Please Be With Me

Wah, update juga chapter 2. Untuk seseorang yang telah menunggu-nunggu ceriaku ini dibaca dan dicermati. Mungkin ada Sesuatu
yang menegangkan, tapi sepertinya tidak sebegitunya deh. Ya sudah lah just enjoy the story. ( Oh ya untuk peringatan maaf kalau ada kesalahan, tolong dimaklumi )

Summary :

Semua itu hanyalah mimpi, tidak ada sesuatu yang benar meyakinkan. Tetapi kenapa dari semua laki-laki di dunia malah wajahnya yang ada? Sungguh sulit menerima itu semua meskipun hanya sebatas mimpi.

Chapter 2

Beginning

Sakura POV

"Sakura..aku menyukaimu!"

"Eh!"

"Sakura maukah kau jadi kekasihku?" perlahan-lahan wajahnya mendekati wajahku dan kami pun-

"SAKURA BANGUN SUDAH PAGI! KAU MAU TERLAMBAT SEKOLAH!?" suara ibu terdengar meleking dari luar kamar.

"Aaaakh!"

BRUUUK

Aaaw punggungku sakit. Apa itu tadi mimpi? Benarkah itu mimpi? Jikalau itu benar… kenapa aku bermimpi seperi itu dan kenapa dari semua laki-laki tampan di dunia malah dia yang berada di dalam pikiranku, dan mengapa aku harus menyukainya? Dia sama sekali tidak ada bagus-bagusnya. Bahkan tergolong menyebalkan. Aku juga sudah mempunyai orang yang kusukai meski masih bertepuk sebelah tangan.

Mimpi itu sungguh bodoh! Lagi pula siapa yang tidak suka akan hidupnya? Bukannya hidup itu harus disyukuri? Benar-benar deh, tidak percaya aku.

Aku pun langsung beranjang dari lantai, mencuci mukaku, menyiram badanku dengan air hangat dan segera menuju ruang makan. "Ohayou, kaa-san!" sahutku.

Baru saja aku hendak meraih roti bakar yang terdapat di atas meja beserta dengan selau bluberry saat adikku berkomentar. "Apa sih yang nee-chan lakukan tadi pagi? Masih pagi saja sudah mengigau. Dasar aneh!" balas adikku yang sangat menjengkelkan itu.

Meski kesal, aku membalasnya dengan nada datar. "Memangnya apa yang ku igaukan tadi pagi?" tanyaku terus menahan kesal dicampur rasa malu.

"Um.. kalau tidak salam onee-chan mengatakan 'kyaaa' 'eh?' pokoknya hal semacam itulah." Souta kembali menggigit rotinya dan mengabaikanku yang masih cengo sendiri di depan meja.

Eh? Apakah benar apa yang ia katakan? Kalau itu memang benar… KACAU sudah hidupku.

XxX

Ukh… masih syok aku atas mimpi semalam. Mimpi it uterus terbayang dan tidak mau hilang! Apa ini pertanda? Tapi pertanda apa? Apa mungkin aku dan Sasuke.. tidak! Itu tidak mungkin! Aku tidak mau hal itu sama terjadi! Bagaimana jika aku bersikap aneh di depan teman-teman? Terutama Naruto! Pasti dia akan curiga padaku.

Sekarang aku sedang berjalan menuju sekolah. Aku bersekolah di sekolah Sakura Hanazono. Mirip dengan namaku memang, hanya saja namaku Haruno Sakura. Tidak beda jauh.

"Yoo… Sakura-chan!" sahut seseorang dari belakangku dan ternyata dia Naruto. Ia tersenyum sambil melambai padaku. Kubalas lambaiannya dan berdiri menunggunya mendekatiku. Senang sekali bisa melihat senyumannya di pagi hari yang cerah ini.

"Ohayou, Naruto-kun!" sapaku sambil menunjukkan seringai tipis. "Tumben kamu bangun pagi!"

