eh?" Yeojya itu baru sadar setelah tersedot kedalam dunia impiannya. "Mereka semua sepupuku."

Yesung mengangguk mengerti. "Kau tak ingin duduk?"

Canggung, Ryeowook mendekat dan duduk disamping kanan Yesung. Jaraknya cukup jauh sehingga Ryeowook hanya bisa menatap kearah lain. Ia tidak mau dirinya malu karena Yesung berhasil mendengar deru jantungnya yang tak karuan. Sudah cukup juga senyum Yesung yang barusan.

"Kemarin kau ke café.. untuk apa?" Tanya Yesung, berpura-pura tak tahu.

Ryeowook tersenyum kecil padanya. "Mengajari Kyuhyun membuat kue jahe untuk Natal. Memangnya Yesung sunbae tidak mencoba kue buatan Kyuhyun dirumah?"

Namja itu menggeleng. "Belum, belum sempat sepertinya. Kau bisa membuatnya? Berarti kau pintar memasak juga?"

"A-ah? Ye, aku bisa memasak meskipun sedikit-sedikit." Ryeowook menggaruk leher bagian belakangnya malu-malu.

"Daebak."

Ryeowook melirik kanan-kirinya makin canggung. Satu kata pujian Yesung membuatnya agak semakin canggung untuk sekedar duduk disana. Bukan karena ia tidak suka dipuji, tapi nada Yesung yang begitu datar saat memujinya. Bukankah seharusnya Yesung memakai nada yang lebih agak heboh?

"Sunbae.. mianhaeyo, sebelum aku bertanya. Apa.. sunbae sedang ada masalah? Yesung sunbae terlihat seperti sedang memikul banyak beban," Tanya Ryeowook pelan-pelan, takut menyinggung. "B-bukan bermaksud lancang, tapi aku hanya bertanya. Kalau Yesung sunbae tidak mau menjawab tak apa kok–"

"Terlalu terlihat ya?" Potong Yesung.

"Eh?"

Yesung menatap Ryeowook dengan senyum simpulnya. "Apa aku terlalu mencolok kelihatan seperti mempunyai banyak masalah? Terlalu mencolok ya? Atau memang yeojya memiliki feeling yang terlalu kuat?"

Yeojya mungil itu terkekeh. "Kujawab semuanya dengan kata 'ya', bagaimana? Jadi benar?"

"Kalaupun kubilang, kau tidak akan mampu membuat masalahnya hilang."

"Aku bisa membantu Yesung sunbae untuk menyicil satu persatu masalah sunbae," Ujar Ryeowook semangat. Kelewat semangat malah. "Oh biarkan saja aku di-cap 'terlalu ingin tahu' dimata Yesung sunbae, tapi aku benar-benar ingin membantu."

Yesung memandang Ryeowook lama. Tidak berniat untuk mencari kebohongan, hanya ingin menikmati saja pahatan Tuhan yang begitu manis. Mungkin Tuhan menciptakan Ryeowook dengan tetesan gula yang terlalu berlebihan. Akhirnya Yesungpun tak bisa lari dari pesonanya.

Belum lagi Yesung mengagumi sifat kelewat ceria dari sang yeojya mungil ini. Seolah Ryeowook hidup tanpa beban, tidak seperti dirinya. Yesung mengerutkan keningnya, otaknya memutar sebuah kutipan tokoh dari sebuah buku yang pernah ia baca.

Cinta –aku tidak cukup mengenalnya. Yang jelas, cinta berawal dari sebuah kekaguman. Bersiaplah untuk jatuh lebih dalam akan cinta jika kau tidak berniat berhenti mengaguminya.

Haruskah Yesung berhenti?

"Aku hanya lelah. Untuk masalah selanjutnya, kau akan tahu suatu saat nanti." Jawab Yesung sambil terus tersenyum.

Ryeowook menjentikkan jarinya. "Aku punya obat mujarab untuk masalah lelah. Tunggu sebentar.."

Yeojya itu merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan sebuah kabel kecil berwarna ungu yang ujungnya dicolokkan ke sebuah ponsel berwarna putih dengan case berwarna ungu juga. Yesung mempelajari satu hal secara otodidak dan analogis. Ryeowook menyukai warna campuran merah dan biru itu.

