Disclaimer: ATLUS
Warning: OC berpotensi (besar) mary-sue, (berusaha) mengikuti alur Persona Trinity Soul dengan berbagai (banyak) perubahan, (sangat) butuh review. Terinspirasi dari lagu 'Here We Are' milik Ken Zhu.
WARNING (lagi): Sebelum membaca fict ini, mungkin ada baiknya untuk membaca 'Wonderful Journey' dan 'Breakaway' yang merupakan seri pertama dan kedua dari trilogi ini, agar tidak bingung saat membaca fict 'Here We Are' ini.
.
.
"Here We Are, It's Not a Perfect World."
~Chapter 2~
.
.
Di kediaman Kayano, luka Jun segera diobati dan ditutupi perban. Matahari perlahan tenggelam ke arah barat, menandakan hari menjelang malam. Seharian Shin bersama teman-temannya menghadapi persoalan mengenai Marebito secara langsung dan tidak langsung. Hari terasa panjang sekali saat ini. Dari segenap banyak kejadian yang dialami pemuda itu, agak sulit dipercaya bahwa daritadi belumlah berganti hari –masih di hari yang sama.
Ruuki baru sampai di kota Ayanagi menjelang siang tadi. Padahal ia belum disana selama duabelas jam, tetapi rasanya sudah lama sekali gadis itu berada disana.
Kelelahan, Takurou dan Shin tidur untuk memulihkan tenaga mereka di kamar Jun. Sedangkan Megumi ada di kamar yang lain bersama Kanaru. Toru ada di kamar yang sama dengan Jun. Sedangkan Ruuki juga tetap di kamar pemuda itu karena ia masih ingin merawat anak yang terluka itu.
Sembari menunggu Akihiko datang ke rumah itu, Ruuki merawat Jun sambil mengobrol sedikit-sedikit dengan Toru. Sampai suatu ketika Toru merasa kepanasan karena mengenakan pakaian berlapis-lapis: kaos lengan panjang, sweater, jaket. Pemuda itu akhirnya membuka jaketnya sendiri. Lalu Ruuki melihat sebuah pistol ada di saku dalam jaket tersebut.
"Kalau kau bawa pistol, kenapa tadi kau tidak menembak Marebito dengan pistol itu?" tanya Ruuki sambil mengerutkan keningnya.
"Aaaahh, ini bukan pistol biasa. Aku selalu membawa-bawa ini sebagai jimat keberuntungan," jawab Toru tersenyum penuh arti pada perempuan yang lebih tua darinya.
Ruuki mengangguk pelan tanda mengerti, dan tidak berniat untuk menanyakan hal lebih lanjut. Oke, cuek dan rasa ketidak-ingin-tahuannya itu muncul lagi setelah sekian lama.
Tetapi gadis itu merasakan ada yang ganjal pada Inui Toru ini. Bukan, Ruuki tidak berpikir bahwa kalimat yang dikatakan Toru barusan itu aneh –kalimat itu tidak asing ditelinga Ruuki. Sikap pemuda itu juga mengingatkan Ruuki akan sesosok anak laki-laki yang ia pernah kenal, tetapi gadis itu tidak bisa mengingat siapa orang yang dimaksud.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka, dan sosok Akihiko terlihat disana. Sepertinya ia mengendarai mobilnya dari kantor polisi ke rumah itu sambil mengebut. Jelas saja, Ruuki membutuhkan waktu tiga jam lebih untuk mengendarai sampai rumah ini, sedangkan Akihiko yang tadi berada di pusat kota hanya membutuhkan waktu dua jam.
Lalu Akihiko mengajak Toru keluar dari kamar, mengatakan bahwa ia harus membicarakan sesuatu berdua saja dengan pemuda itu mengenai Marebito. Keduanya pun keluar dari kamar, dan Ruuki yang tetap tinggal di kamar tidak bisa mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
.
.
Kurang lebih seminggu telah berlalu sejak Ruuki menyusul tunangannya, Sanada Akihiko, ke kota Ayanagi. Kasus mengenai Marebito masih belum usai, tetapi Shin berniat unuk menyelesaikannya hari ini –berhubung luka di tubuh adiknya sudah membaik.
Takurou yang beberapa hari yang lalu punggungnya terluka sampai dirawat di rumah sakit pun juga sudah berani nekad menemani sohibnya ke medan perang, bersama dengan Megumi.
Hal yang paling menyesakkan adalah ketika Shin dan teman-temannya mengetahui fakta bahwa Kanaru bukanlah manusia yang sama seperti mereka. Kanaru ternyata adalah 'manusia' buatan Komatsubara Keisuke, yang sekarang memakai nama Kujo Mareya. Kujo sendiri adalah orang yang bekerja di balik layar sekaligus pemimpin dari Marebito.
Tekad Shin sudah semakin bulat, ia benar-benar ingin menyelesaikan pertarungannya hari ini juga. Jadilah pemuda warga SMA Naginomori itu mengejar Komatsubara alias Kujo, untuk melampiaskan dendamnya akan 'hilangnya' kakak satu-satunya, Kanzato Ryou.
