Mereka semua duduk disofa, menghujani nya dengan tatapan yang berbeda. Jongin berpikir apa yang tadi ia lakukan adalah hal wajar namun tetap saja itu, sedikit diluar kendali. Dia merasa berlebihan.
"Tidak apa, Kai."
Kris mengangkat suara. Memecah keheningan diantara mereka. Jongin diam mendengarkan kakak sulungnya berbicara.
"Itu wajar. Ini pertama kali mu diserang seperti itu. Kau pasti takut dan Shock."
Mendengarnya, Jongin hanya bisa menunduk menatap jejari-jemari nya yang saling tertaut. Mungkin kakak nya benar. Semua ini sedikit banyak membawa keterkejutan tersendiri untuknya, apa lagi diserang di halaman rumah sendiri. Itu hal konyol yang pernah dialami dirinya.
Tapi bagaimana dia tahu?
"Mata mu yang memberi tahuku." Jongin merasakan tepukan di kepalanya, ia mendongak melihat wajah dingin Kris runtuh tergantikan Senyum hangat. "Kau itu mudah dibaca." Ujar nya lagi.
Jongin mendesah berat, " Ya. Itu menyadari satu hal. Disini bukan hanya manusia yang ku hadapi. Berbeda dengan London. Disini dipenuhi penyihir dan lainnya.." Jongin menatap satu persatu keluarga nya. Mereka terlihat begitu khawatir membuatnya merasa nyeri karena bersalah.
"Maafkan aku." Cicit nya setelah beberapa detik terdiam. Jongin menunduk mematap lantai dibawah kaki nya. Ia benar-benar kacau.
Ada banyak pertanyaan dibenaknya. Terutama, Apa yang sebenarnya terjadi setelah ia pergi.
Dulu terakhir kali nya disini. Jongin ingat tak ada satupun penyihir yang berani mengusik keluarganya. Jangankan rumah, halamannya pun enggan mereka lewati tanpa izin. Disebabkan tahta ayahnya, ia dan keluarganya terlalu disegani.
Namun apa yang terjadi sekarang?
"Kami sangat cemas. Menerima pesan Krystal tentang kau diserang. Mungkin saja kelima orang yang menyerangmu memiliki pemimpin hebat yang dapat menyamarkan mereka masuk tanpa terdeteksi kami. Kau benar tidak apa?"
Jongin menatap kakak sulungnya sekilas, melihat kekhawatiran dimata Kris membuat ia merasa kecil dan semakin merasa bersalah. Ia mengangguk pelan. "Aku baik-baik saja, Wu ge."
"Ah tunggu—Maksudmu tadi mereka dibawah perintah seseorang?" Jongin tersadar, dan baru terkejut sekarang setelah mengingat ucapan Kris.
Kris mengangguk.
Jongin merasa bingung. Ia menatap ayahnya yang sedari tadi menghela nafas, terlihat begitu letih. Dan disamping , ibunya tampak sedih. Ia menarik pikiran sendiri. Berpikir bahwa banyak yang telah terjadi selama 10 tahun belakangan.
"Sepuluh tahun yang lalu terjadi pemberontakkan besar. Sekumpulan penyihir menuntut kebebasan dari bawah pimpinan Cyzarine. Mereka juga hendak merebut kekuasaan Ayah." Kini Kris berbicara dengan intonasi datar serta raut wajah yang serius. Permasalahan sepuluh tahun yang lalu bukan hal sepele. "Kenapa d-dan bagaimana bisa.." Bahkan untuk sekedar bertanya Jongin harus meneguk ludah, tak mampu melanjutkan perkataannya. Ia kehilangan kata-kata. Semua ini terlalu tiba-tiba.
"Secara diam-diam mereka menyerang manusia, hampir menyerupai serangan hewan buas. Tapi itu tidak mungkin, kita sudah menjinakkan binatang liar di hutan juga sisi pulau. Aku dan Shane menyelidikinya. Kami melihat pembantaian dari sekelompok penyihir. Sepertinya penganut kegelapan. Mereka ingin memusnahkan manusia di pulau ini demi kepercayaan bodoh. Terlebih lagi hanya untuk kekuatan dan kekuasaan." Cerita Kris mengusap wajah tampannya gusar. Sulit menceritakannya namun Jongin harus mengetahui nya. Cepat atau lambat.