Naruto menggaruk belakang kepalanya pelan seperti yang biasa ia lakukan kalau melakukan sesuatu yang membuatnya malu. "Ah.. hari ini hanya saja… aku bermimpi buruk tadi malam!"

"Mimpi buruk? Mimpi yang seperti apa, sama sepertiku tadi malam aku juga mengalami mimpi yang sangat.. sangat buruk. Memikirkannya saja sudah membuatku merinding!"

Tidak ada jawaban apa-apa. Naruto hanya celingak celinguk. Tampaknya dia sedang mencari seseorang.

"Mencari siapa Naruto-kun?" tanyaku sambil melihat sekeliling juga.

"Aaah, aku mencari seorang gadis." ucapnya sambil tersipu malu. Tangannya kembali ia angkat ke belakang kepala.

"Gadis?" memangnya ada cewek yang membuat Naruto tertarik di sekitar sini? Setahuku sampai sekarang tidak ada satupun.

"Ya.. tadi ada perempuan yang pagi tadi baru saja pindah." jelas Naruto lagi.

"Baru pindah? Siapa namanya?"

"Kalau tidak salah namanya… Hinata Hyuuga!"

Hinata? Rasanya aku pernah mendengar nama itu deh! Tapi dimana ya?

"Ah itu dia.. Hinataaa kochi kochi!" Naruto melambai pada seorang gadis berambut ungu gelap yang tengah berlari kecil menghampiri kami.

"Ohayou Naruto-kun. Siapa dia? Pacar mu?" aku menatapnya dengan pandangan bingung. Kenapa dia beranggapan kalau aku pacar Naruto? Pertama kalinya ada yang berkata seperti itu. Entah tulus atau tidak. Soalnya kebanyakan berkata kata kalau kami itu kakak adek.

Naruto balas senyum. "Ohayou, Hinata! Dia bukan pacarku. Dia tetangga sekaligus teman baikku." tapi sakit juga kalau mendengar Naruto hanya menganggapku sebagai teman dekat. Tidak ada arti lebih dalam kah?

Setelah perkenalan singkat itu, kami pun berjalan bertiga menuju sekolah. Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Hinata dan Naruto bercanda tawa berdua saja. Aku merasa sangat dikucilkan dan sendiri. Padahal setiap hari aku dan Naruto-kun pasti berbincang-bincang seperti itu tapi sepertinya dia mengambil semuanya.

End Sakura POV

Sakura berwajah murung selama setangah perjalanan, Naruto yang menyadari tingkah laku Sakura yang tidak biasanya langsung menegurnya. Tapi ia tidak menjawab malah berjalan terus tanpa menghiraukan kedua orang itu yang menghawatirkannya.

"Oi! Sakura-chan! Ada apa denganmu? Kamu sakit? Kok wajah mu terlihat tidak sehat!" Sakura yang menyadari panggilan dari Naruto langsung bereaksi dan membalasnya.

"Aku tidak apa-apa kok. Hanya saja-" kata-katanya terhentikan begitu ia sadar apa yang hendak ia katakana selanjutnya. Naruto memiringkan kepalanya bingung dengan perubahan sikap Sakura. "Aku… aku tidak apa-apa. Naruto-kun tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja kok!" Sakura mengibas-ngibaskan tangannya yang bebas di depan wajahnya.

"Sokka.. ya sudahlah. Tapi kalau kamu memang merasa tidak baik lebih kau pergi ke ruang kesehatan saja biar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan!" saran Naruto tanpa berubah tempat.

'Meski kamu berkata seperti itu kamu tidak akan bisa mengerti perasaan campur aduk yang menyebalkan ini. Tapi.. menyenangkan juga kalau dia khawatir padaku. Mungkin itu hanya simpati karena kami berteman dekat.' kata Sakura dalam hati.