Akihiko mengikuti Shin. Sedangkan Ruuki berniat menyusul pria itu bersama Toru dengan mobil masing-masing. Begitu gadis itu sampai disana, pemandangan menyebalkan dimana Shin telah kelelahan menghadapi lawannya mengingatkan Ruuki akan kondisi Minato dan Souji saat menghadapi misi mereka masing-masing bertahun-tahun lalu. Oke, dia merasa seakan de javu sendiri melihat pemandangan yang dibuat oleh Shin dan Komatsubara ini.
Sampai suatu titik tertentu, Shin bahkan sudah tidak bisa kuat berdiri lagi. Takurou, Megumi, dan Jun juga tidak mampu menghadapi Komatsubara. Akihiko tidak bisa berbuat apa-apa –jelas saja, karena persona hanya bisa dikalahkan oleh persona, sedangkan Akihiko sudah bukan pengguna persona lagi.
Kejadian ini berlangsung di area pantai, saat sore hari, menjelang malam. Harusnya udara pantai terasa dingin karena matahari sedang beranjak tenggelam. Tetapi hawa dingin itu kalah oleh panasny pertarungan disana.
Ruuki segera berlari masuk ke dalam 'medan perang', dan membantu Shin berdiri lagi.
"Shin, aku akan membantumu," ujar Ruuki sambil tersenyum.
"Eh?" gumam Shin.
"Nymph!" seru Ruuki.
Pada akhirnya perempuan berambut biru itu mengeluarkan personanya –persona yang tidak pernah ia panggil keluar sejak delapan tahun yang lalu. Dengan pedang panjang yang dibawa Nymph, si persona menusuk keras Komatsubara.
Melihat si lawan semakin melemah karena mendapat serangan lainnya dari persona Ruuki, Shin memanggil lagi personanya untuk menghabisi pria itu.
"Shin, biar aku yang mengakhiri pertarungan ini," ujar Ruuki.
"Tapi aku -!" sergah pemuda itu.
"Ini adalah hari terakhirku bisa memanggil persona. Ini adalah perpisahan antara aku dan persona milikku," kata Ruuki sambil tersenyum, lalu ia menyerang lawannya lagi dengan persona yang lain, "Doomed Eyes! Mudoon!"
Ketika serangan Doomed Eyes mengenai Komatsubara, angin kencang datang ke arah mereka dan berputar seperti tornado. Angin kencang itu membuat Ruuki tidak bisa melihat apa pun di dekatnya, tidak bisa melihat Shin, Komatsubara sendiri, Jun, Takurou, Megumi, Akihiko, dan Toru.
Angin perlahan reda, tetapi Ruuki merasa ia sudah tidak ada di pantai lagi. Angin yang berpilin memutar tadi seakan membawanya ke tempat lain –suatu tempat yang bahkan ia sendiri tidak bisa mendeskripsikannya. Lalu ia melihat sesosok anak laki-laki yang tidak asinguntuknya –anak itu mengenakan baju bergaris hitam-putih seperti tahanan penjara. Anak laki-laki itu adalah Pharos, yang tidak pernah mendatangi Ruuki lagi sejak hari terakhir gadis itu di Inaba delapan tahun yang lalu.
"Halo Ruuki-chan, sepertinya kita bertemu lagi," ujar Pharos tersenyum.
"Pharos..." gumam Ruuki. "Kenapa kau ada disini?"
"Aku selalu ada bersamamu dan dia, ingat?" kata anak itu. "Kali ini aku datang untuk menyampaikan...perpisahan."
"Perpisahan?"
"Ya," jawab Pharos sambil menganggukkan kepalanya. "Besok kau akan berumur 25 tahun, bukan? Maka ini adalah pertemuan terakhir kita."
"Besok...aku akan sama seperti Akihiko-san?"
"Mm-hm, mulai hari besok, kau akan menjalani hidupmu layaknya orang normal –orang yang tidak memiliki kekuatan khusus sebagai pengguna persona, kecuali kalau kau mau meminum obat suppressants."
"Aku tidak mau minum obat itu."
"Aku tahu, makanya kuyakin ini akan menjadi perpisahan di antara kita berdua, serta perpisahan antara kau dengan Doomed Eyes dan Nymph –kedua personamu itu."
"Apakah aku masih bisa bertemu denganmu lagi? Dengan Doomed Eyes dan Nymph juga?"
"Kau tidak akan bisa melihat kami secara fisik seperti sekarang, tetapi kau harus ingat bahwa aku selalu bisa melihat kepadamu, dan personamu akan terus tinggal di dalam hatimu."
"Berarti...ini benar-benar..."
"Yang terakhir kalinya kita bertemu, ya, ini adalah perpisahan," gumam Pharos, menunjukkan wajah sedih. "Ruuki-chan, tentang apa yang kau alami sejak lebih dari sepuluh tahun lalu sampai sekarang, jangan pernah kau menganggap semua ini sebagai mimpi sebab semuanya memang benar terjadi dalam hidupmu."
"Aku tahu. Tapi sekalipun ini adalah mimpi, ini adalah mimpi terindah yang pernah kulihat," gumam Ruuki pelan, perlahan menitikkan air matanya.