Mendengarnya Jongin melirik Shane di samping Krystal, Lelaki bagai boneka itu pun sama sekali tidak bersuara sedangkan Krystal memandangnya lurus dengan tatapan tajam. Ia mengalihkan pandangan dari mereka. Sikap Krystal membuat dia semakin merasa wanita itu memang membencinya.
"Siapa pemimpin mereka?"
Kembali hening. Jongin menunggu salah satu dari keluarganya mengangkat suara guna memberinya jawaban. Dilihatnya satu-persatu. Mereka diam menghindari tatapan bertanya miliknya.
"Leoned."
Namun ia mendengar Krystal berujar. Perempuan itu masih menatapnya tanpa satupun ekspresi, ia berandai..apa yang sedang dipikirkannya sekarang.
Jongin menggumamkan nama yang baru saja disebut Krystal. Leoned , bukan nama asing baginya. Entah kapan tapi dia merasa familiar. Ah..
"Kau benar. Dia sahabatku." Potong Kris sebelum Jongin kembali bertanya. "—Dulu."sambungnya dengan kepala tertunduk.
Jongin tercekat, merasakan tusukan rasa sakit sekaligus kasihan untuk kakaknya. Bagaimana pun ia mengetahui rasanya memiliki sahabat. Tapi kehilangan sahabat, apalagi kalau harus melawannya—itu mustahil. Ia tahu jelas bahwa kakak sulung nya itu amat menyayangi Leoned. Mereka sering bermain bersama, melakukan apapun yang mereka mau. Dan Jongin pun sudah menganggap pria berambut cepak itu sebagai saudara nya sendiri.
Sial.
"Ketika dia tahu tentang perjanjian Cyzarine dan iblis. Dia merasa terhina, menghilang hampir tiga tahun lalu muncul melakukan pemberontakkan. Dia membunuh manusia. Merekrut banyak pihak. Termasuk teman-teman sekolah kami." Jelas Kris diakhiri dengan helaan nafas panjang.
"Dan sekarang kau disini, kembali setelah sekian lama. Mungkin ia ingin menculikmu untuk ditukar dengan kekuasaan yang dia mau. Atau yang paling buruk..membunuhmu."
"—Jadi, adikku. Jaga dirimu baik-baik. Jika kau terluka bahkan segores pun. Perang antara penyihir dan iblis mungkin akan terjadi. Ketahui posisimu sekarang. Jangan cari masalah."
Jongin menatap Krystal yang kini bersilang tangan di dada, menatapnya rendah. Ucapan Krystal mungkin terdengar menyebalkan tapi Jongin menebak jika perempuan itu hanya khawatir. Terlihat walau sedikit ciprat sorot takut dimatanya.
"Aku..tahu. maafkan aku. Aku berjanji akan berhati-hati."
Jongin mengamati keluarganya satu persatu. Mereka menunduk, sepertinya sibuk dengan pikirang masing-masing. Ia memutuskan untuk beranjak meninggalkan ruangan itu.
"Dan, aku ikut menyesal akan teman juga sahabatmu. Kris." Ujarnya pada sang kakak tertua sebelum meninggalkan ruangan.
Kejadian sore ini benar-benar membuatku lupa tentang kedatangan pangeran iblis malam ini. Karena lelah, aku tertidur. Entah jam berapa sekarang tapi suara ribut di bawah sana membuatku terbangun.
Aku menggosok mata, menuruni ranjang dan keluar dari bilik kamar. Begitu tiba di anak tangga terakhir. Aku melihat Baekhyun terlempar menghantam dinding dengan suara keras.
Aku segera berlari kearahnya, membantunya berdiri. "Shane?! Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi?" Tanyaku beruntun.
Namun kulihat kakakku itu hanya terdiam mengusap setetes darah yang mengalir dari sudut bibirnya yang robek. Aku memperhatikan wajahnya yang kacau. Tidak biasanya aku menemukan ekspresi kesal Baekhyun disana.
"Kai.."
Suara dingin mengalun, menyebutkan namaku. Membuatku menoleh kesamping mendapati sosok tinggi berjubah telah berdiri di depan Kris dan Krsytal. Aku hanya bisa melihat dagu nya yang lancip dan bibir tipisnya karena tudung menutupi sebagian wajahnya.
Alisku tertaut menahan kekesalan, "Apa yang kau lakukan pada kakakku!" Aku memekik menatap marah padanya.
Aku mungkin sudah meninju rahang itu jika bukan Baekhyun yang menahan lenganku. "Kai.." Kulihat Baekhyun menggelengkan kepala mengisyaratkan larangan untuk mendekati sosok berjubah itu.