"Ini satu untuk sunbae, satu untukku," Ucap Ryeowook selagi membagikan satu ear-phone untuk Yesung dan dirinya juga memakai satu ditelinga kirinya. Tangannya sibuk mencari lagu diponselnya. "Ini adalah lagu yang selalu sukses membuatku kembali tersenyum."

Perlahan musik piano lembut mengalun.

Naega eodil hyanghae gago inneunji
Aku tak tau kemana harus ku pergi dari sini?

Mueol wihaeseo saneungeonji
Atau untuk apa ku hidup lagi

Gireul ilheun chae na honja babo cheoreom
Seperti orang bodoh tenggelam dalam jalan sendiri

Hemaeon jinan nal
Suatu hari aku mengembara

Ganghancheok gwaenchanheuncheok utgo isseodo
Tertawa seolah semua baik-baik saja

Gaseumeul eonjena theong bin samak
Hatiku seperti padang pasir yang kosong

Sesangdo saramdo mitji anhasseotji
Bahkan dunia, orang-orang tak mempercayaiku

Gipheun sangcheo ttaemune
Karena luka yang dalam

Naneun nae salmui hieoro
Aku pahlawan dalam hidupku

Dasi hanbeon ireoseolkkeoya
Aku akan bangkit sekali lagi

Boseok cheoreom bitnaneun kkumdeuri nareul bulleo
Bersinar seperti permata dalam mimpi, panggil aku

Naneun kkumkkuneun hieoro
Aku pahlawan yang bermimpi

Jeo kkeutkkaji dallyeogalkeoya
Aku akan berjalan hingga akhir

Ijen duryeopji anha nae yeophe ireohke niga isseunikka
Sekarang aku tak takut jika kau berada di sisiku seperti ini

Jasinui garyeoisseul geojit sogeseo
Percaya diri tidak lain adalah suatu kebohongan

Amudo moreuneun naui sangcheo
Tak ada yang tau dengan lukaku

Geureohke maeumeul dadeunchae sarasseo
Sehingga aku hidup dengan menutupnya

Motnan geopjangi cheoreom
Hidup seperti pengecut

Naneun nae salmui hieoro
Aku pahlawan dalam hidupku

Dasi hanbeon ireoseolkkeoya
Aku akan bangkit sekali lagi

Boseok cheoreom bitnaneun kkumdeuri nareul bulleo
Bersinar seperti permata dalam mimpi, panggil aku

Naneun kkumkkuneun hieoro
Aku pahlawan yang bermimpi

Jeo kkeutkkaji dallyeogalkeoya
Aku akan berjalan hingga akhir

Ijen duryeopji anha nae yeophe ireohke niga isseunikka
Sekarang aku tak takut jika kau berada di sisiku seperti ini

Neoui ttaseuhan maeume naui modeun seulpheum nokdeusi
Semua kesedihan yang kudapatkan darimu yang meninggalkan hati berkarat

Naega neoui apheum amulke haejulkke
Aku akan menyembuhkan rasa sakitmu

Naneun naeirui hieoro
Aku adalah pahlawan untuk besok

Dasi hanbeon himeul naelkkeoya
Sekali lagi kesulitan akan memenuhi

Haessal cheoreom nunbusin hwimangi nareul bichweo
Harapan yang menyilaukan seperti matahari, bersinar padaku

Naneun kkumkkuneun hieoro
Aku seorang pahlawan bermimpi

Heomhan sesang igyeonaelkkeoya
Bertahan di dunia yang keras

Geurae hal su inneungeol eonjena ireohke
Ya aku bisa melakukannya, selamanya seperti ini

Neowa hamkke ramyeon
Jika bersama denganmu

Ryeowook melirik Yesung yang masih menutup matanya. Sejak tadi namja itu menutup matanya selagi mendengarkan lagu yang diputar Ryeowook diponsel ber-case ungu itu. Setelah lagu Ryeowook matikan, namja itu baru membuka matanya.

"Gomawo, Ryeowook-ah." Yesung menepuk puncak kepala Ryeowook.