"Hn," Pharos menganggukkan kepalanya. "Selamat tinggal, Ruuki-chan..."
.
.
"Ruuki! Kau tidak apa-apa?" tanya Akihiko cemas, mendatangi Ruuki.
Ternyata selama perempuan itu berbincang dengan Pharos, orang-orang di sekitarnya melihat Ruuki seakan sedang bengong ke arah yang lain, sepertinya mereka tidak bisa melihat sosok Pharos yang perempuan itu temui.
Lalu Ruuki dan Akihiko mendatangi Shin dan teman-temannya. Gadis itu melihat Shin tersungkur di pasir sambil mendekap tubuh seorang pria sebaya dengan Akihiko dengan rambut biru tua. Jika dugaan Ruuki benar, itu adalah Kanzato Ryou, sahabat Akihiko yang memiliki nasib kurang lebih sama seperti Shinjiro.
Shin dan Jun mengangkat tubuh Ryou yang sudah tidak bernyawa itu masuk ke dalam mobil Akihiko untuk dibawa ke rumahsakit atau langsung dimakamkan. Takurou dan Megumi naik ke mobil Toru untuk kembali ke rumah kos mereka. Sedangkan Ruuki sendiri berniat menunggu Akihiko di kediaman Kanzato. Yah, Ruuki memang paling tidak suka pergi ke rumahsakit, apalagi menghadiri acara pemakaman.
Perempuan yang besok akan genap berumur 25 tahun itu membuka pintu mobilnya yang berada tepat di sebelah mobil Toru. Dilihatnya dalam mobil pemuda itu sudah ada Takurou dan Megumi, sedangkan pemiliknya masih berjalan menuju tempat itu –sepertinya ia baru selesai berbincang dengan Akihiko.
"Inui Toru," panggil Ruuki begitu Toru akan membuka pintu mobilnya. Ruuki memang sengaja menunggu pemuda itu dan belum masuk ke dalam mobil.
"Ya?" tanya Toru.
"Darimana dan sejak kapan kau menggunakan nama 'Inui Toru', huh, Amada Ken?" tanya Ruuki langsung tembak.
Ya, akhirnya Ruuki mendapat gambaran jelas dalam otaknya mengenai sosok anak laki-laki yang sering ia lihat bayangannya pada si 'Inui Toru'. Apalagi tulisan kanji dari 'Inui' sendiri bisa dibaca sebagai 'Ken'. Hal lain yang membuat Ruuki semakin curiga adalah usia pemuda itu dengan 'pengalaman' yang pernah ia ceritakan. Sepuluh tahun lalu Ken masih kelas lima, berarti sekarang Ken mungkin sudah di tahun terakhirnya sebagai mahasiswa –seperti 'Inui Toru' dihadapannya. Toru pernah bercerita bahwa dulu ia pernah tinggal ditengah-tengah kelompok pengguna persona. Pistol yang ia katakan selalu ia bawa kemana-mana serta menganggapnya sebagai jimat keberuntungan itu pun Ruuki curigai sebagai evoker untuk memanggil persona. Mungkin jika tadi Ruuki tidak melompat masuk ke medan perang dan memanggil personanya sendiri, pasti Toru sudah memanggil persona dengan evoker.
Dan mengenai anjing putih berbadan agak besar di rumah kos Toru, Ruuki berpikir itu pasti adalah Koromaru –jika Toru memang Ken. Pantas saja, beberapa menit berada di tempat kos itu, si anjing putih langsung seakan 'menyambut' Ruuki seakan mereka pernah kenal.
"Hn, sejak kapan kau sadar bahwa itu adalah aku, Ruuki senpai?" tanya Toru alias Ken sambil tersenyum tipis.
"Aku curiga saja, tetapi sempat tidak sadar bahwa sosok yang kubayangkan adalah Amada Ken," jawab Ruuki tersenyum.
"Berarti kau juga sudah tahu bahwa anjing yang ada di tempatku adalah Koromaru?" tanya Ken lagi.
"Mm-hm, begitulah," kata Ruuki. "Jadi...kau sudah siap untuk mendengar jawabanku?"
"Ah ya, kau berjanji akan memberikanku jawaban atas pernyataan cintaku..." ujar Ken. "Tidak, kau tidak perlu menjawabnya lagi, senpai, sebab aku sudah tahu apa yang akan menjadi jawabanmu. Akihiko-san sudah menceritakannya padaku. Dan walaupun aku terlambat untuk mengatakan ini, tapi selamat senpai, selamat atas pertunanganmu dengan Akihiko-san, kuharap kau akan selalu bahagia dengannya."
.
.
~TBC~
.
.
Oke, berarti setelah ini akan ada chapter terakhirnya! Sebenernya cerita ini tamat sampai sini aja, tapi chapter selanjutnya bakal kayak epilog gitu (kok gantung? #dor).
Makasih yang udah RnR, fave, dan alert! Dan iya, cerita chapter satu itu dimulai ketika PTS sudah di tengah perjalanan. Inget ya, ini dari sudut pandang kehidupan Ruuki, jadi gak terpaku dengan apa yang penonton lihat saat nonton Trinity Soul :3
REVIEW!