Pria berjubah itu melangkah maju, tapi Kris memblokir jalannya. "Tunggu. Jangan sekarang. Dia belum mengenalmu." Kata Kris dengan penegasan di akhir kata.
Bibir pria itu berkedut, Aku merasakan aura tak suka yang menguar hanya dari caranya mendengus. Tak jauh dari mereka, orang-orang berjubah lainnya bergerak—siap menyerang.
"Jangan sentuh keluargaku!" Seruku marah.
Pria berjubah itu bergerak mundur seinchi, dan tampak terkejut mendengar ku. "Oh, kau menyerangku?" Ujarnya terdengar tak percaya.
Aku tidak mengerti apapun. Namun kulihat keterkejutan yang sama terjadi pada ketiga kakakku. Mereka menatapku cemas.
"Louiz, dia tidak sengaja. Kau tahu itu kan? Dia sudah lama tidak menggunakan sihirnya." Kris berujar cepat berusaha menjelaskan.
Tapi aku masih tidak mengerti. Sihir?
Kulihat sebuah seringai tersungging di bibir tipis pria itu. Memperlihatkan sedikit dari taringnya. "Itu menarik, Kris." Detik berikutnya ia menghilang bagai asap.
Aku melangkah mundur, merasakan seseorang telah mendorong bahuku pada dinding. Aku mengerjap. Pria itu muncul didepanku. Bibir itu tersenyum dingin.
"Apa yang kau inginkan?"tanya ku tajam.
"Jadilah kucing jinak. Aku Louiz." Pria itu berbisik padaku dengan suara rendah. "—Tunanganmu."
Mataku membulat. "Kau..apa?" Kupastikan aku hanya salah mendengar tapi seringai pria itu seolah tidak berbohong.
"Kau tidak salah mendengar."
"Kau iblis itu..?" Tanyaku ngeri. Membayangkan rupa iblis membuat ku bergidik.
"Apakah serendah itu kau menyebutku dengan 'iblis itu'. Sangat beruntung wajahmu manis. Jika orang lain, akan kubuatnya terpenggal." Dia terkekeh pada ucapannya sendiri. Aku mendesis menilai perilaku nya. "Tapi..aku penasaran. Apa alasanmu menghindar dari pertemuan malam ini?" Tanya nya lirih bersamaan dengan jari nya yang bergerak mengelus rahangku. Jari yang dingin, kulitku seperti tersentuh oleh es.
"Aku—"
"Sudah kubilang, dia lelah. Kau bisa menemui nya besok. Tapi kau bersikeras dan menghajarku." Desis Shane kesal, meringis pada sudut bibirnya yang terasa perih.
"Aku tidak menerima alasan itu." Ucapnya dengan nada dingin.
"Dan aku juga tidak menerima alasanmu menyerang kakakku."
Mendengar ucapanku dia tertawa pelan. Dia tertunduk menggelengkan kepala lalu mendekatkan wajahnya kearahku. Dari jarak ini kami dapat bertatapan, dan aku bisa melihat sepasang manik kelabu bercampur biru pucat tengah menatapku tajam.
"Menyenangkan sekali memiliki pendamping seperti mu." Gumamnya dengan suara tenang, namun bibirnya menyunggingkan senyum lebar.
Aku mendengus, memalingkan wajah. Namun jari dingin itu menyentuh daguku, memaksa untuk kembali bertatap dengannya. Oh, betapa aku membenci makhluk ini.
"Kenapa kau begitu membenciku?"
"Apa ada alasan untuk itu." Sinisku berdecih.
"Pfft.." Suara batuk aneh terdengar dari salah satu pengawal Iblis ini. Kudengar dengusan Louiz ketika menjauhkkan tubuhnya dariku. Aku menghela nafas lega, tak menyadari telah menahan nafas sejak Iblis itu mendekatkan wajahnya padaku.
"Aiden, aku akan menghajarmu setelah ini." Kata Louiz kesal.
"Maaf, Sehun. Maksudku pangeran Louiz. Kau benar. Ini menarik." Jawab pengawalnya dengan mimik menahan geli menatapku dan Louiz atau Sehun atau iblis ini bergantian. Ah terserah.
Tadinya kupikir pengawal yang dipanggil Aiden itu akan dihampiri Sehun dan dibunuhnya di tempat. Mengingat temperamen buruknya beberapa saat yang lalu berimbas pada Baekhyun. Tapi ternyata dia malah kembali menatapku. Dia seolah menatapku dalam.
