Disclaimer : Masih sama seperti sebelumnya.


.

.

.

Kouki tidur miring di ranjangnya. Sebelah tangannya menumpu kepala, sementara sebelah tangannya lagi ia gunakan untuk menepuk-nepuk perut Amaya, yang matanya riyep-riyep hendak tidur. Baru setengah jam yang lalu mereka berdua tiba di rumah. Seijuurou memaksa—memerintah—mereka agar ke rumah sakit dan memeriksakan diri, siapa tahu ada luka dalam. Untunglah mereka baik-baik saja. Yang butuh sedikit perawatan hanyalah Seijuurou, yang lecet-lecet karena terkena pecahan kaca. Selain itu tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Seijuurou sendiri sekarang tengah berurusan dengan polisi. Dia bersikeras bahwa supir van itu harus ditangkap dan dipenjara, karena jelas-jelas bersalah—minum minuman beralkohol sebelum menyetir sehingga menyebabkan kecelakaan. Karena sikap Seijuurou berubah setelah kecelakaan tadi dan matanya juga jadi beda warna, Kouki yakin si supir akan terus dibuat sengsara sampai setidaknya setahun ke depan. Tadi Seijuurou hanya mengantar Kouki dan Amaya pulang dengan taksi sebelum pergi lagi untuk mengurus masalah supir van itu dan tentu saja—mobilnya yang penyok.

Mata Kouki sudah mulai membuka menutup, dia juga ikut mengantuk. Pria itu menatap Amaya yang sudah tertidur lelap di sampingnya. Kouki pun menyamankan diri di ranjang, bermaksud untuk ikut tidur, ketika didengarnya suara orang berlari di depan kamar. Kouki langsung terjaga.

Kouki terduduk di ranjang, waspada. Suara itu ada lagi. Pencurikah? Kouki menegang karena panik, tapi dia sadar bahwa dia tidak boleh membuat Amaya takut juga. Jadi dia dengan hati-hati menjauhkan diri dari Amaya, kemudian turun dari ranjangnya. Matanya beredar ke sekitarnya—mencari apapun yang bisa dijadikan senjata. Diraihnya novel setebal tiga inchi yang sedang dibaca Seijuurou sejak seminggu lalu—belum juga selesai karena pekerjaannya yang menumpuk. Kouki kemudian berjalan dengan hati-hati menuju pintu kamar. Ditempelkannya telinga ke pintu, mendengarkan.

Suara itu masih ada. Hanya saja ada yang aneh... Itu tidak seperti suara orang dewasa yang berlari. Suara itu terdengar seperti saat Amaya berlarian di dalam rumah. Bulu kuduk Kouki seketika berdiri. Diingatnya lagi apa yang dikatakan wanita yang ditemuinya tadi siang.

Putri Anda yang lain, yang duduk di sampingnya.

Gadis kecil itu duduk di samping anak ini, di samping boneka beruang. Tadi saya berdiri di samping jalan ketika Anda berhenti di lampu merah, jadi saya lihat.

Amaya lupa bilang, tadi Nene-chan memaksa ikut kita.

Seakan-akan membenarkan pemikiran Kouki, suara tawa anak kecil terdengar. Wajah Kouki langsung memucat.

Drap drap drap drap.

Seseorang berlari bolak balik di depan pintu kamar.

"Hihihihihi."

Kikikan anak kecil terdengar, mirip kikikan Amaya saat anak itu sedang bermain kejar-kejaran atau petak umpet.

"Itu Nene-chan." Kouki seketika menoleh, mendapati Amaya sudah terduduk di ranjang. Gadis kecil itu mengucek-ucek matanya sambil menatap Kouki.

"Nene-chan bilang dia ingin ikut kita pulang. Padahal Amaya sudah bilang jangan, tapi dia tidak mau dengar." Ujar Amaya.

Kouki menoleh kembali ke arah pintu. Dilihatnya kenop pintu berputar perlahan. Tanpa pikir panjang Kouki langsung melempar dirinya ke pintu, mengganjal dengan tubuhnya agar pintu tidak terbuka. Kemudian tangannya langsung bergerak mengunci pintu. Kenop pintu berputar-putar selama beberapa saat, kemudian diam.

Kouki tetap berada dalam posisinya selama beberapa saat.

"Papa?" Amaya memanggil dengan nada bingung. Kouki menoleh, memberikan isyarat memakai jarinya agar anak itu diam. Kouki kembali mendengarkan. Tidak terdengar suara apapun. Rumah sepi.

Kouki lekas-lekas kembali ke ranjang. Dia melemparkan novel Seijuurou asal dan mendorong Amaya untuk kembali berbaring, sebelum menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.

Drap drap drap drap.

Suara berlarian kembali terdengar. Kouki menelan ludah, memutuskan sebaiknya tidak menghiraukannya.

"Ayo tidur." Ujar Kouki pada Amaya.

"Kenapa Nene-chan tidak disuruh tidur juga?" Tanya Amaya, menatap Kouki protes.

