Copyright © 2016 by Happyeolyoo

All rights reserved

.

.

Ice Cream

Genre : Romance, Drama

Rate : T

Pairing : HunHan as Maincast.

Chapter : 2/4

Warning : Genderswitch. Miss typo(s).

Disclaimers : The cast is belonged to God, their parents, and their company. All text here is mine. Dilarang memproduksi atau memperbanyak seluruh maupun sebagian dari cerita ini dalam bentuk atau cara apapun tanpa izin dari penulis.

Summary :Luhan masih kelas tiga sekolah menengah atas, dan kekasihnya yang super pintar dan jenius adalah mahasiswa semester tujuh. Dengan sikap khas seorang remaja umur delapan belas tahun, Luhan selalu berhasil menyulut emosi Sehun. Mereka berpacaran walau pun keduanya memiliki sikap berbeda; Luhan yang childish dengan sikap egoisnya sebagai remaja, dan Sehun yang romantis dengan segala pikiran rasionalnya. Based on Ice Cream's Lyrics!

BGM : Ice Cream by Joo ft Leeteuk

Ini sudah sore, bahkan hampir menjelang malam. Tetapi gadis itu masih betah bergelung dengan selimutnya—sedari pagi ia berada di atas ranjang dan bermalas-malasan sepanjang waktu sejak dua hari lalu. Dia terlampau jengah, sampai-sampai bangun dari ranjang sudah sulit dilakukan. Lagi pula Luhan lebih suka tidur dan memilih mengabaikan udara musim semi yang menarik di luar sana.

Untuk tahun ini, ia benci musim semi!

Kalau ia ingat tentang musim semi yang seharusnya indah, ia jadi sebal sendiri. Dan bagaimana bisa si Oh Sehun sialan itu lebih memilih perjalanan kampus ke Hong Kong daripada pergi berlibur dengannya?!

"Sehun memang bodoh," dia bergumam lalu kembali menggeliat dalam selimutnya yang hangat. "Sehun bodoh! Bodoh! Bodoh! Aku benci Oh Sehun!" Luhan berteriak kesal, menyibak selimutnya ke atas lalu duduk dengan punggung melengkung yang hampir menyerupai huruf C. Ia mendengus lalu mengerucutkan bibir.

"Kalau saja dia bukan kekasihku, aku pasti sudah menendang wajahnya yang pongah itu," katanya.

"Jadi, aku beruntung karena menjadi kekasihmu, begitu?"

Luhan tersentak dan ia terkejut ketika mendengar suara itu mengalun setelah ia berucap sesuatu tentang Sehun. Ia menoleh dan matanya terbelalak lebar karena mendapati kekasihnya sedang duduk manis sambil melipat salah satu kakinya di kursi belajarnya. Luhan ingin menjerit, tetapi ia memilih untuk diam dan menarik selimutnya.

"Selamat pagi. Oh—selamat sore, maksudku," Sehun menyapa dan melempar senyuman hangat. Ia beranjak dari duduknya dan melangkah menghampiri ranjang Luhan. "Kata Bibi Ahn, semenjak pagi kau tidak bangun dari ranjang. Jadi di liburan musim ini, kau beralih profesi menjadi pengangguran?"

Dahi Luhan mengerut setelah gendang telinganya ditembus oleh pernyataan Sehun. "Apa pedulimu?"

"Jelas saja aku peduli," Sehun berucap, menjatuhkan bokongnya di atas ranjang Luhan dan merebahkan kepalanya tepat di sebelah paha gadisnya. "Kau 'kan kekasihku. Bukankah beberapa saat lalu kau juga mengakui hal ini?"

Luhan menarik selimutnya hingga menutupi dada, lalu memberi tatapan tajam ke arah Sehun. "Kenapa kau bisa masuk? Sejak kapan kau ada di sini? Untuk apa kau kemari?"

"Pelan-pelan, Lu," Sehun terkekeh mendengar serentetan pertanyaan dari kekasihnya yang imut itu. "Bukankah kau selalu membiarkanku masuk? Kau sendiri yang menyuruh Bibi Ahn untuk langsung menyuruhku ke kamarmu setiap aku berkunjung."

Ia benar. Luhan memang menyuruh Bibi Ahn agar Sehun langsung pergi ke kamarnya ketika laki-laki itu datang untuk berkunjung. Tetapi untuk saat itu, ucapannya sedang tidak berlaku. Dan sialnya, ia lupa memberitahu hal penting itu kepada Bibi Ahn.

"Sepulang dari kampus, aku langsung memutuskan untuk pergi kemari," suara Sehun menyentak jiwa Luhan yang sedang melayang-layang membayangkan peraturannya. Laki-laki itu tampak menarawang sesuatu lalu berucap, "Sekitar pukul sepuluh?"