"Kau bingung kenapa aku tidak membunuhnya?" Kuikuti arah telunjuk iblis itu mengarah pada pengawalnya yang masih tersenyum geli. Aku mengangguk kaku. Bagaimana bisa dia tahu itu?
"Kau bodoh ya?"
Aku mendelik spontan mendengar iblis itu mengejekku. Apa alasan dia mengataiku bodoh.
"Kau bilang apa?"
"Walau aku ingin membunuhnya. Tapi tidak bisa karena dia sepupu ku."
Pria yang dipanggil Sehun atau Louiz itu tidak menjawabku namun malah menjawab pertanyaan sebelumnya. Menyebalkan. Aneh.
"Tapi aku senang kau belajar begitu cepat tentangku." Katanya lagi dengan senyuman tipis.
Aku menyipitkan mata, menatap nya mencari manik kelabu tadi, bodohnya baru menyadari. Apa dia pembaca pikiran?
"Astaga, kau memang bodoh."
"Berhenti membaca pikiranku!"
"Apa ada yang pernah mengatakan padamu bahwa matamu mengatakan segalanya."tanya nya lagi, terdengar takjub entah pada apa.
"Kurasa sudah kukatakan." Dari belakang, Kris menyahut. Sehun menoleh padanya sekilas.
Tiga sosok lain keluar dari pintu perpustakaan lama sekaligus ruang kerja ayah. Mereka adalah ayah, ibu dan seorang lelaki asing seusia ayah yang mengenakan jubah yang sama dengan Sehun. Hanya saja tanpa tertutupi tudung.
"Apa kau membuat keributan lagi, Sehun?" pria asing itu bertanya pada Sehun.
"Tidak ada. Aku hanya ingin menemui kekasih ku. Tapi Shane menyerangku jadi..yeah"
Aku tergelak menerima satu kedipan dari pria pucat itu. Aku meliriknya kesal. Kekasih apa? Orang-orang ini benar-benar menyebalkan.
Pria asing itu beralih menatapku, lalu kembali pada Sehun. "Apa-apaan kau ini?" tampaknya pria itu marah pada ucapan Sehun.
"Harusnya kau bertanya terlebih dahulu. Kai baru saja diserang. Dia sedang beristirahat." Kesal pria itu hanya dibalasi Sehun tatapan menghindar.
"Kau diserang?" Pangeran Louiz ini menunduk menatapku lekat. "Kau terluka?" tanya nya.
"Aku baik-baik saja. Setidaknya aku tidak di lempar." Sengitku mengingatkan kejadian beberapa menit yang lalu.
"Baiklah, Maaf Shane." Sehun berjalan menghampiri kakakku.
"Lupakan saja, pangeran. Panggil saja aku Baekhyun." Kata Shane santai mengulas senyum tipis.
Waktu berjalan, kini hampir mendekati larut malam namun belum juga membuat kedua klan itu berhenti berbicara. Mereka membicarakan banyak hal, Yah..seputar pernikahan, area kekuasaan, tingkat kekuatan, dan lainnya yang tidak jauh dari sejenis itu. Yang Jelas, Jongin tidak tertarik mendengar seksama bagaimana akhir perbincangan mereka.
'Apa kau keberatan jika Aku menemuimu lagi besok?'Jongin melirik lelaki pucat yang duduk didepannya. Ia membuang pandangan mengacuhkan suara Sehun yang terdengar di kepalanya.
Merasa terabaikan, Sehun hanya mendengus menerima perlakuan tidak sopan dari Jongin.
"Bagaimana kalau bulan depan? Tapi ketika malam bulan purnama pertengahan bulan, Kai harus ikut bersama Louiz. Bisa kau lihat, Daniel. Putraku sepertinya tertarik dengan bungsu mu itu. jika mereka telah menikah nanti, Aku bisa beristirahat dan menikmati hidup. Louiz yang akan naik mengganti kan ku."
Jongin beralih melirik pada ayahnya, pria itu tampak terkesan dan tertawa pelan. "Ya. Kurasa begitu." Begitu juga dengan ibunya, Jongin merengut melihat senyuman tipis dibibir wanita paruh baya itu terhadap ucapan sang raja iblis.
Jongin mengerang dalam hati, bagaimana bisa mereka memutuskan pernikahan nya secara sepihak.
Tak lama percakapan itu berakhir. Jongin yang masih bungkam hanya diam memperhatikan keluarganya yang jelas terlihat menyegani sang Raja iblis berserta anaknya, Pangeran Louiz, Atau Sehun.