"Nene-chan akan tidur sendiri nanti. Amaya akan tidur dengan Papa sekarang." Ujar Kouki, tangannya melingkari perut Amaya.

"Tapi Nene-chan lari malam-malam! Itu kan tidak boleh. Papa bilang itu tidak boleh."

"Jangan hiraukan dia. Nene-chan bukan anak baik. Tapi Amaya kan anak baik, jadi Amaya akan tidur sekarang karena sudah waktunya dia tidur."

"Tapi—"

"Amaya." Kouki memotong perkataan anak itu dengan nada tajam. Amaya langsung terdiam. "Sudahlah, ayo tidur." Kouki makin mengeratkan pelukannya pada Amaya. Pria itu memposisikan tangannya di bawah kepala Amaya, agar dia juga bisa menutup telinga putrinya. Amaya menurut dan memejamkan mata.

Tapi Kouki sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Ia terus terjaga. Menit demi menit rasanya berlalu begitu lambat. Kouki sama sekali tak bisa tidur karena tahu ada sesuatu di luar kamarnya. Suara itu—Nene-chan—tidak hanya berlari. Terkadang dia berhenti, berjalan bolak-balik di depan pintu kamar. Lalu kadang suara kelotakan terdengar, dan Kouki tahu itu adalah kotak mainan Amaya.

Pukul tiga pagi, suara kelotakan tiba-tiba berhenti. Suara pintu terbuka terdengar, diikuti langkah-langkah berat. Tubuh Kouki menegang. Langkah-langkah berat itu mendekat menuju kamar, kemudian kenop pintu diputar—yang tidak berhasil, karena pintunya terkunci. Kouki melepaskan diri dari Amaya dan duduk di ranjang, menatap pintu dengan tegang, sampai kemudian mendengar suara yang dikenalnya.

"Kouki?"

Tanpa pikir panjang lagi Kouki melompat turun dari ranjang dan membuka pintu. Seijuurou berdiri di depan pintu, menatapnya dengan alis terangkat.

"Kenapa kau kunci pintu kamarnya?"

.

.

.

"Kupikir... Kupikir ada sesuatu yang ikut kita kemari dari rumah itu kemarin." Kouki berbisik pada Seijuurou. Mereka duduk di sofa di ruang tengah, miring dan saling berhadapan. Hari sudah terang tapi Amaya masih tidur. Biasanya Kouki akan membangunkannya, tapi kali ini ia biarkan saja. Semalam Kouki terlalu takut untuk bercerita, jadi dia diam saja. Anehnya begitu Seijuurou pulang, semua suara itu langsung berhenti.

"Apa?" Seijuurou menatap Kouki aneh.

"Aku serius, Sei." Ujar Kouki. "Kau pikir siapa yang membuat berantakan mainan Amaya semalam?"

Seijuurou mengangkat alis.

"Bukannya itu Amaya?"

"Bukan!" Seru Kouki. Kemudian pria itu mencondongkan tubuh dan berbisik, "itu Nene-chan."

"Maksudmu Nene-chan diajak Amaya kemari, begitu?"

"Bukan begitu!" Kouki menatap suaminya gemas. "Kurasa... Kurasa Nene-chan itu bukan manusia."

"Hah? Dia anak yang tinggal di sekitar rumah yang kita kunjungi kemarin, kan?"

"Bukaaan Seeiii..." Kouki berkata dengan gemas. "Nene-chan itu tidak pernah ada. Maksudku, secara fisik dia tidak ada."

"Bicaramu aneh, Kouki." Sahut Seijuurou santai.

"Dengar, waktu kemarin kita kecelakaan, ingat wanita yang duduk menemaniku? Dia bertanya padaku kemana putriku yang satunya lagi. Dia bilang dia berdiri tidak jauh dari mobil kita saat kita berhenti di lampu merah, dan dia melihat ada dua orang anak kecil duduk di kursi belakang. Padahal di kursi belakang hanya ada Amaya."

"Di kursi belakang kan ada boneka Amaya. Dia pasti salah lihat."

"Tidak! Dia bilang anak yang satunya lagi duduk di tengah, di antara Amaya dan boneka beruang."

"Ayolah, Kouki. Kau tidak serius, kan?" Seijuurou mendengus.

"Dan semalam. Semalam aku mendengarnya. Ada yang berlarian di depan kamar, tertawa dan bermain-main dengan kotak mainan Amaya. Lalu saat pagi, kau lihat sendiri kotaknya berantakan. Amaya bilang Nene-chan memaksa ikut kita."

"Kau hanya kelelahan, Kouki. Kelelahan dan shock karena kecelakaan kemarin."

"Tapi Amaya bilang..."

"Ayolah. Mungkin Nene-chan hanya rekaan Amaya saja. Tidak aneh anak seumurnya punya teman khayalan."

"Tapi Sei..."

"Lebih baik kau istirahat, oke? Wajahmu pucat sekali hari ini." Seijuurou berkata sambil mengelus pipi Kouki lembut. Dengan mendengus sebal Kouki bangkit dan masuk kamar, ikut tidur Amaya.