Mereka melanjutkan perjalanannya. Setelah 30 menit akhirnya mereka sampai di sekolah. Di depan pintu masuk sekolah terdapat sekelompok murid-murid, ya bisa dibilang sekompok anak rusuh yang terdiri dari 3 anak. Mata Sakura terpaku pada seorang pemuda yang selama ini dia benci bahkan sampai sebegitu bencinya sampai muncul di dalam mimpinya. Ya.. siapa lagi kalau bukan Uchiha Sasuke. 2 orang lainnya adalah Inuzuka Kiba dan Nara Shikamaru. Senior mereka.

Sasuke berada di kelas 1 sama seperti Sakura dan Naruto, sedangkan Kiba dan Shikamaru berada di kelas 3. Ya... bisa dibilang Kiba dan Shikamaru adalah kakak kelas mereka. Tapi anehnya Kiba dan Shikamaru mau bergaul dengan anak kelas 1 seperti Sasuke, padahal mereka berdua termasuk anak-anak yang benci terhadap anak kelas bawah. Ya mungkin saja ada sesuatu dalam diri Sasuke yang menarik bagi mereka.

Bagi Sakura, Sasuke adalah orang yang selalu saja menggangu kehidupannya. Salah satunya yaitu ia selalu memakan bekalnya hingga habis, mengambil dan menyembunyikan bukunya padahal hari berikutnya ada pekerjaan rumah, tapi dari semua perilaku menyebalkannya itu yang paling menyebalkan adalah ia selalu menggangu saat-saat menyenangkan Sakura saat bersama dengan Naruto.

Bagi diri Sakura sendiri, Sasuke adalah saingannya dalam pelajaran maupun olah raga. Akan sangat memalukan bagi Sakura jika ia kalah dengan laki-laki itu, namun dalam semua hal tersebut tidak pernah ia menang dari lalat keparat itu. Tapi di lain hal jika ia kalah dengan Naruto, dia mengakuinya karena bagi Sakura Naruto adalah pangerannya. Naruto sangat popular di kalangan perempuan jadi akan sulit bagi Sakura untuk memikat hatinya. Lain hal dengan Sasuke, ia jauh lebih terkenal di kalangan laki-laki. Maka kaum laki-laki pun menjulukinya sebagai penyelamat kaum laki-laki. Aneh bukan? Laki-laki memuja laki-laki.

Mungkin Sakura tidak menyadarinya sebab ia sangat lamban. Sejak SMP yang lebih tepatnya saat kelas 3, ia sudah menyukai Sakura sejak saat itu. Sasuke sudah menyukainya sejak lama, tapi ia tidak menyadarinya karena saat itu ia adalah orang yang cukup egois dan keras kepala. Bagi Sasuke sendiri, Sakura memang wanita yang tidak pantas untuk disukai, tapi entah mengapa ia menjadi tertarik pada Sakura dan berniat menyelidikinya, tapi saat saat itu berubah dan akhirnya ia pun jadi suka pada Sakura. Tapi dihadapan Sakura ia selalu menunjukkan wajahnya yang sok jaim dan tidak berperasaan.

Haruno Sakura, cewek galak yang mempunyai wajah manis. Memang tidak bisa dipercaya bahwa banyak juga yang menyukainya. Tetapi tidak ada satu pun yang dapat memikat hati Sakura. Namun setelah sekian lama akhirnya muncul satu orang yang membuat hati Sakura meleleh dan orang itu adalah Uzumaki Naruto.

Ya.. sekarang beralih kepada berandalan cilik. Saat itu mereka bertiga Kiba, Shikamaru dan Sasuke sedang diceramahi oleh sang guru mati-matian. Tapi tampaknya mereka tidak mendengarkannya sebab hal semacam itu sudah biasa dan menjadi makanan sehari-hari mereka.