Dimana tempat berpijakmu, Kim Ryeowook? Apakah kau melayang saat ini? Tanganmu terlalu erat memegang ujung bangku taman yang lembap itu. Sentuhan tangan dingin Yesung akibat suhu disini tidak cocok dengan wajah Ryeowook yang makin menghangat.

"Aku.. teman sunbae sekarang?"

Yesung tersenyum lagi dan mengangguk kecil. "Tentu saja. Kau boleh memanggilku 'oppa' jika kau mau."

Kode dari Yesung masih bergerak lambat ke otak Ryeowook. Seolah pending, Ryeowook hanya bisa tersenyum malu sambil mengangguk. Namun Ryeowook mengerti sopan-santun, ia tidak akan memanggil Yesung dengan sebutan 'oppa' disekolah. Bisa digosipkan pacaran mereka.

"Gomawo.."

xxXxx

"Kyuhyunie.."

Namja berambut ikal itu mendengus kesal. Leeteuk menelefonnya untuk menanyakan kenapa Yesung pulang terlebih dahulu dan berjalan kaki. Yeojya selaku umma dari kedua namja menawan itu mempunyai perasaan kuat, jadilah ia menelefon Kyuhyun untuk memastikan.

"Mollaseoyo, umma."

Terdengar suara desahan lelah Leeteuk dari ujung telefon. "Kalian berdua.. kenapa tidak pernah saling terbuka satu sama lain? Kenapa tidak bisa berdamai? Kenapa tidak bisa jujur sedikit saja pada umma? Umma.. kecewa."

Namja muda itu hanya diam. Terduduk kaku diatas ember besar penyimpanan bahan mentah dessert yang disediakan dicafe. Dapur café sudah lenggang, karena sekarang sudah cukup malam untuk menutup café. Sementara tinggal ia dan beberapa pegawai yang masih membereskan café.

"Tidak bisakah kalian sedikit membuka hati? Demi umma?"

Tidak berniat menjawab yeojya yang sudah melahirkannya itu, Kyuhyun masih bungkam. Ia hanya ingin menyelesaikan pembicaraannya dengan Leeteuk. Kyuhyun juga tidak mau membahas hal ini lagi. Toh dia senang karena hidupnya terasa lebih baik sekarang.

"Kalau demi ummapun tidak bisa, tak apa. Pulanglah, Kyunie. Saranghae?"

"Ne, umma. Nado saranghaeyo.."

Kyuhyun membiarkan Leeteuk menutup telefonnya terlebih dahulu dibanding dirinya. Meskipun Kyuhyun sudah kesal, dia masih mengerti sopan santun terhadap ummanya sendiri. Setelah Leeteuk mematikannya, barulah Kyuhyun mendecih.

"Kyuhyun-ah! Kami pulang duluan!"

Namja bermata cokelat almond itu mendongak dan mengangguk sambil tersenyum kecil. Menyembunyikan perasaan kesalnya saat ini pada pegawai-pegawai dicafe. Tinggal Sungmin, satu-satunya yeojya yang dipercaya Leeteuk membawa kunci cadangan.

Yeojya itu berjalan mendekat. "Aku sudah ingin pulang, Kyuhyun-ah. Kau ingin menutup cafenya nanti atau sekarang?"

"Sekarang saja."

Kyuhyun beranjak berdiri dan mengambil mantel tebalnya. Menyambar kunci mobil dan melangkah keluar dari café. Sejenak otaknya berpikir sekarang sudah cukup malam. Mata cokelat almond itu kembali melirik kebelakang, yeojya manis itu sedang mengunci pintu café.

"Noona pulang naik apa?" Tanya Kyuhyun.

"Jalan kaki. Wae?"

"Pulang bersamaku saja."

Sungmin menoleh bingung. Kyuhyun jarang mengajaknya pulang bersama, apalagi jika ada Yesung atau Leeteuk. Ia tipikal namja yang akan mengantar dan menjemput yeojya jika diminta saja. Bukannya menawarkan seperti ini, pikir Sungmin.

"Tumben sekali, waeyo? Kau sedang ada masalah ya?"