"Mwo?! Sudah selama itu? Kenapa aku tidak tahu?"

"Kau tidur pulas sekali, seperti orang mabuk yang beberapa kali mengatakan hal macam-macam ketika tidur," Sehun mengolok lalu terkekeh.

"Pulang saja!" Luhan membentak sambil berusaha menendang tubuh Sehun yang sudah berbaring seenaknya di atas ranjangnya. "Aku tidak membutuhkanmu, tahu!"

You are like a child. 'I don't like it', 'I wanna go home'.

Every time that happens, I can't help but laugh. I can't even get mad. What can I do?

"Benar tidak membutuhkanku?" Sehun membalik tubuhnya menjadi tengkurap, namun tatapan mata elangnya masih fokus pada wajah cantik Luhan di sebelahnya. "Kalau kau mengusirku, aku akan mencari noona-noona seksi di luar sana, lhoo .."

"Dasar kurang ajar!" Luhan menggenggam rambut Sehun dan menariknya sekuat tenaga. "Kalau mau selingkuh, langsung saja selingkuh! Kenapa harus kemari dan memberitahu hal tidak penting seperti itu?!"

"Aduh! Tetapi bukan itu yang .., aduh!" Sehun mengaduh sementara dua tangannya berusaha melepaskan telapak tangan Luhan di kepalanya. "Luhan! Berhenti!"

"Aku benci Oppa! Aku benci Oppa!"

"Aduh! Kita akan pergi ke Jeju-do! Aduh! Luhan!"

"Kita tidak akan .., apa?" Kalimat makian Luhan menghilang, gadis itu melototkan mata untuk yang kedua kali. Ia menelan ludah lalu kembali bertanya, "Kau bilang apa?"

Sehun mengatur napasnya yang ngos-ngosan, dua tangannya bergerak perlahan menjauhkan telapak tangan Luhan yang semula menggenggam helai rambutnya dengan begitu erat. "Hari ini aku bangun karena telepon sialan dari dosenku. Beliau memintaku untuk datang ke kampus secepatnya. Kau tahu apa yang dikatakannya?"

"Apa?"

"Perjalan ke Hongkong ditunda karena ada suatu musibah di sana," Sehun tersenyum ketika mengucapkan kabar baik itu. "Aku terlalu senang lalu aku memutuskan untuk langsung pergi kemari demi memberitahumu. Tetapi nyatanya, kau masih tidur. Dan ketika terbangun, kau malah mencaciku seperti itu. Astaga, sangat tidak bisa dipercaya." Sehun mengakhiri kalimat panjangnya dengan sebuah hembusan nafas berat yang sarat akan keluhan.

"Benarkah? Apa Oppa bersungguh-sungguh?"

Sehun memberengut, "Apakah aku pernah tidak bersungguh-sungguh ketika bersamamu?"

"Sering," komentar Luhan. Tetapi sedetik setelahnya ia melukis wajah riang yang bahkan lebih cerah dari sinar matahari di musim semi. "Itu berarti, besok kita akan pergi ke Jeju-do? Benarkah?"

Sehun menelangkup pipi Luhan yang tampak pucat, "Ya. Apa pun untukmu, Lu."

"Ih, gombal," Luhan mencela, tetapi ia tidak mampu menyembunyikan senyum bahagia yang merekah di kedua sudut bibirnya. "Menggelikan."

"Tetapi kau menyukainya, 'kan?" Sehun melingkarkan salah satu lengannya di leher Luhan, memiting gadisnya dengan gerakan lembut. "Katakan kalau kau menyukainya .."

Luhan terkekeh, "Miwo." (Tidak suka)

"Apa?" Sehun pura-pura terkejut lalu memukul dahi Luhan yang tertutup poni. "Coba katakan sekali lagi?"

"Joha .."

Oppa, you know that well. I am a bit selfish sometimes.

But I love only one person. You are mine. You are mine. That's my only thought.

OoOoO

Gadis itu baru saja keluar dari gerbang sekolah, tetapi ia sudah dikejutkan oleh suara klakson mobil yang dibunyikan dua kali. Ia sempat terlunjak dan memandang mobil hitam yang tak asing baginya, lalu mengeryitkan dahi. Ia berlari dengan langkah pendek, lalu mengetuk cendelanya. Kaca mobil itu turun dan seorang laki-laki tampan dengan mantel cokelat tua ada di sana, sedang melempar senyuman paling menawan sejagat raya.

"Oppa, apa yang kau lakukan di sini?" Luhan bertanya sambil mengerjapkan kelopak matanya.

Laki-laki itu memilih keluar dari mobilnya dan berjalan menghampiri Luhan. Dengan gerakan pasti ia membuka pintu mobil itu—seolah menyuruh Luhan untuk segera masuk. "Tentu saja menjemputmu."