"Kalian ini ya, selalu saja menyusahkan para guru!" bentak seorang guru kepada anak-anak nakal itu. "Mau sampai kapan kalian berbuat seenaknya begini? Untuk kamu Kiba, Shikamaru seharusnya kalian beri contoh yang baik pada adik kelasmu tapi kamu malah-" belum sempat guru itu meneruskan kata-katanya sudah dipotong oleh kata-kata Kiba.

"Ya.. ya kami mengerti.. minggir! Kami mau lewat! Mengganggu saja!" setelah membentak balik sang guru, sekarang giliran Sakura berbicara.

"Hei, kalian!" bentak Sakura sambil berkacak pinggang.

Kiba berbalik mencari seseorang yang membentak mereka. "Huh?" dengusnya jengkel.

"Cepat kalian minta maaf pada sensei!" teriak Sakura kembali.

"Memangnya siapa kamu, berani-beraninya memerintah kami!" Kiba melangkah mendekati Sakura dan menatap gadis dihadapannya itu dengan tatapan seram.

Namun tatapan seram itu sama sekali tidak membuat mental Sakura turun. Bahkan ia semakin merasa tertantang. "Aku? Kamu bertanya siapa aku? Untuk apa aku memberitahukan namaku pada orang bodoh seperti kalian? Sungguh sangat menyedihkan bagiku." lanjut Sakura dengan kata-kata pedasnya sambil memalingkan wajahnya tanda benci 100%.

"Apa katamu? Menyedihkan? Seharusnya kamu yang nyadar, dimana kedudukanmu sekarang.. HAH?" bentak Kiba lebih kencang. Sedari tadi Sasuke dan Shikamaru hanya memerhatikan mereka berdua yang sedang adu mulut. Merasa tidak tertarik untuk terlibat di dalamnya.

Sakura meletakkan sebelah tangannya di depan dada. "Aku tidak akan memberitahu kamu apa-apa. Harga diriku sebagai perempuan bisa turun nanti, jika aku mengenal orang kayak kamu!"

"Hei sudah.. sudah jangan bertengkar!" lerai sang guru.

"Diam!" bentak Sakura dan Kiba bersamaan. Jika sudah tidak sabaran dan kehabisan muka naluri membunuh Sakura keluar dan akan sulit untuk dikontrol.

"Jadi… untuk intinya mau apa kamu, apa kau cari ribut gadis cengeng!" tantang Kiba lagi.

"Aku bukan gadis cengeng seperti gadis kebanyakan, dan seharusnya kau malu karena mencari masalah dengan seorang lady!" katanya menegaskan.

Kiba terkekeh geli. "Lady.. katamu? untuk wanita ganas sepertimu sepertinya tidak pantas diperlakukan sebagai seorang lady!" balasnya mengejek.

"Apa yang kamu katakan?" ia mengepalkan tangannya sebagai tanda siap-siap untuk memukul wajah orang menyebalkan itu, tapi ia tanah. Sakura paling tidak suka jika tingkah lakunya dibandingkan dengan tingkah laku dengan gadis-gadis kebanyakan. Dia adalah dia. Tidak ada yang boleh memberitahunya harus bersikap seperti apa. "Jadi kamu sekarang mencari masalah denganku? Baik ayo kita selesaikan, aku menantangmu!"

Laki-laki itu memegang dagunya dan tersenyum angkuh. "Oh.. berani juga kamu.. baiklah kuterima!" balas Kiba.

"Baiklah ayo kita mulai!" Kata Sakura mantap.

…To be continued….

Hehehehehehehe

Hahahahahahahaha

Bagaimana Chapter kali ini. Untuk informasinya, chapter 1 itu adalah mimpi Sakura.

Ia terjebak dengan rayuan Sasuke. Jadi ia jatuh ke tangan manusia brutal itu.

Bekerja keras niih Rota memperbaiki banyak kesalahannya yang ada di sini. Berusaha untuk bekerja dengan sepenuh tenaga. Dukung terus yaaa.

See ya~