Jongin melihat sebelum Sehun menyusul ayahnya, Lelaki itu masih sempat menoleh kebelakang menatap Kris dengan tatapan lurus.
"Mulai besok, Kurasa kalian harus menjaga Kai. dia tidak boleh sendirian. kecuali kalian dapat mengawasinya dan muncul langsung disampingnya saat terjadi sesuatu." ucap Sehun pada Kris. Kakak sulungnya itu sedikit terlihat tersinggung oleh perkataan Sehun.
"Kami bisa menjaga nya. Jangan berlebihan, pangeran. Dia akan selalu baik-baik saja." Celetuk Krystal tiba-tiba, terdengar semacam teguran halus. Jongin memperhatikan wajah datar Krystal. Rupanya kakak perempuannya itu memang membenci apapun. Ia tak heran pada apapun yang dimarah i oleh Krystal.
Sehun mengernyit akan perkataan kasar Krystal. Tapi dia mengabaikannya. Dia berpaling kembali menatap Kris.
"Bawa saja dia ke kota. Ada banyak penyihir disana yang akan melindunginya. Kalian takkan berada jauh dari Kai, dan akan selalu merasakan kehadiran Kai. tertutama kau,Kris."
"Ya, kau benar kali ini." Kris menyahut permintaan Sehun dengan nada malas. Dan Jongin terlihat sedikit terkejut mendengarnya.
Dalam satu kedipan mata, Jongin mendelik menyadari Sehun telah berada seinchi didepannya. Lelaki itu menunduk, seperti menatap Jongin begitu lekat—meskipun Jongin sendiri tidak dapat melihat seperti apa wajah Sehun. "Istirahatlah, Princess." Ujarnya dengan seringai tipis. Jongin hanya bisa memutar bola mata akan kepercayaan diri pangeran iblis didepannya.
'Sampai jumpa,Kai.'
Jongin tidak mampu mengatakan apapun mendengar suara berat pangeran itu kembali bersuara diotaknya. Ia hanya bisa menatap kepergian Ketiga nya yang dalam hitungan detik saja, telah hilang berganti dengan asap samar.
Ibu nya berjalan menghampiri Jongin, memeluk tubuh putra bungsunya. "Maaf Kai..Seandainya ada cara lain,"
Jongin menyentuh tangan ibunya, "Tidak apa, Bu." Ucapnya tanpa beban, "Aku baik-baik saja."
"Pembohong." Keduanya mendengar seseorang mendengus dan debaman pintu di lantai atas, namun Jongin justru mengabaikan nya karena itu hanya Krystal dan segala kesinisan perempuan itu padanya.
"Apa dia sangat marah tentang aku yang pergi meninggalkan kastil?" Tanya Jongin tiba-tiba, mengejutkan semua orang.
Kris mendekat, merangkul adiknya. "Tidak perlu dipikirkan. Nanti kau pasti tau sendiri, apa alasannya." katanya disertai hembusan nafas panjang.
Jongin dituntun sang ibu memasuki kamarnya lagi, setelah wanita itu menyelimutinya Jongin menahan lengan ibunya sebelum wanita itu akan keluar. Dia menyadari kemarahan Krystal. Tapi kenapa?
"Apa kau juga marah pada ku?" Tanya Jongin.
Wanita berparas rupawan itu tersenyum, lantas menggeleng menepuk pipi Jongin pelan. "Tak ada yang marah padamu, Kai. Kami hanya merasa bersalah tidak bisa membuatmu bahagia tinggal disini." jawabnya lembut namun Jongin merasakan kesedihan didalamnya.
"Bukan begitu—" Jongin menyanggah perkataan Inunya cepat, Dia mengigit bibirnya sekilas. "Aku.."
perempuan bernama Grisha itu tersenyum, memeluk Jongin agar berhenti berbicara. "Senang kau telah kembali." Mendengarnya, Jongin terpejam—Ia kembali berandai-andai. Seandainya mereka bukan lah makhluk seperti ini. Mereka pasti sudah hidup normal dan bahagia.
Namun sayangnya, Kenyataan justru berbeda jauh dari keinginan Jongin saat ini. dan ia kembali muram memikirkan takdir nya.
Penyihir. Dia adalah penyihir.
TBC
note :
Lagi berusaha update semua, tapi diangsur-angsur. Uang jajan hampir abis main ke warnet mulu bhak :''v tapi diusahain aja lah. Doain/? ya. duh duh.