"Huh?" Luhan terheran, tetapi ia tetap masuk ke dalam dan duduk di sana. "Kenapa? Aku tidak memintamu untuk menjemputku."

"Aku ingin menjemput kekasihku. Apakah itu salah?"

Luhan merona ketika Sehun memanggilnya seperti itu. "Biasanya Oppa selalu sibuk, 'kan. Jadi aku merasa heran."

Sehun memutar kemudinya ke kiri lalu tertawa renyah, "Oh, di dashboard itu ada hadiah untukmu."

"Jinjja?!" Luhan setengah memekik mengucapkan kalimat itu. Ia menoleh dengan gerakan cepat ke arah Sehun lalu segera membuka dashboard di depannya. Sebuah kotak berwana pink cerah dengan pita satin yang senada. Luhan membukanya dengan gerakan tidak sabaran lalu kembali memekik. "Coklat?!"

"Sebenarnya itu dari dosenku," Sehun berucap. "Dan itu Cokelat Paris. Kau pasti akan menyukainya."

"Enaaaaak!" Luhan berseru ketika ia memakan salah satu cokelat dengan bentuk daun mint yang lucu. Lalu ia meraih satu lagi dan menyuapkannya ke mulut Sehun. "Mungkin lain kali aku harus berterimakasih pada selingkuhanmu itu."

"Apa-apaan?" Sehun hampir tertawa ketika ia mendengar sebutan sangar itu meluncur dari Luhan. "Oh, ya. Yoomi noona baru pulang dari Jepang."

"Benarkah?"

"Ya. Dia membawa selusin baju desain untukmu. Kau harus memakainya ketika pertemuan keluarga," kata Sehun lalu memarkir memarkir mobilnya di sebuah areal parkir khusus.

Yoomi adalah kakak perempuan Sehun yang kini bekerja sebagai seorang desaigner di Jepang. Dia merupakan gadis tangguh yang sempat dilirik oleh anak pengusaha kelas kakap dari Kim Corperation, Joonmyeon Kim. Cukup cerewet jika berhadapan dengan Sehun, tetapi sifatnya yang buruk bisa berubah tiga ratus enam puluh derajat jika berhadapan dengan Luhan.

Jadi, Sehun harus berhati-hati jika dia tetap ingin aman; Yoomi selalu melayangkan ancaman yang tidak main-main jikalau Luhan sempat curhat tentang kelakuan bejat Sehun.

"Terimakasih, Oppa. Johahae."

"Tetapi ada sedikit kabar buruk," kalimat Sehun yang tiba-tiba itu sontak membuat alis Luhan melengkung tajam. Sehun keluar dari mobilnya dan berjalan menuju bagasi, mengeluarkan tas kardus yang merupakan hadiah dari noona-nya. "Ayo ke apartemenku dulu."

Luhan mengekor langkah kaki Sehun seperti seekor anak anjing. "Apa? Apakah ada hal serius yang terjadi?"

Sehun tampak berpikir sejenak, "Tidak begitu penting, sih."

"Sudah kukatakan berulang kali kalau aku tidak suka bermain kata-kata."

Laki-laki itu tersenyum miring, berharap bahwa ia bisa mengurung gadis ini di ruangan apartemennya yang nyaman. Jemari lentiknya bergerak cepat memencet tombol kombinasi untuk kunci keamanan apartemennya. Setelahnya ia masuk ke dalam dengan diikuti oleh langkah kaki Luhan di belakangnya. Ia meletakkan tas kardus itu di sebelah pantri dapur dan berjalan menuju kulkas demi menemukan segelas air dingin yang bisa menyegarkan tenggorokan.

"Aku mau jus jeruk," kata Luhan, ia merebahkan tubuh mungilnya di ranjang Sehun—satu-satunya benda besar yang mendominasi ruangan apartemen minimalis itu.

"Ya, Tuan Putriku," sahut Sehun.

Luhan mendesah, tubuhnya bergelung ke arah kanan dan memeluk boneka besar miliknya yang sengaja ia tinggalkan di sini—alasannya agar Sehun tidak kesepian ketika tidur sendirian. "Aku merasa ada yang aneh."

"Apa?" Sehun muncul dengan membawa segelas jus jeruk dingin yang tampak menyegarkan. Dia meletakkan gelas itu di meja nakas yang berada di samping ranjang lalu duduk di sebelah Luhan. "Ada yang mengganggu pikiranmu?"

Gadis itu melirikkan matanya ke arah Sehun, "Kau, Oppa."

"Aku? Kenapa?"

"Pasti ada suatu hal yang terjadi. Sehingga kau menjemputku tiba-tiba, memberiku Cokelat Paris, dan memperlakukanku sedemikian baik."