.

.

.

"Jadi, kupikir kita bisa pindah akhir minggu depan." Seijuurou berkata, seminggu setelah mereka mengalami kecelakaan. Kouki mengungkit-ungkit soal Nene-chan beberapa kali, tapi Seijuurou beranggapan bahwa Nene-chan itu kalau bukan anak tetangga di rumah yang mereka kunjungi dulu, ya hanya karangan Amaya. Akhirnya Kouki menyerah dan tidak membicarakan soal itu lagi karena tahu percuma saja. Seijuurou tidak akan percaya.

Kouki pikir hidup mereka akan kembali normal, karena Seijuurou juga tak pernah mengungkit soal pindah rumah lagi setelah mereka kecelakaan. Dia tidak menyangka kalau Seijuurou serius soal rumah yang terakhir mereka kunjungi, dan rencana pindah rumah itu masih jalan.

"Apa?" Kouki menatap kaget Seijuurou, yang mengangkat alis heran.

"Kupikir kita sudah sepakat soal rumahnya. Aku juga sudah bilang pada Takeda-san kalau kita akan mengambilnya. Aku bisa meluangkan waktu untuk kita pindahan."

"Tapi..." Kouki berkata ragu. Rumah itu memang bagus dan Kouki menyukainya, tapi bagaimana kalau di sana ada hantunya?

"Kenapa? Kau tiba-tiba berubah pikiran?" Tanya Seijuurou. Kouki menggigit bibir. "Apa ini soal Nene-chan lagi?"

"Ti-tidak." Jawab Kouki cepat. Seijuurou tampak tidak sabar.

"Dengar, Kouki. Nene-chan itu cuma karangan Amaya saja. Kalau dia sudah dapat teman bermain di lingkungan yang baru, dia pasti akan melupakannya." Nada suara Seijuurou yang kedengarannya mulai kesal mau tak mau membuat Kouki mengangguk. Kalau ada orang yang sadar betul bahwa jangan sampai membuat Seijuurou marah—apalagi memunculkan kepribadiannya yang lain—itu adalah Kouki.

"Baiklah. Kau mau kita mulai packing sekarang?" Tanya Kouki sembari bangkit dari duduknya. Matanya dengan sengaja menghindari tatapan Seijuurou.

"Hei." Seijuurou menarik tangan Kouki, membalikkan tubuh pria itu. "Hei. Lihat aku." Seijuurou menangkup wajah Kouki dengan kedua tangannya, memaksa suaminya itu mendongak menatap dirinya. "Semuanya akan baik-baik saja. Aku janji. Oke? Hm?"

Kouki menatap mata Seijuurou—syukurlah masih sama warnanya dan belum berubah jadi belang—dan menyadari bahwa meskipun seluruh dunia mengkhianatinya, ia akan tetap percaya pada Seijuurou. Pria berambut coklat itu tersenyum dan mengangguk.

"Bagus." Seijuurou ikut tersenyum. Perlahan pria itu menunduk, mendekatkan wajahnya pada wajah sang suami. Hidung mereka saling bertemu, dan Seijuurou bisa mencium napas Kouki yang berbau coklat—minuman yang wajib ia minum di pagi hari. Bibir mereka hanya terpaut satu senti ketika suara gedubrakan dan jeritan terdengar dari belakang.

"AAYAAAAHH!" Dengan segera keduanya menjauhkan diri, menoleh untuk mendapati Amaya berlari menuju mereka. "Nyaa-san kecelakaan! Harus segera ditolong! Cepat, Ayah!" Ujar gadis kecil itu sembari menarik-narik tangan Seijuurou.

Kouki menggaruk belakang lehernya dengan kikuk, sementara Seijuurou hanya tersenyum geli melihat reaksi suaminya.

"Ceeepaaaat!" Dengan kedua tangannya Amaya berusaha menarik tangan Seijuurou sekuat tenaga, yang sayangnya tidak berhasil. Sang Ayah masih berdiri tak bergerak.

"Kenapa dia bisa kecelakaan?" Seijuurou bertanya.

"Dia jatuh ke kolong sofa! Ceepaaat!" Sekali lagi Amaya menarik tangan Seijuurou, dan pria itu menyerah. Dia berjalan mengikuti tarikan Amaya. Kouki tersenyum melihat keduanya pergi, namun wajahnya berubah memerah ketika Seijuurou menoleh dan mengucapkan 'nanti' tanpa suara. Dengan bergegas pria berambut coklat itu berbalik untuk mulai mencari kardus bekas. Sebaiknya dia mulai mengemasi barang-barang sekarang.

.

.

.


A/N : Di sini Akashi punya dua kepribadian, satu yang warna matanya sama—yang normal—dan satu lagi yang matanya beda warna. Kepribadian yang kedua hanya saya munculkan kalau Akashi sedang benar-benar marah. Terus mulai chapter depan setting adalah rumah baru, dan di sinilah kengerian akan dimulai. Stay tune, everyone!