Kyuhyun mendengus. "Semua gara-gara si suram Yesung! Kuharap ia mati saja."

Mata kelinci itu membulat lalu ia memakai tangannya untuk memukul lengan Kyuhyun. "Ya! Sekalipun kau membencinya, ia tetap hyungmu. Meskipun dia bukan–"

"Geumanhaeyo, noona."

Kalimat Sungmin tertelan kembali kedalam kerongkongannya. Kyuhyun menghela nafasnya dan membuka kunci mobilnya. Namja itu melirik Sungmin dengan senyum tipisnya. Tetap mencoba untuk tidak mengatakan hal yang bisa membuat yeojya itu sedih.

"Semakin malam semakin dingin. Jangan sampai sakit karena Musim Dingin seperti ini," Ujar Kyuhyun dengan senyuman menawannya. "Kajja."

Inilah yang menjadi pertimbangan nomor satu Sungmin jika membandingkan Yesung dan Kyuhyun. Titik kelebihan Kyuhyun adalah meredam amarahnya dengan cara tersenyum dan bicara lembut. Hal yang belum pernah Yesung lakukan setahu Sungmin.

"Kajja.."

xxXxx

Way For Love

-To Be Continue-

Agak rancu.

Karena udah lama ngga ngetik dan udah lama ngga ngepost, jadi agak kaku. mungkin ini post paling ngga banget diantara yang lainnya. Berbelit-belit gasih? Kelamaan ya alurnya? Gyah.. padahal author gasuka cerita yang lama gini. Tapi mau gimana lagi.

Udah keliatan kan gimana ceritanya? Huehehe maaf kalo ceritanya pasaran dan ngga menarik. Mianhaeyo, masih kaku karena kelamaan ditinggal ngga ngetik ff lagi. Okesip gausah banyak curhat, sekarang thanks to sama Q&A.

Thanks to: meidi96, Kim Anna, jongwookie, Heldamagnae, choYeonRin, bluerose, niisaa9, kyutmin, guest, EternalClouds2421, cartwightelfsuju . shawolshinee, 77clouds, Yulia CloudSomnia, PurpleAddict, R'Rin4869, yoon HyunWoon, dyahYWS, ndah951231, Rochan, YeHaeyeojya1, Ikke R. Wook, RinriChoi, and langitmerah31.

Duh karena kebodohan author jadi begini kan. Terimakasih banyak untuk reviewnya, support, dan pujiannya. Author babo namun kece ini sangat tersipu membacanya hahaha. Apalagi doa kalian yang menyebutkan supaya saya lulus UN, astaga. Terimakasih banyaakkk! Okedeh lanjut Q&A~

Q: Wook jadi rebutan? Iyadong hahaha favorite uke saya harus jadi rebutan namja tampan.

Q: Ming sama siapa? Siapa yang mau sama Ming coba angkat tangan~ *liat Kyu ikut angkat tangan*

Q: Cinta segitiga? Ne, ditambah Sungmin. Triangle love + Sungmin tapi, bukan berempat. Alesannya karena lebih fokus YewooKyu dibanding ditambah Ming karena dia netral.

Q: Yewook? Kyuwook? Official Pairing. You know what I mean hehehe.

Q: Kenapa baru muncul lagi thor? Eh? Author hiatus UN kemarin hehehe sekarang UN sudah selesai dan kembali menulis ff mengisi waktu menjadi pengangguran.

Q: Yesung Kyuhyun saudara kandung bukan? Waduh, saya belum pernah nanya sama Yesungie oppa tentang itu. Gimana kalo saya tanya dulu? Mereka sodaraan kandung atau gimana, oke?

Banyak yang nanya tentang pertanyaan terakhir. Jadi saya jawabnya gitu aja, no comment dulu. Dengan kaya gini aja kalian bisa menyimpulkan jawabannya haha. Mungkin chapter depan akan saya buka inti ceritanya. Anggep aja semuanya prolog *panjang bener prolognye*

Oke.. saya siap nerima flame/bash. Apalagi kalo diliat-liat ini chapter paling aneh dari semua ff yang pernah saya buat selain Eye Kingdom. Okesip, gamsahamnidaaa! m(_ _)m