"Hei," Sehun mencium pucuk kepala Luhan dan memilih untuk ikut berbaring. "Apakah selama ini aku tidak memperlakukanmu dengan baik?"

"Memang, sih," Luhan mengangguk, salah satu tangannya bergerak mencari lengan kekar Sehun lalu memeluknya erat. "Tetapi tidak sampai seperti ini."

"Ya-ya, terserah," balas Sehun acuh sambil menciumi wajah gadisnya.

Dua telapak tangan Luhan terangkat menelangkup pipi Sehun yang dipenuhi oleh lubang bekas jerawat. Gadis itu menarik wajah kekasihnya dan menatap dua mata elang yang ada di hadapannya. "Kau sedang mencoba menyembunyikan sesuatu dariku, Oppa."

"Kenapa kau jadi sok tahu?"

"Aku tidak sok tahu, tetapi benar-benar tahu!" sahut Luhan tidak terima. Dia meremas pipi tirus Sehun dekat kuat lalu memberi tatapan menuntut, "Tidak ada yang bisa kau sembunyikan dariku, Oppa. Katakan saja."

Mungkin bagi Sehun, tatapan Luhan yang melembut dan ekspresi memelas seperti itu adalah sihir yang mampu membuatnya takhluk dalam hitungan detik. Mungkin gadis itu memang memiliki aura yang mampu membuat dirinya lemah, tak berkutik, dan pasrah seperti ini. Ia ingin berbohong lagi dan menutupi semuanya, tetapi nyatanya karisma Luhan yang tidak bisa ditolak menyudutkannya.

Sehun mendesah untuk beberapa saat, merutuk, kemudian kembali menatap manik mata Luhan. Ada sinar penuh penyesalan di matanya, dan seharusnya Luhan menerimanya dengan baik. Sekali lagi Sehun mendesah, "Kau ingat dengan syal rajut merah?"

Luhan tampak terkejut untuk beberapa saat, "Syal rajut hadiah natal dariku?"

Kepala Sehun mengangguk. Dia terdiam tetapi akhirnya berucap walau hatinya menolak keras. "Hilang."

"Huh?"

"Kemarin aku membawanya ke laundry dan ketika aku akan mengambilnya, ternyata syal itu tidak ada. Benar-benar hilang. Kata petugas mungkin tertukar dengan pengunjung lain dan mereka akan bertanggung ja .."

"Bodoh."

Mungkin itu adalah kali pertama Luhan yang menyatakan jika dia benar-benar tidak mau dan tidak bergairah berbicara dengan Sehun.

I think she is mad, so I tried harder. She soon felt better, and smiles

I melt even though it was tiring. I melt. Because of you I melt

Sehun melingkarkan dua lengannya di perut Luhan, memeluk gadis itu erat-erat lalu kembali meminta maaf, "Aku tahu kalau aku memang bodoh. Mian, hm?"

Dua mata Luhan berkaca-kaca. Tubuhnya bergerak demi berontak dari dekapan dua lengan Sehun. "Aku membuatnya selama lima bulan. Setiap ada waktu luang, aku selalu mengerjakannya sedikit demi sedikit. Kau tahu betapa sulit merajut syal sepanjang itu?" Luhan berucap panjang lebar. Dua tangannya bergerak aktif seolah sedang merajut syal dengan jarum kasat mata.

Sehun menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Luhan. "Aku tahu. Karena itu aku minta maaf."

Tubuh Luhan berbalik, lalu tanpa aba-aba kakinya bergerak mendorong perut Sehun ke depan. Laki-laki itu terjengkang ke belakang, mengaduh kesakitan. Gadis itu segera bangkit dari rebahannya di ranjang Sehun lalu berlari menuju pintu keluar. "Aku benci Oppa!"

Suara Luhan yang melengking terdengar keras lalu diikuti dengan suara debaman pintu yang dibanting.

TBC

Wow. Akhirnya update chapter 2 di malam takbiran. Well, hmm, nikmatin ff-nya lalu jangan lupa kasih review, ya. Silent riders nggak bisa dimaafkan walau besok ada acara minta maaf-minta maafan/? Wkwk

Walau sebenernya ff ini rencananya nggak dilanjut, tapi akhirnya juga dilanjut. Diupdate khusus buat kalian-kalian yang udah nyempatin diri baca plus review plus kasih aku semangat lhoo. Plus thankyou juga buat yang udah DM segala buat nagih update-annya. Wkwk berkat kalian semua, ff ini pun akhirnya diediting ulang dan diupdate.

Nah, sampe ketemu di chap 3, yaa.

Author Jiyoo dengan hati yang tulus memohon maaf atas kekhilafan/? yang sudah dilakukan selama setahun belakangan. Selamat lebaran bagi yang merayakan~

Xoxo.